Bekti: Relasikan Konseling dengan Pariwisata Bantul

0
15

Menjadi salah satu promotor di Bantul merupakan keinginan Bekti Tri Utomo, mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Program Studi Bimbingan dan Konseling (BK) angkatan 2014. Tahun ini, akhirnya ia berhasil menjadi Dimas Bantul 2019. Tentu saja, prosesnya tidak instan.

Niat dan keinginan yang kuat membawanya menjadi pemenang. Melawan 30 finalis di tengah kesibukannya, merupakan tantangan tersendiri. Untungnya, orang tua sangat mendukung.

“Persiapan lebih ke pengetahuan, mental, dan public speaking. Paling utama bagi saya mental. Ketika mental sudah kuat, untuk public speaking dan pengetahuan pasti bisa diasah. Kuncinya adalah tetap tenang.”

Pendaftaran dan memulai proses dari bulan Maret, masuk semi finalis dan ditugaskan membuat video pada salah satu blog tentang wisata di Bantul, kemudian diseleksi. Ada sesi tanya jawab dan akhirnya masuk sebagai finalis. Setelah terpilih menjadi juara dan dinobatkan menjadi Dimas Bantul, maka ia harus menjalankan amanah selama dua tahun dalam satu periode.

Mulai Maret sampai Juni ada pembekalan-pembekalan, di antaranya public speaking, personal branding, kebudayaan, dan kepariwisataan. Sampai akhirnya, dikarantina dan diberi pembekalan lagi yaitu tata cara makan. Hal ini penting karena ketika nanti ada penugasan ke luar dan dihadapkan dengan pejabat-pejabat tinggi, maka akan sangat bermanfaat.

Menurut aktivis Paduan Suara Mahasiswa ini, “Kebudayaan dan pariwisata sangat penting, keduanya saling bersinergi. Ketika wisata bisa mengadopsi kebudayaan, saya yakin wisata itu akan menjadi unik. Pengelolaan wisata juga tidak kalah penting dalam menarik wisatawan. Misalnya seperti pertunjukan tari di Candi Prambanan.”

Prestasi Bekti mendapatkan sorotan dan banyak apresiasi. Pihak kampus juga mendukung, dilihat dari beberapa pihak menghubungi Bekti untuk diliput.

“Saya termotivasi oleh sepenggal kalimat dari salah satu pemateri. Menurutnya, silakan tampil yang terbaik jika kalian ingin mendapatkan sesuatu. Jangan berharap lebih, jangan berharap menang namun tampil menjadi yang terbaik. Tidak perlu muluk-muluk harus mendapat juara satu. Itulah yang saya tanamkan dalam diri saya,” uangkapnya.

Ia melanjutkan, “Jadilah diri sendiri. Jangan pernah menjadi orang lain. Silakan menuju angkasa dengan versi kalian masing-masing. Karena setiap orang mempunyai masing-masing karakter dan kemampuan. Jangan pernah berkecil hati dengan kemampuan yang dimiliki orang lain.” (Dew)