• TERKINI
  • UAD BERDAMPAK
  • PRESTASI
  • FEATURE
  • OPINI
  • MEDIA
  • KIRIM BERITA
  • Menu
News Portal of Universitas Ahmad Dahlan

Menghindari Penyesalan Abadi

11/06/2026/in Feature /by Ard

Kajian Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan pemateri Ustaz Sholahuddin Zuhri, M.Pd. (Foto. Ito)

Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menggelar Kajian Rutin Ahad Pagi pada Ahad, 7 Juni 2026. Mengusung tema “Penyesalan”, kajian kali ini menghadirkan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah (PWPM) DIY, Ustaz Sholahuddin Zuhri, M.Pd., sebagai narasumber utama.

Di hadapan para jemaah, ia mengupas tuntas hakikat penyesalan manusia, baik di dunia maupun di akhirat kelak, serta bagaimana orang beriman seharusnya menyikapi realitas kehidupan sesaat ini.

Dalam mukadimahnya, Ustaz Sholahuddin mengingatkan bahwa kehidupan dunia sejatinya adalah sebuah “paradigma ilusi kenyataan kehidupan”. Dunia ibarat sebuah permainan yang melenakan, di mana segala kemewahan, harta, dan jabatan yang dikumpulkan manusia pada akhirnya akan ditinggalkan begitu saja.

Ia menegaskan bahwa satu-satunya hal yang benar-benar kekal menjadi milik manusia dan dibawa menghadap Allah kelak hanyalah amal saleh dan dosa-dosanya. Mengutip ulama Ibnu Athaillah As-Sakandari, ia menyoroti fenomena manusia modern yang kerap menunda amal kebaikan dengan alasan menunggu waktu luang, yang mana kebiasaan menunda ketaatan tersebut dinilai sebagai ciri kebodohan jiwa yang berujung pada penyesalan ketika jatah usia telah habis.

Lebih lanjut, pemateri membedah tiga gambaran penyesalan terbesar manusia kelak di akhirat sebagaimana terekam dalam Al-Qur’an. Penyesalan pertama datang dari mereka yang abai dan enggan mengikuti petunjuk Allah serta ajaran Nabi Muhammad saw. Penyesalan kedua dialami oleh orang-orang yang salah dalam memilih teman karib atau lingkungan pergaulan yang justru menjauhkan mereka dari agama.

Terkait hal ini, ia mewanti-wanti jemaah agar cermat menjaga keluarga dari pergaulan toxic dan penyimpangan moral, seperti fenomena LGBT yang makin mengkhawatirkan di lingkungan anak muda. Adapun penyesalan ketiga dirasakan oleh umat yang bertaklid buta atau sekadar mematuhi tokoh dan pimpinannya tanpa menggunakan akal sehat, sehingga ikut tersesat dari jalan kebenaran.

Sebagai penutup, Ustaz Sholahuddin membagikan kiat agar hidup manusia tidak berujung pada penyesalan yang tiada guna. Ia mengibaratkan ilmu dan keimanan layaknya nyala api yang harus terus dijaga keberlangsungannya. Nyala api tersebut tidak akan membesar jika tidak diberi asupan kayu bakar, yang bermakna bahwa ilmu agama dan ketaatan tidak akan berdampak luas tanpa diwujudkan melalui amal perbuatan yang nyata. Ia berpesan kepada seluruh jemaah untuk bersemangat mengejar rida Allah dan memaksimalkan sisa jatah usia untuk beramal saleh, tanpa perlu merisaukan cibiran atau penilaian manusia semata. (Ito)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Kajian-Ahad-Pagi-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-dengan-pemateri-Ustaz-Sholahuddin-Zuhri-M.Pd_.-Foto.-Ito.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-06-11 09:33:362026-06-11 09:33:36Menghindari Penyesalan Abadi

Menggali Makna Kesetiaan dan Pengorbanan

01/06/2026/in Feature /by Ard

Rahmadi Wibowo, Lc., M.A., M.Hum. pemateri Kajian Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Ito)

Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menyelenggarakan Kajian Rutin Ahad Pagi pada 24 Mei 2026 yang bertepatan dengan 7 Zulhijah 1447 H. Tausiah kali ini disampaikan oleh Rahmadi Wibowo, Lc., M.A., M.Hum., selaku Kepala Lembaga Pengembangan Studi Islam UAD sekaligus anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, dengan mengusung tema “Refleksi Dakwah Nabi Ibrahim”.

Mengawali kajiannya, Ustaz Rahmadi mengajak jemaah untuk merefleksikan makna nikmat umur panjang agar senantiasa “makmur”, baik secara zahir (tercukupinya kebutuhan pokok) maupun makmur secara batin. Kemakmuran batin dapat dicapai melalui pengendalian hawa nafsu dan kemampuan membedakan antara kenikmatan indrawi yang bersifat sementara dengan kebahagiaan hakiki yang bersemayam di dalam hati. Ia menekankan bahwa keimanan kepada hari akhir akan membuat seorang muslim lebih berhati-hati dalam bertindak serta menjadikan rida Allah Swt. dan pahala sebagai orientasi utama dalam setiap aspek kehidupan, mulai dari urusan pekerjaan, pernikahan, hingga berbisnis.

Terkait perjalanan dakwah, ia mengingatkan bahwa mengajak manusia kepada kebaikan dan keimanan selalu mendatangkan ujian serta risiko yang berat. Ujian tersebut dapat berupa penolakan, cacian, boikot pekerjaan, siksaan fisik, hingga cobaan dari orang-orang terdekat di dalam keluarga. Rintangan luar biasa ini juga dialami oleh Nabi Ibrahim alaihissalam yang harus berhadapan dengan ayahnya sendiri, melawan penguasa zalim Raja Namrud, bahkan hingga diancam akan dibunuh dengan cara dibakar. Namun, berkat keteguhan iman dan penyerahan diri yang total, Allah Swt. mengangkat kedudukan Nabi Ibrahim sebagai Khalilullah atau kekasih-Nya.

Gelar Khalilullah tersebut, menurut Ustaz Rahmadi, lekat dengan prinsip Al-wala wal-bara, yakni kesetiaan dan kecintaan total kepada Allah Swt. serta berlepas diri dari segala bentuk kesyirikan dan hal-hal yang dibenci-Nya. Ketauhidan yang dibawa Nabi Ibrahim mengajarkan umat manusia untuk memutus rantai ketundukan pada taklid buta warisan leluhur, penguasa yang zalim, serta penyembahan terhadap benda mati dan fenomena alam. Di era modern, wujud nyata dari komitmen tauhid ini adalah kesadaran untuk selalu berpegang teguh pada prinsip halal dan haram, serta senantiasa menjauhi kemaksiatan kontemporer seperti investasi bodong maupun judi online yang hanya akan berujung pada kehancuran dan ketidaktenangan hati.

Di pengujung tausiah, ia mengimbau jemaah untuk memperbanyak membaca dan menggali kisah Nabi Ibrahim, terutama dalam momentum bulan Zulhijah ini. Harapannya, umat Islam dapat meneladani keteguhan tauhid beliau dan senantiasa berupaya menjadi hamba yang dicintai oleh Allah Swt. Kajian ini kemudian ditutup dengan bacaan hamdalah bersama-sama. (Ito)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Rahmadi-Wibowo-Lc.-M.A.-M.Hum_.-pemateri-Kajian-Ahad-Pagi-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Ito.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-06-01 09:00:042026-06-02 10:31:01Menggali Makna Kesetiaan dan Pengorbanan

Sabil Isan Permana: Kalah Harus Bangkit Lagi

30/05/2026/in Feature /by Ard

Sabil Isan Permana atlet Tapak Suci Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Tapak Suci UAD)

Atlet Tapak Suci Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Sabil Isan Permana, sukses menorehkan prestasi membanggakan pada ajang bergengsi The 1st Muhammadiyah Games 2026 Cabang Olahraga Pencak Silat. Mahasiswa program studi Perbankan Syariah ini berhasil membawa pulang medali perunggu setelah keluar sebagai Juara 3 pada kategori Kelas D Putra Dewasa.

Pencapaian luar biasa ini diraih Sabil melalui perjuangan fisik dan mental yang tidak mudah demi bisa tampil maksimal di pertandingan. Ia mengungkapkan bahwa salah satu tantangan terberatnya adalah harus menaikkan berat badan sebanyak 2 kilogram hanya dalam jangka waktu tiga minggu sebelum kompetisi dimulai.

Selain perjuangan fisik yang menguras energi, persaingan internal untuk memperebutkan posisi sebagai delegasi resmi kampus juga diakui sangat ketat. Seluruh atlet Tapak Suci UAD harus saling berlomba dan menunjukkan performa terbaik mereka di masa seleksi agar dinilai layak terpilih menjadi bagian dari 18 orang tim delegasi.

“Bagi saya ini tidak mudah karena untuk kita maju ke lapangan pertandingan, para atlet Tapak Suci UAD itu saling berlomba-lomba menjadi yang terbaik untuk menentukan siapa yang berhak mengikuti event tersebut,” ungkap Sabil.

Ajang nasional ini dirasa sangat membakar semangat Sabil karena menjadi wadah kompetisi perdana skala nasional yang diprakarsai langsung oleh PP Muhammadiyah Bidang Keolahragaan. Atmosfer pertandingan yang kompetitif di Gedung Edutorium UMS memberikan pengalaman baru yang sangat berharga bagi perkembangan karier pencak silatnya.

Meskipun harus puas menempati podium ketiga, Ketua Tapak Suci UAD ini tetap merasa sangat bersyukur atas segala hasil dari proses latihan intensif yang telah dilaluinya. Hasil tersebut ia jadikan sebagai refleksi diri sekaligus kesan mendalam yang memacu motivasinya untuk merebut podium tertinggi di kejuaraan berikutnya.

“Alhamdulillah dengan persiapan yang saya punya, saya tetap bersyukur walau masih diberikan juara tiga di event ini, akan tetapi ini akan menjadi kesan yang baik bagi saya,” pungkasnya dalam sesi wawancara. (Ana)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Sabil-Isan-Permana-atlet-Tapak-Suci-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Tapak-Suci-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-05-30 09:00:462026-06-02 09:41:47Sabil Isan Permana: Kalah Harus Bangkit Lagi

Peran Alumni UAD sebagai Problem Solver Publik

29/05/2026/in Feature /by Ard

apt. M. Yamin, S.Far., M.M., Wali Kota Banjarmasin dan Alumni Farmasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Talkshow Alumni UAD (Foto. Humas UAD)

Lulusan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) harus mampu hadir sebagai agen penyelesai masalah (problem solver) di tengah masyarakat, berbekal intelektualitas dan riset yang kuat. Pesan inspiratif tersebut disampaikan oleh Wali Kota Banjarmasin, apt. M. Yamin, S.Far., M.M., dalam Talkshow Alumni UAD yang diselenggarakan di Amphitarium Kampus Utama UAD pada Jumat, 15 Mei 2026.

Sebagai alumnus Fakultas Farmasi UAD angkatan 2000, lompatan karier M. Yamin terbilang unik. Berawal dari harapan sang ayah untuk mendirikan rumah sakit, ia justru menemukan jalan pengabdian di ranah politik dan kebijakan publik. Karier politiknya dimulai pada 2008, berlanjut menjadi ketua partai pada 2012, hingga terpilih sebagai anggota legislatif selama dua periode sejak 2014. Kesuksesan tersebut membawanya menduduki kursi nomor satu di jajaran Pemerintah Kota Banjarmasin.

Yamin menegaskan, seluruh pencapaian politiknya diraih dengan memegang teguh pesan almarhum ayahnya untuk menghindari praktik politik uang. Menjabat sebagai Wali Kota Banjarmasin, Yamin langsung dihadapkan pada persoalan tata kelola kota yang kompleks.

“Satu hari setelah dilantik, kami langsung dihadapkan pada sanksi terkait pengelolaan sampah. Kami harus segera mengubah sistem open dumping menjadi sanitary landfill dan memproses sampah menjadi energi. Di sinilah kemampuan alumni UAD untuk mengurai permasalahan publik secara sistematis sangat diuji,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Yamin mendorong alumni UAD untuk mengambil peran strategis sebagai jembatan antara kebijakan pemerintah dan aspirasi masyarakat. Di era globalisasi yang serba cepat dan kritis, seorang pemimpin maupun profesional lulusan UAD harus siap menerima masukan dan merespons dinamika sosial secara bijaksana berbasis data.

Ke depan, Pemerintah Kota Banjarmasin di bawah kepemimpinannya berencana untuk mempererat kerja sama dengan UAD. Kolaborasi tersebut akan mencakup program beasiswa bagi putra-putri daerah untuk menempuh pendidikan di UAD, serta pelibatan kampus dalam riset strategis pembangunan kota. Kepercayaan besarnya terhadap kualitas almamater juga dibuktikan dengan jajaran birokratnya, di mana Kepala Dinas Pendidikan di lingkungan kerjanya saat ini juga merupakan rekan satu angkatannya dari UAD. (Septia)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/apt.-M.-Yamin-S.Far_.-M.M.-Wali-Kota-Banjarmasin-dan-Alumni-Farmasi-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-pada-Talkshow-Alumni-UAD-Foto.-Humas-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-05-29 12:37:312026-05-29 12:37:31Peran Alumni UAD sebagai Problem Solver Publik

Fikih Kurban Menurut Muhammadiyah: Dari Nilai Tauhid hingga Aturan Praktis

28/05/2026/in Feature /by Ard

H. Ali Yusuf, S.Th.I., M.Hum pemateri pengajian jelang Iduladha Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Humas UAD)

Dalam acara pengajian jelang Iduladha 1447 H di Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), H. Ali Yusuf, S.Th.I., M.Hum., mengupas tuntas materi bertajuk “Fiqiih Qurban dalam Paham Agama Menurut Muhammadiyah”. Dalam ceramahnya, ia menjelaskan bahwa kerangka fiqih Muhammadiyah dibangun di atas tiga struktur utama, yakni Al-Qiyam al-Asasiyah (nilai dasar), Al-Ushul al-Kulliyah (prinsip universal), dan Al-Ahkam al-Far’iyah (hukum praktis).

Pada tataran Al-Qiyam al-Asasiyah, ia menekankan bahwa qurban harus dilandasi oleh nilai tauhid dan ketakwaan. Ali Yusuf mengingatkan bahwa yang akan sampai kepada Allah bukanlah darah atau daging dari hewan sembelihan, melainkan ketakwaan dari shahibul qurban (pekurban). “Kesadaran orang berkurban karena konsep ilmu dan iman itu bagus. Tetapi kalau berkurban karena cuman gengsi, strata sosial saja, itu menurut saya belum masuk,” jelasnya.

Beranjak pada Al-Ushul al-Kulliyah, penceramah menyoroti prinsip kemaslahatan (maslahah), kemudahan (at-taisir), dan sosial di balik ibadah kurban. Ia mencontohkan inovasi Muhammadiyah seperti pengalengan daging (Rendangmu) dan penyembelihan hadyu di luar tanah haram (seperti di tanah air) sebagai bentuk ijtihad berkemajuan untuk memperluas manfaat kemanusiaan dan kemaslahatan. Selain itu, ia menjelaskan bahwa Rasulullah sering berkurban dengan kambing sebagai bentuk at-taisir (kemudahan) agar umatnya yang berada di tingkat ekonomi menengah tetap dapat menunaikan ibadah ini.

Terkait Al-Ahkam al-Far’iyah atau persoalan hukum praktis yang sering ditanyakan masyarakat, Ali Yusuf memberikan penegasan berdasarkan putusan Majelis Tarjih. Ia menyebutkan bahwa larangan memotong kuku dan rambut menjelang kurban berlaku bagi shahibul qurban, bukan hewan kurbannya. Selain itu, shahibul qurban dilarang menjual kulit atau daging kurbannya, namun panitia takmir diperbolehkan memanfaatkannya jika bagian tersebut telah disedekahkan oleh pekurban. Ia juga menegaskan bahwa kurban untuk orang yang sudah meninggal (almarhum) tidak diperbolehkan, kecuali jika almarhum pernah bernazar atau meninggalkan wasiat semasa hidupnya. (Septia)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/H.-Ali-Yusuf-S.Th_.I.-M.Hum-pemateri-pengajian-jelang-Iduladha-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Humas-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-05-28 10:13:082026-05-28 10:13:08Fikih Kurban Menurut Muhammadiyah: Dari Nilai Tauhid hingga Aturan Praktis

Antara Iman dan Cinta: Belajar Adab Berdakwah dari Kisah Nabi Ibrahim

21/05/2026/in Feature /by Ard

Ustaz Yusuf Hanafiah, S.Pd.I., M.Pd. penceramah kajian Ahad Pagi di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Ito)

Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menggelar Kajian Rutin Ahad Pagi pada 17 Mei 2026. Kajian kali ini menghadirkan Ustaz Yusuf Hanafiah, S.Pd.I., M.Pd., anggota Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY sekaligus Dosen Pendidikan Agama Islam UAD, yang mengusung tema “Antara Iman & Cinta: Hikmah Kisah Nabi Ibrahim a.s. dan Ayahnya”. Dalam tausiahnya, Ustaz Yusuf mengajak jemaah untuk menggali pelajaran berharga dari interaksi dakwah Nabi Ibrahim kepada ayahandanya, Azar, yang merupakan seorang pembuat sekaligus penyembah berhala.

Ustaz Yusuf memaparkan bahwa Nabi Ibrahim hidup di tengah tantangan dakwah yang sangat berat karena paganisme atau penyembahan berhala telah menjadi tradisi turun-temurun di masyarakat saat itu. Meski menghadapi kaum dan ayahnya sendiri yang menyekutukan Allah Swt., Nabi Ibrahim tetap menunjukkan keberanian untuk menyampaikan kebenaran ajaran tauhid. Keberanian tersebut selalu diiringi dengan sikap lemah lembut dan adab yang tinggi, tecermin dari panggilan “Ya Abati” yang diulanginya di dalam Al-Qur’an. Panggilan ini merupakan bentuk penghormatan dengan sehormat-hormatnya serta wujud cinta yang mendalam kepada sang ayah, meskipun mereka berbeda keyakinan.

Selain mengedepankan adab, metode dakwah Nabi Ibrahim juga sarat akan pendekatan rasionalitas dan pemikiran kritis. Ustaz Yusuf mengisahkan kecerdasan logis Nabi Ibrahim saat menghancurkan patung-patung kecil dan mengalungkan kapak pada patung terbesar guna menyadarkan kaumnya bahwa berhala tidak memiliki kekuatan apa pun untuk membela diri. Hal ini memberikan penekanan bahwa iman dan dakwah harus dilandasi oleh ilmu dan rasionalitas yang kuat, bukan sekadar asal bunyi atau mengikuti tradisi secara membabi buta tanpa sumber kebenaran yang jelas.

Di akhir kajian, ia menyoroti risiko dan penolakan keras yang diterima Nabi Ibrahim hingga diancam akan dirajam dan diusir dalam waktu yang lama oleh ayahnya sendiri. Namun, penolakan dan perlakuan menyakitkan tersebut dibalas dengan kesabaran dan doa memohon keselamatan serta ampunan bagi sang ayah. Dari kisah ini, umat Islam diajarkan tentang batasan ketaatan kepada orang tua; di mana anak wajib terus menyayangi, menghormati, dan mendoakan orang tuanya, namun ketaatan tersebut secara mutlak gugur apabila orang tua memerintahkan untuk berbuat syirik atau kemaksiatan kepada Allah Swt. (Ito)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Ustaz-Yusuf-Hanafiah-S.Pd_.I.-M.Pd_.-penceramah-kajian-Ahad-Pagi-di-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Ito.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-05-21 09:37:232026-05-21 09:37:23Antara Iman dan Cinta: Belajar Adab Berdakwah dari Kisah Nabi Ibrahim

Perjuangan Sabriyandi Jadi Wisudawan Terbaik FKIP UAD

21/05/2026/in Feature /by Ard

 

Sabriyandi Wisudawan S1 Terbaik Fakultas FKIP Universitas Ahmad Dahlan (UAD) wisuda periode III 2025-2026 (Foto. Sabriyandi)

Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menggelar Wisuda Terapan, Sarjana, Magister, dan Doktor pada Sabtu, 9 Mei 2026, menetapkan Sabriyandi sebagai Wisudawan S1 Terbaik Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) angkatan 2022 ini berhasil meraih predikat tersebut dengan raihan IPK nyaris sempurna, yakni 3,99. Meskipun mencatatkan angka yang gemilang, bagi Sabriyandi pencapaian ini merupakan hasil dari proses panjang dan konsistensi sebagai anak rantau yang harus belajar mandiri di Yogyakarta.

Perjalanan Sabriyandi dimulai saat ia datang dari Kalimantan Barat dengan segala tantangan adaptasi budaya dan sistem perkuliahan yang baru. Ia mengaku sempat menghadapi rasa lelah dan kurang percaya diri, namun motivasi untuk membawa harapan orang tua membuatnya tetap bertahan. Sabriyandi percaya bahwa hasil besar tidak datang secara instan, melainkan dari usaha kecil yang dilakukan terus-menerus. Baginya, predikat wisudawan terbaik ini bukan hanya tentang nilai, tetapi tentang perjuangan yang tidak berhenti di tengah jalan.

Dalam hal manajemen waktu, Sabriyandi mengandalkan skala prioritas dan kedisiplinan. Meski tidak mengikuti organisasi formal, pengalamannya sebagai Student Employment melatihnya membagi tanggung jawab antara pekerjaan dan kuliah. Ia terbiasa membuat daftar hal yang harus diselesaikan berdasarkan tingkat kepentingan dan berusaha untuk tidak menunda pekerjaan agar tugas tidak menumpuk. Menurutnya, mahasiswa harus belajar bertanggung jawab dengan pilihan dan komitmen yang telah diambil meskipun tidak harus menjadi sempurna dalam membagi waktu.

Untuk menjaga fokus, Sabriyandi memiliki kebiasaan melakukan refleksi diri seperti berjalan sendiri atau mendengarkan musik agar pikiran tetap tenang. Ia menilai menjaga kesehatan pikiran sangat penting untuk mendukung produktivitas. Selain akademik, ia menekankan beberapa skill wajib bagi mahasiswa saat ini, yaitu kemampuan komunikasi, adaptasi, bahasa Inggris, serta public speaking. Ia meyakini bahwa keberanian mencoba hal baru dan kemampuan membangun relasi sangat dibutuhkan di luar materi kelas.

“Tips untuk adik-adik mahasiswa, jangan terlalu sibuk membandingkan diri dengan orang lain. Fokuslah pada proses dan perkembangan diri sendiri. Jangan takut gagal, karena kadang pengalaman yang paling berharga justru datang dari kegagalan,” tuturnya.

Pencapaian IPK 3,99 ini diakuinya didukung penuh oleh peran orang tua, teman, dan para dosen di PGSD FKIP UAD. Orang tua menjadi alasan terbesarnya untuk bertahan, sementara dukungan dosen memberikan motivasi bagi dirinya untuk terus berkembang. Sabriyandi berpesan kepada mahasiswa lain agar tidak takut bermimpi besar meski berasal dari keterbatasan.

“Jangan takut untuk bermimpi besar walaupun berasal dari keterbatasan. Tidak semua proses akan berjalan mudah, tetapi percayalah setiap perjuangan yang dijalani dengan sungguh-sungguh akan menemukan jalannya,” ucapnya. Ia juga menekankan kepada mahasiswa yang masih menempuh perkuliahan untuk memanfaatkan masa kuliah bukan hanya untuk mencari nilai, tetapi juga untuk mencari pengalaman, relasi, dan mengenal potensi diri sendiri. “Jangan takut mencoba, jangan takut gagal, dan jangan cepat menyerah hanya karena prosesnya terasa berat. Karena pada akhirnya, yang membuat seseorang sampai ke titik keberhasilan bukan hanya siapa yang paling pintar, tetapi siapa yang mampu bertahan dan terus melangkah.” Tambahnya. (Anove)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Sabriyandi-Wisudawan-S1-Terbaik-Fakultas-FKIP-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-wisuda-periode-III-2025-2026-Foto.-Sabriyandi-1.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-05-21 09:25:592026-05-21 09:25:59Perjuangan Sabriyandi Jadi Wisudawan Terbaik FKIP UAD

Regina Nadyani Ungkap Strategi Meraih Predikat Wisudawan Terbaik FSBK UAD

19/05/2026/in Feature /by Ard

Regina Nadyani wisudawan S1 terbaik FSBK Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada wisuda periode III 2025/2026 (Foto. Regina)

Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menggelar Wisuda Terapan, Sarjana, Magister, dan Doktor pada Sabtu, 9 Mei 2026, menetapkan Regina Nadyani sebagai Wisudawan S1 Terbaik Peringkat 1 Fakultas Sastra, Budaya, dan Komunikasi (FSBK). Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi angkatan 2022 ini berhasil meraih predikat tersebut dengan menekankan pentingnya manajemen waktu dan eksplorasi diri selama masa studi.

“Jujur pertama kali dengar nama saya disebut, yang pertama kali dirasakan itu panik campur seneng juga. Kenapa panik? Karena saya sebenarnya orang yang cukup kurang percaya diri kalau harus jadi pusat perhatian,” ungkap Regina.

Meskipun menyandang predikat terbaik, Regina mengaku tidak memiliki rahasia khusus dalam belajarnya. Ia hanya berkomitmen untuk menjaga konsistensi sejak awal semester dan aktif mengeksplorasi hal-hal baru di luar kelas.

“Sebenarnya tidak ada rahasia-rahasia. Saya selalu berusaha untuk konsisten dari awal kuliah. Saya juga suka mencoba hal baru dan menggunakan kesempatan ‘ingin tahu’ di bidang akademik maupun dalam kegiatan di luar akademik. Saya orang yang suka merencanakan sesuatu, dari perencanaan yang saya buat itu bisa belajar untuk disiplin sama waktu dan prioritas,” jelasnya.

Untuk menjaga produktivitas, Regina mengandalkan daftar tugas harian agar setiap kegiatannya tetap terorganisir. “Cara bagi waktu ala saya adalah buat to-do list. Beneran ampuh karena lebih terarah dan terorganisir.”

Perjalanan akademiknya pun tidak lepas dari kendala. Regina secara terbuka menceritakan bahwa di balik pencapaiannya, ia juga sempat mengalami kelelahan mental akibat tumpukan tugas proyek dan tenggat waktu yang berdekatan.

“Dalam prosesnya banyak yang tidak terlihat, contohnya sering overthinking, capek fisik dan batin, anxiety, dan juga burnout. Biasanya kalo lagi burnout ya kadang pergi sendiri keliling Jogja sambil dengerin musik atau main sama teman-teman sampe subuh ngobrolin banyak hal dan ketawa-ketawa. Itu juga salah satu booster energy saya kalo lagi lelah banyak pikiran,” tambahnya.

Bagi Regina, momen paling berkesan selama kuliah adalah proses tumbuh bersama teman-teman seangkatannya, termasuk momen mengerjakan tugas hingga subuh. Dari sana, ia juga banyak mengasah kemampuan komunikasi dan adaptasi dengan berbagai karakter orang.

Terkait kemampuan yang harus dimiliki mahasiswa, ia menekankan pentingnya kemampuan berbicara di depan umum. “Menurut saya skill yang wajib adalah public speaking. Bukan untuk ngomong di depan banyak orang, tapi juga gimana cara menyampaikan pendapat dengan percaya diri dan mudah dipahami orang lain.”

Setelah resmi lulus dari FSBK UAD, Regina berencana untuk langsung fokus memasuki dunia kerja sesuai dengan bidang minatnya. Ia berpesan agar mahasiswa lain tetap fokus pada proses masing-masing.

“Jangan pernah bandingkann diri sendiri, fokus sama kerja kerasmu sendiri. Setiap orang punya proses masing-masing jangan takut gagal, coba lagi coba lagi. It’s not over until it’s over,” pungkasnya. (Anove)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Regina-Nadyani-wisudawan-S1-terbaik-FSBK-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-pada-wisuda-periode-III-20252026-Foto.-Regina.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-05-19 09:10:562026-05-19 09:10:56Regina Nadyani Ungkap Strategi Meraih Predikat Wisudawan Terbaik FSBK UAD

Wujudkan Kampus Ekologis, Komitmen Nyata UAD Menjaga Alam

02/03/2026/in Feature /by Ard

Prof. Dr. Ir. Zahrul Mufrodi, S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng., narasumber Pengajian Ramadan PWM DIY di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Humas UAD)

Krisis lingkungan yang kian nyata mendorong Perguruan Tinggi Muhammadiyah untuk mengambil peran aktif sebagai pusat keunggulan (center of excellence) dalam memberikan solusi ekologis. Hal ini ditegaskan oleh Kepala Biro Sarana dan Prasarana Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Prof. Dr. Ir. Zahrul Mufrodi, S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng., saat menjadi narasumber pada rangkaian Pengajian Ramadan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Ahad, 1 Maret 2026 di Amphitarium Kampus IV Universitas Ahmad Dahlan (UAD).

Dalam materi bertajuk “Etika Islam & Edu-Ekologi dalam Menjaga Keseimbangan Alam”, Prof. Zahrul menjabarkan lima prinsip utama etika Islam terkait lingkungan. Prinsip tersebut meliputi kewajiban melindungi alam, menghargai alam sebagai subjek, tanggung jawab moral, solidaritas antarmakhluk, hingga penerapan gaya hidup sederhana. Terlebih, DIY saat ini menghadapi masalah pengelolaan sampah yang serius, di mana penyumbang 38% dari total sampah plastik di wilayah ini adalah dari kalangan mahasiswa. Oleh karena itu, ia menekankan bahwa kampus tidak boleh menjadi bagian dari masalah lingkungan tersebut.

Sebagai wujud komitmen nyata, UAD telah membangun sistem pengelolaan lingkungan terpadu yang membuahkan hasil positif. Tercatat, angka residu sampah kampus berhasil ditekan secara drastis dari 72% (98.786 kg) pada tahun 2024 menjadi 29% (52.066 kg) pada 2025. Sampah organik diolah menjadi kompos bermerek “PupukMu 100% Produk Kompos Organik”, sementara sampah plastik residu dikonversi menjadi bahan bakar minyak (bio-oil) menggunakan teknologi pirolisis. Di sektor pengelolaan air, UAD mengoptimalkan pemanenan air hujan (rainwater harvesting) berkapasitas 2.500 meter kubik di Kampus IV, serta mengolah air limbah melalui Sewage Treatment Plant (STP) untuk kebutuhan penyiraman tanaman dan flushing toilet.

Komitmen ekologis UAD juga menyentuh aspek efisiensi energi dan desain arsitektur. Kampus menargetkan penghematan listrik hingga 15% melalui penerapan lima hari kerja, penggunaan AC Inverter, transisi ke lampu LED, hingga pemanfaatan panel surya sebagai energi terbarukan. Secara fisik, gedung-gedung UAD dirancang dengan struktur sirip eksterior untuk mengoptimalkan sirkulasi udara dan cahaya alami agar ruangan tidak pengap tanpa harus bergantung penuh pada pendingin ruangan. Lingkungan belajar pun dibuat asri melalui kehadiran hutan kampus, vertical garden, serta program konservasi tanaman langka.

Berbagai infrastruktur tersebut didukung dengan penguatan budaya peduli lingkungan, seperti larangan penggunaan plastik sekali pakai, kewajiban membawa botol minum (tumbler), hingga edukasi terpadu yang menjadikan UAD sebagai rujukan pembelajaran lingkungan bagi berbagai instansi di Bantul.

Menutup pemaparannya, Prof. Zahrul menegaskan bahwa menjaga lingkungan adalah bagian integral dari dakwah peradaban Muhammadiyah. Etika Islam tidak boleh berhenti pada ibadah ritual semata, melainkan harus terwujud dalam cara mengelola sumber daya, yang pada akhirnya melahirkan kesadaran ekologis berbasis iman. (Ito)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Prof.-Dr.-Ir.-Zahrul-Mufrodi-S.T.-M.T.-IPM.-ASEAN-Eng.-narasumber-Pengajian-Ramadan-PWM-DIYdi-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Humas-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-03-02 09:35:312026-03-02 09:35:31Wujudkan Kampus Ekologis, Komitmen Nyata UAD Menjaga Alam

Budaya Ekologis dan Resiliensi di Dunia Pendidikan

01/03/2026/in Feature /by Ard

Irfan Amali, M.A., serta H. Budi Setiawan, S.T., dalam Penyampaian Materi II Pada Pengajian Ramadan PWM DIY (Foto. Humas UAD)

Materi kedua dalam rangkaian Pengajian Ramadan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM DIY) mengangkat tema “Resiliensi Bencana dan Gerakan Ekologi di Lembaga Pendidikan”. Sesi ini menghadirkan Irfan Amali, M.A., Pimpinan Pondok Pesantren Welas Asih sekaligus Direktur Eksekutif Peace Generation Indonesia, serta H. Budi Setiawan, S.T., Ketua Lembaga Resiliensi Bencana/Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PP Muhammadiyah.

Dalam paparannya, Irfan Amali menekankan pentingnya welas asih terhadap semesta ekologi yang diwujudkan melalui kebijakan konkret di lingkungan pendidikan. Ia mencontohkan kebijakan di pesantren yang melarang penggunaan minuman kemasan dalam setiap program dan kegiatan.

“Alhamdulillah kami bisa mengurangi sampah anorganik karena membuat kebijakan tidak ada minuman dengan kemasan. Semua program dan acara tidak menggunakan itu. Kebijakan kecil, tetapi dampaknya signifikan,” ujarnya.

Menurutnya, tantangan terbesar dalam pengelolaan sampah adalah residu yang sulit diolah, seperti pembalut dan popok. “Yang paling menantang bagi kita itu residu, yang tidak bisa diapakan lagi. Tidak ada cara lain selain mengubah gaya hidup,” tegasnya.

Ia juga menjelaskan penggunaan insinerator sebagai salah satu solusi teknis. “Ketika kami menggunakan insinerator, pembakaran efektif dilakukan sebelum angin kencang, sekitar pukul 11 siang, dengan suhu 300 derajat Celsius. Itu membuat prosesnya lebih efektif,” jelasnya.

Namun demikian, Irfan menegaskan bahwa pengelolaan sampah harus diawali dengan kesadaran dan pengukuran. “Kalau kita tidak pernah tahu seberapa banyak sampah yang kita hasilkan, maka kita tidak pernah tahu bagaimana memanajennya. Muhasabah atau pengukuran itu sesuatu yang penting,” katanya.

Ia juga memperkenalkan konsep design for change, termasuk dalam praktik ibadah sehari-hari seperti wudu. Menurutnya, penggunaan air saat wudu perlu menjadi perhatian di tengah krisis air yang melanda sejumlah daerah.

“Wudu ini menjadi sesuatu yang harus kita perhatikan, karena kita perlu melihat seberapa banyak air yang kita gunakan setiap kali berwudu. Tanpa kita sadari, itu menjadi masalah global. Saya sangat senang karena Muhammadiyah mulai membahas fiqih air,” ungkapnya.

Dalam konteks budaya sekolah atau hidden curriculum, ia menyampaikan tiga hal penting, yakni memahami bahwa tidak ada benda mati, memberikan pelatihan teknis sebagai bentuk memuliakan benda, serta membangun budaya dan ekosistem yang konsisten mendukung kepedulian lingkungan.

Ia juga menyoroti pentingnya prinsip 3R bahkan 5R dengan menambahkan rethink. “Kalau rethink digunakan, R setelahnya bisa jadi tidak perlu. Problem kita hari ini adalah ignorance, orang tidak berpikir, ‘ah cuma segini sampahnya’. Padahal Rasulullah hidup sangat minimalis dan memperlakukan benda dengan penuh kasih,” tuturnya.

Ia menambahkan bahwa kesadaran efisiensi energi juga perlu diperhatikan, termasuk di tempat ibadah. “Masjid itu nomor tiga paling boros energi setelah hotel dan mal. Ini perlu menjadi perhatian kita bersama,” ujarnya.

Sementara itu, H. Budi Setiawan menekankan pentingnya resiliensi bencana sebagai bagian dari ketangguhan umat. Ia menjelaskan bahwa resiliensi adalah kemampuan untuk segera pulih dari kesulitan atau bencana.

“Ketika kita melihat kejadian bencana, pikiran kita harusnya berpikir kapan kita segera pulih dari kesulitan itu,” katanya.

Menurutnya, membangun ketangguhan harus dilandasi iman serta diwujudkan melalui ikhtiar, kesabaran, dan tawakal. Prinsip resiliensi meliputi persiapan, pengurangan risiko, respons cepat, dan pemulihan.

Ia menekankan pentingnya kesadaran risiko sebelum bencana terjadi. “Kesadaran risiko bencana itu dibangun ketika bencana belum terjadi,” tegasnya.

Ia menyebut tiga urgensi utama resiliensi, yakni mengurangi risiko bencana, meningkatkan keselamatan, dan memperkuat komunitas. Adapun tantangan yang dihadapi meliputi kurangnya kesadaran, keterbatasan sumber daya, serta dampak perubahan iklim.

Sebagai langkah konkret, ia mengajak lembaga pendidikan dan masyarakat untuk mengenali ancaman dan risiko bencana, menyusun rencana darurat, menyiapkan emergency kit, serta rutin melakukan latihan dan simulasi.

Melalui materi ini, gerakan ekologi dan resiliensi bencana ditegaskan bukan sekadar wacana, melainkan bagian dari transformasi budaya dan sistem di lembaga pendidikan demi membangun masa depan yang lebih tangguh dan berkelanjutan. (Dnd)

uad.ac.id

 

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Irfan-Amali-M.A.-serta-H.-Budi-Setiawan-S.T.-dalam-Penyampaian-Materi-II-Pada-Pengajian-Ramadan-PWM-DIY-Foto.-Humas-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-03-01 13:22:152026-03-01 13:22:15Budaya Ekologis dan Resiliensi di Dunia Pendidikan
Page 1 of 74123›»

TERKINI

  • UAD Tuan Rumah Gowes Aptisi Wilayah V 202613/06/2026
  • Doctoral Talk FEB UAD Soroti Strategi UMKM Hijau dan Reformasi Tata Kelola Perbankan Syariah12/06/2026
  • Bimawa  UAD Luncurkan Portal Kegiatan Kemahasiswaan Berbasis Sistem Portofolio Digital12/06/2026
  • Tim PPK Ormawa IMM FKM UAD Usung Program Desa Sehat di Caturharjo11/06/2026
  • Perkuat Budaya Riset, UAD Hadirkan Akademisi NTU Singapura dalam Workshop Publikasi Ilmiah10/06/2026

PRESTASI

  • Mahasiswa Kedokteran UAD Raih Juara II Solo Vocal Pop pada Diksivyta Art Festival 202612/06/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara Nasional lewat Penelitian Fenomena Toxic Relationship di TikTok12/06/2026
  • Kajian Pemulihan Ekonomi Pascabencana Antarkan Mahasiswa UAD Raih Prestasi Nasional11/06/2026
  • Inovasi Kuliner Sehat Mahasiswa UAD Sabet Penghargaan di Kompetisi Nasional11/06/2026
  • Mahasiswa UAD Borong Tiga Penghargaan dalam Lomba National Essay & Business Plan Catalyst Future Competition10/06/2026

FEATURE

  • Menghindari Penyesalan Abadi11/06/2026
  • Menggali Makna Kesetiaan dan Pengorbanan01/06/2026
  • Sabil Isan Permana: Kalah Harus Bangkit Lagi30/05/2026
  • Peran Alumni UAD sebagai Problem Solver Publik29/05/2026
  • Fikih Kurban Menurut Muhammadiyah: Dari Nilai Tauhid hingga Aturan Praktis28/05/2026

TENTANG | KRU | KONTAK | REKAPITULASI

Scroll to top