P2K UAD Usung Tema Membentuk Entrepreneur Muda

310

Kita belajar dengan cara yang dewasa, dengan membentuk jiwa wirausaha sejak awal.” 

Ada hal menarik dan berbeda dalam Program Pengenalan Kampus (P2K) tahun 2015 ini. Salah satunya dengan penghapusan atribut topi dan menggantikannya dengan kopiah. Hal ini dimaksudkan supaya lebih berkarakter dan memiliki ciri khas sebagai kampus yang berbasis Islam.

Faisal Ramdani selaku mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Inggris (PBI)  sekaligus Ketua Panitia Pusat P2K menjelaskan bahwa yang terpenting dalam P2K ini adalah “servis”, yakni memberikan layanan yang optimal dan menyenangkan para peserta untuk memperkenalkan Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Ibarat berkunjung ke rumah, peserta P2K adalah tamu yang harus dilayani dan dihormati, tidak untuk diplonco. 

            Salah satu dosen di Fakultas Psikologi UAD, Triantoro Safaria, S.Psi., M.Si., Ph.D.Psi. yang menjadi ketua panitia pusat P2K menyadari betul bahwa praktik perploncoan tidak memberikan dampak yang positif.

            Panitia pusat yang terdiri atas dosen dan karyawan UAD dibantu oleh panitia mahasiswa melakukan berbagai inovasi untuk menghapuskan praktik perploncoan itu.

            “Kita belajar dengan cara yang ‘dewasa’. Dengan membentuk jiwa wirausaha sejak awal, calon mahasiswa diharapkan benar-benar mampu bersaing di dunia kerja dan juga mampu menciptakan peluang kerja,” tutur Triantoro yang menjadi salah satu Staf di Biro Kemahasiswaan dan Alumni (BIMAWA) UAD.

            Hal tersebut sesuai dengan tema umum yang diangkat pada P2K tahun ini, yaitu “Bersama UAD Kita Bangun Jiwa Kewirausahaan untuk Menghadapi Tantangan Global”. Para peserta P2K diharapkan mampu menjadi lulusan yang mandiri, memiliki kekompakan, dan kebersamaan. Ketiga poin ini yang paling diutamakan dalam kegiatan P2K. sebab, ketiganya merupakan kunci menuju kesuksesan dalam berwirausaha.

            Di akhir acara, kata Faisal, akan ada bintang tamu yang sangat spesial tahun ini, artis yang benar-benar merintis karier dari nol dan merupakan orang yang awalnya tidak diperhitungkan. (Ard, Idj)