Mengenal Keistimewaan Universitas Ahmad Dahlan
Universitas Ahmad Dahlan (UAD) merupakan perguruan tinggi amal usaha organisasi Islam terbesar di Indonesia, yaitu Muhammadiyah. Perguruan tinggi ini didirikan sebagai bentuk representasi cita-cita K.H. Ahmad Dahlan dalam mengupayakan pendidikan Islam dan Muhammadiyah ke arah yang lebih modern dengan tetap berpedoman pada ajaran Islam yang menuntut kemajuan, kecerdasan, beramal bagi masyarakat, serta umat menurut tuntunan Alquran dan Hadis.
Cita-cita Ahmad Dahlan yang memadukan dua cahaya kehidupan, integritas, moral, dan intelektual, diharapkan akan meningkatkan keutuhan kualitas pribadi dan menjadi pedoman bagi UAD dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa. Kredibilitas yang dibangun UAD terbukti dari jumlah rata-rata mahasiswa aktif per tahunnya yang mencapai angka lebih dari 27.000 serta terus mengalami peningkatan yang signifikan dari tahun ke tahun. Selain berasal dari seluruh penjuru nusantara, mahasiswa asing yang berasal dari Asia seperti Jepang, Korea, Tiongkok, Malaysia, Thailand, Myanmar, dan kawasan Timur Tengah seperti Mesir, Yaman, serta kawasan Eropa seperti Inggris, Prancis, dan Polandia. Komitmen untuk tetap mengedepankan kualitas juga dipertahankan sehingga kampus ini layak menjadi tempat tujuan pendidikan bagi calon mahasiswa dari dalam maupun luar negeri.
Seperti yang disampaikan oleh Rektor UAD Dr. Muchlas, M.T., di kanal YouTube UAD pada (14/09) bahwa, “UAD mengantarkan mahasiswanya menjadi lulusan yang kompeten memasuki dunia kerja terkini, mampu mengambil peran dalam kepemimpinan industri dan pasar global, memiliki daya saing nasional dan internasional yang tinggi, serta memiliki integritas dan intelektual berdasarkan nilai-nilai keislaman yang kuat.”
Sebagai perguruan tinggi yang memiliki moto integritas, moral, dan intelektual, UAD senantiasa mengedepankan keutuhan darmanya kepada masyarakat, bangsa, dan agama baik dari sisi pendidikan, penelitian, maupun pengabdian masyarakat. Di bidang pendidikan, UAD terus berupaya meningkatkan pelayanan akademis maupun nonakademis kepada para mahasiswanya. Peningkatan kualitas dan kompetensi dosen juga dilakukan melalui berbagai macam kegiatan seperti seminar, workshop, pelatihan, dan pertukaran dosen dengan perguruan tinggi-perguruan tinggi di luar negeri. (Dew)




Program Pengenalan Kampus (P2K) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) 2020 berbeda dengan tahun sebelumnya. Untuk melaksanakan kegiatan dengan melibatkan orang dengan skala besar memang belum bisa saat ini. Oleh karena itu, ditempuhlah cara online atau dalam jaringan (daring). Meskipun begitu, diharapkan esensi dari P2K tetap tersampaikan dengan baik untuk mahasiswa baru (maba).
Menurut Caraka Putra Bhakti, S.Pd., M.Pd. selaku koordinator acara, “Meskipun dilaksanakan secara daring, P2K diharapkan dapat terlaksana seefektif mungkin sehingga dapat menjadikan mahasiswa baru semakin menumbuhkan kecintaan terhadap kampus.”


Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menyelenggarakan Program Pengenalan Kampus (P2K) 2020 secara daring (online). Hal tersebut dilaksanakan berdasarkan surat dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 631/E.E.2/KM/2020 tentang Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB). Pelaksanaan PKKMB diharapkan menjadi wahana penanaman lima program gerakan nasional revolusi mental yaitu Indonesia melayani, Indonesia bersih, Indonesia tertib, Indonesia mandiri, dan Indonesia bersatu.
UAD melaksanakan P2K 2020 dengan dua tahapan. Tahap pertama diikuti sekitar lima ribu mahasiswa yang teregistrasi sampai 12 September 2020. Sedangkan mahasiswa yang teregistrasi pada tanggal 13–25 September mengikuti P2K tahap kedua.


Film pendek berjudul Merawat Ingatan karya mahasiswa program studi Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD), meraih penghargaan sebagai film terbaik dan sinematografi terbaik pada lomba yang diadakan oleh studio Produksi Film Negara (PFN) dengan tema “Nasionalisme”.
Film Merawat Ingatan bercerita tentang seorang janda tua yang sedih karena tidak diadakannya upacara 17 Agustus imbas dari pandemi Covid-19. Padahal upacara tersebut adalah aktivitasnya untuk mengenang mendiang suaminya yang seorang veteran. “Kendala terbesar yang dihadapi adalah soal mengurus perizinan tempat karena kondisi pandemi. Ada ketakutan dan kesulitan karena memakai talent seorang yang sudah lanjut usia yang rentan terkena virus corona. Selain itu, saat syuting kami juga harus menjaga jarak, menggunakan masker dan cuci tangan,” jelasnya saat diwawancarai via WhatsApp, (12-9-2020).
Ivan berharap tim Operasi Silang selanjutnya bisa menjadi wadah kolaborasi mahasiswa UAD. “Semoga karya kami selanjutnya dapat dikenal dan dinikmati banyak orang di luar UAD. Target kami ke depannya akan produksi film lagi di beberapa tempat,” tutupnya. (JM)