Mengenang Penyair Perempuan yang Hilang di Permukaan Sastra

0
115

Dulu, banyak penyair yang muncul dari kalangan perempuan. Hal tersebut mungkin dipicu karena orang berpandangan perempuan sebagai makhluk yang lemah sehingga mereka ingin menyangkal itu. Ada juga yang beranggapan, saat itu perempuan mau turut andil merespons konflik di lingkungan sekitar dengan bersastra.

Namun sayang, banyak juga penyair perempuan yang hilang, tanpa memberi kabar, apalagi mengucapkan salam. Ibarat kata seperti calon pacar yang sudah menjadi mantan. Biasanya kejadian itu melanda ketika perempuan itu menikah. Ada juga yang beranggapan kalau perempuan masih terikat tanggung jawab, belum sepenuhnya bebas untuk menjamah kesusastraan. Kejadian itu juga diceritakan oleh penyair perempuan Indonesia yang masih aktif menulis yaitu Ulfatin CH.

Dulu, minim sekali perempuan yang ikut di acara kesenian dan kepenyairan, tidak seperti perempuan sekarang ini yang lebih bebas,” katanya saat mengisi di acara Forum Apresiasi Sastra (FAS) yang terselenggara berkat kerja sama dengan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD).

Ia menjelaskan, beban tanggung jawab yang dipukul perempuan sangatlah berat. Perempuan dilarang bergaul dengan lelaki, tidak bisa keluar malam, sehingga tidak tahu kejadian di luar karena terlalu sering terkurung di rumah.

Padahal kalau di dunia sastra, pergaulannya kebanyakan dengan lelaki. Bagi saya, perempuan boleh bergaul dengan siapa saja, tidak terkecuali dengan lelaki. Namun, bergaul dalam konteks apa dulu? Kalau untuk belajar, boleh.”

Ia melanjutkan, kebebasan perempuan didapat ketika mereka merantau sembari melanjutkan pendidikan. Dari situlah mulai muncul banyak penyair perempuan. Tetapi, ya karena alasan menikah dan lain sebagainya, mereka kembali “menghilang”. Ini tentu sangat disayangkan.

Khusus perempuan sekarang yang mau menulis, bersiaplah menjadi penulis yang baik, jujur, dan tahan uji. Ibaratnya kalau sudah masuk dalam barisan, jangan sampai keluar dari barisan lagi, sebab kamu sudah masuk dalam tim. Suatu saat setelah menjadi anggota barisan, kamu akan menjadi pemandu di dalam barisan itu,” pesannya di kampus 4 UAD Jln. Lingkar Selatan, Tamanan, Banguntapan, Bantul, Rabu (26-12-2018).

Jika perempuan menulis dengan perasaan yang jujur, pasti ketika menulis hasil tulisannya itu sangat indah. Jangan lupa, jadilah penulis yang tidak meninggalkan kewajibannya sebagai seorang perempuan seperti NH Dini,” imbuhnya. (ASE)