Kunjungan dan Penelitian University of Malaya Malaysia dengan UAD

0
190
Tim dari University of Malaya Malaysia saat pertemuan dengan Prodi Prodi Bahasa dan Sastra Arab Universitas Ahmad Dahan (UAD). Hubungan kedua universitas sudah terjalin sejak lama, yakni dalam kurun waktu 7 tahun. Mereka melakukan penelitian yang sudah berjalan selama 8 bulan.

Kunjungan dan penelitian dilakukan antara University of Malaya Malaysia dengan Universitas Ahmad Dahan (UAD). Hubungan kedua universitas tersebut sudah terjalin sejak lama, yakni dalam kurun waktu 7 tahun. Saat ini, yang terlibat adalah Prodi Bahasa dan Sastra Arab dari UAD dan University of Malaya Malaysia. Mereka melakukan penelitian yang sudah berjalan selama 8 bulan.

Topik dalam penelitan ini dilatarbelakangi bahasa Indonesia dengan Malaysia yang hampir sama, termasuk rumpun bahasa Austronesia. Bahasa Malaysia mempunyai kedekatan dengan bahasa Indonesia, meskipun ada perbedaan dalam menerjemahkan kosakata bahasa Arab.

Penelitian menarik ini dikaji untuk menganalisis hasil terjemahan makna pada kamus bahasa Arab-Indonesia dan kamus Malaysia-Arab. Dari hasil analisis, maka dapat ditelusuri pula penerjemahan di dalam al-Quran, untuk melihat implementasinya dalam kehidupan sosial masyarakat di kedua negara tersebut.

“Saya telah melihat manfaat ini dari berbagai aspek. Aspek yang pertama yaitu ilmu bahasa Arab itu sendiri. Setelah mahasiswa datang ke tempat baru, secara otomatis dia akan menemui ilmu baru yang kaidah pembelajarannya dimungkinkan ada perbedaan. Kedua, dari segi pengalaman, yakni ketika mahasiswa mencari ilmu yang merupakan salah satu tuntutan pembelajaran. Tentu saja ini sesuai dengan pepatah yang menyebutkan, ‘sejauh perjalanan, luas pengalaman’,” jelas Prof. Dr. H. Muhammad bin Seman dari University of Malaya Malaysia.

Metode penelitian yang digunakan untuk mengkaji analisis data dengan cara tradisional, yaitu mewawancarai si penutur Malaysia dan penutur Indonesia. Akhirnya, terlihat jelas perbedaan pembelajaran dari sudut budaya Islam di Malaysia dengan Indonesia.

“Meskipun kita serumpun, tetapi lingkungan kita berbeda. Malaysia banyak didatangi orang dari berbagai belahan dunia sehingga menyebabkan perbedaan budaya dalam kehidupan bermasyrakat. Kami memaklumi ketika budaya itu terbawa ke sini,” ucap Abdul Mukhlis S.Ag., M.Ag. selaku Kaprodi Bahasa dan Sastra Arab.

Adapun manfaat dari praktik penelitian ini yaitu, tersedianya daftar kosakta bahasa Arab-Indonesi dan Arab-Malaysia. Selain itu, penelitian ini dapat menelusuri perbedaan penerjemahan implementasi yang timbul dari perbedaan konsep makna. Harapannya, penelitian ini dapat berkontribusi terhadap penyusunan kamus Arab-Indonesia dan Arab-Malaysia, serta penerjemahan al-Qur’an bagi Kementerian Agama (Kemenag) RI dan Jabatan Kedudukan Islam di Malaysia (Jakim). (ASE)