• TERKINI
  • UAD BERDAMPAK
  • PRESTASI
  • FEATURE
  • OPINI
  • MEDIA
  • KIRIM BERITA
  • Menu
News Portal of Universitas Ahmad Dahlan

Intergasi Pendidikan Ksatria dalam Pendidikan Karakter

30/05/2013/0 Comments/in Terkini /by Super News

 

Dani Fadillah*

Setelah membaca sebuah karya fenomena buatan RA Kosasih, yaitu Bharatayudha dan Mahabharata. Secara pribadi penulis jadi berpikir kapan pendidikan ksatria dapat diterapkan dalam sistem pendidikan kita? Konsep pendidikan ksatria ini bukanlah sebuah wacana tandingan pendidikan karakter yang tengah bergaung saat ini, namun justru sebagai wacana yang diharapkan dapat menjadi inspirasi guna menyempurnakan konsep pendidikan karakter agar lebih baik lagi.

Lantas seperti apa dan untuk apakah pendidikan ksatria itu? Pendidikan ksatria adalah pendidikan yang menekankan pada para peserta didik untuk tidak bertindak pragmatis dan mengedepankan kepentingan “menang-kalah” dengan segala cara (zero sum game) dalam perjuangan untuk memenangkan persaingan, namun harus mengedepankan sebuah idealisme penting yang harus tetap dipertahankan, yaitu kehormatan. Persaingan memang erat kaitannya dengan kalah-menang. Tapi, wajib hukumnya untuk menyediakan ruang bagi kehormatan di dalamnya.

Memang dalam sebuah persaingan selalu ada yang menang dan ada pula yang kalah. Namun, apakah persaingan selalu harus selalu bertumpu pada kejadian menang-kalah? Dalam kisah-kisah pewayangan kita dapat menemukan banyak hal terkait konsep pendidikan ksatria yang dapat mengedepankan kehormatan di atas segala-galanya, termasuk kemenangan di depan mata yang bisa dengan mudah didapatkan. Arjuna tidak pernah mau bertarung melawan Karna, karena dalan asumsi Arjuna, Karna bukanlah murid Doryudana hingga tidak mungkin akan menang melawan dirinya. Meski pada kenyataannya Arjuna keliru, sebab selama ini Karna selalu mengintip murid-murid Doryudana berlatih dan dia juga memiliki kesaktian yang sama dengan Arjuna. Namun, dalam kisah tersebut kita tentu dapat mengambil hikmah bahwa seorang ksatria pantang untuk menghabisi lawan yang lemah, dan para ksatria diharamkan untuk memainkan pola zero sum game dalam proses menghadapi lawan.

Kisah Mahabharata dan Bharatayudha memanng memiliki sisi-sisi yang masih diperdebatkan, namun kisah-kisah ksatria di dalamnya meninggalkan banyak pelajaran positif yang bersifat universal. Seorang ksatria dihormati oleh kawan maupun lawan karena memiliki kehormatan sejati yang benar-benar murni berasal dari tingkah dan perilakunya sendiri, bukan karena keturunannya, juga bukan karena dia berhasil merebut kekuasaan dari pihak lawan.

Lihatlah saat ini ulah para oknum pemimpin dan wakil-wakil kita yang tidak memiliki sikap ksatria. Sikap mereka yang tidak memiliki spirit ke-ksatria-an sudah tampak jelas sejak mereka masih belum mendapatkan kursi empuk di DPR, sejak masa kampamnye tidak sedikit dari mereka yang mementingkan kemenangan dengan cara apa pun, meski pun dengan menyikut saudara seperjuangan dalam kalangan parpol sendiri. Kemudian setelah berhasil mendapatkan kursi kekuasaan tidak sedikit dari mereka yang lantas malah sibuk untuk memakmurkan diri dan golongannya sendiri dari pada mengurusi kepentingan rakyat. Dan ketika secara nyata mereka telah melukai hati rakyat dengan segala kebijakan dan tingkah lakunya. Alih-alih sadar diri lantas minta maaf dan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Mereka malah tidak merasa bersalah dengan melontarkan berjuta alasan untuk membenarkan setiap kesalahannya itu. Dari pada para pemimpin yang memiliki sikap ksatria mereka lebih serupa dengan para ‘Kurawa’ yang penuh dengan keserakahan.

Seorang pemimpin dengan jiwa ksatria akan mundur dari jabatannya kalau dia terlibat dalam peristiwa yang memalukan serta tidak pantas dilakukan oleh seorang pemimpin. Singkatnya sikap “tahu malu” akan muncul jika telah melakukan kesalahan dan lari dari tanggung jawab. Tradisi ksatria inilah yang telah luntur dan amat sangat langka di sekitar kita.

*Dosen Ilmu Komunikasi UAD

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png 0 0 Super News https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Super News2013-05-30 01:53:052013-05-30 01:53:05Intergasi Pendidikan Ksatria dalam Pendidikan Karakter
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply Cancel reply

You must be logged in to post a comment.

TERKINI

  • Perluas Jangkauan Pitutur Waras, PPKO IMM FKM UAD Sasar Empat Padukuhan di Caturharjo31/08/2026
  • Robotic UAD Meriahkan Kegiatan HUT RI di Dengan Platform Streaming31/08/2026
  • KKN ADI UAD Mengabdi di Muna Barat, Sulawesi Tenggara31/08/2026
  • Rektor UAD: Penting Menjaga Keikhlasan dan Keseimbangan Hidup31/08/2026
  • LazisMu UAD Salurkan Beasiswa Sang Surya bagi Mahasiswa Berprestasi31/08/2026

PRESTASI

  • Buat Inovasi Pendidikan dan Literasi, Mahasiswa UAD Raih Tiga Prestasi Nasional20/08/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Gold dan Silver Medal pada Essay National Competition 202619/08/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara II Lomba Poster Edukatif Kesehatan Mental18/08/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara I Lomba Baca Puisi Dahlan Culture Festival 202608/08/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara 3 Cakrawala National Essay Competition31/07/2026

FEATURE

  • Resep Istikamah Ibadah dan Menjaga Kesehatan Kerja28/08/2026
  • Bukan Sekadar Juara, Muhammad Ziya Ul Albab Ingin Ilmunya Memberi Manfaat27/08/2026
  • Dhita Pratama Beberkan Pentingnya Marketing Communication untuk Perkuat Karier20/08/2026
  • Hafiz Ahmad Rumalutur, Wisudawan FH UAD Dengan Segudang Prestasi Nasional19/08/2026
  • Di Balik Deretan Prestasi, Ada Perjalanan yang Tidak Sederhana19/08/2026

TENTANG | KRU | KONTAK | REKAPITULASI

Scroll to top