DIALOG RAMADHAN UAD : WANITA KARIER DAN ISTRI SHOLEHAH

0
147

Ramadhan merupakan bulan penuh hikmah, penuh barokah yang akan membawa insan beriman menuju derajat lebih tinggi yaitu taqwa. Dalam memeriahkan bulan suci Ramadhan 1431 H, Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Indonesia mengadakan acara Kajian dan Dialog Ramadhan pada hari Selasa (24/08) bertempat di Auditorium Kampus III UAD. Tema yang diangkat adalah Wanita Karier dan Istri Sholehah. Kajian dan Dialog tersebut menghadirkan dua Pembicara/Nara Sumber yaitu : Dra. Hj. St. Noorjannah Djohantini, MM., M.Si. dan Dr. H. Khoiruddin Bashori, M.Si.

Acara yang dihadiri oleh Rektor dan jajaran Pimpinan UAD, dosen dan mahasiswa, serta warga sekitar Kampus III UAD tersebut menyuguhkan materi yang menarik dan hangat diperbincangkan yaitu bagaimana melihat sudut pandang seorang istri sebagai wanita karier dan wanita sholehah. Tidak mudah untuk menyatukan dua hal tersebut, karena banyak sekali wanita-wanita karier yang terlena oleh karier dan profesinya sehingga melupakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai istri sholehah.

Dr. H. Khoiruddin Bashori, M.Si. menyampaikan dalam dialog tersebut bahwa dalam keluarga itu harus ada komunikasi antara suami dan istri. Cinta itu bukan seperti batu, yang tiba-tiba teronggok di suatu tempat, tapi seperti roti, yang harus dibikin, dibikin lagi setiap waktu, dan selalu diperbarui. Dalam keluarga komunikasi, kepuasan, menutup peluang aneh-aneh, dan komitmen keagamaan itu perlu dalam membangun keluarga sakinah. Apalagi salah satu dari pasangan itu seorang aktifis. Membangun kedekatan dengan cara membangun rasa saling percaya dalam hubungan itu akan menjadi tonggak dalam eratnya menjaga hubungan yang lebih baik. Maka pemahaman dan kesadaran akan sangat penting dalam mentransformasikan sesuatu yang ada dalam benak, jika hal tersebut berjalan dengan lancar maka cinta yang romantis akan menghiasi keluarga.

Dialog yang berlangsung Jam 09.00 tersebut menjadi menarik ketika ulasan tentang Wanita Karier dan Istri Sholehah diungkap oleh Pimpinan Aisyiyah periode 2010-2014, Dra. Hj. St. Noorjannah Djohantini, MM., M.Si. dengan sisi yang berbeda. Beliau menyampaikan dalam materinya bahwa seorang istri yang berkarier harus menjaga keseimbangan kerja/profesi dengan tanggung jawab rumah tangga. Saat ini terkadang, wanita-wanita karier harus ikut berjuang menambah kesejahteraan keluarga. Jika demikian maka wanita tersebut harus memiliki kemapuan yang cukup untuk bekerja dan mendapatkan dukungan dari suami tercita. Hal yang harus diperhatikan adalah ketika wanita tesebut sudah mendapat kesempatan, terkadang ada yang terlalaikan, entah anak ataupun suami. Indikasi yang akan terjadi adalah dia akan meninggalkan kewajiban sebagai ibu rumah tangga. Inilah yang harus diperhatikan oleh wanita karier atau aktifis perempuan.

“Salah satu yang harus dijaga adalah komunikasi. Baik dari pihak suami maupun dari pihak istri. Jika komunikasi tidak terjaga maka yang akan terjadi adalah ketidakharmonisan dalam keluarga yang menimbulkan sebuah permasalahan yang sangat rumit. Bangunan komunikasi dan komitmen dalam berkeluarga harus dibagun dengan dasar-dasar agama untuk menjaga keharmonisan keluarga” Tegas Noorjannah Djohantini dalam dialognya. (Swbh)

 

 

Ramadhan merupakan bulan penuh hikmah, penuh barokah yang akan membawa insan beriman menuju derajat lebih tinggi yaitu taqwa. Dalam memeriahkan bulan suci Ramadhan 1431 H, Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Indonesia mengadakan acara Kajian dan Dialog Ramadhan pada hari Selasa (24/08) bertempat di Auditorium Kampus III UAD. Tema yang diangkat adalah Wanita Karier dan Istri Sholehah. Kajian dan Dialog tersebut menghadirkan dua Pembicara/Nara Sumber yaitu : Dra. Hj. St. Noorjannah Djohantini, MM., M.Si. dan Dr. H. Khoiruddin Bashori, M.Si.

Acara yang dihadiri oleh Rektor dan jajaran Pimpinan UAD, dosen dan mahasiswa, serta warga sekitar Kampus III UAD tersebut menyuguhkan materi yang menarik dan hangat diperbincangkan yaitu bagaimana melihat sudut pandang seorang istri sebagai wanita karier dan wanita sholehah. Tidak mudah untuk menyatukan dua hal tersebut, karena banyak sekali wanita-wanita karier yang terlena oleh karier dan profesinya sehingga melupakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai istri sholehah.

Dr. H. Khoiruddin Bashori, M.Si. menyampaikan dalam dialog tersebut bahwa dalam keluarga itu harus ada komunikasi antara suami dan istri. Cinta itu bukan seperti batu, yang tiba-tiba teronggok di suatu tempat, tapi seperti roti, yang harus dibikin, dibikin lagi setiap waktu, dan selalu diperbarui. Dalam keluarga komunikasi, kepuasan, menutup peluang aneh-aneh, dan komitmen keagamaan itu perlu dalam membangun keluarga sakinah. Apalagi salah satu dari pasangan itu seorang aktifis. Membangun kedekatan dengan cara membangun rasa saling percaya dalam hubungan itu akan menjadi tonggak dalam eratnya menjaga hubungan yang lebih baik. Maka pemahaman dan kesadaran akan sangat penting dalam mentransformasikan sesuatu yang ada dalam benak, jika hal tersebut berjalan dengan lancar maka cinta yang romantis akan menghiasi keluarga.

Dialog yang berlangsung Jam 09.00 tersebut menjadi menarik ketika ulasan tentang Wanita Karier dan Istri Sholehah diungkap oleh Pimpinan Aisyiyah periode 2010-2014, Dra. Hj. St. Noorjannah Djohantini, MM., M.Si. dengan sisi yang berbeda. Beliau menyampaikan dalam materinya bahwa seorang istri yang berkarier harus menjaga keseimbangan kerja/profesi dengan tanggung jawab rumah tangga. Saat ini terkadang, wanita-wanita karier harus ikut berjuang menambah kesejahteraan keluarga. Jika demikian maka wanita tersebut harus memiliki kemapuan yang cukup untuk bekerja dan mendapatkan dukungan dari suami tercita. Hal yang harus diperhatikan adalah ketika wanita tesebut sudah mendapat kesempatan, terkadang ada yang terlalaikan, entah anak ataupun suami. Indikasi yang akan terjadi adalah dia akan meninggalkan kewajiban sebagai ibu rumah tangga. Inilah yang harus diperhatikan oleh wanita karier atau aktifis perempuan.

“Salah satu yang harus dijaga adalah komunikasi. Baik dari pihak suami maupun dari pihak istri. Jika komunikasi tidak terjaga maka yang akan terjadi adalah ketidakharmonisan dalam keluarga yang menimbulkan sebuah permasalahan yang sangat rumit. Bangunan komunikasi dan komitmen dalam berkeluarga harus dibagun dengan dasar-dasar agama untuk menjaga keharmonisan keluarga” Tegas Noorjannah Djohantini dalam dialognya. (Swbh)