• TERKINI
  • UAD BERDAMPAK
  • PRESTASI
  • FEATURE
  • OPINI
  • MEDIA
  • KIRIM BERITA
  • Menu
News Portal of Universitas Ahmad Dahlan

Meneladani Keteguhan dan Keluhuran Akhlak Rasulullah di Tengah Pemboikotan

12/10/2026/in Feature /by Ard

Ust. Hendra Darmawan, S.Pd., M.A dalam Kajian Ahad Pagi di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Septia)

Keteladanan Rasulullah saw. dalam menghadapi tekanan dakwah menjadi pokok bahasan Kajian Rutin Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) bertema “Bersama Rosulullah–Ma’al Musthofa”. Kajian pada Minggu, 4 Oktober 2026, di Masjid Islamic Center Kampus IV UAD itu disiarkan langsung melalui kanal YouTube Takmir Masjid Ahmad Dahlan UAD.

Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta, Ustaz Hendra Darmawan, S.Pd., M.A., membuka materi dengan hadis bahwa seseorang akan dibangkitkan bersama orang yang dicintainya dan bahwa cara beragama seseorang bergantung pada temannya. Menurut Hendra, jemaah perlu memilih lingkar pertemanan yang menggugah semangat keislaman.

Cinta kepada Rasulullah, lanjut Hendra, tumbuh melalui pengenalan. “Kecintaan itu akan tumbuh dengan pengetahuan,” tuturnya. Ia memaparkan tiga sifat Rasulullah, yaitu asja’ an-nas (paling pemberani), ajwad an-nas (paling dermawan), dan akram an-nas (paling baik), serta ajaran untuk menyambung silaturahim dengan yang memutusnya, memberi kepada yang kikir, dan memaafkan yang menzalimi.

Ia kemudian mengisahkan pemboikotan terhadap Rasulullah dan pengikutnya. Setelah Hamzah dan Umar bin Khattab masuk Islam, para pemimpin kafir Quraisy menyepakati piagam yang melarang transaksi ekonomi dengan mereka, lalu menggantungnya di Ka’bah. Keluarga Rasulullah mengalami kelaparan hingga lima anggota keluarga akhirnya berani menggugat piagam tersebut.

Hendra mengaitkan peristiwa itu dengan Surah Al-Qamar ayat 2 dan Surah Al-Fath tentang hamiyatal jahiliyah (penolakan terhadap kebenaran), yang disusul turunnya ketenangan dari Allah Swt. kepada Rasulullah dan kaum mukminin. Ia juga menyebut tawaran harta, kekuasaan, dan wanita yang diajukan agar Rasulullah meninggalkan dakwah.

Dalam sesi tanya jawab, seorang jemaah menanyakan peringkat Rasulullah sebagai tokoh paling berpengaruh dalam buku Michael Hart. Hendra menjelaskan bahwa dalam 22 tahun 2 bulan 22 hari, atau dibulatkan 23 tahun, Rasulullah tidak sekadar mengubah, tetapi melakukan transformasi (transformation) masyarakat yang jauh dari peradaban menuju masyarakat beradab.

Sebagai pesan utama, Hendra mengajak jemaah mempertahankan hidayatut taufik, yakni petunjuk Allah berupa agama Islam, dengan sekuat tenaga. “Apa yang kita perjuangkan hari ini belum seberapa dengan apa yang Rasul dan para sahabat alami,” tegasnya. (Septia)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Ust.-Hendra-Darmawan-S.Pd_.-M.A-dalam-Kajian-Ahad-Pagi-di-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Septia.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-10-12 08:52:592026-10-12 08:52:59Meneladani Keteguhan dan Keluhuran Akhlak Rasulullah di Tengah Pemboikotan

Kesederhanaan yang Menjadi Pilihan Hidup Rasulullah

06/10/2026/in Feature /by Ard

Kajian Rutin Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan pemateri Ustaz H. Ali Yusuf (Foto. Vita)

Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) mengadakan Kajian Rutin Ahad Pagi, 27 September 2026. Kajian ini mengambil tema “Nabi saw. Itu Kaya atau Miskin?” dengan pemateri Ustaz H. Ali Yusuf, S.Th.I., M.Hum. Pada kajian kali ini, ia memberikan penjelasan mengenai kesederhanaan hidup Rasulullah serta hadis-hadis mengenai kehidupan beliau.

Sebagai pembuka, Ustaz Ali memberikan penjelasan mengenai makna dari kata “miskin”. Ia mengatakan bahwa kata miskin dalam masyarakat kita memiliki artian negatif. Orang yang tidak memiliki harta dan tidak berkecukupan dikatakan sebagai miskin oleh masyarakat. Terlebih lagi dengan adanya standar kemiskinan yang dibuat oleh pemerintah, masyarakat akhirnya mulai menilai seseorang dengan menggunakan standar tersebut.

Namun, Ustaz Ali kembali menegaskan kalau hal itu hanya stigma masyarakat yang terbentuk dari kebiasaan atau apa yang mereka lihat dan dengar di lingkungan. Ia juga memberikan contoh kasus yang sering terjadi di masyarakat. “Kalau orang datang ke psikolog dianggapnya stres, dianggapnya itu punya ya, gejala ODGJ,” ujarnya.

“Kata ‘miskin’ jangan sampai menjadi stigma, stigma yang negatif kepada Nabi,” ujarnya lagi.

Pernyataan tersebut kemudian mengarah pada satu pertanyaan, apakah Nabi saw. itu kaya atau miskin?

Dalam suatu riwayat, Nabi saw. sudah menjadi yatim sejak lahir. Semasa kecil, beliau juga bekerja sebagai penggembala, pekerjaan yang umum dilakukan penduduk Mekah saat itu. Riwayat lain menyebutkan bahwa selama dua bulan, rumah Nabi saw. tidak mengeluarkan asap. Hal ini dimaknai kalau selama dua bulan itu, beliau tidak memasak.

Terdapat tiga istilah untuk memberikan gambaran mengenai jawaban dari pertanyaan sebelumnya. Pertama adalah al-faqru yang berarti kefakiran atau kemiskinan. Kedua adalah al-ghina yang artinya kekayaan atau berkecukupan. Yang terakhir, zuhud berarti orang yang memilih hidup sederhana meski memiliki harta. Dalam hal ini, Rasulullah tidak menjadikan harta sebagai prioritas dan memilih untuk hidup zuhud.

Hal ini dijelaskan pula dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi. Dalam riwayat itu, Rasulullah dikatakan mengganjal perut dengan dua batu untuk menahan lapar. Hadis lain juga dijelaskan kalau Nabi saw. sering berpuasa karena tidak ada makanan di rumah. Dalam satu hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari, dikatakan bahwa Rasulullah pernah menggadaikan bajunya dengan gandum.

Menjelang akhir kajian, pembahasan berlanjut dengan hadis yang mengatakan kalau Rasulullah pernah berdoa agar dijadikan orang miskin dan berkumpul bersama mereka. Hal itu karena proses perhitungan amal mereka jauh lebih cepat dibandingkan orang kaya. Miskin yang dimaksudkan dalam doa beliau ini adalah hidup sederhana tanpa bergelimangan harta. Rasulullah juga mengatakan demikian sebagai bentuk rendah diri di hadapan Allah Swt.

Untuk menutup kajian, Ustaz Ali menegaskan bahwa Rasulullah memiliki harta yang banyak, tetapi beliau tidak suka menyimpan hartanya lama-lama dan menggunakannya untuk disumbangkan. Namun, beliau juga tidak bisa dikatakan miskin. Rasulullah memilih untuk zuhud sebagai pilihan hidupnya. Ustaz Ali juga mengajak para jemaah agar tidak memberikan label bahwa Rasulullah itu miskin. Itu adalah bentuk kesederhanaan Rasulullah. Ia juga menekankan kalau Rasulullah tidak menyukai kefakiran karena bisa menyebabkan kufur. (vit)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Kajian-Rutin-Ahad-Pagi-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-dengan-pemateri-Ustaz-H.-Ali-Yusuf-Foto.-Vita.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-10-06 08:18:072026-10-06 08:18:07Kesederhanaan yang Menjadi Pilihan Hidup Rasulullah

Runtuhkan Sekat Pembatas, Dekan FKIP UAD Tekankan Kolaborasi Pendidikan yang Berdampak

28/09/2026/in Feature /by Ard

Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Muhammad Sayuti, M.Pd., M.Ed., Ph.D. (Foto. Humas UAD)

Menuntut ilmu hingga ke jenjang perguruan tinggi bukan sekadar rutinitas mengejar gelar. Pesan itulah yang ditekankan Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Muhammad Sayuti, M.Pd., M.Ed., Ph.D. dalam agenda Good Talk Off Air di Museum Muhammadiyah Kampus IV UAD, Kamis, 24 September 2026. Ia menegaskan bahwa esensi sejati dari belajar adalah kemampuan menyelesaikan persoalan nyata di tengah masyarakat (problem solving).

Namun dalam kenyataannya, apa yang dipelajari di kampus sering kali belum terhubung dengan kebutuhan warga di lapangan. Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa yang berulang dari tahun ke tahun menjadi salah satu bukti bahwa banyak persoalan mendasar di desa belum terselesaikan secara berkelanjutan.

“Berapa puluh tahun mahasiswa datang silih berganti KKN di sebuah desa, tetapi masalah sampah dan problem mendasar di kampung itu nyatanya tidak pernah benar-benar tuntas. Di satu sisi, riset akademisi sering kali hanya berhenti di atas kertas tanpa menyentuh persoalan riil masyarakat,” ungkapnya.

Ia melihat pangkal masalahnya terletak pada kebiasaan kerja yang masih terkotak-kotak dan berjalan sendiri-sendiri. Pemerintah daerah berjalan dengan programnya sendiri, kampus sibuk dengan target akademiknya, dan masyarakat bergelut sendirian dengan problem hariannya. Ibarat deretan tiang kabel di pinggir jalan yang saling tumpang tindih tanpa keterpaduan, semua pihak berjalan masing-masing tanpa menyambung ke titik temu yang sama.

Dari kegelisahan itulah, Sayuti menawarkan arah gerak baru melalui tiga pilar kolaborasi konkret. Pertama, menyatukan langkah kampus, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam program multitahun yang berbasis pada misi riil daerah. Kedua, membangun relasi kampus dan industri yang bermakna, bukan sekadar penandatanganan lembaran MoU atau magang formalitas, melainkan perancangan kurikulum bersama yang selaras dengan kebutuhan zaman. Ketiga, meruntuhkan tembok pembatas antarkampus agar perguruan tinggi bisa duduk bersama, saling berjejaring, dan menggagas aksi nyata kolektif seperti KKN bersama demi menyelesaikan persoalan publik.

Di tengah dinamika kebijakan yang kerap berubah, Sayuti menaruh harapan besar di pundak generasi muda untuk berani memutus mata rantai budaya jalan sendiri-sendiri tersebut. Baginya, transformasi pendidikan tidak bisa ditunggu dari atas, melainkan harus dimulai dari fondasi yang paling mendasar, yakni membangun budaya mutu dan menjunjung tinggi kehormatan ilmu pengetahuan.

“Kunci terpenting yang perlu kita bawa pulang adalah prinsip 3M: mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai saat ini. Bekali anak-anak kita dengan kecakapan learning to learn, kemampuan untuk terus belajar mandiri. Karena hanya dengan menghargai ilmu dan berkolaborasi secara konkret, peradaban bangsa ini dapat benar-benar melangkah maju,” pungkasnya. (Ito)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Dekan-Fakultas-Keguruan-dan-Ilmu-Pendidikan-FKIP-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Muhammad-Sayuti-M.Pd_.-M.Ed_.-Ph.D.-Foto.-Humas-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-09-28 08:56:352026-09-28 08:58:02Runtuhkan Sekat Pembatas, Dekan FKIP UAD Tekankan Kolaborasi Pendidikan yang Berdampak

Menelusuri Hakikat dan Empat Tanda Kebahagiaan di Dunia

15/09/2026/in Feature /by Ard

Kajian Rutin Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan pembicara Ustaz Rahmadi Wibowo Suwarno (Foto. Itoshiko)

Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menggelar Kajian Rutin Ahad Pagi pada Ahad, 13 September 2026. Kajian yang mengusung tema “Hadis-Hadis Tentang Kebahagiaan” ini menghadirkan Ustaz Rahmadi Wibowo Suwarno, Lc., M.A., M.Hum., Ph.D. sebagai pemateri. Di hadapan para jamaah, ia mengupas tuntas makna kebahagiaan sejati serta tanda-tandanya di dunia berdasarkan kacamata hadis.

Mengawali materinya, Ustaz Rahmadi mengajak jamaah untuk membedakan antara kenikmatan dan kebahagiaan. Menurutnya, kenikmatan bersifat fisik, dirasakan oleh panca indra, dan biasanya hanya bertahan sesaat sesudah dikonsumsi atau dilihat. Sebaliknya, kebahagiaan memiliki ruang yang istimewa di dalam hati atau jiwa, serta memancarkan rasa yang jauh lebih tahan lama. “Bahagia itu tempatnya di dalam hati,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia memaparkan definisi bahagia atau as-sa’adah yang mencakup tiga hal utama, yakni ketenangan jiwa (sakinatun nafsi), ketentraman hati (tumaninah al-qalbi), dan kelapangan dada (insyirahus-sadri). Tiga ketenangan batin tersebut dapat diraih melalui perilaku yang istikamah dalam kebaikan serta upaya untuk terus mendekatkan diri kepada Allah SWT. Seseorang yang bahagia akan memiliki kelapangan dada selayaknya samudra yang luas dan dalam, sehingga ia lebih mudah memaafkan, tidak sedih berlarut-larut akan masa lalu, dan menatap masa depan dengan penuh harapan.

Penyampaian Ustaz Rahmadi semakin menarik ketika ia membeberkan empat tanda kebahagiaan di dunia sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah saw. Tanda pertama adalah memiliki tetangga yang baik (al-jaru as-shalih), yang membuat hidup bermasyarakat terasa aman dan tenteram. Tanda kedua ialah memiliki kendaraan yang nyaman (al-markabu al-hani’), sehingga memudahkan mobilitas seseorang untuk beribadah maupun menyambung tali silaturahmi.

Tanda kebahagiaan yang ketiga adalah memiliki rumah yang luas (al-maskanu al-wasi’). Ustaz Rahmadi menekankan bahwa kelapangan rumah ini tidak melulu soal ukuran bangunan fisik, melainkan tentang cara memandangnya dan suasana yang dibangun di dalamnya. Rumah yang luas adalah rumah yang terasa lapang di dada karena kerap diisi dengan aktivitas kebaikan, seperti merutinkan salat sunah dan menderas Al-Qur’an. Sementara itu, tanda kebahagiaan yang terakhir adalah anugerah berupa pasangan yang saleh atau salehah (al-mar’atu as-shalihah), yang senantiasa membawa kebermanfaatan bagi keluarga.

Pesan-pesan kebahagiaan ini menjadi penutup kajian yang menyejukkan hati para jamaah. Melalui penjabaran hadis tersebut, terselip pesan bahwa kebahagiaan sejati bermula dari hati yang bertaut kepada Sang Pencipta. Kajian ini diharapkan mampu memupuk rasa syukur jamaah untuk terus memakmurkan batin dalam kehidupan sehari-hari demi meraih kebahagiaan paripurna di dunia dan akhirat. (Ito)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Kajian-Rutin-Ahad-Pagi-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-dengan-pembicara-Ustaz-Rahmadi-Wibowo-Suwarno-Foto.-Itoshiko.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-09-15 11:19:312026-09-15 11:19:31Menelusuri Hakikat dan Empat Tanda Kebahagiaan di Dunia

Memaknai Singkatnya Kehidupan dan Rahmat Berlimpah Menuju Surga

10/09/2026/in Feature /by Ard

Kajian Rutin Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan pembicara Ustaz Rofiul Wahyudi (Foto. Itoshiko)

Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menggelar Kajian Rutin Ahad Pagi pada Ahad, 6 September 2026. Kajian kali ini menghadirkan perwakilan Majelis Tabligh PWM DIY sekaligus Dosen PBS UAD, Ust. Rofiul Wahyudi, S.E.I., M.E.I., Ph.D., yang mengusung tema “Dunia Sementara Akhirat Selamanya”. Di hadapan para jamaah, ia mengajak umat Islam untuk merenungkan kembali esensi hidup di dunia yang serba singkat sebagai bekal menuju keabadian di akhirat.

Mengawali kajian dengan penuh kehangatan, Ustaz Rofiul membagikan pengalaman kesehariannya sebagai asbabun nuzul atau alasan di balik pemilihan tema tersebut. Ia menyoroti betapa cepatnya waktu berlalu; rasanya baru kemarin seorang anak digendong oleh orang tuanya, namun tiba-tiba kini anak tersebut sudah menggendong anaknya sendiri. Mengutip sebuah falsafah, ia menyebut, “Urip niku mung mampir ngombe,” yang bermakna bahwa hidup hanyalah sekadar singgah sesaat untuk minum sebelum akhirnya berpulang kembali.

Meski waktu di dunia sangat terbatas, Ustaz Rofiul mengingatkan para jamaah untuk tidak berkecil hati apalagi merasa insecure terhadap dosa-dosa di masa lalu. Mengupas Surah Az-Zumar ayat 53, ia menjelaskan bagaimana Allah SWT tetap memanggil hamba-Nya dengan sapaan lembut “Yaa Ibaadi” (wahai hamba-hamba-Ku) meski mereka memiliki masa lalu yang kelam pada masa jahiliyah. Sapaan ini menunjukkan kasih sayang yang luar biasa, sehingga siapapun tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah. Ia menegaskan bahwa setiap manusia pasti pernah berbuat salah, namun masa lalu yang buruk tidak boleh menghalangi optimisme untuk meraih surga dengan cara memperbanyak amal saleh.

Penyampaian Ustaz Rofiul menjadi semakin menarik dan mengena ketika ia menggunakan analogi pabrik pensil dan aplikasi Google Maps. Sama seperti pabrik pensil yang sengaja menciptakan penghapus karena menyadari penggunanya pasti sesekali berbuat salah saat menulis, Allah juga senantiasa menyediakan ruang dan kesempatan bertobat bagi manusia. Lebih lanjut, ketika seseorang tersesat atau salah berbelok saat mengikuti rute Google Maps, aplikasi tersebut tidak memarahi penggunanya, melainkan terus memberikan arahan rute baru agar tetap sampai ke tujuan. “Allah pun enggak pernah marah. Allah kasih jalan supaya hidup kita yang sementara ini menjadi wasilah hidup selama-lamanya besok di surga,” jelasnya.

Memasuki penghujung kajian, pembahasan berlanjut pada Surah Az-Zumar ayat 71 dan 73 tentang umat manusia yang digiring dalam bentuk rombongan (zumaro). Ustaz Rofiul membawakan analogi hangat tentang rombongan piknik bus wisata. Jika ada satu saja anggota rombongan yang belum naik ke dalam bus, tentu kendaraan itu tidak akan ditinggal melainkan ditunggu dan orang tersebut akan dicari. Begitu juga kelak di akhirat, umat Islam yang bertakwa akan masuk surga secara bersama-sama dan akan saling mencari kawan rombongannya.

Pesan kebersamaan ini menjadi penutup kajian yang menyejukkan sekaligus menguatkan hati para jamaah. Ustaz Rofiul berpesan agar jamaah senantiasa saling merangkul, mengajak teman atau kerabat kepada kebaikan dengan cara yang bijaksana, serta fokus menatap masa depan. Melalui kajian ini, tersirat harapan besar agar kehidupan dunia yang begitu singkat ini bisa dimaksimalkan sebagai jembatan bagi umat Islam untuk melangkah menuju surga-Nya secara bersama-sama. (Ito)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Kajian-Rutin-Ahad-Pagi-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-dengan-pembicara-Ustaz-Rofiul-Wahyudi-Foto.-Itoshiko.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-09-10 10:03:232026-09-10 10:03:23Memaknai Singkatnya Kehidupan dan Rahmat Berlimpah Menuju Surga

Menapaki Jalan Lurus melalui Sepuluh Wasiat Allah

04/09/2026/in Feature /by Ard

Kajian rutin Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan pembicara Prof. Dr. Waharjani, M.Ag., (Foto. Mawar)

Menjalani kehidupan di jalan yang lurus tidak cukup hanya dengan mengetahui mana yang benar dan salah. Lebih dari itu, manusia perlu menjadikan nilai-nilai kebaikan sebagai pedoman dalam setiap aktivitasnya. Pesan tersebut menjadi salah satu benang merah dalam Kajian Rutin Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) yang mengangkat tema Al-Washaya Al-‘Asyrah: 10 Wasiat Allah dengan merujuk pada Surah Al-An’am ayat 151-153.

Kajian yang berlangsung pada Ahad 2 Agustus 2026 tersebut menghadirkan Ustadz Prof. Dr. Waharjani, M.Ag., Guru Besar Bidang Psikologi Pendidikan Profetik, sebagai pemateri. Dalam kajiannya, ia mengajak jamaah memahami sepuluh wasiat Allah sebagai pedoman kehidupan yang mengarahkan manusia menuju siratal mustaqim atau jalan yang lurus.

Menurutnya, Al-Washaya Al-‘Asyrah dapat dipahami sebagai sepuluh perintah atau wasiat Allah yang menjadi petunjuk bagi manusia. Ia kemudian menghubungkan konsep tersebut dengan istilah siratal mustaqim. “Al-Washaya Al-‘Asyrah itu adalah 10 perintah Tuhan atau 10 wasiat Allah. Yang di dalam beberapa tafsir disebut dengan siratal mustaqim, jalan untuk menuju jalan yang lurus,” jelasnya.

Untuk menggambarkan makna jalan lurus tersebut, Prof. Waharjani menggunakan analogi jalan tol. Jalan tersebut memiliki ruang yang luas sehingga dapat dilalui berbagai kendaraan. Demikian pula siratal mustaqim yang menurutnya merupakan jalan yang dapat ditempuh melalui beragam aktivitas kebaikan selama tetap mengantarkan manusia kepada tujuan yang benar. “Kalau sudah bisa melaksanakan siratal mustaqim itu berarti akan menuju ke Jannatun Naim. Jadi siratal mustaqim itu adalah jalan-jalan atau kegiatan atau aktivitas yang bisa mengantarkan kita kepada jalan yang lurus menuju Jannatun Naim,” tuturnya.

Dalam kajian tersebut, Prof. Waharjani menguraikan kandungan Surah Al-An’am ayat 151-153 secara bertahap. Lima wasiat pertama yang disimpulkan dari ayat 151 berkaitan dengan larangan menyekutukan Allah, perintah berbuat baik kepada orang tua, larangan membunuh anak karena takut kemiskinan, larangan melakukan perbuatan keji, serta larangan membunuh jiwa yang diharamkan Allah.

Salah satu pesan yang mendapat perhatian dalam kajian ialah kewajiban berbuat baik kepada orang tua. Prof. Waharjani menekankan bahwa berbakti kepada orang tua bukan perkara sederhana, terlebih ketika orang tua memasuki usia lanjut dan membutuhkan kesabaran serta perhatian lebih dari keluarga. “Berbuatlah baik kepada kedua orang tua. Ya, baik orang tua itu sudah meninggal atau masih hidup,” ujarnya.

Ia mengingatkan jamaah bahwa merawat orang tua membutuhkan kesabaran. Menurutnya, kondisi orang tua yang semakin lanjut usia dapat membuat mereka kembali membutuhkan pendampingan seperti ketika masih kecil. Karena itu, anak perlu memiliki kesabaran dalam memberikan perhatian dan memenuhi kebutuhan orang tua.

Memasuki Surah Al-An’am ayat 152, pembahasan berlanjut pada larangan mendekati harta anak yatim, perintah menyempurnakan takaran dan timbangan dengan adil, serta kewajiban berlaku adil dan memenuhi janji. Prof. Waharjani menyoroti pentingnya kejujuran dalam persoalan takaran dan timbangan. Nilai tersebut tidak hanya berkaitan dengan aktivitas perdagangan, tetapi juga mencerminkan sikap manusia dalam menjalankan amanah. “Dan sempurnakan takaran dan timbangan dengan adil,” katanya saat menjelaskan salah satu kandungan ayat tersebut.

Menurutnya, keadilan harus menjadi prinsip yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang mengurangi timbangan atau tidak memenuhi hak orang lain, tindakan tersebut menunjukkan ketidakjujuran yang bertentangan dengan pesan yang terkandung dalam ayat.

Kajian kemudian sampai pada pesan bahwa siratal mustaqim bukan sekadar konsep yang bersifat abstrak. Jalan lurus tersebut dibangun melalui pilihan dan aktivitas manusia setiap hari, mulai dari menjaga hubungan dengan Allah, menghormati orang tua, menjaga kehidupan, berlaku jujur, hingga memenuhi janji. Prof. Waharjani menegaskan bahwa sepuluh wasiat tersebut merupakan pedoman yang perlu diikuti oleh umat Islam dalam menjalani kehidupan. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Kajian-rutin-Ahad-Pagi-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-dengan-pembicara-Prof.-Dr.-Waharjani-M.Ag_.-Foto.-Mawar.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-09-04 08:00:452026-09-04 08:00:45Menapaki Jalan Lurus melalui Sepuluh Wasiat Allah

LPSI UAD Gelar Kajian Tafsir At-Tanwir, Bedah Makna dan Keutamaan Surat Al-Baqarah Ayat 185

03/09/2026/in Feature /by Ard

Ngaji Tafsir At-Tanwir oleh Lembaga Pengembangan Studi Islam (LPSI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Septia)

Lembaga Pengkajian dan Studi Islam (LPSI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menyelenggarakan agenda rutin kajian keislaman bertajuk Ngaji Tafsir At-Tanwir pada Jumat, 28 Agustus 2026. Kegiatan yang disiarkan secara daring melalui kanal YouTube resmi LPSI UAD ini menghadirkan Niki Alma Febriana Fauzi, S.Th.I., M.Us. sebagai narasumber utama untuk membedah Tafsir Surat Al-Baqarah ayat 185.

Agenda ini diselenggarakan sebagai ikhtiar memperkuat tradisi keilmuan Islam serta memperdalam pemahaman sivitas akademika dan masyarakat luas terhadap tafsir kontekstual bercorak berkemajuan milik Persyarikatan Muhammadiyah.

Kajian diawali dengan pembukaan resmi dan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, sebelum masuk ke sesi pemaparan materi inti. Dalam penjelasannya, Niki Alma menguraikan dimensi historis dan teologis turunnya Al-Qur’an, kedudukannya sebagai petunjuk universal, serta hikmah di balik ketetapan ibadah puasa dan syariat yang memudahkan umat.

Kajian ini ditutup dengan sesi doa bersama serta penegasan pentingnya mengimplementasikan pesan-pesan Al-Qur’an dalam membangun peradaban masyarakat yang berkeadaban. (septia)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Ngaji-Tafsir-At-Tanwir-oleh-Lembaga-Pengembangan-Studi-Islam-LPSI-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Septia-1.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-09-03 08:56:172026-09-03 08:56:17LPSI UAD Gelar Kajian Tafsir At-Tanwir, Bedah Makna dan Keutamaan Surat Al-Baqarah Ayat 185

Menyelami Kedudukan Al-Qur’an dan Spirit Kemudahan Syariat

02/09/2026/in Feature /by Ard

Ngaji Tafsir At-Tanwir oleh Lembaga Pengembangan Studi Islam (LPSI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Septia)

Kedudukan Al-Qur’an sebagai petunjuk kehidupan dan prinsip kemudahan dalam syariat menjadi pembahasan utama dalam Ngaji Tafsir At-Tanwir yang diadakan Lembaga Pengembangan Studi Islam (LPSI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Jumat, 28 Agustus 2026. Kajian yang membedah Surat Al-Baqarah ayat 185 ini dipaparkan secara mendalam oleh pakar studi Islam, Niki Alma Febriana Fauzi, S.Th.I., M.Us.

Dalam pemaparannya, Niki Alma menegaskan tiga peran mendasar Al-Qur’an bagi peradaban manusia sebagaimana tertuang dalam ayat tersebut yaitu petunjuk hidup (hudan lin-nas), penjelasan rinci atas petunjuk kebenaran (bayyinatin minal-huda), serta pembeda tegas antara yang hak dan batil (al-furqan).

Ia turut mengaitkan peristiwa turunnya Al-Qur’an pada bulan Ramadan dengan keutamaan malam Lailatulqadar, di mana malam penuh kemuliaan tersebut menjadi tonggak sejarah pencerahan peradaban umat manusia.

Selain menyoroti keagungan Al-Qur’an dan Lailatulqadar, materi kajian juga mengupas prinsip taysir (kemudahan syariat) yang terkandung dalam ketentuan puasa Ramadan. Diberikannya keringanan (rukhsah) bagi umat yang sakit atau sedang dalam perjalanan (safar) menunjukkan bahwa esensi syariat Islam hadir untuk membawa maslahat, bukan membebani hamba-Nya dengan kesulitan.

Pembedahan materi yang disampaikan ini diharapkan mampu menumbuhkan cara beragama yang kritis, moderat, serta membumikan nilai-nilai Qur’ani di tengah dinamika masyarakat modern. (septia)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Ngaji-Tafsir-At-Tanwir-oleh-Lembaga-Pengembangan-Studi-Islam-LPSI-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Septia.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-09-02 09:14:272026-09-02 09:14:27Menyelami Kedudukan Al-Qur’an dan Spirit Kemudahan Syariat

Resep Istikamah Ibadah dan Menjaga Kesehatan Kerja

28/08/2026/in Feature /by Ard

Dr. H. Agus Taufiqurrohman, Sp.S., M.Kes., penceramah pengajian Maulid Nabi Muhammad saw. di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Humas UAD)

Dr. H. Agus Taufiqurrohman, Sp.S., M.Kes., menyampaikan tausiah pada pengajian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Mengusung tema “Meneladani Nabi: Menjaga Keistikamahan dalam Ibadah, Merawat Kesehatan dalam Bekerja”, Dr. Agus mengaitkan nilai-nilai kenabian dengan pola hidup sehat serta profesionalisme di tempat kerja.

Dr. Agus menekankan bahwa cinta kepada Rasulullah SAW tidak sebatas pada bacaan selawat atau mempelajari sirah semata, melainkan tercermin nyata dalam meneladani sunah beliau sebagai cara hidup serta menjaga kemuliaan ajaran Islam dalam keseharian.

Terkait kesehatan fisik, Dr. Agus menguraikan riwayat bahwa sepanjang hidupnya, Rasulullah SAW hanya mengalami sakit sebanyak tiga kali. Beliau membagikan kiat menjaga kesehatan ala Rasulullah yang relevan diterapkan para pekerja, seperti membiasakan aktif bergerak dengan jalan yang sigap dan menghindari duduk terlalu lama tanpa jeda peregangan. Selain itu, pekerja dianjurkan menjaga pola makan seimbang melalui jeda puasa untuk membakar lemak berlebih, serta menjaga kualitas tidur 6 hingga 8 jam dengan membiasakan tidur selepas Isya dan meluangkan waktu istirahat siang.

Selain kesehatan fisik, Dr. Agus turut menyoroti implementasi empat sifat wajib rasul dalam ranah profesionalisme kerja. Nilai siddiq diwujudkan melalui kejujuran dengan meniadakan plagiarisme dan manipulasi data penelitian, nilai amanah dengan menuntaskan tanggung jawab dinas, nilai tabligh melalui komunikasi yang baik sebagai kunci kepemimpinan, serta nilai fathonah dengan bekerja secara cerdas dan profesional.

Materi dipungkasi dengan penegasan hadis prinsip itqan atau bekerja secara sungguh-sungguh. Menurut Dr. Agus, derajat tertinggi seorang insan dalam bekerja adalah ketika ia meniatkan aktivitasnya sebagai sarana ibadah demi menggapai rida Allah SWT, sehingga senantiasa memberikan kinerja terbaik secara konsisten. (Septia)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Dr.-H.-Agus-Taufiqurrohman-Sp.S.-M.Kes_.-penceramah-pengajian-Maulid-Nabi-Muhammad-saw.-di-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Humas-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-28 09:08:242026-08-28 09:08:24Resep Istikamah Ibadah dan Menjaga Kesehatan Kerja

Bukan Sekadar Juara, Muhammad Ziya Ul Albab Ingin Ilmunya Memberi Manfaat

27/08/2026/in Feature /by Ard

Muhammad Ziya Ul Albab, salah satu wisudawan berprestasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Wisuda Agustus (Foto. Muhammad)

Bagi Muhammad Ziya Ul Albab, sebuah penghargaan tidak selalu menghadirkan perasaan bahagia. Ketika namanya dinobatkan sebagai salah satu wisudawan berprestasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Wisuda Agustus 2026 dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,98, ada dua perasaan yang hadir bersamaan: syukur dan kekhawatiran.

Syukur karena perjalanan panjangnya sebagai mahasiswa Program Studi Ilmu Hadis UAD akhirnya membuahkan pencapaian. Khawatir karena di balik puluhan prestasi yang telah diraih, ada satu pertanyaan yang terus ia bawa: apakah semua ilmu dan pencapaian itu benar-benar akan memberikan manfaat bagi orang lain? “Saya takut dengan sekian banyak prestasi, justru tidak memberikan manfaat bagi orang lain. Jangan sampai hanya besar di nama, besar di penghargaan, dan sering menjuarai lomba, tetapi nihil dalam kebermanfaatan bagi publik,” ujar Ziya.

Kekhawatiran itu menjadi menarik jika melihat perjalanan Ziya. Ia bukan berasal dari keluarga berada. Datang dari Riau, ia merantau ke Yogyakarta untuk menempuh pendidikan tinggi pada 2022. Jalan yang ditempuhnya tidak selalu mudah. Bahkan, sejak awal kuliah hingga prosesi wisuda, ia harus menjalani sebagian besar perjalanan tersebut seorang diri.

Abi dan Umi belum dapat hadir dalam acara wisudanya. Namun, Ziya memilih melihat pencapaiannya sebagai hadiah yang dapat ia bawa pulang untuk keduanya. Baginya, menjadi wisudawan berprestasi bukan hanya tentang dirinya, melainkan juga tentang bagaimana membuat kedua orang tuanya tersenyum. “Seorang anak dari kampung yang latar belakang ekonomi keluarganya bukan menengah ke atas, tetapi Allah memberikan rezeki sehingga bisa kuliah dan bahkan mendapatkan penghargaan tersebut. Jadi, saya sangat bersyukur karena bisa menyenangkan hati Abi dan Umi di rumah,” tuturnya.

Selama menempuh pendidikan di UAD, Ziya berhasil mengukir lebih dari 25 prestasi, mulai dari tingkat regional hingga internasional. Namun, ia tidak menganggap pencapaian tersebut datang begitu saja. Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah ketika dipercaya mewakili UAD dalam lomba pidato yang diselenggarakan oleh Radio Republik Indonesia (RRI) Yogyakarta. Kesempatan itu bermula ketika RRI mengirimkan undangan kepada UAD. Setelah melalui proses internal, Ziya mendapat kepercayaan untuk menjadi delegasi.

Perjalanannya kemudian berlanjut ke tingkat nasional di Kendari. Ia berhasil meraih juara III. Bagi Ziya, pencapaian tersebut memiliki makna tersendiri. Ia yang berasal dari Riau dan bukan asli Yogyakarta dapat membawa nama UAD dan Yogyakarta ke panggung nasional. “Rasanya luar biasa. Saya bukan orang Jogja, saya orang Riau, orang Melayu, tetapi tiba-tiba membawa nama Jogja dan UAD ke tingkat nasional,” katanya.

Cerita lain datang dari Brunei Darussalam. Kesempatan tersebut bahkan bermula dari sesuatu yang sederhana. Ketika pulang ke Dumai pada Ramadan, Ziya memutuskan membuat paspor karena memiliki uang lebih. Saat itu, ia tidak memiliki rencana pasti untuk bepergian ke luar negeri. Ia hanya berpikir, siapa tahu suatu saat paspor tersebut akan berguna.

Benar saja. Beberapa waktu kemudian, ketika kembali ke UAD, Ketua Program Studi Ilmu Hadis menghubunginya. UAD memperoleh undangan dari Universiti Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA) Brunei untuk mengirimkan delegasi dalam sebuah perlombaan. Ziya pun mengambil kesempatan tersebut. Ia mempersiapkan materi dan proposal secara mandiri. Dari Yogyakarta, ia berangkat seorang diri menuju Jakarta sebelum melanjutkan perjalanan ke Brunei.

Hasil perlombaan memang belum membawanya menjadi juara pertama, kedua, atau ketiga. Namun, ia berhasil masuk 10 besar. Lebih dari sekadar hasil kompetisi, pengalaman tersebut membuka pandangan Ziya terhadap dunia yang lebih luas. Bertemu orang-orang baru dan melihat lingkungan akademik di negara lain membuatnya mulai memiliki mimpi baru. Ia bahkan berharap dapat kembali ke Brunei untuk menempuh pendidikan magister.

“Pengalamannya luar biasa. Bertemu orang baru, melihat tempat baru, dan jadi ingin S2 ke Brunei rasanya. Doakan semoga bisa mendapatkan beasiswa ke sana, insyaallah,” ujarnya.

Bagi Ziya, mengikuti perlombaan bukan semata-mata tentang mengejar piala. Ia menemukan alasan yang lebih mendasar dari hadis Nabi Muhammad saw., “Ihrish ‘ala ma yanfa’uka,” yang bermakna bersemangatlah terhadap hal-hal yang bermanfaat bagimu.

Kompetisi, menurutnya, menjadi ruang untuk menguji kemampuan, mempelajari hal baru, sekaligus mengevaluasi diri. Karena itu, menang dan kalah merupakan bagian yang sama pentingnya dalam proses tersebut. Ia pernah mengalami masa ketika kemenangan terasa begitu jauh. Pada semester tujuh, Ziya mengikuti 13 perlombaan, tetapi hanya dua yang berhasil dimenanginya. Kondisi tersebut bahkan sempat membuat beasiswanya hampir dicabut. Alih-alih berhenti, ia menjadikan kegagalan sebagai bahan evaluasi. Baginya, ketika menang, seseorang perlu bersyukur. Ketika kalah, seseorang perlu bersabar dan kembali mencoba.

Ia juga memiliki pandangan tersendiri terhadap rasa tidak percaya diri. Menurutnya, rasa insecure tidak selamanya harus dipandang negatif. Jika diarahkan dengan tepat, perasaan tersebut dapat menjadi bahan bakar untuk belajar. Ketika melihat orang lain lebih hebat, misalnya, ia memilih bertanya kepada diri sendiri apa yang dapat dipelajari daripada terus merasa rendah diri. “Kompetisi yang sesungguhnya adalah berlomba dengan diri kita sendiri di masa lalu agar menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya,” ucapnya.

Untuk menjaga konsistensi, Ziya membangun kebiasaan sederhana. Ia berusaha memulai persiapan jauh sebelum tenggat waktu, mencatat rencana di atas kertas, serta membagi target menjadi langkah-langkah kecil. Ia menghindari kebiasaan mengerjakan segala sesuatu secara mendadak. Prinsip SMART juga ia gunakan untuk menentukan target agar tujuan yang dibuat lebih terukur dan realistis. Di atas semuanya, ia berusaha menjaga sikap ikhlas, bersyukur, dan sabar.

Di balik berbagai pencapaian tersebut, Ziya justru memiliki kekhawatiran yang cukup dalam. Ia tidak ingin prestasi membuat dirinya terlena. Baginya, kesuksesan bukan hanya tentang seberapa banyak penghargaan yang berhasil dikumpulkan. Kesuksesan adalah ketika seseorang mampu melakukan yang terbaik, terus belajar, dan memberikan manfaat kepada orang lain. Ia juga mengaitkan kesuksesan dengan konsep social interest dari Alfred Adler, yakni kepedulian, empati, dan keinginan untuk berkontribusi kepada lingkungan serta masyarakat.

Ziya merasa senang ketika berhasil mendapatkan penghargaan. Namun, ia akan merasa kurang jika hadiah dan pencapaian tersebut hanya dinikmati sendiri. Karena itu, ia berusaha menyisihkan sebagian rezekinya untuk membantu orang-orang di sekitarnya. Lebih dari itu, ada satu ukuran kesuksesan yang menurutnya jauh lebih penting: kedekatan dengan Allah. Ia khawatir seseorang justru mendapatkan banyak keberhasilan, tetapi semakin jauh dari Allah. Dalam pandangannya, keadaan tersebut jauh lebih berbahaya daripada sekadar mengalami kegagalan.

“Saya sangat khawatir jika kita terkena istidraj, ketika kita sukses dan memiliki banyak prestasi, tetapi justru semakin jauh dari Allah, malas beribadah atau mengaji. Itu yang sebenarnya sangat berbahaya,” katanya.

Selama belajar di UAD, Ziya tidak hanya menemukan pengalaman berkompetisi. Ia juga menemukan cara baru dalam memandang ilmu yang dipelajarinya. Baginya, hadis tidak semata-mata teks normatif yang berhenti pada hafalan dan kajian teoretis. Hadis harus dipahami secara aplikatif dan dapat diintegrasikan dengan berbagai bidang ilmu.

Semakin dalam mempelajari hadis, semakin ia memahami bahwa ilmu tersebut pada akhirnya mengantarkan seseorang untuk mengenal sosok Nabi Muhammad saw. Salah satu nilai yang paling ia pegang adalah kelembutan. “Nabi Muhammad adalah pribadi yang lemah lembut. Jadi, jika kita tidak lemah lembut, sebenarnya siapa yang sedang kita teladani?” tuturnya.

Pemahaman tersebut pula yang ingin ia bawa dalam perjalanan setelah lulus. Ziya berencana mendaftarkan diri dalam program beasiswa S2, dengan Brunei dan Malaysia sebagai dua negara yang menjadi pertimbangannya. Dalam jangka panjang, ia bercita-cita menjadi dosen Ilmu Hadis. Tidak hanya di Indonesia, Ziya bahkan bermimpi dapat mengajar di perguruan tinggi luar negeri.

Sebagai bagian dari keluarga besar UAD, Ziya juga menyimpan harapan untuk almamaternya. Ia berharap UAD dapat terus memberikan maslahat seluas-luasnya bagi masyarakat, khususnya mereka yang membutuhkan. Ia juga berharap UAD dapat memperluas akses dan skema beasiswa bagi mahasiswa. Menurutnya, kesempatan memperoleh pendidikan merupakan sesuatu yang sangat berarti, terutama bagi mahasiswa dengan keterbatasan ekonomi.

Selain itu, ia berharap nilai-nilai keislaman di lingkungan kampus semakin diperkuat. Sebagai perguruan tinggi Muhammadiyah yang membawa identitas Islam, menurutnya, nuansa tersebut perlu terus dihidupkan dalam kehidupan akademik. “Semoga Allah jadikan UAD bisa memberikan maslahat seluas-luasnya untuk masyarakat, untuk yang membutuhkan, dan semoga kita tidak terlena dengan gemerlapnya kemajuan kita,” ujarnya.

Perjalanan Ziya di UAD pada akhirnya bukan hanya tentang angka 3,98, lebih dari 25 prestasi, atau deretan penghargaan yang berhasil diraih. Ada proses panjang tentang merantau, belajar mandiri, menghadapi kegagalan, dan terus mencoba. Ada pula satu hal yang ingin ia pastikan setelah semua pencapaian itu: ilmu yang diperoleh tidak berhenti menjadi kebanggaan pribadi. Sebab, bagi Ziya, menjadi juara hanyalah satu bagian dari perjalanan. Bagian yang lebih penting adalah memastikan bahwa apa yang telah dipelajari dapat tumbuh menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Muhammad-Ziya-Ul-Albab-salah-satu-wisudawan-berprestasi-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-pada-Wisuda-Agustus-Foto.-Muhammad.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-27 08:38:512026-08-27 08:38:51Bukan Sekadar Juara, Muhammad Ziya Ul Albab Ingin Ilmunya Memberi Manfaat
Page 1 of 79123›»

TERKINI

  • UAD Terima Kunjungan Pimpinan Universitas Lancang Kuning13/10/2026
  • Perkuat Jejaring Internasional, Lima Dosen UAD Ikuti Academic Visit ke Beijing dan Chongqing, Tiongkok12/10/2026
  • UAD Resmi Buka Penerimaan Mahasiswa Baru 202712/10/2026
  • KKN UAD Gelar Pelatihan Pengelolaan Website Kampung Brontokusuman12/10/2026
  • Mahasiswa Gizi UAD Gandeng Puskesmas Kotagede II Edukasi Gizi Seimbang di SDN Rejowinangun 1 12/10/2026

PRESTASI

  • Mahasiswa UAD Raih Juara I Writing Contest FOMUNY 202612/10/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara III pada Kejurnas IX Senior-Junior Hapkido Indonesia 202630/09/2026
  • Tim Al Qorni UAD Raih Dua Gelar Juara di Ajang KMLI 202630/09/2026
  • Pustakawan UAD Raih Prestasi di IPI Awards DIY 202629/09/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara I Esai Nasional Ajang PIKIR 202629/09/2026

FEATURE

  • Meneladani Keteguhan dan Keluhuran Akhlak Rasulullah di Tengah Pemboikotan12/10/2026
  • Kesederhanaan yang Menjadi Pilihan Hidup Rasulullah06/10/2026
  • Runtuhkan Sekat Pembatas, Dekan FKIP UAD Tekankan Kolaborasi Pendidikan yang Berdampak28/09/2026
  • Menelusuri Hakikat dan Empat Tanda Kebahagiaan di Dunia15/09/2026
  • Memaknai Singkatnya Kehidupan dan Rahmat Berlimpah Menuju Surga10/09/2026

TENTANG | KRU | KONTAK | REKAPITULASI

Scroll to top