
Habiburrahman El Shirazy narasumber kajian mahasiswa muslim perguruan tinggi di lingkungan LLDIKTI V di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Mei)
Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menjadi tuan rumah Kajian Mahasiswa Muslim Perguruan Tinggi di Lingkungan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah V pada Senin, 19 Oktober 2026. Kegiatan yang berlangsung di Masjid Islamic Center UAD ini menghadirkan penulis novel Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih, Habiburrahman El Shirazy, untuk menyampaikan kajian bertema “Tak Surut Mencintai Negeri, Menyalakan Jiwa, Membangun Peradaban Bangsa”.
Rektor UAD, Prof. Muchlas, M.T., dalam sambutannya menekankan pentingnya menumbuhkan semangat mahasiswa untuk mencintai dan merawat Indonesia melalui kontribusi nyata.
“Mari kita rawat negeri kita ini, kita tampilkan diri kita sebagai bagian yang bermanfaat, tidak hanya bagi diri kita, tapi juga bagi masyarakat, bagi pengembangan lebih jauh bangsa dan negara kita,” kata Muchlas.
Kemudian sambutan Kepala LLDIKTI Wilayah V, Prof. Setyabudi Indartono, M.M., Ph.D., menyoroti pentingnya perhatian kesehatan mental mahasiswa di tengah berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda. Ia menegaskan bahwa perguruan tinggi perlu menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi mahasiswa untuk belajar serta mengembangkan diri.
“Mudah-mudahan dengan agenda yang kita adakan rutin seperti ini menjadi jembatan untuk kita semuanya, mengantisipasi, memitigasi problem-problem yang mungkin akan kita hadapi. Oleh karenanya mohon kita pastikan kampus-kampus kita adalah kampus yang nyaman, menjadi ekosistem yang aman untuk belajar dan juga mengembangkan diri kita sendiri,” katanya.
Dalam kajian tersebut, Habiburrahman menjelaskan bahwa kecintaan terhadap tanah air merupakan fitrah manusia. Beliau mencontohkan kisah Nabi Muhammad saw. yang memiliki kecintaan mendalam terhadap Makkah, tempat kelahirannya, ketika harus meninggalkan kota tersebut demi melanjutkan dakwah ke Madinah.
Menurutnya, kecintaan terhadap tempat kelahiran dan negeri tempat seseorang tumbuh merupakan naluri kemanusiaan yang wajar. Kecintaan tersebut perlu diwujudkan melalui kepedulian dan kontribusi nyata bagi masyarakat, bukan sekadar perasaan atau ungkapan.
“Adik-adikku semuanya, mari kita cintai Indonesia. Ketika kita mencintai Indonesia, niatkan cinta kita kepada Indonesia sebagai bagian dari ibadah, sebagai bagian mengikuti sunahnya Rasulullah saw. Rasulullah mencintai tanah kelahirannya. Kita dilahirkan di Indonesia, kita orang Indonesia. Kita niatkan, kita cintai negeri ini bagian dari ibadah. Sebab, memang ada dasarnya, jelas sekali di Al-Qur’an. Allah berfirman, Kalau kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, ikuti Rasulullah,” tuturnya.
Habiburrahman El Shirazy juga mengajak mahasiswa untuk tidak memiliki mentalitas mengandalkan orang lain dalam menjalankan tanggung jawab. Beliau menyampaikan kisah seorang raja yang menguji keikhlasan rakyatnya dengan meminta setiap orang menyumbangkan satu sendok madu ke dalam tempayan di setiap desa. Namun, karena masing-masing berpikir bahwa sumbangan satu sendok air tidak akan berpengaruh jika orang lain membawa madu, seluruh tempayan justru terisi air.
“Ini contoh sederhana yang mungkin tidak begitu krusial bagi sebuah negeri. Namun, jika suatu saat negeri ini, atau lebih luas lagi umat Rasulullah, membutuhkan sesuatu yang sangat penting dan kelalaian dalam melaksanakannya dapat menimbulkan petaka, kita tidak boleh hanya mengandalkan orang lain. Maka mental mengandalkan orang lain segeralah ditinggalkan. Mulai dari diri kalian, jangan sekali-kali mengandalkan orang lain.”
Habiburrahman El Shirazy menjelaskan makna doa yang diajarkan Rasulullah saw. untuk memohon perlindungan kepada Allah Swt. dari berbagai keadaan yang dapat menghambat kehidupan. Ia menerangkan bahwa ham merupakan kegundahan akibat memikirkan persoalan masa depan, sedangkan huzn adalah kesedihan atau penyesalan atas kejadian masa lalu. Ia juga mengingatkan mahasiswa agar tidak mudah merasa lemah ketika menghadapi tantangan serta menghindari kemalasan dalam menjalankan ibadah dan tanggung jawab.
“Ham itu kegundahan hati, memikirkan masa depan. Besok bagaimana, besok pagi bagaimana, nanti kalau sudah mau lulus bagaimana, dapat jodoh atau tidak. Kalau huzn, itu sedih atas perbuatan yang telah lalu, kejadian yang telah lalu. Kita juga harus memohon perlindungan dari perasaan lemah, kemalasan, sifat pengecut, dan kekikiran. Tolong diingat bahwa malas itu sumber malapetaka. Padahal kalau dipahami, apa pun yang kita miliki adalah rezeki dan titipan dari Allah.”
Selain itu, Habiburrahman mengajak mahasiswa untuk menunjukkan kepedulian terhadap sesama, termasuk dengan mengingatkan teman yang berisiko terjerat pinjaman online. Menurutnya, sikap saling mengingatkan merupakan bentuk kasih sayang dan tanggung jawab, bukan sekadar mencampuri urusan pribadi orang lain.
Melalui kajian tersebut, Habiburrahman mengajak mahasiswa menjadikan kecintaan terhadap Indonesia sebagai bagian dari ibadah yang diwujudkan melalui tindakan nyata. Ia menekankan bahwa membangun bangsa membutuhkan kesadaran, kepedulian, dan tanggung jawab yang dimulai dari diri sendiri. Dengan demikian, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan diri sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat, agama, dan negara. (Mei)
uad.ac.id