• TERKINI
  • UAD BERDAMPAK
  • PRESTASI
  • FEATURE
  • OPINI
  • MEDIA
  • KIRIM BERITA
  • Menu
News Portal of Universitas Ahmad Dahlan

Tiga Amalan Salah Niat yang Berakibat Masuk Neraka

24/07/2024/in Feature /by Ard

Khutbah Jumat oleh Fajar Rachmadani, Lc., M.Hum., Ph.D. di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Dok. Tsulusiyah)

Salat Jumat diadakan di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) yakni pada 19 Juli 2024. Fajar Rachmadani, Lc., M.Hum., Ph.D. selaku anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dan dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) didapuk menjadi khatib Jumat. Ia menyampaikan tentang amalan salah niat yang mengakibatkan seseorang masuk neraka.

Nabi pernah bersabda yang makna hadisnya sebagai berikut: “Kelompok manusia pertama yang akan didatangkan di hadapan Allah Swt. dan akan disidang langsung oleh Allah Swt. di hari kiamat nanti adalah seseorang yang mati syahid. Orang yang mati syahid tersebut didatangkan kepada Allah, kemudian Allah tampakkan seluruh nikmat yang diberikan dulu di dunia dan orang yang mati syahid ini pun mengakui nikmat tersebut.”

Orang syahid tersebut ditanya oleh Allah Swt.: “Apa yang kau gunakan dengan seluruh kenikmatan yang Aku berikan kepadamu dulu di dunia?” Ia menjawab: “Ya Allah dulu ketika di dunia, aku gunakan seluruh kenikmatan dan karunia yang Engkau berikan kepadaku untuk berjihad di jalan-Mu ya Allah, untuk berperang di jalan-Mu Ya Allah, aku gunakan untuk berdiri di garda terdepan untuk membela agama-Mu ya Allah.”

Allah Swt. menimpali: “Kamu berdusta. Dulu kamu berperang/berjihad bukan untuk-Ku, kamu lakukan itu semua agar engkau dikatakan pahlawan, dikatakan pemberani, dan orang-orang di sekitarmu menyanjungmu, dan gelar-gelar tersebut sudah kamu dapatkan ketika di dunia.” Lalu orang yang mati syahid ini wajahnya diseret oleh malaikat dan dilemparkan ke neraka.

“Begitu pula, Allah juga mendatangkan para penuntut ilmu, para pengajar ilmu, seorang kiai atau ulama, seorang qari’, dan penghafal Al-Qur’an. Sama halnya dengan orang yang mati syahid tadi maka orang-orang berilmu ini pun juga masuk ke neraka. Karena semasa hidupnya tidak melakukan amalan untuk mendapatkan pahala dari Allah tetapi untuk dapat sanjungan dan gelar dari orang lain,” ujarnya.

Maka orang kedua inilah yang relevan dengan kondisi kita pada saat ini. Kondisi ketika menghadapi suatu fenomena banyak orang berilmu tetapi tidak didampingi dengan keberkahan ilmu itu sendiri. Seharusnya semakin bertambahnya ilmu seseorang semakin menjadi orang-orang saleh, tawadu, wara’, dan semakin mampu menghargai orang lain. Namun faktanya tidak seperti itu, realitasnya di zaman sekarang ini semakin tinggi ilmunya semakin sombong dan merendahkan orang lain.

Dari fakta-fakta yang telah disebutkan, muncullah intelektual hypocrite, intelektual diabolik, intelektual sekuler, karena motivasi, tujuan dan orientasinya tidak pada Allah dan Rasul. Maka hadis yang disampaikan oleh Rasulullah 14 abad yang lalu masih relevan sampai sekarang. Hendaknya sebagai seorang hamba kembali merefleksi diri terkait keikhlasan dari amalan-amalan yang telah dilakukan.

“Orang ketiga yang disidang Allah yaitu orang yang dulu ketika di dunia diberikan harta yang banyak oleh Allah Swt. dan ditanya seperti orang pertama dan kedua. Karena salah niat terhadap segala yang dikerjakan, maka ia pun masuk neraka. Maka dalam rangka mentadaburi hadis tersebut diharapkan tidak hanya memperbanyak kuantitas amal tetapi juga kualitas amal, yakni dengan niat yang diutarakan,” tutup Fajar. (Lus)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Khutbah-Jumat-oleh-Fajar-Rachmadani-Lc.-M.Hum_.-Ph.D.-di-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Dok.-Tsulusiyah.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2024-07-24 11:17:192024-07-24 11:17:19Tiga Amalan Salah Niat yang Berakibat Masuk Neraka

Cerita Imam Mahdi dalam Meraih Prestasi

24/07/2024/in Feature /by Ard

Imam Mahdi mahasiswa Program Studi Teknik Kimia Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Dok. Istimewa)

Imam Mahdi, mahasiswa Program Studi Teknik Kimia Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Angkatan 21, menceritakan perjalanan prestasinya di bangku perkuliahan. Laki-laki yang kerap disapa Imam ini mengikuti organisasi Pengembangan Kreativitas Mahasiswa (PKM) Center UAD selama dua periode dan kegiatan Chem-E-Car UAD sampai sekarang. Untuk kegiatan yang diikuti, sama seperti mahasiswa pada umumnya. Salah satunya, ia menjadi asisten praktikum di kampus.

Dalam prestasi, banyak pencapaian yang telah Imam torehkan. Antara lain, pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Skim Karsa Cipta (KC) 2023 yang pada saat itu ia juga menjadi sebagai ketua di dalam timnya, penerima pendanaan Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Tim Riset 2024, mendapatkan gold medal, silver medal, dan bronze dalam kompetisi ajang internasional, juara III pada riset di Universitas Diponegoro (UNDIP) 2023, dan mahasiswa berprestasi Fakultas Teknologi Industri 2022.

Saat ditanya cara membagi waktu ala Imam, ia menjawab, “Saya menerapkan skala prioritas setiap saat, melihat dari sisi deadline dan kesanggupan mengerjakan.”

Ia menambahkan bahwa selama di dunia perkuliahan, ia sangat suka menekuni kegiatan dalam bidang research and development, jadi selama organisasi dan perlombaan ia menyalurkan minat melalui kegiatan yang ia laksanakan.

“Motivasi terbesar saya karena saya telah gap year selama dua tahun, dan saya pikir sebuah emas ditempatkan di mana pun akan menjadi emas. Hal yang selalu saya percaya. Dan cara saya yakin terhadap setiap impian yang ingin saya capai adalah, keyakinan yang kuat bahwa saya percaya dengan usaha yang hebat akan membentuk siapa diri kita. Sebab yang terpenting bukan hasil tetapi kebiasaan yang kuat, keyakinan itu yang saya pegang terus-menerus,” ujar Imam.

Sebagai penutup wawancara, ia mengatakan, hal yang membuat dirinya tidak pantang menyerah adalah selalu melihat hal ke depan; bahwa mimpinya harus tercapai, karena ia adalah harapan dari orang tuanya. (Rini)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Imam-Mahdi-mahasiswa-Program-Studi-Teknik-Kimia-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Dok.-Istimewa.jpg 941 848 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2024-07-24 09:20:262024-07-24 09:20:26Cerita Imam Mahdi dalam Meraih Prestasi

Promosi Kesehatan Mental: Apa Pentingnya?

17/07/2024/in Feature /by Ard

Pemaparan materi tentang Promosi Kesehatan Mental oleh Dr. Heni Trisnowati, S.K.M., M.P.H., dosen FKM Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Dok. Isah)

World Health Organization (WHO) mendefinisikan sehat sebagai keadaan yang sempurna baik fisik, mental, maupun sosial, tidak hanya terbebas dari penyakit atau kelemahan/cacat. Ketika seseorang memiliki kondisi tubuh yang sehat, maka produktivitasnya akan meningkat. Hal ini bermuara pada peningkatan kualitas hidup yang baik pula. Namun, kondisi yang demikian kadang kala sulit untuk dicapai terutama pada generasi Z yang banyak mengeluhkan kesehatan mentalnya.

Berangkat dari fenomena tersebut, Dr. Heni Trisnowati, S.K.M., M.P.H. kemudian didapuk sebagai narasumber pada 30 Juni 2024 lalu. Dikemas dalam bentuk talkshow oleh mahasiswa Peminatan Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku (PKIP) Program Studi (Prodi) S-1 Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Dr. Heni mengungkap banyak hal tentang kesehatan mental.

“Depresi dan anxiety menduduki peringkat kedua dan keenam dalam top 10 leading causes of global years lived with disability,” ungkap Dr. Heni.

Indikator Sehat Mental

Seseorang dengan mental yang sehat menurut WHO didasarkan pada beberapa kriteria, yakni mengenali potensi diri dengan baik, mampu menghadapi stres sehari-hari, produktif sesuai peran masing-masing, dan bermanfaat bagi orang lain. Kesehatan mental sendiri memiliki nilai intrinsik dan nilai instrumental yang membantu orang berkoneksi dengan lingkungan, memanfaatkan fungsinya, mengatasi masalah, dan berkembang.

Indikator sehat mental yang pertama adalah orang tersebut bisa berkoneksi, memiliki relationship yang positif, memiliki rasa empati. Indikator kedua adalah function, di mana kita dapat memanfaatkan kognitif skill yang dimiliki, berpendidikan, dan memiliki pilihan yang sehat. Jika mental kita sehat, tentu kita juga bisa mengatasi setiap permasalahan yang dialami serta mampu beradaptasi dengan perubahan. Kemampuan dalam mewujudkan ide-ide baru, memilih sesuatu dari berbagai pilihan, serta mengembangkan tujuan hidup juga menjadi bagian penting dalam sehat mental.

Resiliensi-Ketangguhan Internal

Dr. Heni menjelaskan, “Resiliensi atau ketangguhan bisa menjadi faktor protektif yang melindungi kita dari masalah mental disorder. Relisiensi ini muncul dari dalam diri sendiri maupun dari luar. Kepercayaan dan efikasi diri merupakan salah satu bentuk yang membantu kita agar tidak mudah mengalami gangguan kesehatan mental, bagaimana seseorang membangun hubungan yang baik dengan orang terdekatnya.”

Ketangguhan internal dalam bagian ini tidak hanya soal kepercayaan diri dan efikasinya, tetapi ada kemampuan untuk mengambil tindakan dan terus bertahan, keterampilan sosial yang baik pengelolaan emosi yang baik, optimis, dan decision making yang tepat. Kemampuan untuk memikirkan, merencanakan, dan bertindak untuk menyelesaikan masalah juga menjadi poin penting. Sementara ketangguhan eksternal muncul dari lingkungan sekitar individu misalnya keluarga dan teman dekat seperti bonding yang kuat dengan orang tua, merasa dicintai dan dihargai oleh orang tua. Selain itu, adanya hubungan sosial yang baik dengan orang lain seperti adanya teman dekat yang dapat diandalkan di masa-masa sulit.

Pendekatan Multisektor dalam Menangani Masalah Kesehatan Mental

Membantu seseorang dalam memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk mempromosikan dan melindungi kesehatan menjadi fokus dari promosi kesehatan mental itu sendiri. Melalui aktivitas literasi kesehatan, harapannya dapat memicu sinergitas untuk menciptakan lingkungan yang positif. Pada dasarnya, isu kesehatan mental dapat diselesaikan secara multisektor.

“Dari sisi promosi kesehatan, terdapat multilevel strategi yang dimulai dari tingkat individu, komunitas, hingga ke tingkat pemerintahan. Setiap negara biasanya memiliki undang-undang khusus untuk mengatur masalah kesehatan mental (kesehatan jiwa). Mental disorder semestinya bukan hanya tanggung jawab pribadi, tetapi juga instansi pendidikan dan masyarakat sekitar,” kata Dr. Heni.

Pencegahan dan Pengendalian

Masalah kesehatan mental dapat dicegah dan dikendalikan melalui beberapa rekomendasi. Selain literasi kesehatan mental dan pelibatan sivitas akademika dan pimpinan di instansi tempat bekerja, perlu diperhatikan beberapa hal misalnya konsep kesehatan jiwa, promosi kesehatan, serta pencegahan terkait harus dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan, terutama di Prodi Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. Perlu juga dilakukan peningkatan kapasitas petugas kesehatan masyarakat tentang isu kesehatan jiwa. Kolaborasi multisektor tak ketinggalan harus selalu diupayakan. Pemanfaatan platform digital untuk memperluas layanan kesehatan jiwa pun tak kalah penting. Selain itu, peningkatan sumber daya manusia dan anggaran, mengidentifikasi populasi rentan dan intervensi, serta pelibatan individu yang berpengalaman di tingkat perencanaan, pengembangan intervensi, dan pelaksanaan layanan kesehatan jiwa sehingga dapat menghemat biaya.

Di akhir sesi, Dr. Heni menekankan akan pentingnya mengubah pola pikir ke arah yang lebih positif. “Pada sebagian mahasiswa, pemicu paling besar adalah tenggat tugas kuliah. Maknailah tugas-tugas tersebut sebagai proses pembelajaran yang membawa manfaat di masa depan, bukan sebagai tekanan. Hal ini kemudian dapat membuat mahasiswa lebih bisa berdamai dengan keadaan. Bagaimana respons individu terhadap apa yang terjadi di sekitarnya menjadi penentu apakah dirinya mengalami gangguan mental atau tidak.” (ish)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Pemaparan-materi-tentang-Promosi-Kesehatan-Mental-oleh-Dr.-Heni-Trisnowati-S.K.M.-M.P.H.-dosen-FKM-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Dok.-Isah.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2024-07-17 13:13:282024-07-17 13:13:28Promosi Kesehatan Mental: Apa Pentingnya?

Perjuangan Komunitas Peradilan Semu UAD Hingga Raih Juara

13/07/2024/in Feature /by Ard

Tim Komunitas Peradilan Semu (KPS) Fakultas Hukum Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Dok. Istimewa)

Dalam hiruk-pikuk persiapan untuk National Moot Court Competition K.H. Ahmad Dahlan III tahun 2024, tim Komunitas Peradilan Semu (KPS) Fakultas Hukum Universitas Ahmad Dahlan (UAD) beranggotakan Reyhan Gimnastiar, Sendy Febra Mantacani, Rizky Surya Ramdani, dan Daffa Aryan Saputra, berhasil meraih juara I Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) Nasional Bela Negara yang diselenggarakan oleh Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur pada Jumat, 5 Juli 2024. Prestasi ini bukan hanya hasil dari kecerdasan dan ketekunan, tetapi juga buah dari kerja sama tim yang luar biasa dan strategi yang matang.

Sendy, anggota tim sekaligus ketua KPS UAD mengungkapkan bahwa motivasi utama bagi tim untuk mengikuti kompetisi LKTI adalah agar komunitas mereka tetap berprestasi di tengah persiapan agenda besar National Moot Court Competition. Mereka ingin mempertahankan reputasi komunitas yang selalu unggul, meski dalam kesibukan yang padat.

Ia juga menyampaikan bahwa setiap anggota tim memiliki peran penting dalam perjalanan menuju kemenangan ini. “Meskipun semua berkontribusi dalam pembuatan karya tulis, tiga anggota tim fokus pada presentasi, sementara satu lainnya bertanggung jawab atas administrasi. Kolaborasi dan pembagian tugas yang adil menjadi kunci dalam menghadapi tantangan besar yang muncul,” paparnya.

Tantangan utama yang dihadapi tim adalah pembagian waktu. Tiga dari anggota tim merupakan mahasiswa angkatan 2021 yang harus mengikuti praktik peradilan perdata, ditambah lagi dengan kesibukan komunitas dalam mengadakan Lomba Moot Court Nasional. “Namun, dengan memprioritaskan tugas yang lebih mendesak dan saling percaya, kami berhasil menyelesaikan karya tulis dan mempersiapkan presentasi dengan baik,” tambahnya.

Tema karya tulis yang diusung tim adalah “Optimalisasi Peran Lurah sebagai Non-Litigation Peacemaker dalam Mewujudkan Falsafah Hamemangun Karyenak Tyasing Sasama”. Falsafah ini menekankan prinsip-prinsip utama dalam kehidupan bermasyarakat, seperti perilaku yang santun, kedermawanan, dan konsistensi antara tindakan dengan ucapan. Dengan mengintegrasikan sifat-sifat ini, lurah dapat menjadi teladan dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang damai dan sejahtera.

“Untuk mendapatkan data dan informasi yang relevan, tim melakukan penelitian melalui jurnal, studi lapangan, dan wawancara dengan Istiqomah, S.E. selaku Lurah Kalurahan Ngampilan sekaligus peraih penghargaan Paralegal Justice Award Mahkamah Agung 2024. Pendekatan ini memberikan fondasi kuat bagi karya tulis kami.”

“Bimbingan dari M. Habibis Miftakhul Marwa, S.H.I., M.H. dan dukungan penuh dari Mufti Khakim, S.H., M.H. juga sangat berpengaruh dalam proses pembuatan karya tulis ini. Selain itu, alumni komunitas juga memberikan masukan berharga dan melatih tim dalam teknik presentasi dan menjawab pertanyaan,” jelas Sendy.

Perasaan bangga dan senang menyelimuti tim saat mendengar pengumuman kemenangan. Mereka merasa terhormat bisa mengharumkan nama almamater, tetapi tetap berkomitmen untuk terus berprestasi dan membanggakan komunitas, fakultas, dan universitas.

“Kompetisi ini memberikan pelajaran berharga tentang kemampuan membagi waktu di tengah kesibukan dan pentingnya saling percaya serta melatih kemampuan public speaking. Dengan kerja keras, kerja sama, dan dukungan penuh dari berbagai pihak, alhamdulillah tim kami berhasil mencapai prestasi yang membanggakan,” imbuhnya. (eka)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Tim-Komunitas-Peradilan-Semu-KPS-Fakultas-Hukum-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Dok.-Istimewa.jpg 1777 1000 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2024-07-13 12:19:342024-07-15 12:17:28Perjuangan Komunitas Peradilan Semu UAD Hingga Raih Juara

Tauhid Sosial: Beragama yang Menyejahterakan

29/06/2024/in Feature /by Ard

Kajian Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan pembicara Ridwan Furqoni, S.Pd.I., M.P.I. (Dok. Istimewa)

Kajian Rutin Ahad Pagi kembali digelar di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada 23 Juni 2024 bertepatan dengan 16 Dzulhijjah 1445 H. Acara juga disiarkan langsung melalui kanal YouTube Masjid Islamic Center UAD. Kajian dihadiri oleh mahasiswa, masyarakat sekitar, dan umum. Ridwan Furqoni, S.Pd.I., M.P.I. selaku Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY didapuk menjadi pemateri kajian.

Tauhid berasal dari kata bahasa Arab wahhada-yuwahhidu-tauhidan, wahid berarti satu, tauhid berarti menempatkan Allah sebagai satu-satunya. Jenis-jenis tauhid, antara lain tauhid rububiyah yakni meyakini Allah sebagai satu-satunya yang menciptakan, memelihara, dan merawat manusia. Tauhid mulkiyah yakni meyakini Allah sebagai satu-satunya Dzat yang Maha Berkuasa. Tauhid uluhiyah yakni meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya sesembahan yang berhak disembah.

Bertauhid di dalam hidup berarti menempatkan Allah sebagai satu-satunya orientasi hidup seseorang. Orang yang bertauhid pangkatnya, kekuasaannya, dan segala hal berorientasi kepada Allah, yakni demi menyempurnakan tugas Allah.

Referensi tema dalam pembahasan tersebut yaitu dari buku karya Amien Rais yang berjudul Tauhid Sosial Formula Menggempur Kesenjangan diterbitkan oleh Mizan, Bandung, tahun 1998. Tauhid sosial muncul sebagai respons dari cara beragama yang hanya mengedepankan kesalehan pribadi dan mengabaikan kehidupan sosial. Sesungguhnya perkara tauhid sosial ini sudah pernah dikritik oleh Kiai Dahlan pada tahun awal-awal abad ke-20, yang notabene di Indonesia pesantren dan kiai telah menjamur.

Beragama itu hendaknya berdampak dengan kehidupan sekitarnya. Beragama yang tidak berdampak cenderung akan menghasilkan masalah, maka bertauhid kepada Allah harus memberikan dampak dalam kesejahteraan hidup umat manusia di muka bumi. Tugas seorang muslim di dunia ada dua, yakni sebagai ‘abdullah (hamba Allah) dan memiliki status sebagai khalifatullah (pemimpin). Contoh tauhid sosial yaitu menyejahterakan sesama manusia dengan zakat, menyejahterakan hewan dengan memakai pisau yang tajam dalam pemotongannya, dan menyejahterakan alam dengan tidak mengeksploitasinya.

Di dalam Al-Qur’an dan hadis, ketika ada seseorang yang dihukum, banyak sekali yang hukumannya membebaskan budak. Hal ini karena Islam ingin menghapus perbudakan, perbudakan menempatkan manusia seperti setengah manusia, juga seperti barang. Jadi budak itu berbeda dengan pembantu, budak dimiliki langsung oleh majikannya seperti kepemilikan barang.

Pada harta benda mereka ada hak bagi orang miskin yang meminta dan yang tidak meminta. (Q.S. Adz-Dzariyat: 19)

Dari ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa berislam akan lebih sempurna jika kita membantu menyejahterakan sesama. Sebab di sebagian harta seseorang adalah hak untuk orang miskin. Sedekah dan zakat sebagai sarana penyucian dari harta seseorang yang tidak halal, atau harta yang tercampur. Orang yang berhak disedekahi yaitu balita telantar, anak jalanan, anak disabilitas, lanjut usia telantar, tuna susila, korban napza, korban bencana alam, fakir miskin, keluarga tidak layak huni, dan semisalnya. Tugas kita mengentaskan manusia dari dhu’afa (orang-orang yang lemah) dan mustad’afin (orang-orang yang terlemahkan), hal itu merupakan tugas ketauhidan seorang muslim. (Lus)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Kajian-Ahad-Pagi-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-dengan-pembicara-Ridwan-Furqoni-S.Pd_.I.-M.P.I.-Dok.-Istimewa.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2024-06-29 11:24:102024-06-29 11:24:10Tauhid Sosial: Beragama yang Menyejahterakan

Tiga Pelajaran Spirit Tauhid Nabi Ibrahim

28/06/2024/in Feature /by Ard

Prof. Dr. H. Dadang Kahmad, M.Si. selaku Khatib Salat Iduladha 1445 H di Universitas Ahmad Dahlan (Dok. Istimewa)

Tauhid atau konsep keesaan Allah merupakan salah satu konsep penting dalam agama Islam. Namun, sebelum Islam hadir, konsep ini telah ada dalam ajaran para nabi dan rasul sebelumnya, termasuk Nabi Ibrahim a.s. Nabi Ibrahim dianggap sebagai tokoh utama dalam Islam yang mengemban misi untuk menyebarkan tauhid di tengah-tengah masyarakat yang memercayai berbagai bentuk Tuhan dan dewa.

Hal ini dibahas lebih mendalam oleh Prof. Dr. H. Dadang Kahmad, M.Si. selaku khatib salat Iduladha 1445 H yang juga merupakan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bidang Pustaka, Informasi, dan Digitalisasi pada Senin, 17 Juni 2024. Acara yang digelar di Lapangan Bola Sisi Timur Kampus IV Universitas Ahmad Dahlan (UAD) ini diikuti oleh dosen, tenaga kependidikan, karyawan, mahasiswa di lingkungan UAD, serta masyarakat sekitar.

Pada kesempatan itu, Dadang Kahmad menyampaikan terkait tauhid aktif Nabi Ibrahim yaitu tauhid yang diiringi dengan amal shalih dan amar makruf nahi munkar. “Tauhid aktif adalah keyakinan yang disertai dengan amal saleh dan pelaksanaan amar makruf nahi mungkar. Nabi Ibrahim juga memiliki pemikiran kritis mengenai keberadaan alam semesta yang indah yang menunjukkan adanya Sang Pencipta,” jelasnya

Menurutnya, ada tiga pelajaran dari sejarah Nabi Ibrahim yang dapat diambil oleh umat Islam saat ini. Pelajaran-pelajaran tersebut adalah sebagai berikut.

Iman Harus Hidup dan Aktif

Pelajaran pertama, iman harus hidup dan aktif, bukan pasif dan statis. Iman yang aktif terwujud dalam tindakan amal sosial atau habluminannas, melakukan amar makruf nahi munkar, serta berakhlak baik dalam pergaulan dengan sesama manusia.

Aktif dalam Melakukan Pekerjaan yang Bermanfaat

Pelajaran kedua, orang beriman harus aktif dalam melakukan pekerjaan yang bermanfaat, termasuk di dalamnya memakmurkan bumi dan menjaganya dari kerusakan.

Jika Mampu, Berkurbanlah

Pelajaran ketiga, dianjurkan berkurban bagi yang mampu. Kurban merupakan salah satu bentuk kesalehan sosial yang penting dalam kehidupan beragama setiap muslim. “Barang siapa yang mampu lalu tidak berkurban maka tidak boleh mendekat ke tempat salat kami.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah)

“Mumpung masih diberi kesempatan hidup oleh Allah yang entah sampai kapan sisa umur ini masih ada. Sungguh alangkah indahnya jika umur yang tersisa ini kita gunakan untuk hal-hal yang bermanfaat sehingga menjadi umur yang dipenuhi kasih sayang Allah, umur yang dipenuhi barakah Allah. Harta yang kita punya, mari kita gunakan untuk kepentingan kebaikan, kita gunakan untuk meraih kesenangan di akhirat yang abadi. Jangan sampai kita menyesal selamanya ketika kita berada di alam keabadian,” tutupnya. (Lid)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Prof.-Dr.-H.-Dadang-Kahmad-M.Si_.-selaku-Khatib-Salat-Iduladha-1445-H-di-Universitas-Ahmad-Dahlan-Dok.-Istimewa.jpg 1080 1919 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2024-06-28 10:15:442024-06-28 10:26:31Tiga Pelajaran Spirit Tauhid Nabi Ibrahim

Ragam Kalender dan Hari Besar Islam

26/06/2024/in Feature /by Ard

Kajian Rutin Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) oleh Dr. H. Oman Fathurrahman, M.Ag. (Dok. Lusi)

Takmir masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) mengadakan Kajian Rutin Ahad Pagi pada 9 Juni 2024. Acara dilaksanakan di Lantai II Masjid Islamic Center UAD sekaligus live pada YouTube Masjid IC UAD. Pemateri kajian adalah Dr. H. Oman Fathurrahman, M.Ag. selaku dosen Ilmu Hadis UAD, sekaligus Ketua Bidang Hisab dan Iptek Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Oman menjelaskan terkait kalender. “Selama ini kita tidak begitu banyak mengenal tentang ragam kalender yang dijadikan patokan atau acuan, baik di dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kehidupan beribadah. Tampaknya kalender Hijriah tidak begitu menjadi perhatian, karena kita sudah terbiasa menggunakan kalender Syamsiyah atau Masehi dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.

Pada Jumat malam, Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) telah mengumumkan terkait jatuhnya tanggal 1 Dzulhijjah 1445 H. Setelah melakukan sidang isbat, Kemenag menetapkan bahwa tanggal 1 Dzulhijjah jatuh pada Sabtu, 8 Juni 2024. Jadi, orang-orang yang akan berkurban disunnahkan untuk tidak memotong kuku dan rambut. Selain itu, banyak sekali amalan-amalan lain yang dapat dilakukan di bulan Dzulhijjah, bahkan dalam suatu hadis dikatakan pahalanya setara dengan jihad.

Muhammadiyah satu tahun yang lalu, juga telah mengumumkan bahwa tanggal 1 Dzulhijjah bertepatan dengan hari Sabtu 8 Juni 2024. Karena pada pertengahan tahun 1444 H yang lalu, kalender Muhammadiyah telah dibuat. Namun untuk lebih meyakinkan masyarakat maka disusul dengan maklumat, yakni juga supaya informasi lebih tersebar luas. Maka pada tahun ini antara Muhammadiyah dan pemerintah menetapkan tanggal 1 Dzulhijjah jatuh pada tanggal 8 Juni 2024. Berdasarkan hal tersebut juga menunjukkan bahwa Iduladha akan dirayakan pada Senin, 17 Juni 2024.

Sekitar 20 negara di dunia menetapkan 1 Dzulhijjah di hari Jumat, 7 Juni 2024, antara lain Jerman, Algeria, Bahrain, Djibouti, Mesir, Irak, Yordania, Kuwait, Lebanon, Libya, Nigeria, Palestina, Qatar, Saudi Arabia, Somalia, Sudan, Syria, Tunisia, Turki, United Emirat Arab, dan Yaman. Sedangkan yang menetapkan tanggal 1 Dzulhijjah di hari Sabtu 8 Juni 2024, antara lain Bangladesh, Brunei Darussalam, India, Indonesia, Iran, Jepang, Malaysia, Mali, Mauritania, Maroko, Oman, Pakistan, Singapura, Afrika Selatan, dan Srilanka. Akibat dari perbedaan tanggal pada skala dunia, maka Iduladha juga akan terbagi menjadi dua tanggal. Hal ini sering kali terjadi di dunia, bahkan tidak hanya pada bulan Dzulhijjah saja.

Muhammadiyah sedang mengusahakan penyusunan pembuatan Kalender Islam Internasional. Dengan adanya kalender ini diharapkan dalam satu hari hanya satu tanggal, tidak seperti sekarang yang dalam 1 hari ada 2 tanggal. Muhammadiyah berupaya agar seluruh dunia menggunakan kalender Hijriah seperti kalender Masehi. Terlepas dari hal tersebut, orang-orang pasti ada yang setuju dan tidak. Hal ini memang perlu diusahakan dalam rangka menyelesaikan problem yang telah disebutkan itu, dengan membuat penataan waktu yang berskala dunia.

Sehubungan dengan berakhirnya Kalender Wujudul Hilal Muhammadiyah pada tahun 2024, maka untuk tahun 1446 H Muhammadiyah akan menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal yakni kalender Islam yang berskala internasional. Hal ini pun sudah dibahas dan diputuskan dalam sebuah musyawarah dan sekarang sedang menunggu tanfiz (pemberlakuan) dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Jika penetapan tanggal 1 Dzulhijjah di Indonesia menggunakan wujudul hilal maka hasil penetapan tersebut hanya berlaku di Indonesia saja dan tidak berlaku untuk negara lain. Kalender yang sering digunakan oleh Kementerian Agama itu juga tergolong lokal, meskipun diberlakukan pada beberapa negara seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam yang sama-sama bersifat lokal. Hal ini dapat disimpulkan bahwa kalender Hijriah yang sering beredar di masyarakat adalah kalender-kalender lokal, bahkan secara ekstrem juga populer dengan nama kalender ormas. Sebenarnya perbedaan yang terjadi sangatlah wajar, karena perhitungan kalender hanya berlaku untuk lokal yang kriteria-kriterianya tidak berlaku internasional.

Di dalam ilmu astronomi penetapan tanggal 1 Dzulhijjah ketika hilal di bawah ufuk itu sah. Alasannya adalah siklus bulan terjadi saat munculnya hilal, yaitu setelah konjungsi. Namun, terjadinya hilal belum tentu di atas ufuk, posisinya pun bisa terjadi di bawah ufuk (horizon). Maka dari itu, para ahli astronomi sepakat bahwa hilal akan muncul setelah ijtimak. (Lus)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Kajian-Rutin-Ahad-Pagi-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-oleh-Dr.-H.-Oman-Fathurrahman-M.Ag_.-Dok.-Lusi.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2024-06-26 09:23:412024-06-26 09:23:41Ragam Kalender dan Hari Besar Islam

Konsisten Adalah Kunci Mendapat Branding yang Baik

25/06/2024/in Feature /by Ard

Seminar Nasional Prodi Ilkom Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Bertema Up Scale Personal Branding for Business (Dok. Istimewa)

Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) melaksanakan seminar nasional dengan tema “Up Scale Personal Branding for Business”. Acara ini berlangsung pada Rabu, 12 Juni 2024 di Amphitarium Kampus IV UAD dengan menghadirkan narasumber yang kompeten di bidangnya. Mereka adalah Satia Pradana yang merupakan owner Inspira Grup dan Danang Giri Sadewa seorang education influencer.

Turut hadir pada seminar nasional ini yaitu Joko B. Purnomo selaku Wakil Bupati Bantul yang mengapresiasi penuh agar mahasiswa UAD bisa menjadi pengusaha besar dan terbaik. Tidak kalah menarik, acara ini disponsori oleh Junior Chamber International (JCI) sebagai organisasi di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai kepemudaan. Selain itu, dilakukan pula penandatangan Memorandum of Understanding (MoU) yang didampingi oleh Dekan Fakultas Sastra, Budaya, dan Komunikasi (FSBK) Wajiran, S.S., M.A., Ph.D. dan Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Fitrinanda An Nur, S.I.Kom., M.A.

Pada acara tersebut, Danang Giri Sadewa menyampaikan mengenai pengalaman dirinya dalam mengembangkan bisnis mulai dari nol hingga sukses menjadi education influencer. Awalnya ia berjualan duri landak ketika di bangku sekolah dasar yang saat itu ia katakana bahwa itu bisnis iseng hingga kini dirinya memiliki bisnis yang luar biasa, yakni self-photo studio maupun agen travel umrah. Ia juga menceritakan lika-liku aktif mengembangkan konten-kontennya pada platform TikTok hingga for you page atau FYP.

“Kunci dalam menjalankan bisnis supaya mendapatkan branding yang baik yaitu dengan cara konsisten. Di dunia bisnis itu tidak ada yang instan,” ujarnya.

Narasumber kedua, Satia Pradana, menyampaikan hal yang sama. “Sebuah bisnis bisa berkembang apabila kita terus menjalaninya dan tidak berubah ubah.”

Ia mengibaratkan seperti kisah kelinci dan kura-kura yang berlomba lari, di mana kura-kura ini tetap akan berusaha berlari pelan hingga finis secara konsisten, tetapi berbanding terbalik dengan kelinci yang berlari kencang, melompat-lompat, dan tidak konsisten sehingga tertinggal dari kura-kura.

“Kita boleh memilih berteman dalam hal baik bisa bersama orang yang lebih mahir daripada kita, sehingga kita juga bisa ikut termotivasi dari orang tersebut,” imbuhnya.

Acara ini juga dibuka interaksi langsung berupa tanya jawab bersama mahasiswa yang hadir di Amphitarium Kampus IV UAD dan dimoderatori oleh Eka Anisa Sari, S.I.Kom., M.I.Kom. Seminar ditutup dengan pemberian hadiah kepada penanya terbaik dan mahasiswa terpilih. “Harapannya acara ini dapat mewadahi mahasiswa untuk mengenal lebih jauh bagaimana personal branding dan komunikasi,” ujar Azizy Juhari selaku ketua panitia. (dil)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Seminar-Nasional-Prodi-Ilkom-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Bertema-Up-Scale-Personal-Branding-for-Business-Dok.-Istimewa.jpeg 1098 1500 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2024-06-25 11:10:542024-06-25 11:10:54Konsisten Adalah Kunci Mendapat Branding yang Baik

Perintah Beramal Saleh pada Bulan Dzulhijjah

14/06/2024/in Feature /by Ard

Penyampaian Khutbah Jumat oleh Fauzan Muhammadi, Lc., LL.M di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Dok. Istimewa)

Takmir masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali mengadakan salat Jumat pada 7 Juni 2024, dengan khatib Fauzan Muhammadi, Lc., LL.M. yang merupakan dosen Fakultas Hukum UAD. Acara dilaksanakan di Masjid Islamic Center dan disiarkan langsung melalui YouTube Masjid Islamic Center UAD.

Memasuki bulan yang mulia yaitu Dzulhijjah, yang sering disebut dengan bulan Haji, bulan Besar, dan bulan Iduladha maka esensi Iduladha merupakan bentuk pengorbanan salah satu Nabi yang diutus Allah yaitu Nabi Ibrahim a.s. Oleh karena itu, hendaknya kita melaksanakan ibadah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. yakni puasa Arafah.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Abdullah ibnu Abbas, Rasulullah saw. bersabda:

“Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal saleh di dalamnya lebih dicintai oleh-Nya daripada hari yang sepuluh (10 hari pertama dari Dzulhijjah), maka perbanyaklah tahlil, takbir, dan tahmid.”

Maksud dari kata “10 hari” di dalam hadis tersebut adalah 10 hari awal di bulan Dzulhijjah. Rasulullah menyampaikan hal tersebut di hadapan para sahabat, kemudian para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah apakah tidak termasuk juga di dalamnya jihad fi sabilillah? Rasul menjawab: “Tidak termasuk jihad fi sabilillah, kecuali orang-orang yang keluar dari medan laga baik itu mengorbankan nyawanya atau harta yang ia miliki dan ia tidak kembali lagi (syahid atau tewas di medan perang)”. Rasulullah menegaskan jika orang yang berperang masih diberi kesempatan oleh Allah Swt. untuk kembali kepada lingkungan keluarga dan masyarakat yang ia hidup di sekitarnya. Maka Rasulullah menegaskan untuk berbuat baik di dalamnya.

Al-‘Amalu al-Shalih yang dimaksud Rasulullah di dalam hadis adalah amalan-amalan yang dilakukan setiap hari, yakni dengan fokus niat lillahi ta’ala bukan kepada niat-niat yang lain. Contoh amalannya adalah salat yang dilakukan setiap hari, berbakti kepada kedua orang tua yang tentu saja harus dilakukan sepanjang hidup, berinfak, bersedekah, berzakat ketika sudah waktunya, atau amaliah-amaliah lainnya yang cenderung rutin untuk menjalankannya. Amalan-amalan yang telah disebutkan tadi, pahalanya akan dilipat gandakan daripada bulan-bulan yang lain.

Tidak hanya satu bulan yang dianggap mulia, ada juga bulan yang lebih mulia dari empat bulan hijriah yang telah disebutkan tadi. Sebagaimana yang disebutkan oleh Nabi yakni bulan suci Ramadan yang dianggap lebih istimewa dari empat bulan yang mulia. Maka dari itu, pada awal-awal bulan Dzulhijjah khususnya pada 10 hari pertamanya, mari bersama-sama untuk memupuk semangat dan menanamkan benih-benih amal saleh, agar mendapatkan nilai, ganjaran yang lebih, dan dapat membiasakan beramal saleh dengan diiringi niat lillahi ta’ala.

Allah Swt. berfirman dalam salah satu potongan ayatnya ketika beliau menyampaikan perintah fastabiqul khairat, yang artinya “Berlomba-lombalah kalian dalam berbuat kebaikan”. Dalam melakukan semua hal yang sifatnya khair, perlu dijadikan motivasi agar dapat menjalankan semua keseharian dengan perilaku dan tindak tanduk yang positif. Karena hal tersebut tidak hanya berdampak untuk diri sendiri, tetapi juga sebagai media dakwah dengan memberikan contoh yang baik ditujukan kepada orang-orang yang belum bisa meniru dan diharapkan menjadi perilaku positif yang menular yang diikuti oleh orang terdekat maupun yang jauh.

Marilah tanamkan kepada diri masing-masing untuk menjadikan bulan-bulan mulia sebagai penetap dalam menjalankan atau membiasakan ibadah keseharian dengan nilai amaliah saleh pada bulan-bulan yang lalu dan bukan pada bulan-bulan mulia saja. Marilah jadikan momen Jumat yang mengawali bulan Dzulhijjah ini, dengan menjadi hari yang mulia untuk mengawali bulan yang mulia dan melalui majelis ini marilah kita termotivasi untuk selalu memanjatkan doa kepada Allah Swt. (Lus)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Penyampaian-Khutbah-Jumat-oleh-Fauzan-Muhammadi-Lc.-LL.M-di-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Dok.-Istimewa.png 843 1500 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2024-06-14 11:14:242024-06-14 11:14:24Perintah Beramal Saleh pada Bulan Dzulhijjah

Mau Berprestasi? Mulai Aja Dulu

22/05/2024/in Feature /by Ard

Lathifah Aprian Putri, Mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Juara 1 Pilmapres Diploma LLDIKTI V Yogyakarta (Dok. Istimewa)

Kabar membanggakan dari Universitas Ahmad Dahlan (UAD), pasalnya salah satu mahasiswa Diploma Program Studi (Prodi) Bisnis Jasa Makanan (Bisma) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) yakni Lathifah Apriana Putri, berhasil meraih juara I Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah V. Perempuan yang akrab dipanggil Lathifah ini merupakan penerima Beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) UAD.

Sejak mahasiswa baru, Lathifah sudah berkecimpung dalam berbagai kompetisi tingkat nasional, selain untuk mengasah skill juga untuk menambah relasi dan pengalaman. Selama ini, ia selalu berusaha mengatur waktunya dengan sebaik mungkin.

“Saya membuat jadwal kegiatan sehari-hari, selain itu juga tidak dimungkiri pasti pernah meninggalkan kelas demi mengikuti kegiatan kompetisi dan pembinaan Pilmapres dari universitas. Hal itu memang mengharuskan saya untuk meninggalkan kelas sementara waktu, tetapi hal tersebut tidak menjadi sebuah kendala karena telah ada surat izin. Kuncinya adalah, memiliki teman yang peduli untuk membantu dalam memberi informasi terkait tugas yang tertinggal. Oleh karena itu, peran dosen dan teman kelas ikut andil dalam penyeimbangan prestasi akademik dan nonakademik saya,” papar Lathifah dalam wawancaranya.

Menilik perjalanannya sampai saat ini, tentu saja Lathifah mempunyai motivasi dan tekad yang kuat sehingga menjadikannya memperoleh satu per satu apa yang dicita-citakannya. “Orang tua dan masa depan cerahlah yang dapat memotivasi saya hingga saya memiliki tekad dan keinginan yang kuat untuk menjadi mahasiswa berprestasi. Selain itu saya juga termotivasi dari berbagai tokoh inspiratif seperti Maudy Ayunda, Jerome Polin Sijabat, Amanda Susanti, dan berbagai influencer yang memiliki konten berisi self-growth. Hal itu tentu saja dapat memberikan motivasi untuk saya. Kunci saya dapat meraih penghargaan ini adalah, keinginan mau belajar, tekad dan keberanian yang kuat untuk mencoba, serta ikhtiar yang terbaik. Tak lupa juga doa restu dan dukungan dari orang tua, teman dekat, dosen serta dukungan dari universitas pun juga sangat berdampak pada hasil perjuangan saya selama berkompetisi,” tambahnya.

Pilmapres merupakan ajang kompetisi yang sangat luar biasa karena dapat mendorong para mahasiswa agar berprestasi dan berambisi dalam sebuah pencapaian. “Menurut saya, Pilmapres sangat berperan dalam memberikan motivasi, dapat meningkatkan kreativitas diri, melatih mental karena di sana akan bertemu dengan para mahasiswa dari universitas lain, menghasilkan generasi muda yang berjiwa intelektual, serta memberikan penghargaan yang tinggi kepada mahasiswa dengan berbagai capaian prestasinya selama menjadi seorang mahasiswa,” ungkap Lathifah.

“Pesan dan saran dari saya untuk teman-teman di luar sana, untuk memulai sebuah capaian dan prestasi bukan dimulai dari kita harus pintar dan hebat, tetapi dimulai dari keinginan atau kemauan ingin belajar, berikhtiar, mencoba hal yang baru, tekad dan keberanian yang kuat, percaya diri, serta jangan berputus asa terlebih dahulu sebelum mencoba. Sebab, bisa jadi dari usaha dan perjuanganmu itulah yang dapat menghasilkan sebuah keberuntungan prestasi yang tidak disangka sangka. Teruslah menjadi mahasiswa yang memiliki prinsip, keinginan dan cita-cita yang harus diperjuangkan, jangan terlelap dengan zona nyaman yang menjadikan kita stuck di situ-situ aja,” ujarnya.

Ia menambahkan, “Ayo bangkit keluar dari zona nyaman, terjang seluruh lika-liku kehidupan naikkan value diri, perluas relasi, perbanyak pengalaman, jangan bermalas-malasan, karena orang sukses tidak dimulai dari rasa malas tetapi usaha dan perjuangan. Setidaknya usaha terlebih dahulu, jika sukses maka kita akan menjadi orang yang berkelas, tetapi jika gagal setidaknya kita bukan orang yang pemalas dan teruslah bertekad untuk memiliki prestasi yang dapat bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.” (Lin)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Lathifah-Aprian-Putri-Mahasiswa-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Juara-1-Pilmapres-Diploma-LLDIKTI-V-Yogyakarta-Dok.-Istimewa.jpeg 1397 2000 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2024-05-22 08:01:562024-05-22 08:12:40Mau Berprestasi? Mulai Aja Dulu
Page 35 of 75«‹3334353637›»

TERKINI

  • Tim PPK Ormawa IMM FKM UAD Latih Kader Caturharjo Gunakan Alat Kesehatan07/07/2026
  • Pentingnya Continuous Improvement dan Sikap Keep Learning bagi Lulusan Informatika07/07/2026
  • KKN UAD Kenalkan Eco-Enzyme sebagai Solusi Pengolahan Sampah Organik07/07/2026
  • UAD Raih Dua Penghargaan Anugerah Humas LLDIKTI Wilayah V 202606/07/2026
  • Program Studi PGPAUD UAD Resmi Terakreditasi Unggul06/07/2026

PRESTASI

  • Mahasiswa Ilmu Komunikasi UAD Juara 1 Lomba Fotografi di Ajang SILAT APIK PTMA 202606/07/2026
  • Mahasiswa UAD Juara I Poster Competition GALA BISMA VI 202602/07/2026
  • Mahasiswa Ilmu Komunikasi UAD Raih Juara III dalam University Clash 202625/06/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Penghargaan Favorit pada Kompetisi Fotografi Internasional di Malaysia23/06/2026
  • Mahasiswa Gizi UAD Raih Dua Gelar Juara dalam Kompetisi Artikel Ilmiah Nasional 202622/06/2026

FEATURE

  • Irgiawan Aditya Rangga Alumnus UAD dengan Segudang Prestasi Akademik dan Nonakademik03/07/2026
  • Kisah Noval Arwansyah: Belajar, Bertumbuh, dan Berprestasi03/07/2026
  • Menggali Makna Hijrah Rasulullah: Benteng Keselamatan dan Kunci Masyarakat Madani27/06/2026
  • Hukum Puasa Asyura Tanpa Tasu’a: Kajian Ahad Pagi UAD Kupas Tuntas Fikih Muharram22/06/2026
  • Dari Jalur Beasiswa, Rentetan Medali, Hingga Predikat Wisudawan Berprestasi18/06/2026

TENTANG | KRU | KONTAK | REKAPITULASI

Scroll to top