Teater JAB Unjuk Gigi pada Konser Harmoni Musik Puisi

0
171

Konser musik harmoni yang diadakan di Bantara Budaya Kamis (26/05/11) kemarin, dimeriahkan oleh sembilan Kelompok Musik Puisi atau yang biasa disebut juga Musikalisasi Puisi di ataranya: Teater JAB UAD, Assarkem Yogyakarta (KM), Kinnara, Lakukita, Sobaya Ethtic Religion, UMK (Urba Musik Kustik) UNY, Unstrat serta dimerihakan SABU Musik Puisi tertua di Yogyakarta yang digawangi oleh Untung Basuki.

Acara semacam ini tentu menjadi kerinduan bagi penikmat musik puisi, terutama pasca vakumnya gelaran acara fenomenal “Festival Musik Puisi” pada tahun 2003 lalu. “Kehadiran acara “Konser Harmoni Musik Puisi Jogja” ini jauh dari bermaksud menggantikan keberadaan acara fenomenal tersebut. Isu yang kami bawa adalah mengutip kata Prof. Suminta A. Sayuti, being together. Mengada bersama dan merangkul kreativitas secara komunal”, ungkap fairus selaku ketua panitia yang ditemui di sela persiapannya.

Selama ini, dalam lingkup nasional, “musik puisi” masih menjadi polemik, terutama dalam istilah dan konsep. Berbagai kelompok dan pengamat seni menyebutkan istilah yang berbeda dengan pembelaannya masing-masing. Untung Basuki menyebutnya sebagai “Lagu Puisi” dengan komunitasnya SABU, Saut Situmurang menyebut “Puisi Musik Puisi” dalam bukunya “Politik Sastra”, Tan Lio Le dengan “Puisi Musik” dengan kelompoknya Bali Musik Puisi, Fredi Arsi menyebutnya “Musikalisasi Puisi” dengan komunitasnya Musikalisasi Puisi Indonesia (KOMPI) dan Sanggar Matahari Jakarta. Di Jogja Masyarakatnya cenderung menyebutnya Musik Puisi atau Musikalisasi Puisi baik pada kelompok independen atau kelompok kampus. Meski dengan penyebutan istilah yang cukup berbeda, secara konsep dapat dilihat memiliki kemiripan, dan pada malam itu kita dapat melihat bagaimana kecenderungan musik puisi yang dilestarikan di Jogja.

“Meskipun mempunyai ciri-ciri tersendiri, tapi pada intinya semua kelompok mempunyai konsep yang sama, semua kelompok menggunakan puisi sebagai syair yang dilagukan” ungkap sefi ketua Musikalisasi Puisi Teater JAB UAD.

Dalam mempersiapkan acara pada malam tersebut, termasuk relatif mudah, yang sulit adalah mengumpulkan kelompok yang intens menggarap musik puisi. Sebelumnya pihak panitia telah menyebarkan surat dan formulir sebanyak 20 buah, baik bagi kelompok independen maupun kelompok Musik Puisi Kampus dan sekolah yang ada di Yogyakarta. Tapi hanya satu kelompok yang mengembalikan formulir pendaftaran, meski beberapa kelompok menyatakan kesediaannya kepada paitia secara lisan. Akhirnya terkumpul sembilan kelompok musik puisi yang siap mementaskan karya-karyanya. “Sembilan kelompok merupakan kelompok yang sudah intens baik lokal maupun nasional” tegas Fairus.

“Banyak harapan yang akan diraih dalam konser kali ini, khususnya pada terciptanya forum-forum Musik puisi yang dapat menggagas arah musik puisi agar dapat dikenal masyarakat luas dan memberikan masukan kepada pejabat terkait sehubungan dengan dimasukkanya musik puisi dalam kurikulum sekolah menengah pertama. Selain itu. Semoga ini bisa menjadi event yang rutin dengan terjalinnya berbagai kerjasama dengan berbagai pihak. (Sbwh)

Konser musik harmoni yang diadakan di Bantara Budaya Kamis (26/05/11) kemarin, dimeriahkan oleh sembilan Kelompok Musik Puisi atau yang biasa disebut juga Musikalisasi Puisi di ataranya: Teater JAB UAD, Assarkem Yogyakarta (KM), Kinnara, Lakukita, Sobaya Ethtic Religion, UMK (Urba Musik Kustik) UNY, Unstrat serta dimerihakan SABU Musik Puisi tertua di Yogyakarta yang digawangi oleh Untung Basuki.

Acara semacam ini tentu menjadi kerinduan bagi penikmat musik puisi, terutama pasca vakumnya gelaran acara fenomenal “Festival Musik Puisi” pada tahun 2003 lalu. “Kehadiran acara “Konser Harmoni Musik Puisi Jogja” ini jauh dari bermaksud menggantikan keberadaan acara fenomenal tersebut. Isu yang kami bawa adalah mengutip kata Prof. Suminta A. Sayuti, being together. Mengada bersama dan merangkul kreativitas secara komunal”, ungkap fairus selaku ketua panitia yang ditemui di sela persiapannya.

Selama ini, dalam lingkup nasional, “musik puisi” masih menjadi polemik, terutama dalam istilah dan konsep. Berbagai kelompok dan pengamat seni menyebutkan istilah yang berbeda dengan pembelaannya masing-masing. Untung Basuki menyebutnya sebagai “Lagu Puisi” dengan komunitasnya SABU, Saut Situmurang menyebut “Puisi Musik Puisi” dalam bukunya “Politik Sastra”, Tan Lio Le dengan “Puisi Musik” dengan kelompoknya Bali Musik Puisi, Fredi Arsi menyebutnya “Musikalisasi Puisi” dengan komunitasnya Musikalisasi Puisi Indonesia (KOMPI) dan Sanggar Matahari Jakarta. Di Jogja Masyarakatnya cenderung menyebutnya Musik Puisi atau Musikalisasi Puisi baik pada kelompok independen atau kelompok kampus. Meski dengan penyebutan istilah yang cukup berbeda, secara konsep dapat dilihat memiliki kemiripan, dan pada malam itu kita dapat melihat bagaimana kecenderungan musik puisi yang dilestarikan di Jogja.

“Meskipun mempunyai ciri-ciri tersendiri, tapi pada intinya semua kelompok mempunyai konsep yang sama, semua kelompok menggunakan puisi sebagai syair yang dilagukan” ungkap sefi ketua Musikalisasi Puisi Teater JAB UAD.

Dalam mempersiapkan acara pada malam tersebut, termasuk relatif mudah, yang sulit adalah mengumpulkan kelompok yang intens menggarap musik puisi. Sebelumnya pihak panitia telah menyebarkan surat dan formulir sebanyak 20 buah, baik bagi kelompok independen maupun kelompok Musik Puisi Kampus dan sekolah yang ada di Yogyakarta. Tapi hanya satu kelompok yang mengembalikan formulir pendaftaran, meski beberapa kelompok menyatakan kesediaannya kepada paitia secara lisan. Akhirnya terkumpul sembilan kelompok musik puisi yang siap mementaskan karya-karyanya. “Sembilan kelompok merupakan kelompok yang sudah intens baik lokal maupun nasional” tegas Fairus.

“Banyak harapan yang akan diraih dalam konser kali ini, khususnya pada terciptanya forum-forum Musik puisi yang dapat menggagas arah musik puisi agar dapat dikenal masyarakat luas dan memberikan masukan kepada pejabat terkait sehubungan dengan dimasukkanya musik puisi dalam kurikulum sekolah menengah pertama. Selain itu. Semoga ini bisa menjadi event yang rutin dengan terjalinnya berbagai kerjasama dengan berbagai pihak. (Sbwh)