• TERKINI
  • UAD BERDAMPAK
  • PRESTASI
  • FEATURE
  • OPINI
  • MEDIA
  • KIRIM BERITA
  • Menu
News Portal of Universitas Ahmad Dahlan

(Bukan) Akhir Dari Partai Berlabel Agama

07/02/2013/0 Comments/in Terkini /by Super News

Dani Fadillah*

Beberapa waktu yang lalu santer diberitakan bahwa partai-partai yang berlabel agama mengalami penurunan elektabilitas yang dapat dikatakan cukup drastis. Kesimpulan yang dapat diambil dari pernyataan itu adalah partai-partai yang berlabel agama tidak lagi ‘menjual’, partai dengan embel-embel agamat tidak lagi memiliki daya tarik bagi masyarakat. Benarkah? Jika memang iya, kenapa bisa demikian?.

Harapannya, kehadiran partai-partai yang berlabel agama diharapkan dapat menjadi pembeda untuk mengimbangi keberadaan partai-partai lain yang tidak berlabelkan agama. Dapat memberikan masukan dari sisi kerohaniyahaan ketika hendak mengambil sebuah kebijakan misalnya, supaya kebijakan yang diambil tidak menjadi sebuah kebijakan liberal yang lepas dari spirit Ketuhanan YME. Namun sayangnya dalam praktinya belakangan ini partai berlabel agama cenderung terjebak dalam Simbolitas belaka, simbol dari sisi ikonografi tokoh dan simbol dari logo yang digunakan oleh partai. Seperti memakai lambang ka’bah, dua kalimat syahdat, hingga logo partai yang menyerupai lambang dua ormas kegamaan terbesar di Indonesia. Penegasan ideologis seolah tidak lagi dipandang penting.

Tokoh

Faktanya, dibandingkan tampil sebagai pembela umat, tokoh-tokoh partai berlabel agama lebih terlihat sebagai representasi pemerintah. Ada yang menjadi menteri agama, menteri tenaga kerja dan transmigrasi, menko perekonomian, Menkominfo, dll. Dan tokoh-tokoh yang tidak mendapat di kursi pemerintahan cenderung terlihat sebagai perwujudan dari profesi yang dianutnya, bukan sebagai petinggi partai berlabel agama, contohnya Yusril Ihza Mahandra yang lebih dikenal sebagai praktisi hukum ketimbang petinggi PBB. Atau malah seperti hilang ditelan bumi, sebagaimana bapak reformasi dari partai berlambang matahari yang tidak lagi terdengar bagaimana lagi langkah-langkah prestisius yang diambilnya untuk membangun negeri.

Bagi partai, apalagi yang membawa simbol-simbol keagamaan, keberadaan tokoh sangat penting karena dipandang sebagai blue print konkrit wujud partai-partai tersebut. Sebagaimana partai Masyumi yang tidak mungkin akan terdengar kisah kebesarannya jika tidak ada tokoh-tokoh mendunia seperti Mohammad Natsir, Kasman Singodimedjo,Mohamad Roem, dll.

Keluar Dari Keterpurukan

Penulis pernah mendengarkan keluhan kader sebuah partai dengan label agama yang menyatakan bahwa partainya adalah korban dari politik pragmatisme-transaksional, kesimpulannya, partai-partai berlabel agama kalah bukan karena sentimen nasionalisme atau yang bersifat ideologis, tetapi karena ketidakmampuan mengimbangi kekuatan kapital atau dana partai yang besar.

Mungkin ada benarnya, namun penulis rasa tidak sesederhana itu kesimpulan yang seharusnya diambil. Memang, di lapangan tidak sedikit masyarakat yang sudah terkondisikan bermental pragmatis. Akan tetapi bukankah itu merupakan sebuah celah bagi partai-partai berlabel agama untuk tampil beda? Kenapa hal itu tidak dijadikan cambul untuk untuk lebih kreatif sehingga umat percaya dan mendukung.

Penulis pun berharap partai-partai dengan label agama jangan ikut masuk dalam ke dalam pendekatan pragmatisme-transaksional karena jika sampai begitu maka parta-partai dengan label agama akan turut berjasa merusak akhlak politik semua lapisan masyarakat, tentu itu jauh dari ajaran agama. Partai-partai berlabel agama harus menang dengan cara-cara yang mengedepankan keluhuran akhlak, bukan sebaliknya.

*Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan,

Pengamat Komunikasi Politik

Daftar Riwayat Hidup

Nama : Dani Fadillah

TTL : Langsa, 29 Juni 1988

Alamat : Perumahan Jatimulyo Baru Blok F-2 Yogyakarta

Telp : 0898 5117 210

E-Mail : danifadillah@uad.ac.id

Riwayat pendidikan

• S1 UIN Sunan kalijaga Yogyakarta

• S2 UGM Yogyakarta

Pengalaman Organisasi

• Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah UIN Sunan Kalijaga 2009

• Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhamadiyah Kabupaten Sleman 2010

Dani Fadillah*

Beberapa waktu yang lalu santer diberitakan bahwa partai-partai yang berlabel agama mengalami penurunan elektabilitas yang dapat dikatakan cukup drastis. Kesimpulan yang dapat diambil dari pernyataan itu adalah partai-partai yang berlabel agama tidak lagi ‘menjual’, partai dengan embel-embel agamat tidak lagi memiliki daya tarik bagi masyarakat. Benarkah? Jika memang iya, kenapa bisa demikian?.

Harapannya, kehadiran partai-partai yang berlabel agama diharapkan dapat menjadi pembeda untuk mengimbangi keberadaan partai-partai lain yang tidak berlabelkan agama. Dapat memberikan masukan dari sisi kerohaniyahaan ketika hendak mengambil sebuah kebijakan misalnya, supaya kebijakan yang diambil tidak menjadi sebuah kebijakan liberal yang lepas dari spirit Ketuhanan YME. Namun sayangnya dalam praktinya belakangan ini partai berlabel agama cenderung terjebak dalam Simbolitas belaka, simbol dari sisi ikonografi tokoh dan simbol dari logo yang digunakan oleh partai. Seperti memakai lambang ka’bah, dua kalimat syahdat, hingga logo partai yang menyerupai lambang dua ormas kegamaan terbesar di Indonesia. Penegasan ideologis seolah tidak lagi dipandang penting.

Tokoh

Faktanya, dibandingkan tampil sebagai pembela umat, tokoh-tokoh partai berlabel agama lebih terlihat sebagai representasi pemerintah. Ada yang menjadi menteri agama, menteri tenaga kerja dan transmigrasi, menko perekonomian, Menkominfo, dll. Dan tokoh-tokoh yang tidak mendapat di kursi pemerintahan cenderung terlihat sebagai perwujudan dari profesi yang dianutnya, bukan sebagai petinggi partai berlabel agama, contohnya Yusril Ihza Mahandra yang lebih dikenal sebagai praktisi hukum ketimbang petinggi PBB. Atau malah seperti hilang ditelan bumi, sebagaimana bapak reformasi dari partai berlambang matahari yang tidak lagi terdengar bagaimana lagi langkah-langkah prestisius yang diambilnya untuk membangun negeri.

Bagi partai, apalagi yang membawa simbol-simbol keagamaan, keberadaan tokoh sangat penting karena dipandang sebagai blue print konkrit wujud partai-partai tersebut. Sebagaimana partai Masyumi yang tidak mungkin akan terdengar kisah kebesarannya jika tidak ada tokoh-tokoh mendunia seperti Mohammad Natsir, Kasman Singodimedjo,Mohamad Roem, dll.

Keluar Dari Keterpurukan

Penulis pernah mendengarkan keluhan kader sebuah partai dengan label agama yang menyatakan bahwa partainya adalah korban dari politik pragmatisme-transaksional, kesimpulannya, partai-partai berlabel agama kalah bukan karena sentimen nasionalisme atau yang bersifat ideologis, tetapi karena ketidakmampuan mengimbangi kekuatan kapital atau dana partai yang besar.

Mungkin ada benarnya, namun penulis rasa tidak sesederhana itu kesimpulan yang seharusnya diambil. Memang, di lapangan tidak sedikit masyarakat yang sudah terkondisikan bermental pragmatis. Akan tetapi bukankah itu merupakan sebuah celah bagi partai-partai berlabel agama untuk tampil beda? Kenapa hal itu tidak dijadikan cambul untuk untuk lebih kreatif sehingga umat percaya dan mendukung.

Penulis pun berharap partai-partai dengan label agama jangan ikut masuk dalam ke dalam pendekatan pragmatisme-transaksional karena jika sampai begitu maka parta-partai dengan label agama akan turut berjasa merusak akhlak politik semua lapisan masyarakat, tentu itu jauh dari ajaran agama. Partai-partai berlabel agama harus menang dengan cara-cara yang mengedepankan keluhuran akhlak, bukan sebaliknya.

*Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan,

Pengamat Komunikasi Politik

Daftar Riwayat Hidup

Nama : Dani Fadillah

TTL : Langsa, 29 Juni 1988

Alamat : Perumahan Jatimulyo Baru Blok F-2 Yogyakarta

Telp : 0898 5117 210

E-Mail : danifadillah@uad.ac.id

Riwayat pendidikan

• S1 UIN Sunan kalijaga Yogyakarta

• S2 UGM Yogyakarta

Pengalaman Organisasi

• Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah UIN Sunan Kalijaga 2009

• Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhamadiyah Kabupaten Sleman 2010

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png 0 0 Super News https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Super News2013-02-07 19:03:572013-02-07 19:03:57(Bukan) Akhir Dari Partai Berlabel Agama
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply Cancel reply

You must be logged in to post a comment.

TERKINI

  • Tim MeRAMU IMM FEB UAD Bekali Pelaku Usaha MieDes Pembukuan dan Pengelolaan Finansial28/08/2026
  • Tim PPKO RDC UAD Sukseskan Malam Puncak Pentas Seni HUT RI di Karangtengah28/08/2026
  • KKN UAD Optimalisasi Peran Kader Posyandu dalam Pencegahan Stunting di Mertelu28/08/2026
  • Tim MeRAMU IMM Farmasi UAD Dorong Kesehatan Salamrejo27/08/2026
  • Penerjunan KKN ADI di Kabupaten Muna Barat Sulawesi Tenggara27/08/2026

PRESTASI

  • Buat Inovasi Pendidikan dan Literasi, Mahasiswa UAD Raih Tiga Prestasi Nasional20/08/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Gold dan Silver Medal pada Essay National Competition 202619/08/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara II Lomba Poster Edukatif Kesehatan Mental18/08/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara I Lomba Baca Puisi Dahlan Culture Festival 202608/08/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara 3 Cakrawala National Essay Competition31/07/2026

FEATURE

  • Resep Istikamah Ibadah dan Menjaga Kesehatan Kerja28/08/2026
  • Bukan Sekadar Juara, Muhammad Ziya Ul Albab Ingin Ilmunya Memberi Manfaat27/08/2026
  • Dhita Pratama Beberkan Pentingnya Marketing Communication untuk Perkuat Karier20/08/2026
  • Hafiz Ahmad Rumalutur, Wisudawan FH UAD Dengan Segudang Prestasi Nasional19/08/2026
  • Di Balik Deretan Prestasi, Ada Perjalanan yang Tidak Sederhana19/08/2026

TENTANG | KRU | KONTAK | REKAPITULASI

Scroll to top