Catatan Perjalanan UAD Peduli Lombok dan Palu

0
223

Selama tahun 2018, beberapa wilayah di Indonesia dilanda bencana gempa bumi dan tsunami. Dua di antaranya yang menjadi perhatian publik nasional sampai internasional adalah bencana di Kabupaten Lombok Utara dan Kabupaten Lombok Timur, serta Kota Palu, Donggala, dan Sigi di Sulawesi.

Sebagai amal usaha Muhammadiyah yang bergerak dalam bidang pendidikan tinggi dengan misi Tri Dharma, Universitas Ahmad Dahlan (UAD) memiliki tanggung jawab moral untuk membantu meringankan beban korban bencana. Salah satu dari misi itu adalah pengabdian kepada masyarakat.

Pada tanggal 5−7 Oktober 2018, Tim Peduli Lombok UAD bertolak ke Pulau Lombok untuk menyampaikan bantuan dari sivitas akademika UAD bagi korban gempa, sekaligus memberikan motivasi kepada para relawan psikososial UAD yang telah diterjunkan sebelumnya. Tim ini terdiri atas Rektor UAD Dr. Kasiyarno, M.Hum., Wakil Rektor I Dr. Muchlas, M.T., dan Dr. Abdul Fadlil, M.T. selaku Wakil Rektor III. Selain itu juga didampingi Kepala Kantor UAD, Kepala LPSI, dan staf Humas UAD.

Di lokasi terdampak bencana, hunian sementara (huntara) dipandang merupakan kebutuhan vital yang harus segera direalisasikan, maka salah satu bantuan yang diberikan UAD berupa fasilitas ini. Secara simbolis, bantuan diserahkan melalui Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) NTB di ruang rektorat Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT). Selanjutnya dikoordinasikan dengan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) untuk diimplementasikan dalam bentuk huntara.

Hari pertama, rombongan UAD berkunjung ke Dusun Lekok dan Dusun Lading-lading. Kedua dusun di Lombok Utara ini menderita dampak gempa bumi sangat parah. Banyak hunian warga yang roboh sehingga untuk sementara warga ditempatkan di tenda-tenda darurat yang disiapkan oleh BNPB dan MDMC.

Setelah memberikan bantuan huntara, Rektor UAD memberikan motivasi kepada masyarakat korban gempa. Tujuannya agar masyarakat tetap istiqomah dalam menjalankan ibadah dan tetap semangat serta sabar dalam menerima musibah.

Menurut MDMC, huntara merupakan bangunan sementara yang diperkirakan dapat bertahan fisiknya selama dua tahun. Setelah dua tahun masyarakat terdampak bencana diharapkan dapat dipindah ke hunian permanen yang disiapkan oleh pemerintah. Selain huntara, UAD juga memberikan bantuan paket sembako sebanyak 500 paket.

Gempa bumi di Lombok, selain menghancurkan berbagai infrastruktur dan bangunan hunian warga, juga merusak gedung dan fasilitas sekolah. Melalui kesempatan ini, UAD juga memberikan bantuan paket peralatan sekolah kepada anak-anak sebanyak 500 paket yang secara simbolik dilakukan oleh Wakil Rektor III.

Di lokasi-lokasi terdampak bencana, MDMC telah menyediakan bangunan masjid sementara supaya masyarakat tetap dapat menjalankan ibadahnya. Masjid sementara Lading-lading yang dibangun MDMC digunakan untuk menerima rombongan UAD oleh Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) setempat.

Selain itu, beberapa huntara dan rumah sakit lapangan telah didirikan untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada warga di Lading-lading. UAD juga menerjunkan relawan mahasiswa psikososial yang bertugas mendampingi anak-anak agar mentalnya tetap terjaga, sehingga tetap memiliki motivasi yang tinggi untuk bersekolah.

Hari kedua, rombongan UAD berkunjung ke lokasi korban gempa di Kabupaten Lombok Timur. Kunjungan ke Dusun Batuyang menemukan kondisi beberapa bangunan yang sangat parah dan salah satunya adalah amal usaha Muhammadiyah/Aisyiyah. Demikian pula ketika mengunjungi Dusun Pohgading. Situasi dan kondisinya sangat memprihatinkan, banyak hunian warga dan bangunan amal usaha Muhammadiyah yang roboh terkena dampak gempa bumi. Kehadiran rombongan UAD di kedua dusun tersebut masih terbatas memberikan bantuan sementara seperti huntara, paket sembako, dan peralatan sekolah anak-anak.

Sebelum kembali ke Mataram, rombongan UAD diterima Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi NTB Yusron Saudi, M.Pd. (alumni Teknik Elektro UAD) di rumah orang tuanya di Dusun Pohgading Lombok Timur.

Fenomena trauma pascagempa seperti masih melanda di sebagian masyarakat Lombok, oleh sebab itu peran relawan psikososial masih sangat diperlukan untuk mengondisikan agar kehidupan masyarakat di sana normal kembali.

UAD Peduli Palu

Beberapa bulan setelah bencana Lombok, gempa bumi dan tsunami melanda Sulawesi khususnya di Kota Palu, Donggala, dan Sigi. Pada tanggal 24−26 November 2018, pimpinan UAD bertolak ke lokasi gempa di Palu untuk memberikan bantuan.

Sebelum berangkat ke lokasi terdampak gempa, UAD menugaskan Kepala Pusat Studi Mitigasi dan Penanggulangan Bencana Universitas Ahmad Dahlan (PSMPB-UAD) Dholina Inang Pambudi, M. Pd. Tujuannya untuk melakukan survei awal mengidentifikasi lokasi-lokasi yang perlu dikunjungi sekaligus berkoordinasi dengan MDMC dalam pengaturan penyampaian bantuan.

Setibanya di Kota Palu, Tim UAD Peduli Palu pertama mengunjungi Universitas Muhammadiyah Palu untuk silaturahmi dan berdiskusi tentang perkembangan PTM dan keadaan kampus pascagempa. Setelahnya, menuju ke salah satu lokasi korban gempa di daerah Pantoloan yang menjadi salah satu sasaran binaan MDMC.

Bantuan UAD untuk musibah gempa bumi di Palu diwujudkan dalam bentuk biaya pembangunan huntara sebanyak 20 buah. Diserahkan oleh Rektor UAD kepada Dr. Rahmawati Husein perwakilan dari MDMC.

Dampak gempa bumi dan tsunami di Palu sangat masif. Tim menjumpai sebuah kapal dengan tonase sangat besar terdampar di perairan dangkal, sebuah kapal penumpang mendarat di perkampungan, masjid yang tinggal menaranya saja dan satu-satunya bangunan yang utuh di sebuah perkampungan yang terkena gempa.

Selain itu, masyarakat di sana khususnya anak-anak, keadaan mentalnya belum stabil akibat trauma pascabencana. Oleh sebab itu, UAD juga mengirim relawan psikososial sebanyak 11 orang dan relawan logistik dari mahasiswa sebanyak 3 orang selama dua bulan. Setiap setengah bulan sekali, secara bergantian UAD juga mengirim relawan apoteker dari unsur dosen.

Kunjungan hari terakhir di Palu, tim sempat singgah di lokasi terjadinya tsunami dengan dampak sangat parah. Tempat wisata di tepi pantai yang semula asri dengan berdirinya masjid apung. Hantaman tsunami telah meruntuhkan bangunan masjid sehingga bagian alasnya tenggelam ke pantai.

Sekalipun bantuan yang diberikan oleh UAD tidak sebanding dengan besarnya penderitaan masyarakat korban gempa, namun ada harapan kepedulian ini dapat membangkitkan rasa empati sekaligus menumbuhkan spirit migunani tumrap liyan atau bermanfaat bagi sesama. Salam Tangguh UAD-MDMC-LAZIZMU. (doc)