• TERKINI
  • UAD BERDAMPAK
  • PRESTASI
  • FEATURE
  • OPINI
  • MEDIA
  • KIRIM BERITA
  • Menu
News Portal of Universitas Ahmad Dahlan

Enam Resep Kebahagiaan Dunia dan Keselamatan Akhirat

28/01/2026/in Feature /by Ard

Ustadz Drs. H. Nurhidayat Pamungkas, M.Pd. saat menyampaikan materi di Masjid Islamic Center UAD. (Foto Itoshiko)

Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali dipadati jamaah dalam kegiatan Kajian Ahad Pagi pada Ahad, 25 Januari 2026. Kali ini, kajian menghadirkan Dosen UAD sekaligus Direktur LPPU Ummu Salamah, Ustaz Drs. H. Nurhidayat Pamungkas, M.Pd., yang membawakan tema mengenai kunci meraih kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat.

Membuka kajian, Ustaz Nurhidayat menekankan bahwa tujuan akhir seorang muslim adalah meraih kebahagiaan di dunia sekaligus keselamatan di akhirat. Ia kemudian menyoroti fenomena pola asuh masa kini dengan dua istilah unik: “anak sing dadi ning ora ngerti” dan “anak sing ora dadi ning ngerti“. Istilah pertama merujuk pada anak yang sukses secara materi atau jabatan namun abai terhadap orang tua, sedangkan istilah kedua menggambarkan anak yang biasa saja secara materi namun sangat memuliakan orang tuanya.

Ia mencontohkan realitas yang sering terjadi, di mana ada anak berpendidikan tinggi hingga jenjang S3, namun kurang hormat kepada orang tua. Sebaliknya, ia pernah menemui seorang tukang becak yang setiap malam dengan penuh kasih sayang membelikan susu untuk ibunya.

“Anak yang ngerti seperti inilah yang justru menjadi jalan surga bagi orang tuanya,” ujarnya.

Dalam membedah resep kebahagiaan hakiki, Ustaz Nurhidayat menguraikan enam pilar utama yang saling berkaitan. Ia mengawali dengan pentingnya memiliki Qolbun Syakirun atau hati yang bersyukur, di mana kunci ketenangan jiwa terletak pada sikap qanaah menerima pemberian Allah. Kebahagiaan ini kian lengkap dengan kehadiran Al-Azwaju Shalihah (pasangan yang saleh) sebagai penyempurna separuh agama sekaligus mitra terbaik dalam mendidik generasi penerus. Tak hanya pasangan, Al-Auladul Abrar atau anak-anak yang saleh juga disebutnya sebagai investasi akhirat yang sangat penting, sehingga orang tua dituntut bersabar dalam mendidik agar kelak anak tetap memuliakan mereka dan tidak menitipkan orang tua ke panti jompo di masa senja.

Faktor lingkungan dan harta juga tak luput dari pembahasan. Ustaz Nurhidayat menekankan urgensi Al-Biah Ash-Shalihah atau lingkungan yang kondusif untuk ibadah, seperti inisiatif kelompok belajar Al-Qur’an di tingkat RW untuk membangun masyarakat yang religius. Hal ini disempurnakan dengan Al-Malul Halal (harta yang halal), dimana keberkahan harta jauh lebih membawa ketenangan dibanding jumlahnya. Ia menceritakan kisah inspiratif Mbah Wira, seorang penjual makanan kecil di Minggiran yang berhasil berangkat umrah dari hasil tabungan uang recehnya yang halal.

Sebagai penutup resep kebahagiaan, ia menegaskan pentingnya Tafaqquh Fiddin atau semangat memahami agama sebagai jalan terang kehidupan. Ustaz Nurhidayat mengajak jamaah untuk mengambil peran dalam ilmu, baik sebagai pengajar, pelajar, pendengar, atau pencinta ilmu, dan menghindari menjadi golongan kelima yang tidak menyukai ilmu karena akan membawa celaka. Ia pun mengimbau jamaah untuk terus memakmurkan masjid sebagai wasilah agar Allah menurunkan rahmat-Nya dan menjauhkan negeri dari bencana. (Ito)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Ustadz-Drs.-H.-Nurhidayat-Pamungkas-M.Pd_.-saat-menyampaikan-materi-di-Masjid-Islamic-Center-UAD.-Foto-Itoshiko.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-01-28 08:57:122026-01-28 08:57:12Enam Resep Kebahagiaan Dunia dan Keselamatan Akhirat

Mahasiswa Prodi BSA UAD Juara 1 Fotografi Ajang PEKSIMUDA

26/01/2026/in Feature /by Ard

Karya Fotografi Adelia Rahma Putri, mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Adelia)

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Adelia Rahma Putri, mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA), Fakultas Agama Islam (FAI) UAD, berhasil meraih Juara 1 kategori Fotografi dalam ajang Pekan Seni Mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan  (PEKSIMUDA) diselenggarakan di kawasan Kotagede pada 14 Januari 2026.

Keberhasilan ini menjadi pencapaian istimewa bagi Adelia, mengingat perjalanan yang ia lalui tidak selalu mudah. Sebelum mengikuti PEKSIMUDA, Adelia mengaku pernah mengikuti perlombaan serupa, namun belum berhasil meraih kemenangan. Bahkan, ia tidak memiliki kamera pribadi untuk menunjang proses berkarya. Meski demikian, keterbatasan tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk terus berusaha. Ia meyakini bahwa setiap ikhtiar yang disertai doa akan selalu menemukan jalannya.

Ketertarikan Adelia terhadap dunia fotografi dan videografi berawal dari naluri pribadi serta dorongan batin yang membuatnya merasa memiliki passion di bidang tersebut. Ia mulai mendalami fotografi meskipun tidak setiap hari menggunakan kamera. Baginya, keberanian untuk mencoba merupakan langkah awal yang paling penting. Menang atau kalah bukan tujuan utama, melainkan proses pembelajaran untuk menjadi lebih baik dari pengalaman sebelumnya.

Menjelang perlombaan, Adelia menyewa kamera dan melakukan survei lokasi di kawasan Kotagede. Ia juga belajar mengoperasikan kamera secara mandiri. Dalam proses tersebut, ia sempat diliputi rasa ragu dan kurang percaya diri. Namun, karena telah memulai, Adelia berkomitmen untuk menyelesaikan seluruh proses hingga akhir.

Usaha dan ketekunan tersebut akhirnya membuahkan hasil. Qadarullah, Adelia berhasil meraih Juara 1 pada ajang PEKSIMUDA kategori Fotografi. Ke depan, ia berharap dapat terus belajar dan meningkatkan kemampuan fotografi secara lebih maksimal.

Melalui pencapaiannya, Adelia berpesan kepada mahasiswa yang sedang merencanakan atau merintis minat di bidang tertentu agar berani memulai dan merealisasikan apa yang diyakini. Menurutnya, rencana saja tidak cukup tanpa keterlibatan langsung. Mimpi-mimpi kecil perlu diwujudkan agar menjadi nyata.

Ia juga menyoroti bahwa dirinya merupakan mahasiswa Fakultas Agama Islam. Dari pengamatannya, jumlah mahasiswa FAI yang mengikuti perlombaan tidak lebih dari sepuluh orang di antara puluhan peserta, bahkan ia menjadi satu-satunya perwakilan FAI di cabang fotografi. Namun, hal tersebut justru menjadi bukti bahwa latar belakang apa pun tidak seharusnya menjadi penghalang untuk bermimpi, mencoba, dan berprestasi. (Tifa)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Karya-Fotografi-Adelia-Rahma-Putri-mahasiswa-Program-Studi-Bahasa-dan-Sastra-Arab-BSA-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Adelia.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-01-26 10:45:242026-01-26 10:48:05Mahasiswa Prodi BSA UAD Juara 1 Fotografi Ajang PEKSIMUDA

Meneladani Akhlak Mulia Rasulullah dalam Peristiwa Fathu Makkah

14/01/2026/in Feature /by Ard

Ustadz Ahmad Arif Rif’an, S.H.I., M.S.I. saat mengisi Kajian Ahad Pagi di Masjid Islamic Center UAD. (Foto. Itoshiko)

Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menyelenggarakan Kajian Ahad Pagi pada Ahad, 11 Januari 2026, dengan menghadirkan Ustaz Ahmad Arif Rif’an, S.H.I., M.S.I. dari Majelis Tabligh PP Muhammadiyah sebagai pemateri. Kajian kali ini mengangkat tema “Sirah Nabawiyyah: Pelajaran Fathu Makkah, Akhlak Mulia dalam Kemenangan.”

Mengawali pembahasannya, Ustaz Ahmad Arif mengingatkan jemaah mengenai keutamaan waktu saat ini yang bertepatan dengan bulan Rajab. Ia menjelaskan bahwa Rajab adalah satu dari empat bulan haram (suci) di mana setiap amal saleh yang dilakukan akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah Swt., begitu pula dengan sanksi bagi mereka yang berbuat maksiat. Ia mengajak jemaah untuk memanfaatkan momentum bulan haram dan keberadaan di tanah yang dimuliakan (masjid) untuk menggali ilmu dari sejarah Nabi.

Masuk pada inti materi, Ustaz Ahmad Arif mengisahkan peristiwa di balik Fathu Makkah, salah satunya kisah sahabat Hatib bin Abi Balta’ah. Hatib sempat melakukan kesalahan fatal dengan membocorkan rencana pergerakan kaum muslimin ke Makkah demi menyelamatkan keluarganya. Namun, ketika Umar bin Khattab hendak menghukumnya, Rasulullah saw. mencegahnya dengan alasan Hatib adalah seorang Ahlu Badar (peserta Perang Badar) yang telah mendapatkan rida Allah.

“Kita tidak punya hari-hari itu lagi (Perang Badar), tapi sahabat punya. Rasulullah mengajarkan kita untuk mengingat kebaikan dan jasa seseorang di masa lalu,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ustaz Ahmad Arif menyoroti sikap amanah Rasulullah saw. melalui kisah Utsman bin Thalhah, pemegang kunci Ka’bah. Saat berhasil menguasai Makkah, Rasulullah justru mengembalikan kunci tersebut kepada Utsman bin Thalhah dan menegaskan bahwa kunci itu akan tetap dipegang oleh keluarganya selamanya. Padahal, saat itu keluarga Rasulullah sendiri (Bani Hasyim) meminta hak memegang kunci tersebut, namun beliau menolaknya demi menegakkan keadilan dan amanah, bukan aji mumpung saat berkuasa.

Menutup kajian, pemateri menekankan bahwa inti dari kemenangan Fathu Makkah adalah kemampuan memaafkan. Rasulullah saw. memilih memaafkan penduduk Makkah yang telah menyakiti dan memusuhi beliau selama puluhan tahun dengan mengutip perkataan Nabi Yusuf as., “Tidak ada celaan bagi kalian hari ini, semoga Allah mengampuni kalian”. Sikap menahan ego dan memaafkan saat berada di puncak kekuatan inilah yang menjadi pelajaran akhlak terbesar bagi umat Islam. (Ito)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Ustadz-Ahmad-Arif-Rifan-S.H.I.-M.S.I.-saat-mengisi-Kajian-Ahad-Pagi-di-Masjid-Islamic-Center-UAD.-Foto.-Itoshiko.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-01-14 11:15:282026-01-14 11:15:28Meneladani Akhlak Mulia Rasulullah dalam Peristiwa Fathu Makkah

Wakaf Produktif Jadi Solusi Kemandirian Ekonomi Umat

22/12/2025/in Feature /by Ard

Dr. H. Riduwan, S.E., M.Ag. sebagai pemateri dalam Kajian Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Mawar)

Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menyelenggarakan Kajian Ahad Pagi pada Ahad, 14 Desember 2025, dengan menghadirkan Dr. H. Riduwan, S.E., M.Ag. sebagai pemateri. Kajian tersebut mengangkat tema “Wakaf Produktif dan Kemandirian Ekonomi Umat.”

Dr. Riduwan menjelaskan bahwa konsep wakaf tidak hanya terbatas pada tanah atau bangunan ibadah, tetapi telah berkembang menjadi wakaf produktif yang mampu mendorong kemandirian ekonomi umat. Ia menyinggung sejarah wakaf modern yang diperkenalkan oleh Prof. M.A. Mannan di Bangladesh melalui pendirian Social Investment Bank Limited (SIBL) pada tahun 1998. Lembaga tersebut menjadi pelopor pengelolaan wakaf secara profesional dengan tujuan utama pengentasan kemiskinan.

Lebih lanjut, Dr. Riduwan memaparkan bahwa SIBL menghimpun dana wakaf dari masyarakat mampu untuk kemudian dikelola secara produktif dan hasilnya disalurkan bagi kesejahteraan umat. Berbagai instrumen wakaf modern pun diperkenalkan, seperti obligasi wakaf, sertifikat wakaf uang, sertifikat wakaf keluarga, wakaf pembangunan masjid, saham komunitas masjid, hingga pembiayaan al-qard.

Menurutnya, model ini menunjukkan bahwa wakaf memiliki potensi besar sebagai instrumen ekonomi yang berkelanjutan. Melalui kajian ini, jamaah diajak untuk memahami wakaf sebagai bagian dari solusi strategis dalam membangun kemandirian ekonomi umat. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Dr.-H.-Riduwan-S.E.-M.Ag_.-sebagai-pemateri-dalam-Kajian-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Mawar.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-12-22 10:30:122025-12-22 10:30:12Wakaf Produktif Jadi Solusi Kemandirian Ekonomi Umat

Menggapai pertolongan Allah

19/12/2025/in Feature /by Ard

Ustaz Drs. H. Masykur Azhari, M.A. (Foto. Masjid Islamic Center UAD)

Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menggelar Kajian Ahad Pagi pada Minggu, 7 Desember 2025, dengan menghadirkan Ustaz Drs. H. Masykur Azhari, M.A. sebagai pemateri. Kajian tersebut mengusung tema “Menggapai Pertolongan Allah.”

Ustaz Masykur menegaskan bahwa setiap permasalahan yang dihadapi manusia sejatinya harus disandarkan kepada Allah Swt. Ia mengingatkan agar umat Islam tidak salah tempat dalam mengeluh. “Makanya, kalau mengadu itu kepada siapa? Mengadu itu kepada Allah SWT,” ujarnya. Menurutnya, setiap masalah yang datang bukanlah bentuk kebencian Allah, melainkan tanda kasih sayang dan kerinduan-Nya kepada hamba-Nya.

Lebih lanjut, Ustaz Masykur menjelaskan bahwa sapaan Allah kepada manusia hadir dalam dua bentuk, yakni kenikmatan dan ujian. Keduanya disebut sebagai “tambang emas” bagi orang beriman. “Kalau diberi nikmat, maka tugas kita adalah bersyukur. Kalau yang datang adalah sesuatu yang tidak menyenangkan, maka sikap kita adalah bersabar,” tuturnya. Ia menekankan bahwa ujian memiliki fungsi untuk membersihkan dosa-dosa manusia, sebagaimana sabda Rasulullah saw. bahwa seorang hamba akan terus diuji hingga dosa-dosanya dihapuskan.

Ustaz Masykur juga menegaskan bahwa tidak ada satu pun manusia yang luput dari ujian kehidupan. Menurutnya, setiap orang memiliki persoalan masing-masing meskipun secara lahiriah tampak baik-baik saja. Ia menutup kajian dengan mengingatkan tiga tanda keimanan seorang muslim, yakni sabar ketika tertimpa ujian, bersyukur saat memperoleh nikmat, dan ikhlas menerima takdir Allah. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Ustaz-Drs.-H.-Masykur-Azhari-M.A.-Foto.-Masjid-Islamic-Center-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-12-19 11:11:222025-12-19 11:11:22Menggapai pertolongan Allah

Peran Generasi Muda dalam Mewujudkan Kampus Berkelanjutan

17/12/2025/in Feature /by Ard

Peran Generasi Muda dalam Mewujudkan Kampus Berkelanjutan (Foto. Mawar)

Forum Bidikmisi KIP Kuliah Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menyelenggarakan Seminar Nasional Mahasiswa bertema “Peran Mahasiswa dalam Membangun Ekosistem Kampus Berkelanjutan Berbasis Kesadaran, Teknologi, dan Inovasi untuk Mencapai SDGs” pada Rabu, 10 Desember 2025. Seminar ini menghadirkan pembicara dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan menjadi wadah bertemunya gagasan dari mahasiswa untuk memperkuat gerakan keberlanjutan di lingkungan kampus.

Salah satu pembicara, Arivansi Ringu Kodi, menyampaikan bahwa kampus hari ini masih menghadapi tantangan besar dalam mewujudkan lingkungan yang berkelanjutan. Ia menyoroti rendahnya kesadaran lingkungan mahasiswa, tingginya konsumsi energi dan produksi sampah, serta belum maksimalnya pemanfaatan teknologi ramah lingkungan. Menurutnya, perubahan harus dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten. “Kesadaran lingkungan masih rendah. Padahal kampus sebagai pusat aktivitas seharusnya menjadi ruang percontohan perilaku ekologis,” ujarnya. Ia menambahkan pentingnya langkah konkret seperti membawa botol minum sendiri, memilah sampah, hingga mengampanyekan green lifestyle di media sosial.

Sementara Noval Arwansyah menekankan bahwa mahasiswa memiliki peran strategis dalam menggerakkan perubahan sosial menuju kampus hijau. Ia menegaskan bahwa mahasiswa bukan hanya objek perubahan, tetapi subjek yang memimpin arah transformasi. “Mahasiswa harus menjadi teladan, mengedukasi lingkungan sekitar, dan tampil sebagai agen perubahan,” ungkapnya. Noval meyakini bahwa ketika mahasiswa menunjukkan sikap dan perilaku yang mencerminkan kepedulian lingkungan, maka budaya keberlanjutan dapat tumbuh lebih kuat dan mengakar. Ia juga mengingatkan bahwa gerakan keberlanjutan membutuhkan konsistensi, bukan sekadar kampanye sesaat. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Peran-Generasi-Muda-dalam-Mewujudkan-Kampus-Berkelanjutan-Foto.-Mawar.png 632 1143 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-12-17 09:47:052025-12-17 09:47:05Peran Generasi Muda dalam Mewujudkan Kampus Berkelanjutan

Kemuliaan Guru sebagai Penjaga Peradaban

17/12/2025/in Feature /by Ard

Dr. Mhd. Lailan Arqam, M.Pd.I., Dosen Dosen Magister Pendidikan Agama Islam (MPAI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Mawar)

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menyelenggarakan Pengajian Bulanan Mahasiswa ke-5 pada Rabu, 26 November 2025. Kegiatan ini menghadirkan penceramah Dr. Mhd. Lailan Arqam, M.Pd.I., Dosen Magister Pendidikan Agama Islam (MPAI) sekaligus Direktur Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta. Mengusung tema “Guru Hebat, Pimpinan Umat: Memantaskan Diri Sejak di Bangku Kuliah”, kegiatan ini menjadi ruang pembinaan spiritual sekaligus penguatan identitas bagi calon pendidik.

Dr. Lailan menegaskan kedudukan guru sebagai profesi yang tidak hanya mengajar, tetapi juga membentuk arah peradaban.

“Kita harus sepakat dulu bahwa guru itu bukan sekadar profesi, bukan pula peranan sederhana, tetapi memiliki peran penting dan strategis,” tuturnya.

Ia menambahkan bahwa guru merupakan representasi masa depan bangsa. “Kalau ingin melihat seperti apa kehidupan bangsa ini 20, 30, bahkan 50 tahun ke depan, lihatlah dari calon-calon gurunya,” ujarnya.

Dr. Lailan juga menyampaikan ilustrasi anekdot mengenai tiga calon penghuni surga, yaitu seorang ahli ibadah (abid), seorang dermawan, dan seorang ilmuwan. Ketiganya berlomba ingin masuk surga terlebih dahulu. Setiap kali malaikat bertanya sumber amal dan ilmu mereka, semuanya menjawab: “Dari guru.”

Dari kisah itu, ia menyimpulkan, “Berarti yang paling berhak masuk surga pertama adalah guru. Dan siapa guru itu? Ya, kalian mahasiswa FKIP UAD,” tandasnya.

Lebih jauh, ia menerangkan bahwa pendidik pertama dalam sejarah peradaban adalah Allah Swt. sendiri. “Pemilik ilmu, penguasa ilmu, dan sumber ilmu itu adalah Allah. Adam tidak tahu apa-apa hingga Allah mengajarinya,” jelasnya. Dari titik itu, ia menggambarkan bagaimana pengetahuan berkembang dari generasi ke generasi hingga lahirlah peradaban manusia yang terus bertumbuh melalui proses belajar.

Ia juga mengingatkan bahwa profesi guru merupakan kelanjutan dari misi kenabian. “Setelah Nabi wafat, misi keagamaan tidak berhenti. Yang melanjutkan siapa? Para guru, para mualim, orang-orang mulia yang meneruskan perjuangan Nabi,” tuturnya.

Menurutnya, guru tidak hanya melakukan transfer ilmu, tetapi juga membangun karakter, moral, dan budaya masyarakat. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Dr.-Mhd.-Lailan-Arqam-M.Pd_.I.-Dosen-Dosen-Magister-Pendidikan-Agama-Islam-MPAI-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Mawar.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-12-17 09:35:382025-12-17 09:35:38Kemuliaan Guru sebagai Penjaga Peradaban

Hubungan Agama dengan Kondisi Psikologis Manusia

15/12/2025/in Feature /by Ard

Dr. Ruslan Fariadi AM, S.Ag., M.S.I. dalam PSYTALK Paris 2025 (Foto. Annove)

Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menyelenggarakan PSYTALK Paris 2025 pada Sabtu, 6 Desember 2025 melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini menghadirkan Dr. Ruslan Fariadi AM, S.Ag., M.S.I. sebagai narasumber dengan topik “Psikologi Beragama: Dari Fanatisme Menuju Kesadaran Berpikir Rasional.” Acara ini diikuti oleh Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Prancis serta warga negara Indonesia yang tinggal di Paris.

Dr. Ruslan menjelaskan bahwa psikologi agama merupakan disiplin yang mempelajari hubungan antara ajaran agama dan kondisi psikologis manusia. Agama, menurutnya, tidak hanya berfungsi sebagai sistem kepercayaan, tetapi juga memengaruhi cara seseorang berpikir, merespons emosi, berinteraksi sosial, hingga membentuk identitas personal.

Pengalaman keberagamaan seseorang dapat berpengaruh signifikan terhadap kesehatan mental, baik sebagai sumber ketenangan maupun potensi munculnya masalah psikologis jika dipahami secara ekstrem. Sehubungan dengan hal tersebut, Al-Qur’an memuat berbagai ayat yang menyinggung kesehatan mental, faktor penyebab, dan terapi agar seseorang tidak mengalami penyakit mental, seperti bipolar, anxiety disorder, stres, dan depresi, di antaranya dalam QS. Al-Ma’arij ayat 19-32 dan QS. Thaha ayat 124-126.

Dalam pemaparannya, Dr. Ruslan mengupas secara mendalam mengenai cara beragama yang ideal agar seseorang terhindar dari al-Ghuluw wa al-Ifrath atau ekstremisme dan fanatisme buta. Berdasarkan ajaran Nabi Muhammad SAW, Islam hadir dengan prinsip hanifiyah atau lurus dan samhah atau toleran. Beliau menyampaikan sejumlah hadis yang menegaskan bahwa agama yang dicintai Allah adalah agama yang lurus dan penuh kelapangan, serta bahwa Nabi diutus untuk membawa kasih sayang, bukan kecaman atau cercaan.

Konsep kelembutan dan santun dalam beragama juga ditegaskan melalui QS. Ali Imran ayat 159, yang memerintahkan umat Islam untuk bersikap lembut, memaafkan, serta bermusyawarah. Sikap kasar, menurut ayat tersebut, justru menjauhkan manusia dari kebenaran agama.

Di samping itu, Dr. Ruslan menjelaskan bahwa lawan dari toleransi adalah intoleransi, yang salah satunya berbentuk ta’assub yang berarti fanatisme buta dan ghuluw yang berarti melampaui batas dalam keyakinan dan tindakan. Kedua sikap ini merupakan ciri dari cara beragama yang tidak sehat karena menutup ruang dialog dan menolak perbedaan.

Dalam konteks inilah Islam mengajarkan konsep wasathiyah atau moderasi beragama. Moderasi bukan berarti bersikap setengah-setengah, melainkan menjalankan agama secara lurus, proporsional, dan tidak ekstrem. Sikap moderat memungkinkan seseorang menjalankan ajaran agama tanpa menghilangkan ruang toleransi terhadap sesama, baik internal umat Islam maupun lintas agama.

Faktor-faktor yang memengaruhi seseorang dapat bersikap moderat antara lain tingkat pendidikan, pengalaman hidup, keterbukaan pikiran, interaksi sosial yang luas, kemampuan berpikir kritis, serta literasi keagamaan. Menurut Dr. Ruslan, semakin luas wawasan seseorang, semakin kecil kemungkinan dirinya terjebak dalam pandangan ekstrem.

Salah satu bagian penting dalam materi adalah pembahasan mengenai peran akal. Islam, menurut Dr. Ruslan, menempatkan akal pada posisi yang proporsional. Agama tidak mendewakan akal, tetapi juga tidak mengabaikannya. Banyak ayat Al-Qur’an yang mengajak manusia untuk berpikir, merenung, dan menggunakan logika dalam memahami ajaran agama.

Akal difungsikan untuk memproses informasi, menimbang argumentasi, dan menghindarkan manusia dari kesesatan yang diakibatkan ketidaktahuan. Dengan demikian, rasionalitas menjadi pilar penting dalam menjaga keberagamaan yang sehat. Hal ini ditegaskan melalui sabda Nabi: “Agama itu untuk orang yang berakal; tidak ada agama bagi orang yang tidak berakal.”

Pada sesi diskusi, peserta mengajukan pertanyaan mengenai kehidupan muslim di negara minoritas, cara menjaga konsistensi dalam beragama tetapi tetap terbuka terhadap perbedaan, hingga hukum berbagi hadiah dengan nonmuslim. Diskusi berlangsung dinamis dan menunjukkan tingginya antusiasme peserta terhadap isu moderasi beragama.

Melalui PSYTALK Paris 2025, Dr. Ruslan mendorong pemahaman keberagamaan yang lebih dewasa, yaitu toleran, rasional, dan selaras dengan nilai kemanusiaan universal. (Anove)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Dr.-Ruslan-Fariadi-AM-S.Ag_.-M.S.I.-dalam-PSYTALK-Paris-2025-Foto.-Annove.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-12-15 10:46:312025-12-15 10:46:31Hubungan Agama dengan Kondisi Psikologis Manusia

Cara Menggapai Pertolongan Allah

12/12/2025/in Feature /by Ard

Ust. Drs. Masykur Azhari, M.A., Pemateri Kajian Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. IC UAD)

Kajian Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Ahad, 7 Desember 2025, menghadirkan Ustaz Drs. Masykur Azhari, M.A. dari Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sleman dengan tema “Menggapai Pertolongan Allah”. Dalam ceramahnya, beliau mengajak jemaah untuk memahami tabiat manusia serta cara meraih pertolongan Allah melalui kesabaran, syukur, dan keikhlasan.

Mengawali kajian, Ustaz Masykur mengutip Surah Al-Ma‘arij ayat 19–21 yang menjelaskan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan mudah berkeluh kesah. “Sesungguhnya manusia itu diciptakan oleh Allah dalam keadaan keluh kesah. Jika diberi ujian kesulitan, curhat itu boleh asal memenuhi beberapa ketentuan,” ujarnya.

Ia kemudian menegaskan dua batasan penting dalam menyampaikan keluh kesah. “Pertama, jangan curhat ke HP atau lewat status dan grup WhatsApp. Kedua, jangan curhat kepada setiap orang karena tidak semua orang cocok dengan kita,” jelasnya. Menurut kajian psikologi, hanya sekitar 20 persen orang yang benar-benar mampu menunjukkan empati ketika mendengarkan curahan hati. “Bisa jadi orang yang kita curhati tidak bisa menjaga rahasia kita,” tambahnya.

Ustaz Masykur menyampaikan bahwa ujian sering kali merupakan cara Allah menyapa hamba-Nya. “Kalau kita punya masalah, itu tandanya Allah sedang rindu kepada kita. Allah ingin menyapa kita, dan sapaan Allah itu ada dua, yaitu dengan kenikmatan atau dengan ujian,” terangnya.

Jika diberi nikmat, seorang mukmin diperintahkan untuk bersyukur; namun jika diberi sesuatu yang tidak menyenangkan, ia harus bersabar. Ustaz Masykur mengutip sabda Nabi Muhammad saw. bahwa tidak ada ujian yang menimpa seorang hamba kecuali menjadi sebab gugurnya dosa-dosa hingga ia berjalan di muka bumi tanpa dosa. “Allah menguji kita sampai dosa kita habis. Allah akan mencabut ujian itu ketika kita berjalan tanpa membawa dosa sedikit pun,” tuturnya.

Menurutnya, bukti iman seorang muslim adalah sabar saat diuji, syukur ketika diberi nikmat, serta ikhlas menerima takdir Allah, termasuk urusan jodoh. Ia mengaitkan hal tersebut dengan Surah At-Taubah ayat 25 yang mengingatkan manusia agar tidak terpedaya dengan banyaknya harta dan kemampuan.

Ia menegaskan bahwa harta paling berharga di dunia ini bukan sekadar emas dan perak. Mengutip Fiqh as-Sunnah dalam bab nikah, ia menyebut tiga “celengan” yang melebihi keduanya. “Jika kalian memiliki tiga hal ini, maka kalian orang yang kaya akhirat. Tiga hal tersebut ialah lisan yang pandai berzikir, hati yang pandai bersyukur, serta seorang istri yang mukminah dan membantu agama suami. Allah menolong agama seorang laki-laki separuhnya melalui istri yang mukminah,” ungkapnya.

Ustaz Masykur juga mengutip nasihat Ibnu Mas‘ud tentang tiga amalan penting untuk memperkuat spiritualitas: memperbanyak membaca Al-Qur’an, menghadiri majelis taklim, serta menyendiri untuk berzikir meninggalkan hiruk pikuk dunia (khalwah). Menjawab pertanyaan tentang bagaimana menghadapi persoalan agar ditolong oleh Allah, beliau menegaskan, “Kuncinya mintalah pertolongan Allah dengan sabar dan salat.”

Ia menekankan bahwa kesabaran perlu dilatih sejak dari rumah, dimulai dengan memperbanyak zikir dan doa. “Doa itu senjatanya orang mukmin. Maka hati-hati jika menzalimi orang lain,” pesannya.

Kajian ditutup dengan ajakan untuk memperkuat kesadaran spiritual dan memelihara hubungan dengan Allah agar setiap ujian hidup menjadi jalan meraih ampunan dan pertolongan-Nya. (Lus)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Ust.-Drs.-Masykur-Azhari-M.A.-Pemateri-Kajian-Ahad-Pagi-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-IC-UAD-scaled.jpg 1440 2560 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-12-12 11:34:322025-12-12 11:34:32Cara Menggapai Pertolongan Allah

Menguak Pengingkaran Bani Israil atas Nikmat Allah dan Konsekuensinya

08/12/2025/in Feature /by Ard

Ngaji Tafsir At-Tanwir Seri 13, Menguak Pengingkaran Bani Israil atas Nikmat Allah dan Konsekuensinya (Foto. Mawar)

Lembaga Pengembangan dan Studi Islam (LPSI) Universitas Ahmad Dahlan kembali menyelenggarakan Ngaji Tafsir At-Tanwir Seri 13 pada Jumat, 28 November 2025. Pada edisi ini, H. Aly Aulia, Lc., M.Hum., dari Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, membahas Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 54-57 dengan tema “Pengingkaran Bani Israil akan Nikmat Allah dan Akibatnya.”

Ustaz Aly Aulia menguraikan bahwa rangkaian ayat ini menghadirkan gambaran historis mengenai berbagai bentuk pengingkaran Bani Israil terhadap nikmat Allah. Ia menegaskan bahwa ayat-ayat tersebut tidak hanya berfungsi sebagai catatan sejarah, tetapi juga sebagai peringatan dan refleksi moral bagi umat Islam hari ini. “Ayat-ayat ini menunjukkan bagaimana Allah menegur Bani Israil karena menyelewengkan amanah dan melupakan nikmat yang telah dikaruniakan kepada mereka,” tuturnya.

Lebih jauh, beliau menjelaskan bahwa salah satu pesan utama dalam ayat-ayat tersebut adalah tentang urgensi bertaubat setelah melakukan kesalahan. Sebagaimana dikisahkan dalam ayat 54, ketika Bani Israil menyembah anak sapi, Musa memerintahkan kaumnya untuk bertobat dengan penuh kesungguhan. Ustaz Aly menyatakan, “Tobat yang diterima Allah selalu mensyaratkan kesadaran, keikhlasan, dan kemauan untuk berubah. Inilah nilai mendasar yang perlu kita renungkan,” jelasnya.

Pembahasan kemudian berlanjut pada ayat 55-56 yang menggambarkan bagaimana sebagian Bani Israil meminta melihat Allah secara langsung, sebuah tuntutan yang menunjukkan kurangnya keimanan mereka terhadap hal-hal gaib. Permintaan tersebut berujung pada azab berupa sambaran petir. “Peristiwa ini menjadi tanda bahwa sikap keras kepala dalam beriman justru akan menghilangkan esensi spiritualitas itu sendiri,” jelasnya. Namun, Allah kemudian membangkitkan mereka kembali agar menjadi kaum yang bersyukur.

Pada ayat 57, Ustaz Aly menekankan bagaimana Allah tetap mencurahkan nikmat-Nya meskipun Bani Israil berulang kali ingkar. Mereka diberi naungan awan dan manna serta salwa sebagai makanan. Namun, mereka tetap melanggar perintah Allah. “Inilah bentuk pengingkaran nikmat: ketika seseorang terus menerima karunia, tetapi tidak menggunakannya untuk ketaatan. Ayat ini memberikan pelajaran bahwa nikmat yang disia-siakan justru akan mendatangkan murka,” tegasnya.

Melalui kajian ini, Ustaz Aly Aulia mengajak jamaah untuk menjadikan kisah Bani Israil sebagai cermin moral. Ia menutup dengan pesan, “Kisah-kisah ini tidak untuk ditertawakan atau diremehkan, tetapi untuk direnungkan. Agar kita memahami bahwa syukur, taat, dan kesadaran diri adalah fondasi penting dalam beragama,” tutupnya. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Ngaji-Tafsir-At-Tanwir-Seri-13-Menguak-Pengingkaran-Bani-Israil-atas-Nikmat-Allah-dan-Konsekuensinya-Foto.-Mawar.png 632 1144 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-12-08 10:26:342025-12-08 10:26:34Menguak Pengingkaran Bani Israil atas Nikmat Allah dan Konsekuensinya
Page 3 of 74‹12345›»

TERKINI

  • UAD Tuan Rumah Pembekalan Kontingen HW DIY Menuju LBP V Nasional Kwarpus HW15/06/2026
  • Strategi Membangun Personal Branding Mahasiswa untuk Persiapan Karier15/06/2026
  • PK IMM FKM UAD Sukses Gelar Darul Arqam Dasar 202615/06/2026
  • UAD Tuan Rumah Gowes Aptisi Wilayah V 202613/06/2026
  • Doctoral Talk FEB UAD Soroti Strategi UMKM Hijau dan Reformasi Tata Kelola Perbankan Syariah12/06/2026

PRESTASI

  • Mahasiswa UAD Juara III Solo Vocal Pop pada Euphoria Art Competition 2026 Tingkat Nasional15/06/2026
  • Mahasiswa Kedokteran UAD Raih Juara II Solo Vocal Pop pada Diksivyta Art Festival 202612/06/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara Nasional lewat Penelitian Fenomena Toxic Relationship di TikTok12/06/2026
  • Kajian Pemulihan Ekonomi Pascabencana Antarkan Mahasiswa UAD Raih Prestasi Nasional11/06/2026
  • Inovasi Kuliner Sehat Mahasiswa UAD Sabet Penghargaan di Kompetisi Nasional11/06/2026

FEATURE

  • Menghindari Penyesalan Abadi11/06/2026
  • Menggali Makna Kesetiaan dan Pengorbanan01/06/2026
  • Sabil Isan Permana: Kalah Harus Bangkit Lagi30/05/2026
  • Peran Alumni UAD sebagai Problem Solver Publik29/05/2026
  • Fikih Kurban Menurut Muhammadiyah: Dari Nilai Tauhid hingga Aturan Praktis28/05/2026

TENTANG | KRU | KONTAK | REKAPITULASI

Scroll to top