Hidupmu adalah Pilihanmu

0
197

Jika salah pilih langkah dan sikap, maka kamu tidak akan menjadi apa-apa dan siapa-siapa.”

(Budi Jaya Putra, S. Th. I.)

 

Sabtu, (18/3/2015), diadakan kajian rutin Saturday Morning Fresh (SMF) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) zona 3 yang bertempat di kampus III Universitas Ahmad Dahlan (UAD) jalan Prof. Dr. Soepomo, Yogyakarta. Acara yang berlangsung pada pukul 06.00‒07.00 WIB ini menghadirkan Budi Jaya Putra, S. Th. I. sebagai pembicara. Dosen UAD ini mengangkat tema “Problematika Remaja”.

Remaja merupakan masa saat pikiran masih belum matang dan proses pencarian jati diri. Dalam proses hal ini, mereka sering tidak menggunakan otak dan pikiran sebelum bertindak. Akibatnya, banyak problematika yang terjadi.

Terdapat beberapa problematika yang dialami. Pertama,  ketidakmatangan intelektual dan emosional. Keadaan ini berakibat pada tindakan yang tidak rasional, cenderung emosional, dan tidak berpikir panjang. Seharusnya, remaja selalu berpikir akibat dari sesuatu yang dilakukan. Kedua, tidak mampu berprestasi dan hanya membanggakan prestasi orang tua.

“Bukanlah pemuda yang mengatakan ini prestasi bapakku, tapi patut berkata inilah aku,” ucap Budi.

Ketiga, solidaritas yang berlebihan. Dalam hal ini, remaja harus mampu memilih dan menempatkan solidaritas pada wadah yang tepat. “Jangan terlalu mengedepankan teman daripada ilmu karena ilmu tidak akan pernah mengkhianati dan meninggalkan kita.”

Keempat, lebih mengandalkan otot daripada akal. Dalam hadits dikatakan, “Tidaklah kuat orang yang mengandalkan otot, tetapi orang kuat adalah orang yang dapat melawan hawa nafsunya ketika marah.” (HR. Bukhari). Kelima, cenderung berlebihan dalam hal cinta dan benci. “Jika terlalu berlebihan, maka sama halnya seperti batu, menjadi keras,” tambah Budi.

Berbicara mengenai problematika remaja, hanya ada satu solusi untuk mengatasinya, yaitu silaturahmi. Dengan menyambung silaturahmi, kekeluargaan dapat dibangun antar remaja. “Temanmu adalah cerminan dirimu. Dalam Islam, menjalin kekeluargaan itu adalah antar muslim. Maka muslim itulah keluargamu.”

Perlu diingat, manusia diciptakan dari kondisi yang berbeda, yakni dari laki-laki dan perempuan. Dari kondisi tersebut, maka lahirlah manusia dengan karakter dan sifat yang beraneka ragam. Setiap manusia boleh berteman dengan siapa pun sesuai porsi kebutuhan, tetapi jangan melupakan agama.

Untuk bergaul di masyarakat, remaja harus mampu menempatkan dirinya. Seperti memikirkan di mana harus berada, pada siapa harus berteman, harus menjadi siapa, harus menjadi apa, bagaimana harus bersikap, serta bagaimana harus berbuat.

“Hidupmu pilihanmu, setiap pilihan pasti ada risikonya. Jangan takut dibilang orang asing, buktikanlah bahwa kamu dapat bermanfaat dan berguna bagi orang lain,” tutup Budi. (AKN)