• TERKINI
  • UAD BERDAMPAK
  • PRESTASI
  • FEATURE
  • OPINI
  • MEDIA
  • KIRIM BERITA
  • Menu
News Portal of Universitas Ahmad Dahlan

Budaya Disiplin (Waktu)

04/11/2014/0 Comments/in Terkini /by Super News

Oleh: Dr. Suyatno, M.Pd.I.

Dosen Prodi PGSD Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta

Disiplin memang masih menjadi barang langka dan berharga di tempat kita, baik di sekolah, kampus, kantor, maupun di masyarakat umum. Kata-kata “mohon maaf Pak/Bu, saya terlambat” masih menjadi pemandangan sehari-hari. Terlambat masih dianggap hal yang wajar dan biasa, bahkan telah menjadi budaya. Bahkan di sebuah acara, ada yang telah membuat kesepakatan untuk terlambat selama 30 menit dalam setiap kali pertemuan. Sungguh mengherankan, kok “maksiat” disepakati. Apa gerangan sebabnya orang tidak disiplin dalam waktu? Sebab utamanya hanya satu, kurang menghargai nilai waktu. Kita tidak merasa kehilangan sesuatu dan eman-eman apabila kita terlambat beberapa menit bahkan jam ketika mengikuti sebuah acara rapat, seminar, kuliah, workshop dan lain sebagainya.

Bagaimana merubah budaya? Budaya memang tidak mudah untuk dirubah, dalam waktu yang singkat. Tidak mudah bukan berarti tidak bisa. Renald Khasali dalam bukunya Myelin mengungkapkan berdasarkan pengalaman bersama tim yang dipimpinnya, setidaknya ada 5 langkah yang harus dilakukan untuk merubah budaya, yaitu; dipaksa, terpaksa, bisa, biasa, dan akhirnya menjadi budaya.

Pertama, dipaksa. Untuk membuat perubahan secara masal memang tidak cukup menunggu kesadaran dari masing-masing individu, harus ada peraturan yang memaksa. Konon, orang-orang Barat bisa disiplin bukan hanya karena faktor individu melainkan ada aturan yang tegas dan tidak dapat ditawar-tawar. Yang salah ditindak tegas, yang benar ada jaminan keselamatan.

Kedua, setelah dipaksa orang akan merasa terpaksa. Orang akan terpaksa bekerja keras agar dapat mengikuti segala jadwal dan kegiatan secara on time, tidak terlambat. Mereka akan lebih memanage waktu sebaik-baiknya agar dapat melakukan setiap kegiatan dengan tepat waktu. Ketiga, setelah terpaksa beberapa lama akhirnya bisa. Tidak bisa bukan karena sulit melainkan karena belum pernah mencoba untuk tepat waktu.

 Keempat, setelah bisa toh akhirnya menjadi biasa. Pada fase ini orang sudah tidak lagi merasakan berat, apalagi merasa dipaksa dan terpaksa. Semuanya telah berjalan secara otomatis karena saraf dalam tubuh telah terkondisikan bahwa semuanya harus berjalan sesuai waktu yang ditentukan. Kelima, kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang dan dibumbui dengan penghayatan akhirnya akan menjadi budaya. Maka terbentuklah budaya disiplin.

Menurut Khasali, untuk merubah budaya tidak disiplin menjadi budaya disiplin sebagaimana dijelaskan dalam langkah-langkah di atas, butuh waktu kira-kira 7 tahun. Memang cukup lama.

Selain lima langkah di atas ada satu hal lagi yang sangat penting untuk membentuk budaya kedisiplinan, yaitu dengan cara menetapkan the time of value. Hargailah waktu anda setinggi-tingginya. Sebagai contoh, seseorang telah menetapkan harga waktunya adalah 100.000,- rupiah per jam. Jika seseorang gagal memanfaatkan waktu 1 jam saja setiap hari maka seakan-akan orang itu telah kehilangan uang sebanyak angka itu. Bagaimana kalau gagal memanfaatkan waktu 2, 3, 4, atau 5 jam perhari? Tentu ia akan merasa kehilangan uang dalam jumlah lebih banyak lagi.

Ah, sungguh materialis. Jika ada yang berkomentar demikian, itu hanya sekedar contoh. Kita dapat menghargai waktu dengan cara yang berbeda-beda. Tetapi sebagai orang beriman, ada yang telah kita sepakati bersama bahwa bukankah Allah juga akan menanyakan kepada hamba-Nya setiap detik waktu yang telah dilewatkan?

 

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png 0 0 Super News https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Super News2014-11-04 03:34:492014-11-04 03:34:49Budaya Disiplin (Waktu)
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply Cancel reply

You must be logged in to post a comment.

TERKINI

  • UAD Beri Penghargaan bagi Lulusan Terbaik Apoteker Angkatan 5001/10/2026
  • Mahasiswa Gizi UAD Inisiasi Program SENADA di MAN 2 Sleman01/10/2026
  • Pelatihan Pembuatan NIB Dorong Legalitas dan Pengembangan UMKM Miedes di Srihardono01/10/2026
  • Deru Mesin Kemanusiaan: Saat Komunitas Motor UAD dan LazisMu UAD Antar 100 Tangki Air ke Pelosok Gunungkidul01/10/2026
  • Berbagai Program KKN UAD Perkuat Kebersamaan Warga Jangkang Kidul30/09/2026

PRESTASI

  • Mahasiswa UAD Raih Juara III pada Kejurnas IX Senior-Junior Hapkido Indonesia 202630/09/2026
  • Tim Al Qorni UAD Raih Dua Gelar Juara di Ajang KMLI 202630/09/2026
  • Pustakawan UAD Raih Prestasi di IPI Awards DIY 202629/09/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara I Esai Nasional Ajang PIKIR 202629/09/2026
  • Tim King Phoenix UAD Juara III Kontes Robot Terbang Indonesia28/09/2026

FEATURE

  • Runtuhkan Sekat Pembatas, Dekan FKIP UAD Tekankan Kolaborasi Pendidikan yang Berdampak28/09/2026
  • Menelusuri Hakikat dan Empat Tanda Kebahagiaan di Dunia15/09/2026
  • Memaknai Singkatnya Kehidupan dan Rahmat Berlimpah Menuju Surga10/09/2026
  • Menapaki Jalan Lurus melalui Sepuluh Wasiat Allah04/09/2026
  • LPSI UAD Gelar Kajian Tafsir At-Tanwir, Bedah Makna dan Keutamaan Surat Al-Baqarah Ayat 18503/09/2026

TENTANG | KRU | KONTAK | REKAPITULASI

Scroll to top