Humas Selenggarakan Pelatihan Artikel Untuk Dosen

0
282

“Usia kita pendek, tulisan kita akan abadi.” Begitulah yang disampaikan oleh Hadi Suyono, S.Psi saat menyampaikan materi penulisan artikel ilmiah popular. Acara yang diakan oleh Humas dan Protokoler Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Sabtu (10/1/2014) di ruang Lab Fakultas Ekononi ini juga menghadirkan Kusno S Utomo, S.Sos., S.H. Redaktur Jawa Pos Radar Jogja.

Menurut Kusno, penulis harus menemukan isu atau masalah yang aktual, memiliki data dan fakta yang cukup untuk mendukung pendapat tersebut, kemampuan menulis yang komunikatif, mengetahui selera media massa, Jika artikel bersifat ilmiah dengan panjang lebih dari 6 halaman dan disertai banyak sifat formal, sebaiknya dikirim ke Majalah bukan ke SKH.

“Bila sekali dalam menulis artikel tidak dimuat, sebaiknya mengirimkan kembali dalam tema yang berbeda, majalah kampus-sekolah, mading dan buletin dapat menjadi sarana latihan yang bermanfaat. Jeli mengikuti perkembangan dan menangkap suatu fenomena untuk diangkat sebagai sebuah artikel, dan pakailah prinsip. Bila ingin berenang, terjunlah ke kolam renang! Belajar teori baik, tanpa praktik tidak ada artinya.” Kata Kusno.

Masih menurut Kusno, menulis artikel itu sederhana, singkat, padat, jelas dan langsung pada pokok permasalahan, hidup lincah, sesuai dengan kata-kata positif mengandung banyak fakta dengan menggunakan sedikit mungkin.Bahasanya masyarakat dengan mengutamakan isi, memperhatikan tata bahasa, tetapi tidak terlalu diutamakan. Memiliki banyak gaya bahasa yaitu pemilihan dan penggunaan kata-kata sedimikian rupa, sehingga menghasilkan pengertian tertentu bagi pembaca

Gaya bahasa Head Line (Berita Utama); singkat, merangsang (profokatif). Awalan dan akhiran tak penting. Gaya bahasa Lead; sederhana, singkat, padat dan menarik. Langsung menuju perhatian pembaca; memudahkan pembaca. Bahasa berita singkat, jelas, menggunakan kata-kata biasa dan familiar.

“Bahasa Tajuk dan Artikel menggunakan kata kita, sugestif, mengajak berpikir, mempengaruhi, logis dan analitis. Bahasa pojok humoris, menyindir, kalau perlu mengejek tapi tidak sarkastik, kemahiran memainkan kata-kata. Bisa juga dicampur dengan bahasa asing atau bahasa daerah. Bahasa Iklan menarik, sugestif, singkat, jelas, bisa memakai semboyan-semboyan kalimat ringkas, paling sedikit kurang lebih 25 perkataan.” Terang Kusno pada dosen perwakilan prodi yang ikut pada pelatihan tersebut.