Risen Dhawuh Abdullah: Jadikan Menulis sebagai Terapi Otak

149

Sastra menjadi salah satu wadah untuk mengekspresikan diri serta mengutarakan gagasan dengan hal yang tak biasa, melalui prosa dan puisi. Baik kritikan maupun opini, dapat tersampaikan kepada pembaca dengan bungkus yang menarik, sehingga terkadang pembaca tak menyadari jika di dalam prosa tersebut terdapat kritikan bukan hanya sekadar hiburan.

Seperti yang dilakukan oleh Risen Dhawuh Abdullah, mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia (Sasindo) angkatan 2017 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) yang sudah lama berkecimpung di dunia tulis-menulis khususnya sastra. Baginya, menulis adalah terapi otak.

“Menulis mampu menyegarkan diri dari kesumpekan sehari-hari. Bukan berarti harus mengistirahatkan otak. Justru kadang penyegaran itu bisa ditempuh dengan cara berpikir. Karena jika sering berpikir, justru sangat membantu pengolahan ide,” ungkapnya.

Antologi cerpen Aku Memakan Pohon Mangga karya Risen Dhawuh Abdullah

Risen memulai menulis cerpen sejak menginjak kelas XII SMA. Kini beberapa karyanya sudah banyak yang termuat di berbagai media baik cetak maupun online. Aku Memakan Pohon Mangga menjadi salah satu judul antologi cerpen miliknya.

Menulis cerpen ataupun puisi memiliki tantangan yang berbeda-beda. Puisi yang sifatnya lebih padat, segala peristiwa yang hendak diangkat hanya diwakilkan dengan beberapa kalimat saja, membuat puisi seakan memeras otak lebih dalam dibanding dengan cerpen. Hal ini pun dialami oleh Risen, sehingga menurutnya lebih susah menulis puisi.

“Sekarang ini jarang sekali ada anak-anak yang masih menekuni dunia tulis-menulis, melihat fenomena itu rasanya prihatin sekali. Saya sebagai orang yang sudah menimba ilmu tentang sastra menjadi malu. Dengan menulis, setidaknya saya bisa mempertanggungjawabkan sebagai orang yang sudah belajar sastra. Selain itu, menulis merupakan hiburan yang murah,” tutupnya saat dihubungi via WhatsApp pada Selasa, (28-1-2020). (Chk).