Memaknai Singkatnya Kehidupan dan Rahmat Berlimpah Menuju Surga

Kajian Rutin Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan pembicara Ustaz Rofiul Wahyudi (Foto. Itoshiko)
Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menggelar Kajian Rutin Ahad Pagi pada Ahad, 6 September 2026. Kajian kali ini menghadirkan perwakilan Majelis Tabligh PWM DIY sekaligus Dosen PBS UAD, Ust. Rofiul Wahyudi, S.E.I., M.E.I., Ph.D., yang mengusung tema “Dunia Sementara Akhirat Selamanya”. Di hadapan para jamaah, ia mengajak umat Islam untuk merenungkan kembali esensi hidup di dunia yang serba singkat sebagai bekal menuju keabadian di akhirat.
Mengawali kajian dengan penuh kehangatan, Ustaz Rofiul membagikan pengalaman kesehariannya sebagai asbabun nuzul atau alasan di balik pemilihan tema tersebut. Ia menyoroti betapa cepatnya waktu berlalu; rasanya baru kemarin seorang anak digendong oleh orang tuanya, namun tiba-tiba kini anak tersebut sudah menggendong anaknya sendiri. Mengutip sebuah falsafah, ia menyebut, “Urip niku mung mampir ngombe,” yang bermakna bahwa hidup hanyalah sekadar singgah sesaat untuk minum sebelum akhirnya berpulang kembali.
Meski waktu di dunia sangat terbatas, Ustaz Rofiul mengingatkan para jamaah untuk tidak berkecil hati apalagi merasa insecure terhadap dosa-dosa di masa lalu. Mengupas Surah Az-Zumar ayat 53, ia menjelaskan bagaimana Allah SWT tetap memanggil hamba-Nya dengan sapaan lembut “Yaa Ibaadi” (wahai hamba-hamba-Ku) meski mereka memiliki masa lalu yang kelam pada masa jahiliyah. Sapaan ini menunjukkan kasih sayang yang luar biasa, sehingga siapapun tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah. Ia menegaskan bahwa setiap manusia pasti pernah berbuat salah, namun masa lalu yang buruk tidak boleh menghalangi optimisme untuk meraih surga dengan cara memperbanyak amal saleh.
Penyampaian Ustaz Rofiul menjadi semakin menarik dan mengena ketika ia menggunakan analogi pabrik pensil dan aplikasi Google Maps. Sama seperti pabrik pensil yang sengaja menciptakan penghapus karena menyadari penggunanya pasti sesekali berbuat salah saat menulis, Allah juga senantiasa menyediakan ruang dan kesempatan bertobat bagi manusia. Lebih lanjut, ketika seseorang tersesat atau salah berbelok saat mengikuti rute Google Maps, aplikasi tersebut tidak memarahi penggunanya, melainkan terus memberikan arahan rute baru agar tetap sampai ke tujuan. “Allah pun enggak pernah marah. Allah kasih jalan supaya hidup kita yang sementara ini menjadi wasilah hidup selama-lamanya besok di surga,” jelasnya.
Memasuki penghujung kajian, pembahasan berlanjut pada Surah Az-Zumar ayat 71 dan 73 tentang umat manusia yang digiring dalam bentuk rombongan (zumaro). Ustaz Rofiul membawakan analogi hangat tentang rombongan piknik bus wisata. Jika ada satu saja anggota rombongan yang belum naik ke dalam bus, tentu kendaraan itu tidak akan ditinggal melainkan ditunggu dan orang tersebut akan dicari. Begitu juga kelak di akhirat, umat Islam yang bertakwa akan masuk surga secara bersama-sama dan akan saling mencari kawan rombongannya.
Pesan kebersamaan ini menjadi penutup kajian yang menyejukkan sekaligus menguatkan hati para jamaah. Ustaz Rofiul berpesan agar jamaah senantiasa saling merangkul, mengajak teman atau kerabat kepada kebaikan dengan cara yang bijaksana, serta fokus menatap masa depan. Melalui kajian ini, tersirat harapan besar agar kehidupan dunia yang begitu singkat ini bisa dimaksimalkan sebagai jembatan bagi umat Islam untuk melangkah menuju surga-Nya secara bersama-sama. (Ito)
