• TERKINI
  • UAD BERDAMPAK
  • PRESTASI
  • FEATURE
  • OPINI
  • MEDIA
  • KIRIM BERITA
  • Menu
News Portal of Universitas Ahmad Dahlan

Menapaki Jalan Lurus melalui Sepuluh Wasiat Allah

04/09/2026/in Feature /by Ard

Kajian rutin Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan pembicara Prof. Dr. Waharjani, M.Ag., (Foto. Mawar)

Menjalani kehidupan di jalan yang lurus tidak cukup hanya dengan mengetahui mana yang benar dan salah. Lebih dari itu, manusia perlu menjadikan nilai-nilai kebaikan sebagai pedoman dalam setiap aktivitasnya. Pesan tersebut menjadi salah satu benang merah dalam Kajian Rutin Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) yang mengangkat tema Al-Washaya Al-‘Asyrah: 10 Wasiat Allah dengan merujuk pada Surah Al-An’am ayat 151-153.

Kajian yang berlangsung pada Ahad 2 Agustus 2026 tersebut menghadirkan Ustadz Prof. Dr. Waharjani, M.Ag., Guru Besar Bidang Psikologi Pendidikan Profetik, sebagai pemateri. Dalam kajiannya, ia mengajak jamaah memahami sepuluh wasiat Allah sebagai pedoman kehidupan yang mengarahkan manusia menuju siratal mustaqim atau jalan yang lurus.

Menurutnya, Al-Washaya Al-‘Asyrah dapat dipahami sebagai sepuluh perintah atau wasiat Allah yang menjadi petunjuk bagi manusia. Ia kemudian menghubungkan konsep tersebut dengan istilah siratal mustaqim. “Al-Washaya Al-‘Asyrah itu adalah 10 perintah Tuhan atau 10 wasiat Allah. Yang di dalam beberapa tafsir disebut dengan siratal mustaqim, jalan untuk menuju jalan yang lurus,” jelasnya.

Untuk menggambarkan makna jalan lurus tersebut, Prof. Waharjani menggunakan analogi jalan tol. Jalan tersebut memiliki ruang yang luas sehingga dapat dilalui berbagai kendaraan. Demikian pula siratal mustaqim yang menurutnya merupakan jalan yang dapat ditempuh melalui beragam aktivitas kebaikan selama tetap mengantarkan manusia kepada tujuan yang benar. “Kalau sudah bisa melaksanakan siratal mustaqim itu berarti akan menuju ke Jannatun Naim. Jadi siratal mustaqim itu adalah jalan-jalan atau kegiatan atau aktivitas yang bisa mengantarkan kita kepada jalan yang lurus menuju Jannatun Naim,” tuturnya.

Dalam kajian tersebut, Prof. Waharjani menguraikan kandungan Surah Al-An’am ayat 151-153 secara bertahap. Lima wasiat pertama yang disimpulkan dari ayat 151 berkaitan dengan larangan menyekutukan Allah, perintah berbuat baik kepada orang tua, larangan membunuh anak karena takut kemiskinan, larangan melakukan perbuatan keji, serta larangan membunuh jiwa yang diharamkan Allah.

Salah satu pesan yang mendapat perhatian dalam kajian ialah kewajiban berbuat baik kepada orang tua. Prof. Waharjani menekankan bahwa berbakti kepada orang tua bukan perkara sederhana, terlebih ketika orang tua memasuki usia lanjut dan membutuhkan kesabaran serta perhatian lebih dari keluarga. “Berbuatlah baik kepada kedua orang tua. Ya, baik orang tua itu sudah meninggal atau masih hidup,” ujarnya.

Ia mengingatkan jamaah bahwa merawat orang tua membutuhkan kesabaran. Menurutnya, kondisi orang tua yang semakin lanjut usia dapat membuat mereka kembali membutuhkan pendampingan seperti ketika masih kecil. Karena itu, anak perlu memiliki kesabaran dalam memberikan perhatian dan memenuhi kebutuhan orang tua.

Memasuki Surah Al-An’am ayat 152, pembahasan berlanjut pada larangan mendekati harta anak yatim, perintah menyempurnakan takaran dan timbangan dengan adil, serta kewajiban berlaku adil dan memenuhi janji. Prof. Waharjani menyoroti pentingnya kejujuran dalam persoalan takaran dan timbangan. Nilai tersebut tidak hanya berkaitan dengan aktivitas perdagangan, tetapi juga mencerminkan sikap manusia dalam menjalankan amanah. “Dan sempurnakan takaran dan timbangan dengan adil,” katanya saat menjelaskan salah satu kandungan ayat tersebut.

Menurutnya, keadilan harus menjadi prinsip yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang mengurangi timbangan atau tidak memenuhi hak orang lain, tindakan tersebut menunjukkan ketidakjujuran yang bertentangan dengan pesan yang terkandung dalam ayat.

Kajian kemudian sampai pada pesan bahwa siratal mustaqim bukan sekadar konsep yang bersifat abstrak. Jalan lurus tersebut dibangun melalui pilihan dan aktivitas manusia setiap hari, mulai dari menjaga hubungan dengan Allah, menghormati orang tua, menjaga kehidupan, berlaku jujur, hingga memenuhi janji. Prof. Waharjani menegaskan bahwa sepuluh wasiat tersebut merupakan pedoman yang perlu diikuti oleh umat Islam dalam menjalani kehidupan. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Kajian-rutin-Ahad-Pagi-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-dengan-pembicara-Prof.-Dr.-Waharjani-M.Ag_.-Foto.-Mawar.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-09-04 08:00:452026-09-04 08:00:45Menapaki Jalan Lurus melalui Sepuluh Wasiat Allah

LPSI UAD Gelar Kajian Tafsir At-Tanwir, Bedah Makna dan Keutamaan Surat Al-Baqarah Ayat 185

03/09/2026/in Feature /by Ard

Ngaji Tafsir At-Tanwir oleh Lembaga Pengembangan Studi Islam (LPSI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Septia)

Lembaga Pengkajian dan Studi Islam (LPSI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menyelenggarakan agenda rutin kajian keislaman bertajuk Ngaji Tafsir At-Tanwir pada Jumat, 28 Agustus 2026. Kegiatan yang disiarkan secara daring melalui kanal YouTube resmi LPSI UAD ini menghadirkan Niki Alma Febriana Fauzi, S.Th.I., M.Us. sebagai narasumber utama untuk membedah Tafsir Surat Al-Baqarah ayat 185.

Agenda ini diselenggarakan sebagai ikhtiar memperkuat tradisi keilmuan Islam serta memperdalam pemahaman sivitas akademika dan masyarakat luas terhadap tafsir kontekstual bercorak berkemajuan milik Persyarikatan Muhammadiyah.

Kajian diawali dengan pembukaan resmi dan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, sebelum masuk ke sesi pemaparan materi inti. Dalam penjelasannya, Niki Alma menguraikan dimensi historis dan teologis turunnya Al-Qur’an, kedudukannya sebagai petunjuk universal, serta hikmah di balik ketetapan ibadah puasa dan syariat yang memudahkan umat.

Kajian ini ditutup dengan sesi doa bersama serta penegasan pentingnya mengimplementasikan pesan-pesan Al-Qur’an dalam membangun peradaban masyarakat yang berkeadaban. (septia)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Ngaji-Tafsir-At-Tanwir-oleh-Lembaga-Pengembangan-Studi-Islam-LPSI-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Septia-1.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-09-03 08:56:172026-09-03 08:56:17LPSI UAD Gelar Kajian Tafsir At-Tanwir, Bedah Makna dan Keutamaan Surat Al-Baqarah Ayat 185

Menyelami Kedudukan Al-Qur’an dan Spirit Kemudahan Syariat

02/09/2026/in Feature /by Ard

Ngaji Tafsir At-Tanwir oleh Lembaga Pengembangan Studi Islam (LPSI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Septia)

Kedudukan Al-Qur’an sebagai petunjuk kehidupan dan prinsip kemudahan dalam syariat menjadi pembahasan utama dalam Ngaji Tafsir At-Tanwir yang diadakan Lembaga Pengembangan Studi Islam (LPSI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Jumat, 28 Agustus 2026. Kajian yang membedah Surat Al-Baqarah ayat 185 ini dipaparkan secara mendalam oleh pakar studi Islam, Niki Alma Febriana Fauzi, S.Th.I., M.Us.

Dalam pemaparannya, Niki Alma menegaskan tiga peran mendasar Al-Qur’an bagi peradaban manusia sebagaimana tertuang dalam ayat tersebut yaitu petunjuk hidup (hudan lin-nas), penjelasan rinci atas petunjuk kebenaran (bayyinatin minal-huda), serta pembeda tegas antara yang hak dan batil (al-furqan).

Ia turut mengaitkan peristiwa turunnya Al-Qur’an pada bulan Ramadan dengan keutamaan malam Lailatulqadar, di mana malam penuh kemuliaan tersebut menjadi tonggak sejarah pencerahan peradaban umat manusia.

Selain menyoroti keagungan Al-Qur’an dan Lailatulqadar, materi kajian juga mengupas prinsip taysir (kemudahan syariat) yang terkandung dalam ketentuan puasa Ramadan. Diberikannya keringanan (rukhsah) bagi umat yang sakit atau sedang dalam perjalanan (safar) menunjukkan bahwa esensi syariat Islam hadir untuk membawa maslahat, bukan membebani hamba-Nya dengan kesulitan.

Pembedahan materi yang disampaikan ini diharapkan mampu menumbuhkan cara beragama yang kritis, moderat, serta membumikan nilai-nilai Qur’ani di tengah dinamika masyarakat modern. (septia)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Ngaji-Tafsir-At-Tanwir-oleh-Lembaga-Pengembangan-Studi-Islam-LPSI-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Septia.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-09-02 09:14:272026-09-02 09:14:27Menyelami Kedudukan Al-Qur’an dan Spirit Kemudahan Syariat

Resep Istikamah Ibadah dan Menjaga Kesehatan Kerja

28/08/2026/in Feature /by Ard

Dr. H. Agus Taufiqurrohman, Sp.S., M.Kes., penceramah pengajian Maulid Nabi Muhammad saw. di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Humas UAD)

Dr. H. Agus Taufiqurrohman, Sp.S., M.Kes., menyampaikan tausiah pada pengajian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Mengusung tema “Meneladani Nabi: Menjaga Keistikamahan dalam Ibadah, Merawat Kesehatan dalam Bekerja”, Dr. Agus mengaitkan nilai-nilai kenabian dengan pola hidup sehat serta profesionalisme di tempat kerja.

Dr. Agus menekankan bahwa cinta kepada Rasulullah SAW tidak sebatas pada bacaan selawat atau mempelajari sirah semata, melainkan tercermin nyata dalam meneladani sunah beliau sebagai cara hidup serta menjaga kemuliaan ajaran Islam dalam keseharian.

Terkait kesehatan fisik, Dr. Agus menguraikan riwayat bahwa sepanjang hidupnya, Rasulullah SAW hanya mengalami sakit sebanyak tiga kali. Beliau membagikan kiat menjaga kesehatan ala Rasulullah yang relevan diterapkan para pekerja, seperti membiasakan aktif bergerak dengan jalan yang sigap dan menghindari duduk terlalu lama tanpa jeda peregangan. Selain itu, pekerja dianjurkan menjaga pola makan seimbang melalui jeda puasa untuk membakar lemak berlebih, serta menjaga kualitas tidur 6 hingga 8 jam dengan membiasakan tidur selepas Isya dan meluangkan waktu istirahat siang.

Selain kesehatan fisik, Dr. Agus turut menyoroti implementasi empat sifat wajib rasul dalam ranah profesionalisme kerja. Nilai siddiq diwujudkan melalui kejujuran dengan meniadakan plagiarisme dan manipulasi data penelitian, nilai amanah dengan menuntaskan tanggung jawab dinas, nilai tabligh melalui komunikasi yang baik sebagai kunci kepemimpinan, serta nilai fathonah dengan bekerja secara cerdas dan profesional.

Materi dipungkasi dengan penegasan hadis prinsip itqan atau bekerja secara sungguh-sungguh. Menurut Dr. Agus, derajat tertinggi seorang insan dalam bekerja adalah ketika ia meniatkan aktivitasnya sebagai sarana ibadah demi menggapai rida Allah SWT, sehingga senantiasa memberikan kinerja terbaik secara konsisten. (Septia)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Dr.-H.-Agus-Taufiqurrohman-Sp.S.-M.Kes_.-penceramah-pengajian-Maulid-Nabi-Muhammad-saw.-di-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Humas-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-28 09:08:242026-08-28 09:08:24Resep Istikamah Ibadah dan Menjaga Kesehatan Kerja

Bukan Sekadar Juara, Muhammad Ziya Ul Albab Ingin Ilmunya Memberi Manfaat

27/08/2026/in Feature /by Ard

Muhammad Ziya Ul Albab, salah satu wisudawan berprestasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Wisuda Agustus (Foto. Muhammad)

Bagi Muhammad Ziya Ul Albab, sebuah penghargaan tidak selalu menghadirkan perasaan bahagia. Ketika namanya dinobatkan sebagai salah satu wisudawan berprestasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Wisuda Agustus 2026 dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,98, ada dua perasaan yang hadir bersamaan: syukur dan kekhawatiran.

Syukur karena perjalanan panjangnya sebagai mahasiswa Program Studi Ilmu Hadis UAD akhirnya membuahkan pencapaian. Khawatir karena di balik puluhan prestasi yang telah diraih, ada satu pertanyaan yang terus ia bawa: apakah semua ilmu dan pencapaian itu benar-benar akan memberikan manfaat bagi orang lain? “Saya takut dengan sekian banyak prestasi, justru tidak memberikan manfaat bagi orang lain. Jangan sampai hanya besar di nama, besar di penghargaan, dan sering menjuarai lomba, tetapi nihil dalam kebermanfaatan bagi publik,” ujar Ziya.

Kekhawatiran itu menjadi menarik jika melihat perjalanan Ziya. Ia bukan berasal dari keluarga berada. Datang dari Riau, ia merantau ke Yogyakarta untuk menempuh pendidikan tinggi pada 2022. Jalan yang ditempuhnya tidak selalu mudah. Bahkan, sejak awal kuliah hingga prosesi wisuda, ia harus menjalani sebagian besar perjalanan tersebut seorang diri.

Abi dan Umi belum dapat hadir dalam acara wisudanya. Namun, Ziya memilih melihat pencapaiannya sebagai hadiah yang dapat ia bawa pulang untuk keduanya. Baginya, menjadi wisudawan berprestasi bukan hanya tentang dirinya, melainkan juga tentang bagaimana membuat kedua orang tuanya tersenyum. “Seorang anak dari kampung yang latar belakang ekonomi keluarganya bukan menengah ke atas, tetapi Allah memberikan rezeki sehingga bisa kuliah dan bahkan mendapatkan penghargaan tersebut. Jadi, saya sangat bersyukur karena bisa menyenangkan hati Abi dan Umi di rumah,” tuturnya.

Selama menempuh pendidikan di UAD, Ziya berhasil mengukir lebih dari 25 prestasi, mulai dari tingkat regional hingga internasional. Namun, ia tidak menganggap pencapaian tersebut datang begitu saja. Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah ketika dipercaya mewakili UAD dalam lomba pidato yang diselenggarakan oleh Radio Republik Indonesia (RRI) Yogyakarta. Kesempatan itu bermula ketika RRI mengirimkan undangan kepada UAD. Setelah melalui proses internal, Ziya mendapat kepercayaan untuk menjadi delegasi.

Perjalanannya kemudian berlanjut ke tingkat nasional di Kendari. Ia berhasil meraih juara III. Bagi Ziya, pencapaian tersebut memiliki makna tersendiri. Ia yang berasal dari Riau dan bukan asli Yogyakarta dapat membawa nama UAD dan Yogyakarta ke panggung nasional. “Rasanya luar biasa. Saya bukan orang Jogja, saya orang Riau, orang Melayu, tetapi tiba-tiba membawa nama Jogja dan UAD ke tingkat nasional,” katanya.

Cerita lain datang dari Brunei Darussalam. Kesempatan tersebut bahkan bermula dari sesuatu yang sederhana. Ketika pulang ke Dumai pada Ramadan, Ziya memutuskan membuat paspor karena memiliki uang lebih. Saat itu, ia tidak memiliki rencana pasti untuk bepergian ke luar negeri. Ia hanya berpikir, siapa tahu suatu saat paspor tersebut akan berguna.

Benar saja. Beberapa waktu kemudian, ketika kembali ke UAD, Ketua Program Studi Ilmu Hadis menghubunginya. UAD memperoleh undangan dari Universiti Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA) Brunei untuk mengirimkan delegasi dalam sebuah perlombaan. Ziya pun mengambil kesempatan tersebut. Ia mempersiapkan materi dan proposal secara mandiri. Dari Yogyakarta, ia berangkat seorang diri menuju Jakarta sebelum melanjutkan perjalanan ke Brunei.

Hasil perlombaan memang belum membawanya menjadi juara pertama, kedua, atau ketiga. Namun, ia berhasil masuk 10 besar. Lebih dari sekadar hasil kompetisi, pengalaman tersebut membuka pandangan Ziya terhadap dunia yang lebih luas. Bertemu orang-orang baru dan melihat lingkungan akademik di negara lain membuatnya mulai memiliki mimpi baru. Ia bahkan berharap dapat kembali ke Brunei untuk menempuh pendidikan magister.

“Pengalamannya luar biasa. Bertemu orang baru, melihat tempat baru, dan jadi ingin S2 ke Brunei rasanya. Doakan semoga bisa mendapatkan beasiswa ke sana, insyaallah,” ujarnya.

Bagi Ziya, mengikuti perlombaan bukan semata-mata tentang mengejar piala. Ia menemukan alasan yang lebih mendasar dari hadis Nabi Muhammad saw., “Ihrish ‘ala ma yanfa’uka,” yang bermakna bersemangatlah terhadap hal-hal yang bermanfaat bagimu.

Kompetisi, menurutnya, menjadi ruang untuk menguji kemampuan, mempelajari hal baru, sekaligus mengevaluasi diri. Karena itu, menang dan kalah merupakan bagian yang sama pentingnya dalam proses tersebut. Ia pernah mengalami masa ketika kemenangan terasa begitu jauh. Pada semester tujuh, Ziya mengikuti 13 perlombaan, tetapi hanya dua yang berhasil dimenanginya. Kondisi tersebut bahkan sempat membuat beasiswanya hampir dicabut. Alih-alih berhenti, ia menjadikan kegagalan sebagai bahan evaluasi. Baginya, ketika menang, seseorang perlu bersyukur. Ketika kalah, seseorang perlu bersabar dan kembali mencoba.

Ia juga memiliki pandangan tersendiri terhadap rasa tidak percaya diri. Menurutnya, rasa insecure tidak selamanya harus dipandang negatif. Jika diarahkan dengan tepat, perasaan tersebut dapat menjadi bahan bakar untuk belajar. Ketika melihat orang lain lebih hebat, misalnya, ia memilih bertanya kepada diri sendiri apa yang dapat dipelajari daripada terus merasa rendah diri. “Kompetisi yang sesungguhnya adalah berlomba dengan diri kita sendiri di masa lalu agar menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya,” ucapnya.

Untuk menjaga konsistensi, Ziya membangun kebiasaan sederhana. Ia berusaha memulai persiapan jauh sebelum tenggat waktu, mencatat rencana di atas kertas, serta membagi target menjadi langkah-langkah kecil. Ia menghindari kebiasaan mengerjakan segala sesuatu secara mendadak. Prinsip SMART juga ia gunakan untuk menentukan target agar tujuan yang dibuat lebih terukur dan realistis. Di atas semuanya, ia berusaha menjaga sikap ikhlas, bersyukur, dan sabar.

Di balik berbagai pencapaian tersebut, Ziya justru memiliki kekhawatiran yang cukup dalam. Ia tidak ingin prestasi membuat dirinya terlena. Baginya, kesuksesan bukan hanya tentang seberapa banyak penghargaan yang berhasil dikumpulkan. Kesuksesan adalah ketika seseorang mampu melakukan yang terbaik, terus belajar, dan memberikan manfaat kepada orang lain. Ia juga mengaitkan kesuksesan dengan konsep social interest dari Alfred Adler, yakni kepedulian, empati, dan keinginan untuk berkontribusi kepada lingkungan serta masyarakat.

Ziya merasa senang ketika berhasil mendapatkan penghargaan. Namun, ia akan merasa kurang jika hadiah dan pencapaian tersebut hanya dinikmati sendiri. Karena itu, ia berusaha menyisihkan sebagian rezekinya untuk membantu orang-orang di sekitarnya. Lebih dari itu, ada satu ukuran kesuksesan yang menurutnya jauh lebih penting: kedekatan dengan Allah. Ia khawatir seseorang justru mendapatkan banyak keberhasilan, tetapi semakin jauh dari Allah. Dalam pandangannya, keadaan tersebut jauh lebih berbahaya daripada sekadar mengalami kegagalan.

“Saya sangat khawatir jika kita terkena istidraj, ketika kita sukses dan memiliki banyak prestasi, tetapi justru semakin jauh dari Allah, malas beribadah atau mengaji. Itu yang sebenarnya sangat berbahaya,” katanya.

Selama belajar di UAD, Ziya tidak hanya menemukan pengalaman berkompetisi. Ia juga menemukan cara baru dalam memandang ilmu yang dipelajarinya. Baginya, hadis tidak semata-mata teks normatif yang berhenti pada hafalan dan kajian teoretis. Hadis harus dipahami secara aplikatif dan dapat diintegrasikan dengan berbagai bidang ilmu.

Semakin dalam mempelajari hadis, semakin ia memahami bahwa ilmu tersebut pada akhirnya mengantarkan seseorang untuk mengenal sosok Nabi Muhammad saw. Salah satu nilai yang paling ia pegang adalah kelembutan. “Nabi Muhammad adalah pribadi yang lemah lembut. Jadi, jika kita tidak lemah lembut, sebenarnya siapa yang sedang kita teladani?” tuturnya.

Pemahaman tersebut pula yang ingin ia bawa dalam perjalanan setelah lulus. Ziya berencana mendaftarkan diri dalam program beasiswa S2, dengan Brunei dan Malaysia sebagai dua negara yang menjadi pertimbangannya. Dalam jangka panjang, ia bercita-cita menjadi dosen Ilmu Hadis. Tidak hanya di Indonesia, Ziya bahkan bermimpi dapat mengajar di perguruan tinggi luar negeri.

Sebagai bagian dari keluarga besar UAD, Ziya juga menyimpan harapan untuk almamaternya. Ia berharap UAD dapat terus memberikan maslahat seluas-luasnya bagi masyarakat, khususnya mereka yang membutuhkan. Ia juga berharap UAD dapat memperluas akses dan skema beasiswa bagi mahasiswa. Menurutnya, kesempatan memperoleh pendidikan merupakan sesuatu yang sangat berarti, terutama bagi mahasiswa dengan keterbatasan ekonomi.

Selain itu, ia berharap nilai-nilai keislaman di lingkungan kampus semakin diperkuat. Sebagai perguruan tinggi Muhammadiyah yang membawa identitas Islam, menurutnya, nuansa tersebut perlu terus dihidupkan dalam kehidupan akademik. “Semoga Allah jadikan UAD bisa memberikan maslahat seluas-luasnya untuk masyarakat, untuk yang membutuhkan, dan semoga kita tidak terlena dengan gemerlapnya kemajuan kita,” ujarnya.

Perjalanan Ziya di UAD pada akhirnya bukan hanya tentang angka 3,98, lebih dari 25 prestasi, atau deretan penghargaan yang berhasil diraih. Ada proses panjang tentang merantau, belajar mandiri, menghadapi kegagalan, dan terus mencoba. Ada pula satu hal yang ingin ia pastikan setelah semua pencapaian itu: ilmu yang diperoleh tidak berhenti menjadi kebanggaan pribadi. Sebab, bagi Ziya, menjadi juara hanyalah satu bagian dari perjalanan. Bagian yang lebih penting adalah memastikan bahwa apa yang telah dipelajari dapat tumbuh menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Muhammad-Ziya-Ul-Albab-salah-satu-wisudawan-berprestasi-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-pada-Wisuda-Agustus-Foto.-Muhammad.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-27 08:38:512026-08-27 08:38:51Bukan Sekadar Juara, Muhammad Ziya Ul Albab Ingin Ilmunya Memberi Manfaat

Dhita Pratama Beberkan Pentingnya Marketing Communication untuk Perkuat Karier

20/08/2026/in Feature /by Ard

Dhita Pratama Putra wisudawan berprestasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada wisuda periode IV tahun 2026 (Foto. Dhita)

Banyak orang terjebak dalam stigma bahwa bidang keilmuan yang diambil saat kuliah adalah jalur tunggal yang membatasi masa depan. Namun, bagi Dhita Pratama Putra, S.Si., atau yang akrab disapa Dhita, ilmu bukanlah sebuah sangkar, melainkan sarana pembentuk pola pikir. Pemuda asal Kabupaten Semarang alumnus SMA N 1 Ambarawa yang menempuh pendidikan di Program Studi Fisika, Fakultas Sains dan Teknologi Terapan (FAST) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) angkatan 2020 ini berhasil membuktikan bahwa keahlian tidak mengenal batas linearitas.

Pada Wisuda Periode IV Tahun Akademik 2025/2026 yang usai dilaksanakan pada Sabtu, 1 Agustus 2026 lalu, nama Dhita menjadi sorotan setelah lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,78 dan memborong dua predikat sekaligus, yakni Wisudawan Berprestasi Akademik dan Nonakademik. Sepanjang masa studinya, ia mengumpulkan lebih dari 130 penghargaan dan gelar kehormatan yang sebagian besar justru didominasi dari kompetisi bidang komunikasi, public speaking, public relations, hingga desain poster.

Langkah awal Dhita menyeberang ke dunia digital marketing dan marketing communication (marcom) di semester dua bukanlah keputusan impulsif atau sekadar terikut tren. Semuanya berakar dari rasa penasaran mendalam yang dipupuk sejak SMA dan semakin terasah tajam saat ia masuk ke jurusan Fisika UAD.

“Sebagai mahasiswa fisika, kita terbiasa mempertanyakan kenapa suatu fenomena alam terjadi, memahami pola, ngumpulin data, sampai menarik kesimpulan,” ujar Dhita menjelaskan pola pikir ilmiah yang dibentuknya. Pola pikir inilah yang ternyata tidak hanya berlaku untuk mempelajari ilmu alam, tetapi juga dunia digital. Saat mulai bekerja sebagai Social Media Strategist di semester dua, Dhita menyadari bahwa media sosial telah berkembang menjadi ruang dinamis yang mampu membentuk opini, citra merek, hingga memengaruhi keputusan seseorang dalam hitungan detik. Fenomena tersebut membuat Dhita sadar bahwa perilaku manusia di ruang digital memiliki pola-pola menarik yang bisa dipelajari secara sistematis layaknya pola alam.

Guna memperdalam minat tersebut, Dhita mulai belajar mandiri atau secara otodidak mengenai digital marketing, content strategy, copywriting, branding, hingga analisis media sosial melalui artikel, webinar, diskusi praktisi, hingga mengambil sertifikasi profesional.

“Aku mulai dari baca artikel, ikut webinar, belajar dari praktisi, dan beberapa kali ambil sertifikasi juga. Yang penting berani coba untuk ambil proyek, jangan takut duluan kalau penasaran sama sesuatu, dan jangan cuma penasaran di awal atau Fear of Missing Out (FOMO), tapi tetap dilanjut,” tegas Dhita. Terjun di dunia marcom baginya bukanlah keputusan untuk meninggalkan fisika, melainkan membawa bekal pola pikir ilmiah ke bidang yang berbeda. “Ilmu tidak akan membatasi seseorang, karena yang paling penting bukan jurusannya, tapi gimana cara kita menggunakan ilmu dan pola pikir yang udah dibangun untuk memberikan solusi di bidang yang mau kita tekuni,” tambahnya.

Meskipun di awal sempat mengalami culture shock karena fisika berfokus pada kepastian sementara marcom berhadapan dengan perilaku manusia yang dinamis dan emosional, Dhita menyadari bahwa kedua bidang ini pada dasarnya memiliki esensi yang sama.

“Awalnya bingung karena di marcom harus belajar storytelling, branding, komunikasi persuasif, dan psikologi audiens yang beda jauh sama teoretis fisika. Tapi belakangan aku sadar, objeknya aja yang beda, fisika mempelajari perilaku alam, sedangkan marcom mempelajari perilaku manusia,” tuturnya. Latar belakang fisika justru menjadi kekuatan pembeda bagi Dhita dalam mengambil keputusan berbasis data.

“Di marcom kan mainnya data, tidak boleh asal asumsi. Kalau performa konten turun, aku tidak langsung nyimpulin algoritmanya berubah. Aku bakal ngumpulin data dulu, membandingkan jenis konten, waktu tayang, sampai engagement rate dan Click-Through Rate (CTR). Mungkin aku tidak bekerja sebagai fisikawan, tapi aku bekerja menggunakan pola pikir yang dibentuk oleh fisika itu sendiri,” jelasnya.

Menjalani peran sebagai mahasiswa fisika dengan beban akademik tinggi sembari bekerja profesional, aktif dalam penelitian, organisasi, volunteer, dan kompetisi tentu menguras energi. Untuk mengatasinya, Dhita tidak hanya mengandalkan motivasi yang cenderung naik turun, melainkan membangun sistem manajemen waktu dan prioritas yang ketat.

“Aku tidak mungkin mengandalkan motivasi aja karena motivasi bisa naik turun, sedangkan tanggung jawab berjalan setiap hari. Jadi aku membiasakan buat skala prioritas, membedakan mana pekerjaan yang benar-benar penting, mendesak, atau bisa ditunda,” ungkap Dhita. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya menjaga kesehatan mental dan keberanian untuk berkata tidak demi menghindari burnout. “Kita harus berani nolak dan jangan jadi people pleaser untuk aktivitas yang bukan tugas kita. Saat burnout, bukan berarti kita lemah, tapi itu mengajari kita untuk mengelola diri sendiri. Sehebat apapun kemampuan seseorang, akan sulit berkembang kalau tidak bisa menjaga keseimbangan antara ambisi, kesehatan, dan kehidupan pribadi,” paparnya.

Keberhasilan menyeimbangkan berbagai peran ini turut dibuktikan lewat rekam jejak prestasinya di jejaring profesional LinkedIn. Selain mengantongi lebih dari 130 penghargaan di bidang komunikasi dan akademik, Dhita memiliki pengalaman kerja profesional selama hampir 5 tahun sebagai Social Media Strategist, Digital Marketer, dan Communication Specialist. Portofolio kerja nyata yang ia bangun sejak dini, dipadukan dengan keaktifannya dalam riset interdisipliner, kepemerintahan mahasiswa, dan pengabdian masyarakat, menjadi bukti nyata dedikasinya di luar kelas.

Setelah hampir 5 tahun bergelut di industri secara learning by doing, rasa haus akan ilmu mendorong Dhita untuk memperdalam fondasi teoritisnya dengan melangkah ke jenjang S2. Ia berhasil meraih Beasiswa S2 Magister Ilmu Komunikasi dengan konsentrasi Marketing & Branding Communication di Universitas Bakrie.

“Selama 5 tahun ke belakang aku learning by doing, tapi sering bertanya ke diri sendiri, kenapa strategi ini berhasil, gimana brand membangun persepsi masyarakat, kenapa konsumen mengambil keputusan tertentu? Pertanyaan itu buat aku ingin belajar lebih dalam lewat pengalaman akademis,” tuturnya.

Langkah ini diambil bukan untuk menghentikan identitasnya sebagai lulusan fisika, melainkan untuk melengkapi perjalanan kariernya agar mampu menggabungkan pengalaman praktis di lapangan dengan landasan teori yang kokoh dan bernilai ilmiah.

Di balik semua pencapaian tersebut, Dhita memandang UAD sebagai ruang tumbuh yang sangat berharga dalam membentuk karakter dan keberaniannya keluar dari zona nyaman. “Kalau diminta mendeskripsikan UAD, aku tidak akan mengatakan UAD cuma tempat menempuh pendidikan, tapi tempat aku bertumbuh sebagai manusia dan profesional. Selama kuliah, dosen dan tendik di UAD selalu mendorong kita untuk tidak berhenti sama apa yang diajarin di kelas doang, tapi didorong aktif ikut penelitian, kompetisi, organisasi, dan pengabdian. Pengalaman di luar kelas itulah yang jadi pelengkap yang membuat proses belajar jadi lebih bermakna,” kenangnya mengapresiasi peran kampus, bimbingan dosen, serta dukungan keluarga yang tak pernah putus.

Bagi teman-teman mahasiswa yang merasa salah jurusan atau ragu mengeksplorasi karier di luar bidang studi utama, Dhita berpesan agar tidak tergesa-gesa membatasi diri hanya karena nama jurusan yang diampu. “Jangan terlalu cepat membatasi diri cuma karena nama jurusan. Dunia kerja saat ini justru semakin menghargai orang-orang dengan kemampuan lintas disiplin ilmu. Berpindah bidang itu bukan berarti memulai dari nol, karena apapun jurusan yang kita pelajari akan memberikan bekal yang berharga,” tegas Dhita.

Di penghujung perbincangan, ia memberikan pandangan reflektifnya, “Jurusan mungkin menentukan dari mana kita mulai, tapi karakter, cara berpikir, dan kemauan untuk terus belajar itu yang akan menentukan sejauh mana kita akan melangkah.” Tutupnya. (Anove)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Dhita-Pratama-Putra-wisudawan-berprestasi-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-pada-wisuda-periode-IV-tahun-2026-Foto.-Dhita.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-20 11:41:292026-08-20 11:41:29Dhita Pratama Beberkan Pentingnya Marketing Communication untuk Perkuat Karier

Hafiz Ahmad Rumalutur, Wisudawan FH UAD Dengan Segudang Prestasi Nasional

19/08/2026/in Feature /by Ard

Hafiz Ahmad Rumalutur, wisudawan Fakultas Hukum Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan segudang prestasi nasional (Foto. Hafiz)

Langkah Hafiz Ahmad Rumalutur menuju podium wisuda Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menjadi penanda tuntasnya satu tahap penting dalam hidupnya. Bagi wisudawan asal Maluku dari Program Studi Hukum, Fakultas Hukum (FH) UAD ini, momen kelulusan tersebut merupakan wujud dari mimpi kecil yang berhasil ia capai lewat proses panjang. Di balik capaian tersebut, Hafiz membawa latar belakang cerita keluarga yang mendalam. Lahir sebagai anak kedua dari saudara kembar, ia diasuh oleh kakeknya sejak berusia satu bulan. Sosok almarhum kakek dan almarhumah neneknya menjadi figur kunci yang membesarkannya dengan kasih sayang. Gemblengan kakeknya itulah yang membentuk karakter dan kemandirian Hafiz hingga saat ini.

“Pertama, saya bersyukur dan senang karena itu juga bagian dari mimpi kecil saya yang terwujud, dan pastinya sangat bangga,” tutur Hafiz saat menceritakan perasaannya dipercaya berdiri di podium pidato mewakili seluruh wisudawan UAD. “saya juga ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada sosok yang telah membentuk saya, membesarkan dengan penuh kasih sayang dengan sagu yang putih nan murni, yaitu kepada almarhum kakek dan almarhumah nenek saya tercinta.” Imbuhnya.

Meskipun pada prosesi wisuda kehadiran kedua orang tuanya diwakilkan oleh paman dan bibinya karena suatu hal, Hafiz menegaskan bahwa peran paman, bibi, serta doa dari orang tua dan keluarga besarnya tetap menjadi pilar utama dalam perjalanannya di perantauan. Memulai kuliah sebagai mahasiswa angkatan 2022, Hafiz memutuskan bergabung dengan Komunitas Peradilan Semu atau Moot Court FH UAD ‘De Verlichter’. Di organisasi inilah ia ditempa melalui berbagai persiapan lomba, hingga dipercaya menjabat sebagai Wakil Ketua periode 2024 hingga 2025. Proses ini melatihnya membagi waktu antara akademik dan kompetisi, hingga akhirnya lulus dengan predikat wisudawan berprestasi dan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) gemilang.

Rangkaian prestasi tingkat nasional berhasil ia sumbangkan untuk kampus. Pada tahun 2023, ia meraih Juara 1 Kompetisi Nasional Moot Court Peradilan Militer Sekolah Tinggi Hukum Militer (STHM) Piala Bergilir Ketua Mahkamah Agung RI dan Piala Tetap Kasad 2023, Juara 2 Tarumanagara Law Fair V Kompetisi Mediasi Tingkat Nasional Piala Bergilir Ketua Mahkamah Agung, serta Berkas Terbaik Tarumanagara Law Fair V Kompetisi Mediasi Tingkat Nasional Piala Bergilir Ketua Mahkamah Agung 2023. Berlanjut pada tahun 2024, Hafiz meraih Juara 1 dalam Kompetisi Mediasi ALSA LEX WEEKS 2024 di Universitas Padjadjaran, Berkas Terbaik dalam Kompetisi Mediasi ALSA LEX WEEKS 2024 di Universitas Padjadjaran, serta Best Mediator in the ALSA LEX WEEKS 2024 Mediation Competition di Universitas Padjadjaran. Memasuki tahun 2025, ia kembali mengukir prestasi sebagai Juara 2 dalam Kompetisi Mediasi Nasional Piala Mahkamah Agung RI Ke-VI, Berkas Terbaik dalam Kompetisi Mediasi Nasional Piala Mahkamah Agung RI Ke-VI 2025, Juara 3 Kompetisi Surat Gugatan Legal Manuscript Contest 2025, Juara 1 Berkas Penasihat Hukum Terbaik National Moot Court Competition Anti Human Trafficking Piala Prof. Hilman Hadikusuma 2025, serta Penasihat Hukum Terbaik National Moot Court Competition Anti Human Trafficking Piala Prof. Hilman Hadikusuma 2025.

Bagi Hafiz, seluruh pencapaian ini merupakan buah dari konsistensi, ambisi yang kuat, kerja keras, dan doa keluarga.

“Kerja keras tanpa ambisi yang kuat itu biasa-biasa saja, dan ambisi yang kuat tanpa kerja keras hanyalah sebuah mimpi. Akan tetapi, kerja keras ditambah ambisi yang kuat, disisipi doa, sesuatu yang besar menanti di depan sana,” tutur Hafiz mengenai prinsip yang selalu ia pegang.

Menutup masa studinya, Hafiz menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada para dosen, sivitas akademika UAD, masyarakat Yogyakarta, serta organisasi daerah seperti Ikatan Pelajar Mahasiswa Seram Bagian Timur Yogyakarta dan Paguyuban Keluarga Mahasiswa Fakfak Papua se-Yogyakarta yang telah menjadi rumah keduanya. Tak lupa, apresiasi setinggi-tingginya ia tujukan untuk senior dan rekan di Komunitas Peradilan Semu FH UAD. Berbekal pengalaman tersebut, Hafiz kini mantap menatap langkah selanjutnya.

“Insyaallah saya mau berkarir di Jakarta mengejar cita-cita saya yakni menjadi seorang pengacara atau advokat yang menegakkan keadilan, membela yang seharusnya dibela, dan sekaligus melanjutkan studi di sana,” pungkasnya. (Anove)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Hafiz-Ahmad-Rumalutur-wisudawan-Fakultas-Hukum-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-dengan-segudang-prestasi-nasional-Foto.-Hafiz.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-19 08:50:252026-08-19 08:50:25Hafiz Ahmad Rumalutur, Wisudawan FH UAD Dengan Segudang Prestasi Nasional

Di Balik Deretan Prestasi, Ada Perjalanan yang Tidak Sederhana

19/08/2026/in Feature /by Ard

Andi Bintang Toar Dondok, wisudawan berprestasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada wisuda periode IV 2026 (Foto. Andi)

Tidak semua perjalanan dimulai dengan gemuruh. Ada langkah-langkah yang tumbuh perlahan, ditemani doa orang tua, kerja keras yang sunyi, dan keyakinan bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan tulus akan menemukan jalannya. Bagi Andi Bintang Toar Dondok, lulusan Program Studi Informatika Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,83, perjalanan selama menempuh pendidikan menjadi kisah tentang ketekunan, keberanian mencoba, dan semangat untuk terus memberi dampak.

“Saya sangat bersyukur kepada Tuhan atas anugerah luar biasa ini. Menjadi wisudawan berprestasi merupakan kebanggaan tersendiri bagi saya dan saya memaknainya sebagai bentuk keberkahan atas proses yang telah saya jalani selama ini,” ungkapnya.

Bagi Bintang, bangku kuliah bukan hanya ruang untuk belajar teori, tetapi juga tempat untuk menumbuhkan mimpi, mengasah kemampuan, dan menjelajahi berbagai kesempatan. Selama berkuliah, ia berhasil mengukir lebih dari 60 prestasi di tingkat nasional maupun internasional.

Sejumlah capaian yang berhasil diraihnya antara lain Gold Medal Finalist pada ajang Final Pitching Sustainable Development Goals (SDGs) yang diselenggarakan Universiti Kebangsaan Malaysia melalui inovasi Zero-C, sebuah platform carbon trading untuk perdagangan karbon dunia. Ia juga berpartisipasi dalam UMPSA x Huawei AppGallery Mobile App Competition di Malaysia, meraih prestasi pada Toba Essay Competition, National Essay Competition INSPIER 2023, serta berbagai kompetisi karya tulis ilmiah dan inovasi.

Tidak hanya itu, Bintang turut menorehkan prestasi pada sejumlah kejuaraan karate tingkat nasional dan internasional, seperti Mageti Open International Karate Championship 2024, WTA Open Karate Championship, Wimaya International Karate Championship 2023, Bali Badung Open Karate International Championship 2023, hingga Gadjah Mada Open Karate Championship 2023. Semangat inovasinya juga melahirkan sejumlah karya yang telah memperoleh pencatatan hak cipta, di antaranya TOUCH BRAILLE, REDUx, Sistem Manajemen Gudang Otomatis,  Sistem Pencarian Referensi Jurnal Ilmiah, dan HALAL TRACKER.

Di antara puluhan pencapaian tersebut, satu momen yang paling membekas baginya adalah ketika menjadi satu-satunya peraih Gold Medal Finalist dalam ajang Final Pitching SDGs di Universiti Kebangsaan Malaysia.

“Pada kesempatan itu, saya dan tim mempresentasikan inovasi di hadapan peserta terbaik dari berbagai negara. Rasanya bangga karena bisa membawa nama Indonesia untuk bersaing di tingkat internasional,” tuturnya.

Tidak ada pencapaian yang lahir dalam semalam. Di balik deretan prestasi itu, tersimpan hari-hari yang dipenuhi jadwal akademik, praktikum hingga enam kali dalam sepekan, persiapan kejuaraan karate internasional, kegiatan akademik berskala internasional, hingga amanah sebagai Badan Pengurus Harian UKM Karate. Ada saat ketika semua tanggung jawab itu datang bersamaan dan membuatnya merasa sangat lelah, bahkan hampir menyerah.

Namun, di tengah kepadatan tersebut, Bintang memilih kembali mengingat alasan mengapa ia memulai semuanya. Ia mulai menyusun ulang prioritas melalui konsep priority pyramid, menempatkan akademik sebagai fokus utama, kemudian perlombaan dan organisasi. Dari sana, ia belajar bahwa keberhasilan bukan tentang melakukan semuanya sekaligus, melainkan mengetahui kapan harus melangkah dan kapan harus memberi ruang bagi diri sendiri untuk tetap bertahan.

Setiap langkah yang berhasil ia tempuh tidak pernah benar-benar ia lalui sendirian. Ada doa kedua orang tua, Bambang Hayanto dan Fonny Dondok, yang selalu menguatkan, dukungan kakak dan adik yang menjadi tempat berbagi semangat, serta para dosen, mentor, dan sahabat yang senantiasa hadir ketika perjalanan terasa berat. Kehadiran mereka menjadi pengingat bahwa di balik setiap keberhasilan, selalu ada banyak tangan yang ikut mendorong seseorang untuk terus melangkah.

Dalam kesehariannya, Bintang membiasakan diri hidup dengan disiplin. Selain menerapkan manajemen prioritas, ia rutin berolahraga dan berjalan pagi agar tubuh serta pikirannya tetap siap menghadapi berbagai aktivitas. Baginya, menjaga kesehatan fisik dan mental sama pentingnya dengan mengejar prestasi. Di atas semua itu, ia percaya bahwa doa dan kebiasaan berbuat baik kepada sesama adalah kekuatan yang memudahkan setiap proses yang dijalaninya.

Setelah lulus, Bintang ingin terlebih dahulu mengembangkan karier profesional, kemudian melanjutkan studi magister di Eropa. Baginya, pendidikan bukanlah tujuan akhir, melainkan bekal untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan.

Bintang berharap UAD terus melangkah menjadi perguruan tinggi yang tidak hanya unggul di tingkat nasional, tetapi juga semakin diperhitungkan di kancah internasional. Menurutnya, kampus memiliki peran penting dalam melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki semangat untuk terus belajar, menjelajah, dan memberi makna melalui setiap karya yang dihasilkan.

Lebih dari sekadar ilmu pengetahuan, Bintang merasa kampus telah mengajarkannya cara memandang kehidupan. Lingkungan yang terbuka, dukungan dari berbagai pihak, serta toleransi terhadap perbedaan agama, suku, ras, dan budaya membentuknya menjadi pribadi yang lebih menghargai keberagaman dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Andi-Bintang-Toar-Dondok-wisudawan-berprestasi-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-pada-wisuda-periode-IV-2026-Foto.-Andi.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-19 08:41:112026-08-19 08:42:07Di Balik Deretan Prestasi, Ada Perjalanan yang Tidak Sederhana

Kemerdekaan Bukan Sekadar Perayaan: Belajar Delayed Gratification dari Semangat Para Pejuang

19/08/2026/in Feature /by Ard

Foto Ilustrasi (Sumber. Chat GPT)

Penulis: Marta Pujiono

Mahasiswa Pascasarjana Bimbingan dan Konseling UAD Yogyakarta

Setiap bulan Agustus, langit Indonesia dihiasi bendera merah putih dan jalanan dipenuhi berbagai perlombaan sebagai simbol perayaan kemerdekaan. Namun, di balik kemeriahan tersebut, tersimpan sebuah esensi filosofis yang sering kali terlupakan oleh generasi masa kini: kemerdekaan adalah hasil dari kemampuan luar biasa para pejuang untuk menunda kenyamanan pribadi demi pencapaian yang jauh lebih besar di masa depan. Dalam psikologi modern, kemampuan ini dikenal sebagai delayed gratification.

Jika kita menelusuri sejarah, sosok Panglima Besar Jenderal Soedirman adalah representasi nyata dari pengendalian diri dan pengorbanan. Bayangkan seorang pemimpin yang tetap memilih bergerilya di tengah hutan dalam kondisi fisik yang sangat lemah dan paru-paru yang hanya berfungsi sebelah. Secara logika manusiawi, imbalan instan (immediate reward) bagi Soedirman saat itu adalah beristirahat di kota dan menjalani perawatan medis yang layak sebagaimana disarankan Presiden Soekarno.

Namun, Soedirman memilih menolak kenyamanan sesaat itu demi tujuan jangka panjang yang lebih mulia kedaulatan penuh bangsa Indonesia. Ia menunjukkan bahwa kepuasan sejati bukanlah apa yang bisa dinikmati saat ini, melainkan keberhasilan mencapai visi besar melalui disiplin, keteguhan prinsip, dan pantang menyerah. Inilah bentuk tertinggi dari delayed gratification kemampuan menolak godaan kenyamanan demi kemerdekaan yang hakiki.

Ironisnya, semangat tersebut kini menghadapi tantangan berat di era digital. Masyarakat modern, terutama generasi muda, terjebak dalam budaya serba instan yang dipicu oleh teknologi dan media sosial. Fenomena ini menciptakan preferensi yang bias pada masa kini (present-biased preference), di mana individu lebih mementingkan kepuasan cepat daripada persiapan masa depan.

Data dan lanskap empiris sepanjang periode 2025–2026 menyajikan sebuah alarm bagi dunia pendidikan kita, dominasi hiburan digital mulai dari gim hingga adiksi media sosial kini menjadi pemicu utama maraknya prokrastinasi akademik di ruang-ruang kelas lemahnya kapasitas siswa dalam menunda kepuasan instan (delay of gratification). Ditambah rapuhnya kontrol diri membuat manajemen waktu mereka lumpuh di hadapan layar gawai, sehingga kewajiban menuntaskan tugas-tugas sekolah kerap terabaikan.

Jika ekosistem pendidikan gagal menghadirkan intervensi nyata berupa penguatan regulasi diri dan literasi digital yang masif, kita tidak hanya sedang menghadapi ancaman erosi prestasi akademik, tetapi juga mempertaruhkan redupnya daya juang (grit) yang selama ini menjadi fondasi karakter bangsa.

Penelitian psikologi menegaskan bahwa delayed gratification bukanlah sekadar kemampuan menunggu, melainkan keterampilan psikososial krusial yang berdampak besar pada perjalanan hidup seseorang. Individu yang mampu menunda kepuasan cenderung memiliki regulasi diri yang lebih baik, lebih tahan terhadap frustrasi, dan mencapai hasil akademik yang lebih tinggi.

Dalam konteks pendidikan di Indonesia, kemampuan ini sering kali berjalan beriringan dengan growth mindset—keyakinan bahwa kecerdasan dan kemampuan dapat dikembangkan melalui usaha keras. Siswa yang memiliki kombinasi kedua hal ini terbukti lebih resilien menghadapi tantangan dan tidak mudah menyerah saat menemui kegagalan, persis seperti mentalitas para pejuang kita terdahulu.

Menginternalisasi nilai-nilai kejuangan Jenderal Soedirman ke dalam pendidikan karakter bukan berarti kita harus memanggul senjata di hutan. Di era sekarang, “medan gerilya” kita adalah meja belajar, ruang kerja, dan layar gawai kita masing-masing. Merdeka berarti kita berdaulat atas keinginan impulsif diri sendiri.

Kemerdekaan sejati adalah ketika seorang siswa mampu menunda keinginan bermain gadget demi belajar dengan tenang. Kemerdekaan adalah saat kita mampu merencanakan keuangan masa depan daripada terjebak perilaku konsumtif sesaat. menunda kepuasan adalah tentang menetapkan tujuan, memantau diri, dan merefleksikan setiap tindakan demi hasil yang lebih bermakna.

Sebagai bangsa yang lahir dari darah dan air mata para pejuang, merayakan kemerdekaan seharusnya menjadi momentum untuk berefleksi sejauh mana kita telah memerdekakan diri dari godaan kepuasan instan? Mari kita teladani semangat Jenderal Soedirman dengan membangun disiplin diri yang kuat. Sebab, masa depan bangsa ini tidak ditentukan oleh seberapa meriah perayaan Agustus kita, melainkan oleh seberapa mampu kita mengendalikan diri hari ini demi kejayaan Indonesia di masa depan.

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Foto-Ilustrasi-Sumber.-Chat-GPT.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-19 07:19:372026-08-19 07:19:37Kemerdekaan Bukan Sekadar Perayaan: Belajar Delayed Gratification dari Semangat Para Pejuang

Mengenal Suster Felika, Biarawati yang Menempuh Studi di UAD

18/08/2026/in Feature /by Ard

Suster M. Felika Laia, Biarawati yang menempuh studi di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Felika)

Kehadiran Suster M. Felika Laia, SCMM., di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) memberikan warna tersendiri. Anggota Kongregasi Suster-suster dari Maria Bunda yang Berbelaskasih yang kini tinggal di Komunitas Santa Sesilia Yogyakarta ini merupakan mahasiswa aktif Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UAD angkatan 2024.

Alasan utama Sr. Felika mantap memilih UAD adalah keterbukaan kampusnya. Menurutnya, UAD sejak awal menerima mahasiswa dari berbagai latar belakang tanpa membeda-bedakan.

“UAD sangat toleran dan menerima siapa saja yang kuliah di sini dengan berbagai keberagaman, baik itu suku, bahasa, maupun agama,” ujar Sr. Felika.

Selama berkuliah, Sr. Felika mengaku tetap merasa nyaman beraktivitas di lingkungan kampus. Salah satu hal yang membuatnya merasa dihargai adalah kebebasan untuk tetap mengenakan pakaian kebiaraannya saat mengikuti kegiatan akademik.

“Sebagai biarawati yang tetap mengenakan pakaian kebiaraan di kampus Islam, saya merasa senang dan bisa belajar dengan nyaman karena saya diterima apa adanya. Saya tidak dipaksa menggunakan pakaian yang selayaknya digunakan oleh seorang Muslim, tetapi saya masih diperbolehkan tetap menggunakan jubah saya sebagai biarawati dan tetap studi di UAD. Itulah yang membuat saya senang dan bahagia, bahwa artinya saya tetap dihargai meskipun beda agama dengan mereka,” jelasnya.

Sikap terbuka juga ia rasakan dari para dosen dan sesama mahasiswa di ruang kelas. Penerimaan yang baik dari lingkungan sekitar membuat proses belajar mengajar berjalan lancar. Dalam kesehariannya di kampus, Sr. Felika pun berusaha membangun komunikasi yang aktif dengan teman-teman seangkatannya.

“Terkait dengan respon dosen dan teman-teman pas pertama kali dan selama kuliah bersama itu menyenangkan. Karena para dosen di UAD itu baik dan sangat toleransi sekali. Apalagi dengan teman-teman, saya tetap mencoba memberikan yang terbaik untuk mereka. Kalau saya mengalami kesulitan, saya terus terang mengatakannya kepada mereka,” ungkapnya.

Bagi Sr. Felika, pengalaman paling berkesan selama menjadi mahasiswa UAD adalah rasa saling menghargai yang ia dapatkan setiap hari. Berdasarkan pengalaman positif dan momen yang membuatnya merasa nyaman dan diterima di UAD tersebut, ia mendorong calon mahasiswa dari berbagai latar belakang untuk menempuh studi di UAD.

“Pengalaman saya selama di UAD menyenangkan. Mari kuliah di UAD, kuliahnya seru karena para dosen dan teman-teman sangat menyenangkan dan mereka sangat menghargai perbedaan,” tutupnya.

Kehadiran dan pengalaman Sr. Felika menjadi bukti nyata UAD sebagai perguruan tinggi yang inklusif. Meskipun berdiri di atas landasan nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyahan, UAD terus membuktikan diri sebagai ruang belajar yang terbuka, ramah, serta menghargai keberagaman bagi seluruh akademisinya tanpa membedakan latar belakang agama, suku, maupun budaya. (Anove)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Suster-M.-Felika-Laia-Biarawati-yang-menempuh-studi-di-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Felika.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-18 11:34:022026-08-18 11:34:02Mengenal Suster Felika, Biarawati yang Menempuh Studi di UAD
Page 1 of 78123›»

TERKINI

  • Digitalisasi Layanan Desa, Mahasiswa FKM UAD Luncurkan SI-WARAS di Festival Kesehatan Caturharjo05/09/2026
  • PCM Gatak Sukoharjo Kunjungi UAD, Perkuat Nilai Islam dan Kemuhammadiyahan05/09/2026
  • KKN UAD dan UMY Tanam Harapan melalui Penyaluran Bibit Cabai di Mertelu Kulon04/09/2026
  • KKN Internasional UAD Dorong Pendidikan dan Pertukaran Budaya di Thailand04/09/2026
  • Prodi Informatika UAD Selenggarakan Sosialisasi Kurikulum Terbaru04/09/2026

PRESTASI

  • Buat Inovasi Pendidikan dan Literasi, Mahasiswa UAD Raih Tiga Prestasi Nasional20/08/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Gold dan Silver Medal pada Essay National Competition 202619/08/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara II Lomba Poster Edukatif Kesehatan Mental18/08/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara I Lomba Baca Puisi Dahlan Culture Festival 202608/08/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara 3 Cakrawala National Essay Competition31/07/2026

FEATURE

  • Menapaki Jalan Lurus melalui Sepuluh Wasiat Allah04/09/2026
  • LPSI UAD Gelar Kajian Tafsir At-Tanwir, Bedah Makna dan Keutamaan Surat Al-Baqarah Ayat 18503/09/2026
  • Menyelami Kedudukan Al-Qur’an dan Spirit Kemudahan Syariat02/09/2026
  • Resep Istikamah Ibadah dan Menjaga Kesehatan Kerja28/08/2026
  • Bukan Sekadar Juara, Muhammad Ziya Ul Albab Ingin Ilmunya Memberi Manfaat27/08/2026

TENTANG | KRU | KONTAK | REKAPITULASI

Scroll to top