Potret Kepemimpinan dalam Manajerial Waktu

347

……….. إِنَّ اللّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِ إِنَّ اللّهَ كَانَ سَمِيعاً بَصِيراً
Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. an-Nisaa :58)

 

Begitulah yang dipaparkan Drs. H. Anhar Anshari, M. SI. saat penyampaian materi tentang “Potret Kepemimpinan dalam Islam”. Hal tersebut merupakan serangkaian kegiatan outbound Pesantren Mahasiswa Ahmad Dahlan (PERSADA) yang diadakan pada Sabtu-Minggu (26-27/09/2015).

Program tahunan PERSADA tersebut diikuti oleh seluruh santri, terdiri atas pembekalan materi tentang “Kepemimpinan dan Manajemen Waktu” yang bertempat di Aula Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Sabtu. Kemudian dilanjutkan kegiatan outbound di Kaliurang, Sleman, DIY keesokan harinya.

Dalam materi kepemimpinan, dijelaskan tentang prinsip-prinsip memimpin dan kompetensi pemimpin dalam Islam. Diterangkan bahwa pemimpin dalam Islam adalah seorang muslim yang memberi pengertian, membimbing pada perbuatan baik serta mencegah kemungkaran, menganjurkan umat agar memanfaatkan hal-hal bersih dan mencegah yang kotor, meringankan beban umat dan melepaskan belenggu, serta menegakkan amanah dan keadilan.

“Mahasiswa seharusnya mampu kritis pada hal-hal baru maupun yang telah ada. Tidak sekadar ikut-ikutan pemimpinnya. Sebab, mahasiswa adalah generasi penerus yang harus memiliki akidah yang kuat,” kata Anhar yang juga merupakan direktur PERSADA.

Sementara itu, Muhammad Azis, S.T., M. Sc. dalam materi “Manajemen Waktu” menyampaikan bahwa perlu diadakan pelatihan pengendalian waktu dengan keahlian. Karena semua itu akan senantiasa diperlukan sepanjang masa. “Pada dasarnya pemimpin adalah seorang manajer. Yakni pengatur bagi diri dan yang dipimpinnya.”

Azis, yang juga saat ini menjabat sebagai sekretaris bidang kader di Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, mengatakan bahwa aktivitas yang dibuat harus berguna karena waktu adalah pedang. “Rumusnya, selesaikanlah apa yang bisa dikerjakan. Yang tidak bisa diselesaikan, serahkan kepada Allah Swt.”

Di akhir pembekalan materi, Azis bertutur, “Semoga kita dapat berprestasi. Waktu kita lebih bermakna untuk ibadah, keluarga, dan masyarakat. Mulailah dari sekarang untuk puluhan tahun yang akan datang. Tidak boleh ada rasa takut untuk menghadapi masa depan.” (AKN)