• TERKINI
  • UAD BERDAMPAK
  • PRESTASI
  • FEATURE
  • OPINI
  • MEDIA
  • KIRIM BERITA
  • Menu
News Portal of Universitas Ahmad Dahlan

Kesehatan Jiwa untuk Masa Depan yang Indah

03/11/2026/in Feature /by Ard

Kajian Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan pemateri dr. Widea Rossi Desvita (Foto. Mei)

Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menggelar Kajian Rutin Ahad Pagi pada Minggu, 25 Oktober 2026, dengan tema “Mempersiapkan Masa Depan yang Indah dengan Jiwa Sehat”. Kajian ini menghadirkan dr. Widea Rossi Desvita, Sp.KJ. sebagai pemateri.

Dalam kajian tersebut, dr. Widea menjelaskan pentingnya menjaga kesehatan jiwa, terutama pada usia lanjut. Menurutnya, proses penuaan merupakan bagian alami kehidupan yang disertai perubahan kondisi fisik, fungsi otak, emosi, dan kemampuan kognitif. Kondisi tersebut dapat memengaruhi keseharian, termasuk meningkatkan risiko kesepian, kecemasan, depresi, dan gangguan tidur.

Ia menjelaskan bahwa menjaga kesehatan jiwa tidak cukup hanya dengan menerima proses penuaan, tetapi juga perlu disertai upaya untuk mempertahankan kesehatan fisik dan mental. Salah satunya melalui penerimaan diri (acceptance) yang diwujudkan dengan sikap rida terhadap perubahan kondisi sekaligus tetap berikhtiar menjaga kesehatan.

“Rida di sini artinya acceptance, bisa menerima kondisi. Tapi bukan menerima yang pasrah. Artinya kita menerima kondisi bertambah usia, bertambah tua, tetapi juga dengan usaha untuk tetap sehat,” jelasnya.

Kemudian dr. Widea menyampaikan beberapa langkah untuk menjaga kesehatan jiwa pada usia lanjut, di antaranya menjaga hubungan sosial melalui silaturahmi, mempertahankan aktivitas yang merangsang kerja otak, mengelola kecemasan dan stres, menjaga pola tidur dan asupan nutrisi, serta tetap melakukan aktivitas fisik sesuai kemampuan.

Ia juga mendorong masyarakat untuk memperbanyak zikir, membaca dan memahami Al-Qur’an, serta membiasakan diri untuk memaafkan orang lain. Selain membantu menjaga ketenangan batin, kegiatan tersebut dapat menjadi sarana memperkuat hubungan spiritual dan meningkatkan kualitas hidup.

Dr. Widea turut mengingatkan pentingnya membuka diri dan menceritakan persoalan yang dihadapi kepada orang yang tepat. Apabila masalah kesehatan jiwa mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, masyarakat dianjurkan mencari bantuan profesional, seperti psikolog atau psikiater.

“Kalau memang membutuhkan bantuan profesional, datanglah kepada psikiater atau psikolog. Itu bukan tanda lemah, bukan tanda kurang iman, tetapi tanda bahwa kita sebagai manusia berikhtiar dan bertawakal kepada Allah Swt.,” katanya.

Harapannya jemaah dapat memahami pentingnya menjaga kesehatan jiwa sejak dini sebagai bagian dari persiapan menghadapi masa tua. Dengan menerapkan pola hidup sehat, menjaga silaturahmi, memperkuat spiritualitas, dan mencari bantuan profesional ketika diperlukan, masyarakat diharapkan dapat menjalani masa lanjut usia dengan lebih sehat dan bermakna. (Mei)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Kajian-Ahad-Pagi-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-dengan-pemateri-dr.-Widea-Rossi-Desvita-Foto.-Mei.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-11-03 09:13:262026-11-03 09:13:26Kesehatan Jiwa untuk Masa Depan yang Indah

Menanggapi Musibah dari Perspektif Islam

30/10/2026/in Feature /by Ard

Kajian Rutin Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Mei)

Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menggelar Kajian Rutin Ahad Pagi pada Minggu, 18 Oktober 2026. Kajian ini mengangkat tema “Cara Muslim Menyikapi Bencana” dengan menghadirkan Ustaz Qaem Aulassyahied, S.Th.I., M.Ag. sebagai pemateri.

Dalam kajian tersebut, beliau menjelaskan bahwa ujian merupakan bagian dari kehidupan setiap orang yang beriman dan memeluk Islam. Keimanan seseorang tidak hanya diukur melalui pengakuan lisan dan keyakinan hati, tetapi juga melalui amal perbuatan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

“Allah tidak akan mengukur keberimanan seseorang dari ikrarnya melalui lisan, melalui hati, tetapi Allah juga perlu pembuktian. Semakin beriman dan bertakwa seseorang, maka semakin besar peluang dia merasakan ujian yang lebih berat di hidup ini,” ujarnya.

Rasulullah saw. mengingatkan bahwa para nabi merupakan golongan yang mendapatkan ujian paling berat, kemudian orang-orang saleh setelahnya. Hal ini menjadi pengingat bahwa kesulitan hidup tidak serta-merta menunjukkan lemahnya iman atau berkurangnya kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.

Ujian dapat hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari kesulitan ekonomi, kehilangan orang terkasih, penyakit, hingga bencana alam. Dalam menghadapi keadaan tersebut, umat Islam hendaknya menyikapi musibah sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan sunah Rasulullah saw., bukan dengan berputus asa atau menyalahkan orang yang terdampak.

Ustaz Qaem menjelaskan bahwa musibah yang menimpa orang beriman dapat memiliki beberapa fungsi. Pertama, musibah dapat menjadi teguran atas kesalahan yang dilakukan manusia. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an Surah Ar-Rum ayat 41 bahwa kerusakan di darat dan laut dapat terjadi akibat perbuatan manusia. Melalui keadaan tersebut, manusia diharapkan melakukan introspeksi dan memperbaiki perilakunya.

Kedua, musibah dapat menjadi jalan penghapusan dosa. Beliau mengutip hadis riwayat Bukhari yang menjelaskan bahwa keletihan, kesedihan, penyakit, hingga gangguan sekecil apa pun yang menimpa seorang muslim dapat menjadi sebab dihapuskannya sebagian kesalahan.

Ketiga, musibah yang berujung pada kematian dapat menjadi jalan memperoleh kemuliaan di sisi Allah bagi orang-orang yang memenuhi kriteria syahid sebagaimana dijelaskan dalam hadis Rasulullah saw.

“Bagaimana mungkin kita mengatakan orang yang orang beriman yang terkena musibah itu diazab oleh Allah. Padahal di dalam Alquran untuk umat Nabi Muhammad, musibah itu bisa jadi sebagai teguran, sebagai bentuk kasih sayang, musibah itu sebagai bentuk menghilangkan dosa, bahkan ada musibah sebagai bentuk mendapatkan surga,” katanya.

Oleh karena itu, Ustaz Qaem mengingatkan jemaah agar tidak mudah mengaitkan musibah yang dialami seseorang dengan dosa atau kemaksiatan. Setiap musibah memiliki hikmah yang tidak selalu dapat diketahui manusia. Sikap menghakimi justru dapat menambah beban bagi mereka yang sedang menghadapi kesulitan.

Selain itu, umat Islam perlu membangun sikap husnuzan atau berprasangka baik kepada Allah. Keyakinan bahwa Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang menjadi landasan untuk tetap menjaga harapan, bersyukur atas nikmat yang masih dimiliki, serta bersabar ketika menghadapi keadaan yang tidak sesuai dengan keinginan.

Beliau juga menekankan pentingnya saling menolong dalam menghadapi musibah. Menurutnya, tidak semua orang mampu menghadapi kesedihan dan kehilangan dengan kekuatan yang sama. Karena itu, dukungan dan kepedulian dari orang-orang di sekitarnya diperlukan agar mereka dapat bangkit dan melewati masa sulit.

Melalui kajian ini, jemaah diajak untuk memandang musibah sebagai kesempatan melakukan introspeksi, memperkuat keimanan, dan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama. Dengan menjaga prasangka baik kepada Allah, menguatkan kesabaran, serta mengedepankan semangat tolong-menolong, umat Islam diharapkan mampu menghadapi berbagai ujian kehidupan sesuai dengan tuntunan agama. (Mei)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Kajian-Rutin-Ahad-Pagi-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Mei.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-10-30 13:17:512026-10-30 13:17:51Menanggapi Musibah dari Perspektif Islam

Gelar Dokter adalah Awal dari Pengabdian

27/10/2026/in Feature /by Ard

Perwakilan mahasiswa pada Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Dokter Periode V Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Humas UAD)

Perwakilan dokter baru, dr. Dinda Ian Elistiana, dan perwakilan orang tua, dr. Tri Widodo, Sp.PD., Subsp.GH(K), FINASIM., menyampaikan kesan dan pesan dalam Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Dokter Periode V Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Kamis, 22 Oktober 2026. Keduanya mengingatkan bahwa gelar dokter bukanlah akhir dari sebuah perjuangan, melainkan awal dari pengabdian.

Dalam pidatonya, Dinda mengenang masa preklinik yang diisi dengan menghafal istilah medis yang sulit diucapkan, hingga masa koas yang mengajarkan bahwa di balik setiap rekam medis terdapat kehidupan dan di setiap pasien ada seseorang yang dicintai. Ia juga menyinggung malam-malam jaga serta berbagai acara keluarga yang hanya dapat disaksikan melalui layar gawai.

Dinda berterima kasih kepada orang tua atas doa dan kekhawatiran yang sering disembunyikan. Ia turut menyampaikan apresiasi kepada para dosen dan pembimbing yang tidak hanya mengajarkan cara mengenali penyakit, tetapi juga cara memperlakukan seorang manusia dengan baik.

“Hari ini sumpah dokter yang kami ucapkan bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari sebuah tanggung jawab yang jauh lebih besar,” tegasnya. Ia menutup pidatonya dengan memohon doa agar langkah para dokter baru senantiasa dijaga dan niat pengabdian mereka diluruskan.

Sementara itu, perwakilan orang tua dokter baru menyampaikan rasa bangga dan haru atas dimulainya pengabdian anak-anak mereka sebagai tenaga medis. “Hari ini adalah hari yang sangat istimewa bagi kami. Ada kebahagiaan yang sulit diungkapkan, ada rasa bangga yang memenuhi dada, serta air mata yang coba kami tahan,” ujarnya. Ia mengucapkan terima kasih kepada UAD, FK UAD, para dosen, pembimbing S1 dan pembimbing klinis di rumah sakit pendidikan, perawat, tenaga administrasi, serta para pasien yang telah membimbing anak-anak mereka.

Senada dengan Dinda, dr. Tri mengingatkan bahwa pasien bukanlah sekadar kode diagnosis atau objek pengobatan, melainkan membawa harapan besar keluarga akan kesembuhan. “Namun, hati nurani harus selalu disertakan dalam setiap karya kalian,” tegasnya. Ia juga mengajak para dokter baru untuk senantiasa menjaga nama baik almamater melalui prestasi dan budi pekerti yang luhur.

Menutup sambutannya, dr. Tri memanjatkan doa agar anak-anak mereka kelak menjadi dokter yang beriman, berakhlak karimah, berilmu, dan mengutamakan kemanusiaan. Ia juga berdoa agar sumpah yang telah diucapkan senantiasa dijaga di hadapan Allah Swt.(Septia)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Perwakilan-mahasiswa-pada-Pelantikan-dan-Pengambilan-Sumpah-Dokter-Periode-V-Fakultas-Kedokteran-FK-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Humas-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-10-27 07:54:242026-10-27 07:54:24Gelar Dokter adalah Awal dari Pengabdian

Menjadi Orang Tua Dimulai Sebelum Anak Hadir

26/10/2026/in Feature /by Ard

Ega Asnatasia Maharani, M.Psi., Ph.D., Psikolog, pemateri Educator Forum FKIP Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Mawar)

Menjadi orang tua bukan sekadar peran yang dimulai ketika seorang anak lahir. Jauh sebelum itu, terdapat proses panjang yang perlu dipersiapkan, mulai dari mengenali diri sendiri, memahami pasangan, hingga menyepakati nilai-nilai yang akan menjadi fondasi keluarga. Persiapan tersebut menjadi penting karena anak tidak hanya tumbuh melalui nasihat, tetapi juga melalui kebiasaan, perilaku, dan cara orang tuanya menjalani kehidupan sehari-hari.

Hal tersebut dibahas oleh Ega Asnatasia Maharani, M.Psi., Ph.D., Psikolog, dalam sesi Educator Forum FKIP Universitas Ahmad Dahlan (UAD) bertajuk “Siapkah Aku Menjadi Orang Tua? Obrolin Ini Yuk Bareng Calon Pasangan”. Dalam pemaparannya, ia mengajak generasi muda untuk memandang kesiapan menjadi orang tua sebagai proses yang perlu dibangun sejak sebelum pernikahan. Menurutnya, calon pasangan perlu membicarakan visi keluarga, tidak hanya mengenai kondisi finansial dan tempat tinggal, tetapi juga pola pengasuhan serta tanggung jawab sebagai calon ayah dan ibu.

Salah satu hal mendasar yang perlu didiskusikan adalah definisi keluarga bahagia. Setiap individu dapat memiliki pandangan berbeda tentang kebahagiaan, baik yang berkaitan dengan kecukupan materi, kebersamaan, maupun ketenangan dalam rumah tangga. Perbedaan tersebut dapat memengaruhi keputusan keluarga, termasuk pendidikan anak dan pengelolaan keuangan. Karena itu, calon pasangan perlu memahami nilai-nilai yang diyakini satu sama lain agar dapat membangun tujuan bersama. Selain itu, cara menyelesaikan konflik, menerapkan disiplin, membagi peran, dan menentukan batasan dengan keluarga besar juga perlu dibicarakan sejak awal.

Dalam kehidupan keluarga, anak akan belajar banyak hal melalui apa yang mereka saksikan. Cara orang tua menghadapi perbedaan pendapat, menyampaikan kemarahan, dan menyelesaikan persoalan dapat menjadi contoh bagi anak dalam membangun hubungan dengan orang lain. Begitu pula dengan pembagian tanggung jawab domestik dan pengasuhan yang tidak jarang menghadirkan mental load, yakni beban pikiran yang menyertai berbagai tanggung jawab sehari-hari. Kesepakatan mengenai pembagian peran menjadi penting agar beban tersebut tidak hanya ditanggung oleh salah satu pihak.

Selain membangun kesepahaman dengan pasangan, calon orang tua juga perlu melakukan refleksi terhadap dirinya sendiri. Ega menekankan pentingnya kemampuan mengelola emosi, kesediaan meminta maaf dan pertolongan, serta kemauan untuk terus belajar. “Jadi, jangan stuck terhadap apa yang kita ketahui dan yakini sekarang,” pesannya. Menurutnya, menjadi orang tua membutuhkan kesiapan untuk berkembang karena tantangan pengasuhan akan terus berubah. Calon orang tua juga perlu menyiapkan diri untuk menerima kenyataan bahwa anak mungkin tumbuh berbeda dari harapan yang telah dibayangkan.

Pada akhirnya, kesiapan menjadi orang tua tidak ditentukan oleh kesempurnaan seseorang, melainkan oleh kesadaran untuk terus belajar dan bertanggung jawab. Ega merangkum tiga hal penting yang perlu dimiliki calon orang tua, yaitu self-awareness atau kesadaran diri, regulasi emosi, dan sikap reflektif. Ketiganya membantu seseorang mengenali kebutuhan dirinya, memahami respons emosional ketika menghadapi tekanan, serta mengevaluasi kesiapan dalam menjalankan peran pengasuhan.

Persiapan menjadi orang tua, dengan demikian, bukan hanya tentang memilih pasangan yang tepat, melainkan juga membangun kemampuan untuk bekerja sama dalam berbagai keadaan. Sebagaimana ditekankan Ega, pertanyaan penting bagi calon pasangan bukan sekadar apakah mereka mampu mencintai, tetapi apakah mereka dapat menjadi tim yang baik ketika kehidupan sedang tidak baik-baik saja. Sebab, anak tidak dapat memilih keluarga tempat ia dilahirkan. Orang dewasalah yang memiliki kesempatan untuk mempersiapkan diri dan menentukan kualitas lingkungan tempat anak bertumbuh. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Ega-Asnatasia-Maharani-M.Psi_.-Ph.D.-Psikolog-pemateri-Educator-Forum-FKIP-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Mawar.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-10-26 08:16:182026-10-26 08:16:28Menjadi Orang Tua Dimulai Sebelum Anak Hadir

Meneladani Keteguhan dan Keluhuran Akhlak Rasulullah di Tengah Pemboikotan

12/10/2026/in Feature /by Ard

Ust. Hendra Darmawan, S.Pd., M.A dalam Kajian Ahad Pagi di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Septia)

Keteladanan Rasulullah saw. dalam menghadapi tekanan dakwah menjadi pokok bahasan Kajian Rutin Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) bertema “Bersama Rosulullah–Ma’al Musthofa”. Kajian pada Minggu, 4 Oktober 2026, di Masjid Islamic Center Kampus IV UAD itu disiarkan langsung melalui kanal YouTube Takmir Masjid Ahmad Dahlan UAD.

Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta, Ustaz Hendra Darmawan, S.Pd., M.A., membuka materi dengan hadis bahwa seseorang akan dibangkitkan bersama orang yang dicintainya dan bahwa cara beragama seseorang bergantung pada temannya. Menurut Hendra, jemaah perlu memilih lingkar pertemanan yang menggugah semangat keislaman.

Cinta kepada Rasulullah, lanjut Hendra, tumbuh melalui pengenalan. “Kecintaan itu akan tumbuh dengan pengetahuan,” tuturnya. Ia memaparkan tiga sifat Rasulullah, yaitu asja’ an-nas (paling pemberani), ajwad an-nas (paling dermawan), dan akram an-nas (paling baik), serta ajaran untuk menyambung silaturahim dengan yang memutusnya, memberi kepada yang kikir, dan memaafkan yang menzalimi.

Ia kemudian mengisahkan pemboikotan terhadap Rasulullah dan pengikutnya. Setelah Hamzah dan Umar bin Khattab masuk Islam, para pemimpin kafir Quraisy menyepakati piagam yang melarang transaksi ekonomi dengan mereka, lalu menggantungnya di Ka’bah. Keluarga Rasulullah mengalami kelaparan hingga lima anggota keluarga akhirnya berani menggugat piagam tersebut.

Hendra mengaitkan peristiwa itu dengan Surah Al-Qamar ayat 2 dan Surah Al-Fath tentang hamiyatal jahiliyah (penolakan terhadap kebenaran), yang disusul turunnya ketenangan dari Allah Swt. kepada Rasulullah dan kaum mukminin. Ia juga menyebut tawaran harta, kekuasaan, dan wanita yang diajukan agar Rasulullah meninggalkan dakwah.

Dalam sesi tanya jawab, seorang jemaah menanyakan peringkat Rasulullah sebagai tokoh paling berpengaruh dalam buku Michael Hart. Hendra menjelaskan bahwa dalam 22 tahun 2 bulan 22 hari, atau dibulatkan 23 tahun, Rasulullah tidak sekadar mengubah, tetapi melakukan transformasi (transformation) masyarakat yang jauh dari peradaban menuju masyarakat beradab.

Sebagai pesan utama, Hendra mengajak jemaah mempertahankan hidayatut taufik, yakni petunjuk Allah berupa agama Islam, dengan sekuat tenaga. “Apa yang kita perjuangkan hari ini belum seberapa dengan apa yang Rasul dan para sahabat alami,” tegasnya. (Septia)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Ust.-Hendra-Darmawan-S.Pd_.-M.A-dalam-Kajian-Ahad-Pagi-di-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Septia.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-10-12 08:52:592026-10-12 08:52:59Meneladani Keteguhan dan Keluhuran Akhlak Rasulullah di Tengah Pemboikotan

Kesederhanaan yang Menjadi Pilihan Hidup Rasulullah

06/10/2026/in Feature /by Ard

Kajian Rutin Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan pemateri Ustaz H. Ali Yusuf (Foto. Vita)

Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) mengadakan Kajian Rutin Ahad Pagi, 27 September 2026. Kajian ini mengambil tema “Nabi saw. Itu Kaya atau Miskin?” dengan pemateri Ustaz H. Ali Yusuf, S.Th.I., M.Hum. Pada kajian kali ini, ia memberikan penjelasan mengenai kesederhanaan hidup Rasulullah serta hadis-hadis mengenai kehidupan beliau.

Sebagai pembuka, Ustaz Ali memberikan penjelasan mengenai makna dari kata “miskin”. Ia mengatakan bahwa kata miskin dalam masyarakat kita memiliki artian negatif. Orang yang tidak memiliki harta dan tidak berkecukupan dikatakan sebagai miskin oleh masyarakat. Terlebih lagi dengan adanya standar kemiskinan yang dibuat oleh pemerintah, masyarakat akhirnya mulai menilai seseorang dengan menggunakan standar tersebut.

Namun, Ustaz Ali kembali menegaskan kalau hal itu hanya stigma masyarakat yang terbentuk dari kebiasaan atau apa yang mereka lihat dan dengar di lingkungan. Ia juga memberikan contoh kasus yang sering terjadi di masyarakat. “Kalau orang datang ke psikolog dianggapnya stres, dianggapnya itu punya ya, gejala ODGJ,” ujarnya.

“Kata ‘miskin’ jangan sampai menjadi stigma, stigma yang negatif kepada Nabi,” ujarnya lagi.

Pernyataan tersebut kemudian mengarah pada satu pertanyaan, apakah Nabi saw. itu kaya atau miskin?

Dalam suatu riwayat, Nabi saw. sudah menjadi yatim sejak lahir. Semasa kecil, beliau juga bekerja sebagai penggembala, pekerjaan yang umum dilakukan penduduk Mekah saat itu. Riwayat lain menyebutkan bahwa selama dua bulan, rumah Nabi saw. tidak mengeluarkan asap. Hal ini dimaknai kalau selama dua bulan itu, beliau tidak memasak.

Terdapat tiga istilah untuk memberikan gambaran mengenai jawaban dari pertanyaan sebelumnya. Pertama adalah al-faqru yang berarti kefakiran atau kemiskinan. Kedua adalah al-ghina yang artinya kekayaan atau berkecukupan. Yang terakhir, zuhud berarti orang yang memilih hidup sederhana meski memiliki harta. Dalam hal ini, Rasulullah tidak menjadikan harta sebagai prioritas dan memilih untuk hidup zuhud.

Hal ini dijelaskan pula dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi. Dalam riwayat itu, Rasulullah dikatakan mengganjal perut dengan dua batu untuk menahan lapar. Hadis lain juga dijelaskan kalau Nabi saw. sering berpuasa karena tidak ada makanan di rumah. Dalam satu hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari, dikatakan bahwa Rasulullah pernah menggadaikan bajunya dengan gandum.

Menjelang akhir kajian, pembahasan berlanjut dengan hadis yang mengatakan kalau Rasulullah pernah berdoa agar dijadikan orang miskin dan berkumpul bersama mereka. Hal itu karena proses perhitungan amal mereka jauh lebih cepat dibandingkan orang kaya. Miskin yang dimaksudkan dalam doa beliau ini adalah hidup sederhana tanpa bergelimangan harta. Rasulullah juga mengatakan demikian sebagai bentuk rendah diri di hadapan Allah Swt.

Untuk menutup kajian, Ustaz Ali menegaskan bahwa Rasulullah memiliki harta yang banyak, tetapi beliau tidak suka menyimpan hartanya lama-lama dan menggunakannya untuk disumbangkan. Namun, beliau juga tidak bisa dikatakan miskin. Rasulullah memilih untuk zuhud sebagai pilihan hidupnya. Ustaz Ali juga mengajak para jemaah agar tidak memberikan label bahwa Rasulullah itu miskin. Itu adalah bentuk kesederhanaan Rasulullah. Ia juga menekankan kalau Rasulullah tidak menyukai kefakiran karena bisa menyebabkan kufur. (vit)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Kajian-Rutin-Ahad-Pagi-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-dengan-pemateri-Ustaz-H.-Ali-Yusuf-Foto.-Vita.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-10-06 08:18:072026-10-06 08:18:07Kesederhanaan yang Menjadi Pilihan Hidup Rasulullah

Runtuhkan Sekat Pembatas, Dekan FKIP UAD Tekankan Kolaborasi Pendidikan yang Berdampak

28/09/2026/in Feature /by Ard

Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Muhammad Sayuti, M.Pd., M.Ed., Ph.D. (Foto. Humas UAD)

Menuntut ilmu hingga ke jenjang perguruan tinggi bukan sekadar rutinitas mengejar gelar. Pesan itulah yang ditekankan Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Muhammad Sayuti, M.Pd., M.Ed., Ph.D. dalam agenda Good Talk Off Air di Museum Muhammadiyah Kampus IV UAD, Kamis, 24 September 2026. Ia menegaskan bahwa esensi sejati dari belajar adalah kemampuan menyelesaikan persoalan nyata di tengah masyarakat (problem solving).

Namun dalam kenyataannya, apa yang dipelajari di kampus sering kali belum terhubung dengan kebutuhan warga di lapangan. Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa yang berulang dari tahun ke tahun menjadi salah satu bukti bahwa banyak persoalan mendasar di desa belum terselesaikan secara berkelanjutan.

“Berapa puluh tahun mahasiswa datang silih berganti KKN di sebuah desa, tetapi masalah sampah dan problem mendasar di kampung itu nyatanya tidak pernah benar-benar tuntas. Di satu sisi, riset akademisi sering kali hanya berhenti di atas kertas tanpa menyentuh persoalan riil masyarakat,” ungkapnya.

Ia melihat pangkal masalahnya terletak pada kebiasaan kerja yang masih terkotak-kotak dan berjalan sendiri-sendiri. Pemerintah daerah berjalan dengan programnya sendiri, kampus sibuk dengan target akademiknya, dan masyarakat bergelut sendirian dengan problem hariannya. Ibarat deretan tiang kabel di pinggir jalan yang saling tumpang tindih tanpa keterpaduan, semua pihak berjalan masing-masing tanpa menyambung ke titik temu yang sama.

Dari kegelisahan itulah, Sayuti menawarkan arah gerak baru melalui tiga pilar kolaborasi konkret. Pertama, menyatukan langkah kampus, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam program multitahun yang berbasis pada misi riil daerah. Kedua, membangun relasi kampus dan industri yang bermakna, bukan sekadar penandatanganan lembaran MoU atau magang formalitas, melainkan perancangan kurikulum bersama yang selaras dengan kebutuhan zaman. Ketiga, meruntuhkan tembok pembatas antarkampus agar perguruan tinggi bisa duduk bersama, saling berjejaring, dan menggagas aksi nyata kolektif seperti KKN bersama demi menyelesaikan persoalan publik.

Di tengah dinamika kebijakan yang kerap berubah, Sayuti menaruh harapan besar di pundak generasi muda untuk berani memutus mata rantai budaya jalan sendiri-sendiri tersebut. Baginya, transformasi pendidikan tidak bisa ditunggu dari atas, melainkan harus dimulai dari fondasi yang paling mendasar, yakni membangun budaya mutu dan menjunjung tinggi kehormatan ilmu pengetahuan.

“Kunci terpenting yang perlu kita bawa pulang adalah prinsip 3M: mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai saat ini. Bekali anak-anak kita dengan kecakapan learning to learn, kemampuan untuk terus belajar mandiri. Karena hanya dengan menghargai ilmu dan berkolaborasi secara konkret, peradaban bangsa ini dapat benar-benar melangkah maju,” pungkasnya. (Ito)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Dekan-Fakultas-Keguruan-dan-Ilmu-Pendidikan-FKIP-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Muhammad-Sayuti-M.Pd_.-M.Ed_.-Ph.D.-Foto.-Humas-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-09-28 08:56:352026-09-28 08:58:02Runtuhkan Sekat Pembatas, Dekan FKIP UAD Tekankan Kolaborasi Pendidikan yang Berdampak

Menelusuri Hakikat dan Empat Tanda Kebahagiaan di Dunia

15/09/2026/in Feature /by Ard

Kajian Rutin Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan pembicara Ustaz Rahmadi Wibowo Suwarno (Foto. Itoshiko)

Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menggelar Kajian Rutin Ahad Pagi pada Ahad, 13 September 2026. Kajian yang mengusung tema “Hadis-Hadis Tentang Kebahagiaan” ini menghadirkan Ustaz Rahmadi Wibowo Suwarno, Lc., M.A., M.Hum., Ph.D. sebagai pemateri. Di hadapan para jamaah, ia mengupas tuntas makna kebahagiaan sejati serta tanda-tandanya di dunia berdasarkan kacamata hadis.

Mengawali materinya, Ustaz Rahmadi mengajak jamaah untuk membedakan antara kenikmatan dan kebahagiaan. Menurutnya, kenikmatan bersifat fisik, dirasakan oleh panca indra, dan biasanya hanya bertahan sesaat sesudah dikonsumsi atau dilihat. Sebaliknya, kebahagiaan memiliki ruang yang istimewa di dalam hati atau jiwa, serta memancarkan rasa yang jauh lebih tahan lama. “Bahagia itu tempatnya di dalam hati,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia memaparkan definisi bahagia atau as-sa’adah yang mencakup tiga hal utama, yakni ketenangan jiwa (sakinatun nafsi), ketentraman hati (tumaninah al-qalbi), dan kelapangan dada (insyirahus-sadri). Tiga ketenangan batin tersebut dapat diraih melalui perilaku yang istikamah dalam kebaikan serta upaya untuk terus mendekatkan diri kepada Allah SWT. Seseorang yang bahagia akan memiliki kelapangan dada selayaknya samudra yang luas dan dalam, sehingga ia lebih mudah memaafkan, tidak sedih berlarut-larut akan masa lalu, dan menatap masa depan dengan penuh harapan.

Penyampaian Ustaz Rahmadi semakin menarik ketika ia membeberkan empat tanda kebahagiaan di dunia sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah saw. Tanda pertama adalah memiliki tetangga yang baik (al-jaru as-shalih), yang membuat hidup bermasyarakat terasa aman dan tenteram. Tanda kedua ialah memiliki kendaraan yang nyaman (al-markabu al-hani’), sehingga memudahkan mobilitas seseorang untuk beribadah maupun menyambung tali silaturahmi.

Tanda kebahagiaan yang ketiga adalah memiliki rumah yang luas (al-maskanu al-wasi’). Ustaz Rahmadi menekankan bahwa kelapangan rumah ini tidak melulu soal ukuran bangunan fisik, melainkan tentang cara memandangnya dan suasana yang dibangun di dalamnya. Rumah yang luas adalah rumah yang terasa lapang di dada karena kerap diisi dengan aktivitas kebaikan, seperti merutinkan salat sunah dan menderas Al-Qur’an. Sementara itu, tanda kebahagiaan yang terakhir adalah anugerah berupa pasangan yang saleh atau salehah (al-mar’atu as-shalihah), yang senantiasa membawa kebermanfaatan bagi keluarga.

Pesan-pesan kebahagiaan ini menjadi penutup kajian yang menyejukkan hati para jamaah. Melalui penjabaran hadis tersebut, terselip pesan bahwa kebahagiaan sejati bermula dari hati yang bertaut kepada Sang Pencipta. Kajian ini diharapkan mampu memupuk rasa syukur jamaah untuk terus memakmurkan batin dalam kehidupan sehari-hari demi meraih kebahagiaan paripurna di dunia dan akhirat. (Ito)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Kajian-Rutin-Ahad-Pagi-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-dengan-pembicara-Ustaz-Rahmadi-Wibowo-Suwarno-Foto.-Itoshiko.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-09-15 11:19:312026-09-15 11:19:31Menelusuri Hakikat dan Empat Tanda Kebahagiaan di Dunia

Memaknai Singkatnya Kehidupan dan Rahmat Berlimpah Menuju Surga

10/09/2026/in Feature /by Ard

Kajian Rutin Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan pembicara Ustaz Rofiul Wahyudi (Foto. Itoshiko)

Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menggelar Kajian Rutin Ahad Pagi pada Ahad, 6 September 2026. Kajian kali ini menghadirkan perwakilan Majelis Tabligh PWM DIY sekaligus Dosen PBS UAD, Ust. Rofiul Wahyudi, S.E.I., M.E.I., Ph.D., yang mengusung tema “Dunia Sementara Akhirat Selamanya”. Di hadapan para jamaah, ia mengajak umat Islam untuk merenungkan kembali esensi hidup di dunia yang serba singkat sebagai bekal menuju keabadian di akhirat.

Mengawali kajian dengan penuh kehangatan, Ustaz Rofiul membagikan pengalaman kesehariannya sebagai asbabun nuzul atau alasan di balik pemilihan tema tersebut. Ia menyoroti betapa cepatnya waktu berlalu; rasanya baru kemarin seorang anak digendong oleh orang tuanya, namun tiba-tiba kini anak tersebut sudah menggendong anaknya sendiri. Mengutip sebuah falsafah, ia menyebut, “Urip niku mung mampir ngombe,” yang bermakna bahwa hidup hanyalah sekadar singgah sesaat untuk minum sebelum akhirnya berpulang kembali.

Meski waktu di dunia sangat terbatas, Ustaz Rofiul mengingatkan para jamaah untuk tidak berkecil hati apalagi merasa insecure terhadap dosa-dosa di masa lalu. Mengupas Surah Az-Zumar ayat 53, ia menjelaskan bagaimana Allah SWT tetap memanggil hamba-Nya dengan sapaan lembut “Yaa Ibaadi” (wahai hamba-hamba-Ku) meski mereka memiliki masa lalu yang kelam pada masa jahiliyah. Sapaan ini menunjukkan kasih sayang yang luar biasa, sehingga siapapun tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah. Ia menegaskan bahwa setiap manusia pasti pernah berbuat salah, namun masa lalu yang buruk tidak boleh menghalangi optimisme untuk meraih surga dengan cara memperbanyak amal saleh.

Penyampaian Ustaz Rofiul menjadi semakin menarik dan mengena ketika ia menggunakan analogi pabrik pensil dan aplikasi Google Maps. Sama seperti pabrik pensil yang sengaja menciptakan penghapus karena menyadari penggunanya pasti sesekali berbuat salah saat menulis, Allah juga senantiasa menyediakan ruang dan kesempatan bertobat bagi manusia. Lebih lanjut, ketika seseorang tersesat atau salah berbelok saat mengikuti rute Google Maps, aplikasi tersebut tidak memarahi penggunanya, melainkan terus memberikan arahan rute baru agar tetap sampai ke tujuan. “Allah pun enggak pernah marah. Allah kasih jalan supaya hidup kita yang sementara ini menjadi wasilah hidup selama-lamanya besok di surga,” jelasnya.

Memasuki penghujung kajian, pembahasan berlanjut pada Surah Az-Zumar ayat 71 dan 73 tentang umat manusia yang digiring dalam bentuk rombongan (zumaro). Ustaz Rofiul membawakan analogi hangat tentang rombongan piknik bus wisata. Jika ada satu saja anggota rombongan yang belum naik ke dalam bus, tentu kendaraan itu tidak akan ditinggal melainkan ditunggu dan orang tersebut akan dicari. Begitu juga kelak di akhirat, umat Islam yang bertakwa akan masuk surga secara bersama-sama dan akan saling mencari kawan rombongannya.

Pesan kebersamaan ini menjadi penutup kajian yang menyejukkan sekaligus menguatkan hati para jamaah. Ustaz Rofiul berpesan agar jamaah senantiasa saling merangkul, mengajak teman atau kerabat kepada kebaikan dengan cara yang bijaksana, serta fokus menatap masa depan. Melalui kajian ini, tersirat harapan besar agar kehidupan dunia yang begitu singkat ini bisa dimaksimalkan sebagai jembatan bagi umat Islam untuk melangkah menuju surga-Nya secara bersama-sama. (Ito)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Kajian-Rutin-Ahad-Pagi-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-dengan-pembicara-Ustaz-Rofiul-Wahyudi-Foto.-Itoshiko.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-09-10 10:03:232026-09-10 10:03:23Memaknai Singkatnya Kehidupan dan Rahmat Berlimpah Menuju Surga

Menapaki Jalan Lurus melalui Sepuluh Wasiat Allah

04/09/2026/in Feature /by Ard

Kajian rutin Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan pembicara Prof. Dr. Waharjani, M.Ag., (Foto. Mawar)

Menjalani kehidupan di jalan yang lurus tidak cukup hanya dengan mengetahui mana yang benar dan salah. Lebih dari itu, manusia perlu menjadikan nilai-nilai kebaikan sebagai pedoman dalam setiap aktivitasnya. Pesan tersebut menjadi salah satu benang merah dalam Kajian Rutin Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) yang mengangkat tema Al-Washaya Al-‘Asyrah: 10 Wasiat Allah dengan merujuk pada Surah Al-An’am ayat 151-153.

Kajian yang berlangsung pada Ahad 2 Agustus 2026 tersebut menghadirkan Ustadz Prof. Dr. Waharjani, M.Ag., Guru Besar Bidang Psikologi Pendidikan Profetik, sebagai pemateri. Dalam kajiannya, ia mengajak jamaah memahami sepuluh wasiat Allah sebagai pedoman kehidupan yang mengarahkan manusia menuju siratal mustaqim atau jalan yang lurus.

Menurutnya, Al-Washaya Al-‘Asyrah dapat dipahami sebagai sepuluh perintah atau wasiat Allah yang menjadi petunjuk bagi manusia. Ia kemudian menghubungkan konsep tersebut dengan istilah siratal mustaqim. “Al-Washaya Al-‘Asyrah itu adalah 10 perintah Tuhan atau 10 wasiat Allah. Yang di dalam beberapa tafsir disebut dengan siratal mustaqim, jalan untuk menuju jalan yang lurus,” jelasnya.

Untuk menggambarkan makna jalan lurus tersebut, Prof. Waharjani menggunakan analogi jalan tol. Jalan tersebut memiliki ruang yang luas sehingga dapat dilalui berbagai kendaraan. Demikian pula siratal mustaqim yang menurutnya merupakan jalan yang dapat ditempuh melalui beragam aktivitas kebaikan selama tetap mengantarkan manusia kepada tujuan yang benar. “Kalau sudah bisa melaksanakan siratal mustaqim itu berarti akan menuju ke Jannatun Naim. Jadi siratal mustaqim itu adalah jalan-jalan atau kegiatan atau aktivitas yang bisa mengantarkan kita kepada jalan yang lurus menuju Jannatun Naim,” tuturnya.

Dalam kajian tersebut, Prof. Waharjani menguraikan kandungan Surah Al-An’am ayat 151-153 secara bertahap. Lima wasiat pertama yang disimpulkan dari ayat 151 berkaitan dengan larangan menyekutukan Allah, perintah berbuat baik kepada orang tua, larangan membunuh anak karena takut kemiskinan, larangan melakukan perbuatan keji, serta larangan membunuh jiwa yang diharamkan Allah.

Salah satu pesan yang mendapat perhatian dalam kajian ialah kewajiban berbuat baik kepada orang tua. Prof. Waharjani menekankan bahwa berbakti kepada orang tua bukan perkara sederhana, terlebih ketika orang tua memasuki usia lanjut dan membutuhkan kesabaran serta perhatian lebih dari keluarga. “Berbuatlah baik kepada kedua orang tua. Ya, baik orang tua itu sudah meninggal atau masih hidup,” ujarnya.

Ia mengingatkan jamaah bahwa merawat orang tua membutuhkan kesabaran. Menurutnya, kondisi orang tua yang semakin lanjut usia dapat membuat mereka kembali membutuhkan pendampingan seperti ketika masih kecil. Karena itu, anak perlu memiliki kesabaran dalam memberikan perhatian dan memenuhi kebutuhan orang tua.

Memasuki Surah Al-An’am ayat 152, pembahasan berlanjut pada larangan mendekati harta anak yatim, perintah menyempurnakan takaran dan timbangan dengan adil, serta kewajiban berlaku adil dan memenuhi janji. Prof. Waharjani menyoroti pentingnya kejujuran dalam persoalan takaran dan timbangan. Nilai tersebut tidak hanya berkaitan dengan aktivitas perdagangan, tetapi juga mencerminkan sikap manusia dalam menjalankan amanah. “Dan sempurnakan takaran dan timbangan dengan adil,” katanya saat menjelaskan salah satu kandungan ayat tersebut.

Menurutnya, keadilan harus menjadi prinsip yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang mengurangi timbangan atau tidak memenuhi hak orang lain, tindakan tersebut menunjukkan ketidakjujuran yang bertentangan dengan pesan yang terkandung dalam ayat.

Kajian kemudian sampai pada pesan bahwa siratal mustaqim bukan sekadar konsep yang bersifat abstrak. Jalan lurus tersebut dibangun melalui pilihan dan aktivitas manusia setiap hari, mulai dari menjaga hubungan dengan Allah, menghormati orang tua, menjaga kehidupan, berlaku jujur, hingga memenuhi janji. Prof. Waharjani menegaskan bahwa sepuluh wasiat tersebut merupakan pedoman yang perlu diikuti oleh umat Islam dalam menjalani kehidupan. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Kajian-rutin-Ahad-Pagi-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-dengan-pembicara-Prof.-Dr.-Waharjani-M.Ag_.-Foto.-Mawar.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-09-04 08:00:452026-09-04 08:00:45Menapaki Jalan Lurus melalui Sepuluh Wasiat Allah
Page 1 of 79123›»

TERKINI

  • UAD Mewisuda 2.130 Mahasiswa pada Wisuda Periode I TA 2026/202702/11/2026
  • HISKI UAD Luncurkan Antologi Puisi di KIK ke-3502/11/2026
  • Gelar Karya PPG UAD Pamerkan 30 Projek Kepemimpinan30/10/2026
  • FKIP UAD Gelar Pelepasan Calon Wisudawan Periode I 2026/202730/10/2026
  • UAD dan UNJAYA Kembangkan Robot Pemilah Sampah Untuk Bangun Ekosistem Ekonomi Hijau Di Parangtritis Bantul30/10/2026

PRESTASI

  • Tim Debat UAD Raih Juara Harapan I pada Kompetisi Debat Tingkat Nasional04/11/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara I Debat Nasional VERDE 202604/11/2026
  • Mahasiswa UAD Juara III Lomba Poster Kesehatan Mental Tingkat Nasional04/11/2026
  • Tim Futsal FKIP UAD Raih Juara 1 Ahmad Dahlan Sport Competition 202603/11/2026
  • Futsal UAD Raih Juara 1 Liga Futsal Kampus Yogyakarta 202602/11/2026

FEATURE

  • Kesehatan Jiwa untuk Masa Depan yang Indah03/11/2026
  • Menanggapi Musibah dari Perspektif Islam30/10/2026
  • Gelar Dokter adalah Awal dari Pengabdian27/10/2026
  • Menjadi Orang Tua Dimulai Sebelum Anak Hadir26/10/2026
  • Meneladani Keteguhan dan Keluhuran Akhlak Rasulullah di Tengah Pemboikotan12/10/2026

TENTANG | KRU | KONTAK | REKAPITULASI

Scroll to top