Fesyen Memberi Peluang untuk Berwirausaha

0
105

Febriyani Dyah merupakan mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) yang mendapatkan dana hibah dari Kementerian Koperasi dan UMKM dalam rangka gerakan mahasiswa pengusaha. Berikut hasil wawancara dengan Febriyani, saat ditemui Selasa (10/4/2018) di kampus 5 Jln. Ki Agung Pemanahan 19 Nitikan, Sorosutan, Yogyakarta.

Apa motivasi Anda ikut pembiayaan dari Kementerian Koperasi dan UMKM?

Sebenarnya, saya mencoba-coba daftar, dengan mengajukan proposal ke Biro Kemahasiswaan (Bimawa). Saya tahu informasi ini dari dosen PGSD, yang mengatakan bahwa ada pembiayaan bagi mahasiswa pengusaha. Ketika mendapatkan dana hibah dari Kementerian Koperasi dan UMKM, saya mulai berpikir, dana itu nantinya bisa saya pakai untuk menambah modal usaha di dunia fesyen.

Peluang dari Kementerian dan UMKM tersebut, membuat saya semakin serius dalam menekuni dunia fesyen. Saya juga mau membuktikan kalau mahasiswa PGSD bukan hanya bisa mengajar, tetapi juga bisa bewirausaha.

Mengapa memilih fesyen sebagai usaha?

Fesyen merupakan kebutuhan pokok bagi wanita dan pria, khususnya baju. Selain itu, perkembangan fesyen tiap tahunnya juga semakin meningkat di kancah dunia. Sehingga, ada peluang besar untuk merintis fesyen dalam berwirausaha.

Sudah berapa lama Anda menekuni dunia fesyen?

Sejak dulu, saya memperhatikan perkembangan fesyen dan gaya yang banyak diminati konsumen pada zaman tertentu. Akhirnya, pada Sepetember 2017, saya lebih fokus dan memulai berwirausaha sampai sekarang ini.

Apa fesyen yang Anda pilih? Alasannya?

Gamis, karena gamis sering kali dipakai oleh wanita dalam berkegiatan setiap hari. Gamis juga sangat digemari oleh kebanyakan kalangan wanita remaja, mahasiswa, dan ibu rumah tangga. Selain itu, kain gamis enak dipakai, ketika sudah di badan seperti tidak ada yang lengket. Modelnya yang simpel, bisa menjaga kepercayaan diri seseorang. Harga gamis terjangkau dan bahannya juga tidak murahan, bisa dipakai ketika acara formal maupun non-formal.

Bagaimana perkembangan usaha Anda sekarang?

Dalam berwirausaha, kadang laris dan tidak. Awalnya saya membuka lapak di dekat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dan alhamdulillah ada banyak mahasiswa dari perguruan tinggi se-Yogyakarta yang berminat membeli gamis.

Lalu, kemarin sempat juga ikut bazar di UAD, salah satu rangkaian Milad Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), meskipun di sana kurang peminatnya.

Pemasaran gamis ini, saya promosikan lewat media daring juga, seperti Instagram dan OLX. Dari media itu, saya bekerja sama dengan teman. Pertama kali saya memasarkan di OLX, ada orang dari Riau memesan sebanyak 30 gamis, tambah lagi pada bulan Maret sebanyak 20 gamis.

Setiap bulan, ada berapa baju yang terjual?

Untuk penjualannya tidak menentu. Kadang bisa terjual 20 atau lebih. Saya memasarkan gamis itu hanya satu minggu sekali, tidak setiap hari.

Apakah ada tips dari Anda untuk melancarkan usaha?

Ketika sudah mulai berwirausaha, kita harus serius menekuni dan menjalankan usaha tersebut, apa pun itu. Kalau orang kalangan bawah atau menengah mau berwirausaha tetapi tidak mempunyai modal, bisa juga menyisihkan uang saku atau uang jajan yang lebih. Sedikit demi sedikit, uang itu nantinya bisa menjadi modal awal untuk berwirausaha. Jangan lupa pula, ketika ada uang lebih dari hasil usaha, alangkah lebih baiknya kalau disedekahkan atau diberikan kepada orang yang membutuhkan.

Apa harapan Anda kepada Kementerian Koperasi dan UMKM dalam pembiayaan pengusaha pemula ke depannya?

Harapannya, semoga Kementerian Koperasi dan UMKM bisa lebih banyak memberikan peluang kepada mahasiswa yang baru mulai merintis usaha. Sehingga mereka bisa lebih bersemangat dan termotivasi untuk memajukan dunia usaha ke depannya nanti. (ASE)