• TERKINI
  • UAD BERDAMPAK
  • PRESTASI
  • FEATURE
  • OPINI
  • MEDIA
  • KIRIM BERITA
  • Menu
News Portal of Universitas Ahmad Dahlan

Belajar Tak Pernah Usai

13/08/2026/in Feature /by Ard

Septia Amalia, lulusan terbaik Prodi PVTE Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Wisuda Periode IV Tahun 2026 (Foto. Septia)

Bagi Septia Amalia, keberhasilan bukanlah garis akhir yang menandai selesainya sebuah perjalanan. Sebaliknya, setiap pencapaian adalah awal untuk terus belajar, bertumbuh, dan menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi orang lain.

Lulusan Terbaik Program Studi Pendidikan Vokasional Teknik Elektronika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,86 ini mengaku tidak pernah memandang predikat yang diraihnya sebagai tujuan akhir.

Selama menempuh pendidikan, Septia tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik. Ia juga aktif membangun pengalaman yang memperkaya kemampuan diri di luar ruang kuliah.

Di antara berbagai pengalaman tersebut, momen yang paling membekas justru bukan ketika menerima penghargaan, melainkan saat dipercaya menjadi narasumber dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat dan program Dahlan Muda Menginspirasi. Kesempatan itu memberinya ruang untuk berbagi pengetahuan sekaligus belajar menyampaikan gagasan di hadapan banyak orang.

Bagi Septia, kemampuan berbicara bukan sekadar keterampilan komunikasi, tetapi juga jembatan agar ilmu yang dimiliki dapat menjangkau lebih banyak orang.

Semangatnya untuk terus berkembang lahir dari keinginan sederhana, yakni membanggakan kedua orang tua dan memanfaatkan setiap kesempatan belajar sebaik mungkin.

Ia percaya bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan menemukan hasilnya pada waktu yang tepat. Di saat yang sama, ia juga mempersiapkan diri agar memiliki kompetensi yang mampu bersaing di dunia kerja setelah lulus.

Perjalanan menuju titik tersebut tentu tidak selalu mudah. Masa perkuliahan mempertemukannya dengan berbagai tanggung jawab yang datang secara bersamaan. Di satu sisi ia harus menyelesaikan tugas akhir, sementara di sisi lain ia tetap ingin aktif dalam organisasi, mengikuti pelatihan, dan mengembangkan kemampuan diri di luar kelas.

Alih-alih melihat kesibukan sebagai beban, Septia menjadikannya ruang belajar untuk mengenali kapasitas dirinya. Ia belajar bahwa setiap kesempatan memiliki nilai yang berbeda, dan setiap pengalaman selalu membawa pelajaran baru.

Baginya, proses bertumbuh bukan hanya tentang menyelesaikan banyak hal dalam waktu bersamaan, tetapi tentang keberanian untuk terus membuka diri terhadap pengalaman yang dapat membentuk karakter dan kompetensi.

Dalam menjaga prestasi, Septia memilih untuk membangun kebiasaan belajar secara bertahap. Ia tidak hanya berusaha memahami materi perkuliahan, tetapi juga aktif mengikuti berbagai pelatihan dan organisasi sebagai ruang untuk mengembangkan kemampuan nonakademik.

Menurutnya, konsistensi dan disiplin menjadi fondasi penting agar seseorang mampu terus berkembang tanpa kehilangan arah.

Di balik seluruh pencapaian tersebut, Septia menyadari bahwa keberhasilannya tidak diraih seorang diri. Ia menyampaikan rasa terima kasih kepada kedua orang tuanya yang tidak pernah berhenti mendoakan dan memberikan dukungan dalam setiap langkah.

Ia juga mengapresiasi para dosen pembimbing yang senantiasa memberikan arahan selama proses perkuliahan maupun penyelesaian tugas akhir, serta teman-teman yang selalu menghadirkan semangat untuk terus berkembang.

Selepas menyelesaikan pendidikan sarjana, Septia ingin memulai karier di bidang teknologi informasi. Ia berharap dapat terus meningkatkan kompetensi melalui pengalaman kerja, pelatihan, serta berbagai sertifikasi profesional.

Dalam jangka panjang, ia bercita-cita menjadi seorang profesional yang mampu berkontribusi dalam pengembangan teknologi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Ia berpesan, “Setiap pengalaman akan menjadi bekal yang berharga di masa depan,” ucapnya.

Di akhir perjalanan studinya, Septia menyadari bahwa pelajaran hidup yang paling berharga bukan hanya tentang keberhasilan, melainkan tentang kesediaan untuk terus belajar.

Ia percaya bahwa kerja keras, disiplin, dan konsistensi memang penting, tetapi yang membuat seseorang terus bertumbuh adalah kemauan untuk tidak berhenti memperbaiki diri. Sebab, setiap tantangan selalu membawa kesempatan baru. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Septia-Amalia-lulusan-terbaik-Prodi-PVTE-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-pada-Wisuda-Periode-IV-Tahun-2026-Foto.-Septia.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-13 09:20:572026-08-13 09:20:57Belajar Tak Pernah Usai

Dari Titik yang Tertinggal, Fikrotus Shofiyah Menemukan Jalannya

13/08/2026/in Feature /by Ard

Fikrotus Shofiyah, salah satu wisudawan terbaik Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Wisuda Periode IV Tahun 2026 (Foto. Fikrotus)

Ada perjalanan yang dimulai dari garis yang berbeda. Ada pula mimpi yang tumbuh di tengah keraguan. Bagi Fikrotus Shofiyah, perjalanan itu bukan sekadar tentang menyelesaikan masa studi, melainkan tentang membuktikan bahwa keterbatasan tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti melangkah.

Lulusan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,88 ini mengaku tidak pernah membayangkan dirinya akan menjadi salah satu lulusan terbaik. “Tidak pernah terbayang menjadi salah satu bagian dari wisudawan terbaik. Saya sangat bersyukur. Rasanya Tuhan memberikan bonus dari perjalanan singkat saya selama menempuh pendidikan,” tuturnya.

Di balik rasa syukur tersebut, tersimpan perjalanan yang dibangun melalui keberanian untuk terus belajar dan berkembang.

Selama menjadi mahasiswa, Fikrotus berhasil meraih Juara II Lomba Penulisan Cerpen Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida), lolos pendanaan Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPKO) dari Kemendikbudristek, lolos pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), serta meraih Harapan II Lomba Desain Poster tingkat Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA).

Namun, pengalaman yang paling membekas baginya adalah ketika berhasil menjadi semifinalis kompetisi kepenulisan tingkat internasional. “Bagi saya, yang paling berharga bukan hanya hasilnya, tetapi prosesnya. Dari sana saya belajar bahwa ternyata saya bisa, selama saya mau terus berkembang,” jelasnya.

Semangat itu lahir dari perjalanan hidup yang tidak selalu berjalan mulus. Fikrotus berasal dari lembaga pendidikan berbasis tahfiz dengan ijazah kesetaraan Paket C. Saat hendak melanjutkan pendidikan, ia pernah dihadapkan pada kenyataan bahwa ijazah tersebut tidak dapat digunakan untuk mendaftar beasiswa tahfiz di sejumlah perguruan tinggi.

Saat itu, ia merasa kecewa. Namun, rasa kecewa tersebut perlahan berubah menjadi tekad. “Saya ingin membuktikan bahwa meskipun berasal dari pendidikan dengan ijazah Paket C, saya tetap bisa kuliah dan menjadi mahasiswa yang aktif di berbagai bidang,” ucapnya.

Tekad itu membawanya melangkah ke Universitas Ahmad Dahlan. Namun, perjuangan yang sesungguhnya justru dimulai setelah menjadi mahasiswa.

Tahun pertama menjadi fase yang paling berat. Latar belakang pendidikan yang lebih berfokus pada tahfiz membuatnya harus bekerja lebih keras untuk mengejar materi perkuliahan. Banyak konsep dasar yang belum pernah ia pelajari sebelumnya. Ia juga harus membiasakan diri dengan penggunaan bahasa asing yang menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran di program studinya.

Sementara teman-temannya telah memiliki bekal dari sekolah umum, Fikrotus memilih mengejar ketertinggalannya sedikit demi sedikit. Ia percaya bahwa setiap halaman yang tertinggal masih bisa dikejar selama tidak berhenti membaca perjalanan.

Perjuangan itu tidak hanya hadir di ruang kelas. Di luar perkuliahan, ia juga harus menghadapi keterbatasan ekonomi.

Dengan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan yang harus diperjuangkan, ia tetap melanjutkan kuliah meski tanpa beasiswa. Ada masa ketika ia kesulitan membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT), mengajukan dispensasi pembayaran agar tetap dapat mengikuti perkuliahan, bahkan hampir tidak bisa mengikuti ujian. Ia masih mengingat perjalanan menuju kampus dengan mengayuh sepeda ontel milik asrama di bawah hujan demi mengurus administrasi dispensasi. Ia juga pernah mencoba membangun usaha untuk membantu biaya kuliah, meskipun pilihan itu akhirnya tidak berjalan sesuai harapan.

Namun, setiap kegagalan tidak pernah ia anggap sebagai akhir perjalanan. “Saya belajar mengambil hikmah dari setiap keadaan. Dari situ saya mulai membuat target-target yang nyata untuk diri sendiri. Saya ingin membuktikan bahwa ternyata saya bisa,” tandasnya.

Keyakinan tersebut terus dijaga berkat doa dan dukungan dari orang-orang terdekat, yaitu orang tuanya, Chusnul Mubin dan Anariatin, sebagai sumber kekuatan terbesar yang selalu membuatnya mampu bangkit setiap kali ingin menyerah.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada keluarga besar yang terus memberikan semangat, serta Dekan Fakultas, Sayuti, yang banyak memberikan arahan, nasihat, dan pengalaman berharga selama masa perkuliahan.

Dalam menjalani berbagai aktivitas, Fikrotus selalu membuka diri terhadap pengalaman baru. Ia senang mencoba berbagai kesempatan untuk mengenal potensi dirinya, tetapi tetap menjadikan akademik sebagai prioritas utama. “Saya memilih mempersempit waktu bermain untuk hal-hal yang lebih bermanfaat dan bisa membantu saya berkembang,” tambahnya.

Fikrotus bercita-cita melanjutkan pendidikan magister melalui beasiswa di negara maju. Mimpinya tidak berhenti pada gelar akademik. Ia ingin berkontribusi menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat dengan menanamkan adab dan pembentukan karakter sejak usia dini. Baginya, setiap ilmu baru merupakan bekal untuk mewujudkan cita-cita tersebut.

Selanjutnya, ia berharap kampus terus menjadi ruang yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk berkembang dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Sementara kepada generasi berikutnya, ia berpesan agar tidak pernah berhenti berbuat baik di mana pun berada.

Pelajaran hidup yang paling berharga yang ia bawa dari perjalanan ini adalah tentang kerja keras. Menurutnya, sejauh apa pun seseorang merasa tertinggal, selalu ada kesempatan untuk mengejarnya selama memiliki keyakinan dan kemauan untuk terus berusaha. “Rasa minder dan tidak percaya diri hanya akan menghalangi kita mencapai tujuan. Saya percaya, selama mau bekerja keras, tidak ada perjalanan yang benar-benar terlambat,” tutupnya.

Perjalanan Fikrotus Shofiyah menjadi pengingat bahwa setiap orang memulai dari titik yang berbeda. Namun, bukan dari mana seseorang memulai yang menentukan akhirnya, melainkan keberanian untuk terus melangkah, meski jalan yang ditempuh tidak selalu mudah. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Fikrotus-Shofiyah-salah-satu-wisudawan-terbaik-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-pada-Wisuda-Periode-IV-Tahun-2026-Foto.-Fikrotus.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-13 09:05:442026-08-13 09:05:44Dari Titik yang Tertinggal, Fikrotus Shofiyah Menemukan Jalannya

Menjadi Versi Terbaik Melalui Ketekunan

13/08/2026/in Feature /by Ard

Leli Fatmawati, salah satu wisudawan terbaik Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Wisuda Periode IV Tahun 2026 (Foto. Leli)

Bagi Leli Fatmawati, setiap pencapaian tidak pernah datang secara instan. Di balik predikat sebagai Wisudawan Terbaik, tersimpan perjalanan panjang yang dipenuhi ketekunan, disiplin, dan rasa syukur atas setiap kesempatan yang diberikan.

Lulusan Program Studi Pendidikan Biologi dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,99 ini mengaku tidak pernah membayangkan akan menjadi salah satu wisudawan terbaik pada Wisuda Periode IV Tahun 2026.

Selama menempuh pendidikan, Leli aktif mengembangkan diri melalui berbagai kegiatan akademik maupun kompetisi. Selain berhasil mempertahankan prestasi akademik dengan IPK yang hampir sempurna, ia juga memperoleh pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Eksakta (PKM-RE), meraih Juara I Artikel Terbaik Kategori Pendidikan UAD 2025, Juara I Presenter Terbaik Seminar Internasional Hasil PLP I dan PLP II Tahun 2026, serta Juara I Lomba Microteaching Program Studi Pendidikan Biologi Tahun 2026. Berbagai capaian tersebut menjadi bagian dari perjalanan belajarnya selama di bangku kuliah.

Menurut Leli, keberhasilan tersebut berawal dari kesadaran bahwa dirinya merupakan penerima beasiswa. Amanah itulah yang terus mendorongnya untuk memberikan usaha terbaik dalam setiap kesempatan.

“Sebagai penerima beasiswa, saya merasa memiliki tanggung jawab yang besar. Karena itu, saya berusaha memaksimalkan kemampuan yang saya miliki agar dapat terus berprestasi dan memberikan hasil terbaik,” tuturnya.

Di balik berbagai prestasi yang diraih, tantangan terbesar yang harus dihadapinya adalah mengelola waktu, tenaga, dan pikiran di tengah padatnya aktivitas. Perkuliahan, organisasi, penelitian, dan berbagai kompetisi sering kali berjalan bersamaan sehingga menuntutnya untuk mampu menentukan prioritas.

Leli memilih menjalani setiap proses dengan tenang tanpa terburu-buru. Baginya, menyusun skala prioritas dan menjaga komunikasi yang baik menjadi kunci agar setiap tanggung jawab dapat diselesaikan secara maksimal.

“Saya belajar bahwa semua bisa dijalani jika dilakukan dengan tenang, mengetahui mana yang harus diprioritaskan, dan tetap menjaga komunikasi yang baik dengan orang-orang di sekitar,” jelasnya.

Kebiasaan sederhana juga menjadi bagian penting dalam perjalanan prestasinya. Sejak awal, Leli selalu menetapkan target-target yang ingin dicapai sebagai arah dalam setiap langkah yang diambil. Bagi Leli, target bukan sekadar daftar keinginan, melainkan pengingat agar dirinya tetap konsisten bertumbuh dan tidak kehilangan arah di tengah berbagai aktivitas.

Keberhasilan yang diraihnya juga tidak lepas dari doa dan dukungan orang-orang terdekat. Ia menyampaikan rasa terima kasih kepada kedua orang tuanya, Suyatno dan Sani, kakak, keluarga besar, teman-teman, serta para dosen Program Studi Pendidikan Biologi yang terus memberikan semangat dan bimbingan selama masa perkuliahan. “Semua doa, dukungan, dan motivasi dari mereka menjadi kekuatan bagi saya untuk terus berjuang hingga sampai di titik ini,” tambahnya.

Leli bercita-cita kembali melanjutkan pendidikan ke jenjang magister melalui program beasiswa agar dapat terus mengembangkan kompetensi dan memberikan kontribusi yang lebih luas di bidang pendidikan.

Bagi Leli, prestasi bukan hanya tentang penghargaan yang berhasil diraih. Ia memaknai prestasi sebagai bentuk penghargaan atas setiap usaha yang telah dilakukan dengan sungguh-sungguh, sedangkan kesuksesan adalah kemampuan untuk mencapai versi terbaik dari diri sendiri, baik sesuai dengan rencana yang disusun maupun jalan yang telah ditetapkan Tuhan.

Ia juga berharap almamaternya terus berkembang menjadi perguruan tinggi yang melahirkan lulusan unggul, berintegritas, dan berlandaskan nilai-nilai keislaman serta kemuhammadiyahan. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Leli-Fatmawati-salah-satu-wisudawan-terbaik-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-pada-Wisuda-Periode-IV-Tahun-2026-Foto.-Leli.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-13 08:52:022026-08-13 08:52:02Menjadi Versi Terbaik Melalui Ketekunan

Membangun Masa Depan dari Setiap Pengalaman

12/08/2026/in Feature /by Ard

Rifan Dwitya Suratman wisudawan berprestasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada wisuda periode IV tahun 2026 (Foto. Rifan)

Bagi sebagian orang, masa kuliah adalah tempat menimba ilmu. Namun, bagi Rifan Dwitya Suratman, masa kuliah juga menjadi ruang untuk membangun pengalaman, menempa karakter, dan menciptakan kisah yang kelak layak dikenang.

Lulusan Program Studi Psikologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,76 ini berhasil dinobatkan sebagai Wisudawan Berprestasi UAD pada Wisuda Periode IV Tahun 2026. Penghargaan tersebut menjadi penutup manis dari perjalanan panjang yang dipenuhi tantangan, kerja keras, dan berbagai pengalaman berharga.

Selama menjadi mahasiswa, Rifan aktif mengikuti berbagai program pengembangan mahasiswa yang berfokus pada riset dan pengabdian kepada masyarakat. Berkat konsistensinya, ia berhasil lolos pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH), lolos pendanaan Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa), serta mengantarkan timnya meraih Juara II Abdidaya PPK Ormawa, salah satu ajang penghargaan nasional bagi program pengabdian mahasiswa.

Meski prestasi tersebut menjadi pencapaian yang membanggakan, bagi Rifan penghargaan bukanlah tujuan utama. Ia justru memiliki motivasi yang sederhana, tetapi bermakna. “Motivasi terbesar saya adalah menciptakan kenangan yang nantinya bisa saya ceritakan dan membentuk diri saya menjadi pribadi yang lebih baik di masa depan,” tuturnya.

Prinsip tersebut membuatnya tidak sekadar mengejar hasil, tetapi juga menikmati setiap proses yang dijalani. Setiap organisasi, penelitian, maupun kegiatan pengabdian menjadi pengalaman yang memperkaya cara pandangnya terhadap kehidupan.

Di balik berbagai pencapaian itu, Rifan mengakui bahwa tantangan terbesar selama kuliah adalah mengelola waktu. Padatnya aktivitas akademik, organisasi, hingga berbagai program kemahasiswaan menuntutnya untuk mampu menentukan prioritas dengan bijak.

“Terkadang ada beberapa hal yang kurang mendapat perhatian, baik di bidang akademik maupun nonakademik. Karena itu, saya belajar mengatur prioritas agar setiap kegiatan tetap bisa berjalan dengan baik,” jelasnya.

Untuk menjaga konsistensi, Rifan memiliki kebiasaan yang selalu ia terapkan sebelum mengambil sebuah keputusan. Ia akan menentukan skala prioritas sekaligus menganalisis dampak dari setiap kegiatan yang akan dijalani.

“Saya selalu melihat seperti apa hasil akhirnya. Ketika sudah memiliki gambaran tujuan, meskipun masih sederhana, itu menjadi motivasi untuk menyelesaikan prosesnya,” tandasnya.

Baginya, langkah tersebut membuat setiap usaha terasa lebih terarah dan tidak dilakukan secara sia-sia.

Dalam perjalanan meraih prestasi, Rifan menyadari bahwa keberhasilannya tidak mungkin diraih seorang diri. Ia menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan, kedua orang tuanya, Agus Suratman dan Yeri Mulyanah, serta teman-teman seperjuangan yang selalu memberikan dukungan selama proses perkuliahan. “Keberhasilan ini adalah hasil dari doa, dukungan, dan perjuangan banyak orang,” tambahnya.

Selepas menyelesaikan pendidikan sarjana, Rifan berharap dapat memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan bidang dan harapannya. Baginya, dunia kerja akan menjadi ruang baru untuk terus belajar sekaligus memberikan kontribusi yang lebih luas.

Menurut Rifan, kesuksesan tidak semata-mata diukur dari jabatan atau penghargaan yang dimiliki seseorang. “Kesuksesan yang sesungguhnya adalah ketika kita mampu memberikan dampak positif bagi orang lain,” tandasnya.

Ia berharap seluruh sivitas akademika terus tumbuh menjadi pribadi-pribadi unggul di bidangnya masing-masing dan mampu menunjukkan kualitas lulusan UAD melalui karya serta kontribusi nyata.

Rifan menyadari bahwa pelajaran paling berharga yang diperoleh selama kuliah bukan hanya berasal dari ruang kelas. Ia belajar bahwa kehidupan kampus merupakan fase penting dalam membentuk jati diri seseorang. Karena itu, ia mengajak mahasiswa untuk memanfaatkan masa kuliah sebaik mungkin, tidak hanya dengan belajar secara serius, tetapi juga menikmati setiap proses bersama teman-teman yang memberikan energi positif.

“Masa kuliah sangat berpengaruh terhadap pembentukan jati diri. Jadi, jangan hanya sibuk belajar. Nikmati juga setiap proses, bangun pertemanan yang baik, dan ciptakan kenangan yang kelak akan menjadi bagian berharga dalam hidup.”

Bagi Rifan, prestasi memang menjadi pencapaian yang membanggakan. Namun, lebih dari itu, masa kuliah adalah tentang bagaimana seseorang bertumbuh, membangun karakter, dan meninggalkan jejak yang bermanfaat bagi orang lain. Karena pada akhirnya, kenangan terbaik bukan hanya tentang apa yang berhasil diraih, tetapi juga tentang siapa diri kita setelah melalui seluruh proses tersebut. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Rifan-Dwitya-Suratman-wisudawan-berprestasi-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-pada-wisuda-periode-IV-tahun-2026-Foto.-Rifan.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-12 10:02:582026-08-12 10:02:58Membangun Masa Depan dari Setiap Pengalaman

Di Balik Prestasi, Ada Proses yang Tak Pernah Berhenti

12/08/2026/in Feature /by Ard

Komisah, wisudawan berprestasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada wisuda periode IV tahun 2026 (Foto. Komisah)

Setiap prestasi selalu memiliki cerita. Ada waktu yang dikorbankan, ada kegagalan yang dijadikan pelajaran, dan ada tekad yang terus dijaga agar tidak padam. Bagi Komisah, seluruh proses itulah yang mengantarkannya dinobatkan sebagai Wisudawan Berprestasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Wisuda Periode IV Tahun 2026.

Lulusan Program Studi Kesehatan Masyarakat dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,80 ini mengaku penghargaan tersebut menjadi momen yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. “Saya merasa sangat senang, terharu, dan bangga terhadap diri saya sendiri. Perjalanan selama kuliah tidak selalu mudah. Ada banyak tantangan, pengorbanan, dan proses yang harus saya lalui,” ungkapnya.

Bagi Komisah, predikat Wisudawan Berprestasi bukan sekadar bentuk apresiasi atas pencapaian yang telah diraih, melainkan amanah untuk terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Selama menempuh pendidikan di UAD, Komisah aktif mengikuti berbagai kompetisi, organisasi, kepanitiaan, serta kegiatan akademik maupun nonakademik. Konsistensinya mengembangkan diri membawanya meraih berbagai prestasi di tingkat nasional hingga internasional.

Beberapa di antaranya adalah Juara 1 Business Plan Temu Ilmiah Mahasiswa Prestasi Nasional yang sekaligus memperoleh penghargaan Best Presentation dan Gold Medal, Juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah Gagasan Tertulis Pekan Ilmiah Mahasiswa Kesehatan Masyarakat PTM, Gold Medal pada Temu Ilmiah Mahasiswa Prestasi Nasional kategori Lomba Karya Tulis Ilmiah, Gold Medal pada Virtual Innovation Competition, serta International Invention and Creativity Special Award. Selain itu, Komisah juga berhasil meraih berbagai penghargaan lainnya di bidang karya tulis ilmiah, business plan, esai, inovasi, hingga media kreatif.

Semangat untuk terus berprestasi lahir dari keinginan sederhana, yakni memanfaatkan setiap kesempatan yang diberikan sebaik mungkin. Baginya, prestasi bukan hanya tentang menjadi juara, tetapi tentang proses bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik setiap hari.

Ia juga ingin membanggakan kedua orang tua, almamater, sekaligus menginspirasi mahasiswa lain agar tidak takut mencoba hal-hal baru.

Perjalanan tersebut tentu tidak selalu berjalan mulus. Tantangan terbesar yang harus dihadapi Komisah adalah mengatur skala prioritas di tengah padatnya aktivitas perkuliahan, organisasi, serta berbagai perlombaan yang diikuti secara bersamaan.

“Saya belajar membuat perencanaan yang baik, mengatur waktu secara disiplin, dan memahami mana yang harus diprioritaskan terlebih dahulu. Saya juga sadar bahwa tidak semua kesempatan harus diambil sekaligus,” tambahnya.

Di balik keberhasilannya, Komisah tidak pernah melupakan sosok-sosok yang selalu memberikan dukungan. Ia menyebut kedua orang tuanya, Bapak Ana dan Ibu Imi, sebagai sumber kekuatan terbesar yang senantiasa menghadirkan doa, semangat, dan kepercayaan dalam setiap langkahnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada dosen pembimbing yang selalu sabar mendampingi selama proses mengikuti berbagai kompetisi. Tidak hanya itu, teman seperjuangannya, Putri Septiana dan Haqmadi Widya Ihsanto, menjadi rekan diskusi sekaligus partner yang saling menguatkan hingga berbagai prestasi berhasil diraih bersama.

Bagi Komisah, menjaga prestasi tidak membutuhkan cara yang rumit. Ia memilih untuk selalu membuka diri terhadap pengalaman baru dan tidak takut mencoba berbagai kesempatan yang datang. “Saya percaya setiap kesempatan adalah ruang untuk belajar dan berkembang. Kegagalan bukan sesuatu yang harus ditakuti, tetapi menjadi bahan evaluasi agar bisa memberikan hasil yang lebih baik pada kesempatan berikutnya,” tandasnya.

Selepas menyelesaikan studi sarjana, Komisah telah menyiapkan langkah berikutnya. Ia bercita-cita melanjutkan pendidikan Magister melalui program beasiswa LPDP agar dapat meningkatkan kompetensi sekaligus memperluas kontribusinya bagi masyarakat.

Baginya, makna kesuksesan tidak pernah diukur dari banyaknya piala atau penghargaan yang dimiliki.“Kesuksesan adalah ketika kita mampu memberikan manfaat bagi orang lain. Prestasi hanyalah hasil dari sebuah proses, sedangkan kesuksesan yang sesungguhnya adalah ketika kita terus berkembang, tetap rendah hati, dan menggunakan ilmu yang dimiliki untuk memberikan dampak positif,” jelasnya.

Komisah berharap Universitas Ahmad Dahlan terus menjadi kampus yang melahirkan lulusan unggul, berprestasi, dan berkarakter, sekaligus membuka lebih banyak ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensinya.

Sebab pada akhirnya, setiap prestasi bukanlah garis akhir dari sebuah perjalanan. Prestasi adalah pengingat bahwa seseorang selalu memiliki ruang untuk belajar, bertumbuh, dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi sesama. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Komisah-wisudawan-berprestasi-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-pada-wisuda-periode-IV-tahun-2026-Foto.-Komisah.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-12 09:56:202026-08-12 09:56:20Di Balik Prestasi, Ada Proses yang Tak Pernah Berhenti

Tak Sekadar Merantau, Diah Ayu Praharani Menorehkan Prestasi di UAD

12/08/2026/in Feature /by Ard

Diah Ayu Praharani, wisudawan terbaik FKIP Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada wisuda periode IV tahun 2026 (Foto. Diah)

Perjalanan meraih prestasi sering kali tidak dimulai dari rasa percaya diri, melainkan dari keberanian menghadapi keraguan. Itulah yang dialami Diah Ayu Praharani, lulusan Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) Universitas Ahmad Dahlan (UAD), yang berhasil dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) pada Wisuda Periode IV Tahun 2026.

Di balik Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,99 yang berhasil diraihnya, tersimpan kisah seorang mahasiswa perantau dari Sulawesi yang pernah mempertanyakan kemampuannya sendiri ketika pertama kali menginjakkan kaki di Yogyakarta.

“Jujur, awalnya saya tidak percaya. Apalagi mengingat saya berasal dari Sulawesi. Di awal kuliah saya sempat merasa insecure. Saya bertanya-tanya, mampu tidak ya bersaing dengan teman-teman yang berasal dari kota dan memiliki akses pendidikan yang lebih maju?” kenangnya.

Keraguan itu perlahan berubah menjadi keyakinan. Bukan karena jalan yang dilalui selalu mudah, melainkan karena ia memilih terus bertahan dan belajar di setiap kesempatan. Saat namanya diumumkan sebagai Wisudawan Terbaik FKIP, Diah mengaku masih sulit mempercayainya.

Selama menjadi mahasiswa, Diah aktif mengikuti berbagai kompetisi, khususnya di bidang kepenulisan. Ia berpartisipasi dalam lomba karya tulis ilmiah, penulisan artikel, pembuatan media pembelajaran, desain poster, hingga Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Baginya, setiap penghargaan memiliki cerita yang berbeda dan sama berharganya.

“Semua prestasi berkesan karena selalu ada perjuangan di baliknya. Terutama kompetisi yang dikerjakan secara tim, seperti karya tulis ilmiah, pembuatan media pembelajaran, dan PKM. Di sana saya belajar bekerja sama, saling mendukung, dan menyelesaikan tantangan bersama,” tuturnya.

Bagi Diah, motivasi terbesar untuk terus berprestasi bukanlah sekadar mengejar penghargaan. Ia ingin membalas kepercayaan yang telah diberikan oleh banyak orang yang mendukung perjalanan pendidikannya.

“Saya ingin berterima kasih kepada orang tua yang sudah menaruh harapan, kepada orang-orang yang membantu saya bisa sampai ke Yogyakarta, juga kepada UAD dan pemerintah yang telah memberikan kesempatan untuk berkuliah melalui program KIP-Kuliah. Prestasi yang saya raih adalah bentuk penghargaan atas usaha dan kepercayaan mereka,” ucapnya.

Namun, tantangan terbesar yang ia hadapi justru datang dari dalam dirinya sendiri. Diah mengaku termasuk pribadi yang sering berpikir berlebihan dan kerap membandingkan pencapaiannya dengan orang lain. Melihat keberhasilan teman-temannya terkadang membuatnya bertanya mengapa ia belum mampu mencapai hal yang sama.

Alih-alih larut dalam perasaan tersebut, ia memilih melakukan refleksi diri. “Saya lebih sering bermuhasabah. Saya belajar bahwa setiap orang memiliki proses yang berbeda. Apa yang terlihat sebagai keberhasilan hari ini mungkin lahir dari perjuangan panjang yang tidak pernah kita lihat,” tuturnya.

Cara pandang itulah yang membuatnya perlahan mampu menghargai prosesnya sendiri tanpa terus membandingkan langkah dengan orang lain.

Dalam perjalanan akademiknya, Diah juga tidak pernah berjalan sendirian. Ia menyebut kedua orang tuanya, Kodirun dan Suparti, sebagai sosok yang selalu memberikan doa, semangat, dan dukungan tanpa henti. Selain keluarga, ia juga mengapresiasi dosen pembimbing akademik yang selalu membuka ruang diskusi, bahkan di tengah kesibukan.

“Beliau selalu mendukung saya, baik untuk menyelesaikan tugas akhir berupa publikasi di jurnal SINTA 2 maupun ketika mempersiapkan berbagai perlombaan. Saya bisa berkonsultasi pagi, siang, bahkan malam. Dukungan dari dosen-dosen PG PAUD dan UAD juga menjadi bagian penting dalam perjalanan saya,” jelasnya.

Untuk menjaga prestasi akademik, Diah berusaha menyukai setiap mata kuliah dan menghargai setiap dosen yang mengajar. Menurutnya, rasa suka akan mempermudah proses belajar dan memahami materi.

Ia juga aktif berdiskusi dengan teman-teman serta mengikuti berbagai perkembangan terbaru mengenai dunia anak usia dini. Sementara dalam bidang nonakademik, ia terus mengasah kemampuan menulis dan tidak ragu meminta masukan dari dosen sebelum mengirimkan karya ke berbagai kompetisi. Baginya, kritik dan saran adalah bagian dari proses untuk menghasilkan karya yang lebih baik.

Selepas lulus, Diah telah menyiapkan langkah berikutnya. Ia berencana kembali ke kampung halamannya di Sulawesi untuk mengabdi sebagai pendidik di salah satu taman kanak-kanak di Kabupaten Banggai.

Dengan bekal ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan di UAD, ia berharap dapat memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan pendidikan anak usia dini di daerah asalnya. “Harapan saya sederhana, semoga ilmu yang saya pelajari bisa bermanfaat untuk memajukan pendidikan anak usia dini di Sulawesi,” tambahnya.

Bagi Diah, makna kesuksesan bukan hanya tentang pencapaian pribadi. Kesuksesan adalah ketika orang-orang yang dicintai ikut merasakan kebahagiaan dan manfaat dari setiap usaha yang dilakukan.

Ia pun berharap UAD terus menghadirkan lebih banyak ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi diri melalui berbagai kegiatan dan kompetisi.

Di akhir perjalanannya sebagai mahasiswa, Diah menyadari bahwa pelajaran paling berharga yang ia peroleh bukan hanya ilmu di ruang kuliah, tetapi juga tentang rasa syukur dan penghargaan terhadap setiap proses kehidupan.

Ia percaya tidak ada usaha yang benar-benar sia-sia. Setiap tantangan, hambatan, dan kegagalan selalu membawa pelajaran yang pada akhirnya membentuk seseorang menjadi pribadi yang lebih kuat dan tangguh. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Diah-Ayu-Praharani-wisudawan-terbaik-FKIP-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-pada-wisuda-periode-IV-tahun-2026-Foto.-Diah.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-12 08:45:592026-08-12 08:45:59Tak Sekadar Merantau, Diah Ayu Praharani Menorehkan Prestasi di UAD

Hafiz: Berkali-Kali Gagal, Berkali-Kali Bangkit

10/08/2026/in Feature /by Ard

Hafiz Ahmad Rumalutur wisudawan terbaik Fakultas Hukum sekaligus wisudawan berprestasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Hafiz).jpg

Bagi sebagian orang, kegagalan mungkin menjadi akhir dari sebuah mimpi. Namun, bagi Hafiz Ahmad Rumalutur, kegagalan justru menjadi alasan untuk melangkah lebih jauh.

Lulusan Program Studi Hukum Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,99 ini dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik Fakultas Hukum sekaligus Wisudawan Berprestasi UAD pada Wisuda Periode IV Tahun 2026. Di balik pencapaian tersebut, tersimpan perjalanan panjang tentang keteguhan hati, kerja keras, dan keyakinan bahwa setiap kegagalan selalu membawa pelajaran baru.

Perasaan bahagia, bangga, dan syukur menjadi hal pertama yang dirasakan Hafiz saat namanya diumumkan sebagai wisudawan berprestasi. “Saya merasa sangat bahagia, bangga, dan bersyukur. Semua proses yang sudah saya lalui akhirnya membuahkan hasil,” ungkapnya.

Selama menempuh pendidikan di Fakultas Hukum UAD, Hafiz dikenal aktif mengikuti berbagai kompetisi hukum tingkat nasional. Deretan prestasi yang berhasil diraihnya menjadi bukti konsistensi dalam mengembangkan kemampuan akademik sekaligus praktik hukum.

Di antaranya adalah Juara II dan Berkas Terbaik Kompetisi Mediasi Nasional Piala Mahkamah Agung Republik Indonesia VI Tahun 2025, Juara III Kompetisi Surat Gugatan Legal Manuscript Contest 2025, Juara I Berkas Penasihat Hukum Terbaik sekaligus Penasihat Hukum Terbaik National Moot Court Competition Anti Human Trafficking Piala Prof. Hilman Hadikusuma 2025, Juara I Kompetisi Mediasi ALSA Lex Weeks Universitas Padjadjaran 2024, Best Mediator ALSA Lex Weeks 2024, Juara I Kompetisi Nasional Moot Court Peradilan Militer Piala Bergilir Ketua Mahkamah Agung RI dan Piala Tetap Kepala Staf Angkatan Darat Tahun 2023, serta Juara II Tarumanagara Law Fair V Kompetisi Mediasi Tingkat Nasional beserta penghargaan Berkas Terbaik. Selain itu, ia juga dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Komunitas Peradilan Semu “De Verlichter” Fakultas Hukum UAD periode 2024-2025.

Namun, perjalanan menuju berbagai prestasi tersebut tidak selalu berjalan mulus. Ada satu fase dalam hidup yang menjadi titik balik bagi Hafiz. Ia pernah mengikuti seleksi TNI sebanyak empat kali, tetapi seluruhnya berakhir dengan kegagalan.

Alih-alih menyerah, pengalaman tersebut justru mengajarkannya untuk melihat setiap kegagalan dari sudut pandang yang berbeda. “Saya selalu berusaha berpikir positif, baik kepada diri sendiri maupun kepada jalan yang sudah Tuhan berikan. Saya percaya setiap proses memiliki hikmah dan waktu terbaiknya,” ujarnya.

Prinsip itu menjadi pegangan yang membantunya tetap berdiri ketika harapan belum berpihak. Baginya, kegagalan bukanlah tanda untuk berhenti, melainkan proses yang menempa seseorang agar menjadi lebih kuat.

Di balik keteguhannya, Hafiz tidak pernah melupakan sosok-sosok yang selalu mendukung setiap langkahnya. Ia menyebut kedua orang tuanya, Amiruddin Rumalutur dan Sitti Syamsia Rumatumia, sebagai sumber kekuatan terbesar dalam hidupnya. Tak lupa, ia mengenang almarhum sang kakek yang memiliki peran penting dalam membentuk karakter dirinya.

Hafiz bercerita bahwa ia merupakan anak kembar yang sejak berusia satu bulan diasuh oleh kakak dari ayahnya di Desa Kilbat, Kecamatan Tutuk Tolu, Kabupaten Seram Bagian Timur, Provinsi Maluku. Di sanalah ia tumbuh dengan nilai-nilai kehidupan yang mengajarkannya tentang kerja keras, kesederhanaan, dan arti sebuah perjuangan. “Di sanalah saya dididik dan dibentuk hingga akhirnya bisa menjadi wisudawan terbaik Fakultas Hukum sekaligus wisudawan berprestasi,” jelasnya.

Bagi Hafiz, prestasi bukan hanya soal piala, piagam, atau kemenangan. Prestasi adalah kemampuan untuk tetap berdiri tegak setelah berkali-kali jatuh, tetap bersyukur di tengah keterbatasan, dan terus berpikir positif ketika kenyataan tidak sesuai harapan. “Menurut saya, itu adalah cara Tuhan menyeleksi hamba-Nya, dari yang baik menjadi yang terbaik,” tambahnya.

Kini, setelah menyelesaikan studi sarjananya, Hafiz telah menatap langkah berikutnya. Ia bercita-cita melanjutkan pendidikan Magister Hukum di Universitas Indonesia sebagai bagian dari perjalanan panjang untuk terus mengembangkan diri.

Hafiz menyampaikan harapan agar UAD terus menjadi kampus yang memberi manfaat bagi seluruh mahasiswa serta menjadi wadah terbaik untuk melahirkan generasi yang unggul.

Ia juga menitipkan pesan sederhana bagi mahasiswa yang tengah berjuang meraih mimpi. “Stay humble, stay positive. Satu kali jatuh, seribu kali bangkit. Yakinlah Tuhan selalu bersama orang-orang yang mau berjuang,” pesannya.

Bagi Hafiz, hidup tidak diukur dari seberapa sering seseorang menang, melainkan dari seberapa besar manfaat yang mampu diberikan kepada orang lain. Filosofi Jawa urip iku urup menjadi prinsip yang terus ia pegang: hidup harus menyala agar dapat menerangi dan memberi manfaat bagi sesama.

Barangkali, itulah makna sesungguhnya dari sebuah prestasi. Bukan sekadar berdiri di podium kemenangan, melainkan tetap menyalakan harapan, bahkan setelah berkali-kali diterpa kegagalan. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Hafiz-Ahmad-Rumalutur-wisudawan-terbaik-Fakultas-Hukum-sekaligus-wisudawan-berprestasi-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Hafiz.jpg.jpeg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-10 15:13:402026-08-10 15:13:40Hafiz: Berkali-Kali Gagal, Berkali-Kali Bangkit

Rahasia di Balik Rentetan Prestasi Dhita Pratama Putra, Wisudawan Berprestasi UAD

10/08/2026/in Feature /by Ard

Dhita Pratama Putra wisudawan berprestasi bidang akademik dan nonakademik periode IV tahun 2026 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Dhita).jpg

Di balik toga yang dikenakan pada hari wisuda, selalu ada cerita yang tidak tertulis dalam selembar transkrip nilai. Ada langkah-langkah panjang yang ditempuh dalam diam, ada air mata yang tidak sempat disaksikan siapa pun, dan ada mimpi yang terus dijaga agar tidak padam meski berkali-kali diterpa keadaan.

Bagi Dhita Pratama Putra, S.Si., lulusan Program Studi Fisika Fakultas Sains dan Teknologi Terapan Universitas Ahmad Dahlan (UAD), momen dinobatkan sebagai Wisudawan Berprestasi Bidang Akademik dan Nonakademik UAD Periode IV Tahun 2026 bukan sekadar penghargaan atas pencapaian. Gelar itu menjadi penanda bahwa setiap perjuangan, sekecil apa pun, selalu menemukan jalannya untuk dihargai.

Dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,78, Dhita tidak hanya berhasil menyelesaikan studinya dengan baik, tetapi juga menorehkan sekitar 130 prestasi di tingkat provinsi, nasional, hingga internasional. Namun, bagi dirinya, angka bukanlah inti dari perjalanan tersebut.

“Alhamdulillah, saya bangga sekali. Apalagi bisa mendapatkan penghargaan di bidang akademik sekaligus nonakademik. Semua itu bukan sesuatu yang datang begitu saja. Ada banyak usaha, waktu, dan pengorbanan yang harus dijalani,” tuturnya.

Di balik sederet penghargaan itu, tersimpan hari-hari yang dipenuhi kesibukan. Sejak semester dua, Dhita telah bekerja sambil menjalani perkuliahan. Ia juga aktif dalam organisasi, bahkan dipercaya memimpin Himpunan Mahasiswa Fisika dan tergabung dalam Study Club Instrumentasi. Selama menjadi mahasiswa, ia terlibat dalam belasan organisasi dan berbagai kepanitiaan, sembari tetap konsisten mengikuti kompetisi.

Menjaga keseimbangan antara kuliah, pekerjaan, organisasi, penelitian, hingga perlombaan menjadi tantangan yang terus menguji keteguhannya. Namun, ia percaya bahwa mimpi tidak pernah tumbuh dari zona yang nyaman.

Salah satu pencapaian yang paling membekas dalam ingatannya adalah saat meraih Juara II Nasional Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Tingkat PTMA se-Indonesia. Kompetisi tersebut menurutnya menjadi pengalaman paling menantang karena tidak hanya menilai prestasi akademik, tetapi juga karya unggulan, capaian nonakademik, hingga kemampuan diri secara menyeluruh.

Tak hanya itu, Dhita juga berhasil menjadi Finalis Pilmapres Nasional yang diselenggarakan Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) pada tahun 2023. Pencapaian tersebut memiliki makna tersendiri karena mengakhiri penantian panjang UAD yang selama tujuh hingga delapan tahun belum berhasil meloloskan wakilnya ke tingkat nasional.

Prestasi internasional pun turut menghiasi perjalanannya melalui ajang Indonesia Inventors Day (IID) 2022 dan World Young Inventors Exhibition (WYIE) 2022 yang mempertemukan inovator dari berbagai negara. Menariknya, penelitian yang ia bawa dalam kompetisi tersebut kemudian berkembang menjadi topik tugas akhirnya.

Meski demikian, motivasi awal Dhita mengikuti kompetisi ternyata sangat sederhana. Ia mengaku, pada mulanya perlombaan menjadi salah satu cara untuk memperoleh penghasilan tambahan untuk membantu meringankan beban keluarga sekaligus membiayai berbagai kebutuhan. Namun seiring waktu, kompetisi berubah menjadi ruang belajar yang mempertemukannya dengan banyak pengalaman, jejaring, dan kesempatan berkembang. “Bukan hanya tentang menang. Dari setiap lomba saya belajar memperbaiki diri. Ada yang gagal, ada yang berhasil, tetapi semuanya membuat saya bertumbuh,” ujarnya.

Lebih jauh, ia ingin membuktikan bahwa latar belakang bukanlah batas bagi seseorang untuk bermimpi. Sebagai sarjana pertama di keluarga, anak pertama, sekaligus cucu pertama, Dhita merasa memiliki tanggung jawab moral untuk membuka jalan bagi adik-adik dan keluarganya. Ia juga ingin menjadi bukti bahwa anak desa mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

Namun perjalanan itu tidak selalu berjalan mulus. Di tengah padatnya aktivitas, Dhita pernah berjuang melawan gangguan kesehatan mental yang harus ia hadapi selama beberapa tahun. Ia baru menyelesaikan masa pengobatan pada awal tahun 2026. Masa-masa tersebut menjadi ujian yang jauh lebih berat dibandingkan perlombaan mana pun yang pernah diikutinya.

Alih-alih menyerah, pengalaman itu justru membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan. “Saya ingin menunjukkan bahwa seseorang yang lahir dari keluarga broken home juga bisa berprestasi. Anak desa bisa berprestasi. Orang yang pernah mengalami gangguan kesehatan mental juga tetap bisa berkarya dan membanggakan orang-orang di sekitarnya,” ungkapnya.

Bagi Dhita, keberhasilan tidak pernah hadir karena keberuntungan semata. Sejak menjadi mahasiswa baru, ia telah menyusun peta perjalanan yang ingin ditempuh setiap semester. Bahkan, target mengikuti Pilmapres telah ia tuliskan sejak semester pertama setelah melihat informasi kompetisi tersebut.

Ia juga menetapkan target setidaknya mengikuti satu kompetisi setiap bulan. Ketika gagal, ia memilih menjadikan kegagalan sebagai bahan evaluasi, bukan alasan untuk berhenti. Selain itu, ia aktif berdiskusi dengan dosen dan memanfaatkan berbagai fasilitas yang disediakan kampus sebagai bagian dari proses belajarnya.

Menurutnya, prestasi bukan hanya tentang medali atau gelar. “Prestasi adalah bukti dari usaha yang dilakukan secara konsisten. Dulu saya mengira prestasi hanya soal nilai atau penghargaan. Sekarang saya sadar, prestasi juga berarti mampu bertahan, terus belajar, tidak menyerah pada keadaan, dan menjadikan ilmu sebagai jalan untuk memberi manfaat bagi orang lain.”

Pemahaman itu pula yang menjadi bekal setelah menyelesaikan studi sarjananya. Dhita berencana melanjutkan karier profesional sembari menempuh pendidikan Magister Ilmu Komunikasi di Universitas Bakrie melalui jalur beasiswa. Pilihan bidang tersebut lahir dari pengalaman selama kuliah yang membawanya berkecimpung di dunia marketing dan communications.

Baginya, perjalanan akademik tidak selalu harus berjalan lurus sesuai jurusan yang ditempuh. Justru pengalaman selama menjadi mahasiswa membantunya menemukan ruang pengabdian yang paling sesuai dengan dirinya.

Dhita menyampaikan satu pelajaran yang akan selalu ia pegang. “Hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Keberhasilan bukan ditentukan oleh seberapa cepat kita sampai, tetapi seberapa kuat kita tetap melangkah ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapan. Setiap orang memiliki garis waktunya masing-masing.”

Kalimat itu mungkin menjadi ringkasan paling sederhana dari seluruh perjalanan Dhita. Sebab pada akhirnya, prestasi bukan hanya tentang berdiri di atas podium. Prestasi adalah keberanian untuk terus melangkah, bahkan ketika hidup berkali-kali menguji keteguhan hati. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Dhita-Pratama-Putra-wisudawan-berprestasi-bidang-akademik-dan-nonakademik-periode-IV-tahun-2026-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Dhita.jpg.jpeg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-10 15:06:132026-08-10 15:06:13Rahasia di Balik Rentetan Prestasi Dhita Pratama Putra, Wisudawan Berprestasi UAD

Meneladani Sejarah dan Merawat Optimisme di Tengah Ketidakpastian Bangsa

10/08/2026/in Feature /by Ard

Kajian rutin Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan pembicara Hendra Darmawan, S.Pd., M.A. (Foto. Itoshiko).jpg

Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menggelar Kajian Rutin Ahad Pagi pada Ahad, 9 Agustus 2026. Menyambut suasana bulan kemerdekaan, kajian kali ini menghadirkan perwakilan Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY, Hendra Darmawan, S.Pd., M.A., yang mengusung tema reflektif bertajuk “Kemerdekaan dan Optimisme dalam Ketidakpastian”. Di hadapan para jemaah, ia mengurai benang merah antara sejarah perjuangan bangsa, realitas karut-marut tata kelola negara hari ini, dan bagaimana umat Islam harus merawat optimisme.

Membuka kajiannya, Hendra Darmawan mengajak jemaah untuk kembali menengok sejarah perumusan dasar negara di masa-masa awal pembentukan Republik Indonesia. Ia menyoroti pengorbanan besar para pendiri bangsa, salah satunya tokoh Muhammadiyah, Ki Bagus Hadikusumo.

Dalam dinamika sidang BPUPKI, Ki Bagus dengan lapang dada bersedia menurunkan egonya dan berkorban dengan mencoret “tujuh kata” dalam Piagam Jakarta demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), khususnya untuk merangkul wilayah Indonesia Timur.

Menurut Hendra, fondasi bernegara ini telah diletakkan dengan sangat apik dan penuh keteladanan oleh para pendahulu bangsa yang memosisikan Pancasila sebagai Darul Ahdi wa Syahadah (negara kesepakatan dan pembuktian).

Namun, Hendra menyayangkan realitas kebangsaan hari ini yang sering kali paradoks dengan nilai-nilai luhur yang diwariskan tersebut. Ia mengutip pandangan ilmuwan yang menyebut Indonesia sebagai unfinished nation atau negara yang belum selesai, lantaran maraknya perilaku penyelenggara negara yang menyimpang.

Fenomena aparat penegak hukum yang justru melanggar hukum, pengelolaan negara yang amburadul, hingga fakta ketimpangan ekonomi di mana kekayaan 50 oligarki setara dengan harta 50 juta rakyat Indonesia, menjadi sorotan tajam. Kondisi ini membuat negara seakan bergeser dari negara hukum menjadi negara kekuasaan, di mana hawa nafsu dan keserakahan elite tak terbendung layaknya ketiadaan rasa takut kepada Tuhan dan kematian.

Menghadapi ironi kemerdekaan tersebut, pemateri menekankan pentingnya memaknai kembali konsep Jihad Akbar seperti yang diajarkan Rasulullah saw. usai Perang Badar, yakni jihad melawan hawa nafsu diri sendiri. Keserakahan manusia yang tidak terkendali dinilai jauh lebih merusak tatanan kehidupan dibandingkan kebuasan makhluk lainnya.

Meski dihadapkan pada ketidakpastian dan kemungkaran sosial, Hendra mengingatkan umat Islam untuk pantang berputus asa. Mengutip pesan Al-Qur’an surah Az-Zumar, ia mengajak jemaah untuk merawat optimisme melalui jalan an-naubah, yakni sebuah proses kembali dan berserah diri secara totalitas kepada Allah Swt. untuk memperbaiki keadaan tanpa mengulangi kesalahan-kesalahan di masa lalu. (Ito)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Kajian-rutin-Ahad-Pagi-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-dengan-pembicara-Hendra-Darmawan-S.Pd_.-M.A.-Foto.-Itoshiko.jpg.jpeg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-10 14:57:042026-08-10 14:57:04Meneladani Sejarah dan Merawat Optimisme di Tengah Ketidakpastian Bangsa

Wisudawan Terbaik FSBK Menemukan Makna Inklusivitas di UAD

09/08/2026/in Feature /by Ard

Arivansi Ringu Kodi, wisudawan terbaik FSBK Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada wisuda periode IV Tahun 2026 (Foto. Arivansi).jpg

Tidak semua perjalanan dimulai dengan keyakinan. Ada yang justru berawal dari keraguan, dipenuhi pertanyaan, lalu perlahan menjelma menjadi cerita yang mengubah cara seseorang memandang kehidupan.

Begitulah perjalanan Arivansi Ringu Kodi, lulusan Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Sastra, Budaya, dan Komunikasi (FSBK) Universitas Ahmad Dahlan (UAD), yang berhasil dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik FSBK pada Wisuda Periode IV Tahun 2026.

Di balik capaian akademik yang membanggakan, tersimpan kisah tentang keberanian melangkah ke lingkungan yang sama sekali baru. Berasal dari daerah dengan mayoritas penduduk beragama Kristen, Arivan sempat menyimpan kekhawatiran ketika memutuskan melanjutkan studi di UAD, sebuah perguruan tinggi Muhammadiyah.

Namun, keraguan itu perlahan sirna seiring berjalannya waktu. “Sebagai mahasiswa Kristen yang berkuliah di Universitas Ahmad Dahlan, saya datang dengan banyak pertanyaan dan kekhawatiran. Namun, selama menjalani perkuliahan saya justru menemukan begitu banyak kesempatan untuk berkembang,” ujarnya.

Baginya, penghargaan sebagai wisudawan terbaik bukan sekadar pengakuan atas nilai akademik yang diraih selama kuliah. Lebih dari itu, penghargaan tersebut menjadi simbol perjalanan panjang untuk bertahan, bertumbuh, dan membuktikan bahwa perbedaan tidak pernah menjadi penghalang untuk meraih prestasi.

Selama menempuh pendidikan di UAD, Arivan aktif mengikuti berbagai kompetisi akademik dan nonakademik. Prestasi demi prestasi berhasil ia persembahkan, di antaranya Juara I Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Fakultas Sastra, Budaya, dan Komunikasi, Finalis Pilmapres Universitas Ahmad Dahlan, Juara I U-DARE 3.0 International Competition, Juara I International Presenter Ahmad Dahlan International Seminar, Juara II Ahmad Dahlan Youth Competition, Juara II National Public Relations Campaign Competition Monalisa, hingga menjadi delegasi UAD pada National University Debating Championship.

Di antara seluruh pencapaian tersebut, kompetisi U-DARE 3.0 International Competition yang diselenggarakan Universitas Syiah Kuala menjadi pengalaman yang paling membekas. Ajang internasional yang diikuti peserta dari lebih dari delapan negara itu tidak hanya memberinya gelar juara, tetapi juga kesempatan menginjakkan kaki di Titik Nol Kilometer Indonesia, Pulau Sabang.

“Bagi saya, momen itu menjadi simbol bahwa mimpi dapat membawa seseorang ke tempat-tempat yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan,” kenangnya.

Meski demikian, Arivan meyakini bahwa pencapaian tersebut tidak lahir semata karena kemampuan pribadi. Ada lingkungan yang memberinya ruang untuk tumbuh tanpa memandang latar belakang agama.

Selama menjadi mahasiswa, ia merasakan bahwa UAD benar-benar menghadirkan makna dari slogan “Semua Bisa Kuliah di UAD.” Kesempatan untuk mengikuti kompetisi, aktif berorganisasi, hingga mewakili fakultas dan universitas diberikan tanpa membedakan identitas keagamaan.

“Saya memperoleh hak, kesempatan, dan ruang pengembangan diri yang sama seperti mahasiswa lainnya. Teman-teman, dosen, dan lingkungan kampus sangat terbuka, suportif, serta menghargai perbedaan,” tuturnya.

Pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa keberagaman bukan sekadar konsep yang diperbincangkan, melainkan nilai yang dihidupkan dalam keseharian kampus. Di tengah keberagaman, Arivan justru menemukan ruang yang membuatnya semakin percaya diri untuk berkembang.

Baginya, UAD tidak hanya mengajarkan teori di ruang kelas, tetapi juga membentuk karakter melalui keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan integritas moral.

“Seseorang tidak cukup hanya cerdas secara akademik, tetapi juga harus memiliki moral yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Nilai itu yang banyak membentuk cara saya berpikir, mengambil keputusan, dan berinteraksi dengan orang lain,” katanya.

Di balik konsistensinya meraih prestasi, Arivan memegang teguh prinsip sederhana, yakni menyelesaikan setiap hal yang telah dimulai dan tidak menyia-nyiakan setiap kesempatan yang datang. Ia percaya bahwa setiap peluang adalah ruang untuk belajar, bertumbuh, dan mengenal potensi diri lebih jauh.

Dalam menjalani berbagai aktivitas akademik, organisasi, penelitian, hingga kompetisi, ia membiasakan diri menentukan prioritas berdasarkan tingkat urgensi dan dampaknya. Baginya, keberhasilan bukan tentang melakukan semuanya sekaligus, melainkan tentang menjalankan setiap tanggung jawab dengan sepenuh hati.

Perjalanan Arivan menjadi bukti bahwa prestasi lahir dari keberanian mengambil kesempatan, sementara kesempatan akan bermakna ketika didukung oleh lingkungan yang memberikan ruang yang setara bagi setiap orang.

Arivan berpesan  kepada calon mahasiswa, khususnya mereka yang berasal dari latar belakang non-Muslim dan masih ragu memilih UAD, “Jangan pernah takut untuk memulai dan mengambil setiap kesempatan yang ada. Saya telah membuktikan sendiri bahwa menjadi bagian dari kelompok minoritas tidak menghalangi seseorang untuk berkembang dan berprestasi. UAD memberikan ruang yang sama bagi setiap mahasiswa untuk tumbuh tanpa memandang latar belakang agama.“

Kisah Arivansi Ringu Kodi menjadi cerminan bahwa sebuah kampus tidak hanya diukur dari kualitas akademiknya, tetapi juga dari kemampuannya menghadirkan ruang belajar yang inklusif, saling menghormati, dan memberi kesempatan yang sama kepada setiap insan untuk berkembang.

Di UAD, keberagaman tidak menjadi sekat. Justru dari perbedaan itulah tumbuh kepercayaan, kolaborasi, dan prestasi. Sebab ketika setiap mahasiswa diberi ruang yang sama untuk bermimpi, siapa pun dapat melangkah lebih jauh, bertumbuh lebih tinggi, dan membuktikan bahwa semua memang bisa kuliah di UAD. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Arivansi-Ringu-Kodi-wisudawan-terbaik-FSBK-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-pada-wisuda-periode-IV-Tahun-2026-Foto.-Arivansi.jpg.jpeg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-09 09:00:352026-08-10 15:23:56Wisudawan Terbaik FSBK Menemukan Makna Inklusivitas di UAD
Page 1 of 77123›»

TERKINI

  • Tim ORIVAGO UAD Lolos Pendanaan P2MW, Kembangkan Suplemen Alami untuk Kesehatan Ayam13/08/2026
  • Tim REGENOCA UAD Manfaatkan Bahan Alami untuk Membuat Obat Luka Bakar13/08/2026
  • UAD dan Universiti Malaysia Pahang Jalankan Student Mobility Program12/08/2026
  • Mahasiswa Farmasi UAD Perluas Wawasan Global melalui Summer Program di Taiwan12/08/2026
  • Tim PKM RE UAD Buat Nanogel dari Ikan Gabus dan Aloe vera untuk Luka Bakar12/08/2026

PRESTASI

  • Mahasiswa UAD Raih Juara I Lomba Baca Puisi Dahlan Culture Festival 202608/08/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara 3 Cakrawala National Essay Competition31/07/2026
  • Tim BEKAMIE UAD Raih Juara 2 pada Ajang Studentpreneur Bootcamp 202629/07/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara 2 Lomba Video Kreatif Dahlan Culture Festival 202628/07/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara III Monolog pada PEKSIMIPROV DIY 202628/07/2026

FEATURE

  • Belajar Tak Pernah Usai13/08/2026
  • Dari Titik yang Tertinggal, Fikrotus Shofiyah Menemukan Jalannya13/08/2026
  • Menjadi Versi Terbaik Melalui Ketekunan13/08/2026
  • Membangun Masa Depan dari Setiap Pengalaman12/08/2026
  • Di Balik Prestasi, Ada Proses yang Tak Pernah Berhenti12/08/2026

TENTANG | KRU | KONTAK | REKAPITULASI

Scroll to top