Seminar Antisipasi Penyusupan Faham dan Aliran Sesat: “NII Menjadi Doktrin Otak”

281

Hilangnya beberapa mahasiswa akhir-akhir ini memang meresahkan masyarakat. Orang tua mahasiswa mengeluhkan hal tersebut karena jauhnya jarak pantauan mereka kepada anaknya. Kampus sebagai tempat penitipan dan mencari ilmu menjadi sasaran dari berbagai pihak yang dirugikan, meskipun hal itu adalah ulah dari mahasiswa yang terlibat pada organisasi Negara Islam Indonesia (NII).

Doktrin yang dimiliki NII untuk mendirikan negara berdasarkan nilai-nilai Islam jika didengar sekilas tentu tidak salah. Yang salah adalah ketika praktik pelaksanaannya ternyata mereka menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan dan begitu mudah mengatakan orang lain kafir jika tidak mengikuti ajaran mereka.

Sofwan, salah satu pembicara pada acara seminar yang diselenggarakan oleh LPSI UAD dengan tema “NII dan Aliran-Aliran Sesat” Kamis (2/5/11) tersebut merupakan mantan petinggi di NII. Dia telah bergelut sekitar lima belas tahun di NII namun akhirnya sadar dan memutuskan keluar. Dalam kesempatan tersebut, dia memaparkan bagaimana kerja NII dari awal rekruitmen anggota sampai penanaman pemahaman tentang syariat yang telah diselewengkan kepada para pengikutnya. Hal itu bertentangan dengan Islam. Inilah yang tidak sesuai.

“Kami dulu tidak boleh mengaku sebagai anggota NII jika ditanya oleh orang karena jika masyarakat tahu tentu mereka akan antipati pada kami. Itu kami anggap sebagai jihad secara diam-diam, barulah pada saat yang kami anggap tepat kami boleh jihad secara terang-terangan. Jika ada jamaah, begitu istilahnya, kami seolah-oalah menggencarkan ajaran Islam yang kami anggap benar tetapi setelah jamaah pulang, kami kembali berunding untuk menyusun strategi agar NII terus maju. Berhubung sekarang saya sudah keluar dari NII, jadi saya mengaku.” papar Sofwan saat memberi materi sambil berkelakar. Ia juga menyatakan bahwa dampak negatif dari seseorang yang telah mengikuti NII adalah ketika dia sudah sadar maka akan timbul rasa curiga terus terhadap sekeliling sehingga menjadi apatis jika diajak berkegiatan karena trauma. Maka beliau berpesan agar orang-orang yang telah salah tersebut jangan dihina atau dikucilkan namun dengan cinta seharusnya mereka dibangkitkan.

“Sebagai umat Islam kita harus dapat membedakan antara Islam ekstrim dengan Muslim ekstrim dan jangan mudah tertipu oleh rekayasa para militan NII”, pesan H. Fatturahman Kamal, Lc.M. pada seminar nasional yang diselenggarakan di Auditorium Kampus I UAD kemarin. (FM)

Hilangnya beberapa mahasiswa akhir-akhir ini memang meresahkan masyarakat. Orang tua mahasiswa mengeluhkan hal tersebut karena jauhnya jarak pantauan mereka kepada anaknya. Kampus sebagai tempat penitipan dan mencari ilmu menjadi sasaran dari berbagai pihak yang dirugikan, meskipun hal itu adalah ulah dari mahasiswa yang terlibat pada organisasi Negara Islam Indonesia (NII).

Doktrin yang dimiliki NII untuk mendirikan negara berdasarkan nilai-nilai Islam jika didengar sekilas tentu tidak salah. Yang salah adalah ketika praktik pelaksanaannya ternyata mereka menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan dan begitu mudah mengatakan orang lain kafir jika tidak mengikuti ajaran mereka.

Sofwan, salah satu pembicara pada acara seminar yang diselenggarakan oleh LPSI UAD dengan tema “NII dan Aliran-Aliran Sesat” Kamis (2/5/11) tersebut merupakan mantan petinggi di NII. Dia telah bergelut sekitar lima belas tahun di NII namun akhirnya sadar dan memutuskan keluar. Dalam kesempatan tersebut, dia memaparkan bagaimana kerja NII dari awal rekruitmen anggota sampai penanaman pemahaman tentang syariat yang telah diselewengkan kepada para pengikutnya. Hal itu bertentangan dengan Islam. Inilah yang tidak sesuai.

“Kami dulu tidak boleh mengaku sebagai anggota NII jika ditanya oleh orang karena jika masyarakat tahu tentu mereka akan antipati pada kami. Itu kami anggap sebagai jihad secara diam-diam, barulah pada saat yang kami anggap tepat kami boleh jihad secara terang-terangan. Jika ada jamaah, begitu istilahnya, kami seolah-oalah menggencarkan ajaran Islam yang kami anggap benar tetapi setelah jamaah pulang, kami kembali berunding untuk menyusun strategi agar NII terus maju. Berhubung sekarang saya sudah keluar dari NII, jadi saya mengaku.” papar Sofwan saat memberi materi sambil berkelakar. Ia juga menyatakan bahwa dampak negatif dari seseorang yang telah mengikuti NII adalah ketika dia sudah sadar maka akan timbul rasa curiga terus terhadap sekeliling sehingga menjadi apatis jika diajak berkegiatan karena trauma. Maka beliau berpesan agar orang-orang yang telah salah tersebut jangan dihina atau dikucilkan namun dengan cinta seharusnya mereka dibangkitkan.

“Sebagai umat Islam kita harus dapat membedakan antara Islam ekstrim dengan Muslim ekstrim dan jangan mudah tertipu oleh rekayasa para militan NII”, pesan H. Fatturahman Kamal, Lc.M. pada seminar nasional yang diselenggarakan di Auditorium Kampus I UAD kemarin. (FM)