Sastra Peranakan Tionghoa bersama FAS

0
368

Rabu (26-6-2019), Forum Apresiasi Sastra (FAS) mengadakan diskusi dengan tema “Sastra Peranakan Tionghoa”. Acara diskusi yang ke-87 ini menghadirkan pembicara asal Tionghoa bernama Sunlie Thomas Alexander. Berlangsung di hall kampus IV Universitas Ahmad Dahlan (UAD), diskusi berjalan lancar dengan Hairini Nur Hanifah sebagai pembawa acara dan Mirja Sentani selaku moderator.

Walaupun berlangsung malam hari dari pukul 19.00 WIB sampai 21.00 WIB, peserta tetap bersemangat saat diskusi. Hal ini dibuktikan dengan peserta yang aktif bertanya saat diskusi dengan Sunlie.

Fitri Merawati, M.A., selaku dosen bidang Sastra di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) menyampaikan, sastra peranakan Tionghoa turut andil dalam perjalanan sastra, itulah salah satu alasan diangkat tema kali ini. FAS mencoba memberi fasilitas untuk mahasiswa supaya mengenal sastra peranakan Tionghoa.

Pengaruh sastra peranakan Tionghoa tentunya ada bagi Indonesia dan mahasiswa. Karena dalam hal kepenulisan, sesungguhnya sastra apa saja saling memengaruhi. Bacaan karya sastra yang dibaca oleh pembaca selanjutnya itu yang akan memengaruhi karyanya,” ujar Fitri selaku pendamping FAS.

Menurut Fitri, “Capaian acara ini tidak muluk-muluk. FAS mencoba menyuguhkan sesuatu yang belum bisa didapat di kelas. Sekadar memberi sarana. Pihak FAS juga tidak bisa melegitimasi bahwa berhasilnya mahasiswa karena FAS. Namun, setidaknya kami mencoba memberi fasilitas dan sarana untuk berdiskusi, khususnya dalam sastra.”

Pihak FAS berharap, mahasiswa terpantik dari sisi wacana dan ide. Sementara yang ingin menjadi kritikus, mereka diharapkan bisa menulis dan dapat wacana baru. Kemudian mereka termotivasi membaca buku-buku untuk mengetahui materi-materi yang lebih dalam lagi. Selanjutnya, diharapkan bisa riset tentang sastra khususnya dari materi-materi yang disampaikan dalam diskusi.

Acara ini sebenarnya hanya pemantik saja. Tindak lanjut berikutnya, pihak FAS serahkan kepada hadirin. Minimal, mereka mendapat wacana tambahan. Kalau mereka dapat bergerak secara produktif seperti menulis esai, opini, atau karya sastra.

Mirja Sentani menambahkan, “Diskusi kali ini berlangsung lancar. Namun, akan lebih menarik jika sebelum diskusi, peserta membaca dahulu terkait tema. Alangkah lebih menarik jika hadirin memiliki dan membawa permasalahan, jadi bisa dikuliti sehingga diskusi lebih menarik.” (Dew)