FAS: Menjelajah Folklor Indonesia

0
97
Dr. Cahyaningrum Dewojati, M.Hum. dalam diskusi sastra “Menjelajah Folklor Indonesia” yang diadakan oleh Forum Apresiasi Sastra (FAS)

“Folklor meliputi legenda, musik, sejarah lisan, pepatah, lelucon, takhayul, dongeng, dan kebiasaan yang menjadi tradisi dalam suatu budaya, subkultur, atau kelompok. Folklor juga merupakan serangkaian praktik yang menjadi sarana penyebaran berbagai tradisi budaya. Misalnya cerita rakyat tentang pohon mengajarkan konservasi hutan, air, lingkungan, peringatan dini bencana, dan simbol kedekatan dengan alam,” ujar Dr. Cahyaningrum Dewojati, M.Hum. dalam diskusi sastra “Menjelajah Folklor Indonesia” yang diadakan oleh Forum Apresiasi Sastra (FAS), (26-12-2019).

Menurut Cahyaningrum ribuan folklor Indonesia dirawat dan disimpan di Inggris, Prancis, Belanda, Jerman, dan Malaysia. Folklor berprinsip cerita yang paling panjang dan komplet dianggap paling tua. Misal tentang pohon berarti cerita bisa berusia sekitar 500−1.000 tahun yang lalu. Kepercayaan tentang pohon besar menandakan bahwa nenek moyang Indonesia sudah punya pengetahuan tentang lingkungan hidup.

“Masyarakat Indonesia lebih percaya mistis ketimbang logika. Misalnya cerita Hutan Larangan dari Kampung Naga yang ada di Jawa Barat. Maknanya tidak boleh menebang pohon agar kelestarian lingkungan tetap terjaga. Di Yogyakarta contohnya ada kisah Nyi Roro Kidul, hal itu berarti orang-orang dahulu sudah memiliki pengetahuan yang cukup tentang bencana dan sebagai sarana legitimasi di bumi, laut, langit oleh raja yang sedang berkuasa,” ungkapnya.

Cahyaningrum menjelaskan bahwa sastra tulis masa lalu terdiri atas hikayat yang berisi pengetahuan teknologi masa lalu dan kearifan kepemimpinan Melayu. Serat berisi ajaran tertentu, babad mengandung catatan berbagai peristiwa yang terjadi di masa tersebut, sedangkan puisi lama mengajarkan budi pekerti bagi masyarakat. (JM)