Teknologi Pelontar Rudal Buatan Lab Dislitbang TNI AD dan CIRNOV UAD

0
228

Rudal merupakan senjata pamungkas yang menjadi andalan dalam peperangan modern. Rudal dengan kemampuan dahsyat seperti yang dimiliki Korea Utara mampu menjadikan negara besar Amerika Serikat sulit melakukan berbagai tekanan militer terhadap negara tersebut karena ancaman balik yang dapat dilakukannya. Berbagai jenis rudal yang ada dapat berfungsi untuk berbagai senjata dengan sasaran di udara seperti pesawat tempur, helikopter dan drone, juga untuk sasaran darat seperti tank dan kendaraan tempur.

Untuk rudal kecil dengan kaliber 70-an mm yang mampu melumpuhkan pesawat terbang, diperlukan teknologi yang dapat melontarkan rudal dari peluncur (disebut dengan booster) yang dipanggul atau ditenteng oleh tentara secara perorangan. Prinsip kerja booster tersebut adalah dapat melontarkan rudal dari dalam peluncur ke jarak aman tertentu. Misalnya 10 meter dari penembak kemudian roket pendorong rudal akan menyala mengaktifkan rudal setelah jarak tersebut untuk selanjutnyan melesat menuju sasaran yang dibidik.

Berkaitan dengan teknologi booster yang dibuat hasil kerja sama antara Lab Dislitbang AD dan Pusat Riset CIRNOV Univeritas Ahmad Dahlan (UAD), pada Jumat 20 September 2019, bertempat di lapangan tembak milik TNI AD, Buluspesantren, Ambal, Kebumen, Jawa Tengah, telah dilakukan serangkaian uji tembak teknologi tersebut disertai dengan uji tembak rudal kaliber 70 program Dislitbang AD untuk tahun anggaran 2019. Uji tembak disaksikan oleh Kepala Dislitbang AD Brigjen Mulyo Aji, M.A. beserta jajarannya, juga tim peneliti dari CIRNOV UAD, Pustekbang LAPAN, dan Poltekad, Kodiklat TNI AD.

Hasil uji tembak tahap awal cukup sukses karena booster dapat melontarkan rudal yang dibuat secara dummy untuk jarak lebih dari batas minimal yang dipersyaratkan dengan kondisi peluncur cukup stabil demikian disampaikan oleh Prof. Hariyadi, konsultan dan peneliti program tersebut sekaligus Kepala CIRNOV UAD. Kestabilan selama penembakan menggunakan booster ini menjadi syarat mutlak sehingga penembak rudal tidak mengalami hentakan yang keras sewaktu rudal keluar dari peluncur yang dipanggulnya yang dapat mengganggu bidikan sasaran rudal maupun membahayakan keselamatan.

Kemampuan membuat teknologi dengan kandungan lokal yang ada termasuk penggunaan bahan-bahan untuk komponen meredam hentakan rudal, seperti modifikasi kertas lokal menjadi nilai tambah tersendiri. Teknologi pelontar rudal yang dibuat merupakan teknologi yang pertama kali mampu dibuat anak bangsa mengingat selama ini belum ada pihak-pihak di Indonesia yang berhasil melakukannya.

Selain uji teknologi pelontar rudal, juga dilakukan uji peningkatan kemampuan anti pesawat udara yang dinamakan Rudal Merapi yang telah dibuat pada tahun sebelumnya. Kemampuan sirip rudal/canard dalam melakukan manuver untuk pengendalian arah sasaran di udara menjadi kunci penting teknologi rudal bersamaan dengan penguasaan teknologi pengunci sasaran menggunakan teknologi sinar infra merah yang sudah lama dikembangkan. Kemampuan mengendalikan sirip rudal dalam keadaan melesat sangat cepat mengimbangi kecepatan pesawat terbang menjadi tantangan besar peneliti rudal atau roket kendali. Berbagai aspek seperti kecepatan, bentuk aerodinamik rudal, gangguan gelombang elektromagnetik, gangguan optik, panas dari sinar matahari dan lain-lain selama melesat di udara harus diperhatikan dan dikuasai ilmunya. Peralatan telemetry yang ada pada rudal mampu memberikan data ilmiah secara real time selama rudal melesat sehingga keberhasilan karya teknologi yang dibuat dapat dievaluasi dan divalidasi dengan baik. Bahkan untuk penguasaan teknologi pembuatan rudal sampai tahap tersebut lagi-lagi Tim Dislitbang AD dan CIRNOV UAD merupakan tim yang pertama kali di Indonesia dapat mencapainya.

 

Hasil yang diperoleh dari uji tembak rudal dengan sasaran flare di udara, akan disempurnakan sebagai bagian dari rancang bangun sistem rudal jenis personal yang cocok untuk dioperasikan oleh kombatan tentara Indonesia. Senjata tersebut tentu saja akan menjadi ancaman yang sangat serius bagi pesawat-pesawat lawan yang mencoba masuk ke wilayah Indonesia, terlebih di area perbatasan negara.

Dengan adanya kemandirian teknologi ini, ke depan kekuatan militer Indonesia khususnya untuk peperangan gerilya modern akan dapat diperkuat, untuk menghadapi mesin perang lawan yang menggunakan senjata modern yang kompleks dan biaya tinggi, demikian disampaikan Prof. Hariyadi yang sudah bertahun-tahun menangani rancang bangun teknologi alutsista jenis tersebut. Dana riset selama ini diperoleh dari berbagai sumber seperti Dislitbang AD, Kemenristekdikti, LPDP Kemenkeu, dan lain-lain, yang juga melibatkan perusahaan UAD bidang teknologi hankam (PT Adi Multi Teknologi).