Mahasiswa dan Alumni UAD Ramaikan SPS Edisi 160

0
147

 

Pada beberapa kesempatan, Dr. Kasiyarno, M.Hum., Rektor Universitas Ahmad Dahlan (UAD) selalu menegaskan UAD sangat terbuka terhadap seni, sastra, dan budaya. Pernyataan ini dibuktikan dengan semakin meningkatnya prestasi UAD di bidang ini. Di Yogyakarta khususnya, mahasiswa dan alumni UAD juga banyak yang teribat secara langsung dalam kegiatan di kantong-kantong komunitas maupun lembaga seni, sastra, dan budaya yang ada.

Pada Sabtu (26-1-2019), mahasiswa dan alumni UAD menjadi penampil dalam acara yang diselenggarakan Studio Pertunjukan Sastra (SPS) edisi 160. Mereka adalah Shofia Yurida mahasiswa Fakultas Farmasi, Rizki Ramdhani dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), serta Kurniaji Satoto alumnus FKIP UAD.

Shofia merupakan juara 3 tangkai lomba baca puisi Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) 2018, sementara Rizki juara 3 tangkai lomba monolog Peksimida 2018. Sedangkan Kurniaji saat ini menjabat sebagai ketua kelompok belajar sastra Jejak Imaji dan salah satu peraih Program Seniman Pasca Terampil (PSPT) 2019 Bagong Kussudiardja.

Keterlibatan mahasiswa dan alumni dengan dunia seni, sastra, dan budaya di Yogyakarta akan menjadi sangat penting untuk membangun relasi eksternal. Hubungan baik dengan relasi luar tentu akan meningkatkan citra perguruan tinggi. Dalam hal tertentu, relasi juga bisa menjadi wadah mahasiswa untuk mengasah dan mengembangkan bakat di luar kampus.

Pergulatan di luar kampus juga akan menambah pengalaman mahasiswa dan kemampuan nonakademis khususnya seni, sastra, dan budaya. Sehingga harapannya mahasiswa dapat mendulang dan memersembahkan prestasi bagi almamaternya. Di Yogyakarta, UAD menjadi salah satu perguruan tinggi yang berpengaruh dalam perkembangan seni, sastra, dan budaya.

Tajuk yang diangkat dalam acara Bincang-Bincang Sastra SPS edisi 160 yang bekerja sama dengan Taman Budaya Yogyakarta (TBY) adalah “Yogyakarta Ibunda Tercinta”. Selain diisi oleh mahasiswa dan alumni UAD, acara yang berlangsung di Ruang Seminar (TBY) mengadirkan tiga pembicara, Prof. Faruk, Edi A.H. Iyubenu, dan Indrian Koto.

Bayu Aji Setiawan selaku koordinator acara yang merupakan mahasiswa aktif Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) UAD mengatakan, Yogyakarta menjadi ladang bagi tumbuh kembang kesenian tradisi dan kesenian modern secara berdampingan di topang dengan adanya sekolah, kampus, sanggar seni, dan komunitas-komunitas. (ard/doc)