ASI DI KALA BENCANA

0
263

 

Lina Handayani

Dosen  Fakultas Kesehatan Masyarakat

 Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta

 

Menyusui menurunkan risiko infeksi akut seperti diare, haemophilus influensa, meningitis, infeksi saluran kemih. Menyusui juga melindungi bayi dari penyakit kronis masa depan seperti diabetes tipe satu. Menyusui menunda kembalinya kesuburan wanita dan mengurangi risiko pendarahan pasca melahirkan, kanker  payudara, pra menopause dan kanker ovarium (Kemenkes RI, 2012).

The American Academy of Pediatric merekomendasikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama dan selanjutnya minimal selama satu tahun. WHO dan UNICEF merekomendasikan ASI eksklusif selama enam bulan, menyusui dalam satu jam pertama setelah melahirkan, menyusui setiap kali bayi mau, tidak menggunakan botol dan dot (Proverawati & Rahmawati, 2010). ASI eksklusif adalah memberikan ASI saja tanpa memberikan makanan dan minuman lain kepada bayi sejak lahir sampai bayi berusia 6 bulan, kecuali obat dan vitamin (Depkes RI, 2003).

 

        Mempertahankan ASI Eksklusif di kala bencana

Bencana merupakan peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat. Bencana dapat disebabkan oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia. Timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis dapat terjadi sebagai akibat dari bencana(UU No. 24 tahun 2007).

Kondisi psikologis dan perasaan ibu sangat berpengaruh terhadap keberhasilan menyusui. Semakin tenang, yakin dan percaya diri si ibu, maka kemungkinan besar  semakin sukses menyusui sang bayi. Hal ini karena perasaan dan emosi yang positif akan meningkatkan produksi hormon oksitosin (yang sering disebut hormon kebahagiaa) sehingga memperlancar produksi ASI.

Selain menjaga kondisi psikologis, ibu juga perlu dibantu untuk mendapat asupan makanan yang cukup di kala bencana. Asupan tersebut tidak harus mahal, yang penting bersih dan memenuhi unsur nutrisi seimbang. Bahkan nasi bungkus beserta sayur dan lauk tahu dan tempe pun masih mencukupi. Tidak lupa, asupan cairan juga perlu diperhatikan; bisa berupa air putih, yang penting bersih. Sedapat mungkin asupan ibu diusahakan agar tidak mengandung zat berbahaya seperti zat pengawet, pewarna sintetis atau penyedap rasa. Perlu diketahui bahwa salah satu ‘keajaiban ASI’ adalah bila ada suatu nutrisi yang kurang dalam ASI, maka akan diambil dari cadangan pada tubuh ibu.

Pemberian ASI eksklusif tetap harus dipertahankan di kala bencana. Hal ini sangat penting karena selain besarnya manfaat ASI tersebut, juga di saat bencana higiene dan sanitasi biasanya kurang memadai. Hal ini dapat berakibat fatal, jika sampai bayi beralih ke susu formula atau pemberian makanan pendamping asi yang terlalu dini. Higiene dan sanitasi yang buruk, sangat berisiko untuk timbulnya berbagai penyakit yang sangat berbahaya bagi bayi, seperti diare.

Dukungan sosial dari suami, orang tua, tetangga, teman, relawan, dan tenaga kesehatan sangat diperlukan ibu untuk mempertahankan ASI eksklusif. Hal ini sangat penting, terutama untuk mengurangi stres ibu, dan juga untuk meningkatkan rasa percaya diri ibu terhadap keberhasilan pemberian ASI eksklusif (American Academy of Pediatrics, 2007).

ASI eksklusif sangat penting bagi bayi dan juga memberi keuntungan bagi ibu, keluarga, dan masyarakat. Mempertahankan pemberian ASI eksklusif di kala bencana tidak lepas dari dukungan sosial yang ada di sekitar ibu. Semua pihak diharapkan dapat berperan dalam mendukung keberhasilan pemberian ASI eksklusif di setiap waktu dan setiap saat.