• TERKINI
  • UAD BERDAMPAK
  • PRESTASI
  • FEATURE
  • OPINI
  • MEDIA
  • KIRIM BERITA
  • Menu
News Portal of Universitas Ahmad Dahlan

Tauhid Sosial: Beragama yang Menyejahterakan

29/06/2024/in Feature /by Ard

Kajian Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan pembicara Ridwan Furqoni, S.Pd.I., M.P.I. (Dok. Istimewa)

Kajian Rutin Ahad Pagi kembali digelar di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada 23 Juni 2024 bertepatan dengan 16 Dzulhijjah 1445 H. Acara juga disiarkan langsung melalui kanal YouTube Masjid Islamic Center UAD. Kajian dihadiri oleh mahasiswa, masyarakat sekitar, dan umum. Ridwan Furqoni, S.Pd.I., M.P.I. selaku Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY didapuk menjadi pemateri kajian.

Tauhid berasal dari kata bahasa Arab wahhada-yuwahhidu-tauhidan, wahid berarti satu, tauhid berarti menempatkan Allah sebagai satu-satunya. Jenis-jenis tauhid, antara lain tauhid rububiyah yakni meyakini Allah sebagai satu-satunya yang menciptakan, memelihara, dan merawat manusia. Tauhid mulkiyah yakni meyakini Allah sebagai satu-satunya Dzat yang Maha Berkuasa. Tauhid uluhiyah yakni meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya sesembahan yang berhak disembah.

Bertauhid di dalam hidup berarti menempatkan Allah sebagai satu-satunya orientasi hidup seseorang. Orang yang bertauhid pangkatnya, kekuasaannya, dan segala hal berorientasi kepada Allah, yakni demi menyempurnakan tugas Allah.

Referensi tema dalam pembahasan tersebut yaitu dari buku karya Amien Rais yang berjudul Tauhid Sosial Formula Menggempur Kesenjangan diterbitkan oleh Mizan, Bandung, tahun 1998. Tauhid sosial muncul sebagai respons dari cara beragama yang hanya mengedepankan kesalehan pribadi dan mengabaikan kehidupan sosial. Sesungguhnya perkara tauhid sosial ini sudah pernah dikritik oleh Kiai Dahlan pada tahun awal-awal abad ke-20, yang notabene di Indonesia pesantren dan kiai telah menjamur.

Beragama itu hendaknya berdampak dengan kehidupan sekitarnya. Beragama yang tidak berdampak cenderung akan menghasilkan masalah, maka bertauhid kepada Allah harus memberikan dampak dalam kesejahteraan hidup umat manusia di muka bumi. Tugas seorang muslim di dunia ada dua, yakni sebagai ā€˜abdullah (hamba Allah) dan memiliki status sebagai khalifatullah (pemimpin). Contoh tauhid sosial yaitu menyejahterakan sesama manusia dengan zakat, menyejahterakan hewan dengan memakai pisau yang tajam dalam pemotongannya, dan menyejahterakan alam dengan tidak mengeksploitasinya.

Di dalam Al-Qur’an dan hadis, ketika ada seseorang yang dihukum, banyak sekali yang hukumannya membebaskan budak. Hal ini karena Islam ingin menghapus perbudakan, perbudakan menempatkan manusia seperti setengah manusia, juga seperti barang. Jadi budak itu berbeda dengan pembantu, budak dimiliki langsung oleh majikannya seperti kepemilikan barang.

Pada harta benda mereka ada hak bagi orang miskin yang meminta dan yang tidak meminta. (Q.S. Adz-Dzariyat: 19)

Dari ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa berislam akan lebih sempurna jika kita membantu menyejahterakan sesama. Sebab di sebagian harta seseorang adalah hak untuk orang miskin. Sedekah dan zakat sebagai sarana penyucian dari harta seseorang yang tidak halal, atau harta yang tercampur. Orang yang berhak disedekahi yaitu balita telantar, anak jalanan, anak disabilitas, lanjut usia telantar, tuna susila, korban napza, korban bencana alam, fakir miskin, keluarga tidak layak huni, dan semisalnya. Tugas kita mengentaskan manusia dari dhu’afa (orang-orang yang lemah) dan mustad’afin (orang-orang yang terlemahkan), hal itu merupakan tugas ketauhidan seorang muslim. (Lus)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Kajian-Ahad-Pagi-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-dengan-pembicara-Ridwan-Furqoni-S.Pd_.I.-M.P.I.-Dok.-Istimewa.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2024-06-29 11:24:102024-06-29 11:24:10Tauhid Sosial: Beragama yang Menyejahterakan

Tiga Pelajaran Spirit Tauhid Nabi Ibrahim

28/06/2024/in Feature /by Ard

Prof. Dr. H. Dadang Kahmad, M.Si. selaku Khatib Salat Iduladha 1445 H di Universitas Ahmad Dahlan (Dok. Istimewa)

Tauhid atau konsep keesaan Allah merupakan salah satu konsep penting dalam agama Islam. Namun, sebelum Islam hadir, konsep ini telah ada dalam ajaran para nabi dan rasul sebelumnya, termasuk Nabi Ibrahim a.s. Nabi Ibrahim dianggap sebagai tokoh utama dalam Islam yang mengemban misi untuk menyebarkan tauhid di tengah-tengah masyarakat yang memercayai berbagai bentuk Tuhan dan dewa.

Hal ini dibahas lebih mendalam oleh Prof. Dr. H. Dadang Kahmad, M.Si. selaku khatib salat Iduladha 1445 H yang juga merupakan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bidang Pustaka, Informasi, dan Digitalisasi pada Senin, 17 Juni 2024. Acara yang digelar di Lapangan Bola Sisi Timur Kampus IV Universitas Ahmad Dahlan (UAD) ini diikuti oleh dosen, tenaga kependidikan, karyawan, mahasiswa di lingkungan UAD, serta masyarakat sekitar.

Pada kesempatan itu, Dadang Kahmad menyampaikan terkait tauhid aktif Nabi Ibrahim yaitu tauhid yang diiringi dengan amal shalih dan amar makruf nahi munkar. ā€œTauhid aktif adalah keyakinan yang disertai dengan amal saleh dan pelaksanaan amar makruf nahi mungkar. Nabi Ibrahim juga memiliki pemikiran kritis mengenai keberadaan alam semesta yang indah yang menunjukkan adanya Sang Pencipta,ā€ jelasnya

Menurutnya, ada tiga pelajaran dari sejarah Nabi Ibrahim yang dapat diambil oleh umat Islam saat ini. Pelajaran-pelajaran tersebut adalah sebagai berikut.

Iman Harus Hidup dan Aktif

Pelajaran pertama, iman harus hidup dan aktif, bukan pasif dan statis. Iman yang aktif terwujud dalam tindakan amal sosial atau habluminannas, melakukan amar makruf nahi munkar, serta berakhlak baik dalam pergaulan dengan sesama manusia.

Aktif dalam Melakukan Pekerjaan yang Bermanfaat

Pelajaran kedua, orang beriman harus aktif dalam melakukan pekerjaan yang bermanfaat, termasuk di dalamnya memakmurkan bumi dan menjaganya dari kerusakan.

Jika Mampu, Berkurbanlah

Pelajaran ketiga, dianjurkan berkurban bagi yang mampu. Kurban merupakan salah satu bentuk kesalehan sosial yang penting dalam kehidupan beragama setiap muslim. ā€œBarang siapa yang mampu lalu tidak berkurban maka tidak boleh mendekat ke tempat salat kami.ā€ (HR Ahmad dan Ibnu Majah)

ā€œMumpung masih diberi kesempatan hidup oleh Allah yang entah sampai kapan sisa umur ini masih ada. Sungguh alangkah indahnya jika umur yang tersisa ini kita gunakan untuk hal-hal yang bermanfaat sehingga menjadi umur yang dipenuhi kasih sayang Allah, umur yang dipenuhi barakah Allah. Harta yang kita punya, mari kita gunakan untuk kepentingan kebaikan, kita gunakan untuk meraih kesenangan di akhirat yang abadi. Jangan sampai kita menyesal selamanya ketika kita berada di alam keabadian,ā€ tutupnya. (Lid)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Prof.-Dr.-H.-Dadang-Kahmad-M.Si_.-selaku-Khatib-Salat-Iduladha-1445-H-di-Universitas-Ahmad-Dahlan-Dok.-Istimewa.jpg 1080 1919 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2024-06-28 10:15:442024-06-28 10:26:31Tiga Pelajaran Spirit Tauhid Nabi Ibrahim

Ragam Kalender dan Hari Besar Islam

26/06/2024/in Feature /by Ard

Kajian Rutin Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) oleh Dr. H. Oman Fathurrahman, M.Ag. (Dok. Lusi)

Takmir masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) mengadakan Kajian Rutin Ahad Pagi pada 9 Juni 2024. Acara dilaksanakan di Lantai II Masjid Islamic Center UAD sekaligus live pada YouTube Masjid IC UAD. Pemateri kajian adalah Dr. H. Oman Fathurrahman, M.Ag. selaku dosen Ilmu Hadis UAD, sekaligus Ketua Bidang Hisab dan Iptek Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Oman menjelaskan terkait kalender. ā€œSelama ini kita tidak begitu banyak mengenal tentang ragam kalender yang dijadikan patokan atau acuan, baik di dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kehidupan beribadah. Tampaknya kalender Hijriah tidak begitu menjadi perhatian, karena kita sudah terbiasa menggunakan kalender Syamsiyah atau Masehi dalam kehidupan sehari-hari,ā€ tuturnya.

Pada Jumat malam, Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) telah mengumumkan terkait jatuhnya tanggal 1 Dzulhijjah 1445 H. Setelah melakukan sidang isbat, Kemenag menetapkan bahwa tanggal 1 Dzulhijjah jatuh pada Sabtu, 8 Juni 2024. Jadi, orang-orang yang akan berkurban disunnahkan untuk tidak memotong kuku dan rambut. Selain itu, banyak sekali amalan-amalan lain yang dapat dilakukan di bulan Dzulhijjah, bahkan dalam suatu hadis dikatakan pahalanya setara dengan jihad.

Muhammadiyah satu tahun yang lalu, juga telah mengumumkan bahwa tanggal 1 Dzulhijjah bertepatan dengan hari Sabtu 8 Juni 2024. Karena pada pertengahan tahun 1444 H yang lalu, kalender Muhammadiyah telah dibuat. Namun untuk lebih meyakinkan masyarakat maka disusul dengan maklumat, yakni juga supaya informasi lebih tersebar luas. Maka pada tahun ini antara Muhammadiyah dan pemerintah menetapkan tanggal 1 Dzulhijjah jatuh pada tanggal 8 Juni 2024. Berdasarkan hal tersebut juga menunjukkan bahwa Iduladha akan dirayakan pada Senin, 17 Juni 2024.

Sekitar 20 negara di dunia menetapkan 1 Dzulhijjah di hari Jumat, 7 Juni 2024, antara lain Jerman, Algeria, Bahrain, Djibouti, Mesir, Irak, Yordania, Kuwait, Lebanon, Libya, Nigeria, Palestina, Qatar, Saudi Arabia, Somalia, Sudan, Syria, Tunisia, Turki, United Emirat Arab, dan Yaman. Sedangkan yang menetapkan tanggal 1 Dzulhijjah di hari Sabtu 8 Juni 2024, antara lain Bangladesh, Brunei Darussalam, India, Indonesia, Iran, Jepang, Malaysia, Mali, Mauritania, Maroko, Oman, Pakistan, Singapura, Afrika Selatan, dan Srilanka. Akibat dari perbedaan tanggal pada skala dunia, maka Iduladha juga akan terbagi menjadi dua tanggal. Hal ini sering kali terjadi di dunia, bahkan tidak hanya pada bulan Dzulhijjah saja.

Muhammadiyah sedang mengusahakan penyusunan pembuatan Kalender Islam Internasional. Dengan adanya kalender ini diharapkan dalam satu hari hanya satu tanggal, tidak seperti sekarang yang dalam 1 hari ada 2 tanggal. Muhammadiyah berupaya agar seluruh dunia menggunakan kalender Hijriah seperti kalender Masehi. Terlepas dari hal tersebut, orang-orang pasti ada yang setuju dan tidak. Hal ini memang perlu diusahakan dalam rangka menyelesaikan problem yang telah disebutkan itu, dengan membuat penataan waktu yang berskala dunia.

Sehubungan dengan berakhirnya Kalender Wujudul Hilal Muhammadiyah pada tahun 2024, maka untuk tahun 1446 H Muhammadiyah akan menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal yakni kalender Islam yang berskala internasional. Hal ini pun sudah dibahas dan diputuskan dalam sebuah musyawarah dan sekarang sedang menunggu tanfiz (pemberlakuan) dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Jika penetapan tanggal 1 Dzulhijjah di Indonesia menggunakan wujudul hilal maka hasil penetapan tersebut hanya berlaku di Indonesia saja dan tidak berlaku untuk negara lain. Kalender yang sering digunakan oleh Kementerian Agama itu juga tergolong lokal, meskipun diberlakukan pada beberapa negara seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam yang sama-sama bersifat lokal. Hal ini dapat disimpulkan bahwa kalender Hijriah yang sering beredar di masyarakat adalah kalender-kalender lokal, bahkan secara ekstrem juga populer dengan nama kalender ormas. Sebenarnya perbedaan yang terjadi sangatlah wajar, karena perhitungan kalender hanya berlaku untuk lokal yang kriteria-kriterianya tidak berlaku internasional.

Di dalam ilmu astronomi penetapan tanggal 1 Dzulhijjah ketika hilal di bawah ufuk itu sah. Alasannya adalah siklus bulan terjadi saat munculnya hilal, yaitu setelah konjungsi. Namun, terjadinya hilal belum tentu di atas ufuk, posisinya pun bisa terjadi di bawah ufuk (horizon). Maka dari itu, para ahli astronomi sepakat bahwa hilal akan muncul setelah ijtimak. (Lus)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Kajian-Rutin-Ahad-Pagi-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-oleh-Dr.-H.-Oman-Fathurrahman-M.Ag_.-Dok.-Lusi.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2024-06-26 09:23:412024-06-26 09:23:41Ragam Kalender dan Hari Besar Islam

Konsisten Adalah Kunci Mendapat Branding yang Baik

25/06/2024/in Feature /by Ard

Seminar Nasional Prodi Ilkom Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Bertema Up Scale Personal Branding for Business (Dok. Istimewa)

Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) melaksanakan seminar nasional dengan tema ā€œUp Scale Personal Branding for Businessā€. Acara ini berlangsung pada Rabu, 12 Juni 2024 di Amphitarium Kampus IV UAD dengan menghadirkan narasumber yang kompeten di bidangnya. Mereka adalah Satia Pradana yang merupakan owner Inspira Grup dan Danang Giri Sadewa seorang education influencer.

Turut hadir pada seminar nasional ini yaitu Joko B. Purnomo selaku Wakil Bupati Bantul yang mengapresiasi penuh agar mahasiswa UAD bisa menjadi pengusaha besar dan terbaik. Tidak kalah menarik, acara ini disponsori oleh Junior Chamber International (JCI) sebagai organisasi di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai kepemudaan. Selain itu, dilakukan pula penandatangan Memorandum of Understanding (MoU) yang didampingi oleh Dekan Fakultas Sastra, Budaya, dan Komunikasi (FSBK) Wajiran, S.S., M.A., Ph.D. dan Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Fitrinanda An Nur, S.I.Kom., M.A.

Pada acara tersebut, Danang Giri Sadewa menyampaikan mengenai pengalaman dirinya dalam mengembangkan bisnis mulai dari nol hingga sukses menjadi education influencer. Awalnya ia berjualan duri landak ketika di bangku sekolah dasar yang saat itu ia katakana bahwa itu bisnis iseng hingga kini dirinya memiliki bisnis yang luar biasa, yakni self-photo studio maupun agen travel umrah. Ia juga menceritakan lika-liku aktif mengembangkan konten-kontennya pada platform TikTok hingga for you page atau FYP.

ā€œKunci dalam menjalankan bisnis supaya mendapatkan branding yang baik yaitu dengan cara konsisten. Di dunia bisnis itu tidak ada yang instan,ā€ ujarnya.

Narasumber kedua, Satia Pradana, menyampaikan hal yang sama. ā€œSebuah bisnis bisa berkembang apabila kita terus menjalaninya dan tidak berubah ubah.ā€

Ia mengibaratkan seperti kisah kelinci dan kura-kura yang berlomba lari, di mana kura-kura ini tetap akan berusaha berlari pelan hingga finis secara konsisten, tetapi berbanding terbalik dengan kelinci yang berlari kencang, melompat-lompat, dan tidak konsisten sehingga tertinggal dari kura-kura.

ā€œKita boleh memilih berteman dalam hal baik bisa bersama orang yang lebih mahir daripada kita, sehingga kita juga bisa ikut termotivasi dari orang tersebut,ā€ imbuhnya.

Acara ini juga dibuka interaksi langsung berupa tanya jawab bersama mahasiswa yang hadir di Amphitarium Kampus IV UAD dan dimoderatori oleh Eka Anisa Sari, S.I.Kom., M.I.Kom. Seminar ditutup dengan pemberian hadiah kepada penanya terbaik dan mahasiswa terpilih. ā€œHarapannya acara ini dapat mewadahi mahasiswa untuk mengenal lebih jauh bagaimana personal branding dan komunikasi,ā€ ujar Azizy Juhari selaku ketua panitia. (dil)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Seminar-Nasional-Prodi-Ilkom-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Bertema-Up-Scale-Personal-Branding-for-Business-Dok.-Istimewa.jpeg 1098 1500 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2024-06-25 11:10:542024-06-25 11:10:54Konsisten Adalah Kunci Mendapat Branding yang Baik

Perintah Beramal Saleh pada Bulan Dzulhijjah

14/06/2024/in Feature /by Ard

Penyampaian Khutbah Jumat oleh Fauzan Muhammadi, Lc., LL.M di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Dok. Istimewa)

Takmir masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali mengadakan salat Jumat pada 7 Juni 2024, dengan khatib Fauzan Muhammadi, Lc., LL.M. yang merupakan dosen Fakultas Hukum UAD. Acara dilaksanakan di Masjid Islamic Center dan disiarkan langsung melalui YouTube Masjid Islamic Center UAD.

Memasuki bulan yang mulia yaitu Dzulhijjah, yang sering disebut dengan bulan Haji, bulan Besar, dan bulan Iduladha maka esensi Iduladha merupakan bentuk pengorbanan salah satu Nabi yang diutus Allah yaitu Nabi Ibrahim a.s. Oleh karena itu, hendaknya kita melaksanakan ibadah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. yakni puasa Arafah.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Abdullah ibnu Abbas, Rasulullah saw. bersabda:

ā€œTidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal saleh di dalamnya lebih dicintai oleh-Nya daripada hari yang sepuluh (10 hari pertama dari Dzulhijjah), maka perbanyaklah tahlil, takbir, dan tahmid.ā€

Maksud dari kata ā€œ10 hariā€ di dalam hadis tersebut adalah 10 hari awal di bulan Dzulhijjah. Rasulullah menyampaikan hal tersebut di hadapan para sahabat, kemudian para sahabat bertanya: ā€œWahai Rasulullah apakah tidak termasuk juga di dalamnya jihad fi sabilillah? Rasul menjawab: ā€œTidak termasuk jihad fi sabilillah, kecuali orang-orang yang keluar dari medan laga baik itu mengorbankan nyawanya atau harta yang ia miliki dan ia tidak kembali lagi (syahid atau tewas di medan perang)ā€. Rasulullah menegaskan jika orang yang berperang masih diberi kesempatan oleh Allah Swt. untuk kembali kepada lingkungan keluarga dan masyarakat yang ia hidup di sekitarnya. Maka Rasulullah menegaskan untuk berbuat baik di dalamnya.

Al-ā€˜Amalu al-Shalih yang dimaksud Rasulullah di dalam hadis adalah amalan-amalan yang dilakukan setiap hari, yakni dengan fokus niat lillahi ta’ala bukan kepada niat-niat yang lain. Contoh amalannya adalah salat yang dilakukan setiap hari, berbakti kepada kedua orang tua yang tentu saja harus dilakukan sepanjang hidup, berinfak, bersedekah, berzakat ketika sudah waktunya, atau amaliah-amaliah lainnya yang cenderung rutin untuk menjalankannya. Amalan-amalan yang telah disebutkan tadi, pahalanya akan dilipat gandakan daripada bulan-bulan yang lain.

Tidak hanya satu bulan yang dianggap mulia, ada juga bulan yang lebih mulia dari empat bulan hijriah yang telah disebutkan tadi. Sebagaimana yang disebutkan oleh Nabi yakni bulan suci Ramadan yang dianggap lebih istimewa dari empat bulan yang mulia. Maka dari itu, pada awal-awal bulan Dzulhijjah khususnya pada 10 hari pertamanya, mari bersama-sama untuk memupuk semangat dan menanamkan benih-benih amal saleh, agar mendapatkan nilai, ganjaran yang lebih, dan dapat membiasakan beramal saleh dengan diiringi niat lillahi ta’ala.

Allah Swt. berfirman dalam salah satu potongan ayatnya ketika beliau menyampaikan perintah fastabiqul khairat, yang artinya ā€œBerlomba-lombalah kalian dalam berbuat kebaikanā€. Dalam melakukan semua hal yang sifatnya khair, perlu dijadikan motivasi agar dapat menjalankan semua keseharian dengan perilaku dan tindak tanduk yang positif. Karena hal tersebut tidak hanya berdampak untuk diri sendiri, tetapi juga sebagai media dakwah dengan memberikan contoh yang baik ditujukan kepada orang-orang yang belum bisa meniru dan diharapkan menjadi perilaku positif yang menular yang diikuti oleh orang terdekat maupun yang jauh.

Marilah tanamkan kepada diri masing-masing untuk menjadikan bulan-bulan mulia sebagai penetap dalam menjalankan atau membiasakan ibadah keseharian dengan nilai amaliah saleh pada bulan-bulan yang lalu dan bukan pada bulan-bulan mulia saja. Marilah jadikan momen Jumat yang mengawali bulan Dzulhijjah ini, dengan menjadi hari yang mulia untuk mengawali bulan yang mulia dan melalui majelis ini marilah kita termotivasi untuk selalu memanjatkan doa kepada Allah Swt. (Lus)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Penyampaian-Khutbah-Jumat-oleh-Fauzan-Muhammadi-Lc.-LL.M-di-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Dok.-Istimewa.png 843 1500 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2024-06-14 11:14:242024-06-14 11:14:24Perintah Beramal Saleh pada Bulan Dzulhijjah

Mau Berprestasi? Mulai Aja Dulu

22/05/2024/in Feature /by Ard

Lathifah Aprian Putri, Mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Juara 1 Pilmapres Diploma LLDIKTI V Yogyakarta (Dok. Istimewa)

Kabar membanggakan dari Universitas Ahmad Dahlan (UAD), pasalnya salah satu mahasiswa Diploma Program Studi (Prodi) Bisnis Jasa Makanan (Bisma) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) yakni Lathifah Apriana Putri, berhasil meraih juara I Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah V. Perempuan yang akrab dipanggil Lathifah ini merupakan penerima Beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) UAD.

Sejak mahasiswa baru, Lathifah sudah berkecimpung dalam berbagai kompetisi tingkat nasional, selain untuk mengasah skill juga untuk menambah relasi dan pengalaman. Selama ini, ia selalu berusaha mengatur waktunya dengan sebaik mungkin.

ā€œSaya membuat jadwal kegiatan sehari-hari, selain itu juga tidak dimungkiri pasti pernah meninggalkan kelas demi mengikuti kegiatan kompetisi dan pembinaan Pilmapres dari universitas. Hal itu memang mengharuskan saya untuk meninggalkan kelas sementara waktu, tetapi hal tersebut tidak menjadi sebuah kendala karena telah ada surat izin. Kuncinya adalah, memiliki teman yang peduli untuk membantu dalam memberi informasi terkait tugas yang tertinggal. Oleh karena itu, peran dosen dan teman kelas ikut andil dalam penyeimbangan prestasi akademik dan nonakademik saya,ā€ papar Lathifah dalam wawancaranya.

Menilik perjalanannya sampai saat ini, tentu saja Lathifah mempunyai motivasi dan tekad yang kuat sehingga menjadikannya memperoleh satu per satu apa yang dicita-citakannya. ā€œOrang tua dan masa depan cerahlah yang dapat memotivasi saya hingga saya memiliki tekad dan keinginan yang kuat untuk menjadi mahasiswa berprestasi. Selain itu saya juga termotivasi dari berbagai tokoh inspiratif seperti Maudy Ayunda, Jerome Polin Sijabat, Amanda Susanti, dan berbagai influencer yang memiliki konten berisi self-growth. Hal itu tentu saja dapat memberikan motivasi untuk saya. Kunci saya dapat meraih penghargaan ini adalah, keinginan mau belajar, tekad dan keberanian yang kuat untuk mencoba, serta ikhtiar yang terbaik. Tak lupa juga doa restu dan dukungan dari orang tua, teman dekat, dosen serta dukungan dari universitas pun juga sangat berdampak pada hasil perjuangan saya selama berkompetisi,ā€ tambahnya.

Pilmapres merupakan ajang kompetisi yang sangat luar biasa karena dapat mendorong para mahasiswa agar berprestasi dan berambisi dalam sebuah pencapaian. ā€œMenurut saya, Pilmapres sangat berperan dalam memberikan motivasi, dapat meningkatkan kreativitas diri, melatih mental karena di sana akan bertemu dengan para mahasiswa dari universitas lain, menghasilkan generasi muda yang berjiwa intelektual, serta memberikan penghargaan yang tinggi kepada mahasiswa dengan berbagai capaian prestasinya selama menjadi seorang mahasiswa,ā€ ungkap Lathifah.

ā€œPesan dan saran dari saya untuk teman-teman di luar sana, untuk memulai sebuah capaian dan prestasi bukan dimulai dari kita harus pintar dan hebat, tetapi dimulai dari keinginan atau kemauan ingin belajar, berikhtiar, mencoba hal yang baru, tekad dan keberanian yang kuat, percaya diri, serta jangan berputus asa terlebih dahulu sebelum mencoba. Sebab, bisa jadi dari usaha dan perjuanganmu itulah yang dapat menghasilkan sebuah keberuntungan prestasi yang tidak disangka sangka. Teruslah menjadi mahasiswa yang memiliki prinsip, keinginan dan cita-cita yang harus diperjuangkan, jangan terlelap dengan zona nyaman yang menjadikan kita stuck di situ-situ aja,ā€ ujarnya.

Ia menambahkan, ā€œAyo bangkit keluar dari zona nyaman, terjang seluruh lika-liku kehidupan naikkan value diri, perluas relasi, perbanyak pengalaman, jangan bermalas-malasan, karena orang sukses tidak dimulai dari rasa malas tetapi usaha dan perjuangan. Setidaknya usaha terlebih dahulu, jika sukses maka kita akan menjadi orang yang berkelas, tetapi jika gagal setidaknya kita bukan orang yang pemalas dan teruslah bertekad untuk memiliki prestasi yang dapat bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.ā€ (Lin)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Lathifah-Aprian-Putri-Mahasiswa-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Juara-1-Pilmapres-Diploma-LLDIKTI-V-Yogyakarta-Dok.-Istimewa.jpeg 1397 2000 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2024-05-22 08:01:562024-05-22 08:12:40Mau Berprestasi? Mulai Aja Dulu

Berbakti kepada Orang Tua yang Telah Meninggal

08/05/2024/in Feature /by Ard

Rahmadi Wibowo Suwarno, Lc., M.A., M.Hum. Khatib Jumat Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Dok. Istimewa)

Takmir Masjid Islamic Center Kampus IV Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakata kembali mengadakan khotbah secara rutin pada tiap Jumat dan disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube. Pemateri pada khotbah yaitu Rahmadi Wibowo Suwarno, Lc., M.A., M.Hum. selaku Ketua Lembaga Pengembangan Studi Islam (LPSI) UAD.

ā€œHendaknya kita bersyukur kepada Allah karena hingga saat ini senantiasa diberikan kenikmatan terutama nikmat umur yang panjang. Kita masih diberikan kesempatan hidup dan kesempatan waktu. Untuk itu, kita harus menggunakan dan memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Karena umur yang tidak akan bertambah, maka kesempatan kita pun terus berkurang,ā€ ucap Rahmadi.

Ia melanjutkan, ā€œNabi Muhammad merupakan contoh panutan dan teladan seluruh manusia di muka bumi, semua manusia yang mengikutinya maka disebut umat Muhammad. Manusia yang disebut sebagai umat Muhammad, maka berhak masuk surga bersama Nabi. Nabi Muhammad sebagai Rasul juga disebut kunci surga, maka siapa saja yang tidak ikut tuntunan Nabi Muhammad maka hilang kunci surganya. Kita hadir di sini dalam rangka ingin terus disebut sebagai umat Nabi Muhammad saw. dengan melaksanakan salah satu tuntunan ajarannya yaitu salat Jumat berjamaah. Kita juga harus berusaha meningkatkan kedekatan diri kepada Allah dengan takwa, agar sukses dunia akhirat.ā€

Suatu hari Rasulullah saw. didatangi seseorang dari Kaum Anshor. Kemudian ia bertanya, ā€œWahai Rasul apakah masih ada baktiku kepada orang tuaku ketika ia sudah meninggal?ā€. Lalu Rasulullah menjawab, ā€œadaā€. Kemudian Nabi menyebutkan beberapa hal yang menjadikan seseorang atau anak berbakti meskipun orang tuanya telah meninggal.

Pertama, Rasul menyebut untuk mensholatkannya. Maka sebisa mungkin ketika orang tua meninggal, akan lebih baik jika anak yang menyolatkan pertama kali. Bukan hanya sholat jenazah tetapi juga perawatan jenazah sebelumnya yaitu mulai dari memandikan, mengkafani, menyolatkan, dan memasukkan ke liang lahat. Maka melalui hadis ini pengetahuan tentang perawatan jenazah menjadi sangat penting. Tidak hanya bagi petugas perawatan jenazah, tetapi untuk semua orang.

Kedua, Rasul menyebut untuk memohonkan ampun dosa-dosanya. Maka doa kepada kedua orang tua hendaknya selalu kita ucapkan. Meskipun sebagian ulama berpendapat bahwa mendoakan orang tua itu mudah dan sulit. Mudah itu ketika seseorang melaksanakan salatnya dengan tertib dan sulit itu ketika tidak pernah salat. Jika orang itu tertib salat, maka ia selalu mendoakan orang tuanya, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal.

Ketiga, Rasul menyebut untuk menunaikan janji-janji baik dari orang tua. Misalnya dari harta peninggalan orang tua sebagian diwakafkan. Kemudian ada yang digunakan untuk membantu masjid dan lain sebagainya, selama itu kebaikan maka anak tersebut telah berbakti kepada orang tuanya. Keempat, Rasul menyebut untuk memuliakan teman-teman dari orang tua kita yang sudah meninggal. Maka menjalin silaturahmi dengan teman dari orang tua juga sangat dianjurkan. (Lus)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Rahmadi-Wibowo-Suwarno-Lc.-M.A.-M.Hum_.-Khatib-Jumat-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Dok.-Istimewa.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2024-05-08 08:13:422024-05-08 08:13:42Berbakti kepada Orang Tua yang Telah Meninggal

Bijak Berutang dalam Islam

04/05/2024/in Feature /by Ard

Pengajian Integrasi Keilmuan dan Nilai AIK Ramadan di Kampus (RDK) 1445 H Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Dok. Bidang Humas dan Protokol UAD)

Islam merupakan agama yang telah mengatur seluruh permasalahan di dalam kehidupan manusia, termasuk di dalamnya adalah permasalahan utang-piutang. Islam tidak hanya membolehkan seseorang berutang kepada orang lain, melainkan juga mengatur adab-adab dan aturan-aturan dalam berutang.

Hal tersebut dibahas secara mendalam oleh Ustazah Khusnul Hidayah, S.E., S.Ag., M.Si. dalam Pengajian Integrasi Keilmuan dan Nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dalam rangka kegiatan Ramadan di Kampus 1445 H. Acara yang dihadiri oleh dosen dan tenaga pendidik UAD ini digelar pada Rabu, 20 Maret 2024 bertempat di Masjid Darussalam Kampus I UAD.

Dalam Islam, berutang tidak dianggap sebagai hal yang dilarang selama dilakukan dengan bijak dan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Berikut adalah panduan dan etika berutang dalam Islam.

Niat yang Jelas

Sebelum berutang, seseorang harus memiliki niat yang jelas dan jujur. Utang harus diambil untuk kebutuhan yang benar-benar penting dan tidak boleh digunakan untuk hal-hal yang bersifat mewah atau tidak produktif.

Bijak Memilih Pemberi Utang

Memilih pemberi pinjaman atau lembaga keuangan yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah menjadi hal penting dalam berutang. Pastikan pemberi atau lembaga tersebut tidak memberlakukan bunga atau praktik-praktik ribawi yang bertentangan dengan hukum Islam.

Transparansi dan Kesepakatan yang Jelas

Sebelum menandatangani perjanjian utang, pastikan untuk memahami dengan jelas syarat-syaratnya. Transparansi dan kesepakatan yang jelas antara pemberi pinjaman dan peminjam sangat penting dalam menghindari konflik di kemudian hari.

Kemampuan untuk Membayar Kembali

Sebelum mengambil utang, peminjam harus memastikan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk membayar kembali pinjaman tersebut. Tidak bijaksana untuk mengambil utang melebihi kemampuan finansial, karena hal ini dapat menyebabkan beban yang berlebihan di masa depan.

Menjaga Amanah

Mengembalikan utang tepat waktu adalah bagian dari menjaga amanah dalam Islam. Keterlambatan pembayaran atau menghindari tanggung jawab dapat merusak hubungan antara pemberi pinjaman dan peminjam serta merusak reputasi pribadi. Selain itu, pastikan bahwa orang yang berutang dapat bersikap baik kepada pemberi pinjaman ketika membayar utang.

Menghindari Riba dan Praktik Haram Lainnya

Riba atau bunga adalah hal yang diharamkan dalam Islam. Oleh karena itu, peminjam harus memastikan bahwa perjanjian utang tidak mengandung unsur riba atau praktik-praktik haram lainnya. Menurut Ustazah Khusnul, pelunasan utang-piutang dengan pemberian tambahan diperbolehkan dengan alasan ungkapan rasa syukur, tetapi hal ini sebaiknya dihindari. Akan lebih baik untuk mendoakan pemberi pinjaman setelah utang selesai dibayarkan.

Berpikir Jangka Panjang

Sebelum mengambil utang, pertimbangkan dampaknya secara jangka panjang. Pastikan bahwa penggunaan dana tersebut akan memberikan manfaat yang nyata dan membantu mencapai tujuan finansial yang lebih besar. Adapun orang yang sedang berutang tetap diperbolehkan untuk bersedekah, tetapi akan lebih baik jika akad utang-piutang tersebut dituntaskan terlebih dahulu. ā€œAkan lebih baik kalau akad utang-piutang ini kita segerakan sebelum kita berinfak ataupun bersedekah ke orang lain,ā€ jelasnya.

Dengan mengikuti panduan dan etika berutang dalam Islam, seseorang dapat menghindari risiko-risiko yang tidak diinginkan dan menjaga keberkahan dalam keuangan mereka. Berutang dengan bijak dan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah adalah bagian penting dari menjalani kehidupan yang bertanggung jawab dan beretika. (Lid)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Pengajian-Integrasi-Keilmuan-dan-Nilai-AIK-Ramadan-di-Kampus-RDK-1445-H-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Dok.-Bidang-Humas-dan-Protokol-UAD.jpg 851 1351 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2024-05-04 17:35:452024-05-04 17:35:45Bijak Berutang dalam Islam

Mengasah Wawasan dengan Belajar Kontinu

19/04/2024/in Feature /by Ard

Arif Setyawan – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Dok. Istimewa)

Dunia yang kita tempati sekarang mengalami transformasi yang begitu pesat, teknologi kian memasuki semua ruang dan fungsi. Tren sosial, pergeseran cara bekerja, serta perubahan interaksi tentunya tidak bisa dielakkan. Dengan adanya perubahan teknologi yang signifikan, belajar secara kontinu dapat menjadi salah satu cara untuk mengiringi dan mengikuti perubahan tersebut.

Ketika berbicara belajar kontinu, maka tidak terarah hanya pada sebuah gelar atau sertifikat. Namun, mencakup pada ketidakpuasan atas pengetahuan, memahami tren terkini, serta mengintegrasikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Adapun beberapa alasan perlunya belajar kontinu dalam menghadapi dunia yang terus berubah secara signifikan dapat dilakukan dengan beragam cara.

Perubahan teknologi dan tren sosial telah menimbulkan tantangan baru dan perlu memahami secara cepat. Kadang apa yang tren hari ini sudah usang esok. Tak jarang perubahan-perubahan tersebut memberikan dampak yang kompleks ke seluruh lapisan masyarakat. Untuk menghadapi tantangan tersebut maka belajar kontinu memberikan langkah antisipasi dan efektif. Dengan terus menambah pengetahuan maka kita dapat dengan cepat dan cerdas dalam merespons sebuah perubahan.

Di era modern saat ini, semua informasi terhubung secara global, tentu persaingan dunia pekerjaan sudah bukan lingkup lokal, tetapi sudah skala internasional. Dengan cara belajar kontinu akan berdampak pada kesiapan dan kesanggupan dalam bersaing serta beradaptasi di pasar pekerjaan yang semakin kompetitif. Para pekerja yang mau belajar dan berinvestasi meningkatkan kompetensi maka akan lebih mudah dalam mengambil peluang pekerjaan yang seleksinya semakin ketat.

Belajar kontinu tidak hanya memahami dunia luar di sekitar kita, tetapi juga memahami pengembangan diri dan profesionalisme. Proses belajar kontinu akan membantu kita dalam memahami lebih dalam passion, minat dan bakat, serta potensi kita. Selain itu, akan mengembangkan skill dan mengembangkan keterampilan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Memperbanyak pengetahuan dan wawasan akan sangat membantu dalam mengembangkan dan meningkatkan keterampilan-keterampilan yang menjadi privilese dalam mencari pekerjaan.

Fleksibilitas dalam Menghadapi Ketidakpastian

Ketidakpastian merupakan salah satu dampak dari perubahan cepat, belajar kontinu membekali kita dalam menghadapi hal tersebut. Dalam menghadapi perubahan cepat yang menimbulkan ketidakpastian, belajar kontinu sebagai salah satu cara meningkatkan kepercayaan diri dan membuat kita mengambil langkah yang lebih informatif dan siap dalam menghadapi segala perubahan. Selain itu, belajar kontinu memberikan wawasan yang luas, sehingga ketika terjadi perubahan cepat kita mampu menerima dan menyaring perubahan tersebut.

Pentingnya belajar kontinu di era zaman sekarang tidak bisa diindahkan, langkah tersebut dapat meningkatkan beberapa aspek peningkatan kompetensi diri. Selain itu, fleksibilitas dalam menghadapi perubahan dan ketidakpastian merupakan kunci untuk menghadapi tantangan baru. Dengan menerapkan belajar sepanjang hayat dan tidak adanya kepuasan dalam pengetahuan akan mengubah perubahan menjadi peluang dalam menunjang karier di jenjang pendidikan dan pekerjaan.

Arif Setyawan – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD)

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Arif-Setyawan-Mahasiswa-Program-Studi-Pendidikan-Bahasa-dan-Sastra-Indonesia-PBSI-Fakultas-Keguruan-dan-Ilmu-Pendidikan-FKIP-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Dok.-Istimewa.jpg 936 1000 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2024-04-19 08:11:302024-04-19 08:11:30Mengasah Wawasan dengan Belajar Kontinu

Hal-hal yang Perlu Diajarkan kepada Generasi Penerus Bangsa

05/04/2024/in Feature /by Ard

Tausiyah Jelang Tarawih Ramadan di Kampus (RDK) 1445 H Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Dok. Istimewa)

Ramadan di Kampus (RDK) 1445 H Universitas Ahmad Dahlan (UAD) selama bulan Ramadan melangsungkan tausiyah sebelum menunaikan solat tarawih berjamaah. Pada malam kesepuluh, Dr. Muhammad Lailan Arqam S.Pd., M.Pd. hadir sebagai penceramah di tengah-tengah jamaah Masjid Islamic Center UAD.

Dalam penyampaiannya, Lailan menyampaikan hal-hal utama yang perlu diajarkan kepada anak-anak sebagai generasi penerus bangsa. ā€œAnak kita yang terlahir di muka bumi ini memiliki dua unsur yang akan selalu melekat pada diri. Anak yang menjadi perhatian kita ada yang bersifat jasmani atau fisik. Ada tiga daya yang perlu disadari orang tua untuk memberikan pelajaran, melatih dan mengembangkannya.

Kemampuan Berpikir

Al-Quran banyak mengisyaratkan kepada umat Islam tentang kemampuan berpikir yang mendalam, substantif, dan fundamental. Sehingga manusia dapat menilai segala sesuatu dengan lebih komprehensif.Ā 

Lailan menjelaskan bahwa peran keluarga sangatlah penting dalam mendidik anak sebagai generasi penerus dalam memahami dan menilai segala sesuatu yang terjadi. Dalam lingkup keluarga, kemampuan untuk berpikir harus ditanamkan pada anak-anak.

Ketika orang tua mengajarkan kepada anak tentang hakikat hidup. Pencapaian seorang anak tidak hanya dilihat dari fase keberhasilan dalam belajar, keberhasilan dalam meraih profesi. Anak pun perlu diajarkan bahwa segala sesuatu yang telah diraih itu berasal dari kemampuan berpikir yang ia miliki. Dengan demikian, anak pun akan paham bahwasannya dengan adanya kemampuan berpikir dengan baik, akan memudahkannya dalam menjalani kehidupan.

ā€œOrang yang mau berpikir secara mendalam, akan paham bahwa untuk menciptakan rumah tangga yang sakinah mawadah warohmah itu dapat dicapai dengan kemampuan berpikir yang baikā€, ucap Lailan.

Dengan demikian melatih anak untuk memiliki kemampuan berpikir yang cerdas, mendalam dan bersifat jangka panjang sangatlah penting.

Daya Berjuang

Untuk menciptakan generasi yang cerdas, perlu ditanamkan daya juang baik itu kepada anak-anak, remaja, maupun mahasiswa. Menurut Lailan aspek motivasional sangatlah penting, sebagaimana Islam mengajarkan mengenai untuk berjihad, termasuk jihad melawan hawa nafsu,

ā€œJika ditanya apakah shalat itu melelahkan, ketika hawa nafsu tidak bisa dikalahkan tentu saja dalam menjalankan salat tubuh kita terasa lelah. Akan tetapi jika kita sadar bahwa hidup ituĀ  ada hal yang diperjuangkan, jihad melawan hawa nafsu pun akan dilakukan, Maka daya berjuang sangatlah penting dilatih sejak kecilā€, terangnya.

Lailan mengatakan bagaimana peran orang tua untuk menanamkan semangat dalam berjuang saat Ramadan. Orang tua perlu memberikan pengertian kepada anak dalam menjalankan ibadah puasa dan juga salat berjamaah. Hal ini termasuk penanaman daya juang kepada anak untuk melawan hawa nafsu dan meningkatkan ibadah selama bulan Ramadan demi mengharap ridho Allah Swt.

Berani Berkorban

Dewasa kini, banyak anak-anak yang memiliki daya berkorban yang menurun. Ingin meraih keberhasilan akan tetapi usaha yang dilakukan tidak ada.

Daya yang ketiga yang harus diajarkan kepada generasi saat ini yakni daya berkorban banyak remaja hari ini ingin berhasil tapi tanpa usaha yang berarti. Dan juga tanpa pengorbanan. Lailan menyampaikan untuk mengajarkan kepada anak-anak bahwasanya hidup ini bisa tegak karena ada pengorbanan yang dilakukan oleh orang-orang yang dicintai bukankah ayah dan ibu adalah orang-orang yang berkorban dengan segala keinginan yang ia harapkan. Tapi demi anak-anaknya ia dahulukan kepentingan anak-anaknya. Sejatinya ibu dan ayah itu ingin mewujudkan satu impian tertentu tapi ia menyadari anaknya harus diperjuangkan dan ia harus berkorban.

Lailan mengatakan ā€œPerlu disadari bahwa, Islam telah mengajarkan soal pengorbanan. Kita bisa berkuliah karena ada pengorbanan yang dilakukan oleh orang-orang yang dicintai, orang tua misalnya. Demi anak-anaknya mereka mendahulukan kepentingan kita. Daya berkorban orang tua harus kita sadari sebagai nilai penting, agar kita memiliki daya berkorban juga dalam meraih kebaikanā€

“Kita harus sadar, tidak mungkin tidak ada yang berkorban dalam ajaran Islam, justru Islam menyimbolkan pengorbanan, Maka daya berkorban ini menjadi penting untuk melatih kita sebagai generasi penerus memiliki daya berkorban sehingga tidak terjangkit pada kesehatan mentalā€, tambahnya.

Tiga hal inilah yang disampaikan Lailan yang perlu ditanamkan kepada generasi sekarang, Hal ini adalah upaya yang akan membawa pada kemajuan dan menuju kepada pribadi-pribadi yang bertakwa.

Sebagaimana Allah Swt berfirman ā€œBarang siapa yang bertakwa dan bersabar maka sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan baginya pahala bagi orang-orang yang berbuat baikā€

“Segala yang kita lakukan itu sesungguhnya manifestasi perwujudan dari taqwa kita. Puasa mengajarkan kita taqwa dan tercermin dari tiga daya tersebut dalam mencapai keridhaan Allah Swtā€, tutur Lailan.

Lailan berpesan momentum Ramadan harus dimaksimalkan untuk menanamkan daya berpikir, daya juang dan daya berkorban. ā€œMudah-mudahan kita punya kesadaran yang baik dan diberikan keistiqomahan untuk terus merawat, membina, melatih, mencontohkan dan mendoakan orang tua dan anak-anak kita. Sehingga kita akan menciptakan generasi yang kuat akan imannya, ilmunya, amalnya, hartanya, fisiknya, dan mental.” tutupnya (can)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Tausiyah-Jelang-Tarawih-Ramadan-di-Kampus-RDK-1445-H-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Dok.-Istimewa.jpg 1125 2000 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2024-04-05 09:12:592024-04-05 09:13:07Hal-hal yang Perlu Diajarkan kepada Generasi Penerus Bangsa
Page 39 of 78«‹3738394041›»

TERKINI

  • Ubah Sampah Jadi Rupiah, KKN UAD Inisiasi Bank Sampah di Padukuhan Bugel17/09/2026
  • KKN UAD Gencarkan Edukasi Pemilahan Sampah di Blok Solo Banyuwangi17/09/2026
  • Tim MeRAMU IMM FEB Dorong Digitalisasi Pelaku Usaha Miedes di Srihardono17/09/2026
  • KKN UAD Bekali Siswa SMK Muhammadiyah 1 Wates Buat Profil Profesional17/09/2026
  • KKN UAD Uji Coba Presensi Digital Berbasis QR di SMA Negeri 1 Karangmojo17/09/2026

PRESTASI

  • Buat Inovasi Pendidikan dan Literasi, Mahasiswa UAD Raih Tiga Prestasi Nasional20/08/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Gold dan Silver Medal pada Essay National Competition 202619/08/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara II Lomba Poster Edukatif Kesehatan Mental18/08/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara I Lomba Baca Puisi Dahlan Culture Festival 202608/08/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara 3 Cakrawala National Essay Competition31/07/2026

FEATURE

  • Menelusuri Hakikat dan Empat Tanda Kebahagiaan di Dunia15/09/2026
  • Memaknai Singkatnya Kehidupan dan Rahmat Berlimpah Menuju Surga10/09/2026
  • Menapaki Jalan Lurus melalui Sepuluh Wasiat Allah04/09/2026
  • LPSI UAD Gelar Kajian Tafsir At-Tanwir, Bedah Makna dan Keutamaan Surat Al-Baqarah Ayat 18503/09/2026
  • Menyelami Kedudukan Al-Qur’an dan Spirit Kemudahan Syariat02/09/2026

TENTANG | KRU | KONTAK | REKAPITULASI

Scroll to top