Menangkal Bahaya “Dumb Scroll” Era Digital: Ustadz Fadhlurrahman Bagikan 3 Fase Mendidik Anak

Ustadz Fadhlurrahman, S.Pd.I., M.Pd. saat mengisi materi Kajian Rutin Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Itoshiko)
Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menyelenggarakan Kajian Rutin Ahad Pagi pada Ahad, 12 April 2026. Berkolaborasi dengan jemaah dan masyarakat sekitar, kajian kali ini menghadirkan Dosen Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UAD, Ustadz Fadhlurrahman, S.Pd.I., M.Pd., yang mengupas tuntas tema “Mendidik Anak, Menanam Jalan Sukses Dunia dan Akhirat.”
Dalam pemaparannya, Ustadz Fadhlurrahman menekankan pentingnya kewaspadaan bagi para orang tua terkait tantangan mendidik anak di era digital.. Ia menyoroti fenomena hilangnya waktu berkualitas anak akibat dua penyakit modern, yakni “dumb scroll” dan “brain rot”. Banyak anak masa kini menghabiskan hingga delapan jam sehari hanya untuk menggulir layar handphone tanpa tujuan jelas, serta mengalami penurunan daya pikir akibat paparan konten instan yang tidak mendidik. Mirisnya, hal ini berdampak pada pergeseran nilai, di mana anak-anak lebih mudah menghafal lagu-lagu berlirik dewasa atau patah hati dibandingkan mengenal rukun iman, rukun Islam, atau kisah keluarga Nabi Muhammad saw.
Untuk menghadapi krisis karakter tersebut, Ustadz Fadhlurrahman mengajak jemaah untuk kembali pada konsep pendidikan ala sahabat Ali bin Abi Thalib ra., yang membagi fase mendidik anak menjadi tiga tahapan. Fase pertama (1-7 tahun) adalah “Laibhu” atau mengajak anak bermain. Pada fase ini, kehadiran utuh orang tua sangat dibutuhkan untuk memberikan sentuhan kasih sayang dan keteladanan yang tidak bisa digantikan oleh kecanggihan teknologi maupun fasilitas bermain yang mewah. Fase kedua (8-14 tahun) adalah “Adibhu” atau menanamkan adab. Ustadz Fadhlurrahman menegaskan bahwa adab, seperti mengantre dan menerima kekalahan dengan lapang dada, harus dipaksakan dan dibiasakan sejak dini sebelum anak mengenal perdebatan.
Memasuki fase ketiga (15-21 tahun), orang tua dianjurkan menerapkan prinsip “Rafiqhu” atau menjadikan anak sebagai sahabat. Pendekatan ini mengutamakan diskusi dua arah yang lembut tanpa paksaan otoriter. Selain ketiga fase tersebut, pemateri juga mengingatkan bahaya memanjakan anak secara berlebihan yang justru melumpuhkan mental mereka, layaknya kupu-kupu yang gagal terbang karena dibantu keluar dari kepompongnya. Anak perlu diajarkan arti perjuangan dan kemandirian agar tidak rapuh saat menghadapi kerasnya ujian kehidupan di masa depan.
Menutup kajian, Ustadz Fadhlurrahman berpesan tentang kekuatan doa dan ucapan orang tua. Ia mengisahkan Imam Sudais yang menjadi Imam Besar Masjidil Haram justru berkat doa ibunya yang sedang marah namun tetap melontarkan perkataan mulia. Orang tua diimbau untuk selalu menjaga lisan, bahkan di saat emosi memuncak, serta memastikan keharmonisan rumah tangga. Sebab, ketahanan keluarga dan konsistensi ibadah yang dicontohkan oleh orang tua adalah kunci utama keberhasilan menanam jalan sukses anak, baik di dunia maupun di akhirat. (Ito)









