“Si Nekat” Muhammad Masuk Hukum karena Tahajud

0
163

Mungkin kebanyakan orang seusia Muhammad Fauzi akan berpikir berkali-kali untuk mengambil keputusan dalam mengejar cita-citanya. Bayangkan saja, jarak antara Lombok – Yogyakarta ditempuhnya dengan sepeda motor.

Tidak hanya itu saja, perjalanan untuk meraih masa depan di bangku kuliah dijelajahinya tanpa ditemani siapa pun. Mulai dari menentukan kampus, sampai pada akhirnya memutuskan memilih satu jurusan.

“Saya berangkat dari Lombok ke Yogyakarta menggunakan sepeda motor dengan tujuan irit uang. Saya anak keempat dari tujuh bersaudara. Orangtua hanya seorang petani jagung di desa. Karena itu, harus pandai membagi uang. Sebab keluarga kami panen satu tahun sekali untuk membiayai semua kebutuhan sehari-hari,” papar pemuda kelahiran Sumbawa, 31 Januari 1993 yang pernah meraih juara tiga tingkat Kabupaten, dan sepuluh besar Nasional Olimpiade Kimia di tingkat nasional, tahun 2011.

Dia menambahkan, pilihannya untuk masuk Fakultas Hukum di Universitas Ahmad Dahlan bukan tanpa sebab. Menurutnya, pilihan ini memang sudah diarahkan Sang Pencipta.

“Mulanya saya ingin masuk Farmasi di UII. Tetapi niat itu kandas ketika saya lihat biaya begitu mahal. Saya ke Jogja cuma bawa ijazah legalisir satu. Keputusannya cuma dua, bertahan di Jogja dan kuliah, atau pulang dengan segera. Suatu malam saya tahajud untuk menentukan sikap. Selesai shalat, saya teringat dengan beberapa brosur yang sudah dikumpulkan sebelumnya. Saya lihat UAD, Fakultas Hukum jadi petunjuk dari Allah. Saya pun jadi teringat pesan orangtua dan beberapa orang di kampung, seperti pak Kiai dan Kepala Sekolah saya. Mereka berpesan agar saya kuliah hukum untuk memperbaiki kualitas hukum di desa kami,” sebut pemuda yang pernah jurusan Tekhnik Informatika D1, di Malang.

Alumnus Pondok Pesantren Yanmu Praya-Lombok Tengah (2012) yang aktif berbahasa Inggris ini menambahkan, kesempatan kuliah akan digunakan sebaik-baiknya.

“Saya akan membuktikan kepada orangtua kalau izin dan pengorbanan mereka tidak akan saya kecewakan. Saya akan belajar sungguh-sungguh demi mewujudkan cita-cita yang sudah saya tuliskan. Ibu-bapak dan kedua kakak saya tidak lulus sekolah dasar, dan saya tidak mau seperti itu. UAD akan jadi gerbang saya menuju masa depan,” tutupnya (Doc p2k)