Pentingnya Atlet Paham Penanganan Cedera

339

Tentu kita semua masih ingat perihal meninggalnya kiper Persatuan Sepak Bola Lamongan (Persela) saat berlaga akibat bertabrakan dengan sesama pemain. Cedera memerlukan perhatian khusus, sehingga diperlukan pengetahuan yang baik yang harus dimiliki oleh atlet. Untuk itu, UKM  sepak bola UAD mengadakan Pelatihan Penanganan Cedera. Pelatihan ini diadakan pada 22 Januari 2020 di Kampus IV UAD.

Sigit Pramudya yang menjadi narasumber pada pelatihan tersebut memberikan tips dan praktik penanganan cedera. Di antara olahraga lainnya, cedera pada  sepak bola terjadi sekitar 3%. Namun, bila dikaitkan dengan strategi dan peraturan pertandingan, pemain yang cedera pada  sepak bola perlu dipertimbangkan apakah masih bisa lanjut atau tidak. Berbeda dengan futsal ataupun basket yang masih memperbolehkan pemain yang keluar bisa kembali memasuki lapangan sehingga memang sangat perlu pertimbangan.

Pemateri mempraktekkan penanganan cedera

Menurut Ketua UKM  sepak bola, Aden, sebanyak 38 peserta yang terdiri atas mahasiswa dari UKM  sepak bola (atlet dan ofisial  sepak bola dan futsal) serta UKM KSR mengikuti pelatihan tersebut. Tujuan acara ini di antaranya bagi peserta yaitu menambah pengalaman dan memberikan wawasan keilmuan tentang penanganan cedera olahraga bagi mahasiswa UAD yang sangat penting mendapatkan keilmuan tersebut. Bagi instansi khusus UKM  sepak bola UAD yakni bisa melanjutkan workshop setiap tahun sebagai salah satu upaya peningkatan tenaga pendukung prestasi olahraga. Sementara bagi masseur, pelatih, dan pembina, mereka bisa memperoleh ilmu penanganan cedera olahraga sebagai tindakan rehabilitas ketika menemukan cedera di lapangan pada atlet dan mahasiswanya, sehingga segera mendapatkan pertolongan pertama.

Di sesi terakhir, Sigit Pramudya memperagakan teknik pertolongan pertama pada cedera. Ia berpengalaman di klub-klub Liga 1, salah satunya Persatuan Sepak Bola Indonesia Bandung (Persib). Sehingga, ia tidak hanya membagikan informasi tentang cedera, tetapi juga tentang aspek sains baik kesehatan maupun fisika pada gerak badan dalam olahraga. Selain itu, perlu juga komunikasi yang efektif antara pelatih dan tim medis agar strategi masih bisa dijalankan, dengan keselamatan pemain tetap diutamakan.

Masih menurut Sigit, ada macam-macam cedera yang terjadi dalam aktivitas sehari-hari maupun dalam berolahraga, yaitu cedera ringan dan cedera berat. Cedera ringan yaitu cedera yang terjadi karena tidak ada kerusakan yang berarti pada jaringan tubuh, misalnya kekakuan otot dan kelelahan. Cedera ringan tidak memerlukan penanganan khusus, biasanya dapat sembuh sendiri setelah istirahat. Cedera berat yaitu cedera serius pada jaringan tubuh dan memerlukan penanganan khusus dari medis, misalnya robeknya otot, tendon, ligamen, atau patah tulang.

Setelah acara menarik ini, diharapkan kegiatan serupa dapat terlaksana secara berkala untuk memutakhirkan pengetahuan atlet dan ofisial UKM keolahragaan dan UKM KSR di UAD