Berbahaya, meng-oplos obat herbal dengan alkohol

0
174

Oleh: Dr.rer.nat. Endang Darmawan, Apt.*)

Obat herbal atau lebih sering dikenal dengan istilah jamu merupakan obat yang berasal dari bahan tanaman dengan khasiat tertentu. Obat herbal tersedia di pasaran dalam berbagai bentuk sediaan. Ada dalam bentuk sediaan puyer dan ada juga dalam bentuk kapsul. Umumnya masyarakat mengkonsumsi obat herbal untuk tujuan pengobatan penyakit tertentu. Penyakit-penyakit yang lazim diatasi dengan obat herbal antara lain adalah penyakit sederhana, seperti pegal linu, encok dan meningkatkan stamina tubuh. Selain itu, obat herbal digunakan untuk pengobatan penyakit-penyakit degeneratif, seperti penyakit diabetes, kolesterol, dan asam urat.

Dalam satu bungkus, jamu/obat herbal dapat mempunyai kandungan yang tersusun dari beberapa jenis tanaman yang berbeda. Penggabungan 2–5 jenis bahan tanaman ini dimaksudkan untuk menghasilkan efek yang lebih manjur. Kerja masing-masing komponen tanaman di dalam obat herbal berbeda-beda. Ada kandungan tanaman yang berkhasiat meningkatkan nafsu makan, meningkatkan stamina, atau efek yang lain. Salah satu khasiat tanaman dalam yang sering dijumpai adalah efeknya sebagai pemacu denyut jantung untuk meningkatkan stamina tubuh. Adapun mekanisme kerja dari tanaman tersebut yaitu dengan cara membongkar asam laktat yang menumpuk dalam tubuh. Penimbunan asam laktat ini merupakan salah satu penyebab timbulnya kelelahan dalam tubuh. Jika asam laktat segera dikeluarkan dari dalam tubuh maka tubuh tidak akan mengalami kelelahan.

Yang sering terjadi di tengah masyarakat obat herbal di-oplos dengan alkohol. Telah banyak kita jumpai kejadian akibat pengoplosan obat herbal dan alkohol. Misalnya: seorang pemuda meninggal setelah mengkonsumsi obat kuat (Suara merdeka 28 Juli 2010), dan pesta miras jamu yang dioplos dengan alkohol sehingga menyebabkan kematian 3 pemuda di Tangerang (Tangerangnews.com, 8.11.2012). Sebenarnya konsumsi alkohol di kalangan tertentu biasanya ditujukan untuk meningkatkan kepercayaan diri dalam pergaulan, menumbuhkan rasa tenang dan senang. Mekanisme kerja alkohol umumnya mempengaruhi pusat syaraf otak. Bila penggunaan alkohol ini dihentikan maka syaraf otak menjadi tidak sensitif lagi sehingga ada keinginan untuk menggunakan alkohol lagi atau lebih sering disebut dengan efek adiktif. Salah satu hal yang mendorong beberapa orang meng-oplos alkohol dengan obat atau dengan obat herbal adalah keinginan untuk mendapatkan pengalaman khasiat yang lain jika obat herbal dicampur dengan alkohol.

Namun hal ini sangatlah berbahaya, karena akan terjadi interaksi antara alkohol dengan obat herbal itu. Pertama akan terjadi interaksi pada proses penyerapan obat herbal di saluran cerna. Pada interaksi ini alkohol akan meningkatkan proses penyerapan obat herbal dari dalam saluran cerna ke dalam pembuluh darah. Kalau terjadi peningkatan konsentrasi obat di dalam darah maka efek obat herbal ini juga akan meningkat. Yang kedua, terjadi interaksi pada efek obat. Efek obat herbal dan alkohol akan saling memperkuat, sehingga efek yang dirasakan merupakan hasil sinergisme efek obat herbal dan efek yang diberikan oleh alkohol. Artinya efek yang didapatkan otomatis akan jauh lebih tinggi dari efek yang diharapkan. Misal obat kuat dari obat herbal tujuannya adalah untuk meningkatkan kontraksi denyut jantung sehingga aliran darah ke seluruh tubuh lancar. Orang yang minum obat kuat ini tidak mudah merasakan lelah. Bila di-oplos dengan alkohol maka efek obat obat kuat ini akan meningkat sehingga denyut jantung akan meningkat, aliran darah ke seluruh tubuh akan meningkat, akibatnya tekanan darah akan meningkat terutama ke otak. Bila tekanan meningkat ke otak maka kita akan mengalami pusing-pusing, mual-muntah, kejang dan bisa menyebabkan pingsan, bila hal ini tidak bisa dikendalikan, maka akan menyebabkan kematian.

Bahaya peng-oplosan ini lebih mudah terjadi bila yang mengkomsumsi obat oplosan ini adalah orang lanjut usia karena organ-organ yang dimiliki sudah melemah dalam melakukan kompensasi dalam mengatasi keracunan obat. Jadi, sangatlah berbahaya meng-oplos obat herbal dengan alkohol karena efek obatnya tidak bisa diprediksi. Cara yang aman adalah bila mengkonsumsi obat herbal, sebaiknya tidak dicampur dengan alkohol atau dengan obat lain.

*) Penulis adalah Pengajar pada Program Pasca Sarjana Farmasi dan Drug Informer pada Pusat Informasi Obat, Makanan-Minuman dan Kosmetik Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta.

Oleh: Dr.rer.nat. Endang Darmawan, Apt.*)

Obat herbal atau lebih sering dikenal dengan istilah jamu merupakan obat yang berasal dari bahan tanaman dengan khasiat tertentu. Obat herbal tersedia di pasaran dalam berbagai bentuk sediaan. Ada dalam bentuk sediaan puyer dan ada juga dalam bentuk kapsul. Umumnya masyarakat mengkonsumsi obat herbal untuk tujuan pengobatan penyakit tertentu. Penyakit-penyakit yang lazim diatasi dengan obat herbal antara lain adalah penyakit sederhana, seperti pegal linu, encok dan meningkatkan stamina tubuh. Selain itu, obat herbal digunakan untuk pengobatan penyakit-penyakit degeneratif, seperti penyakit diabetes, kolesterol, dan asam urat.

Dalam satu bungkus, jamu/obat herbal dapat mempunyai kandungan yang tersusun dari beberapa jenis tanaman yang berbeda. Penggabungan 2–5 jenis bahan tanaman ini dimaksudkan untuk menghasilkan efek yang lebih manjur. Kerja masing-masing komponen tanaman di dalam obat herbal berbeda-beda. Ada kandungan tanaman yang berkhasiat meningkatkan nafsu makan, meningkatkan stamina, atau efek yang lain. Salah satu khasiat tanaman dalam yang sering dijumpai adalah efeknya sebagai pemacu denyut jantung untuk meningkatkan stamina tubuh. Adapun mekanisme kerja dari tanaman tersebut yaitu dengan cara membongkar asam laktat yang menumpuk dalam tubuh. Penimbunan asam laktat ini merupakan salah satu penyebab timbulnya kelelahan dalam tubuh. Jika asam laktat segera dikeluarkan dari dalam tubuh maka tubuh tidak akan mengalami kelelahan.

Yang sering terjadi di tengah masyarakat obat herbal di-oplos dengan alkohol. Telah banyak kita jumpai kejadian akibat pengoplosan obat herbal dan alkohol. Misalnya: seorang pemuda meninggal setelah mengkonsumsi obat kuat (Suara merdeka 28 Juli 2010), dan pesta miras jamu yang dioplos dengan alkohol sehingga menyebabkan kematian 3 pemuda di Tangerang (Tangerangnews.com, 8.11.2012). Sebenarnya konsumsi alkohol di kalangan tertentu biasanya ditujukan untuk meningkatkan kepercayaan diri dalam pergaulan, menumbuhkan rasa tenang dan senang. Mekanisme kerja alkohol umumnya mempengaruhi pusat syaraf otak. Bila penggunaan alkohol ini dihentikan maka syaraf otak menjadi tidak sensitif lagi sehingga ada keinginan untuk menggunakan alkohol lagi atau lebih sering disebut dengan efek adiktif. Salah satu hal yang mendorong beberapa orang meng-oplos alkohol dengan obat atau dengan obat herbal adalah keinginan untuk mendapatkan pengalaman khasiat yang lain jika obat herbal dicampur dengan alkohol.

Namun hal ini sangatlah berbahaya, karena akan terjadi interaksi antara alkohol dengan obat herbal itu. Pertama akan terjadi interaksi pada proses penyerapan obat herbal di saluran cerna. Pada interaksi ini alkohol akan meningkatkan proses penyerapan obat herbal dari dalam saluran cerna ke dalam pembuluh darah. Kalau terjadi peningkatan konsentrasi obat di dalam darah maka efek obat herbal ini juga akan meningkat. Yang kedua, terjadi interaksi pada efek obat. Efek obat herbal dan alkohol akan saling memperkuat, sehingga efek yang dirasakan merupakan hasil sinergisme efek obat herbal dan efek yang diberikan oleh alkohol. Artinya efek yang didapatkan otomatis akan jauh lebih tinggi dari efek yang diharapkan. Misal obat kuat dari obat herbal tujuannya adalah untuk meningkatkan kontraksi denyut jantung sehingga aliran darah ke seluruh tubuh lancar. Orang yang minum obat kuat ini tidak mudah merasakan lelah. Bila di-oplos dengan alkohol maka efek obat obat kuat ini akan meningkat sehingga denyut jantung akan meningkat, aliran darah ke seluruh tubuh akan meningkat, akibatnya tekanan darah akan meningkat terutama ke otak. Bila tekanan meningkat ke otak maka kita akan mengalami pusing-pusing, mual-muntah, kejang dan bisa menyebabkan pingsan, bila hal ini tidak bisa dikendalikan, maka akan menyebabkan kematian.

Bahaya peng-oplosan ini lebih mudah terjadi bila yang mengkomsumsi obat oplosan ini adalah orang lanjut usia karena organ-organ yang dimiliki sudah melemah dalam melakukan kompensasi dalam mengatasi keracunan obat. Jadi, sangatlah berbahaya meng-oplos obat herbal dengan alkohol karena efek obatnya tidak bisa diprediksi. Cara yang aman adalah bila mengkonsumsi obat herbal, sebaiknya tidak dicampur dengan alkohol atau dengan obat lain.

*) Penulis adalah Pengajar pada Program Pasca Sarjana Farmasi dan Drug Informer pada Pusat Informasi Obat, Makanan-Minuman dan Kosmetik Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta.