• TERKINI
  • UAD BERDAMPAK
  • PRESTASI
  • FEATURE
  • OPINI
  • MEDIA
  • KIRIM BERITA
  • Menu
News Portal of Universitas Ahmad Dahlan

Tak Sekadar Merantau, Diah Ayu Praharani Menorehkan Prestasi di UAD

12/08/2026/in Feature /by Ard

Diah Ayu Praharani, wisudawan terbaik FKIP Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada wisuda periode IV tahun 2026 (Foto. Diah)

Perjalanan meraih prestasi sering kali tidak dimulai dari rasa percaya diri, melainkan dari keberanian menghadapi keraguan. Itulah yang dialami Diah Ayu Praharani, lulusan Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) Universitas Ahmad Dahlan (UAD), yang berhasil dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) pada Wisuda Periode IV Tahun 2026.

Di balik Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,99 yang berhasil diraihnya, tersimpan kisah seorang mahasiswa perantau dari Sulawesi yang pernah mempertanyakan kemampuannya sendiri ketika pertama kali menginjakkan kaki di Yogyakarta.

“Jujur, awalnya saya tidak percaya. Apalagi mengingat saya berasal dari Sulawesi. Di awal kuliah saya sempat merasa insecure. Saya bertanya-tanya, mampu tidak ya bersaing dengan teman-teman yang berasal dari kota dan memiliki akses pendidikan yang lebih maju?” kenangnya.

Keraguan itu perlahan berubah menjadi keyakinan. Bukan karena jalan yang dilalui selalu mudah, melainkan karena ia memilih terus bertahan dan belajar di setiap kesempatan. Saat namanya diumumkan sebagai Wisudawan Terbaik FKIP, Diah mengaku masih sulit mempercayainya.

Selama menjadi mahasiswa, Diah aktif mengikuti berbagai kompetisi, khususnya di bidang kepenulisan. Ia berpartisipasi dalam lomba karya tulis ilmiah, penulisan artikel, pembuatan media pembelajaran, desain poster, hingga Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Baginya, setiap penghargaan memiliki cerita yang berbeda dan sama berharganya.

“Semua prestasi berkesan karena selalu ada perjuangan di baliknya. Terutama kompetisi yang dikerjakan secara tim, seperti karya tulis ilmiah, pembuatan media pembelajaran, dan PKM. Di sana saya belajar bekerja sama, saling mendukung, dan menyelesaikan tantangan bersama,” tuturnya.

Bagi Diah, motivasi terbesar untuk terus berprestasi bukanlah sekadar mengejar penghargaan. Ia ingin membalas kepercayaan yang telah diberikan oleh banyak orang yang mendukung perjalanan pendidikannya.

“Saya ingin berterima kasih kepada orang tua yang sudah menaruh harapan, kepada orang-orang yang membantu saya bisa sampai ke Yogyakarta, juga kepada UAD dan pemerintah yang telah memberikan kesempatan untuk berkuliah melalui program KIP-Kuliah. Prestasi yang saya raih adalah bentuk penghargaan atas usaha dan kepercayaan mereka,” ucapnya.

Namun, tantangan terbesar yang ia hadapi justru datang dari dalam dirinya sendiri. Diah mengaku termasuk pribadi yang sering berpikir berlebihan dan kerap membandingkan pencapaiannya dengan orang lain. Melihat keberhasilan teman-temannya terkadang membuatnya bertanya mengapa ia belum mampu mencapai hal yang sama.

Alih-alih larut dalam perasaan tersebut, ia memilih melakukan refleksi diri. “Saya lebih sering bermuhasabah. Saya belajar bahwa setiap orang memiliki proses yang berbeda. Apa yang terlihat sebagai keberhasilan hari ini mungkin lahir dari perjuangan panjang yang tidak pernah kita lihat,” tuturnya.

Cara pandang itulah yang membuatnya perlahan mampu menghargai prosesnya sendiri tanpa terus membandingkan langkah dengan orang lain.

Dalam perjalanan akademiknya, Diah juga tidak pernah berjalan sendirian. Ia menyebut kedua orang tuanya, Kodirun dan Suparti, sebagai sosok yang selalu memberikan doa, semangat, dan dukungan tanpa henti. Selain keluarga, ia juga mengapresiasi dosen pembimbing akademik yang selalu membuka ruang diskusi, bahkan di tengah kesibukan.

“Beliau selalu mendukung saya, baik untuk menyelesaikan tugas akhir berupa publikasi di jurnal SINTA 2 maupun ketika mempersiapkan berbagai perlombaan. Saya bisa berkonsultasi pagi, siang, bahkan malam. Dukungan dari dosen-dosen PG PAUD dan UAD juga menjadi bagian penting dalam perjalanan saya,” jelasnya.

Untuk menjaga prestasi akademik, Diah berusaha menyukai setiap mata kuliah dan menghargai setiap dosen yang mengajar. Menurutnya, rasa suka akan mempermudah proses belajar dan memahami materi.

Ia juga aktif berdiskusi dengan teman-teman serta mengikuti berbagai perkembangan terbaru mengenai dunia anak usia dini. Sementara dalam bidang nonakademik, ia terus mengasah kemampuan menulis dan tidak ragu meminta masukan dari dosen sebelum mengirimkan karya ke berbagai kompetisi. Baginya, kritik dan saran adalah bagian dari proses untuk menghasilkan karya yang lebih baik.

Selepas lulus, Diah telah menyiapkan langkah berikutnya. Ia berencana kembali ke kampung halamannya di Sulawesi untuk mengabdi sebagai pendidik di salah satu taman kanak-kanak di Kabupaten Banggai.

Dengan bekal ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan di UAD, ia berharap dapat memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan pendidikan anak usia dini di daerah asalnya. “Harapan saya sederhana, semoga ilmu yang saya pelajari bisa bermanfaat untuk memajukan pendidikan anak usia dini di Sulawesi,” tambahnya.

Bagi Diah, makna kesuksesan bukan hanya tentang pencapaian pribadi. Kesuksesan adalah ketika orang-orang yang dicintai ikut merasakan kebahagiaan dan manfaat dari setiap usaha yang dilakukan.

Ia pun berharap UAD terus menghadirkan lebih banyak ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi diri melalui berbagai kegiatan dan kompetisi.

Di akhir perjalanannya sebagai mahasiswa, Diah menyadari bahwa pelajaran paling berharga yang ia peroleh bukan hanya ilmu di ruang kuliah, tetapi juga tentang rasa syukur dan penghargaan terhadap setiap proses kehidupan.

Ia percaya tidak ada usaha yang benar-benar sia-sia. Setiap tantangan, hambatan, dan kegagalan selalu membawa pelajaran yang pada akhirnya membentuk seseorang menjadi pribadi yang lebih kuat dan tangguh. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Diah-Ayu-Praharani-wisudawan-terbaik-FKIP-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-pada-wisuda-periode-IV-tahun-2026-Foto.-Diah.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-12 08:45:592026-08-12 08:45:59Tak Sekadar Merantau, Diah Ayu Praharani Menorehkan Prestasi di UAD

Hafiz: Berkali-Kali Gagal, Berkali-Kali Bangkit

10/08/2026/in Feature /by Ard

Hafiz Ahmad Rumalutur wisudawan terbaik Fakultas Hukum sekaligus wisudawan berprestasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Hafiz).jpg

Bagi sebagian orang, kegagalan mungkin menjadi akhir dari sebuah mimpi. Namun, bagi Hafiz Ahmad Rumalutur, kegagalan justru menjadi alasan untuk melangkah lebih jauh.

Lulusan Program Studi Hukum Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,99 ini dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik Fakultas Hukum sekaligus Wisudawan Berprestasi UAD pada Wisuda Periode IV Tahun 2026. Di balik pencapaian tersebut, tersimpan perjalanan panjang tentang keteguhan hati, kerja keras, dan keyakinan bahwa setiap kegagalan selalu membawa pelajaran baru.

Perasaan bahagia, bangga, dan syukur menjadi hal pertama yang dirasakan Hafiz saat namanya diumumkan sebagai wisudawan berprestasi. “Saya merasa sangat bahagia, bangga, dan bersyukur. Semua proses yang sudah saya lalui akhirnya membuahkan hasil,” ungkapnya.

Selama menempuh pendidikan di Fakultas Hukum UAD, Hafiz dikenal aktif mengikuti berbagai kompetisi hukum tingkat nasional. Deretan prestasi yang berhasil diraihnya menjadi bukti konsistensi dalam mengembangkan kemampuan akademik sekaligus praktik hukum.

Di antaranya adalah Juara II dan Berkas Terbaik Kompetisi Mediasi Nasional Piala Mahkamah Agung Republik Indonesia VI Tahun 2025, Juara III Kompetisi Surat Gugatan Legal Manuscript Contest 2025, Juara I Berkas Penasihat Hukum Terbaik sekaligus Penasihat Hukum Terbaik National Moot Court Competition Anti Human Trafficking Piala Prof. Hilman Hadikusuma 2025, Juara I Kompetisi Mediasi ALSA Lex Weeks Universitas Padjadjaran 2024, Best Mediator ALSA Lex Weeks 2024, Juara I Kompetisi Nasional Moot Court Peradilan Militer Piala Bergilir Ketua Mahkamah Agung RI dan Piala Tetap Kepala Staf Angkatan Darat Tahun 2023, serta Juara II Tarumanagara Law Fair V Kompetisi Mediasi Tingkat Nasional beserta penghargaan Berkas Terbaik. Selain itu, ia juga dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Komunitas Peradilan Semu “De Verlichter” Fakultas Hukum UAD periode 2024-2025.

Namun, perjalanan menuju berbagai prestasi tersebut tidak selalu berjalan mulus. Ada satu fase dalam hidup yang menjadi titik balik bagi Hafiz. Ia pernah mengikuti seleksi TNI sebanyak empat kali, tetapi seluruhnya berakhir dengan kegagalan.

Alih-alih menyerah, pengalaman tersebut justru mengajarkannya untuk melihat setiap kegagalan dari sudut pandang yang berbeda. “Saya selalu berusaha berpikir positif, baik kepada diri sendiri maupun kepada jalan yang sudah Tuhan berikan. Saya percaya setiap proses memiliki hikmah dan waktu terbaiknya,” ujarnya.

Prinsip itu menjadi pegangan yang membantunya tetap berdiri ketika harapan belum berpihak. Baginya, kegagalan bukanlah tanda untuk berhenti, melainkan proses yang menempa seseorang agar menjadi lebih kuat.

Di balik keteguhannya, Hafiz tidak pernah melupakan sosok-sosok yang selalu mendukung setiap langkahnya. Ia menyebut kedua orang tuanya, Amiruddin Rumalutur dan Sitti Syamsia Rumatumia, sebagai sumber kekuatan terbesar dalam hidupnya. Tak lupa, ia mengenang almarhum sang kakek yang memiliki peran penting dalam membentuk karakter dirinya.

Hafiz bercerita bahwa ia merupakan anak kembar yang sejak berusia satu bulan diasuh oleh kakak dari ayahnya di Desa Kilbat, Kecamatan Tutuk Tolu, Kabupaten Seram Bagian Timur, Provinsi Maluku. Di sanalah ia tumbuh dengan nilai-nilai kehidupan yang mengajarkannya tentang kerja keras, kesederhanaan, dan arti sebuah perjuangan. “Di sanalah saya dididik dan dibentuk hingga akhirnya bisa menjadi wisudawan terbaik Fakultas Hukum sekaligus wisudawan berprestasi,” jelasnya.

Bagi Hafiz, prestasi bukan hanya soal piala, piagam, atau kemenangan. Prestasi adalah kemampuan untuk tetap berdiri tegak setelah berkali-kali jatuh, tetap bersyukur di tengah keterbatasan, dan terus berpikir positif ketika kenyataan tidak sesuai harapan. “Menurut saya, itu adalah cara Tuhan menyeleksi hamba-Nya, dari yang baik menjadi yang terbaik,” tambahnya.

Kini, setelah menyelesaikan studi sarjananya, Hafiz telah menatap langkah berikutnya. Ia bercita-cita melanjutkan pendidikan Magister Hukum di Universitas Indonesia sebagai bagian dari perjalanan panjang untuk terus mengembangkan diri.

Hafiz menyampaikan harapan agar UAD terus menjadi kampus yang memberi manfaat bagi seluruh mahasiswa serta menjadi wadah terbaik untuk melahirkan generasi yang unggul.

Ia juga menitipkan pesan sederhana bagi mahasiswa yang tengah berjuang meraih mimpi. “Stay humble, stay positive. Satu kali jatuh, seribu kali bangkit. Yakinlah Tuhan selalu bersama orang-orang yang mau berjuang,” pesannya.

Bagi Hafiz, hidup tidak diukur dari seberapa sering seseorang menang, melainkan dari seberapa besar manfaat yang mampu diberikan kepada orang lain. Filosofi Jawa urip iku urup menjadi prinsip yang terus ia pegang: hidup harus menyala agar dapat menerangi dan memberi manfaat bagi sesama.

Barangkali, itulah makna sesungguhnya dari sebuah prestasi. Bukan sekadar berdiri di podium kemenangan, melainkan tetap menyalakan harapan, bahkan setelah berkali-kali diterpa kegagalan. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Hafiz-Ahmad-Rumalutur-wisudawan-terbaik-Fakultas-Hukum-sekaligus-wisudawan-berprestasi-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Hafiz.jpg.jpeg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-10 15:13:402026-08-10 15:13:40Hafiz: Berkali-Kali Gagal, Berkali-Kali Bangkit

Rahasia di Balik Rentetan Prestasi Dhita Pratama Putra, Wisudawan Berprestasi UAD

10/08/2026/in Feature /by Ard

Dhita Pratama Putra wisudawan berprestasi bidang akademik dan nonakademik periode IV tahun 2026 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Dhita).jpg

Di balik toga yang dikenakan pada hari wisuda, selalu ada cerita yang tidak tertulis dalam selembar transkrip nilai. Ada langkah-langkah panjang yang ditempuh dalam diam, ada air mata yang tidak sempat disaksikan siapa pun, dan ada mimpi yang terus dijaga agar tidak padam meski berkali-kali diterpa keadaan.

Bagi Dhita Pratama Putra, S.Si., lulusan Program Studi Fisika Fakultas Sains dan Teknologi Terapan Universitas Ahmad Dahlan (UAD), momen dinobatkan sebagai Wisudawan Berprestasi Bidang Akademik dan Nonakademik UAD Periode IV Tahun 2026 bukan sekadar penghargaan atas pencapaian. Gelar itu menjadi penanda bahwa setiap perjuangan, sekecil apa pun, selalu menemukan jalannya untuk dihargai.

Dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,78, Dhita tidak hanya berhasil menyelesaikan studinya dengan baik, tetapi juga menorehkan sekitar 130 prestasi di tingkat provinsi, nasional, hingga internasional. Namun, bagi dirinya, angka bukanlah inti dari perjalanan tersebut.

“Alhamdulillah, saya bangga sekali. Apalagi bisa mendapatkan penghargaan di bidang akademik sekaligus nonakademik. Semua itu bukan sesuatu yang datang begitu saja. Ada banyak usaha, waktu, dan pengorbanan yang harus dijalani,” tuturnya.

Di balik sederet penghargaan itu, tersimpan hari-hari yang dipenuhi kesibukan. Sejak semester dua, Dhita telah bekerja sambil menjalani perkuliahan. Ia juga aktif dalam organisasi, bahkan dipercaya memimpin Himpunan Mahasiswa Fisika dan tergabung dalam Study Club Instrumentasi. Selama menjadi mahasiswa, ia terlibat dalam belasan organisasi dan berbagai kepanitiaan, sembari tetap konsisten mengikuti kompetisi.

Menjaga keseimbangan antara kuliah, pekerjaan, organisasi, penelitian, hingga perlombaan menjadi tantangan yang terus menguji keteguhannya. Namun, ia percaya bahwa mimpi tidak pernah tumbuh dari zona yang nyaman.

Salah satu pencapaian yang paling membekas dalam ingatannya adalah saat meraih Juara II Nasional Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Tingkat PTMA se-Indonesia. Kompetisi tersebut menurutnya menjadi pengalaman paling menantang karena tidak hanya menilai prestasi akademik, tetapi juga karya unggulan, capaian nonakademik, hingga kemampuan diri secara menyeluruh.

Tak hanya itu, Dhita juga berhasil menjadi Finalis Pilmapres Nasional yang diselenggarakan Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) pada tahun 2023. Pencapaian tersebut memiliki makna tersendiri karena mengakhiri penantian panjang UAD yang selama tujuh hingga delapan tahun belum berhasil meloloskan wakilnya ke tingkat nasional.

Prestasi internasional pun turut menghiasi perjalanannya melalui ajang Indonesia Inventors Day (IID) 2022 dan World Young Inventors Exhibition (WYIE) 2022 yang mempertemukan inovator dari berbagai negara. Menariknya, penelitian yang ia bawa dalam kompetisi tersebut kemudian berkembang menjadi topik tugas akhirnya.

Meski demikian, motivasi awal Dhita mengikuti kompetisi ternyata sangat sederhana. Ia mengaku, pada mulanya perlombaan menjadi salah satu cara untuk memperoleh penghasilan tambahan untuk membantu meringankan beban keluarga sekaligus membiayai berbagai kebutuhan. Namun seiring waktu, kompetisi berubah menjadi ruang belajar yang mempertemukannya dengan banyak pengalaman, jejaring, dan kesempatan berkembang. “Bukan hanya tentang menang. Dari setiap lomba saya belajar memperbaiki diri. Ada yang gagal, ada yang berhasil, tetapi semuanya membuat saya bertumbuh,” ujarnya.

Lebih jauh, ia ingin membuktikan bahwa latar belakang bukanlah batas bagi seseorang untuk bermimpi. Sebagai sarjana pertama di keluarga, anak pertama, sekaligus cucu pertama, Dhita merasa memiliki tanggung jawab moral untuk membuka jalan bagi adik-adik dan keluarganya. Ia juga ingin menjadi bukti bahwa anak desa mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

Namun perjalanan itu tidak selalu berjalan mulus. Di tengah padatnya aktivitas, Dhita pernah berjuang melawan gangguan kesehatan mental yang harus ia hadapi selama beberapa tahun. Ia baru menyelesaikan masa pengobatan pada awal tahun 2026. Masa-masa tersebut menjadi ujian yang jauh lebih berat dibandingkan perlombaan mana pun yang pernah diikutinya.

Alih-alih menyerah, pengalaman itu justru membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan. “Saya ingin menunjukkan bahwa seseorang yang lahir dari keluarga broken home juga bisa berprestasi. Anak desa bisa berprestasi. Orang yang pernah mengalami gangguan kesehatan mental juga tetap bisa berkarya dan membanggakan orang-orang di sekitarnya,” ungkapnya.

Bagi Dhita, keberhasilan tidak pernah hadir karena keberuntungan semata. Sejak menjadi mahasiswa baru, ia telah menyusun peta perjalanan yang ingin ditempuh setiap semester. Bahkan, target mengikuti Pilmapres telah ia tuliskan sejak semester pertama setelah melihat informasi kompetisi tersebut.

Ia juga menetapkan target setidaknya mengikuti satu kompetisi setiap bulan. Ketika gagal, ia memilih menjadikan kegagalan sebagai bahan evaluasi, bukan alasan untuk berhenti. Selain itu, ia aktif berdiskusi dengan dosen dan memanfaatkan berbagai fasilitas yang disediakan kampus sebagai bagian dari proses belajarnya.

Menurutnya, prestasi bukan hanya tentang medali atau gelar. “Prestasi adalah bukti dari usaha yang dilakukan secara konsisten. Dulu saya mengira prestasi hanya soal nilai atau penghargaan. Sekarang saya sadar, prestasi juga berarti mampu bertahan, terus belajar, tidak menyerah pada keadaan, dan menjadikan ilmu sebagai jalan untuk memberi manfaat bagi orang lain.”

Pemahaman itu pula yang menjadi bekal setelah menyelesaikan studi sarjananya. Dhita berencana melanjutkan karier profesional sembari menempuh pendidikan Magister Ilmu Komunikasi di Universitas Bakrie melalui jalur beasiswa. Pilihan bidang tersebut lahir dari pengalaman selama kuliah yang membawanya berkecimpung di dunia marketing dan communications.

Baginya, perjalanan akademik tidak selalu harus berjalan lurus sesuai jurusan yang ditempuh. Justru pengalaman selama menjadi mahasiswa membantunya menemukan ruang pengabdian yang paling sesuai dengan dirinya.

Dhita menyampaikan satu pelajaran yang akan selalu ia pegang. “Hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Keberhasilan bukan ditentukan oleh seberapa cepat kita sampai, tetapi seberapa kuat kita tetap melangkah ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapan. Setiap orang memiliki garis waktunya masing-masing.”

Kalimat itu mungkin menjadi ringkasan paling sederhana dari seluruh perjalanan Dhita. Sebab pada akhirnya, prestasi bukan hanya tentang berdiri di atas podium. Prestasi adalah keberanian untuk terus melangkah, bahkan ketika hidup berkali-kali menguji keteguhan hati. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Dhita-Pratama-Putra-wisudawan-berprestasi-bidang-akademik-dan-nonakademik-periode-IV-tahun-2026-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Dhita.jpg.jpeg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-10 15:06:132026-08-10 15:06:13Rahasia di Balik Rentetan Prestasi Dhita Pratama Putra, Wisudawan Berprestasi UAD

Meneladani Sejarah dan Merawat Optimisme di Tengah Ketidakpastian Bangsa

10/08/2026/in Feature /by Ard

Kajian rutin Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan pembicara Hendra Darmawan, S.Pd., M.A. (Foto. Itoshiko).jpg

Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menggelar Kajian Rutin Ahad Pagi pada Ahad, 9 Agustus 2026. Menyambut suasana bulan kemerdekaan, kajian kali ini menghadirkan perwakilan Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY, Hendra Darmawan, S.Pd., M.A., yang mengusung tema reflektif bertajuk “Kemerdekaan dan Optimisme dalam Ketidakpastian”. Di hadapan para jemaah, ia mengurai benang merah antara sejarah perjuangan bangsa, realitas karut-marut tata kelola negara hari ini, dan bagaimana umat Islam harus merawat optimisme.

Membuka kajiannya, Hendra Darmawan mengajak jemaah untuk kembali menengok sejarah perumusan dasar negara di masa-masa awal pembentukan Republik Indonesia. Ia menyoroti pengorbanan besar para pendiri bangsa, salah satunya tokoh Muhammadiyah, Ki Bagus Hadikusumo.

Dalam dinamika sidang BPUPKI, Ki Bagus dengan lapang dada bersedia menurunkan egonya dan berkorban dengan mencoret “tujuh kata” dalam Piagam Jakarta demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), khususnya untuk merangkul wilayah Indonesia Timur.

Menurut Hendra, fondasi bernegara ini telah diletakkan dengan sangat apik dan penuh keteladanan oleh para pendahulu bangsa yang memosisikan Pancasila sebagai Darul Ahdi wa Syahadah (negara kesepakatan dan pembuktian).

Namun, Hendra menyayangkan realitas kebangsaan hari ini yang sering kali paradoks dengan nilai-nilai luhur yang diwariskan tersebut. Ia mengutip pandangan ilmuwan yang menyebut Indonesia sebagai unfinished nation atau negara yang belum selesai, lantaran maraknya perilaku penyelenggara negara yang menyimpang.

Fenomena aparat penegak hukum yang justru melanggar hukum, pengelolaan negara yang amburadul, hingga fakta ketimpangan ekonomi di mana kekayaan 50 oligarki setara dengan harta 50 juta rakyat Indonesia, menjadi sorotan tajam. Kondisi ini membuat negara seakan bergeser dari negara hukum menjadi negara kekuasaan, di mana hawa nafsu dan keserakahan elite tak terbendung layaknya ketiadaan rasa takut kepada Tuhan dan kematian.

Menghadapi ironi kemerdekaan tersebut, pemateri menekankan pentingnya memaknai kembali konsep Jihad Akbar seperti yang diajarkan Rasulullah saw. usai Perang Badar, yakni jihad melawan hawa nafsu diri sendiri. Keserakahan manusia yang tidak terkendali dinilai jauh lebih merusak tatanan kehidupan dibandingkan kebuasan makhluk lainnya.

Meski dihadapkan pada ketidakpastian dan kemungkaran sosial, Hendra mengingatkan umat Islam untuk pantang berputus asa. Mengutip pesan Al-Qur’an surah Az-Zumar, ia mengajak jemaah untuk merawat optimisme melalui jalan an-naubah, yakni sebuah proses kembali dan berserah diri secara totalitas kepada Allah Swt. untuk memperbaiki keadaan tanpa mengulangi kesalahan-kesalahan di masa lalu. (Ito)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Kajian-rutin-Ahad-Pagi-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-dengan-pembicara-Hendra-Darmawan-S.Pd_.-M.A.-Foto.-Itoshiko.jpg.jpeg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-10 14:57:042026-08-10 14:57:04Meneladani Sejarah dan Merawat Optimisme di Tengah Ketidakpastian Bangsa

Wisudawan Terbaik FSBK Menemukan Makna Inklusivitas di UAD

09/08/2026/in Feature /by Ard

Arivansi Ringu Kodi, wisudawan terbaik FSBK Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada wisuda periode IV Tahun 2026 (Foto. Arivansi).jpg

Tidak semua perjalanan dimulai dengan keyakinan. Ada yang justru berawal dari keraguan, dipenuhi pertanyaan, lalu perlahan menjelma menjadi cerita yang mengubah cara seseorang memandang kehidupan.

Begitulah perjalanan Arivansi Ringu Kodi, lulusan Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Sastra, Budaya, dan Komunikasi (FSBK) Universitas Ahmad Dahlan (UAD), yang berhasil dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik FSBK pada Wisuda Periode IV Tahun 2026.

Di balik capaian akademik yang membanggakan, tersimpan kisah tentang keberanian melangkah ke lingkungan yang sama sekali baru. Berasal dari daerah dengan mayoritas penduduk beragama Kristen, Arivan sempat menyimpan kekhawatiran ketika memutuskan melanjutkan studi di UAD, sebuah perguruan tinggi Muhammadiyah.

Namun, keraguan itu perlahan sirna seiring berjalannya waktu. “Sebagai mahasiswa Kristen yang berkuliah di Universitas Ahmad Dahlan, saya datang dengan banyak pertanyaan dan kekhawatiran. Namun, selama menjalani perkuliahan saya justru menemukan begitu banyak kesempatan untuk berkembang,” ujarnya.

Baginya, penghargaan sebagai wisudawan terbaik bukan sekadar pengakuan atas nilai akademik yang diraih selama kuliah. Lebih dari itu, penghargaan tersebut menjadi simbol perjalanan panjang untuk bertahan, bertumbuh, dan membuktikan bahwa perbedaan tidak pernah menjadi penghalang untuk meraih prestasi.

Selama menempuh pendidikan di UAD, Arivan aktif mengikuti berbagai kompetisi akademik dan nonakademik. Prestasi demi prestasi berhasil ia persembahkan, di antaranya Juara I Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Fakultas Sastra, Budaya, dan Komunikasi, Finalis Pilmapres Universitas Ahmad Dahlan, Juara I U-DARE 3.0 International Competition, Juara I International Presenter Ahmad Dahlan International Seminar, Juara II Ahmad Dahlan Youth Competition, Juara II National Public Relations Campaign Competition Monalisa, hingga menjadi delegasi UAD pada National University Debating Championship.

Di antara seluruh pencapaian tersebut, kompetisi U-DARE 3.0 International Competition yang diselenggarakan Universitas Syiah Kuala menjadi pengalaman yang paling membekas. Ajang internasional yang diikuti peserta dari lebih dari delapan negara itu tidak hanya memberinya gelar juara, tetapi juga kesempatan menginjakkan kaki di Titik Nol Kilometer Indonesia, Pulau Sabang.

“Bagi saya, momen itu menjadi simbol bahwa mimpi dapat membawa seseorang ke tempat-tempat yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan,” kenangnya.

Meski demikian, Arivan meyakini bahwa pencapaian tersebut tidak lahir semata karena kemampuan pribadi. Ada lingkungan yang memberinya ruang untuk tumbuh tanpa memandang latar belakang agama.

Selama menjadi mahasiswa, ia merasakan bahwa UAD benar-benar menghadirkan makna dari slogan “Semua Bisa Kuliah di UAD.” Kesempatan untuk mengikuti kompetisi, aktif berorganisasi, hingga mewakili fakultas dan universitas diberikan tanpa membedakan identitas keagamaan.

“Saya memperoleh hak, kesempatan, dan ruang pengembangan diri yang sama seperti mahasiswa lainnya. Teman-teman, dosen, dan lingkungan kampus sangat terbuka, suportif, serta menghargai perbedaan,” tuturnya.

Pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa keberagaman bukan sekadar konsep yang diperbincangkan, melainkan nilai yang dihidupkan dalam keseharian kampus. Di tengah keberagaman, Arivan justru menemukan ruang yang membuatnya semakin percaya diri untuk berkembang.

Baginya, UAD tidak hanya mengajarkan teori di ruang kelas, tetapi juga membentuk karakter melalui keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan integritas moral.

“Seseorang tidak cukup hanya cerdas secara akademik, tetapi juga harus memiliki moral yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Nilai itu yang banyak membentuk cara saya berpikir, mengambil keputusan, dan berinteraksi dengan orang lain,” katanya.

Di balik konsistensinya meraih prestasi, Arivan memegang teguh prinsip sederhana, yakni menyelesaikan setiap hal yang telah dimulai dan tidak menyia-nyiakan setiap kesempatan yang datang. Ia percaya bahwa setiap peluang adalah ruang untuk belajar, bertumbuh, dan mengenal potensi diri lebih jauh.

Dalam menjalani berbagai aktivitas akademik, organisasi, penelitian, hingga kompetisi, ia membiasakan diri menentukan prioritas berdasarkan tingkat urgensi dan dampaknya. Baginya, keberhasilan bukan tentang melakukan semuanya sekaligus, melainkan tentang menjalankan setiap tanggung jawab dengan sepenuh hati.

Perjalanan Arivan menjadi bukti bahwa prestasi lahir dari keberanian mengambil kesempatan, sementara kesempatan akan bermakna ketika didukung oleh lingkungan yang memberikan ruang yang setara bagi setiap orang.

Arivan berpesan  kepada calon mahasiswa, khususnya mereka yang berasal dari latar belakang non-Muslim dan masih ragu memilih UAD, “Jangan pernah takut untuk memulai dan mengambil setiap kesempatan yang ada. Saya telah membuktikan sendiri bahwa menjadi bagian dari kelompok minoritas tidak menghalangi seseorang untuk berkembang dan berprestasi. UAD memberikan ruang yang sama bagi setiap mahasiswa untuk tumbuh tanpa memandang latar belakang agama.“

Kisah Arivansi Ringu Kodi menjadi cerminan bahwa sebuah kampus tidak hanya diukur dari kualitas akademiknya, tetapi juga dari kemampuannya menghadirkan ruang belajar yang inklusif, saling menghormati, dan memberi kesempatan yang sama kepada setiap insan untuk berkembang.

Di UAD, keberagaman tidak menjadi sekat. Justru dari perbedaan itulah tumbuh kepercayaan, kolaborasi, dan prestasi. Sebab ketika setiap mahasiswa diberi ruang yang sama untuk bermimpi, siapa pun dapat melangkah lebih jauh, bertumbuh lebih tinggi, dan membuktikan bahwa semua memang bisa kuliah di UAD. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Arivansi-Ringu-Kodi-wisudawan-terbaik-FSBK-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-pada-wisuda-periode-IV-Tahun-2026-Foto.-Arivansi.jpg.jpeg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-09 09:00:352026-08-10 15:23:56Wisudawan Terbaik FSBK Menemukan Makna Inklusivitas di UAD

Di Balik Gelar Wisudawan Berprestasi, Ada Proses yang Tidak Mudah

07/08/2026/in Feature /by Ard

Adi Satria, wisudawan berprestasi bidang akademik periode IV tahun 20252026 dari Prodi Teknologi Pangan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Adi).jpg

Bagi sebagian orang, wisuda menjadi penutup perjalanan di bangku kuliah. Namun bagi Adi Satria, momen itu justru menjadi ruang untuk menoleh sejenak ke belakang, mengingat setiap proses yang telah dilalui, setiap kegagalan yang pernah ditemui, hingga setiap kesempatan yang perlahan membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih baik. Di penghujung masa studinya sebagai mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Ahmad Dahlan (UAD), ia dinobatkan sebagai salah satu Wisudawan Berprestasi Bidang Akademik Periode IV Tahun 2025/2026.

Penghargaan tersebut bukanlah sesuatu yang pernah ia bayangkan sebelumnya. Ketika namanya diumumkan, rasa syukur menjadi hal pertama yang memenuhi benaknya.

“Saya merasa sangat bersyukur dan tidak menyangka bisa memperoleh penghargaan ini. Bagi saya, pencapaian ini bukan hanya hasil kerja keras pribadi, tetapi juga buah dari doa, dukungan, dan kepercayaan banyak pihak, mulai dari orang tua, dosen, teman-teman, hingga lingkungan yang selalu mendorong saya untuk berkembang,” ungkap Adi.

Selama menempuh pendidikan di UAD, Adi dikenal aktif mengikuti berbagai kompetisi ilmiah. Berbagai prestasi berhasil ia torehkan, mulai dari Juara 1 Essay Ahmad Dahlan International Seminar #3, Juara 2 International Essay Competition CIUVEB, Juara 3 International Essay Competition AILEC Bidang Kesehatan, Juara 1 LETIN 4 Bidang Pangan, pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Riset Eksakta Tahun 2024, hingga sejumlah penghargaan lain di bidang karya tulis ilmiah dan business plan.

Meski perjalanan itu terlihat penuh prestasi, Adi mengakui bahwa ada banyak tantangan yang harus dihadapi. Membagi waktu antara kuliah, kompetisi, organisasi, hingga berbagai aktivitas akademik lainnya menjadi ujian yang terus berulang. Tidak jarang ia merasa kewalahan ketika berbagai tanggung jawab datang bersamaan.

Namun, dari situ ia belajar bahwa keberhasilan tidak selalu lahir dari kemampuan yang paling besar, melainkan dari kemampuan untuk tetap bertahan dalam proses. Ia mulai menyusun prioritas, mengelola waktu dengan lebih baik, dan tidak ragu berdiskusi dengan dosen maupun teman ketika menemui kesulitan.

Motivasi terbesar yang membuatnya terus melangkah adalah keyakinan bahwa masa kuliah merupakan ruang terbaik untuk bertumbuh.

“Saya percaya bahwa masa perkuliahan bukan hanya tentang memperoleh gelar, tetapi juga tentang membangun kapasitas diri. Saya ingin membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berusaha. Setiap prestasi yang saya raih menjadi pengingat bahwa kerja keras dan konsistensi akan selalu memberikan hasil,” tuturnya.

Di balik semua pencapaiannya, Adi menyebut orang tua sebagai sosok yang paling berpengaruh dalam perjalanan hidupnya. Dukungan, doa, dan pengorbanan mereka menjadi alasan untuk terus melangkah, bahkan ketika proses terasa berat. Ia juga mengapresiasi para dosen Program Studi Teknologi Pangan UAD yang telah memberikan bimbingan, kepercayaan, dan kesempatan untuk terus berkembang.

Selepas lulus, Adi berencana melanjutkan langkahnya di dunia industri pangan sebagai ruang untuk mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari selama di bangku kuliah. Ia juga bercita-cita melanjutkan pendidikan ke jenjang magister agar dapat terus berkontribusi dalam riset dan inovasi pangan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Bagi Adi, prestasi bukanlah tentang seberapa banyak piala yang berhasil dikumpulkan atau penghargaan yang berhasil diraih. Prestasi adalah tentang bagaimana setiap proses mampu membentuk karakter dan memberi manfaat bagi orang lain.

“Pelajaran hidup paling berharga yang saya dapatkan selama kuliah adalah bahwa proses jauh lebih penting daripada hasil. Tidak semua usaha akan langsung menghasilkan keberhasilan, tetapi setiap pengalaman selalu memberikan pembelajaran. Saya belajar untuk tidak takut gagal, karena sering kali kegagalan justru menjadi jalan menuju kesempatan dan pencapaian yang lebih besar,” Ujarnya.

Perjalanan Adi mungkin telah sampai pada satu garis akhir sebagai mahasiswa. Namun, gelar Wisudawan Berprestasi bukanlah penutup cerita. Ia justru menjadi awal dari perjalanan baru, sebuah perjalanan yang akan terus menuntunnya untuk belajar, berkarya, dan menghadirkan manfaat. Sebab pada akhirnya, yang paling dikenang bukanlah seberapa tinggi seseorang berdiri di atas panggung prestasi, melainkan seberapa banyak kebaikan yang ia tinggalkan dalam setiap langkahnya. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Adi-Satria-wisudawan-berprestasi-bidang-akademik-periode-IV-tahun-20252026-dari-Prodi-Teknologi-Pangan-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Adi.jpg.jpeg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-07 09:00:062026-08-10 11:03:56Di Balik Gelar Wisudawan Berprestasi, Ada Proses yang Tidak Mudah

Perjalanan Arivansi Mengubah Kegagalan Menjadi Ruang Bertumbuh

06/08/2026/in Feature /by Ard

Arivansi Ringu Kodi wisudawan terbaik FSBK Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Arivansi)

Rencana awal tidak selalu berjalan selaras dengan kenyataan. Kegagalan di masa lalu tidak menyurutkan langkah Arivansi Ringu Kodi untuk mengukir prestasi di perguruan tinggi. Bagi Arivan, alumnus Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Sastra, Budaya, dan Komunikasi (FSBK) angkatan 2022 Universitas Ahmad Dahlan (UAD), peraih predikat Wisudawan Terbaik FSBK UAD, perjalanan menuju bangku perkuliahan diawali dengan rentetan rasa kecewa. Sebelum melangkahkan kaki di UAD, ia harus menerima kenyataan pahit, yakni ditolak di lebih dari delapan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia. Kehilangan kesempatan berkuliah di perguruan tinggi impian sempat mendatangkan rasa kecewa dan keraguan saat ia harus memulai masa studi di tempat yang awalnya tidak masuk dalam rencana.

Namun, seiring berjalannya waktu, sudut pandang Arivan mulai bergeser. Ia menyadari bahwa penolakan beruntun bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah titik balik. Daripada terus menyesali apa yang tidak berhasil didapatkan, ia memilih untuk bangkit dan memaksimalkan setiap peluang yang ada di depan mata.

“Saya berkata kepada diri sendiri bahwa saya sudah memulai perjalanan ini, sehingga saya harus memberikan yang terbaik,” ucapnya. “saya memiliki prinsip, “Finish what you have started”. Ketika saya memutuskan untuk memulai sesuatu, saya harus bertanggung jawab menyelesaikannya. Saya juga selalu mengingatkan diri sendiri, “Take all the opportunities that come to you”. Saya percaya setiap kesempatan adalah ruang untuk belajar, bertumbuh, dan mengembangkan diri. Kesempatan tidak selalu datang dua kali, sehingga saya berusaha untuk tidak pernah menyia-nyiakannya.” Imbuhnya.

Selama menjalani masa kuliah, Arivansi menjadikan lirik lagu “Mirrorball” karya Taylor Swift, “All I do is try, try, try,” sebagai motivasinya untuk terus berusaha. Baginya, kalimat sederhana itu secara tepat menggambarkan proses hampir empat tahun di perguruan tinggi. Tidak semua ajang kompetisi berhasil ia menangkan dan tidak semua usaha berjalan mulus sesuai harapan. Namun, keberanian untuk terus mencoba, belajar, dan memperbaiki diri secara konsisten menjadi kunci yang membentuk proses perkuliahannya.

Selama menempuh studi di UAD, berbagai tantangan hadir menguji ketahanannya. Salah satu proses adaptasi yang paling membekas adalah statusnya sebagai seorang mahasiswa beragama Kristen yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi berbasis Islam Muhammadiyah. Pada awal masa perkuliahan, rasa canggung sempat muncul karena ia terbiasa berada di lingkungan yang mayoritas beragama Kristen. Kendati demikian, kekhawatiran tersebut sirna seiring berjalannya waktu. Arivansi justru menemukan ekosistem kampus yang sangat terbuka dan inklusif. Teman-temannya yang beragama Islam menerima dan merangkul kedatangannya dengan sangat baik, sehingga proses adaptasi sosial berjalan dengan lancar.

Sebagai pemeluk agama Kristen yang taat, Arivansi mengandalkan iman dan keyakinannya kepada Tuhan dalam menjalani setiap tahapan studi. Salah satu ayat Kitab Suci yang senantiasa menjadi pegangan hidupnya adalah Amsal 3:5 yang berbunyi,“Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.” Ayat ini menjadi pengingat baginya bahwa pertolongan Tuhan lah yang membuatnya tetap bertahan dan kuat melangkah hingga garis akhir.

Tantangan lainnya datang dari pengelolaan waktu. Di tengah padatnya jadwal perkuliahan, ia harus membagi energi untuk aktif di organisasi, mengikuti berbagai kompetisi, serta menyelesaikan berbagai tanggung jawab lainnya. Ketika rasa lelah atau burnout melanda di tengah tekanan yang bertubi-tubi, Arivansi memilih untuk tidak memaksakan diri. Mengambil jeda dan beristirahat sejenak menjadi caranya untuk memulihkan pikiran, sehingga ia bisa kembali bekerja dengan fokus yang lebih baik.

Komitmen untuk menyelesaikan apa yang telah dimulai akhirnya membuahkan hasil yang konkret. Mahasiswa FSBK ini tidak hanya berhasil menyabet predikat Wisudawan Terbaik Program Studi Ilmu Komunikasi UAD, tetapi juga dinobatkan sebagai Juara I Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) FSBK, serta menjadi Finalis Pilmapres di tingkat Universitas.

Di ranah kompetisi, jejak perjalanannya terentang luas. Arivansi berhasil meraih Juara I U-DARE 3.0 International Competition yang diselenggarakan oleh Universitas Syiah Kuala, Juara I International Presenter Ahmad Dahlan International Seminar, Juara II Ahmad Dahlan Youth Camp Competition, Juara II National Public Relations Campaign Competition Monalesa, serta terpilih menjadi delegasi UAD pada ajang National University Debating Championship (NUDC). Di samping itu, ia juga aktif berorganisasi sebagai Staf Khusus Kementerian Agama BEM UAD dan pengurus Divisi Public Relations Debating Community UAD.

Rangkaian prestasi ini tidak lepas dari perkuliahan di UAD yang dinilainya sangat kondusif. Kampus menyediakan ruang yang memadai bagi mahasiswa untuk mengasah potensi akademik maupun nonakademik. Peran para dosen, khususnya di Program Studi Ilmu Komunikasi, dirasakannya sangat besar. Dosen tidak hanya berperan mengajar di dalam kelas, tetapi juga memberikan arahan, motivasi, serta kepercayaan penuh bagi mahasiswa untuk mengeksplorasi kemampuan diri.

Pencapaian gelar Wisudawan Terbaik mendatangkan perasaan bahagia, bangga, sekaligus terharu bagi Arivansi. Baginya, capaian ini menjadi bukti bahwa perjuangan, kerja keras, dan pengorbanan selama masa studi tidak berlalu dalam sia-sia. Meski demikian, Arivansi menegaskan bahwa penghargaan tersebut bukan semata-mata milik pribadinya. Predikat wisudawan terbaik dimaknai sebagai bentuk rasa syukur atas hadirnya orang-orang yang senantiasa memberikan dukungan–orang tua, keluarga, dosen, sahabat, serta kawan-kawan yang membersamainya sepanjang proses studi.

“Jangan menunggu sampai merasa benar-benar siap, karena sering kali kita justru bertumbuh di dalam prosesnya. Gunakan masa kuliah bukan hanya untuk mengejar nilai, tetapi juga membangun karakter, memperluas pengalaman, dan mengembangkan kemampuan diri melalui organisasi maupun kompetisi,” pesannya.

Ia juga menekankan pentingnya untuk tidak membandingkan perjalanan pribadi dengan pencapaian orang lain. Fokus utama yang perlu dijaga adalah menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin, dengan keyakinan bahwa setiap usaha yang dilakukan secara sungguh-sungguh tidak akan pernah sia-sia. (Anove)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Arivansi-Ringu-Kodi-wisudawan-terbaik-FSBK-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Arivansi.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-06 10:25:412026-08-06 10:25:41Perjalanan Arivansi Mengubah Kegagalan Menjadi Ruang Bertumbuh

Prestasi Bukan Soal Angka, tetapi Dampak yang Diberikan

06/08/2026/in Feature /by Ard

Muqoyyimul Hisyam Ar Ridlo, mahasiswa berprestasi Prodi Teknik Industri Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Ridlo)

Bagi Muqoyyimul Hisyam Ar Ridlo, mahasiswa Program Studi Teknik Industri Universitas Ahmad Dahlan (UAD), menyandang predikat mahasiswa berprestasi menjadi pencapaian yang penuh makna. Putra pasangan Jamadi dan Ayunda ini membuktikan bahwa prestasi tidak selalu ditentukan oleh indeks prestasi kumulatif (IPK), melainkan oleh semangat untuk terus berkarya dan memberikan manfaat bagi orang lain. Dengan IPK 2,96, Hisyam berhasil menorehkan berbagai prestasi tingkat nasional hingga internasional selama menempuh pendidikan di UAD.

“Sebagai salah satu mahasiswa berprestasi, saya merasa sangat bersyukur atas dukungan dari Universitas Ahmad Dahlan dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia. Tanpa dukungan tersebut, pencapaian yang saya raih belum tentu dapat terwujud. Status mahasiswa berprestasi ini juga menjadi motivasi bagi saya untuk melanjutkan karier maupun pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi,” ungkapnya.

Selama berkuliah, Hisyam aktif mengikuti berbagai kompetisi, penelitian, hingga kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Sejumlah prestasi yang berhasil diraihnya antara lain Awardee Beasiswa KIP-Kuliah oleh Kemdiktisaintek RI (2021), Juara I Lomba Fotografi Nasional Universitas Negeri Yogyakarta (2021), Juara II Lomba Sketch Building Masjid Islamic Center UAD yang diselenggarakan IMM Psikologi UAD, Silver Medal Inventors Day oleh Indonesian Innovation and Invention Promotion Association (2022), penerima pendanaan Proposal Tim PPK Ormawa UKM Pramuka dari Kemdiktisaintek RI (2023), Awardee Bronze Medal Abdidaya PPK Ormawa Kemdiktisaintek RI (2023), Finalis National Business Plan Competition Universitas Mataram (2023), penerima pendanaan Proposal Riset PKM-KC Kemdiktisaintek RI (2024), Best International Presenter Ahmad Dahlan International Youth Camp (2024), serta menjadi inisiator dan ketua pada empat kegiatan pengabdian masyarakat di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah pada 2025.

Di balik berbagai pencapaian tersebut, Hisyam mengaku tidak selalu melalui perjalanan yang mudah. Baginya, tantangan terbesar selama menjalani perkuliahan bukanlah akademik, melainkan menjaga kesehatan mental agar tetap stabil di tengah berbagai aktivitas yang dijalani.

“Tantangan terberat saya selama kuliah adalah mengorganisasi mental health. Ketika kondisi mental terjaga, saya bisa lebih fokus dalam belajar maupun mengembangkan potensi diri,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa kritik justru menjadi sumber motivasi terbesar dalam setiap proses yang dijalaninya. Menurutnya, kritik bukan sesuatu yang harus dihindari, melainkan bahan evaluasi agar mampu terus berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.

Dalam mengembangkan diri, Hisyam menerapkan strategi yang sederhana, tetapi konsisten. Ia meyakini bahwa setiap individu memiliki kelebihan yang berbeda sehingga penting untuk mengenali kemampuan diri sendiri sebelum menentukan langkah.

“Saya selalu menerapkan pola pikir bahwa menganalisis kemampuan diri itu penting. Cara meningkatkan value diri adalah dengan terus mengembangkan kemampuan yang memang kita kuasai, bukan memaksakan diri pada hal-hal yang belum menjadi keahlian kita,” jelasnya.

Keberhasilannya juga tidak lepas dari dukungan orang-orang terdekat. Hisyam menyebut kedua orang tua serta dosen pembimbing sebagai sosok yang paling berperan dalam membentuk pola pikir, karakter, dan semangatnya untuk terus bertumbuh.

Hisyam bertekad melanjutkan studi magister melalui jalur beasiswa sekaligus membangun karier profesional yang matang sesuai kompetensi yang dimilikinya. Baginya, pendidikan dan pengalaman harus berjalan beriringan agar dapat memberikan kontribusi yang lebih luas bagi masyarakat.

Hisyam memaknai prestasi bukan sekadar deretan penghargaan atau pengakuan, melainkan sejauh mana seseorang mampu memberikan dampak positif melalui apa yang dikerjakannya. “Bagi saya, makna prestasi dan kesuksesan adalah ketika apa pun yang saya lakukan dalam suatu forum mampu memberikan manfaat dan dampak positif bagi orang-orang di sekitar,” tuturnya.

Menurutnya, capaian seseorang tidak bisa diukur hanya dari angka IPK semata.

“IPK saya tidak berada di atas 3,00, tetapi gelar mahasiswa berprestasi menjadi bukti bahwa setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda. Kesuksesan bukan hanya soal nilai akademik, melainkan seberapa besar dampak yang bisa kita berikan bagi diri sendiri maupun orang lain,” pungkasnya.

Ia juga berharap Universitas Ahmad Dahlan terus berkembang menjadi salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia serta mampu memberikan fasilitas yang semakin optimal bagi mahasiswa, baik dalam bidang akademik maupun nonakademik. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Muqoyyimul-Hisyam-Ar-Ridlo-mahasiswa-berprestasi-Prodi-Teknik-Industri-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Ridlo.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-06 10:03:262026-08-06 10:03:26Prestasi Bukan Soal Angka, tetapi Dampak yang Diberikan

Fredo: Bukan Tentang Siapa Paling Hebat

06/08/2026/in Feature /by Ard

Fredo Meical Cibro wisudawan berprestasi bidang akademik periode IV tahun 2026 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Fredo)

Berawal dari keinginan sederhana untuk mengisi waktu luang dengan kegiatan yang bermanfaat, Fredo Meical Cibro, putra Nelson Cibro dan Resni Banurea, kini berhasil menorehkan prestasi sebagai Wisudawan Berprestasi Bidang Akademik Periode IV Tahun 2026 Universitas Ahmad Dahlan (UAD).

Mahasiswa Biologi dengan IPK 3,60 itu telah menorehkan berbagai prestasi selama menempuh pendidikan di UAD. Di antaranya   Medali Emas Olimpiade Sains Tingkat Nasional Bertajuk Kompetisi Sains Pelajar Se-Indonesia (KSPI) Bidang Sejarah (2023), Medali Emas Olimpiade Sains Tingkat Nasional Bertajuk Kompetisi Sains Pelajar Se-Indonesia (KSPI) Bidang Bahasa Indonesia (2023), Lolos Pendanaan Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) sebagai Tim Pelaksana BEM FAST Kampung Iklim (2024), Finalis Abdidaya Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) sebagai Tim Pelaksana BEM FAST Kampung Iklim (2024), Penulis Artikel Pertama yang dipublikasikan pada Jurnal UMS terindeks SINTA 3 (2026), Juara III Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional CEMPITA Bidang Teknologi (2024), Juara II Lomba Esai Gebyar Nasional Essay Siswa dan Mahasiswa 2 (GENESIS 2) Bidang Teknologi (2024), Harapan III Lomba Semarak Esai Pemuda Nasional I Bidang Teknologi (2024), Best Supporter Lomba Semarak Esai Pemuda Nasional I Bidang Teknologi (2024), dan Medali Perak Kompetisi Sains Pelajar Se-Indonesia (KSPI) Bidang Sejarah (2025).

Dari seluruh capaian tersebut, pengalaman yang paling membekas baginya adalah ketika berhasil memperoleh pendanaan PPK Ormawa. Program yang dijalankan selama satu tahun itu menjadi ruang belajar yang penuh tantangan dan dinamika. Di sisi lain, keberhasilannya menerbitkan jurnal ilmiah secara mandiri juga menjadi pencapaian yang sangat berarti karena seluruh proses bergantung pada kedisiplinan dan kerja keras dirinya sendiri.

Di balik berbagai prestasi itu, Fredo mengaku bahwa motivasi awalnya sangat sederhana. Ia hanya ingin mengisi waktu luang dengan kegiatan yang bermanfaat. Seiring waktu, semangatnya tumbuh setelah melihat banyak teman, khususnya penerima beasiswa KIP- Kuliah, berhasil mengukir prestasi dan tampil di media sosial UAD.

Meski demikian, perjalanan menuju prestasi tidak selalu berjalan mulus. Tantangan terbesar justru datang dari dalam dirinya sendiri. Fredo mengakui bahwa ia merupakan pribadi yang mudah berubah suasana hati sehingga kerap kesulitan menjaga konsistensi.

Untuk mengatasi hal tersebut, ia memiliki cara sederhana namun efektif. Ketika semangatnya mulai menurun, ia membuka media sosial dan melihat perjuangan teman-temannya yang terus berkarya. Baginya, melihat orang lain berusaha menjadi versi terbaik dirinya mampu membangkitkan motivasi untuk kembali melangkah.

Menariknya, Fredo tidak menyebut satu nama tertentu sebagai sosok yang paling berjasa dalam keberhasilannya. Selain orang tua dan keluarga, ia justru merasa terinspirasi oleh banyak orang di sekitarnya.

“Sosok yang paling berperan adalah semua orang yang berusaha menjadi versi terbaik dirinya sendiri dan membagikan proses perjuangannya. Dari mereka saya belajar bahwa setiap orang memiliki perjuangan masing-masing dan itu menjadi motivasi bagi saya,” tuturnya.

Dalam menjalani setiap proses, Fredo selalu berusaha belajar dari kesalahan, menyusun perencanaan yang matang, serta tidak ragu bertanya kepada orang yang lebih berpengalaman. Menurutnya, kemampuan untuk terus belajar merupakan kunci agar seseorang tidak berhenti berkembang.

Fredo telah menyiapkan sejumlah target. Dalam waktu dekat, Fredo berencana mengikuti kursus bahasa Inggris secara luring dan menunggu hasil seleksi Magang Hub. Apabila belum memperoleh kesempatan tersebut, ia akan mempersiapkan diri untuk melanjutkan studi magister melalui beasiswa di luar negeri.

Bagi Fredo, prestasi bukan semata-mata tentang penghargaan atau pengakuan. Ia memaknai kesuksesan sebagai keberanian untuk memberikan usaha terbaik dan memenangkan pertarungan melawan diri sendiri.

“Ketika saya sudah berjuang dan mempersiapkan semuanya dengan sebaik mungkin, bagi saya itulah kesuksesan. Apa pun hasil akhirnya, saya merasa sudah berhasil mengalahkan diri saya sendiri,” katanya.

Selama menempuh studi di UAD, Fredo juga memperoleh pelajaran hidup yang sangat berharga, yaitu tidak pernah meremehkan siapa pun. Ia menyadari bahwa setiap orang memiliki potensi dan perjalanan yang berbeda. Karena itu, ia menyampaikan rasa terima kasih kepada teman-temannya yang tetap menerima, mendukung, dan membersamainya, bahkan ketika ia berada pada titik terburuk dalam hidupnya.

“Saya sangat berterima kasih kepada teman-teman yang tetap sabar dan mau menerima saya, bahkan ketika saya belum menjadi pribadi yang baik. Dukungan mereka membuat saya terus berkembang hingga seperti sekarang,” ungkapnya.

Fredo berharap UAD terus meningkatkan ruang kolaborasi dengan menindaklanjuti aspirasi mahasiswa secara optimal. Ia juga berharap adanya kesetaraan dalam penerapan kebijakan bagi mahasiswa non-Islam di seluruh fakultas sehingga setiap mahasiswa memperoleh perlakuan yang adil sesuai ketentuan yang berlaku.

Kisah Fredo Meical Cibro menjadi pengingat bahwa prestasi tidak selalu lahir dari langkah yang besar. Berawal dari keinginan sederhana untuk memanfaatkan waktu luang, ia membuktikan bahwa kerja keras, konsistensi, dan kemauan untuk terus memperbaiki diri mampu mengantarkan seseorang meraih pencapaian terbaik. Sebab, kemenangan yang sesungguhnya bukanlah mengalahkan orang lain, melainkan berhasil menjadi pribadi yang lebih baik dari diri sendiri setiap harinya. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Fredo-Meical-Cibro-wisudawan-berprestasi-bidang-akademik-periode-IV-tahun-2026-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Fredo.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-06 09:25:022026-08-06 09:25:02Fredo: Bukan Tentang Siapa Paling Hebat

Gerakan Shadaqah Sampah: Ikhtiar Muhammadiyah Menjaga Kesehatan Lingkungan

03/08/2026/in Feature /by Ard

Nur Aina Azizah., S.K.M., Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan (UAD)

Penulis Nur Aina Azizah., S.K.M.

Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan (UAD)

Sampah masih menjadi salah satu persoalan kesehatan lingkungan yang paling nyata di Indonesia. Jika tidak dikelola dengan baik, sampah dapat mencemari sungai, menyumbat saluran air, dan meningkatkan risiko berbagai penyakit, termasuk diare dan demam berdarah. Karena itu, persoalan sampah tidak lagi bisa dipandang sekadar urusan kebersihan, melainkan sudah menyangkut kesehatan masyarakat secara luas.

Persoalan sampah sesungguhnya bukan hanya berkaitan dengan kemampuan mengelola limbah, tetapi juga cara pandang manusia terhadap lingkungan. Selama sampah dianggap sebagai sesuatu yang selesai ketika dibuang, persoalan itu akan terus berulang. Yang dibutuhkan bukan sekadar teknologi, melainkan perubahan perilaku.

Di tengah persoalan tersebut, Muhammadiyah menghadirkan ikhtiar yang berbeda melalui Gerakan Shadaqah Sampah Berbasis Eco-Masjid Indonesia. Dalam gerakan ini, sampah tidak dipandang semata-mata sebagai limbah, melainkan dikumpulkan, dipilah, dan dijual, lalu hasilnya disalurkan untuk kegiatan sosial serta pemberdayaan umat.

Gerakan yang dirintis Ananto Isworo sejak 2013 di Bantul, Yogyakarta, ini kembali mendapat sorotan setelah ia dianugerahi Kalpataru 2026 kategori Perintis Lingkungan. Penghargaan tertinggi pemerintah di bidang lingkungan hidup itu menegaskan bahwa pendekatan berbasis masjid ini bukan sekadar gagasan, melainkan ikhtiar nyata yang memberi dampak.

Cara kerjanya sederhana. Warga memilah sampah anorganik seperti plastik, kertas, dan kaleng dari rumah, lalu membawanya ke masjid sebagai bentuk shadaqah. Dari titik kumpul yang sederhana itulah gerakan ini tumbuh dan meluas ke berbagai daerah.

Menurut Ananto, sebagaimana dikutip dari Muhammadiyah.or.id, pendekatan penanganan sampah dapat dilakukan melalui jalur keagamaan dan rumah ibadah. Ia menyebut gerakan ini telah direplikasi oleh ratusan komunitas, dengan sekitar 532 komunitas di Bantul dan menyebar hingga sekitar 300 masjid di seluruh Indonesia.

Bagi Muhammadiyah, menjaga lingkungan bukan sekadar persoalan teknis kesehatan, melainkan bagian dari ibadah, amanah, dan tanggung jawab moral manusia sebagai khalifah di bumi. Lingkungan yang sehat diyakini menjadi kunci lahirnya masyarakat yang sehat pula, sehingga nilai-nilai Islam perlu hadir dalam perilaku nyata, mulai dari pengelolaan sampah, kebersihan udara, sanitasi, hingga pencegahan pencemaran.

Yang membuat gerakan ini istimewa adalah Landasan nilainya. Dalam Islam, shadaqah tidak selalu berbentuk uang; setiap kebaikan yang memberi manfaat bagi orang lain juga bernilai shadaqah. Karena itu, memilah sampah dan merawat lingkungan dapat dipahami sebagai amal saleh. Dakwah pun tidak berhenti di mimbar, tetapi hadir melalui tindakan nyata yang manfaatnya langsung dirasakan warga.

Muhammadiyah menjadikan masjid sebagai pusat gerakan karena tempat inilah yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat. Dari sana lahir kebiasaan baru seperti memilah sampah dari rumah, membawanya ke masjid, lalu bersama-sama membangun kesadaran kolektif bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah.

Dampaknya tidak hanya terasa pada aspek lingkungan. Hasil penjualan sampah di berbagai daerah dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan remaja masjid, membantu biaya pendidikan anak-anak, hingga membiayai program sosial. Di sejumlah komunitas, penggunaan mesin pencacah sampah juga meningkatkan nilai jual sampah sehingga manfaat ekonominya semakin besar.

Dari sisi kesehatan lingkungan, gerakan ini membantu menekan volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir atau mencemari sungai. Gerakan ini juga membiasakan warga memilah sampah sejak dari sumbernya, sebuah langkah kecil yang menjadi fondasi penting dalam sistem pengelolaan sampah berkelanjutan.

Dalam perspektif kesehatan masyarakat, pengelolaan sampah sejak dari sumber merupakan salah satu strategi promotif dan preventif yang efektif. Ketika masyarakat terbiasa memilah sampah dari rumah, risiko pencemaran lingkungan dapat ditekan sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Ananto sendiri menegaskan bahwa penghargaan bukanlah tujuan utama. Baginya, semua ini dijalankan karena “bumi adalah amanah dari Allah yang harus dijaga”. Dari selembar kardus bekas hingga botol plastik yang dipilah, gerakan ini membuktikan bahwa dakwah bisa hadir lewat aksi sederhana: mengubah sampah menjadi shadaqah, sekaligus mengubah kepedulian lingkungan menjadi budaya hidup yang diakui secara nasional.

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Nur-Aina-Azizah.-S.K.M.-Mahasiswa-Magister-Kesehatan-Masyarakat-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-03 08:49:472026-08-10 10:28:58Gerakan Shadaqah Sampah: Ikhtiar Muhammadiyah Menjaga Kesehatan Lingkungan
Page 3 of 78‹12345›»

TERKINI

  • UAD Beri Penghargaan bagi Lulusan Terbaik Apoteker Angkatan 5001/10/2026
  • Mahasiswa Gizi UAD Inisiasi Program SENADA di MAN 2 Sleman01/10/2026
  • Pelatihan Pembuatan NIB Dorong Legalitas dan Pengembangan UMKM Miedes di Srihardono01/10/2026
  • Deru Mesin Kemanusiaan: Saat Komunitas Motor UAD dan LazisMu UAD Antar 100 Tangki Air ke Pelosok Gunungkidul01/10/2026
  • Berbagai Program KKN UAD Perkuat Kebersamaan Warga Jangkang Kidul30/09/2026

PRESTASI

  • Mahasiswa UAD Raih Juara III pada Kejurnas IX Senior-Junior Hapkido Indonesia 202630/09/2026
  • Tim Al Qorni UAD Raih Dua Gelar Juara di Ajang KMLI 202630/09/2026
  • Pustakawan UAD Raih Prestasi di IPI Awards DIY 202629/09/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara I Esai Nasional Ajang PIKIR 202629/09/2026
  • Tim King Phoenix UAD Juara III Kontes Robot Terbang Indonesia28/09/2026

FEATURE

  • Runtuhkan Sekat Pembatas, Dekan FKIP UAD Tekankan Kolaborasi Pendidikan yang Berdampak28/09/2026
  • Menelusuri Hakikat dan Empat Tanda Kebahagiaan di Dunia15/09/2026
  • Memaknai Singkatnya Kehidupan dan Rahmat Berlimpah Menuju Surga10/09/2026
  • Menapaki Jalan Lurus melalui Sepuluh Wasiat Allah04/09/2026
  • LPSI UAD Gelar Kajian Tafsir At-Tanwir, Bedah Makna dan Keutamaan Surat Al-Baqarah Ayat 18503/09/2026

TENTANG | KRU | KONTAK | REKAPITULASI

Scroll to top