• TERKINI
  • UAD BERDAMPAK
  • PRESTASI
  • FEATURE
  • OPINI
  • MEDIA
  • KIRIM BERITA
  • Menu
News Portal of Universitas Ahmad Dahlan

Perbedaan Awal Ramadan dan Urgensi Kalender Hijriah Global Tunggal

06/03/2026/in Terkini /by Ard

Dr. H. Oman Fathurrahman, M.Ag., Penceramah Tarawih RDK 1447 H Universitas Ahmad Dahlan (Foto. Mawar)

Kamis, 26 Februari 2026, dalam rangkaian Ramadan di Kampus (RDK) Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Dr. H. Oman Fathurrahman, M.Ag., menyampaikan ceramah Tarawih yang membahas perbedaan awal Ramadan serta urgensi penyatuan kalender Hijriah global. Dalam tausiah tersebut, ia mengajak jemaah untuk memahami perbedaan penentuan awal puasa secara ilmiah dan proporsional.

Mengawali ceramahnya, ia mengajak jemaah bersyukur karena masih diberi kesempatan oleh Allah Swt. untuk menjalankan ibadah puasa Ramadan tahun ini. Hingga malam itu, sebagian jemaah telah menyelesaikan sembilan hari puasa, sementara sebagian lainnya baru delapan hari karena memulai Ramadan pada hari yang berbeda, yakni Rabu, 18 Februari 2026, dan Kamis, 19 Februari 2026.

Menurutnya, perbedaan tersebut kerap memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat. Padahal, secara sistem waktu, hari yang kita miliki sama, yakni hasil dari rotasi bumi pada porosnya yang membentuk siklus 24 jam. Hari-hari yang berulang dari Ahad hingga Sabtu kemudian diberi penanda angka dan nama bulan agar tidak tertukar. Sistem ini dikenal sebagai kalender syamsiah (matahari).

Namun, persoalan muncul ketika umat Islam menggunakan sistem kalender qamariah (bulan) untuk kepentingan ibadah, seperti penentuan Ramadan, Syawal, dan Zulhijah. Dalam sistem ini, awal bulan ditentukan berdasarkan peredaran bulan, sehingga potensi perbedaan semakin besar.

Dr. Oman menjelaskan bahwa perbedaan awal Ramadan tahun ini juga terjadi di berbagai negara. Berdasarkan data yang beliau paparkan, terdapat negara-negara yang memulai puasa pada 18 Februari 2026, seperti Afghanistan, Bahrain, Palestina, Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan lainnya. Sementara itu, negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Mesir, dan Turki memulai puasa pada 19 Februari 2026.

Beliau menyoroti fenomena menarik, yakni Arab Saudi yang secara geografis berada di sebelah barat Indonesia justru memulai Ramadan lebih dahulu. Hal ini dapat dipahami melalui pendekatan ilmu astronomi. Dalam sistem kalender qamariah, posisi dan visibilitas hilal sangat dipengaruhi oleh perbedaan lokasi geografis. Semakin ke barat suatu wilayah, semakin besar peluang hilal terlihat karena posisi bulan relatif lebih tinggi saat matahari terbenam.

Ia menjelaskan bahwa bulan, seperti matahari, terbit di timur dan terbenam di barat. Namun, setiap hari bulan terbenam lebih lambat dibandingkan matahari. Perbedaan waktu terbenam ini semakin besar di wilayah yang lebih barat, sehingga kemungkinan terlihatnya hilal lebih tinggi dibandingkan wilayah timur.

Menurutnya, salah satu penyebab utama perbedaan awal bulan qamariah adalah penggunaan ufuk atau horizon setempat dalam penentuan hilal. Setiap negara atau kawasan menggunakan kriteria masing-masing berdasarkan lokasi geografisnya. Akibatnya, tanggal 1 Ramadan bisa berbeda antara satu wilayah dan wilayah lainnya.

Sebagai solusi jangka panjang, beliau menekankan pentingnya upaya mewujudkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), yakni sistem kalender yang menetapkan satu tanggal untuk satu hari yang sama di seluruh dunia. Bukan berarti momen pergantian hari terjadi serentak secara waktu, tetapi tanggalnya sama pada hari yang sama secara global, sebagaimana yang berlaku dalam kalender Masehi.

Ia menegaskan bahwa upaya penyatuan kalender ini bukan hanya dilakukan oleh satu organisasi, melainkan melibatkan banyak tokoh dan negara di dunia Islam. Meski secara konsep sudah memungkinkan dan layak diterapkan, implementasinya masih menghadapi tantangan karena perbedaan pendekatan dan kesiapan masing-masing pihak.

Di akhir ceramahnya, Dr. Oman berharap agar ke depan umat Islam di seluruh dunia dapat menggunakan satu sistem kalender Hijriah yang sama, sehingga persatuan umat semakin kuat, terutama dalam momentum-momentum penting seperti Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha. (Mawar)

uad.ac.id

 

Tags: Berita, Berita UAD, Dosen, Dosen UAD, Mahasiswa, Mahasiswa UAD, Muhammadiyah, News UAD, UAD, UAD Jogja, UAD Yogyakarta, Universitas Ahmad Dahlan, WeAreUAD
https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Dr.-H.-Oman-Fathurrahman-M.Ag_.-Penceramah-Tarawih-RDK-1447-H-Universitas-Ahmad-Dahlan-Foto.-Mawar.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-03-06 12:36:392026-03-06 12:36:39Perbedaan Awal Ramadan dan Urgensi Kalender Hijriah Global Tunggal
You might also like
Belajar PPKn, Belajar Kehidupan Penunjang Karier
Teddy Prasetia, Mahasiswa UAD Mengajar di Filipina Melalui Program SEA Teacher
Disfungsi Lampu, KKN UAD Perbaiki Penerangan Jalan di Padukuhan Jati
Syawalan dan Halalbihalal Persada UAD 1446 H Teladani Amalan yang Dicintai Allah Swt.
UAD Tuan Rumah Pembukaan Muhammadiyah Games 2026
KKN UAD di Pendak Lakukan Pengolahan Lahan Berkelanjutan KWT

PRESTASI

  • Buat Inovasi Pendidikan dan Literasi, Mahasiswa UAD Raih Tiga Prestasi Nasional20/08/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Gold dan Silver Medal pada Essay National Competition 202619/08/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara II Lomba Poster Edukatif Kesehatan Mental18/08/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara I Lomba Baca Puisi Dahlan Culture Festival 202608/08/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara 3 Cakrawala National Essay Competition31/07/2026

FEATURE

  • Memaknai Singkatnya Kehidupan dan Rahmat Berlimpah Menuju Surga10/09/2026
  • Menapaki Jalan Lurus melalui Sepuluh Wasiat Allah04/09/2026
  • LPSI UAD Gelar Kajian Tafsir At-Tanwir, Bedah Makna dan Keutamaan Surat Al-Baqarah Ayat 18503/09/2026
  • Menyelami Kedudukan Al-Qur’an dan Spirit Kemudahan Syariat02/09/2026
  • Resep Istikamah Ibadah dan Menjaga Kesehatan Kerja28/08/2026

TENTANG | KRU | KONTAK | REKAPITULASI

Scroll to top