• TERKINI
  • UAD BERDAMPAK
  • PRESTASI
  • FEATURE
  • OPINI
  • MEDIA
  • KIRIM BERITA
  • Menu
News Portal of Universitas Ahmad Dahlan

Wujudkan Kampus Ekologis, Komitmen Nyata UAD Menjaga Alam

02/03/2026/in Feature /by Ard

Prof. Dr. Ir. Zahrul Mufrodi, S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng., narasumber Pengajian Ramadan PWM DIY di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Humas UAD)

Krisis lingkungan yang kian nyata mendorong Perguruan Tinggi Muhammadiyah untuk mengambil peran aktif sebagai pusat keunggulan (center of excellence) dalam memberikan solusi ekologis. Hal ini ditegaskan oleh Kepala Biro Sarana dan Prasarana Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Prof. Dr. Ir. Zahrul Mufrodi, S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng., saat menjadi narasumber pada rangkaian Pengajian Ramadan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Ahad, 1 Maret 2026 di Amphitarium Kampus IV Universitas Ahmad Dahlan (UAD).

Dalam materi bertajuk “Etika Islam & Edu-Ekologi dalam Menjaga Keseimbangan Alam”, Prof. Zahrul menjabarkan lima prinsip utama etika Islam terkait lingkungan. Prinsip tersebut meliputi kewajiban melindungi alam, menghargai alam sebagai subjek, tanggung jawab moral, solidaritas antarmakhluk, hingga penerapan gaya hidup sederhana. Terlebih, DIY saat ini menghadapi masalah pengelolaan sampah yang serius, di mana penyumbang 38% dari total sampah plastik di wilayah ini adalah dari kalangan mahasiswa. Oleh karena itu, ia menekankan bahwa kampus tidak boleh menjadi bagian dari masalah lingkungan tersebut.

Sebagai wujud komitmen nyata, UAD telah membangun sistem pengelolaan lingkungan terpadu yang membuahkan hasil positif. Tercatat, angka residu sampah kampus berhasil ditekan secara drastis dari 72% (98.786 kg) pada tahun 2024 menjadi 29% (52.066 kg) pada 2025. Sampah organik diolah menjadi kompos bermerek “PupukMu 100% Produk Kompos Organik”, sementara sampah plastik residu dikonversi menjadi bahan bakar minyak (bio-oil) menggunakan teknologi pirolisis. Di sektor pengelolaan air, UAD mengoptimalkan pemanenan air hujan (rainwater harvesting) berkapasitas 2.500 meter kubik di Kampus IV, serta mengolah air limbah melalui Sewage Treatment Plant (STP) untuk kebutuhan penyiraman tanaman dan flushing toilet.

Komitmen ekologis UAD juga menyentuh aspek efisiensi energi dan desain arsitektur. Kampus menargetkan penghematan listrik hingga 15% melalui penerapan lima hari kerja, penggunaan AC Inverter, transisi ke lampu LED, hingga pemanfaatan panel surya sebagai energi terbarukan. Secara fisik, gedung-gedung UAD dirancang dengan struktur sirip eksterior untuk mengoptimalkan sirkulasi udara dan cahaya alami agar ruangan tidak pengap tanpa harus bergantung penuh pada pendingin ruangan. Lingkungan belajar pun dibuat asri melalui kehadiran hutan kampus, vertical garden, serta program konservasi tanaman langka.

Berbagai infrastruktur tersebut didukung dengan penguatan budaya peduli lingkungan, seperti larangan penggunaan plastik sekali pakai, kewajiban membawa botol minum (tumbler), hingga edukasi terpadu yang menjadikan UAD sebagai rujukan pembelajaran lingkungan bagi berbagai instansi di Bantul.

Menutup pemaparannya, Prof. Zahrul menegaskan bahwa menjaga lingkungan adalah bagian integral dari dakwah peradaban Muhammadiyah. Etika Islam tidak boleh berhenti pada ibadah ritual semata, melainkan harus terwujud dalam cara mengelola sumber daya, yang pada akhirnya melahirkan kesadaran ekologis berbasis iman. (Ito)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Prof.-Dr.-Ir.-Zahrul-Mufrodi-S.T.-M.T.-IPM.-ASEAN-Eng.-narasumber-Pengajian-Ramadan-PWM-DIYdi-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Humas-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-03-02 09:35:312026-03-02 09:35:31Wujudkan Kampus Ekologis, Komitmen Nyata UAD Menjaga Alam

Budaya Ekologis dan Resiliensi di Dunia Pendidikan

01/03/2026/in Feature /by Ard

Irfan Amali, M.A., serta H. Budi Setiawan, S.T., dalam Penyampaian Materi II Pada Pengajian Ramadan PWM DIY (Foto. Humas UAD)

Materi kedua dalam rangkaian Pengajian Ramadan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM DIY) mengangkat tema “Resiliensi Bencana dan Gerakan Ekologi di Lembaga Pendidikan”. Sesi ini menghadirkan Irfan Amali, M.A., Pimpinan Pondok Pesantren Welas Asih sekaligus Direktur Eksekutif Peace Generation Indonesia, serta H. Budi Setiawan, S.T., Ketua Lembaga Resiliensi Bencana/Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PP Muhammadiyah.

Dalam paparannya, Irfan Amali menekankan pentingnya welas asih terhadap semesta ekologi yang diwujudkan melalui kebijakan konkret di lingkungan pendidikan. Ia mencontohkan kebijakan di pesantren yang melarang penggunaan minuman kemasan dalam setiap program dan kegiatan.

“Alhamdulillah kami bisa mengurangi sampah anorganik karena membuat kebijakan tidak ada minuman dengan kemasan. Semua program dan acara tidak menggunakan itu. Kebijakan kecil, tetapi dampaknya signifikan,” ujarnya.

Menurutnya, tantangan terbesar dalam pengelolaan sampah adalah residu yang sulit diolah, seperti pembalut dan popok. “Yang paling menantang bagi kita itu residu, yang tidak bisa diapakan lagi. Tidak ada cara lain selain mengubah gaya hidup,” tegasnya.

Ia juga menjelaskan penggunaan insinerator sebagai salah satu solusi teknis. “Ketika kami menggunakan insinerator, pembakaran efektif dilakukan sebelum angin kencang, sekitar pukul 11 siang, dengan suhu 300 derajat Celsius. Itu membuat prosesnya lebih efektif,” jelasnya.

Namun demikian, Irfan menegaskan bahwa pengelolaan sampah harus diawali dengan kesadaran dan pengukuran. “Kalau kita tidak pernah tahu seberapa banyak sampah yang kita hasilkan, maka kita tidak pernah tahu bagaimana memanajennya. Muhasabah atau pengukuran itu sesuatu yang penting,” katanya.

Ia juga memperkenalkan konsep design for change, termasuk dalam praktik ibadah sehari-hari seperti wudu. Menurutnya, penggunaan air saat wudu perlu menjadi perhatian di tengah krisis air yang melanda sejumlah daerah.

“Wudu ini menjadi sesuatu yang harus kita perhatikan, karena kita perlu melihat seberapa banyak air yang kita gunakan setiap kali berwudu. Tanpa kita sadari, itu menjadi masalah global. Saya sangat senang karena Muhammadiyah mulai membahas fiqih air,” ungkapnya.

Dalam konteks budaya sekolah atau hidden curriculum, ia menyampaikan tiga hal penting, yakni memahami bahwa tidak ada benda mati, memberikan pelatihan teknis sebagai bentuk memuliakan benda, serta membangun budaya dan ekosistem yang konsisten mendukung kepedulian lingkungan.

Ia juga menyoroti pentingnya prinsip 3R bahkan 5R dengan menambahkan rethink. “Kalau rethink digunakan, R setelahnya bisa jadi tidak perlu. Problem kita hari ini adalah ignorance, orang tidak berpikir, ‘ah cuma segini sampahnya’. Padahal Rasulullah hidup sangat minimalis dan memperlakukan benda dengan penuh kasih,” tuturnya.

Ia menambahkan bahwa kesadaran efisiensi energi juga perlu diperhatikan, termasuk di tempat ibadah. “Masjid itu nomor tiga paling boros energi setelah hotel dan mal. Ini perlu menjadi perhatian kita bersama,” ujarnya.

Sementara itu, H. Budi Setiawan menekankan pentingnya resiliensi bencana sebagai bagian dari ketangguhan umat. Ia menjelaskan bahwa resiliensi adalah kemampuan untuk segera pulih dari kesulitan atau bencana.

“Ketika kita melihat kejadian bencana, pikiran kita harusnya berpikir kapan kita segera pulih dari kesulitan itu,” katanya.

Menurutnya, membangun ketangguhan harus dilandasi iman serta diwujudkan melalui ikhtiar, kesabaran, dan tawakal. Prinsip resiliensi meliputi persiapan, pengurangan risiko, respons cepat, dan pemulihan.

Ia menekankan pentingnya kesadaran risiko sebelum bencana terjadi. “Kesadaran risiko bencana itu dibangun ketika bencana belum terjadi,” tegasnya.

Ia menyebut tiga urgensi utama resiliensi, yakni mengurangi risiko bencana, meningkatkan keselamatan, dan memperkuat komunitas. Adapun tantangan yang dihadapi meliputi kurangnya kesadaran, keterbatasan sumber daya, serta dampak perubahan iklim.

Sebagai langkah konkret, ia mengajak lembaga pendidikan dan masyarakat untuk mengenali ancaman dan risiko bencana, menyusun rencana darurat, menyiapkan emergency kit, serta rutin melakukan latihan dan simulasi.

Melalui materi ini, gerakan ekologi dan resiliensi bencana ditegaskan bukan sekadar wacana, melainkan bagian dari transformasi budaya dan sistem di lembaga pendidikan demi membangun masa depan yang lebih tangguh dan berkelanjutan. (Dnd)

uad.ac.id

 

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Irfan-Amali-M.A.-serta-H.-Budi-Setiawan-S.T.-dalam-Penyampaian-Materi-II-Pada-Pengajian-Ramadan-PWM-DIY-Foto.-Humas-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-03-01 13:22:152026-03-01 13:22:15Budaya Ekologis dan Resiliensi di Dunia Pendidikan

Restorasi Lingkungan sebagai Pilar Perkhidmatan Masa Depan

01/03/2026/in Feature /by Ard

Kusno Wibowo, S.T., M.Si., dan Hening Purwati Parlon, S.Sos., M.M., dalam Penyampaian Materi I Pada Pengajian Ramadan PWM DIY (Foto. Humas UAD)

Pengajian Ramadan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menghadirkan materi pertama bertajuk “Restorasi Lingkungan dalam Perkhidmatan Masa Depan” dalam rangkaian Pengajian Ramadan. Sesi ini menghadirkan Kusno Wibowo, S.T., M.Si., dan Hening Purwati Parlon, S.Sos., M.M., yang memaparkan krisis lingkungan global serta langkah nyata yang telah dilakukan di DIY.

Dalam paparannya, Hening menegaskan bahwa dunia saat ini tengah menghadapi triple planetary crisis, yakni perubahan iklim, polusi, dan kehilangan keanekaragaman hayati. Ia menjelaskan bahwa perubahan iklim banyak dipicu oleh bencana hidrometeorologi, sementara polusi terjadi ketika lingkungan terkontaminasi zat berbahaya melebihi ambang batas aman sehingga mengancam kesehatan makhluk hidup.

Terkait biodiversitas, ia mengingatkan pentingnya kesadaran atas kekayaan alam Indonesia yang kian menyusut. “Betapa kayanya Indonesia, lalu yang terjadi saat ini sangat berkurang,” tuturnya. Ia menyebut Indonesia telah kehilangan sekitar 11 juta hektare hutan atau setara 110 kali luas Kota Jakarta.

Lebih lanjut, Hening menegaskan bahwa persoalan lingkungan tidak dapat dilepaskan dari nilai spiritual. “Kita kembali kepada akidah, maka tauhid kita tercerminkan dalam tindakan,” ujarnya.

Sejak 2007, Teologi Lingkungan bekerja sama dengan Majelis Lingkungan Hidup serta Kementerian Lingkungan Hidup menginisiasi berbagai gerakan, termasuk Gerakan 1000 Cahaya. Dalam dua tahun terakhir, program tersebut telah menggandeng 270 kepala keluarga Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) untuk mengikuti pelatihan efisiensi energi. Pelatihan juga melibatkan 40 peserta dari Pondok Pesantren Zamzam dan 50 guru.

Audit energi yang dilakukan di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping menunjukkan temuan menarik. “Ternyata yang berat itu bukan di ruang operasi tetapi di ruang tempat makan dan laundry,” ungkapnya. Hasil audit tersebut akan segera diluncurkan sebagai dasar rekomendasi efisiensi serta potensi transisi energi di sejumlah titik yang dinilai boros.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY, Kusno Wibowo, S.T., M.Si., menyampaikan capaian positif bahwa Yogyakarta dinobatkan sebagai provinsi dengan pengelolaan hutan terbaik se-Indonesia pada 2025. “Yogyakarta hutannya sebagai hutan terbaik se-Indonesia tahun 2025, tidak ada perusakan hutan dan alhamdulillah mendapat penghargaan,” ujarnya.

Meski demikian, ia menegaskan masih terdapat sejumlah isu strategis yang perlu menjadi perhatian, seperti perubahan iklim global, tingginya timbulan sampah, menurunnya kualitas air sungai akibat limbah industri rumah tangga, kos, dan laundry, serta rendahnya tingkat ketaatan pelaku usaha terhadap regulasi lingkungan.

Permasalahan sampah menjadi tantangan besar karena sebagian besar sampah DIY berakhir di TPA Piyungan. Berdasarkan surat Gubernur DIY tertanggal 19 Oktober 2023, pengelolaan sampah akan didesentralisasikan ke kabupaten/kota mulai 2024 dengan pelaksanaan penuh mempertimbangkan kapasitas zona tampung di TPA Piyungan serta kesiapan fasilitas pengelolaan di masing-masing daerah.

Ia juga mengingatkan pentingnya peran masyarakat melalui prinsip 3R (reduce, reuse, recycle). “Jangan lupa bapak ibu untuk menangani pengelolaan dan mengurangi sampah dengan 3R,” pesannya. Data menunjukkan bahwa timbulan sampah terbesar di DIY berasal dari sisa makanan, sehingga gerakan minim sampah seperti menghabiskan makanan dan menggunakan tumbler menjadi langkah sederhana namun berdampak.

Sebagai upaya jangka panjang, DIY memprioritaskan pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di kawasan Piyungan. Program ini diharapkan mampu mengurangi beban sampah sekaligus mendukung konsep ekonomi sirkular. Melalui kolaborasi antara pemerintah, institusi pendidikan, dan masyarakat, restorasi lingkungan diharapkan menjadi gerakan nyata, bukan sekadar wacana, demi masa depan yang lebih berkelanjutan. (Dnd)

uad.ac.id

 

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Kusno-Wibowo-S.T.-M.Si_.-dan-Hening-Purwati-Parlon-S.Sos_.-M.M.-dalam-Penyampaian-Materi-I-Pada-Pengajian-Ramadan-PWM-DIY-Foto.-Humas-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-03-01 11:33:292026-03-01 11:35:47Restorasi Lingkungan sebagai Pilar Perkhidmatan Masa Depan

Optimalisasi Karya Kampus untuk Masyarakat

26/02/2026/in Feature /by Ard

Prof. Ir. Anton Yudhana, M.T., Ph.D. penceramah tarawih RDK 1447 H Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Dinda)

Ceramah tarawih pada Selasa, 24 Februari 2026, bertepatan dengan 7 Ramadan 1447 H, disampaikan oleh Prof. Ir. Anton Yudhana, M.T., Ph.D. dengan tema “Bagaimana Karya-karya dari Kampus Itu Bisa Memberdayakan Masyarakat”.

Dalam ceramahnya, Prof. Anton menegaskan bahwa ilmu yang diperoleh di perguruan tinggi tidak boleh berhenti pada tataran akademik semata, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk kontribusi sosial. “Ketika kita mendapatkan banyak matahari-matahari keilmuan di kampus ini, mestinya kita bisa memberikan sumbangsih kepada masyarakat. Dalam bahasa sederhananya, manfaat di kampus juga manfaat di kampung,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa masyarakat merupakan ruang aktualisasi sekaligus sumber inspirasi bagi pengembangan penelitian. Menurutnya, berbagai persoalan di tengah masyarakat dapat menjadi topik penelitian mahasiswa maupun dosen. “Masyarakat itu adalah tempat yang tepat untuk belanja masalah. Bagaimana penelitian kita tidak hanya berhenti di level publikasi, tetapi sampai memberikan solusi terhadap masyarakat,” jelasnya.

Selain menyoroti pentingnya riset yang berdampak, Prof. Anton juga mengajak sivitas akademika untuk lebih peka terhadap persoalan lingkungan dan sosial di sekitar. Ia mencontohkan kondisi sungai di Yogyakarta yang masih dipenuhi sampah sebagai salah satu masalah nyata yang membutuhkan peran kampus dalam bentuk edukasi dan inovasi.

Di sisi lain, ia menyoroti pentingnya pembinaan generasi muda, khususnya remaja usia sekolah yang berada pada fase kritis. Menurutnya, kampus dapat berkontribusi melalui inovasi pendidikan, pendampingan, serta penguatan kegiatan berbasis masjid dan musala agar potensi generasi muda dapat diarahkan ke hal yang positif.

Lebih lanjut, Prof. Anton mengajak mahasiswa untuk memanfaatkan masa studi yang relatif singkat dengan memberikan dampak jangka panjang di lingkungan tempat tinggal. “Kalaupun di kampus hanya 4–5 tahun, bagaimana apa yang didapatkan di kampus itu nanti bermanfaat di kampung. Karena di kampung itu dampaknya jangka panjang,” tuturnya.

Melalui ceramah tersebut, ia menegaskan bahwa kampus memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan masyarakat. Harapannya, karya-karya akademik tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan dan kualitas kehidupan masyarakat secara berkelanjutan. (Doc)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Prof.-Ir.-Anton-Yudhana-M.T.-Ph.D.-penceramah-tarawih-RDK-1447-H-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Dinda.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-02-26 09:44:282026-02-26 09:44:28Optimalisasi Karya Kampus untuk Masyarakat

Istikamah dalam Ibadah, Kunci Meraih Ampunan di Bulan Ramadan

26/02/2026/in Feature /by Ard

 

Syekh Basyir Ali pemateri cerawah tarawih RDK 1447 H Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Anove)

Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menyelenggarakan ceramah tarawih dalam rangkaian kegiatan Ramadan di Kampus (RDK) 1447 H. Mengusung tema “Ramadan Berdampak untuk Kemaslahatan Umat”, acara ini berlangsung pada Senin, 23 Februari 2026, bertempat di Masjid Islamic Center UAD.

Ceramah tersebut disampaikan oleh dosen Faculty of Islamic Studies dari Misurata University, Libya, yakni Syekh Basyir Ali. Dalam tausiahnya, Syekh Basyir memulai dengan mengutip dua hadis Rasulullah saw. tentang keutamaan Ramadan. Hadis tersebut menjelaskan bahwa siapa pun yang berpuasa dan mendirikan salat malam dengan penuh keimanan serta mengharap rida Allah Swt., akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Namun, beliau menegaskan bahwa ganjaran tersebut diperuntukkan bagi mereka yang benar-benar melaksanakan puasa sebagai kewajiban dan menjalankan ibadah malam dengan kesungguhan.

Beliau juga menekankan pentingnya istikamah dalam beribadah. Amalan yang sederhana tetapi dilakukan secara konsisten dinilai lebih baik daripada amalan berat yang hanya dilakukan di awal Ramadan. Oleh karena itu, ia mengingatkan agar semangat beribadah tidak hanya kuat di hari-hari pertama, melainkan terus dijaga hingga akhir bulan demi memperoleh keutamaan sebagaimana disebutkan dalam hadis.

Selain itu, Syekh Basyir menyampaikan beberapa keutamaan Ramadan bagi umat Nabi Muhammad saw. Keutamaan tersebut di antaranya adalah bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah Swt. daripada minyak kasturi, dibelenggunya setan dan jin kafir sehingga memudahkan umat untuk berbuat kebaikan, serta puasa yang menjadi jalan menuju surga. Disebutkan pula bahwa pintu surga dibuka selebar-lebarnya bagi seorang muslim yang wafat pada bulan Ramadan.

Keutamaan lainnya adalah pengampunan dosa pada malam Lailatulqadar. Beliau mengibaratkannya seperti seorang pekerja yang menerima gaji di akhir masa kerjanya. Penghapusan dosa juga berlaku di antara waktu salat fardu, di antara dua salat Jumat, hingga periode tahunan.

“Di antara dua Ramadan, dosa-dosa kecil kita bisa dihapuskan jika kita menyempurnakan Ramadan dengan baik,” jelasnya.

Menutup ceramahnya, Syekh Basyir Ali mengajak jemaah untuk memaksimalkan Ramadan dengan sungguh-sungguh karena tidak ada yang dapat memastikan pertemuan dengan Ramadan di tahun berikutnya. Beliau turut mendoakan seluruh jemaah agar senantiasa diberi kebaikan dan keberkahan. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Masjid Islamic Center UAD serta Muhammadiyah atas kontribusinya dalam menghadirkan kebermanfaatan bagi umat. Harapannya, keberkahan senantiasa mengalir kepada para pendiri dan seluruh sivitas akademika.

Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen Universitas Ahmad Dahlan dalam memperkuat nilai-nilai spiritual sivitas akademika selama bulan Ramadan. (Anove)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Syekh-Basyir-Ali-pemateri-cerawah-tarawih-RDK-1447-H-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Anove.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-02-26 09:28:352026-02-26 09:28:35Istikamah dalam Ibadah, Kunci Meraih Ampunan di Bulan Ramadan

Meminta Tanpa Menuntut, Belajar Ikhlas dan Tawakal dari Doa Nabi Zakaria

25/02/2026/in Feature /by Ard

Ust. Raihan Afnan Alfarabi, Lc. pemateri kajian Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Mawar)

Dalam Kajian Rutin Ahad Pagi di Masjid Islamic Center UAD pada 8 Februari 2026, Ust. Raihan Afnan Alfarabi, Lc., mengangkat tema “Meminta Tanpa Menuntut: Refleksi Doa Nabi Zakaria”. Ia membuka kajian dengan mengajak jemaah merenungkan nikmat kesempatan yang sering terlupakan.

Doa sebelum tidur, “Bismika Allahumma ahya wa bismika amut” (Dengan nama-Mu ya Allah aku hidup dan dengan nama-Mu aku mati), bukan sekadar hafalan, melainkan pengakuan bahwa hidup dan bangun dari tidur sepenuhnya berada dalam kuasa Allah. Betapa banyak orang yang tidur dalam keadaan sehat, namun tidak lagi dibangunkan keesokan harinya. Di situlah letak mahalnya nikmat waktu dan kesempatan.

Ia mengajak jemaah menelusuri kisah Nabi Zakaria dalam Al-Qur’an surah Maryam, yang diawali dengan huruf-huruf muqatha’ah kaf ha ya ‘ain shad. Huruf-huruf ini, jelasnya, tidak ditafsirkan secara rinci oleh mayoritas ulama, namun diyakini mengandung hikmah besar yang menunjukkan keterbatasan akal manusia di hadapan wahyu. Setelah pembuka itu, Allah langsung mengingatkan tentang rahmat-Nya kepada hamba-Nya, Zakaria. Pesan ini menjadi landasan penting: sebelum seorang hamba meminta, ia perlu menyadari betapa luas nikmat yang telah Allah berikan.

Nabi Zakaria sendiri memanjatkan doa untuk memohon keturunan di usia senja. Keinginan memiliki anak adalah harapan hampir setiap pasangan suami istri. Namun, yang menarik dari doa tersebut adalah adabnya: tidak menuntut, tidak memaksa, dan penuh kerendahan hati. Allah seakan mengingatkan bahwa rahmat-Nya telah melimpah bahkan sebelum permintaan itu terucap. Sikap inilah yang sering luput dalam kehidupan modern, ketika manusia mudah merasa kurang hanya karena satu harapan belum terwujud.

Ustaz Raihan juga menyinggung fenomena “flexing” di media sosial yang kerap membuat seseorang membandingkan hidupnya dengan orang lain. Budaya pamer kekayaan dan pencapaian dapat mengaburkan rasa syukur atas nikmat yang telah dimiliki. Padahal, ketidakpuasan sering kali bukan karena kurangnya rezeki, melainkan karena terlalu sering melihat kehidupan orang lain. Dalam hal ini, kisah Maryam binti Imran juga menjadi pelajaran tentang ujian berat yang di baliknya tersimpan hikmah besar, yakni kelahiran Nabi Isa yang membawa risalah Injil.

Menutup kajian, ia menegaskan bahwa nikmat kesempatan adalah karunia yang tak ternilai. Setiap hari yang Allah bangunkan adalah peluang memperbanyak amal saleh. Doa Nabi Zakaria mengajarkan bahwa meminta kepada Allah harus disertai kesadaran akan rahmat-Nya yang telah ada, bukan dengan sikap menuntut. Dengan syukur dan kesabaran, seorang hamba akan lebih mudah menerima takdir serta memaknai setiap ujian sebagai bagian dari rencana terbaik Allah. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Ust.-Raihan-Afnan-Alfarabi-Lc.-pemateri-kajian-Ahad-Pagi-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Mawar.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-02-25 09:48:292026-02-25 09:48:29Meminta Tanpa Menuntut, Belajar Ikhlas dan Tawakal dari Doa Nabi Zakaria

Bangun Relasi Spiritual di Tengah Overload Motivasi

25/02/2026/in Feature /by Ard

Muh. Saeful Effendi, M.Pd.BI. pemateri pengajian rutin bulanan mahasiswa FKIP Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Mawar)

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD), kembali menggelar Pengajian Bulanan Mahasiswa #8 mengangkat tema “Membangun Hubungan dengan Allah di Era Self-Love & Positivity” dengan menghadirkan Muh. Saeful Effendi, M.Pd.BI. sebagai penceramah.

Ia membuka materinya dengan menegaskan bahwa topik ini merupakan isu krusial yang perlu dibicarakan, direnungkan, dan dihayati bersama. Menurutnya, berbagai teori psikologi modern memang memberikan banyak manfaat, tetapi harus diimbangi dengan aspek spiritual dan keyakinan keagamaan agar tidak menjerumuskan manusia pada kekosongan makna.

Ia mengangkat fenomena maraknya motivasi di media sosial. Kutipan inspiratif, kisah sukses, hingga narasi “healing” dan pencapaian terus membanjiri ruang digital. Namun, ia mengingatkan bahwa limpahan motivasi justru dapat membuat hati lelah ketika hanya berfokus pada hasil dan pencapaian, bukan proses dan makna. “Kelelahan kita itu bukan karena kurang motivasi, tapi karena kebanyakan motivasi yang berubah jadi tekanan,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti peran gawai sebagai “teman terbaik” manusia modern. Media sosial, yang sebagian besar menampilkan sisi terbaik kehidupan seseorang, tanpa sadar membentuk standar kesuksesan yang semu.

Validasi berupa likes, views, dan komentar kerap dijadikan ukuran kebahagiaan. Akibatnya, muncul berbagai problem psikologis seperti overthinking, insecure, fear of missing out (FOMO), hingga burnout akademik. Semua itu, menurutnya, berakar dari lemahnya sandaran spiritual dan kecenderungan membandingkan diri secara berlebihan.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa setiap peran dalam hidup sejatinya bernilai ibadah ketika diniatkan karena Allah. Menjadi dosen, guru, mahasiswa, bahkan pedagang sekalipun memiliki kemuliaan yang sama di hadapan-Nya jika dijalani dengan niat yang lurus. Ia mengingatkan, “Sandaran terbaik itu bukan harta, bukan jabatan, bukan validasi manusia. Sandaran yang tidak akan pernah mengecewakan hanyalah Allah,” tegasnya. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Muh.-Saeful-Effendi-M.Pd_.BI_.-pemateri-pengajian-rutin-bulanan-mahasiswa-FKIP-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Mawar.jpeg 828 1453 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-02-25 09:31:172026-02-25 09:31:17Bangun Relasi Spiritual di Tengah Overload Motivasi

Nilai Transendental Sebagai Basis Kemajuan Sains dan Teknologi

24/02/2026/in Feature /by Ard

Prof. Dr. Irwan Akib, M.Pd. pemateri ceramah tarawih Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Ika)

Kamis, 19 Februari 2026 bertepatan dengan 2 Ramadan 1447 H, Prof. Dr. Irwan Akib, M.Pd., selaku Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah bidang Pendidikan, Budaya dan Olahraga menyampaikan materi yang menarik bagi jemaah Salat Tarawih Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) terkait revitalisasi pendidikan nasional.

Ceramah Tarawih yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube resmi Masjid Islamic Center UAD ini, mengungkapkan bahwa kehidupan saat ini semakin mudah dan instan, terutama bagi generasi muda. Hal ini terlihat dari berbagai inovasi digital, termasuk teknologi serba daring hingga mobil autopilot.

Namun, kemudahan tersebut juga menimbulkan dampak negatif, seperti penyebaran berita hoaks dan penggunaan media sosial yang tidak bertanggung jawab, sehingga menimbulkan kerenggangan hubungan antarindividu.

Irwan Akib mengungkapkan pentingnya penggunaan ilmu dan teknologi di tangan orang yang tepat, “Jika ilmu dan teknologi berada di tangan orang-orang yang beriman dilandasi dengan nilai-nilai transendental atau nilai agama, maka kemajuan ilmu dan teknologi akan membantu perkembangan dakwah serta kehidupan sehari-hari umat muslim.”

Oleh karena itu, arahan dan dampingan pendidikan yang tepat bagi generasi muda menjadi sangat penting, terutama dimulai dari keluarga. Mengutip pernyataan Aristoteles, ”Bagaimana wajah suatu bangsa saat ini tergantung pendidikannya di masa lalu,” yang menunjukkan bahwa pendidikan adalah unsur penting dalam kesejahteraan suatu bangsa. K.H. Ahmad Dahlan telah mencontohkannya dengan mengadopsi pembentukan sekolah yang memadukan pengetahuan umum dengan pengetahuan agama, yang kini menjadi rujukan bagi sistem pendidikan di Indonesia.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bagaimana menjadi penuntut ilmu yang ideal, “Mahasiswa hendaknya selain memahami pengetahuan umum serta menguasai ilmu dan teknologi, tetapi juga tetap berpegang pada nilai-nilai agama. Dalam pesan muktamar Muhammadiyah ke-46 di Yogyakarta tentang revitalisasi pendidikan ditegaskan bahwa pendidikan Muhammadiyah adalah pendidikan yang membebaskan manusia dari keterbelakangan dan kebodohan.” (Juni)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Prof.-Dr.-Irwan-Akib-M.Pd_.-pemateri-ceramah-tarawih-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Ika.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-02-24 10:43:232026-02-24 10:43:23Nilai Transendental Sebagai Basis Kemajuan Sains dan Teknologi

Pentingnya Resiliensi di Bulan Ramadan

24/02/2026/in Feature /by Ard

dr. H. Agus Taufiqurrahman, Sp.S., M.Kes., pemateri ceramah tarawih di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Mei)

Ustaz dr. H. Agus Taufiqurrahman, Sp.S., M.Kes., mengisi kajian ceramah tarawih di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Minggu, 22 Februari 2026. Sejalan dengan tema yang diangkat, ia menekankan pentingnya membangun ketahanan mental dengan beribadah penuh selama Ramadan.

Menurut Agus, umat Islam dapat menjadikan bulan Ramadan sebagai sarana untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi berbagai cobaan hidup, sehingga tidak merasa terpuruk saat menghadapi permasalahan.

“Dalam hidup ini, kita pasti akan berhadapan dengan berbagai macam cobaan, dalam Al-Qur’an disebutkan Wa lanabluwannakum bisyai’im minal-khaufi wal-jū’i wa naqaṣim minal-amwāli wal-anfusi waṡ-ṡamarāt(i). Di antara cobaan yang akan bisa dihadapi, ada yang diberi cobaan ketakutan, rasa sakit, ekonomi, semua akan merasakan itu. Di antara orang yang mendapatkan cobaan tersebut, ada yang beruntung bisa bersabar menghadapi dan menyelesaikan permasalahannya,” ujarnya.

Agus juga menyinggung fenomena yang dialami generasi muda saat ini, seperti burnout dan overthinking yang sering muncul apabila seseorang sudah kewalahan menghadapi permasalahan hidupnya. Ia mengingatkan bahwa Allah tidak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya.

“Keimanan tertinggi seorang hamba itu ketika sudah menempatkan Allah dan Rasul-Nya sebagai zat yang paling dicintai. Jika kita mencintai Allah, apa pun takdir yang diberikan akan diterima dengan suka cita, tidak akan mengalami burnout, overthinking, apalagi sampai ansietas depresi yang bermasalah,” ucapnya.

Sesuai data Kementerian Kesehatan, sekitar 28 juta penduduk Indonesia mengalami gangguan jiwa dari berbagai aspek, dan jumlahnya terus meningkat. Agus menilai bahwa Ramadan dapat menjadi momentum untuk membangun ketahanan mental dalam menghadapi permasalahan hidup.

Ia juga mengajak umat Islam untuk senantiasa bersabar dan bersyukur di bulan Ramadan ini, serta meyakini bahwa setiap permasalahan yang dihadapi memiliki hikmah di baliknya. (Mei)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/dr.-H.-Agus-Taufiqurrahman-Sp.S.-M.Kes_.-pemateri-ceramah-tarawih-di-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Mei.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-02-24 10:15:342026-02-24 10:15:34Pentingnya Resiliensi di Bulan Ramadan

Manusia yang Cerdas Menurut Rasulullah

24/02/2026/in Feature /by Ard

Ust. Prof. Dr. H. Waharjani, M.Ag. pemateri kajian Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Mawar)

Dalam Kajian Rutin Ahad Pagi di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada 1 Februari 2026, Ust. Prof. Dr. H. Waharjani, M.Ag., mengajak jemaah memahami makna “manusia cerdas” sebagaimana diajarkan Rasulullah saw. Mengawali tausiah dengan refleksi peringatan Isra Mikraj, ia menegaskan bahwa kecerdasan dalam Islam bukan sekadar kecerdikan intelektual, melainkan kemampuan mengendalikan diri. Rasulullah, katanya, menyebut orang cerdas sebagai mereka yang mampu menahan amarah. Bahkan kepada sahabat yang dikenal mudah marah, Nabi berpesan berulang kali, “La taghdab, la taghdab, la taghdab” (jangan marah).

Selain menahan amarah, kecerdasan juga tampak pada kemampuan mengendalikan gaya hidup, terutama dari perilaku boros. Ia mencontohkan kebiasaan belanja tanpa perencanaan yang sering berujung penyesalan. Menurutnya, hidup hemat bukan berarti pelit, tetapi bijak dalam membedakan kebutuhan dan keinginan. Orang cerdas, lanjutnya, juga tidak menyakiti hati orang lain, tidak bertindak tanpa memikirkan akibat, serta menjauhi sifat malas. Ia menyederhanakan kiat sukses mahasiswa dengan rumus 2T: tekun dan tekan, tekun belajar agar sampai pada tujuan.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa kecerdasan sejati adalah beramal untuk kehidupan setelah kematian. Mengutip hadis tentang keutamaan mukmin yang kuat, ia menjelaskan bahwa kekuatan mencakup iman yang kokoh, fisik yang sehat, akhlak yang luhur, ibadah yang tekun, ilmu yang bermanfaat, serta kedermawanan. Ia mengingatkan bahwa amal seperti sedekah dan ilmu bermanfaat akan terus mengalir pahalanya, berbeda dengan amal lain yang terputus ketika seseorang wafat. Karena itu, ia mendorong orang tua untuk serius mendidik dan menyekolahkan anak sebagai investasi akhirat.

Dalam aspek keteladanan, ia mengutip pandangan Abdullah Nasih Ulwan tentang pentingnya pendidikan berbasis contoh. Orang tua, menurutnya, harus menjadi model iman yang kuat, tubuh yang sehat, dan akhlak yang luhur. Ia juga menyinggung pentingnya menjaga kesehatan melalui olahraga, istirahat cukup, pengelolaan stres, serta menghindari kebiasaan merusak. Mukmin yang kuat, tegasnya, lebih dicintai Allah Swt. daripada mukmin yang lemah, baik lemah iman, lemah usaha, maupun lemah semangat.

Menutup kajian, ia menguraikan enam akhlak yang menjadi jaminan surga sebagaimana disebut dalam hadis: jujur ketika berbicara, menepati janji, menunaikan amanah, menjaga kehormatan diri, menundukkan pandangan, serta menahan lisan dan tangan dari menyakiti orang lain. Ia juga mengingatkan pentingnya pembiasaan sejak dini, termasuk mendidik anak salat sejak usia tujuh tahun. “Sulit di awal, tetapi akan mudah jika sudah menjadi kebiasaan,” ujarnya. Dengan pengendalian diri, pembiasaan baik, dan orientasi akhirat, manusia tidak hanya menjadi pintar, tetapi benar-benar cerdas menurut tuntunan Rasulullah. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Ust.-Prof.-Dr.-H.-Waharjani-M.Ag_.-pemateri-kajian-Ahad-Pagi-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Mawar.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-02-24 09:40:182026-02-24 09:40:18Manusia yang Cerdas Menurut Rasulullah
Page 1 of 73123›»

TERKINI

  • Menangkal Bahaya “Dumb Scroll” Era Digital: Ustadz Fadhlurrahman Bagikan 3 Fase Mendidik Anak15/04/2026
  • Mahasiswa UAD Terpilih Jadi Google Student Ambassador 202615/04/2026
  • PWI DIY Canangkan Grha Pers Pancasila dan Perkuat Sinergi dengan UAD14/04/2026
  • Alumni PBI UAD Bagikan Kisah Inspiratif Karier Akademik di Negeri Sakura14/04/2026
  • Mubaligh Hijrah UAD 2026: Menghidupkan Kegiatan di Masjid Al-Falah Kandri Girisubo13/04/2026

PRESTASI

  • Inovasikan AR dan Permainan Edukatif, Mahasiswa UAD Juara 2 Microteaching International Competition09/03/2026
  • Mahasiswa PBI UAD Raih Silver Medal dalam Lomba Esai Nasional26/02/2026
  • Mahasiswa PBio UAD, Zul Hamdi Batubara Raih Andalan Awards Tiga Tahun Berturut-turut19/02/2026
  • Tim AL-Qorni UAD Raih Juara I Prototype Vehicle Design pada Shell Eco-marathon Middle East & Asia 202628/01/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara I Best Use of Data pada ADIYC Tahun 202523/01/2026

FEATURE

  • Wujudkan Kampus Ekologis, Komitmen Nyata UAD Menjaga Alam02/03/2026
  • Budaya Ekologis dan Resiliensi di Dunia Pendidikan01/03/2026
  • Restorasi Lingkungan sebagai Pilar Perkhidmatan Masa Depan01/03/2026
  • Optimalisasi Karya Kampus untuk Masyarakat26/02/2026
  • Istikamah dalam Ibadah, Kunci Meraih Ampunan di Bulan Ramadan26/02/2026

TENTANG | KRU | KONTAK | REKAPITULASI

Scroll to top