Selamat Datang Bandara Internasional

0
190

sukardi1

Sukardi: Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Ahmad Dahlan

Lama atau cepat jogja akan memiliki bandara internasional baru yang lebih besar dan luasan kawasan itu konon mencapai 1000 hektar. Sudah disepakati bahwa bandara internasional yang baru terletak di Kulon Progo sebagai pengganti bandara Adi Sucipto Yogyakarta yang dirasa sudah tidak cukup dan tidak bisa mengembangkan lokasi pendaratan pesawat.

Dimanapun lokasi yang dipilih sebagai tempat pembangunan bandara baru bagi masyarakat awam terserah pada yang memiliki kewenangan (pemerintah), tetapi bagi pemerintah daerah tingkat dua pengembangan pembangunan bandara memang akan memberi kontribusi yang signifikan dengan pendapatan daerah pada perkembangannya, selain mendapatkan mega proyek, pajak yang akan diperoleh dari perkembangan dunia usaha pada lingkungan bandara pemerintah daerah sangat berkepentingan.

Meski tempat pembangunan bandara di Kulon Progo semua, bahwa daerah lain akan mendapat imbasnya, seperti daerah sekitarnya Bantul, Kebumen, bahkan Gunung Kidul dan Sleman pun akan mendapat keuntungan dari perkembangan bandara, semua tergantung dari bagaimana daerah memoles daya tarik daerah untuk menanggapi kehadiran bandara, seperti penataan tempat wisatanya, hotelnya, restoran dan sebagainya. Banyaknya touris yang berdatangan baik wisatawan manca negara (wisman) maupun wisatawan nusantara (wsinu), tentu masing-masing daerah memiliki daya tarik akan dikunjungi seperti Prambanan, Keraton, Kaliurang, Parang Tritis dan sebagainya. Jika pusat wisata itu bisa dikemas akan memberi peluang daya tarik wisatawan.

Bandara yang sangat luas, pasti semakin banyak penerbangan keluar negeri dan dari ke daerah kota-kota besar di Indonesia. Semakin banyak penerbangan, semakin banyak barang eksport, import dan angkutan lewat udara yang mempergunakan jasa bandara. Kendaraan pengangkut barang, antar jemput penumpang ke luar dan masuk bandara semakin banyak, lahan parker dibutuhkan, hotel, restoran dan sebagainya diperlukan sebagai pendukung perkembangan bandara. Singkatnya perkembangan bandara akan banyak memberi peluang usaha dan banyak tenaga kerja yang dibutuhkan.

Masyarakat pesisir selatan jogja sebagai tempat dibangunnya bandara international adalah masyarakat agraris dan baru sebagian kecil yang bekerja di luar pertanian, kehadiran bandara pasti akan membawa berkah yang akan membawa kemajuan yang sangat cepat, banyak memberi peluang usaha, merubah pola hidup dengan berbagai jenis variasi budaya dan kebutuhan hidup. Bandara akan menyulap kehidupan lingkungan agraris ke bidang jasa. Agaknya tidak ringan bagi masyarakat setempat dengan sederet pengalaman bergulat dengan pertanian untuk segera bisa mengikuti perubahan budaya dari kehidupan yang homogen dan relative tenang kearah heterogen yang mobilitasnya tinggi. Jika masyarakat tidak diadakan axelerasi dalam menyelaraskan perkembangan budaya dan tidak mau mengakselerasi diri, maka masyarakat tidak bisa menangkap peluang perkembangan, maka orang luar daerahlah yang lebih siap yang akan mendominasi menangkap peluang usaha di lingkungan bandara, masyarakat setempat akan menjadi penonton setia. Inilah yang sangat disayangkan, penulis mengamati para pengelola UMKM di lingkungan jalan lingkar Jogja saat ini mayoritas pengelola umkm didominasi oleh para pendatang dari luar daerah, warga setempat mulai menyusul dari belakang dalam memanfaatkan peluang, kecuali mereka yang sebelumnya telah merintis usaha.

Atas kondisi itu pelatihan-pelatihan pembinaan usaha masyarakat menyongsong perubahan pembangunan sangat dibutuhkan. Pemanfaatan hasil penjualan lahan pekarangan areal bandara yang bigitu luas dan banyak yang akan menerima ratusan juta bahkan milyartan rupiah, akan sekedar untuk konsumtif atau bisa investasi untuk jangka panjang mereka membutuhkan pembinaan. Apabila untuk investasi, investasi yang mendukung pengembangan daerah dan prospektif pada bidang apa, dibutuhkan wawasan dan binaan khusus. Membngun rumah dan membeli kendaraan (mungkin bagi yang baru saja menjual hiktaran tanah lahan bandara) yang seperti apa yang akan bisa produktif di masa mendatang masih banyak yang belum faham. Mengantisipasi untuk berinvestasi demikian akan tepat memang apabila telah memahami secara jelas rencana disain tata ruang bandara dan juga kemungkinan-kemungkinan yang dibutuhkan atas keberadaan bandara. Ini tentu memerlukan bimbingan dan binaan dari mereka yang berpengalaman.

(Artikel ini telah dimuat di Harian Republika pada Selasa, 25 September 2012)

sukardi1

Sukardi: Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Ahmad Dahlan

Lama atau cepat jogja akan memiliki bandara internasional baru yang lebih besar dan luasan kawasan itu konon mencapai 1000 hektar. Sudah disepakati bahwa bandara internasional yang baru terletak di Kulon Progo sebagai pengganti bandara Adi Sucipto Yogyakarta yang dirasa sudah tidak cukup dan tidak bisa mengembangkan lokasi pendaratan pesawat.

Dimanapun lokasi yang dipilih sebagai tempat pembangunan bandara baru bagi masyarakat awam terserah pada yang memiliki kewenangan (pemerintah), tetapi bagi pemerintah daerah tingkat dua pengembangan pembangunan bandara memang akan memberi kontribusi yang signifikan dengan pendapatan daerah pada perkembangannya, selain mendapatkan mega proyek, pajak yang akan diperoleh dari perkembangan dunia usaha pada lingkungan bandara pemerintah daerah sangat berkepentingan.

Meski tempat pembangunan bandara di Kulon Progo semua, bahwa daerah lain akan mendapat imbasnya, seperti daerah sekitarnya Bantul, Kebumen, bahkan Gunung Kidul dan Sleman pun akan mendapat keuntungan dari perkembangan bandara, semua tergantung dari bagaimana daerah memoles daya tarik daerah untuk menanggapi kehadiran bandara, seperti penataan tempat wisatanya, hotelnya, restoran dan sebagainya. Banyaknya touris yang berdatangan baik wisatawan manca negara (wisman) maupun wisatawan nusantara (wsinu), tentu masing-masing daerah memiliki daya tarik akan dikunjungi seperti Prambanan, Keraton, Kaliurang, Parang Tritis dan sebagainya. Jika pusat wisata itu bisa dikemas akan memberi peluang daya tarik wisatawan.

Bandara yang sangat luas, pasti semakin banyak penerbangan keluar negeri dan dari ke daerah kota-kota besar di Indonesia. Semakin banyak penerbangan, semakin banyak barang eksport, import dan angkutan lewat udara yang mempergunakan jasa bandara. Kendaraan pengangkut barang, antar jemput penumpang ke luar dan masuk bandara semakin banyak, lahan parker dibutuhkan, hotel, restoran dan sebagainya diperlukan sebagai pendukung perkembangan bandara. Singkatnya perkembangan bandara akan banyak memberi peluang usaha dan banyak tenaga kerja yang dibutuhkan.

Masyarakat pesisir selatan jogja sebagai tempat dibangunnya bandara international adalah masyarakat agraris dan baru sebagian kecil yang bekerja di luar pertanian, kehadiran bandara pasti akan membawa berkah yang akan membawa kemajuan yang sangat cepat, banyak memberi peluang usaha, merubah pola hidup dengan berbagai jenis variasi budaya dan kebutuhan hidup. Bandara akan menyulap kehidupan lingkungan agraris ke bidang jasa. Agaknya tidak ringan bagi masyarakat setempat dengan sederet pengalaman bergulat dengan pertanian untuk segera bisa mengikuti perubahan budaya dari kehidupan yang homogen dan relative tenang kearah heterogen yang mobilitasnya tinggi. Jika masyarakat tidak diadakan axelerasi dalam menyelaraskan perkembangan budaya dan tidak mau mengakselerasi diri, maka masyarakat tidak bisa menangkap peluang perkembangan, maka orang luar daerahlah yang lebih siap yang akan mendominasi menangkap peluang usaha di lingkungan bandara, masyarakat setempat akan menjadi penonton setia. Inilah yang sangat disayangkan, penulis mengamati para pengelola UMKM di lingkungan jalan lingkar Jogja saat ini mayoritas pengelola umkm didominasi oleh para pendatang dari luar daerah, warga setempat mulai menyusul dari belakang dalam memanfaatkan peluang, kecuali mereka yang sebelumnya telah merintis usaha.

Atas kondisi itu pelatihan-pelatihan pembinaan usaha masyarakat menyongsong perubahan pembangunan sangat dibutuhkan. Pemanfaatan hasil penjualan lahan pekarangan areal bandara yang bigitu luas dan banyak yang akan menerima ratusan juta bahkan milyartan rupiah, akan sekedar untuk konsumtif atau bisa investasi untuk jangka panjang mereka membutuhkan pembinaan. Apabila untuk investasi, investasi yang mendukung pengembangan daerah dan prospektif pada bidang apa, dibutuhkan wawasan dan binaan khusus. Membngun rumah dan membeli kendaraan (mungkin bagi yang baru saja menjual hiktaran tanah lahan bandara) yang seperti apa yang akan bisa produktif di masa mendatang masih banyak yang belum faham. Mengantisipasi untuk berinvestasi demikian akan tepat memang apabila telah memahami secara jelas rencana disain tata ruang bandara dan juga kemungkinan-kemungkinan yang dibutuhkan atas keberadaan bandara. Ini tentu memerlukan bimbingan dan binaan dari mereka yang berpengalaman.

(Artikel ini telah dimuat di Harian Republika pada Selasa, 25 September 2012)