Penggulungan Karpet di IC UAD untuk Antisipasi Virus Corona

38

Virus corona menjadi topik yang hangat dalam dua bulan terakhir. Virus ini pertama kali menyerang ratusan masyarakat kota Wuhan, Tiongkok. Sekarang, virus ini mulai mewabah berbagai negara, termasuk Indonesia. Penyebaran virus corona menjadi ancaman bagi orang-orang di berbagai negara.

Gejala klinis virus corona dapat ditandai dengan adanya gangguan di saluran pernapasan, batuk pilek, sakit tenggorokan, letih atau lesu, dan demam. Berbagai cara telah dilakukan untuk mengantisipasi terjangkitnya virus ini, seperti menerapkan pola hidup sehat, memakai masker bagi orang yang sakit, sering cuci tangan, dan mengurangi kontak langsung dengan banyak orang.

Tidak hanya itu saja, bahkan sekarang tempat ibadah seperti masjid turut andil dalam pencegahan virus corona sejak dini. Hal itu juga diterapkan di Masjid Islamic Center (IC) Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Salah satu kebijakan yang dilakukan ialah dengan menggulung tikar dan menjaga kebersihan lantai masjid.

Dari keterangan Dr. Nur Kholis, S.Ag., M.Ag., ketua takmir IC UAD, Bifas meminta untuk menggulung tikar masjid karena intensitas virus corona mulai meningkat. Bahkan, saat ini virus tersebut sudah mewabah sampai di Yogyakarta. Sementara itu, UAD juga memiliki banyak mahasiswa dan dosen dari luar negeri dan sering melaksanakan salat di IC UAD.

“Kadang-kadang mereka tidak sempat terpantau kalau positif terjangkit corona dan melakukan salat di sini. Ketika mereka salat, kan kami tidak tahu kalau mereka positif atau tidak, karena kami belum memiliki pendeteksi. Khawatirnya kalau mereka terjangkit lalu salat di sini. Sedangkan di tempat yang sama akan dipakai orang lain untuk salat juga. Jadi, kami menggulung karpet dan membersihkan, sampai nanti ada instruksi bahwa intensitas wabah virus corona sudah menurun. Dan tentu kami akan pasang karpet itu lagi,” katanya saat diwawancara di IC UAD, Jumat (13-3-2020).

Saat ini, IC UAD juga mengusahakan bahan khusus untuk cuci tangan seperti hand sanitizer. Dari keterangan Nur Kholis, perencanaan cairan khusus cuci tangan telah dirapatkan untuk segera dipenuhi, karena sekarang bahan itu benar-benar sulit dicari. IC UAD juga bekerja sama dengan Farmasi UAD untuk pembuatan cairan khusus untuk cuci tangan.

“Dari pihak Farmasi UAD, bisa membuat pencuci tangan sekian liter setiap harinya. Tetapi alat semprot sudah tidak ada, habis di pasaran. Bifas akan membantu Farmasi untuk segera mencari alat semprot itu,” imbuhnya. (ASE)