SISWA JATENG BERPRESTASI LAGI

0
176

Oleh: Sudaryanto, M.Pd.

Dosen PBSI FKIP UAD Yogyakarta

SudaryantoGubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo beserta para jajarannya, termasuk Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Provinsi Jawa Tengah, layak berbangga hati. Pasalnya, kontingen Jawa Tengah kembali menyabet gelar juara umum pada Olimpiade Sains Nasional (OSN) ke-XI Tahun 2012 yang digelar di Jakarta dan Bali, 2-7 September lalu. Artinya, siswa-siswa Jateng berhasil mengukir prestasi yang sama pada tahun 2011 silam.

Tradisi berprestasi bagi siswa-siswa Jateng tentunya diraih dengan kerja keras, kerja tuntas, dan kerja ikhlas. Ketiganya perlu dilakukan oleh para siswa, tak terkecuali para orangtua dan guru pembimbingnya. Berkat doa dan bantuan dari para orangtua dan guru, akhirnya para siswa dapat meraih gelar juara umum pada OSN itu. Pertanyaannya, apakah tradisi berprestasi para siswa itu cukup sampai tahap OSN saja? Tentunya, tidak.

Keikutsertaan dan keberhasilan siswa-siswa Jateng meraih prestasi di OSN itu, perlu ditindaklanjuti oleh pemerintah pusat maupun daerah. Artinya pula, tradisi berprestasi mereka harus berlanjut. Hal ini senada dengan pernyataan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bidang Pendidikan, Musliar Kasim. Ia menyatakan, para juara OSN akan dipersiapkan untuk menjadi duta-duta pelajar Indonesia di berbagai ajang olimpiade sains tingkat internasional.

Seperti kita ketahui, tak sedikit para siswa Indonesia yang berhasil meraih prestasi di berbagai ajang olimpiade sains tingkat internasional, seperti IPhO (International Physics Olympiad), IBO (International Biology Olympiad), IChO (International Chemistry Olympiad), dan IMO (International Mathematics Olympiad). Harapannya, siswa-siswa Jateng yang juara dalam OSN dapat pula mengukir prestasi di berbagai ajang olimpiade sains tingkat internasional di atas.

Muncul pertanyaan lagi, apakah tindak lanjut dari pemerintah pusat maupun daerah hanya sampai tahap mengikutsertakan para siswa ke berbagai ajang olimpiade sains tingkat internasional? Sekali lagi, tidak. Melalui artikel ini, penulis ingin berbagi saran. Pertama, Pemda Jateng dan Kemdikbud dapat menjamin para siswa yang juara OSN itu dapat terus melanjutkan studi, baik S-1, S-2, maupun S-3, baik dalam maupun luar negeri. Mengapa demikian?

Sebab, para siswa yang juara OSN itu, merupakan investasi sumber daya manusia (SDM) yang bernilai tinggi guna keberlangsungan masyarakat Jateng. Ke depan, kita dapat berharap agar mereka kelak menjadi ahli atau pakar di bidang sains yang ilmunya dapat bermanfaat bagi masyarakat, baik masyarakat akademik (kampus) maupun masyarakat luas. Dengan begitu, pelbagai persoalan sains dan teknologi di masyarakat dapat diatasi dengan hadirnya para ahli tersebut.

Kedua, Pemda Jateng beserta masyarakatnya dapat terus mengawal keberlangsungan proses pendidikan di sekolah/madrasah. Anggapan sebagian besar orangtua/guru kita bahwa siswa berprestasi apabila dirinya meraih peringkat pertama, perlu ditinjau-ulang. Apa pasal? Sebab, siswa berprestasi tak hanya di bidang akademik semata, melainkan juga di bidang non-akademik, seperti juara lomba melukis, juara lomba baca puisi, termasuk juara dalam OSN.

Akhirnya, melalui momentum keberhasilan siswa-siswa Jateng dalam OSN kemarin, harapannya dapat meningkatkan mutu pendidikan dasar dan menengah di Jateng khususnya, serta memunculkan kesadaran bagi Pemda Jateng untuk terus membina para siswanya dalam meraih prestasi, baik prestasi bidang akademik maupun nonakademik. Di samping itu, prestasi gelar juara umum pada OSN tahun ini dapat diulang kembali di tahun depan. Selamat kepada Pak Bibit Waluyo!

(Artikel ini sudah diterbitkan di Suara Merdeka, Kamis 20 September 2012)

Oleh: Sudaryanto, M.Pd.

Dosen PBSI FKIP UAD Yogyakarta

SudaryantoGubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo beserta para jajarannya, termasuk Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Provinsi Jawa Tengah, layak berbangga hati. Pasalnya, kontingen Jawa Tengah kembali menyabet gelar juara umum pada Olimpiade Sains Nasional (OSN) ke-XI Tahun 2012 yang digelar di Jakarta dan Bali, 2-7 September lalu. Artinya, siswa-siswa Jateng berhasil mengukir prestasi yang sama pada tahun 2011 silam.

Tradisi berprestasi bagi siswa-siswa Jateng tentunya diraih dengan kerja keras, kerja tuntas, dan kerja ikhlas. Ketiganya perlu dilakukan oleh para siswa, tak terkecuali para orangtua dan guru pembimbingnya. Berkat doa dan bantuan dari para orangtua dan guru, akhirnya para siswa dapat meraih gelar juara umum pada OSN itu. Pertanyaannya, apakah tradisi berprestasi para siswa itu cukup sampai tahap OSN saja? Tentunya, tidak.

Keikutsertaan dan keberhasilan siswa-siswa Jateng meraih prestasi di OSN itu, perlu ditindaklanjuti oleh pemerintah pusat maupun daerah. Artinya pula, tradisi berprestasi mereka harus berlanjut. Hal ini senada dengan pernyataan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bidang Pendidikan, Musliar Kasim. Ia menyatakan, para juara OSN akan dipersiapkan untuk menjadi duta-duta pelajar Indonesia di berbagai ajang olimpiade sains tingkat internasional.

Seperti kita ketahui, tak sedikit para siswa Indonesia yang berhasil meraih prestasi di berbagai ajang olimpiade sains tingkat internasional, seperti IPhO (International Physics Olympiad), IBO (International Biology Olympiad), IChO (International Chemistry Olympiad), dan IMO (International Mathematics Olympiad). Harapannya, siswa-siswa Jateng yang juara dalam OSN dapat pula mengukir prestasi di berbagai ajang olimpiade sains tingkat internasional di atas.

Muncul pertanyaan lagi, apakah tindak lanjut dari pemerintah pusat maupun daerah hanya sampai tahap mengikutsertakan para siswa ke berbagai ajang olimpiade sains tingkat internasional? Sekali lagi, tidak. Melalui artikel ini, penulis ingin berbagi saran. Pertama, Pemda Jateng dan Kemdikbud dapat menjamin para siswa yang juara OSN itu dapat terus melanjutkan studi, baik S-1, S-2, maupun S-3, baik dalam maupun luar negeri. Mengapa demikian?

Sebab, para siswa yang juara OSN itu, merupakan investasi sumber daya manusia (SDM) yang bernilai tinggi guna keberlangsungan masyarakat Jateng. Ke depan, kita dapat berharap agar mereka kelak menjadi ahli atau pakar di bidang sains yang ilmunya dapat bermanfaat bagi masyarakat, baik masyarakat akademik (kampus) maupun masyarakat luas. Dengan begitu, pelbagai persoalan sains dan teknologi di masyarakat dapat diatasi dengan hadirnya para ahli tersebut.

Kedua, Pemda Jateng beserta masyarakatnya dapat terus mengawal keberlangsungan proses pendidikan di sekolah/madrasah. Anggapan sebagian besar orangtua/guru kita bahwa siswa berprestasi apabila dirinya meraih peringkat pertama, perlu ditinjau-ulang. Apa pasal? Sebab, siswa berprestasi tak hanya di bidang akademik semata, melainkan juga di bidang non-akademik, seperti juara lomba melukis, juara lomba baca puisi, termasuk juara dalam OSN.

Akhirnya, melalui momentum keberhasilan siswa-siswa Jateng dalam OSN kemarin, harapannya dapat meningkatkan mutu pendidikan dasar dan menengah di Jateng khususnya, serta memunculkan kesadaran bagi Pemda Jateng untuk terus membina para siswanya dalam meraih prestasi, baik prestasi bidang akademik maupun nonakademik. Di samping itu, prestasi gelar juara umum pada OSN tahun ini dapat diulang kembali di tahun depan. Selamat kepada Pak Bibit Waluyo!

(Artikel ini sudah diterbitkan di Suara Merdeka, Kamis 20 September 2012)