• TERKINI
  • UAD BERDAMPAK
  • PRESTASI
  • FEATURE
  • OPINI
  • MEDIA
  • KIRIM BERITA
  • Menu
News Portal of Universitas Ahmad Dahlan

Psikologi Komunitas Kelompok Rentan

03/09/2025/in Feature, MBKM /by Ard

Prof. Elli Nur Hayati, M.PH., Ph.D., Guru Besar Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Humas UAD)

Universitas Ahmad Dahlan (UAD) mengukuhkan Prof. Elli Nur Hayati, M.PH., Ph.D., Psikolog sebagai guru besar dalam bidang Psikologi Komunitas Kelompok Rentan. Dalam pidato pengukuhannya yang berjudul “Psikologi Komunitas: Transisi Psikologi ‘Individual Sentris’ ke ‘Komunal-Sistemik’ Sentris”, Prof. Elli menekankan pentingnya pergeseran paradigma dalam ilmu psikologi.

Sejak kelahirannya, psikologi berakar dari dunia kedokteran yang orientasinya bersifat individual. Fokusnya lebih banyak pada fisik dan perilaku manusia, bahkan sering kali hanya pada individu yang sakit atau bermasalah. Namun, menurut Prof. Elli, pendekatan tersebut tidak lagi memadai dalam menghadapi kompleksitas persoalan kesehatan mental masyarakat modern.

“Individu itu tidak berdiri sendiri, melainkan bersarang dalam lapisan-lapisan yang saling memengaruhi hingga ke tingkat makro dan kronosistem. Maka psikologi tidak bisa berhenti hanya pada level individu, melainkan harus bertransformasi ke arah pendekatan komunitas dan sistemik,” jelasnya.

Prof. Elli memaparkan bahwa pada era sebelum 1990-an, penyakit masyarakat didominasi penyakit menular yang dapat diatasi dengan penemuan obat-obatan modern. Namun, setelah tahun 2000, masalah kesehatan lebih banyak dipicu oleh gaya hidup, tekanan sosial, dan faktor lingkungan.

Situasi ini menuntut psikologi untuk tidak lagi semata-mata bersifat kuratif dan rehabilitatif, tetapi juga preventif dan promotif. Dengan kata lain, psikologi harus bekerja di “hulu” dengan memberdayakan masyarakat agar mampu menjaga kesehatan mentalnya sebelum masalah muncul.

Dalam pidatonya, Prof. Elli menegaskan bahwa psikologi komunitas harus berorientasi pada pemberdayaan kelompok rentan, yakni perempuan, anak-anak, lansia, kaum minoritas, penyandang disabilitas, masyarakat di daerah 3T (tertinggal, terluar, terdepan), serta mereka yang mengalami stigma sosial akibat kondisi fisik maupun mental.

“Tanpa keterlibatan masyarakat, kesehatan mental di tingkat komunitas mustahil diwujudkan. Masyarakat harus dilatih, diberdayakan, dan memiliki daya untuk memperjuangkan kesejahteraan mereka sendiri,” paparnya.

Ia juga menyoroti keterkaitan antara kesejahteraan mental, keadilan sosial, dan situasi struktural. Menurutnya, ketidakadilan sosial menjadi akar dari banyak masalah psikososial. Dalam konteks ini, Prof. Elli mengaitkan prinsip Islam dalam Surah al-Ma’un yang menekankan perhatian pada anak yatim dan fakir miskin sebagai kelompok yang memerlukan dukungan.

Sebagai penutup, Prof. Elli menegaskan bahwa psikologi di UAD akan memberi warna dengan pendekatan komunitas yang kuat. Fokus utamanya adalah pemberdayaan masyarakat, penguatan kelompok rentan, serta mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga kesehatan mental.

“Psikologi komunitas tidak hanya bicara tentang ilmu, tetapi juga tentang peradaban. Bila kita mengabaikan kelompok rentan, kita mengabaikan masa depan masyarakat secara keseluruhan,” pungkasnya. (Lus)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Prof.-Elli-Nur-Hayati-M.PH_.-Ph.D.-Guru-Besar-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Humas-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-09-03 12:56:552025-09-15 13:00:51Psikologi Komunitas Kelompok Rentan

Konsep Strategi Ilmiah dalam Pengelolaan Sampah DIY

03/09/2025/in Feature, MBKM /by Ard

 

Prof. Dr. Surahma Asti Mulasari, S.Si., M.Kes., Guru Besar Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Humas UAD)

Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali mengukuhkan salah satu guru besar barunya, Prof. Dr. Surahma Asti Mulasari, S.Si., M.Kes., dalam bidang pengelolaan sampah dan manajemen lingkungan. Pada pidato pengukuhannya yang berjudul “Mengelola Sampah, Mengelola Kehidupan: Strategi Ilmiah dalam Pengelolaan Lingkungan di Yogyakarta”, ia menyoroti potensi besar pengelolaan sampah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Dalam paparannya, Prof. Surahma mengungkapkan bahwa setiap orang di Yogyakarta menghasilkan rata-rata setengah kilogram sampah per hari. “Bayangkan, bila ditimbun dalam setahun, volume sampah tersebut bisa menutupi Candi Prambanan dengan gunungan sampah,” ujarnya.

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2023, timbulan sampah nasional mencapai kurang lebih 67 juta ton per tahun, menjadikan Indonesia salah satu penyumbang terbesar di Asia Tenggara. Adapun di DIY, timbulan sampah mencapai 600–700 ton per hari atau sekitar 300–350 ribu ton per tahun, dengan 60–65 persen berasal dari rumah tangga.

Kondisi ini semakin mendesak setelah TPA Piyungan mengalami kelebihan kapasitas sejak 2022, sehingga memicu munculnya sedikitnya 21 titik pembuangan sampah ilegal di Yogyakarta dan sepanjang jalur ring road. Di balik krisis tersebut, Prof. Surahma melihat adanya potensi besar. Jika dikelola dengan baik, sampah di DIY diperkirakan bernilai Rp90–98 miliar per tahun. Bahkan jika hanya separuhnya yang masuk dalam sistem formal bank sampah, nilainya tetap signifikan, yakni sekitar Rp40 miliar, setara dengan biaya pembangunan puluhan sekolah dasar.

Komposisi sampah di DIY menunjukkan 53 persen berupa sampah organik, 12 persen plastik, dan 8 persen kertas. Hal ini berarti lebih dari separuh timbulan sebenarnya masih dapat diolah kembali. “Namun, faktanya lebih dari 90 persen sampah masih ditimbun di landfill. Hal ini perlu menjadi perhatian bersama,” tegasnya.

Selain aspek ekonomi, Prof. Surahma juga menekankan dampak kesehatan akibat pengelolaan sampah yang buruk, mulai dari meningkatnya kasus demam berdarah, diare, hingga memperburuk sanitasi yang berhubungan dengan kasus stunting anak.

Pengelolaan sampah di DIY juga menunjukkan ketimpangan antarwilayah. Kota Yogyakarta berhasil mengelola lebih dari 96 persen sampah melalui peraturan daerah yang diterapkan sejak 2022, sementara Sleman mendorong rumah tangga untuk mengolah sampah secara mandiri. Namun, Bantul masih stagnan, sedangkan Gunungkidul dan Kulon Progo menghadapi tantangan tersendiri akibat aktivitas pariwisata dan UMKM.

World Bank sendiri memprediksi timbulan sampah global akan naik menjadi 2,2 miliar ton per tahun pada 2025. Di DIY, dengan harga pasaran kompos Rp1.000/kg, plastik Rp4.000/kg, dan kertas Rp2.000/kg, total nilai sampah bisa mencapai Rp91,7 miliar per tahun. Angka tersebut setara dengan 10 persen APBD DIY. “Lebih dari sekadar ekonomi, bank sampah juga memberi manfaat sosial, mulai dari tabungan pendidikan, dana sosial, hingga insentif keluarga,” tambahnya.

Prof. Surahma menawarkan strategi ilmiah berlapis untuk mengatasi permasalahan sampah. Tingkat keluarga: pemilahan sampah, penggunaan komposter, biopori, dan edukasi. Penelitiannya menunjukkan edukasi keluarga dapat menurunkan residu hingga lebih dari 30 persen; Tingkat komunitas: optimalisasi 1.200 bank sampah unit di DIY yang terbukti efektif dengan partisipasi ribuan warga; Tingkat regional: optimalisasi TPA, teknologi refuse-derived fuel (RDF), pirolisis, dan composting skala besar; Tingkat kebijakan nasional: penguatan langkah yang sejalan dengan SDGs (tujuan 3, 11, dan 12) serta Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) 2017–2045; Tingkat perguruan tinggi: pengembangan teknologi inovatif, seperti pembakar sampah berbasis IoT, briket bioarang, pencacah sampah, serta media edukasi masyarakat.

Menutup pidatonya, Prof. Surahma menegaskan bahwa paradigma pengelolaan sampah tidak lagi sekadar mengangkut dan menimbun, melainkan mencegah sejak awal. “Jika setiap keluarga disiplin memilah, komunitas aktif dalam bank sampah, dan pemerintah konsisten meregulasi, maka beban TPA akan berkurang drastis,” ujarnya.

Ia menegaskan, “Sampah adalah ujian peradaban. Bila kita lalai, ia menjadi krisis. Namun bila kita kelola dengan ilmu dan kebersamaan, sampah bisa menjadi sumber daya, pengetahuan, bahkan peradaban baru. Mengelola sampah berarti mengelola kesehatan, ekonomi, sosial, dan masa depan bangsa.” (Lus)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Prof.-Dr.-Surahma-Asti-Mulasari-S.Si_.-M.Kes_.-Guru-Besar-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Humas-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-09-03 10:46:182025-09-15 13:01:00Konsep Strategi Ilmiah dalam Pengelolaan Sampah DIY

Dinamika Implementasi Pembelajaran Mendalam di Indonesia

02/09/2025/in Feature /by Ard

Dr. Ika Maryani, M.Pd., sebagai Narasumber Edukasi Publik FKIP Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Mawar)

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menggelar edukasi publik bertajuk “Dinamika Implementasi Pembelajaran Mendalam di Indonesia” pada Senin, 25 Agustus 2025. Acara ini disiarkan langsung melalui kanal YouTube FKIP UAD dengan menghadirkan Dr. Ika Maryani, M.Pd., sebagai narasumber.

Dalam paparannya, Dr. Ika menyampaikan hasil riset nasional yang melibatkan 35.000 guru SMA dari seluruh provinsi di Indonesia. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa meski guru memiliki pengetahuan konseptual yang tinggi tentang deep learning, sikap mereka terhadap implementasi masih beragam.

Ia mengungkap adanya dua profil guru, yaitu yang berpengetahuan tinggi namun enggan menerapkan, dan guru yang bersikap positif tetapi pemahaman konseptualnya masih terbatas. Kondisi ini, menurutnya, menunjukkan adanya attitude-behavior gap yang cukup signifikan.

Dr. Ika juga menyoroti kendala implementasi, mulai dari keterbatasan sarana-prasarana, dukungan kebijakan yang belum optimal, hingga kecenderungan guru untuk bertahan di zona nyaman. Selain itu, masih banyak guru yang menyamakan pembelajaran mendalam dengan aktivitas belajar yang sekadar menarik dan menyenangkan.

Sebagai penutup, ia menekankan bahwa esensi pembelajaran mendalam adalah kemampuan siswa untuk memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan proses belajar. Ia berharap pengembangan profesional guru dapat lebih adaptif agar pembelajaran mendalam benar-benar meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Dr.-Ika-Maryani-M.Pd_.-sebagai-Narasumber-Edukasi-Publik-FKIP-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Mawar.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-09-02 11:12:342025-09-02 11:12:34Dinamika Implementasi Pembelajaran Mendalam di Indonesia

Pendidikan Adalah Kunci Mengubah Kehidupan

02/09/2025/in Feature /by Ard

Prof. Dr. Suyatno, M.Pd.I., Wakil Dekan Bidang AIK, Akademik, dan Kemahasiswaan FKIP Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Mawar)

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD), menggelar edukasi publik bertajuk “Pendidikan: Kunci Mengubah Kehidupan.” Kegiatan yang disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube FKIP UAD OFFICIAL pada Senin, 18 Agustus 2025 ini menghadirkan Prof. Dr. Suyatno, M.Pd.I., Wakil Dekan Bidang AIK, Akademik, dan Kemahasiswaan, sebagai narasumber.

Dalam pemaparannya, Prof. Suyatno menanggapi anggapan sebagian masyarakat yang kerap mempertanyakan manfaat pendidikan tinggi. Menurutnya, pandangan bahwa sekolah atau kuliah tidak menjamin masa depan yang baik tidak sepenuhnya salah. Namun, pemahaman yang keliru terhadap pernyataan tersebut justru dapat mempersempit peluang masa depan seseorang. “Pendidikan memang tidak serta-merta menjamin kesuksesan atau pendapatan tinggi. Akan tetapi, tanpa pendidikan yang baik, peluang untuk memiliki masa depan yang lebih baik akan semakin sempit,” jelasnya.

Ia menambahkan, hampir semua negara di dunia menjadikan pendidikan, khususnya pendidikan formal, sebagai jalan utama untuk memperbaiki kehidupan masyarakat. Prof. Suyatno memaparkan sejumlah data pendukung, salah satunya dari Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) tahun 2023 yang menunjukkan bahwa lulusan pendidikan tinggi memiliki rata-rata pendapatan 57% lebih tinggi dibandingkan mereka yang hanya lulusan SMA ke bawah.

Di Indonesia, data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan hal serupa. Rata-rata gaji pekerja dengan pendidikan SMA ke bawah berada di kisaran Rp2,5–3,5 juta per bulan, sedangkan lulusan sarjana (S1) dapat mencapai Rp5-8 juta bahkan lebih pada sektor profesional.

Selain berpengaruh pada pendapatan, tingkat pendidikan juga berkaitan dengan kesempatan kerja, kesehatan, partisipasi sosial-politik, hingga mobilitas sosial. Laporan dari Bank Dunia dan International Labor Organization (ILO) mencatat bahwa mereka yang memiliki pendidikan tinggi cenderung lebih mudah masuk ke sektor formal dengan jaminan sosial, asuransi, dan jenjang karier.

“Pendidikan juga meningkatkan kesadaran akan kesehatan, gaya hidup yang lebih baik, serta partisipasi aktif dalam kehidupan sosial dan politik. Bahkan, pendidikan berperan penting dalam membantu seseorang keluar dari lingkaran kemiskinan,” tambahnya.

Prof. Suyatno menegaskan bahwa meskipun pendidikan tinggi bukan satu-satunya penentu masa depan, pendidikan tetap menjadi bekal penting untuk menghadapi tantangan zaman. “Dengan pendidikan yang baik, insyaallah kita akan siap menatap masa depan yang lebih cerah, lebih sehat, dan lebih berdaya saing,” ujarnya. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Prof.-Dr.-Suyatno-M.Pd_.I.-Wakil-Dekan-Bidang-AIK-Akademik-dan-Kemahasiswaan-FKIP-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Mawar.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-09-02 10:08:032025-09-02 10:08:03Pendidikan Adalah Kunci Mengubah Kehidupan

Cerita Dwi Nur Fadhliyah, Dari Iseng Hingga Raih Prestasi di BICF 2025

27/08/2025/in Feature /by Ard

Dwi Nur Fadhliyah, mahasiswi Program Studi Teknologi Pangan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Dwi)

Dwi Nur Fadhliyah, mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan Universitas Ahmad Dahlan (UAD), menjadi salah satu anggota baru Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Ahda Gitana. Ia turut mengantarkan tim meraih penghargaan 2nd Winner pada 14th Bali International Choir Festival (BICF) 2025 setelah membawakan lagu “Malam Bainai” dan “Jaranan” dalam kategori folksong.

Dwi mengaku awal keterlibatannya di PSM Ahda Gitana terjadi secara tidak terduga. “Awalnya, saya diajak teman ikut audisi cuma iseng-iseng saja, tidak menyangka bisa lolos. Ini pengalaman pertama saya ikut paduan suara dan ternyata langsung di ajang internasional,” ungkapnya.

Selama kurang lebih dua setengah bulan persiapan, Dwi harus pandai membagi waktu antara kuliah dan jadwal latihan yang padat. Ia memilih memanfaatkan waktu luang untuk mengerjakan tugas kuliah, sementara saat latihan ia fokus sepenuhnya pada pembekalan vokal, kekompakan, dan penjiwaan lagu. “Saya agak susah manajemen waktu, tetapi sebisa mungkin kalau sudah latihan, ya, fokus latihan, jadi keduanya tetap jalan,” jelasnya.

Sebagai pemula di dunia paduan suara, Dwi mengaku sempat mengalami tantangan, khususnya dalam menyesuaikan teknik vokal dengan anggota lain yang lebih berpengalaman. Namun, suasana latihan yang penuh kekeluargaan membuatnya termotivasi. “Yang membuat saya semangat karena ini ajang internasional, jadi saya harus memberikan yang terbaik. Walau baru pertama kali, saya selalu bilang ke diri sendiri, ‘aku pasti bisa’,” tuturnya.

Momen paling berkesan bagi Dwi adalah ketika tampil di panggung BICF 2025. “Rasanya campur aduk, terharu, bangga, tidak menyangka bisa sampai di titik itu. Semua kerja keras latihan terasa terbayar saat kita nyanyi bersama di panggung,” ujarnya.

Menutup ceritanya, Dwi menyampaikan harapannya untuk PSM Ahda Gitana agar terus melaju di ajang-ajang internasional. “Semoga Ahda Gitana semakin kompak, bisa ikut lebih banyak kompetisi lagi, dan meraih prestasi-prestasi yang lebih besar,” tutupnya. (Adi)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Dwi-Nur-Fadhliyah-mahasiswi-Program-Studi-Teknologi-Pangan-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Dwi.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-08-27 11:16:082025-08-27 11:16:08Cerita Dwi Nur Fadhliyah, Dari Iseng Hingga Raih Prestasi di BICF 2025

Nikmat Tak Bisa Terhitung, Syukur Tak Boleh Terputus

26/08/2025/in Feature /by Ard

Kajian Ahad Pagi di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Bersama Ustaz Yusuf Hanafiah, S.Pd.I., M.Pd. (Foto. IC UAD)

Banyak nikmat Allah yang kerap terabaikan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah nikmat sehat, baik jasmani maupun mental. “Sering kali kita hanya menyadari nikmat sehat ketika sudah jatuh sakit, padahal tidak ada rumus bahwa seseorang harus sakit dulu atau tua dulu baru meninggal. Karena itu, gunakanlah masa sehat untuk memperbanyak amal,” tutur Ustaz Yusuf Hanafiah, S.Pd.I., M.Pd., dalam Kajian Ahad Pagi di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Ahad, 24 Agustus 2025.

Selain itu, beliau menekankan pentingnya menyadari nikmat waktu. Tidak semua orang diberikan kesempatan untuk duduk dalam majelis ilmu. “Alhamdulillah, pagi ini kita masih diberi waktu luang untuk hadir. Nikmat ini harus disyukuri sebab ada banyak orang yang sibuk dengan urusan dunia hingga lalai dari menuntut ilmu agama,” ujarnya.

Ustaz Yusuf juga menyinggung tentang orang yang tidak bersyukur. Ia mencontohkan perilaku korupsi sebagai buah dari hati yang tidak pernah merasa cukup. “Orang yang bersyukur akan merasa tenang, sementara yang tidak bersyukur akan selalu mencari-cari, bahkan dengan cara yang salah,” tambahnya.

Nikmat iman adalah karunia paling berharga yang sering dilalaikan. Berbeda dengan harta yang bisa dihitung jumlahnya, iman tidak bisa diukur dengan angka, tetapi nilainya jauh lebih tinggi. “Banyak orang yang lalai menjaga imannya, padahal tanpa iman, hidup tidak ada arah dan pegangan,” ungkapnya.

Dalam penjelasannya, Ustaz Yusuf menyebutkan tiga cara bersyukur atas nikmat Allah. Pertama, dengan hati yang meyakini bahwa semua berasal dari Allah. Kedua, dengan lisan yang senantiasa mengucapkan hamdalah. Ketiga, dengan tindakan nyata, yaitu mempergunakan nikmat, termasuk harta, untuk kebaikan. (Lin)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Kajian-Ahad-Pagi-di-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Bersama-Ustaz-Yusuf-Hanafiah-S.Pd_.I.-M.Pd_.-Foto.-IC-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-08-26 09:29:302025-08-26 09:29:30Nikmat Tak Bisa Terhitung, Syukur Tak Boleh Terputus

Psikologi Profetik sebagai Paradigma Integratif Ilmu dan Iman

21/08/2025/in Feature /by Ard

Prof. Dr. Drs. H. Waharjani, M.Ag. Guru Besar Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Humas dan Protokol UAD)

Prof. Dr. Drs. H. Waharjani, M.Ag., resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dalam Bidang Ilmu Agama pada Sabtu, 16 Agustus 2025, di Amphitarium Kampus IV UAD.

Dalam pidatonya yang berjudul “Pintu Masuk Psikologi Profetik”, Prof. Waharjani menegaskan pentingnya menghadirkan pendekatan psikologi yang berpijak pada nilai-nilai kenabian. Hal ini merupakan respons atas krisis spiritual dan degradasi moral yang melanda masyarakat modern.

“Psikologi profetik hadir untuk menghidupkan potensi kenabian dalam diri manusia, membimbing agar perilaku mencerminkan akhlak mulia di hadapan Allah Swt. dan sesama makhluk-Nya,” ungkapnya.

Ia memaparkan bahwa psikologi profetik (prophetic psychology) berakar pada wahyu dan keteladanan Nabi Muhammad saw. serta mengintegrasikan dimensi spiritual, moral, sosial, dan teosentris. Konsep ini, lanjutnya, menekankan kecerdasan kenabian (prophetic intelligence) yang terdiri dari kecerdasan spiritual, emosional, intelektual, dan kemampuan menghadapi kesulitan dengan sabar serta optimisme. Semua itu berpangkal pada kesehatan hati (qalb) dan sifat kenabian: shiddiq, amanah, tabligh, serta fathanah.

“Psikologi profetik tidak sekadar teori, tetapi jalan transformatif untuk membentuk insan kamil yang mampu menebar rahmat bagi seluruh alam. Ia bisa menjadi solusi nyata bagi problem krisis akhlak, lemahnya kepemimpinan moral, hingga tekanan psikologis dalam kehidupan sehari-hari,” jelas Waharjani.

Di akhir pidatonya, ia menegaskan harapan agar disiplin ilmu ini dapat terus dikembangkan, tidak hanya di ruang akademik, tetapi juga diterapkan dalam pendidikan, bimbingan keluarga, hingga kebijakan sosial. “Dengan psikologi profetik, kita berupaya melahirkan manusia beradab, yang dekat dengan Tuhannya, sekaligus memberi manfaat sebesar-besarnya bagi sesama,” pungkasnya. (Dnd)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Prof.-Dr.-Drs.-H.-Waharjani-M.Ag_.-Guru-Besar-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Humas-dan-Protokol-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-08-21 10:47:332025-08-21 10:47:33Psikologi Profetik sebagai Paradigma Integratif Ilmu dan Iman

Prof. Maryudi Dorong Inovasi Polimer untuk Lingkungan yang Berkelanjutan

20/08/2025/in Feature /by Ard

Prof. Ir. Maryudi, S.T., M.T., Ph.D. Guru Besar Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Humas dan Protokol UAD)

Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menambah daftar panjang akademisi berprestasi dengan dikukuhkannya Prof. Ir. Maryudi, S.T., M.T., Ph.D., sebagai Guru Besar dalam bidang Teknik Kimia. Pengukuhan ini berlangsung pada Sabtu, 16 Agustus 2025, di Amphitarium Kampus IV UAD.

Dalam pidato yang disampaikan, Prof. Maryudi mengangkat tema “Polimer untuk Pengolahan Air Limbah dalam Pengelolaan Lingkungan Berkelanjutan”. Tema ini, menurutnya, bukan sekadar isu akademik, melainkan panggilan zaman untuk menjawab persoalan lingkungan yang kian mendesak.

“Air limbah merupakan salah satu tantangan terbesar yang dihadapi peradaban modern. Tanpa penanganan yang tepat, ia berubah menjadi sumber pencemaran dan ancaman kesehatan. Namun, dengan teknologi yang tepat, limbah bisa diubah menjadi sumber daya,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan potensi besar polimer sebagai material yang mampu menjadi solusi. Polimer, baik alami maupun sintetis, memiliki sifat unik: dapat dimodifikasi, multifungsi, serta ramah lingkungan. Dengan karakteristik tersebut, polimer bisa dimanfaatkan dalam berbagai metode pengolahan limbah, mulai dari koagulasi-flokulasi, adsorpsi, filtrasi membran, hingga pengembangan hydrogel cerdas. “Keunggulan polimer ada pada fleksibilitasnya. Kita bisa merancangnya sesuai dengan kebutuhan sehingga mampu menyasar polutan berbeda, seperti logam berat, senyawa organik, pewarna industri, hingga mikroplastik,” jelasnya.

Menurut Prof. Maryudi, pengembangan teknologi berbasis polimer tidak hanya menawarkan solusi teknis, tetapi juga mendukung agenda global untuk keberlanjutan. Ia menekankan pentingnya mengaitkan riset dengan prinsip reduce, reuse, recycle serta penguatan circular economy.

“Polimer adalah kunci untuk merancang teknologi pengolahan limbah yang efektif sekaligus ramah lingkungan. Tantangan kita ke depan adalah memastikan bahwa riset-riset ini tidak berhenti di jurnal, tetapi diwujudkan dalam aplikasi nyata di lapangan,” tegasnya.

Menutup pidatonya, Prof. Maryudi menyampaikan harapan agar riset lintas disiplin semakin diperkuat. Ia percaya, kolaborasi antara akademisi, industri, dan pemerintah menjadi kunci agar inovasi polimer benar-benar memberi manfaat. “Apa yang kita bangun hari ini bukan hanya untuk menyelesaikan persoalan teknis, melainkan untuk diwariskan kepada generasi mendatang sebagai lingkungan yang lebih sehat, bersih, dan berkelanjutan,” tutupnya. (Dnd)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Prof.-Ir.-Maryudi-S.T.-M.T.-Ph.D.-Guru-Besar-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Humas-dan-Protokol-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-08-20 10:35:522025-08-20 10:35:52Prof. Maryudi Dorong Inovasi Polimer untuk Lingkungan yang Berkelanjutan

Implikasi Putusan MK 135/PUU-XXII/2024: Momentum Baru Demokrasi Lokal Indonesia

20/08/2025/in Feature /by Ard

Prof. Dr. Anom Wahyu Asmorojati, S.H., M.H., Guru Besar Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Humas dan Protokol UAD)

Dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Ilmu Hukum Pemerintahan Daerah di Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Prof. Dr. Anom Wahyu Asmorojati, S.H., M.H., menegaskan bahwa perubahan mendasar dalam sistem pemilu Indonesia harus dilihat sebagai bagian penting dari perjalanan reformasi demokrasi. Menurutnya, praktik pemilu serentak lima kotak sejak 2019 memang membawa legitimasi konstitusional, namun juga menimbulkan kompleksitas teknis, pragmatisme partai politik, hingga tenggelamnya isu-isu lokal dalam dominasi agenda politik nasional.

Prof. Anom menjelaskan, keluarnya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 135/PUU-XXII/2024 yang memisahkan pemilu nasional dan lokal menjadi jawaban atas berbagai problem tersebut. Dengan adanya pemisahan dan jeda waktu dua tahun, pemilih tidak lagi dihadapkan pada lima surat suara sekaligus, melainkan maksimal tiga, sehingga rasionalitas pilihan meningkat dan beban teknis berkurang.

Temuan empiris dari pelaksanaan pemilu serentak di tingkat lokal juga menjadi catatan penting. Meskipun efisiensi biaya dan penyederhanaan administratif menjadi keunggulan, Prof. Anom mengingatkan bahwa efisiensi tersebut tidak berlaku merata di semua daerah. Bahkan, dalam konteks pemilu saat pandemi COVID-19, prinsip demokrasi harus berhadapan dengan nilai-nilai sosial dan keagamaan terkait keselamatan jiwa (khifazul nafs). Hal ini menunjukkan bahwa demokrasi Indonesia bukan hanya soal prosedur teknis, tetapi juga berkaitan erat dengan dimensi moral dan kemanusiaan.

Lebih jauh, Prof. Anom menekankan implikasi pemisahan pemilu terhadap penguatan otonomi daerah. Dengan adanya jeda waktu, pemerintah daerah dapat menyusun RPJMD yang lebih stabil dan sinkron dengan RPJMN serta RPJPN. Hal ini sekaligus memperkuat kapasitas kelembagaan daerah untuk menjalankan fungsinya secara lebih terarah, tanpa tekanan langsung dari siklus politik nasional yang cenderung sentralistis.

Sebagai penutup, Prof. Anom menegaskan bahwa Putusan MK 135/PUU-XXII/2024 bukanlah sekadar perubahan teknis, melainkan momentum bersejarah untuk reformasi demokrasi yang lebih sehat dan berkelanjutan. Namun, peluang ini juga hadir bersama tantangan, seperti risiko kejenuhan politik, kebutuhan anggaran besar, hingga keterbatasan kapasitas sumber daya manusia. Keberhasilan implementasi sangat bergantung pada kolaborasi seluruh pihak.

“Tujuan akhir dari setiap desain pemilu adalah memastikan kedaulatan rakyat benar-benar terwujud, baik di tingkat nasional maupun lokal, demi terciptanya pemerintahan yang responsif, inklusif, dan berpihak pada masyarakat,” pungkasnya. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Prof.-Dr.-Anom-Wahyu-Asmorojati-S.H.-M.H.-Guru-Besar-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Humas-dan-Protokol-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-08-20 09:50:252025-08-20 09:50:25Implikasi Putusan MK 135/PUU-XXII/2024: Momentum Baru Demokrasi Lokal Indonesia

Peran Reverse Logistics untuk Ekonomi Sirkular Berkelanjutan

19/08/2025/in Feature /by Ard

Prof. Dr. Siti Mahsanah Budijati, S.T.P., M.T., Guru Besar Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Humas dan Protokol UAD)

Dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Prof. Dr. Siti Mahsanah Budijati, S.T.P., M.T., menekankan urgensi pengelolaan produk akhir masa pakai (end-of-life/end-of-use) melalui strategi reverse logistics. Upaya ini merupakan bagian dari mewujudkan ekonomi sirkular yang berkelanjutan.

Pidato tersebut disampaikan di Amphitarium Kampus IV UAD pada Sabtu, 16 Agustus 2025, dengan tema “Model Integratif Pengelolaan Produk Akhir Masa Pakai (End-of-Life) dalam Kerangka Ekonomi Sirkular: Analisis Pendorong, Hambatan, dan Strategi Reverse Logistics.”

Prof. Siti Mahsanah menjelaskan, reverse logistics adalah proses pengembalian produk dari konsumen ke titik asal untuk diproses kembali atau didaur ulang. Konsep ini tidak hanya berfokus pada pengelolaan limbah, tetapi juga menjadi strategi penting dalam mendukung tanggung jawab sosial, efisiensi ekonomi, serta keberlanjutan lingkungan.

“Faktor pendorong seperti insentif ekonomi, regulasi, dan kepedulian lingkungan dapat mempercepat implementasi. Namun, hambatan berupa keterbatasan fasilitas, kurangnya pengetahuan teknis, hingga regulasi yang belum konsisten masih menjadi tantangan besar,” ungkapnya.

Dalam penelitiannya, Prof. Siti Mahsanah secara khusus menyoroti pengelolaan limbah elektronik atau e-waste, terutama ponsel bekas. Ia menjelaskan bahwa ponsel bekas mengandung material bernilai tinggi sekaligus berbahaya sehingga membutuhkan penanganan yang kompleks dan berkelanjutan.

Temuan yang dipaparkan menunjukkan bahwa regulasi pemerintah memiliki pengaruh lebih besar dibandingkan dengan insentif ekonomi dalam mendorong partisipasi masyarakat terhadap program pengembalian (take-back). Etika dan kontrol diri juga mendorong tumbuhnya kesadaran lingkungan, meski pada praktiknya pola pascakonsumsi masih didominasi oleh perilaku menyimpan atau menyumbangkan ponsel bekas.

“Menariknya, bagi mahasiswa, kepedulian lingkungan tidak selalu menjadi faktor utama. Justru, aspek ekonomi seperti uang saku dan strata pendidikan lebih berpengaruh terhadap keterlibatan mereka,” jelasnya.

Selain perilaku konsumen, Prof. Siti Mahsanah juga menekankan pentingnya kolaborasi jalur formal dan informal dalam sistem pengelolaan e-waste. Menurutnya, jalur informal yang tumbuh pesat di Indonesia cenderung lebih cepat bergerak, tetapi berisiko tinggi sehingga membutuhkan sinergi dengan sektor formal.

Melalui pidatonya, Prof. Siti Mahsanah Budijati menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan model integratif dalam pengelolaan produk akhir masa pakai. Ia berharap hasil penelitiannya dapat memberi kontribusi nyata dalam merancang strategi pengelolaan limbah yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga bernilai ekonomi dan berdampak sosial. “Pengelolaan produk akhir masa pakai harus menjadi bagian dari kesadaran kolektif kita dalam membangun peradaban berkelanjutan,” pungkasnya. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Prof.-Dr.-Siti-Mahsanah-Budijati-S.T.P.-M.T.-Guru-Besar-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Humas-dan-Protokol-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2025-08-19 11:23:452025-08-19 11:23:45Peran Reverse Logistics untuk Ekonomi Sirkular Berkelanjutan
Page 5 of 74«‹34567›»

TERKINI

  • UAD Tuan Rumah Pembekalan Kontingen HW DIY Menuju LBP V Nasional Kwarpus HW15/06/2026
  • Strategi Membangun Personal Branding Mahasiswa untuk Persiapan Karier15/06/2026
  • PK IMM FKM UAD Sukses Gelar Darul Arqam Dasar 202615/06/2026
  • UAD Tuan Rumah Gowes Aptisi Wilayah V 202613/06/2026
  • Doctoral Talk FEB UAD Soroti Strategi UMKM Hijau dan Reformasi Tata Kelola Perbankan Syariah12/06/2026

PRESTASI

  • Mahasiswa UAD Juara III Solo Vocal Pop pada Euphoria Art Competition 2026 Tingkat Nasional15/06/2026
  • Mahasiswa Kedokteran UAD Raih Juara II Solo Vocal Pop pada Diksivyta Art Festival 202612/06/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara Nasional lewat Penelitian Fenomena Toxic Relationship di TikTok12/06/2026
  • Kajian Pemulihan Ekonomi Pascabencana Antarkan Mahasiswa UAD Raih Prestasi Nasional11/06/2026
  • Inovasi Kuliner Sehat Mahasiswa UAD Sabet Penghargaan di Kompetisi Nasional11/06/2026

FEATURE

  • Menghindari Penyesalan Abadi11/06/2026
  • Menggali Makna Kesetiaan dan Pengorbanan01/06/2026
  • Sabil Isan Permana: Kalah Harus Bangkit Lagi30/05/2026
  • Peran Alumni UAD sebagai Problem Solver Publik29/05/2026
  • Fikih Kurban Menurut Muhammadiyah: Dari Nilai Tauhid hingga Aturan Praktis28/05/2026

TENTANG | KRU | KONTAK | REKAPITULASI

Scroll to top