Peluncuran dan Bedah Buku Jarak

0
48

Rabu (24-4-2019) bertempat di hall kampus IV Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Forum Apresiasi Sastra (FAS) mengadakan peluncuran dan bedah buku antologi cerita pendek Jarak dengan pembicara Iman Budhi Santosa dan Ilham Rabbani.

Fitri Merawati, M.A. selaku dosen mengungkapkan, baru pertama kali diamanahi mengampu matakuliah penulisan karya sastra. Ia ingin ada produk akhir dari matakuliah tersebut, dan antologi cerita pendek Jarak adalah hasilnya.

“Awalnya penyampaian teori-teori, materi tentang kepenulisan, penggalian ide sampai dengan teknis, setelah itu eksplorasi. Tiap minggu mahasiswa akan berkonsultasi mengenai karya, seperti ide, tata bahasa, kejutan dalam cerita. Ada yang berubah dari ide semula, ada yang tetap konsisten mempertahankan idenya. Awalnya masih ide mainstream, misal percintaan. Saya sebagai dosen memberikan wacana, motivasi, mengajak membaca karya, dan diskusi-diskusi sastra,” ujarnya.

Menurut Fitri, karya selanjutnya kemungkinan berganti, agar tidak monoton dan melihat potensi mahasiswa. Misal potensinya cerpen diarahkan menulis cerpen, potensinya puisi diarahkan menulis puisi. Kendalanya adalah koordinasi, tidak semua mahasiswa paham bahwa produk buku bukanlah jaminan nilai. Penulisan buku tidak diwajibkan dan tidak memengaruhi nilai.

Jika mahasiswa ingin karyanya terdokumentasi, mari bersama-sama terlibat dalam pembuatan buku. Pendanaan dari mahasiswa, sebab tidak ada pendanaan dari program studi. Misal harga buku 40 ribu, mahasiswa iuran 50 ribu. Cetak buku dilebihkan untuk kemudian disumbangkan ke perpustakaan-perpustakaan. Antologi Jarak ini dicetak 50 eksemplar,” tutupnya.

Sementara itu, Yusa selaku ketua FAS mengungkapkan, “Ada beberapa mahasiswa yang dari awal berniat dan serius berkarya untuk membuat buku, tapi ada juga mahasiswa yang butuh dorongan, ada yang hanya sekadar ikut-ikutan. Perbandingannya, banyak mahasiswa yang butuh dorongan dalam menulis, hanya segelintir yang memiliki kesadaran pribadi.”

Harapan dari pembuatan buku, agar mahasiswa berkarya tidak harus menunggu dana, karena semua bisa diurus secara bisa mandiri. Selain itu, pembuatan buku semacam ini membuat mereka ikut berpartisipasi dalam gerakan literasi, menghidupkan atmosfer akademik dengan menulis. (JM)