Inovasi Mahasiswa untuk Penyandang Disabilitas

0
128

Berawal dari kegelisahannya mengetahui banyak penyandang disabilitas di Indonesia, Ahmad Yogaswara berhasil berinovasi menciptakan kursi roda dengan sarung tangan pintar. Dari hasil inovasi itu juga, ia bersama rekannya yang terdiri atas Iqbal Cahya Kurniawan, Ferosa Ardiana Wardani, dan Muhammad Anas berhasil menjuarai berbagai perlombaan yang diikuti.

Mengetahui jumlah penyandang disabilitas sebesar 6.008.661 jiwa atau setara dengan 2,45% dari total seluruh penyandang disabilitas di Indonesia, Yoga akhirnya mencetuskan ide untuk membuat kursi roda dengan sarung tangan pintar.

“Selain itu juga, karena saat semester satu saya tinggal di rumah Pak De yang kebetulan menjual alat-alat kesehatan, seperti kursi roda dan lainnya, membuat saya ingin berinovasi melalui kursi roda tersebut,” ungkapnya saat dikonfirmasi pada 14 Februari 2019.

Sebelum idenya terealisasi, pada semester tiga, Yoga terlebih dahulu mengikutsertakan proposal dengan judul “Si Sarpin” pada Pekan Kreativitas Mahasiswa dan meraih pendanaan PKM KC 2018 yang diadakan Kemenristek Dikti. Sarpin merupakan akronim dari sarung tangan pintar.

Selain itu, Yoga dibantu oleh dosen pembimbingnya yakni Anton Yudhana untuk melakukan riset terkait sarung tangan pintar. Kemudian dari hasil tersebut akhirnya ia kombinasikan sebagai alat penggerak kursi roda.

Yoga menceritakan lama waktu pengerjaan alat tersebut, sebelum akhirnya ia ikut sertakan dalam lomba Pekan Kreatif Mahasiswa, “Untuk waktu pengerjaannya sendiri dimulai dari April sampai Juli. Sekitar empat sampai lima bulan,” tuturnya.

Laki-laki kelahiran Karawang, 21 tahun yang lalu ini juga menceritakan alasan memilih menggunakan sarung tangan sebagai alat kendali kursi roda. Sarung tangan dianggap sebagai inovasi baru karena sebelumnya sudah ada alat pengendali kursi roda yang menggunakan joystick, kendali otak, dan lainnya. Maka, penggunaan sarung tangan ini dianggap berbeda.

Melalui sarung tangan yang sebelumnya sudah Yoga desain untuk memancarkan sinyal radio frekuensi dengan model NRF 24L 01, kendali sepenuhnya bisa diatur dengan kode-kode yang sudah dimasukan ke dalam sistem. “Penyandang disabilitas yang menggunakan sarung tangan tersebut hanya tinggal menggerakan jarinya sesuai dengan kode. Misalnya dengan menekuk ibu jari atau jempol maka kursi roda akan bergerak maju, ketika jari membentuk huruf ‘O’ maka kursi roda akan bergerak mundur, membentuk ‘L’ maka kursi roda belok kiri, dan huruf ‘V’ maka akan belok kanan, dan untuk berhenti dengan merentangkan seluruh jarinya,” ungkapnya.

Dari inovasi yang berhasil ia ciptakan, rentetan penghargaan pun mampu diraih, di antaranya adalah menjadi finalis Gemstik 11 cabang Piranti Cerdas, Sistem Benam dan loT 2018, Juara 1 Inovator Inovasi Indonesia Expo (I3E) Kategori Kompetisi Inovasi 2018 di Jogja City Mall, Juara 2 PKM-PTM Forum Grup Diskusi Teknologi yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Aceh 2018, dan Juara 1 kompetisi ELCCO (Electrical and Computer Competition) 2019 di Universitas Udayana, Bali.

Di tengah kesibukannya mempersiapkan diri untuk mengikuti Kontes Robot Regional III bulan April mendatang, Yoga berharap kursi roda dengan sarung tangan pintar ini mampu dikomersilkan agar manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh penyandang disabilitas. (eng)