• TERKINI
  • UAD BERDAMPAK
  • PRESTASI
  • FEATURE
  • OPINI
  • MEDIA
  • KIRIM BERITA
  • Menu
News Portal of Universitas Ahmad Dahlan

Menciptakan Budaya Sekolah

06/02/2013/0 Comments/in Terkini /by Super News

Oleh : Hendra Darmawan*)

Menurut UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, definisi pendidikan adalah “usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.

Definisi tersebut menyiratkan bahwa pendidikan adalah pembudayaan (culturalization) dan pemberdayaan (empowerment) untuk menumbuhkembangkan potensi dan kepribadian peserta didik sehingga mereka dapat menjadi pribadi yang cerdas, berakhlak mulia, dan memiliki kemampuan dan ketrampilan yang berguba bagi dirinya sendiri, masyarakat, bangsa dan Negara. Penulis berkeyakinan bahwa pendidikan merupakan strategi kebudayaan untuk mencerdaskan kehidupan sekaligus pilar strategis untuk membangun peradaban bangsa (nation civilization).

Pendidikan hari ini menjadi tuntutan hidup bagi setiap orang. Ia menjadikan seseorang memiliki harapan hidup yang lebih baik dimasa depan karena pendidikannya. Akhir-akhir ini kita sering kita dapati berita bahwa banyak siswa ditengah-tengah proses belajar mengajar tiba-tiba mengalami kesurupan. Hal ini sejak lama tidak pernah kita dapati, namun hari ini itu seakan-akan menjadi trend. Pihak sekolahpun disibukkan dengan terapi-terapi alternative penanganannya. Suatu sekolah bahkan menyelenggarakan berdoa bersama agar warga sekolah tidak mengalami kesurupan. Ada pertanyaan yang muncul dalam benak para pendidik, kenapa hal itu terjadi.

Benak manusia modern hari ini banyak disusupi hal-hal yang tidak rasional, tidak mendidik, saru dan lain-lain. Sehingga rasionalitasnya tumpul. Bombamdir acara pertelevisian hari ini mulai dari tayangan yang informative, mendidik, sampai yang mistik semua ada. Acara Tv hari ini tidak semata informative tetapi menjadi ancaman masa depan generasi muda. Acara yang ada cenderung hanya menjadikan audien sebagai penerima pasif, tanpa berpikir panjang. Emha Ainun Nadjib (kompas 16/12) menegaskan bahwa kebanyakan manusia tidak mau berpikir” atau minimal’ banyak manusia yang tidak menggunakan akal. Karena kemalasan mengolah logika dan system rasio, orang menyangka dunia dan akhirat itu dua hal yang berpolarisasi, berjarak bahkan bertentangan.

Bervariasinya program televisi hari ini menjadikan para orang tua tidak mampu mengontrol apa yang dipilih oleh putra-putrinya. Dunia pertelevisian seakan tidak mengenal istilah Prime time. Meskipun dibeberapa daerah sudah ada yang namanya jam belajar dan jam mengaji, tetapi itu kalah efektif dibandingkan dengan TV. Seakan anak-anak dapat menemukan ayat tuhan di TV dibandingkan dengan dengan membaca kitab suci. Seorang Psikolog dari UGM menyarankan perlunya diet nonton Televisi, tidak hanya diet karena obesitas. Dengan mempersiapkan strategi-strategi lain yang efisien dan mendampingi generasi muda lebih intensif, kita berharap muncul etos generasi muda yang lebih mencintai ilmu, gemar membaca, peduli sesama dan mencipta peradaban.

Budaya Sekolah

Zawawi Imron: mengutip pesan hikmah dari timur tengah ” bahwasanya hidup pemuda harus bergelimang ilmu dan ketaqwaan, jika itu luput maka baginya takbir empat kali symbol atas kematiannya. Salah satu metode paling efektif untuk pendidikan karakter adalah melalui budaya sekolah. Jika sekolah dapat menciptakan kehidupan keseharian yang jujur, bersih, tertib, santun, toleran, kerja keras dan dibarengi dengan penanaman norma kehidupan dengan guru sebagai model (Uswatun hasanah) perilaku tersebut secara bertahap akan menjadi budaya sekolah (school culture). Kesemuanya akan menjadi keadaban publik (civic virtue) jika budaya sekolah tersebut dapat diwujudkan .

*) Dosen PBI FKIP UAD

Read more

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png 0 0 Super News https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Super News2013-02-06 19:06:072013-02-06 19:06:07Menciptakan Budaya Sekolah

AKADEMIA REPUBLIKA INDONESIA MINUS DOKUMENTASI BAHASA

06/02/2013/0 Comments/in Terkini /by Super News

Oleh: Sudaryanto, M.Pd.

Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UAD Yogyakarta

Judul tulisan ini mirip dengan judul berita yang pernah muncul di sebuah harian nasional beberapa hari lalu. Penulis sengaja menggunakannya, tanpa mengubah sedikit pun dengan beberapa alasan. Sekurangnya, ada dua alasan yang mendasar, yaitu pertama, judul itu dibaca sebagai realitas/kenyataan yang saat ini sedang terjadi, dan kedua, judul itu pula dibaca sebagai tantangan yang mestinya dijawab dengan komitmen dan perbuatan. Dengan kedua alasan itu, kita akan terhindar dari kemungkinan yang terburuk: Indonesia darurat dokumentasi bahasa.

Alasan pertama, yakni bahwa Indonesia dipandang minus dokumentasi bahasa. Pandangan ini muncul dari RMT Multamia Lauder, seorang guru besar bidang bahasa dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (UI). Sebagai orang yang menaruh minat pada bidang sosiolinguistik, khususnya etnolinguistik, Multamia Lauder seolah mengingatkan kita tentang betapa pentingnya dokumentasi bahasa, khususnya bahasa-bahasa daerah yang kondisinya terancam mengalami kepunahan.

Terkait itu, dalam sebuah edisinya, majalah Tempo pernah menurunkan liputan tentang aktivitas para peneliti LIPI yang terjun ke wilayah-wilayah di Indonesia bagian timur, seperti Flores, Maluku, dan Papua. Diberitakan, bahwa di daerah Flores ada satu dialek bahasa daerah yang penuturnya tinggal seorang diri. Bisa dibayangkan jika penutur tadi suatu waktu meninggal dunia, dialek bahasa daerah itu pun hilang. Makanya para peneliti LIPI dengan usahanya yang tak kenal menyerah, mencatat dan merekam dialek bahasa tersebut.

Namun, catatan tinggal catatan; rekaman tinggal rekaman, ternyata kaset yang digunakan untuk merekam tidak terawat dengan baik. Alih-alih dirawat, justru dibiarkan rusak dengan sendirinya. Alhasil, usaha yang telah dilakukan oleh para peneliti LIPI menjadi sia-sia, muspra. Kejadian ini pun mengingatkan kita pada berita tidak terawatnya dokumentasi sastra pada Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, beberapa waktu lalu. Jika tak salah ingat, Pemerintah DKI Jakarta saat itu sudah tidak lagi mengucurkan dana perawatan bagi PDS HB Jassin.

Alasan kedua, yakni bahwa Indonesia dipandang minus dokumentasi bahasa. Pandangan ini mestinya dipahami sebagai suatu tantangan yang perlu dijawab dengan komitmen dan perbuatan, terutama oleh/dari pemerintah pusat dan daerah. Selama ini, jujur saja, nasib bahasa daerah ditentukan oleh penuturnya sendiri. Seolah pemerintah daerah menutup mata terhadap kewajibannya untuk membina, mengembangkan, dan melestarikan bahasa daerahnya masing-masing. Padahal, hal tersebut telah diatur dalam konstitusi.

Bahasa Jawa, misalnya, sebagai bahasa yang memiliki jumlah penutur sangat banyak dan beragam dialek itu, namun belum tentu aman dari ancaman kepunahan. Selama ini, yang sudah dilakukan oleh pemerintah daerah barulah pada tahap pembuatan Peraturan Daerah (Perda) tentang Bahasa Jawa, tidak lebih dari itu. Terlepas dari kenyataan betapa banyak siswa yang tidak berminat menggunakan bahasa Jawa, hal itu menjadi kenyataan yang tidak bisa ditutup-tutupi. Entahlah, apakah pemerintah daerah terbuka matanya akan hal tersebut.

Sementara itu, penerbitan karya-karya sastra daerah, khususnya sastra Jawa, berjalan tersendat-sendat. Untungnya Ajip Rosidi melalui Yayasan Rancage-nya, juga Rachmat Djoko Pradopo melalui Yasayo-nya, memberikan apresiasi yang luar biasa terhadap pengarang-pengarang yang setia berkarya sastra dengan bahasa daerah (Jawa, Sunda, dan Bali). Meski bersifat nonprofit, juga nonpartisan partai politik, kedua yayasan tersebut secara rutin memberikan penghargaan bagi pengarang-pengarang sastra daerah.

Kita telah memiliki Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin yang dibangun dengan susah payah oleh almarhum HB Jassin. Sebagai bentuk penghormatan kepada jasa-jasanya, selayaknya pusat dokumentasi tersebut kita jaga sepenuh hati. Pun, jika kita nantinya memiliki pusat dokumentasi sekelas PDS HB Jassin, maka kita jaga pula sepenuh hati. Jika tidak, pada tahun 2045 mendatang bahasa-bahasa daerah, seperti bahasa Jawa, Sunda, Dayak, hingga Flores hanya akan dapat kita jumpai dalam museum bahasa yang bisu dan pengap.[]

Read more

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png 0 0 Super News https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Super News2013-02-06 18:58:002013-02-06 18:58:00AKADEMIA REPUBLIKA INDONESIA MINUS DOKUMENTASI BAHASA

Memahami Anak Gifted

05/02/2013/0 Comments/in Terkini /by Super News

Dessy Pranungsari, M.Psi

Memahami anak gifted bisa merujuk dari pendapat ahli. Istilah kemampuan dan kecerdasan luar biasa sering dipadankan dengan istilah “gifted” atau berbakat. Meskipun hingga saat ini belum ada satu definisi tunggal yang mencakup seluruh pengertian anak berbakat. Sebutan lain bagi anak gifted ini misalnya genius, bright, dan talented.

Semua sebutan ini menurut Soemantri (2006) merujuk kepada adanya keunggulan kemampuan yang dimiliki seseorang. Satu ciri yang paling umum diterima sebagai ciri anak berbakat ialah memiliki kecerdasan yang lebih tinggi dari anak normal, sebagaimana di ukur oleh alat ukur kecerdasan (IQ) yang sudah baku. Pada mulanya memang tingkat kecerdasan (IQ) dipandang sebagai satu-satunya ukuran anak berbakat. Pandangan ini disebut pandangan berdimensi tunggal tentang anak berbakat.

Ahli lain Binet dan Simon mendefinisikan intelligensi sebagai kemampuan untuk mengarahkan fikiran atau tindakan, kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tindakan tersebut dilaksanakan, dan kemampuan untuk mengeritik diri sendiri atau melakukan autocriticsm. Menurut Binet, intelligensi merupakan sisi tunggal dari karakteristik yang terus berkembang sejalan dengan proses kematangan seseorang. Intelligensi dipandang sebagai sesuatu yang fungsional sehingga memungkinkan orang lain untuk mengamati dan menilai tingkat perkembangan individu berdasar suatu kriteria tertentu.

Thorndike (Azwar, 2004) mengatakan bahwa intelligensi adalah kemampuan dalam memberikan respon yang baik dari pandangan kebenaran atau fakta. Intelligensi terdiri atas berbagai kemampuan spesifik yang ditampakkan dalam wujud perilaku intelligen. Thorndike mengklasifikasikan intelligensi dalam bentuk kemampuan abstraksi yaitu suatu kemampuan untuk menggunakan gagasan dan simbol-simbol, kemampuan mekanik yaitu suatu kemampuan untuk melakukan pekerjaan dengan alat-alat mekanis dan pekerjaan dengan aktivitas indra gerak (sensory-motor), dan kemampuan sosial yaitu kemampuan untuk menghadapi orang lain di sekitar diri dengan cara-cara yang efektif.

Menurut Munandar (1999) anak yang mendapat predikat gifted dan talented adalah mereka yang didefinisikan oleh orang-orang yang benar-benar professional atas dasar kemampuan mereka yang luar biasa dan kecakapan mereka dalam mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang berkualitas tinggi. Dengan demikian mereka akan dapat mewujudkan atau memberi sumbangan baik terhadap dirinya maupun masyarakat.

Dalam pandangan mutakhir, keberbakatan tidak semata-mata merujuk kepada fungsi kognitif, melainkan merujuk kepada totalitas dan keterpaduan fungsi otak. Cattell (dalam Barbara Clark, 1998:8) mengartikan intelligensi adalah perpaduan sifat manusia yang memadukan kapasitas untuk memahami hubungan secara keseluruhan, mampu memahami proses termasuk berfikir abstrak, kemampuan memecahkan masalah, dan kemampuan untuk memperoleh kecakapan baru. Dalam konsep luas dan terpadu ini istilah keberbakatan akan mencakup anak yang memiliki kecakapan intelektual superior, yang cecara potensial dan fungsional mampu mencapai keunggulan akademik di dalam kelompok populasinya; dan/atau berbakat tinggi dalam bidang tertentu, seperti matematika, IPA, seni, musik, kepemimpinan social, dan perilaku kreatif tertentu dalam interaksi dengan lingkungan dimana kecakapan dan unjuk kerjanya itu ditampilkan secara konsisten. (Soemantri, 2006)

Berdasarkan beberapa pengertian gifted di atas, maka dapat diketahui bahwa pendekatan multikriteria tampaknya lebih diterima oleh banyak kalangan dalam identifikasi anak gifted. Meskipun begitu, kemampuan intelligensi masih menjadi salah faktor penting dalam identifikasi keberbakatan dilihat dari adanya aspek kecerdasan tinggi (superior) pada definisi keberbakatan. Tingginya kemampuan khusus haruslah ditunjang dengan tingginya intelligensi. Misalnya kemampuan berfikir kreatif atau kreativitas, tidaklah dapat berkembang tanpa adanya superioritas intelligensi. Anggapan semacam ini sejalan dengan apa yang pernah dikatakan oleh Burt, bahwa tidaklah ada kreativitas yang murni tanpa disertai oleh tingkat intelligensi umum yang tinggi.

Maka kenalilah anak didik kita. Siapa tahu siswa kita memenuhi kriteria menjadi anak gifted ?

Penulis adalah dosen Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
AR-SA

MicrosoftInternetExplorer4

Memahami  Anak Gifted

Dessy Pranungsari, M.Psi

Memahami anak gifted bisa merujuk dari pendapat ahli. Istilah kemampuan dan kecerdasan luar biasa sering dipadankan dengan istilah “gifted” atau berbakat. Meskipun hingga saat ini belum ada satu definisi tunggal yang mencakup seluruh pengertian anak berbakat. Sebutan lain bagi anak gifted ini misalnya genius, bright, dan talented.

       Semua sebutan ini menurut Soemantri (2006) merujuk kepada adanya keunggulan kemampuan yang dimiliki seseorang. Satu ciri yang paling umum diterima sebagai ciri anak berbakat ialah memiliki kecerdasan yang lebih tinggi dari anak normal, sebagaimana di ukur oleh alat ukur kecerdasan (IQ) yang sudah baku. Pada mulanya memang tingkat kecerdasan (IQ) dipandang sebagai satu-satunya ukuran anak berbakat. Pandangan ini disebut pandangan berdimensi tunggal tentang anak berbakat.

Ahli lain  Binet dan Simon mendefinisikan intelligensi sebagai kemampuan untuk mengarahkan fikiran atau tindakan, kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tindakan tersebut dilaksanakan, dan kemampuan untuk mengeritik diri sendiri atau melakukan autocriticsm. Menurut Binet, intelligensi merupakan sisi tunggal dari karakteristik yang terus berkembang sejalan dengan proses kematangan seseorang. Intelligensi dipandang sebagai sesuatu yang fungsional sehingga memungkinkan orang lain untuk mengamati dan menilai tingkat perkembangan individu berdasar suatu kriteria tertentu. 

Thorndike (Azwar, 2004) mengatakan bahwa intelligensi adalah kemampuan dalam memberikan respon yang baik dari pandangan kebenaran atau fakta. Intelligensi terdiri atas berbagai kemampuan spesifik yang ditampakkan dalam wujud perilaku intelligen. Thorndike mengklasifikasikan intelligensi dalam bentuk kemampuan abstraksi yaitu suatu kemampuan untuk menggunakan gagasan dan simbol-simbol, kemampuan mekanik yaitu suatu kemampuan untuk melakukan pekerjaan dengan alat-alat mekanis dan pekerjaan dengan aktivitas indra gerak (sensory-motor), dan kemampuan sosial yaitu kemampuan untuk menghadapi orang lain di sekitar diri dengan cara-cara yang efektif.        

       Menurut Munandar (1999) anak yang mendapat predikat gifted dan talented adalah mereka yang didefinisikan oleh orang-orang yang benar-benar professional atas dasar kemampuan mereka yang luar biasa dan kecakapan mereka dalam mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang berkualitas tinggi. Dengan demikian mereka akan dapat mewujudkan atau memberi sumbangan baik terhadap dirinya maupun masyarakat.

       Dalam pandangan mutakhir, keberbakatan tidak semata-mata merujuk kepada fungsi kognitif, melainkan merujuk kepada totalitas dan keterpaduan fungsi otak. Cattell (dalam Barbara Clark, 1998:8) mengartikan intelligensi adalah perpaduan sifat manusia yang memadukan kapasitas untuk memahami hubungan secara keseluruhan, mampu memahami proses termasuk berfikir abstrak, kemampuan memecahkan masalah, dan kemampuan untuk memperoleh kecakapan baru. Dalam konsep luas dan terpadu ini istilah keberbakatan akan mencakup anak yang memiliki kecakapan intelektual superior, yang cecara potensial dan fungsional mampu mencapai keunggulan akademik di dalam kelompok populasinya; dan/atau berbakat tinggi dalam bidang tertentu, seperti matematika, IPA, seni, musik, kepemimpinan social, dan perilaku kreatif tertentu dalam interaksi dengan lingkungan dimana kecakapan dan unjuk kerjanya itu ditampilkan secara konsisten. (Soemantri, 2006)

       Berdasarkan beberapa pengertian gifted di atas, maka dapat diketahui bahwa pendekatan multikriteria tampaknya lebih diterima oleh banyak kalangan dalam identifikasi anak gifted. Meskipun begitu, kemampuan intelligensi masih menjadi salah faktor penting dalam identifikasi keberbakatan dilihat dari adanya aspek kecerdasan tinggi (superior) pada definisi keberbakatan. Tingginya kemampuan khusus haruslah ditunjang dengan tingginya intelligensi. Misalnya kemampuan berfikir kreatif atau kreativitas, tidaklah dapat berkembang tanpa adanya superioritas intelligensi. Anggapan semacam ini sejalan dengan apa yang pernah dikatakan oleh Burt, bahwa tidaklah ada kreativitas yang murni tanpa disertai oleh tingkat intelligensi umum yang tinggi.

            Maka kenalilah anak didik kita. Siapa tahu siswa kita  memenuhi kriteria menjadi anak gifted ?

 

                            Penulis adalah dosen Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:Arial;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Read more

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png 0 0 Super News https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Super News2013-02-05 01:55:382013-02-05 01:55:38Memahami Anak Gifted

MEMASYARAKATKAN SASTRA, KENAPA TIDAK?

05/02/2013/0 Comments/in Terkini /by Super News

Oleh: Sudaryanto, M.Pd.

Dosen PBSI FKIP UAD Yogyakarta

Saat ini, pemasyarakatan sastra, baik sastra Indonesia maupun sastra daerah, masih dianggap kurang baik. Bagi masyarakat kita, sastra bukanlah sebuah kebutuhan yang mestinya dipenuhi layaknya kebutuhan pokok sehari-hari. Betapa tidak? Lihatlah tiras penjualan buku-buku sastra belakangan ini, meskipun beberapa mengalami cetak ulang (best seller), namun hal itu tidak lantas menjamin bahwa masyarakat kita memiliki kegemaran membaca yang tinggi.

Selain dianggap bukan kebutuhan, bagi masyarakat kita, sastra juga tidak mendatangkan keuntungan ekonomi. Lain halnya dengan kegiatan pentas musik atau olahraga yang memperoleh dukungan dana besar dari pihak sponsor. Di sisi lain, harga buku sastra yang cenderung mahal, selain juga kurang tersedia di toko-toko buku dan perpustakaan daerah, justru mengakibatkan kurang populernya sastra Indonesia dan daerah di mata siswa dan mahasiswa.

Deskripsi di atas, jelas menyebabkan rendahnya mutu pembelajaran sastra Indonesia dan daerah. Dalam makalahnya, Budi Darma (1999) mengidentifikasi faktor-fakor penyebab ketidakberhasilan pembelajaran sastra Indonesia dan daerah. Di mata guru besar sastra Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu, ada 12 faktor, di antaranya, mutu calon guru bahasa Indonesia tidak baik, minat baca siswa-guru kurang, dan kemampuan menulis siswa-guru kurang.

Kondisi serupa juga kita jumpai pada jenjang pendidikan tinggi (PT). Para mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia atau Jurusan Sastra Indonesia rata-rata memiliki minat baca yang kurang. Jika minat baca kurang, logikanya kemampuan menulisnya juga kurang. Pada gilirannya, tatkala mahasiswa tersebut menyusun tugas akhir skripsi atau makalah cenderung “asal-asalan” (asal kutip sana-sini, tidak membaca buku aslinya).

Melalui artikel ini, penulis ingin mengajukan beberapa saran guna memasyarakatkan sastra Indonesia dan daerah, baik di lingkup pendidikan maupun masyarakat umum. Pertama, pembelajaran sastra lebih diarahkan pada ketrampilan mengarang. Untuk itu, para guru/dosen serta pimpinan sekolah/kampus dapat menyediakan sarana publikasi karangan, selain juga memberikan insentif bagi para penulisnya.

Kedua, para siswa dan mahasiswa sebisa mungkin diajak untuk menyenangi karya sastra, baik puisi, prosa, maupun drama. Terlepas dari genre-nya apakah sastra pop atau sasta bukan-pop, kelebihan dan kekurangan pada masing-masing, kita perlu terima dengan lapang dada. Yang penting bagi kita, para siswa dan mahasiswa melek karya sastra terlebih dahulu, lantas barulah diajak untuk berpikir perihal kebermanfaatan karya sastra itu bagi dirinya dan orang sekitar.

Keiga, pihak sekolah/kampus dapat menambah frekuensi kegiatan sastra berupa seminar, lokakarya, bedah buku, lomba mengarang, lomba membaca, dan lain-lain. Jika perlu, kegiatan-kegiatan tersebut tak hanya digelar di sekolah/kampus, tetapi juga di kalangan masyarakat luas. Pula, penyediaan buku-buku sastra di ruang tunggu hotel, bank, halte, hingga pasar perlu dipikirkan sebagai upaya konkret guna mendekatkan sastra dengan masyarakat.

Keempat, pihak pemerintah daerah (kota/kabupaten), khususnya lingkup DI Yogyakarta dapat mengajak masyarakat untuk menghormati para mendiang sastrawan layaknya pahlawan bangsa. Caranya, dengan menjajaki pemberian nama mendiang sastrawan kita pada nama jalan di DI Yogyakarta. Misalnya, Jalan Kuntowijoyo, Jalan Umar Kayam, Jalan Linus Suryadi AG, Jalan Kirjomulyo, atau Jalan WS Rendra. Senoga saja upaya-upaya di atas berhasil![]

Read more

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png 0 0 Super News https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Super News2013-02-05 01:51:532013-02-05 01:51:53MEMASYARAKATKAN SASTRA, KENAPA TIDAK?

Program Kuliah Internasional dari Mesir Fokuskan Tugas Akhir di Yogyakarta

05/02/2013/0 Comments/in Terkini /by Super News

Yogyakarta- Program Kuliah Internasional Prodi. Bahasa dan Sastra Arab Universitas Ahmad Dahlan (UAD) merupakan program perdana yang diprakarsai oleh Prof. Dr. Sangidu, M.Hum dan Pejabat Akademik Universitas Ahmad Dahlan. Program yang telah terlaksana sampai dengan acara Kuliyah Kerja Nyata (KKN) Internasional ini berlanjut dengan perkuliahan langsung di Yogyakarta dengan mewajibkan para mahasiswa Internasional untuk datang ke Indonesia dengan kedatangan maksimal tanggal 7 Februari 2013 s/d 16 Maret 2013.

Kegiatan para mahasiswa dari mesir akan difokuskan untuk mengikuti bimbingan akhir skripsi dan munaqosyah (sidang) skripsi. Para mahasiswa yang dinyatakan lulus akan mengikuti wisuda pada tanggal 16 Maret 2013.

Semua mahasiswa dari Mesir disediakan tempat tinggal di Asrama Mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (Kampus 4). Dengan suasana kondusif yang ada di Asrama diharapkan para mahasiswa dari Mesit ini fokus dan nyaman dalam mengerjakan tugas akhir mereka yaitu bimbingan skripsi di Fakultas Agama Islam. (aal)

Read more

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png 0 0 Super News https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Super News2013-02-05 01:10:032013-02-05 01:10:03Program Kuliah Internasional dari Mesir Fokuskan Tugas Akhir di Yogyakarta

Menanti Menpora Baru

01/02/2013/0 Comments/in Terkini /by Super News

Dani Fadillah*

Saat ini kita sedang dalam masa penantian terkait kebijakan bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk mentukan siapa yang akan menenpati posisi yang telah ditinggalkan oleh Andi Alfian Mallarangeng sebagai menteri pemuda dan olahraga (menpora), setelah yang bersangkutan ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK terkait kasus dugaan korupsi proyek Hambalang oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Jumat (7/12) lalu. Harapannya pun, bapak Presiden SBY turut serta mengganti komposisi kabinet (reshuffle menteri) lainnya yang dinilai tidak bisa memberikan kontribusi maksimal terhadap upaya pemerintah mensejatrahkan rakyat.

Kekosongan posisi menpora harus segera ditanggulangani secepatnya mengingat berbagai persoalan dunia keolahragaan Indonesia yang sangan njelimet. Selain karena minimnya prestasi olahraga kita, keberadaan menpora diharapkan mampu menyelesaikan permasalahan dualisme manajemen sepak bola Indonesia, mengingat ketika Andi Alfian Malarangeng hendak membenahi persepakbolaan tanah air, yang bersangkutan keburu mengundurkan diri. Itulah sekilas alasan sederhana yang mengapa bapak Presiden harus segera menunjuk pengganti Andi Alfian Malarangeng di Kemenpora. Sambil menyelam minum air, harapannya menteri-menteri di kabinet yang masuk dalam kategori “pemalas” dapat turut diganti oleh Presiden demi efektivitas jalannya pemerintahan agar pencapaian pembangunan nasional bisa terlaksana sebagaimana yang telah dijanjikan pada saat kampanye lalu.

Persoalan menteri mana saja yang masuk kategori “pemalas” dan harus segera diganti, bapak Presiden bisa memonitor melalui hasil evaluasi Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4). UKP4 sudah menandai menteri-menteri mana saja yang masuk dalam kategori tidak layak untuk dipertahankan. Aspirasi dari masyarakat juga jangan dikesampingkan oleh bapak Presiden, karena rakyat juga memiliki penilaian tersendiri terkain menteri mana yang dinilai memiliki kredibilitas tinggi dan mana yang harus di-reshuffe, penilaian masyarakat pada umumnya jauh dari kepentingan politik. Mengingat masa kabinet ini tinggal dua tahun lagi maka ressufle harus segera dilaksanakan, karena jika terlambat kemungkinan besar tidak akan memiliki efek yang signifikan bagi perkembangan nasional.

Reshuffle kali ini harus berbeda dengan sebelumnya. Jika pada kondisi yang sudah-sudah bapak Presiden cenderung banyak kompromi dan terkadang malah terkesan bertele-tele, maka kali ini harapannya bapak Presiden SBY harus berani menggunakan hak preogratifnya untuk mencopot menteri-menteri yang tidak kredibel dan profesional dengan berani untuk kebaikan bangsa. Meski menteri yang bersangkutan merupakan kader dari partai bapak Presiden sendiri.

Kita tentu berharap Presiden mampu untuk membuktikanbahwa beliau mampu mampu untuk menentukan siapa yang pantas dan berkapabilitas di bidangnya. Presiden harus pintar memilih menteri yang siap bekerja demi bangsa dan negara jauh dari kepentingan dan sikap transaksional.

Kemudian pada saat menentukan siapa menpora yang baru, figur yang bersangkutan harus benar-benar paham atas berbagai permasalahan olahraga tanah air. Supaya di masa depan dunia olahraga tanah air menjadi kebanggaan kita bersama sebagai rakyat indonesia. Memang, jalinan komunikasi dengan partai politik apa lagi yang berada dalam jalinan koalisi itu penting. Akan tetapi jangan sampai hak prerogatif Presiden untuk menunjuk menteri tersandera oleh kepentingan politik sekumpulan orang yang tidak dipilih oleh rakyat untuk menjadi orang nomor satu di indonesia.

Jika Presiden didikte maka sama saja bohong, reshuffle sekali lagi hanya proses transaksional bagi-bagi jatah kekuasaan sajaakankan Presiden SBY memiliki keberanian untuk melakukan terobosan dalam merombak kabinetnya.

*Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan,

Pengamat Komunikasi Politik

Daftar Riwayat Hidup

Nama : Dani Fadillah

TTL : Langsa, 29 Juni 1988

Alamat : Perumahan Jatimulyo Baru Blok F-2 Yogyakarta

Telp : 0898 5117 210

E-Mail : danifadillah@uad.ac.id

Riwayat pendidikan

• S1 UIN Sunan kalijaga Yogyakarta

• S2 UGM Yogyakarta

Pengalaman Organisasi

• Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah UIN Sunan Kalijaga 2009

• Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhamadiyah Kabupaten Sleman 2010

Read more

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png 0 0 Super News https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Super News2013-02-01 04:49:502013-02-01 04:49:50Menanti Menpora Baru

Mengibarkan Buku

01/02/2013/0 Comments/in Terkini /by Super News

Oleh: Sudaryanto, M.Pd.

Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UAD Yogyakarta;

Penulis Buku Guru Cerdas: Melejitkan Karier dan Potensi Guru (2012)

Dalam sebuah kesempatan, penulis berjumpa dengan Prof. Dr. Suminto A. Sayuti, seorang guru besar Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta (FBS UNY) yang juga sastrawan terkemuka itu. Pak Minto—begitu ia biasa disapa—menceritakan kisah perjumpaannya dengan Rektor UNY Prof. Dr. Rochmat Wahab. Saat berjumpa dengan pucuk pimpinan UNY itu, Pak Minto berkata, “UNY akan semakin berkibar apabila para dosennya menulis buku. Paling tidak, satu buku untuk satu matakuliah wajib yang diampunya.”

Perkataan Pak Minto di atas, menurut saya, merupakan ide cemerlang yang perlu dilirik sebagai peluang bagi para pimpinan perguruan tinggi (PT), baik negeri maupun swasta. Kepopuleran nama Universitas Gadjah Mada (UGM) di Indonesia, mungkin juga didukung oleh produktivitas para dosennya dalam menulis buku. Di bidang sastra Indonesia modern, beberapa nama, seperti Rachmat Djoko Pradopo, Faruk HT, Sugihastuti, Aprinus Salam, hingga Dewojati Cahyaningrum cukup dikenal luas oleh para pembacanya.

Demikian pula nama Universitas Indonesia (UI) yang berkibar-kibar berkat beberapa nama dosennya yang produktif menulis buku, seperti Sapardi Djoko Damono, Maman S. Mahayana, Melani Budianta, Riris K. Toha-Sarumpaet, hingga Sunu Wasono. Tak ayal jika produktivitas para dosen dari kedua PTN tersebut cukup berpengaruh secara positif bagi institusi mengajarnya. Paling tidak, publik mengenal mereka sebagai orang atau ahli di bidang tertentu berkat dari karya (buku) yang ditulisnya.

Di simpul ini, muncul pertanyaan besar: begitu pentingkah arti buku bagi seorang dosen, terlebih dosen yang sudah bergelar guru besar atau profesor? Pertanyaan ini saya jawab secara tidak langsung lewat uraian berikut. Istilah “GBHN” yang memiliki kepanjangan: Garis-garis Besar Haluan Negara diplesetkan menjadi “Guru Besar Hanya Nama”. Plesetan ini merupakan sindiran (keras tapi halus, atau sebaliknya) bagi para dosen yang sama sekali tidak memiliki karya yang berupa buku.

Barangkali, Anda pun tergelitik bertanya: apakah para dosen tadi betul-betul tidak sama sekali menulis? Jawabannya, tidak juga. Mereka, terlebih yang sudah bergelar guru besar, justru bertipe orang-orang yang rajin melakukan penelitian di bidangnya masing-masing. Masalahnya, karya-karya penelitian yang mereka hasilkan dan mungkin jumlahnya bejibun itu hanya digunakan untuk kepentingan naik pangkat, dan akhirnya bernasib naas: masuk dan terkunci dalam almari.

Padahal, jika para dosen itu bisa sedikit kreatif, karya-karya penelitiannya dapat dipoles sedemikian rupa menjadi karya-karya buku yang menarik. Kesempatan atau peluang untuk menerbitkan buku saat ini terbuka selebar-lebarnya. Di Yogyakarta, begitu banyak penerbit buku yang membutuhkan naskah-naskah yang salah satunya berasal dari kajian atau penelitian ilmiah. Mungkin, para dosen yang telah menyelesaikan studi S-3-nya dapat menulis-ulang disertasinya ke dalam format buku yang sederhana namun menarik.

Terkait itu, bagi kampus yang telah memiliki lini penerbitan buku, alangkah baiknya jika mendorong para dosennya untuk menulis buku. Seperti perkataan Pak Minto di awal tulisan ini, minimal satu buku untuk satu matakuliah yang diampunya, baik pada semester gasal maupun semester genap. Penulis yakin, dengan karya-karya buku yang diterbitkan itu, kelak seorang dosen, terlebih yang sudah bergelar guru besar, akan lebih dikenal oleh publik atau pembacanya.

Kini, dalam menyambut Milad ke-52 (tanggal 23 Desember 2012), Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta kiranya perlu untuk mewujudkan gagasan Pak Minto di atas. Yaitu, mengibarkan nama UAD dengan atau melalui penerbitan buku-buku para dosennya. Jika pihak kampus, terutama pucuk pimpinan UAD mengerti akan pentingnya publikasi ilmiah di tingkat nasional dan internasional, kiranya para dosennya didorong, difasilitasi, serta dibiayai untuk menerbitkan karya-karya terbaiknya. Semoga itu terwujud![]

Read more

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png 0 0 Super News https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Super News2013-02-01 04:44:002013-02-01 04:44:00Mengibarkan Buku

Rektor UAD Lantik 10 Dekan Masa Jabatan 2013-2017

30/01/2013/0 Comments/in Terkini /by Super News

Pelantikan_Dekan_2013

Rabu 30 Januari 2013, Rektor Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Drs. Kasiyarno, M.Hum melantik 10 dekan di lingkungan UAD untuk masa jabatan 2013-2017. Acara pelantikan tersebut berlangsung di auditorium kampus 1 UAD, Jl. Kapas No. 9 Semaki Yogyakarta.

Setelah melakukan pelantikan Dekan di lingkungan UAD masa jabatan 2013-2017, Drs. Kasiyarno, M.Hum memberikan sambutan. Dalam arahananya Drs. Kasiyarno, M.Hum mengharapkan agar 10 dekan baru yang terpilih dapat mengemban amanah, meningkatkan kualitas, dan mampu mengembangkan fakultas.

“Tentu tidak mudah untuk mencapai kualitas dan mengembangkan fakultas. Ini karena persaingan antar perguruan tinggi amat ketat. Dengan begitu dekan baru dapat membuat fakultas menjadi baik sehingga bisa bersaing dengan perguruan tinggi lain,” kata Kasiyarno.

Untuk mencapai hal itu, lanjut Kasiyarno, butuh mimpi dan kerja keras. Kasiyarno menjabarkan bahwa mimpi dalam rangka membangun visi dan misi dan kerja diperlikan untuk merealisasikan mimpin.

Ikut memberikan sambutan adalah Ketua Majelis Dikti PP Muhammadiyah Dr. Chairil Anwar yang menyatakan bersyukur mengenai pemilihan dekan masa jabatan 2013-2017 berjalan dengan lancar dan sesuai dengan mekanisme yang sudah ditetapkan PP Muhammadiyah.

Adapun dekan di lingkungan UAD yang dilantik terhitung tanggal 30 Januari 2013 sampai 31 Januari 2017, diantaranya:

1. Drs. Parjiman, M.Ag sebagai dekan Fakultas Agama Islam

2. Dra. Salamatun Asakdiyah, M.Si sebagai dekan Fakultas Ekonomi

3. Drs. Choirul Anam, M. Si sebagai dekan Fakultas Psikologi

4. Dra. Trikinasih Handayani sebagai dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

5. Drs. Umarino, M.Hum sebagai dekan Fakultas Sastra, Budaya dan Komunikasi

6. Rahmat Muhajir Nugroho, S.H., M.H sebagai dekan Fakultas Hukum

7. Kartika Firdausy, S.T., M.T sebagai dekan fakultas Teknologi Industri

8. Drs. Sris Thobirin, M.Si sebagai dekan Fakultas MIPA

9. Rosyidah, S.E., M.Kes sebagai dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat

10. Dr. Dyah Aryani Perwitasari, Apt., M.Si., Ph.D sebagai dekan fakultas Farmasi.

Semoga dekan baru tersebut dalam menjalankan amanah dengan baik. Amin..!. (Sbwh)

Read more

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png 0 0 Super News https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Super News2013-01-30 22:37:492013-01-30 22:37:49Rektor UAD Lantik 10 Dekan Masa Jabatan 2013-2017

Jadwal Wisuda Maret 2013

30/01/2013/0 Comments/in Terkini /by Super News

Bagi teman-teman yang ingin wisuda pada tahun ini. Berikut surat edaran dan Jadwal Wisuda Maret 2013. Silahkan di baca infonya di http://www.baa.uad.ac.id/new/

Wisuda_Maret_2013

Read more

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png 0 0 Super News https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Super News2013-01-30 20:33:572013-01-30 20:33:57Jadwal Wisuda Maret 2013

ROKOK (TIDAK) DILARANG DI INDONESIA

30/01/2013/0 Comments/in Terkini /by Super News

Ahmad Ahid Mudayana,SKM.,MPH

Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta

Setelah menunggu sekian lama, akhirnya Peraturan Pemerintah (PP) tentang pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif berupa produk tembakau bagi kesehatan disahkan pada akhir tahun 2012. Banyak pihak yang merasa senang dengan disahkannya PP ini sehingga upaya untuk membebaskan negara ini dari asap rokok dan penyakitnya bisa dilakukan dengan lebih mudah. Seperti kita ketahui bersama bahwa didalam rokok terdapat zat adiktif serta zat berbahaya lainnya yang dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan seperti penyakit jantung, kanker dan gangguan kehamilan. Adanya peraturan ini diharapkan mampu mengurangi penderita penyakit-penyakit tersebut sehingga upaya untuk meningkatkan derajat sehat masyarakat bisa optimal. Sudah banyak negara-negara di dunia yang membuat aturan untuk membatasi ruang gerak rokok di negaranya masing-masing termasuk pembatasan produksi, konsumsi dan impornya.

Undang-undang kesehatan tahun 2009 menyebutkan bahwa zat adiktif yang terkandung dalam tembakau merupakan salah satu zat yang berbahaya yang harus dibatasi peredarannya bahkan dilarang. Salah satu produk tembakau yang saat ini beredar luas di masyarakat yakni rokok. Tingkat konsumsi rokok di Indonesia sangat tinggi, pada tahun 2011 tercatat lebih dari 200 Miliar batang rokok yang dikonsumsi. Jika dirupiahkan mencapai 2 Triliun rupiah lebih yang dibelanjakan masyarakat untuk mengkonsumsi rokok. Angka yang cukup besar, apabila digunakan untuk peningkatan kesehatan tentu akan lebih baik. Lebih ironis lagi, justru masyarakat dalam kategori miskin yang lebih besar konsumsi rokoknya dibanding masyarakat yang lebih mampu secara ekonomi.

Adanya peraturan ini tidak kemudian membuat keberadaan rokok di Indonesia menjadi hilang. Hal ini dikarenakan aturan yang ada dalam peraturan tersebut kurang tegas sehingga masih memungkinkan terjadinya pelanggaran atas peraturan pemerintah tersebut. Seperti aturan anak usia dibawah tujuh belas tahun yang tidak diperbolehkan membeli rokok yang sulit untuk diawasi. Penjual yang masih menjual rokok kepada anak-anak juga tidak ada sanksi tegas atas pelanggaran tersebut dan sulit untuk dibuktikan karena tidak adanya pengawasan. Kelemahan lain dalam peraturan ini yaitu masih adanya celah bagi produsen rokok untuk terus memproduksi rokoknya dalam skala yang cukup besar karena memang tidak ada larangan untuk memproduksi. Peraturan ini juga dirasa cukup menguntungkan bagi industri rokok skala kecil karena tidak ada kewajiban untuk mengukur kadar nikotin serta mencantumkan gambar bahaya merokok. Kalau kita cermati bersama justru ini yang akan menimbulkan dampak negatif cukup besar karena industri kecil rokok tersebar luas di Indonesia. Ini nantinya yang akan menghambat perjuangan para aktifis dalam menekan konsumsi rokok di Indonesia karena tidak akan mengurangi angka konsumsi rokok secara signifikan. Belum lagi tidak semua jenis rokok diatur peredarannya, karena ini hanya berlaku untuk rokok putih saja dan dengan skala besar terutama rokok hasil impor. Akan tetapi untuk rokok jenis kelobot, klembak menyan, cerutu, dan tembakau iris tidak diberlakukan pengujian kadar nikotin serta mencantumkan peringatan bahaya rokok.

Sekali lagi kita diperlihatkan kepada peraturan yang tidak tegas yang dibuat oleh pemerintah. Upaya untuk mengkampanyekan bahaya rokok di negara ini memang mengalami hambatan yang berat. Tentu masih ingat dimana pada saat pengesahan Undang-undang Kesehatan tahun 2009 yang sempat diwarnai insiden hilangnya pasal tembakau yang mengandung zat adiktif yang kasusnya menguap begitu saja. Sebelum disahkannya peraturan ini pun juga mengalami banyak pro dan kontra. Meskipun begitu kita tetap memberi apresiasi kepada pemerintah yang telah mengesahkan peraturan ini. Tentunya ada pihak-pihak yang merasa dirugikan dan ada pihak yang diuntungkan dengan keberadaan peraturan ini. Perlu ada pengawalan dalam pelaksanaan peraturan ini sehingga upaya untuk menurunkan penyakit akibat merokok bisa tercapai. Semangat mengkampanyekan bahaya merokok harus tetap tersulut dengan adanya peraturan tersebut sehingga peraturan ini perlu dikembangkan kedepannya.

Read more

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png 0 0 Super News https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Super News2013-01-30 18:59:072013-01-30 18:59:07ROKOK (TIDAK) DILARANG DI INDONESIA
Page 650 of 742«‹648649650651652›»

TERKINI

  • Tutup Pengajian Ramadan PWM DIY, Haedar Nashir Tekankan Keadaban Ekologis dan Tajdid dalam Membangun Peradaban05/03/2026
  • HISKI Komisariat UAD Angkat Potensi Tradisi Sasak Berbasis Riset BRIN05/03/2026
  • IMM FTI UAD Selenggarakan Pelatihan Desain Grafis05/03/2026
  • Islam Wasathiyah: Hadirkan Wajah Agama yang Menyejukkan di Ruang Publik05/03/2026
  • KKN UAD Latih Karang Taruna Ubah Kulit Pisang Jadi Cairan Serbaguna05/03/2026

PRESTASI

  • Mahasiswa PBI UAD Raih Silver Medal dalam Lomba Esai Nasional26/02/2026
  • Mahasiswa PBio UAD, Zul Hamdi Batubara Raih Andalan Awards Tiga Tahun Berturut-turut19/02/2026
  • Tim AL-Qorni UAD Raih Juara I Prototype Vehicle Design pada Shell Eco-marathon Middle East & Asia 202628/01/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara I Best Use of Data pada ADIYC Tahun 202523/01/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara Harapan I Presenter Terbaik pada ADIYC 202522/01/2026

FEATURE

  • Wujudkan Kampus Ekologis, Komitmen Nyata UAD Menjaga Alam02/03/2026
  • Budaya Ekologis dan Resiliensi di Dunia Pendidikan01/03/2026
  • Restorasi Lingkungan sebagai Pilar Perkhidmatan Masa Depan01/03/2026
  • Optimalisasi Karya Kampus untuk Masyarakat26/02/2026
  • Istikamah dalam Ibadah, Kunci Meraih Ampunan di Bulan Ramadan26/02/2026

TENTANG | KRU | KONTAK | REKAPITULASI

Scroll to top