KKN UAD Gelar Lomba MPASI dan Literasi

116
Ibu-ibu saat lomba membuat MPASI

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menggelar lomba Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) dan lomba literasi se-kecamatan Semanu dengan tajuk “Pengembangan Desa Tangguh, Berbasis Kesehatan, Literasi, dan Wisata”. Lomba berlangsung pada 16 Februari 2020 yang diikuti 30 dusun dari 2 desa.

“Kami ingin mengajak masyarakat khususnya ibu-ibu mampu memberikan makanan gizi seimbang sejak usia 6 bulan dengan menu yang beraneka ragam. Tujuan lain guna meningkatkan kreativitas ibu-ibu dalam pembuatan MPASI. Menu MPASI yang dibuat di antaranya bakso ketawor (kelor, tahu, wortel), butelwoli (bubur, telur, wortel, brokoli), bubur karto bamer (kartomarmo, bayem merah, tempe, brokoli, wortel), nasi tim abrowoja (ayam, brokoli, wortel, jagung),” jelas Puput Aprillia selaku penanggung jawab acara.

Kriteria penilaian MPASI ialah rasa (termasuk ada tambahan MSG/tidak), bahan memenuhi 4 bintang (karbohidrat, protein hewani, protein nabati, dan sayuran) serta mikronutrien dan lemak untuk pertumbuhan, tekstur dan porsi sesuai usia bayi, serta penampilan penyajian.

“Setelah pemberian edukasi dan lomba, wawasan ibu-ibu terkait pemberian MPASI bertambah. Juara 1 diraih oleh dusun Dayakan Tengah, juara 2 dusun Cuwelo Kidul, juara 3 dusun Dayakan Kulon,” tutupnya.

Sementara itu, untuk peserta umum juga diadakan lomba literasi. Lomba ini terbagi menjadi tiga cabang yaitu master of ceremony, menulis feature, dan cerita pendek. “Lomba literasi mengangkat tema kearifan lokal. Tujuannya untuk mengenali suatu daerah melalui tulisan. Peserta bisa lebih peka untuk melihat daerah tempat tinggalnya serta mengenalkan potensi wisata dan budaya yang dimiliki di kecamatan Semanu lewat tulisan. Kami berharap setelah lomba selesai, literasi di Gunungkidul bisa berkembang baik dan terus mengalami peningkatan,” tutur Mirja Sentani selaku koordinator literasi.

Beragam lomba ini diselenggarakan tidak jauh dari tema yang diangkat. Harapannya, generasi di Gunungkidul adalah anak-anak yang sehat dan tangguh karena sejak masih bayi sudah mendapatkan makanan bergizi. Selain itu, mereka bisa memajukan budaya literasi, mengingat tempat itu mempunyai banyak sekali potensi wisata, tempat bersejarah, dan masih banyak lagi yang bisa ditulis. (JM)