Mau Dibawa Kemana Menara Gading Kita?

0
136

Triyantoro Safaria P.Hd

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan

Pendidikan merupakan aset terbesar seuatu bangsa dan yang akan menentukan kemajuan peradaban suatu bangsa di masa depan. Ujung tombak terdepan dari pendidikan ini adalah guru dan dosen. Guru dan dosen yang berkualitas akan menghasilkan lulusan yang berkualitas, terlepas dari berbagai hambatan yang dihadapi (fasilitas pendidikan yang terbatas). Guru dan dosen lah yang lebih berperan dalam membangun dan menciptakan pendidikan berkualitas di tingkat akar rumput yaitu siswa didik.

Pada tulisan ini, penulis lebih berfokus pada peran dosen sebagai ujung tombak pendidikan tinggi di Indonesia. Bagaimana peran mereka dan apa saja yang telah dihasilkan oleh komunitas staf akademik ini bagi pendidikan tinggi di Indonesia. Sebagaimana diketahui bahwa dosen wajib memenuhi tiga pilar yang termaktum dalam Tri Darma Perguruan Tinggi yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian dan publikasi ilmiah, serta pengabdian pada masyarakat. Namun kenyataan di lapangan, hanya sedikit sekali dosen yang memenuhi kewajibannya untuk melakukan Tri Darma Perguruan Tinggi. Inilah salah satu sebab utama mengapa rangking perguruan tinggi di Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan perguruan tinggi di Asia Tenggara.

Data dari QS World University Rangking 2012 untuk kategori Asian University Rangking menunjukkan bahwa UI menduduki urutan ke 59, UGM menduduki urutan ke 118 sedangkan ITB ke 113. Jika kita bandingkan dengan Universitas Kebangsaan Malaysia urutan 58, Universitas Malaya ke 35, dan Mahidol University Thailand urutan ke 38. Melihat data di atas terlihat bahwa posisi rangking tiga Universitas besar di Indonesia masih kalah telak. Lebih lagi jika kita bandingkan dengan Hongkong University of Science and Technology urutan 1 seAsia, National University of Singapore urutan ke 2, University of Hongkong urutan ke 3, Seoul National University 4, Chinese university of Hongkong ke 5, University of Tokyo ke 8, Peking University ke 6, dan Kyoto University urutan ke 10.

Menurut penulis, kebanyakan dosen di Indonesia lebih banyak menghabiskan energinya untuk mengurusi bidang pengajaran, dan larut dalam rutinitas pengajaran, sehingga melupakan peran mereka sebagai ilmuwan yang juga wajib menelorkan penelitian-penelitian berkualitas, dan dipublikasikan di jurnal-jurnal international. Kebanyakan publikasi para dosen ini diterbitkan di jurnal fakultasnya masing-masing, dengan alasan klasik lebih mudah proses seleksinya dan pasti diterima untuk diterbitkan. Jika karya ilmiah tersebut dikirim ke Jurnal di luar kampus, tentu akan lebih banyak ditolak karena belum layak terbit. Apalagi jika dikirim ke Jurnal Internasional, tentu kualitas dari karya ilmiah yang dihasilkan jauh dibawah rata-rata, sehingga akan lebih banyak lagi ditolak. Sampai saat ini pun mindset dosen-dosen di Indonesia untuk menghasilkan publikasi ilmiahnya masih bertaraf lokal, belum merambah ke tingkat nasional apalagi internasional. Bahkan sebagian besar masih terkesan ogah-ogahan untuk meneliti, apalagi mempublikasikan karya ilmiahnya di jurnal bereputasi.

Melihat kenyataan di atas, penulis menganggap bahwa kebanyakan dosen di Indonesia belum layak disebut sebagai staf akademik, namun lebih cocok disebut sebagai tutor saja. Hal ini karena tutor kewajiban utamanya adalah mengajar, dan tidak dibebani untuk melakukan penelitian dan publikasi ilmiah. Pengalaman penulis ketika membaca profile staf akademik dari beberapa perguruan tinggi luar negeri, terpampang jelas berapa banyak publikasi ilmiahnya. Tidak tanggung-tanggung, keseluruahan publikasi mereka diterbitkan oleh jurnal-jurnal bergengsi yang di index oleh ISI Web dan Scopus. Beberapa penerbit jurnal yang bereputasi tersebut diantaranya Springelink, Elseviers, Sage, Pergamon, Taylor & Francis, Wiley, Emerland dan banyak lagi. Lalu bagaimana dengan para dosen di Indonesia, sudah sampai dimanakah publikasi mereka?. Bahkan saya jarang membaca publikasi para dosen Indonesia di jurnal open access yang ada, seperti yang diindeks oleh lembaga pengindeks DOAJ. Menurut penulis hal yang paling mendasar adalah merubah mindset dan paradigma berpikir para dosen di Indonesia ini, sehingga mereka memahami kewajibannya yang termaktum dalam Tri Darma Perguruan Tinggi. Tidak saja sibuk mengajar dan membimbing, tetapi juga sibuk melakukan penelitian dan mempublikasikan karya ilmiahnya di jurnal-jurnal internasional.

Triyantoro Safaria P.Hd

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan

Pendidikan merupakan aset terbesar seuatu bangsa dan yang akan menentukan kemajuan peradaban suatu bangsa di masa depan. Ujung tombak terdepan dari pendidikan ini adalah guru dan dosen. Guru dan dosen yang berkualitas akan menghasilkan lulusan yang berkualitas, terlepas dari berbagai hambatan yang dihadapi (fasilitas pendidikan yang terbatas). Guru dan dosen lah yang lebih berperan dalam membangun dan menciptakan pendidikan berkualitas di tingkat akar rumput yaitu siswa didik.

Pada tulisan ini, penulis lebih berfokus pada peran dosen sebagai ujung tombak pendidikan tinggi di Indonesia. Bagaimana peran mereka dan apa saja yang telah dihasilkan oleh komunitas staf akademik ini bagi pendidikan tinggi di Indonesia. Sebagaimana diketahui bahwa dosen wajib memenuhi tiga pilar yang termaktum dalam Tri Darma Perguruan Tinggi yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian dan publikasi ilmiah, serta pengabdian pada masyarakat. Namun kenyataan di lapangan, hanya sedikit sekali dosen yang memenuhi kewajibannya untuk melakukan Tri Darma Perguruan Tinggi. Inilah salah satu sebab utama mengapa rangking perguruan tinggi di Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan perguruan tinggi di Asia Tenggara.

Data dari QS World University Rangking 2012 untuk kategori Asian University Rangking menunjukkan bahwa UI menduduki urutan ke 59, UGM menduduki urutan ke 118 sedangkan ITB ke 113. Jika kita bandingkan dengan Universitas Kebangsaan Malaysia urutan 58, Universitas Malaya ke 35, dan Mahidol University Thailand urutan ke 38. Melihat data di atas terlihat bahwa posisi rangking tiga Universitas besar di Indonesia masih kalah telak. Lebih lagi jika kita bandingkan dengan Hongkong University of Science and Technology urutan 1 seAsia, National University of Singapore urutan ke 2, University of Hongkong urutan ke 3, Seoul National University 4, Chinese university of Hongkong ke 5, University of Tokyo ke 8, Peking University ke 6, dan Kyoto University urutan ke 10.

Menurut penulis, kebanyakan dosen di Indonesia lebih banyak menghabiskan energinya untuk mengurusi bidang pengajaran, dan larut dalam rutinitas pengajaran, sehingga melupakan peran mereka sebagai ilmuwan yang juga wajib menelorkan penelitian-penelitian berkualitas, dan dipublikasikan di jurnal-jurnal international. Kebanyakan publikasi para dosen ini diterbitkan di jurnal fakultasnya masing-masing, dengan alasan klasik lebih mudah proses seleksinya dan pasti diterima untuk diterbitkan. Jika karya ilmiah tersebut dikirim ke Jurnal di luar kampus, tentu akan lebih banyak ditolak karena belum layak terbit. Apalagi jika dikirim ke Jurnal Internasional, tentu kualitas dari karya ilmiah yang dihasilkan jauh dibawah rata-rata, sehingga akan lebih banyak lagi ditolak. Sampai saat ini pun mindset dosen-dosen di Indonesia untuk menghasilkan publikasi ilmiahnya masih bertaraf lokal, belum merambah ke tingkat nasional apalagi internasional. Bahkan sebagian besar masih terkesan ogah-ogahan untuk meneliti, apalagi mempublikasikan karya ilmiahnya di jurnal bereputasi.

Melihat kenyataan di atas, penulis menganggap bahwa kebanyakan dosen di Indonesia belum layak disebut sebagai staf akademik, namun lebih cocok disebut sebagai tutor saja. Hal ini karena tutor kewajiban utamanya adalah mengajar, dan tidak dibebani untuk melakukan penelitian dan publikasi ilmiah. Pengalaman penulis ketika membaca profile staf akademik dari beberapa perguruan tinggi luar negeri, terpampang jelas berapa banyak publikasi ilmiahnya. Tidak tanggung-tanggung, keseluruahan publikasi mereka diterbitkan oleh jurnal-jurnal bergengsi yang di index oleh ISI Web dan Scopus. Beberapa penerbit jurnal yang bereputasi tersebut diantaranya Springelink, Elseviers, Sage, Pergamon, Taylor & Francis, Wiley, Emerland dan banyak lagi. Lalu bagaimana dengan para dosen di Indonesia, sudah sampai dimanakah publikasi mereka?. Bahkan saya jarang membaca publikasi para dosen Indonesia di jurnal open access yang ada, seperti yang diindeks oleh lembaga pengindeks DOAJ. Menurut penulis hal yang paling mendasar adalah merubah mindset dan paradigma berpikir para dosen di Indonesia ini, sehingga mereka memahami kewajibannya yang termaktum dalam Tri Darma Perguruan Tinggi. Tidak saja sibuk mengajar dan membimbing, tetapi juga sibuk melakukan penelitian dan mempublikasikan karya ilmiahnya di jurnal-jurnal internasional.