Kuliah Umum, Joni Ariadinata: Menulis Itu Gampang

0
120

Sastrawan Joni Ariadinata mulai belajar menulis cerita pendek (cerpen) sejak ia menjadi mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD), yang pada waktu itu masih bernama IKIP Muhammadiyah Yogyakarta. Semasa kuliah, hampir setiap hari ia menghabiskan waktunya duduk dan membaca di perpustakaan.

Guru pertama saya yang mengajari menulis cerpen adalah tokoh sastrawan yaitu Yanusa Nugroho. Kebetulan sekali, kami dipertemukan untuk menjadi juri cerpen di Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) 2018,” terang Joni ketika mengisi acara kuliah umum di Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Sastra Budaya dan Komunikasi (FSBK) UAD.

Joni menjelaskan, semua buku Yanusa Nugroho sudah ia baca dan pelajari. Sehingga ketika pertama kali menulis, hampir seluruh pola, tema, dan sudut pandang dalam cerpennya meniru cerpen Yanusa Nugroho, meskipun pada saat itu cerpennya belum dimuat di koran.

Selain Yanusa, saya membaca dan mempelajari cerpennya Seno Gumira Ajidarma, Kuntowijoyo, Iwan Simatumpang, Danarto, dan Umar Kayam.”

Ketika membuat latar cerpen, ia belajar dari cerpen Danarto, karena latarnya sangat luar biasa. Dan untuk dialog, ia belajar dalam cerpen Umar Kayam yang salah satunya berjudul “Seribu Kunang-kunang di Manhattan”, semua isi cerpen itu hanya dialog saja. Namun, semua persoalan konflik dalam cerpen itu juga terbentuk dalam dialog, sehingga isi dari cerpen sangat menarik. Untuk mengolah konflik, ia sering membaca karya Iwan Simatumpang. Sebab, Iwan Simatumpang termasuk penulis yang pintar untuk membuat konflik yang menarik dalam cerpen.

Menulis itu gampang, kesulitannya hanya mau apa tidak untuk menulis. Menulis juga tidak butuh teori, tinggal latihan setiap hari, minimal satu hari membuat dua cerpen dan perbanyak membaca,” pesannya saat mengisi acara yang berlangsung di kampus 4 UAD Jln. Ringroad Selatan, Tamanan, Banguntapan, Bantul, Rabu (17/10/2018).

Dulu, selama satu tahun belajar menulis, karya Joni pertama kali dimuat di koran Surabaya Post. Kedua dimuat di koran Kompas berjudul “Lampor”. Cerpen itu sekaligus dinobatkan menjadi cerpen terbaik Kompas pada tahun 1994. (ASE)