• TERKINI
  • UAD BERDAMPAK
  • PRESTASI
  • FEATURE
  • OPINI
  • MEDIA
  • KIRIM BERITA
  • Menu
News Portal of Universitas Ahmad Dahlan

Di Balik Deretan Prestasi, Ada Perjalanan yang Tidak Sederhana

19/08/2026/in Feature /by Ard

Andi Bintang Toar Dondok, wisudawan berprestasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada wisuda periode IV 2026 (Foto. Andi)

Tidak semua perjalanan dimulai dengan gemuruh. Ada langkah-langkah yang tumbuh perlahan, ditemani doa orang tua, kerja keras yang sunyi, dan keyakinan bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan tulus akan menemukan jalannya. Bagi Andi Bintang Toar Dondok, lulusan Program Studi Informatika Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,83, perjalanan selama menempuh pendidikan menjadi kisah tentang ketekunan, keberanian mencoba, dan semangat untuk terus memberi dampak.

“Saya sangat bersyukur kepada Tuhan atas anugerah luar biasa ini. Menjadi wisudawan berprestasi merupakan kebanggaan tersendiri bagi saya dan saya memaknainya sebagai bentuk keberkahan atas proses yang telah saya jalani selama ini,” ungkapnya.

Bagi Bintang, bangku kuliah bukan hanya ruang untuk belajar teori, tetapi juga tempat untuk menumbuhkan mimpi, mengasah kemampuan, dan menjelajahi berbagai kesempatan. Selama berkuliah, ia berhasil mengukir lebih dari 60 prestasi di tingkat nasional maupun internasional.

Sejumlah capaian yang berhasil diraihnya antara lain Gold Medal Finalist pada ajang Final Pitching Sustainable Development Goals (SDGs) yang diselenggarakan Universiti Kebangsaan Malaysia melalui inovasi Zero-C, sebuah platform carbon trading untuk perdagangan karbon dunia. Ia juga berpartisipasi dalam UMPSA x Huawei AppGallery Mobile App Competition di Malaysia, meraih prestasi pada Toba Essay Competition, National Essay Competition INSPIER 2023, serta berbagai kompetisi karya tulis ilmiah dan inovasi.

Tidak hanya itu, Bintang turut menorehkan prestasi pada sejumlah kejuaraan karate tingkat nasional dan internasional, seperti Mageti Open International Karate Championship 2024, WTA Open Karate Championship, Wimaya International Karate Championship 2023, Bali Badung Open Karate International Championship 2023, hingga Gadjah Mada Open Karate Championship 2023. Semangat inovasinya juga melahirkan sejumlah karya yang telah memperoleh pencatatan hak cipta, di antaranya TOUCH BRAILLE, REDUx, Sistem Manajemen Gudang Otomatis,  Sistem Pencarian Referensi Jurnal Ilmiah, dan HALAL TRACKER.

Di antara puluhan pencapaian tersebut, satu momen yang paling membekas baginya adalah ketika menjadi satu-satunya peraih Gold Medal Finalist dalam ajang Final Pitching SDGs di Universiti Kebangsaan Malaysia.

“Pada kesempatan itu, saya dan tim mempresentasikan inovasi di hadapan peserta terbaik dari berbagai negara. Rasanya bangga karena bisa membawa nama Indonesia untuk bersaing di tingkat internasional,” tuturnya.

Tidak ada pencapaian yang lahir dalam semalam. Di balik deretan prestasi itu, tersimpan hari-hari yang dipenuhi jadwal akademik, praktikum hingga enam kali dalam sepekan, persiapan kejuaraan karate internasional, kegiatan akademik berskala internasional, hingga amanah sebagai Badan Pengurus Harian UKM Karate. Ada saat ketika semua tanggung jawab itu datang bersamaan dan membuatnya merasa sangat lelah, bahkan hampir menyerah.

Namun, di tengah kepadatan tersebut, Bintang memilih kembali mengingat alasan mengapa ia memulai semuanya. Ia mulai menyusun ulang prioritas melalui konsep priority pyramid, menempatkan akademik sebagai fokus utama, kemudian perlombaan dan organisasi. Dari sana, ia belajar bahwa keberhasilan bukan tentang melakukan semuanya sekaligus, melainkan mengetahui kapan harus melangkah dan kapan harus memberi ruang bagi diri sendiri untuk tetap bertahan.

Setiap langkah yang berhasil ia tempuh tidak pernah benar-benar ia lalui sendirian. Ada doa kedua orang tua, Bambang Hayanto dan Fonny Dondok, yang selalu menguatkan, dukungan kakak dan adik yang menjadi tempat berbagi semangat, serta para dosen, mentor, dan sahabat yang senantiasa hadir ketika perjalanan terasa berat. Kehadiran mereka menjadi pengingat bahwa di balik setiap keberhasilan, selalu ada banyak tangan yang ikut mendorong seseorang untuk terus melangkah.

Dalam kesehariannya, Bintang membiasakan diri hidup dengan disiplin. Selain menerapkan manajemen prioritas, ia rutin berolahraga dan berjalan pagi agar tubuh serta pikirannya tetap siap menghadapi berbagai aktivitas. Baginya, menjaga kesehatan fisik dan mental sama pentingnya dengan mengejar prestasi. Di atas semua itu, ia percaya bahwa doa dan kebiasaan berbuat baik kepada sesama adalah kekuatan yang memudahkan setiap proses yang dijalaninya.

Setelah lulus, Bintang ingin terlebih dahulu mengembangkan karier profesional, kemudian melanjutkan studi magister di Eropa. Baginya, pendidikan bukanlah tujuan akhir, melainkan bekal untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan.

Bintang berharap UAD terus melangkah menjadi perguruan tinggi yang tidak hanya unggul di tingkat nasional, tetapi juga semakin diperhitungkan di kancah internasional. Menurutnya, kampus memiliki peran penting dalam melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki semangat untuk terus belajar, menjelajah, dan memberi makna melalui setiap karya yang dihasilkan.

Lebih dari sekadar ilmu pengetahuan, Bintang merasa kampus telah mengajarkannya cara memandang kehidupan. Lingkungan yang terbuka, dukungan dari berbagai pihak, serta toleransi terhadap perbedaan agama, suku, ras, dan budaya membentuknya menjadi pribadi yang lebih menghargai keberagaman dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Andi-Bintang-Toar-Dondok-wisudawan-berprestasi-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-pada-wisuda-periode-IV-2026-Foto.-Andi.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-19 08:41:112026-08-19 08:42:07Di Balik Deretan Prestasi, Ada Perjalanan yang Tidak Sederhana

Kemerdekaan Bukan Sekadar Perayaan: Belajar Delayed Gratification dari Semangat Para Pejuang

19/08/2026/in Feature /by Ard

Foto Ilustrasi (Sumber. Chat GPT)

Penulis: Marta Pujiono

Mahasiswa Pascasarjana Bimbingan dan Konseling UAD Yogyakarta

Setiap bulan Agustus, langit Indonesia dihiasi bendera merah putih dan jalanan dipenuhi berbagai perlombaan sebagai simbol perayaan kemerdekaan. Namun, di balik kemeriahan tersebut, tersimpan sebuah esensi filosofis yang sering kali terlupakan oleh generasi masa kini: kemerdekaan adalah hasil dari kemampuan luar biasa para pejuang untuk menunda kenyamanan pribadi demi pencapaian yang jauh lebih besar di masa depan. Dalam psikologi modern, kemampuan ini dikenal sebagai delayed gratification.

Jika kita menelusuri sejarah, sosok Panglima Besar Jenderal Soedirman adalah representasi nyata dari pengendalian diri dan pengorbanan. Bayangkan seorang pemimpin yang tetap memilih bergerilya di tengah hutan dalam kondisi fisik yang sangat lemah dan paru-paru yang hanya berfungsi sebelah. Secara logika manusiawi, imbalan instan (immediate reward) bagi Soedirman saat itu adalah beristirahat di kota dan menjalani perawatan medis yang layak sebagaimana disarankan Presiden Soekarno.

Namun, Soedirman memilih menolak kenyamanan sesaat itu demi tujuan jangka panjang yang lebih mulia kedaulatan penuh bangsa Indonesia. Ia menunjukkan bahwa kepuasan sejati bukanlah apa yang bisa dinikmati saat ini, melainkan keberhasilan mencapai visi besar melalui disiplin, keteguhan prinsip, dan pantang menyerah. Inilah bentuk tertinggi dari delayed gratification kemampuan menolak godaan kenyamanan demi kemerdekaan yang hakiki.

Ironisnya, semangat tersebut kini menghadapi tantangan berat di era digital. Masyarakat modern, terutama generasi muda, terjebak dalam budaya serba instan yang dipicu oleh teknologi dan media sosial. Fenomena ini menciptakan preferensi yang bias pada masa kini (present-biased preference), di mana individu lebih mementingkan kepuasan cepat daripada persiapan masa depan.

Data dan lanskap empiris sepanjang periode 2025–2026 menyajikan sebuah alarm bagi dunia pendidikan kita, dominasi hiburan digital mulai dari gim hingga adiksi media sosial kini menjadi pemicu utama maraknya prokrastinasi akademik di ruang-ruang kelas lemahnya kapasitas siswa dalam menunda kepuasan instan (delay of gratification). Ditambah rapuhnya kontrol diri membuat manajemen waktu mereka lumpuh di hadapan layar gawai, sehingga kewajiban menuntaskan tugas-tugas sekolah kerap terabaikan.

Jika ekosistem pendidikan gagal menghadirkan intervensi nyata berupa penguatan regulasi diri dan literasi digital yang masif, kita tidak hanya sedang menghadapi ancaman erosi prestasi akademik, tetapi juga mempertaruhkan redupnya daya juang (grit) yang selama ini menjadi fondasi karakter bangsa.

Penelitian psikologi menegaskan bahwa delayed gratification bukanlah sekadar kemampuan menunggu, melainkan keterampilan psikososial krusial yang berdampak besar pada perjalanan hidup seseorang. Individu yang mampu menunda kepuasan cenderung memiliki regulasi diri yang lebih baik, lebih tahan terhadap frustrasi, dan mencapai hasil akademik yang lebih tinggi.

Dalam konteks pendidikan di Indonesia, kemampuan ini sering kali berjalan beriringan dengan growth mindset—keyakinan bahwa kecerdasan dan kemampuan dapat dikembangkan melalui usaha keras. Siswa yang memiliki kombinasi kedua hal ini terbukti lebih resilien menghadapi tantangan dan tidak mudah menyerah saat menemui kegagalan, persis seperti mentalitas para pejuang kita terdahulu.

Menginternalisasi nilai-nilai kejuangan Jenderal Soedirman ke dalam pendidikan karakter bukan berarti kita harus memanggul senjata di hutan. Di era sekarang, “medan gerilya” kita adalah meja belajar, ruang kerja, dan layar gawai kita masing-masing. Merdeka berarti kita berdaulat atas keinginan impulsif diri sendiri.

Kemerdekaan sejati adalah ketika seorang siswa mampu menunda keinginan bermain gadget demi belajar dengan tenang. Kemerdekaan adalah saat kita mampu merencanakan keuangan masa depan daripada terjebak perilaku konsumtif sesaat. menunda kepuasan adalah tentang menetapkan tujuan, memantau diri, dan merefleksikan setiap tindakan demi hasil yang lebih bermakna.

Sebagai bangsa yang lahir dari darah dan air mata para pejuang, merayakan kemerdekaan seharusnya menjadi momentum untuk berefleksi sejauh mana kita telah memerdekakan diri dari godaan kepuasan instan? Mari kita teladani semangat Jenderal Soedirman dengan membangun disiplin diri yang kuat. Sebab, masa depan bangsa ini tidak ditentukan oleh seberapa meriah perayaan Agustus kita, melainkan oleh seberapa mampu kita mengendalikan diri hari ini demi kejayaan Indonesia di masa depan.

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Foto-Ilustrasi-Sumber.-Chat-GPT.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-19 07:19:372026-08-19 07:19:37Kemerdekaan Bukan Sekadar Perayaan: Belajar Delayed Gratification dari Semangat Para Pejuang

Mengenal Suster Felika, Biarawati yang Menempuh Studi di UAD

18/08/2026/in Feature /by Ard

Suster M. Felika Laia, Biarawati yang menempuh studi di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Felika)

Kehadiran Suster M. Felika Laia, SCMM., di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) memberikan warna tersendiri. Anggota Kongregasi Suster-suster dari Maria Bunda yang Berbelaskasih yang kini tinggal di Komunitas Santa Sesilia Yogyakarta ini merupakan mahasiswa aktif Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UAD angkatan 2024.

Alasan utama Sr. Felika mantap memilih UAD adalah keterbukaan kampusnya. Menurutnya, UAD sejak awal menerima mahasiswa dari berbagai latar belakang tanpa membeda-bedakan.

“UAD sangat toleran dan menerima siapa saja yang kuliah di sini dengan berbagai keberagaman, baik itu suku, bahasa, maupun agama,” ujar Sr. Felika.

Selama berkuliah, Sr. Felika mengaku tetap merasa nyaman beraktivitas di lingkungan kampus. Salah satu hal yang membuatnya merasa dihargai adalah kebebasan untuk tetap mengenakan pakaian kebiaraannya saat mengikuti kegiatan akademik.

“Sebagai biarawati yang tetap mengenakan pakaian kebiaraan di kampus Islam, saya merasa senang dan bisa belajar dengan nyaman karena saya diterima apa adanya. Saya tidak dipaksa menggunakan pakaian yang selayaknya digunakan oleh seorang Muslim, tetapi saya masih diperbolehkan tetap menggunakan jubah saya sebagai biarawati dan tetap studi di UAD. Itulah yang membuat saya senang dan bahagia, bahwa artinya saya tetap dihargai meskipun beda agama dengan mereka,” jelasnya.

Sikap terbuka juga ia rasakan dari para dosen dan sesama mahasiswa di ruang kelas. Penerimaan yang baik dari lingkungan sekitar membuat proses belajar mengajar berjalan lancar. Dalam kesehariannya di kampus, Sr. Felika pun berusaha membangun komunikasi yang aktif dengan teman-teman seangkatannya.

“Terkait dengan respon dosen dan teman-teman pas pertama kali dan selama kuliah bersama itu menyenangkan. Karena para dosen di UAD itu baik dan sangat toleransi sekali. Apalagi dengan teman-teman, saya tetap mencoba memberikan yang terbaik untuk mereka. Kalau saya mengalami kesulitan, saya terus terang mengatakannya kepada mereka,” ungkapnya.

Bagi Sr. Felika, pengalaman paling berkesan selama menjadi mahasiswa UAD adalah rasa saling menghargai yang ia dapatkan setiap hari. Berdasarkan pengalaman positif dan momen yang membuatnya merasa nyaman dan diterima di UAD tersebut, ia mendorong calon mahasiswa dari berbagai latar belakang untuk menempuh studi di UAD.

“Pengalaman saya selama di UAD menyenangkan. Mari kuliah di UAD, kuliahnya seru karena para dosen dan teman-teman sangat menyenangkan dan mereka sangat menghargai perbedaan,” tutupnya.

Kehadiran dan pengalaman Sr. Felika menjadi bukti nyata UAD sebagai perguruan tinggi yang inklusif. Meskipun berdiri di atas landasan nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyahan, UAD terus membuktikan diri sebagai ruang belajar yang terbuka, ramah, serta menghargai keberagaman bagi seluruh akademisinya tanpa membedakan latar belakang agama, suku, maupun budaya. (Anove)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Suster-M.-Felika-Laia-Biarawati-yang-menempuh-studi-di-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Felika.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-18 11:34:022026-08-18 11:34:02Mengenal Suster Felika, Biarawati yang Menempuh Studi di UAD

Menemukan Makna Belajar di Luar Ruang Kelas

18/08/2026/in Feature /by Ard

Novia Ahlul Janah, lulusan terbaik Prodi Pendidikan Matematika Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada wisuda periode IV (Foto. Novia)

Bagi Novia Ahlul Janah, masa kuliah bukan sekadar tentang memperoleh nilai tinggi atau menyelesaikan perkuliahan tepat waktu. Lebih dari itu, perkuliahan menjadi ruang untuk mencari pengalaman, membangun relasi, dan mengembangkan diri melalui berbagai kesempatan yang ada.

Lulusan Terbaik Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,92 ini aktif mengikuti berbagai kegiatan akademik maupun kompetisi nonakademik.

Beberapa prestasi yang berhasil diraihnya antara lain Juara I Essay Ahmad Dahlan International Seminar #3, Juara II Presentasi Essay Ahmad Dahlan International Seminar #3, Juara II Lomba Essay Nasional Gebyar Matematika 2025, lolos pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH), serta meraih Juara Harapan II Kategori Poster Digital Usaha secara beregu. Selain itu, ia juga pernah meraih Peringkat I Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (ONMIPA) Bidang Matematika tingkat universitas serta dinobatkan sebagai Santri Berprestasi Persada UAD.

Meski demikian, Novia mengaku bahwa tujuan utamanya bukanlah mengejar sebanyak mungkin penghargaan. “Saya hanya ingin mencari pengalaman. Menurut saya, kuliah bukan hanya soal akademik atau kelas saja, tetapi juga pengalaman-pengalaman di luar kelas yang bisa membuat kita berkembang dan bertumbuh,” ucapnya.

Prinsip tersebut menjadi alasan mengapa ia selalu berusaha mengambil kesempatan untuk belajar dari berbagai aktivitas di luar perkuliahan.

Perjalanan itu tentu tidak selalu berjalan mulus. Ada kalanya beberapa kegiatan harus dijalani dalam waktu yang bersamaan sehingga menuntutnya untuk mengambil keputusan dengan cepat.

Namun, dari situ ia belajar menentukan mana yang harus diprioritaskan terlebih dahulu. Setiap kesibukan justru mengajarkannya untuk lebih mengenali tanggung jawab dan mengelola setiap kesempatan yang datang dengan lebih bijaksana.

Menurut Novia, keberhasilan yang diraihnya hari ini tidak terlepas dari dukungan banyak orang. Ia meyakini bahwa doa kedua orang tua menjadi kekuatan terbesar dalam setiap langkahnya. Selain itu, bimbingan dosen serta dukungan teman-teman selama menjalani perkuliahan turut menjadi bagian penting yang mengantarkannya hingga titik ini.

Dalam mempertahankan prestasi, Novia memiliki satu kebiasaan sederhana, yakni memahami prioritas. Ia memilih menyelesaikan satu tanggung jawab dengan maksimal sebelum beralih pada pekerjaan berikutnya. Baginya, fokus terhadap proses akan menghasilkan hasil yang lebih baik daripada terburu-buru mengerjakan banyak hal sekaligus.

Setelah ini, Novia berencana melanjutkan studi ke jenjang magister. Ia juga ingin terus mengembangkan diri melalui berbagai prestasi, kegiatan organisasi, serta pengalaman profesional di dunia kerja.

Bagi Novia, prestasi adalah sesuatu yang lahir dari tujuan yang berhasil diwujudkan melalui usaha. Sementara kesuksesan bukan hanya tentang apa yang berhasil diraih, tetapi juga bagaimana seseorang dapat melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya sendiri maupun lingkungan sekitar dengan dukungan orang-orang yang selalu membersamai proses tersebut.

Ia berharap kampus terus menjadi ruang yang mendukung mahasiswa untuk berkembang, baik melalui kegiatan akademik maupun nonakademik. Kepada generasi mahasiswa berikutnya, Novia berpesan agar tetap bersemangat mengikuti berbagai kegiatan dan tidak membatasi diri hanya pada pembelajaran di ruang kelas.

Novia menyadari bahwa pelajaran paling berharga yang ia peroleh bukan hanya berasal dari buku ataupun perkuliahan.

Baginya, pertumbuhan juga lahir dari relasi, pengalaman, dan keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Sebab, ketika setiap kesempatan dimanfaatkan dengan baik, proses belajar tidak lagi terbatas pada ruang kelas, melainkan hadir dalam setiap langkah kehidupan. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Novia-Ahlul-Janah-lulusan-terbaik-Prodi-Pendidikan-Matematika-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-pada-wisuda-periode-IV-Foto.-Novia.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-18 10:51:302026-08-18 10:51:30Menemukan Makna Belajar di Luar Ruang Kelas

Candrika Nur Oktavia: Perjuangan Harus Dilandasi Ketulusan

15/08/2026/in Feature /by Ard

Candrika Nur Oktavia salah satu lulusan terbaik Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada wisuda periode IV 2026 (Foto. Candrika)

Bagi Candrika Nur Oktavia, perjalanan selama menempuh pendidikan bukan sekadar tentang mengejar nilai atau mengumpulkan prestasi. Lebih dari itu, masa kuliah menjadi ruang untuk mengenal diri, bertumbuh bersama banyak orang, dan belajar memberi manfaat melalui setiap kesempatan yang datang.

Lulusan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,92 ini mengaku masih sulit percaya ketika dinobatkan sebagai salah satu lulusan terbaik Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada wisuda periode IV 2026.

Selama menjadi mahasiswa, Candrika aktif mengikuti berbagai kegiatan akademik maupun organisasi. Ia pernah menjadi anggota Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPKO) Pendanaan Internal Universitas Ahmad Dahlan Tahun 2022 melalui HMPS Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Ia juga berhasil meraih Insentif Program Kreativitas Mahasiswa Gagasan Futuristik Tertulis (PKM-GFT) Tahun 2024 serta Juara II Presenter Category under the Learning Strategies/Models Sub-theme pada International Seminar of Pre-service Teacher Internship yang diselenggarakan oleh Laboratorium Pengembangan Profesi Kependidikan Universitas Ahmad Dahlan. Berbagai pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses yang membentuk kemampuan akademik sekaligus kepercayaan dirinya.

Di balik berbagai pencapaian itu, tersimpan motivasi yang sederhana namun kuat. “Saya ingin membanggakan orang tua serta menjadi teladan yang baik untuk adik-adik saya,” ucapnya.

Harapan tersebut menjadi pengingat baginya untuk terus memberikan usaha terbaik dalam setiap kesempatan yang datang.

Meski demikian, perjalanan selama kuliah tidak selalu berjalan mulus. Tantangan terbesar yang dihadapi Candrika justru berasal dari proses mengenali dirinya sendiri sekaligus belajar hidup berdampingan dengan banyak karakter yang berbeda.

Menurutnya, dunia perkuliahan mempertemukan seseorang dengan beragam cara berpikir, kebiasaan, dan sudut pandang. Situasi tersebut mengajarkannya bahwa bertumbuh bukan hanya tentang meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga tentang mengelola diri agar tetap tenang dalam berbagai keadaan.

Ia memilih terus melakukan self-improvement, berusaha berbuat baik kepada siapa pun, dan belajar melepaskan hal-hal yang berada di luar kendalinya. “Semakin kita menerima bahwa tidak semua hal bisa kita atur, semakin mudah kita fokus pada apa yang benar-benar bisa kita usahakan,” sambungnya.

Dalam menjaga prestasi, Candrika memiliki prinsip untuk tidak menunggu kesempatan datang dengan sendirinya. Ia berusaha proaktif mencari informasi, membuka ruang diskusi, serta membangun relasi dengan banyak orang.

Baginya, relasi bukan sekadar memperluas jaringan, tetapi juga menjadi tempat untuk saling belajar, bertukar pengalaman, dan menemukan peluang-peluang baru untuk berkembang.

Keberhasilan yang diraihnya hingga saat ini tidak lepas dari dukungan orang-orang terdekat. Candrika menyampaikan rasa terima kasih kepada kedua orang tuanya, khususnya sang ayah, Wawanto, serta sahabat dan teman-teman di program studi maupun organisasi yang selalu memberikan semangat dalam setiap proses yang dijalani.

Selepas menyelesaikan pendidikan sarjana, Candrika berencana melanjutkan studi ke jenjang magister dengan fokus pada bidang Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Bidang tersebut dipilih karena ia ingin turut berkontribusi dalam memperkenalkan bahasa dan budaya Indonesia kepada masyarakat internasional.

Bagi Candrika, prestasi bukan sekadar deretan penghargaan yang berhasil dikumpulkan. “Prestasi adalah tentang mengalahkan keterbatasan diri sendiri, sedangkan kesuksesan adalah sejauh mana dampak positif yang bisa kita bagikan kepada sekitar,” tuturnya.

Pandangan itu membuatnya percaya bahwa ukuran keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh apa yang berhasil diraih, tetapi juga oleh manfaat yang mampu diberikan kepada orang lain.

Ia berharap almamaternya terus berkembang sebagai kampus yang melahirkan generasi unggul dan berdaya saing. Kepada mahasiswa yang masih berproses, ia berpesan agar selalu proaktif, berani mencoba hal-hal baru, dan tidak pernah ragu menebarkan kebermanfaatan.

Di penghujung perjalanan studinya, Candrika membawa satu pelajaran yang akan terus ia pegang dalam menjalani kehidupan.

Ia belajar untuk terus beradaptasi dengan berbagai karakter manusia, berbuat baik tanpa syarat, dan percaya bahwa setiap perjuangan yang dilandasi ketulusan akan selalu menemukan jalannya.

Sebab pada akhirnya, perjalanan terbaik bukanlah tentang menjadi lebih hebat daripada orang lain, melainkan tentang menjadi versi terbaik dari diri sendiri dan menghadirkan arti bagi kehidupan di sekitar. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Candrika-Nur-Oktavia-salah-satu-lulusan-terbaik-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-pada-wisuda-periode-IV-2026-Foto.-Candrika.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-15 09:00:072026-08-18 11:27:03Candrika Nur Oktavia: Perjuangan Harus Dilandasi Ketulusan

Belajar Tak Pernah Usai

13/08/2026/in Feature /by Ard

Septia Amalia, lulusan terbaik Prodi PVTE Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Wisuda Periode IV Tahun 2026 (Foto. Septia)

Bagi Septia Amalia, keberhasilan bukanlah garis akhir yang menandai selesainya sebuah perjalanan. Sebaliknya, setiap pencapaian adalah awal untuk terus belajar, bertumbuh, dan menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi orang lain.

Lulusan Terbaik Program Studi Pendidikan Vokasional Teknik Elektronika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,86 ini mengaku tidak pernah memandang predikat yang diraihnya sebagai tujuan akhir.

Selama menempuh pendidikan, Septia tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik. Ia juga aktif membangun pengalaman yang memperkaya kemampuan diri di luar ruang kuliah.

Di antara berbagai pengalaman tersebut, momen yang paling membekas justru bukan ketika menerima penghargaan, melainkan saat dipercaya menjadi narasumber dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat dan program Dahlan Muda Menginspirasi. Kesempatan itu memberinya ruang untuk berbagi pengetahuan sekaligus belajar menyampaikan gagasan di hadapan banyak orang.

Bagi Septia, kemampuan berbicara bukan sekadar keterampilan komunikasi, tetapi juga jembatan agar ilmu yang dimiliki dapat menjangkau lebih banyak orang.

Semangatnya untuk terus berkembang lahir dari keinginan sederhana, yakni membanggakan kedua orang tua dan memanfaatkan setiap kesempatan belajar sebaik mungkin.

Ia percaya bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan menemukan hasilnya pada waktu yang tepat. Di saat yang sama, ia juga mempersiapkan diri agar memiliki kompetensi yang mampu bersaing di dunia kerja setelah lulus.

Perjalanan menuju titik tersebut tentu tidak selalu mudah. Masa perkuliahan mempertemukannya dengan berbagai tanggung jawab yang datang secara bersamaan. Di satu sisi ia harus menyelesaikan tugas akhir, sementara di sisi lain ia tetap ingin aktif dalam organisasi, mengikuti pelatihan, dan mengembangkan kemampuan diri di luar kelas.

Alih-alih melihat kesibukan sebagai beban, Septia menjadikannya ruang belajar untuk mengenali kapasitas dirinya. Ia belajar bahwa setiap kesempatan memiliki nilai yang berbeda, dan setiap pengalaman selalu membawa pelajaran baru.

Baginya, proses bertumbuh bukan hanya tentang menyelesaikan banyak hal dalam waktu bersamaan, tetapi tentang keberanian untuk terus membuka diri terhadap pengalaman yang dapat membentuk karakter dan kompetensi.

Dalam menjaga prestasi, Septia memilih untuk membangun kebiasaan belajar secara bertahap. Ia tidak hanya berusaha memahami materi perkuliahan, tetapi juga aktif mengikuti berbagai pelatihan dan organisasi sebagai ruang untuk mengembangkan kemampuan nonakademik.

Menurutnya, konsistensi dan disiplin menjadi fondasi penting agar seseorang mampu terus berkembang tanpa kehilangan arah.

Di balik seluruh pencapaian tersebut, Septia menyadari bahwa keberhasilannya tidak diraih seorang diri. Ia menyampaikan rasa terima kasih kepada kedua orang tuanya yang tidak pernah berhenti mendoakan dan memberikan dukungan dalam setiap langkah.

Ia juga mengapresiasi para dosen pembimbing yang senantiasa memberikan arahan selama proses perkuliahan maupun penyelesaian tugas akhir, serta teman-teman yang selalu menghadirkan semangat untuk terus berkembang.

Selepas menyelesaikan pendidikan sarjana, Septia ingin memulai karier di bidang teknologi informasi. Ia berharap dapat terus meningkatkan kompetensi melalui pengalaman kerja, pelatihan, serta berbagai sertifikasi profesional.

Dalam jangka panjang, ia bercita-cita menjadi seorang profesional yang mampu berkontribusi dalam pengembangan teknologi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Ia berpesan, “Setiap pengalaman akan menjadi bekal yang berharga di masa depan,” ucapnya.

Di akhir perjalanan studinya, Septia menyadari bahwa pelajaran hidup yang paling berharga bukan hanya tentang keberhasilan, melainkan tentang kesediaan untuk terus belajar.

Ia percaya bahwa kerja keras, disiplin, dan konsistensi memang penting, tetapi yang membuat seseorang terus bertumbuh adalah kemauan untuk tidak berhenti memperbaiki diri. Sebab, setiap tantangan selalu membawa kesempatan baru. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Septia-Amalia-lulusan-terbaik-Prodi-PVTE-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-pada-Wisuda-Periode-IV-Tahun-2026-Foto.-Septia.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-13 09:20:572026-08-13 09:20:57Belajar Tak Pernah Usai

Dari Titik yang Tertinggal, Fikrotus Shofiyah Menemukan Jalannya

13/08/2026/in Feature /by Ard

Fikrotus Shofiyah, salah satu wisudawan terbaik Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Wisuda Periode IV Tahun 2026 (Foto. Fikrotus)

Ada perjalanan yang dimulai dari garis yang berbeda. Ada pula mimpi yang tumbuh di tengah keraguan. Bagi Fikrotus Shofiyah, perjalanan itu bukan sekadar tentang menyelesaikan masa studi, melainkan tentang membuktikan bahwa keterbatasan tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti melangkah.

Lulusan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,88 ini mengaku tidak pernah membayangkan dirinya akan menjadi salah satu lulusan terbaik. “Tidak pernah terbayang menjadi salah satu bagian dari wisudawan terbaik. Saya sangat bersyukur. Rasanya Tuhan memberikan bonus dari perjalanan singkat saya selama menempuh pendidikan,” tuturnya.

Di balik rasa syukur tersebut, tersimpan perjalanan yang dibangun melalui keberanian untuk terus belajar dan berkembang.

Selama menjadi mahasiswa, Fikrotus berhasil meraih Juara II Lomba Penulisan Cerpen Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida), lolos pendanaan Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPKO) dari Kemendikbudristek, lolos pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), serta meraih Harapan II Lomba Desain Poster tingkat Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA).

Namun, pengalaman yang paling membekas baginya adalah ketika berhasil menjadi semifinalis kompetisi kepenulisan tingkat internasional. “Bagi saya, yang paling berharga bukan hanya hasilnya, tetapi prosesnya. Dari sana saya belajar bahwa ternyata saya bisa, selama saya mau terus berkembang,” jelasnya.

Semangat itu lahir dari perjalanan hidup yang tidak selalu berjalan mulus. Fikrotus berasal dari lembaga pendidikan berbasis tahfiz dengan ijazah kesetaraan Paket C. Saat hendak melanjutkan pendidikan, ia pernah dihadapkan pada kenyataan bahwa ijazah tersebut tidak dapat digunakan untuk mendaftar beasiswa tahfiz di sejumlah perguruan tinggi.

Saat itu, ia merasa kecewa. Namun, rasa kecewa tersebut perlahan berubah menjadi tekad. “Saya ingin membuktikan bahwa meskipun berasal dari pendidikan dengan ijazah Paket C, saya tetap bisa kuliah dan menjadi mahasiswa yang aktif di berbagai bidang,” ucapnya.

Tekad itu membawanya melangkah ke Universitas Ahmad Dahlan. Namun, perjuangan yang sesungguhnya justru dimulai setelah menjadi mahasiswa.

Tahun pertama menjadi fase yang paling berat. Latar belakang pendidikan yang lebih berfokus pada tahfiz membuatnya harus bekerja lebih keras untuk mengejar materi perkuliahan. Banyak konsep dasar yang belum pernah ia pelajari sebelumnya. Ia juga harus membiasakan diri dengan penggunaan bahasa asing yang menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran di program studinya.

Sementara teman-temannya telah memiliki bekal dari sekolah umum, Fikrotus memilih mengejar ketertinggalannya sedikit demi sedikit. Ia percaya bahwa setiap halaman yang tertinggal masih bisa dikejar selama tidak berhenti membaca perjalanan.

Perjuangan itu tidak hanya hadir di ruang kelas. Di luar perkuliahan, ia juga harus menghadapi keterbatasan ekonomi.

Dengan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan yang harus diperjuangkan, ia tetap melanjutkan kuliah meski tanpa beasiswa. Ada masa ketika ia kesulitan membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT), mengajukan dispensasi pembayaran agar tetap dapat mengikuti perkuliahan, bahkan hampir tidak bisa mengikuti ujian. Ia masih mengingat perjalanan menuju kampus dengan mengayuh sepeda ontel milik asrama di bawah hujan demi mengurus administrasi dispensasi. Ia juga pernah mencoba membangun usaha untuk membantu biaya kuliah, meskipun pilihan itu akhirnya tidak berjalan sesuai harapan.

Namun, setiap kegagalan tidak pernah ia anggap sebagai akhir perjalanan. “Saya belajar mengambil hikmah dari setiap keadaan. Dari situ saya mulai membuat target-target yang nyata untuk diri sendiri. Saya ingin membuktikan bahwa ternyata saya bisa,” tandasnya.

Keyakinan tersebut terus dijaga berkat doa dan dukungan dari orang-orang terdekat, yaitu orang tuanya, Chusnul Mubin dan Anariatin, sebagai sumber kekuatan terbesar yang selalu membuatnya mampu bangkit setiap kali ingin menyerah.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada keluarga besar yang terus memberikan semangat, serta Dekan Fakultas, Sayuti, yang banyak memberikan arahan, nasihat, dan pengalaman berharga selama masa perkuliahan.

Dalam menjalani berbagai aktivitas, Fikrotus selalu membuka diri terhadap pengalaman baru. Ia senang mencoba berbagai kesempatan untuk mengenal potensi dirinya, tetapi tetap menjadikan akademik sebagai prioritas utama. “Saya memilih mempersempit waktu bermain untuk hal-hal yang lebih bermanfaat dan bisa membantu saya berkembang,” tambahnya.

Fikrotus bercita-cita melanjutkan pendidikan magister melalui beasiswa di negara maju. Mimpinya tidak berhenti pada gelar akademik. Ia ingin berkontribusi menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat dengan menanamkan adab dan pembentukan karakter sejak usia dini. Baginya, setiap ilmu baru merupakan bekal untuk mewujudkan cita-cita tersebut.

Selanjutnya, ia berharap kampus terus menjadi ruang yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk berkembang dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Sementara kepada generasi berikutnya, ia berpesan agar tidak pernah berhenti berbuat baik di mana pun berada.

Pelajaran hidup yang paling berharga yang ia bawa dari perjalanan ini adalah tentang kerja keras. Menurutnya, sejauh apa pun seseorang merasa tertinggal, selalu ada kesempatan untuk mengejarnya selama memiliki keyakinan dan kemauan untuk terus berusaha. “Rasa minder dan tidak percaya diri hanya akan menghalangi kita mencapai tujuan. Saya percaya, selama mau bekerja keras, tidak ada perjalanan yang benar-benar terlambat,” tutupnya.

Perjalanan Fikrotus Shofiyah menjadi pengingat bahwa setiap orang memulai dari titik yang berbeda. Namun, bukan dari mana seseorang memulai yang menentukan akhirnya, melainkan keberanian untuk terus melangkah, meski jalan yang ditempuh tidak selalu mudah. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Fikrotus-Shofiyah-salah-satu-wisudawan-terbaik-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-pada-Wisuda-Periode-IV-Tahun-2026-Foto.-Fikrotus.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-13 09:05:442026-08-13 09:05:44Dari Titik yang Tertinggal, Fikrotus Shofiyah Menemukan Jalannya

Menjadi Versi Terbaik Melalui Ketekunan

13/08/2026/in Feature /by Ard

Leli Fatmawati, salah satu wisudawan terbaik Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Wisuda Periode IV Tahun 2026 (Foto. Leli)

Bagi Leli Fatmawati, setiap pencapaian tidak pernah datang secara instan. Di balik predikat sebagai Wisudawan Terbaik, tersimpan perjalanan panjang yang dipenuhi ketekunan, disiplin, dan rasa syukur atas setiap kesempatan yang diberikan.

Lulusan Program Studi Pendidikan Biologi dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,99 ini mengaku tidak pernah membayangkan akan menjadi salah satu wisudawan terbaik pada Wisuda Periode IV Tahun 2026.

Selama menempuh pendidikan, Leli aktif mengembangkan diri melalui berbagai kegiatan akademik maupun kompetisi. Selain berhasil mempertahankan prestasi akademik dengan IPK yang hampir sempurna, ia juga memperoleh pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Eksakta (PKM-RE), meraih Juara I Artikel Terbaik Kategori Pendidikan UAD 2025, Juara I Presenter Terbaik Seminar Internasional Hasil PLP I dan PLP II Tahun 2026, serta Juara I Lomba Microteaching Program Studi Pendidikan Biologi Tahun 2026. Berbagai capaian tersebut menjadi bagian dari perjalanan belajarnya selama di bangku kuliah.

Menurut Leli, keberhasilan tersebut berawal dari kesadaran bahwa dirinya merupakan penerima beasiswa. Amanah itulah yang terus mendorongnya untuk memberikan usaha terbaik dalam setiap kesempatan.

“Sebagai penerima beasiswa, saya merasa memiliki tanggung jawab yang besar. Karena itu, saya berusaha memaksimalkan kemampuan yang saya miliki agar dapat terus berprestasi dan memberikan hasil terbaik,” tuturnya.

Di balik berbagai prestasi yang diraih, tantangan terbesar yang harus dihadapinya adalah mengelola waktu, tenaga, dan pikiran di tengah padatnya aktivitas. Perkuliahan, organisasi, penelitian, dan berbagai kompetisi sering kali berjalan bersamaan sehingga menuntutnya untuk mampu menentukan prioritas.

Leli memilih menjalani setiap proses dengan tenang tanpa terburu-buru. Baginya, menyusun skala prioritas dan menjaga komunikasi yang baik menjadi kunci agar setiap tanggung jawab dapat diselesaikan secara maksimal.

“Saya belajar bahwa semua bisa dijalani jika dilakukan dengan tenang, mengetahui mana yang harus diprioritaskan, dan tetap menjaga komunikasi yang baik dengan orang-orang di sekitar,” jelasnya.

Kebiasaan sederhana juga menjadi bagian penting dalam perjalanan prestasinya. Sejak awal, Leli selalu menetapkan target-target yang ingin dicapai sebagai arah dalam setiap langkah yang diambil. Bagi Leli, target bukan sekadar daftar keinginan, melainkan pengingat agar dirinya tetap konsisten bertumbuh dan tidak kehilangan arah di tengah berbagai aktivitas.

Keberhasilan yang diraihnya juga tidak lepas dari doa dan dukungan orang-orang terdekat. Ia menyampaikan rasa terima kasih kepada kedua orang tuanya, Suyatno dan Sani, kakak, keluarga besar, teman-teman, serta para dosen Program Studi Pendidikan Biologi yang terus memberikan semangat dan bimbingan selama masa perkuliahan. “Semua doa, dukungan, dan motivasi dari mereka menjadi kekuatan bagi saya untuk terus berjuang hingga sampai di titik ini,” tambahnya.

Leli bercita-cita kembali melanjutkan pendidikan ke jenjang magister melalui program beasiswa agar dapat terus mengembangkan kompetensi dan memberikan kontribusi yang lebih luas di bidang pendidikan.

Bagi Leli, prestasi bukan hanya tentang penghargaan yang berhasil diraih. Ia memaknai prestasi sebagai bentuk penghargaan atas setiap usaha yang telah dilakukan dengan sungguh-sungguh, sedangkan kesuksesan adalah kemampuan untuk mencapai versi terbaik dari diri sendiri, baik sesuai dengan rencana yang disusun maupun jalan yang telah ditetapkan Tuhan.

Ia juga berharap almamaternya terus berkembang menjadi perguruan tinggi yang melahirkan lulusan unggul, berintegritas, dan berlandaskan nilai-nilai keislaman serta kemuhammadiyahan. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Leli-Fatmawati-salah-satu-wisudawan-terbaik-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-pada-Wisuda-Periode-IV-Tahun-2026-Foto.-Leli.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-13 08:52:022026-08-13 08:52:02Menjadi Versi Terbaik Melalui Ketekunan

Membangun Masa Depan dari Setiap Pengalaman

12/08/2026/in Feature /by Ard

Rifan Dwitya Suratman wisudawan berprestasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada wisuda periode IV tahun 2026 (Foto. Rifan)

Bagi sebagian orang, masa kuliah adalah tempat menimba ilmu. Namun, bagi Rifan Dwitya Suratman, masa kuliah juga menjadi ruang untuk membangun pengalaman, menempa karakter, dan menciptakan kisah yang kelak layak dikenang.

Lulusan Program Studi Psikologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,76 ini berhasil dinobatkan sebagai Wisudawan Berprestasi UAD pada Wisuda Periode IV Tahun 2026. Penghargaan tersebut menjadi penutup manis dari perjalanan panjang yang dipenuhi tantangan, kerja keras, dan berbagai pengalaman berharga.

Selama menjadi mahasiswa, Rifan aktif mengikuti berbagai program pengembangan mahasiswa yang berfokus pada riset dan pengabdian kepada masyarakat. Berkat konsistensinya, ia berhasil lolos pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH), lolos pendanaan Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa), serta mengantarkan timnya meraih Juara II Abdidaya PPK Ormawa, salah satu ajang penghargaan nasional bagi program pengabdian mahasiswa.

Meski prestasi tersebut menjadi pencapaian yang membanggakan, bagi Rifan penghargaan bukanlah tujuan utama. Ia justru memiliki motivasi yang sederhana, tetapi bermakna. “Motivasi terbesar saya adalah menciptakan kenangan yang nantinya bisa saya ceritakan dan membentuk diri saya menjadi pribadi yang lebih baik di masa depan,” tuturnya.

Prinsip tersebut membuatnya tidak sekadar mengejar hasil, tetapi juga menikmati setiap proses yang dijalani. Setiap organisasi, penelitian, maupun kegiatan pengabdian menjadi pengalaman yang memperkaya cara pandangnya terhadap kehidupan.

Di balik berbagai pencapaian itu, Rifan mengakui bahwa tantangan terbesar selama kuliah adalah mengelola waktu. Padatnya aktivitas akademik, organisasi, hingga berbagai program kemahasiswaan menuntutnya untuk mampu menentukan prioritas dengan bijak.

“Terkadang ada beberapa hal yang kurang mendapat perhatian, baik di bidang akademik maupun nonakademik. Karena itu, saya belajar mengatur prioritas agar setiap kegiatan tetap bisa berjalan dengan baik,” jelasnya.

Untuk menjaga konsistensi, Rifan memiliki kebiasaan yang selalu ia terapkan sebelum mengambil sebuah keputusan. Ia akan menentukan skala prioritas sekaligus menganalisis dampak dari setiap kegiatan yang akan dijalani.

“Saya selalu melihat seperti apa hasil akhirnya. Ketika sudah memiliki gambaran tujuan, meskipun masih sederhana, itu menjadi motivasi untuk menyelesaikan prosesnya,” tandasnya.

Baginya, langkah tersebut membuat setiap usaha terasa lebih terarah dan tidak dilakukan secara sia-sia.

Dalam perjalanan meraih prestasi, Rifan menyadari bahwa keberhasilannya tidak mungkin diraih seorang diri. Ia menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan, kedua orang tuanya, Agus Suratman dan Yeri Mulyanah, serta teman-teman seperjuangan yang selalu memberikan dukungan selama proses perkuliahan. “Keberhasilan ini adalah hasil dari doa, dukungan, dan perjuangan banyak orang,” tambahnya.

Selepas menyelesaikan pendidikan sarjana, Rifan berharap dapat memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan bidang dan harapannya. Baginya, dunia kerja akan menjadi ruang baru untuk terus belajar sekaligus memberikan kontribusi yang lebih luas.

Menurut Rifan, kesuksesan tidak semata-mata diukur dari jabatan atau penghargaan yang dimiliki seseorang. “Kesuksesan yang sesungguhnya adalah ketika kita mampu memberikan dampak positif bagi orang lain,” tandasnya.

Ia berharap seluruh sivitas akademika terus tumbuh menjadi pribadi-pribadi unggul di bidangnya masing-masing dan mampu menunjukkan kualitas lulusan UAD melalui karya serta kontribusi nyata.

Rifan menyadari bahwa pelajaran paling berharga yang diperoleh selama kuliah bukan hanya berasal dari ruang kelas. Ia belajar bahwa kehidupan kampus merupakan fase penting dalam membentuk jati diri seseorang. Karena itu, ia mengajak mahasiswa untuk memanfaatkan masa kuliah sebaik mungkin, tidak hanya dengan belajar secara serius, tetapi juga menikmati setiap proses bersama teman-teman yang memberikan energi positif.

“Masa kuliah sangat berpengaruh terhadap pembentukan jati diri. Jadi, jangan hanya sibuk belajar. Nikmati juga setiap proses, bangun pertemanan yang baik, dan ciptakan kenangan yang kelak akan menjadi bagian berharga dalam hidup.”

Bagi Rifan, prestasi memang menjadi pencapaian yang membanggakan. Namun, lebih dari itu, masa kuliah adalah tentang bagaimana seseorang bertumbuh, membangun karakter, dan meninggalkan jejak yang bermanfaat bagi orang lain. Karena pada akhirnya, kenangan terbaik bukan hanya tentang apa yang berhasil diraih, tetapi juga tentang siapa diri kita setelah melalui seluruh proses tersebut. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Rifan-Dwitya-Suratman-wisudawan-berprestasi-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-pada-wisuda-periode-IV-tahun-2026-Foto.-Rifan.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-12 10:02:582026-08-12 10:02:58Membangun Masa Depan dari Setiap Pengalaman

Di Balik Prestasi, Ada Proses yang Tak Pernah Berhenti

12/08/2026/in Feature /by Ard

Komisah, wisudawan berprestasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada wisuda periode IV tahun 2026 (Foto. Komisah)

Setiap prestasi selalu memiliki cerita. Ada waktu yang dikorbankan, ada kegagalan yang dijadikan pelajaran, dan ada tekad yang terus dijaga agar tidak padam. Bagi Komisah, seluruh proses itulah yang mengantarkannya dinobatkan sebagai Wisudawan Berprestasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Wisuda Periode IV Tahun 2026.

Lulusan Program Studi Kesehatan Masyarakat dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,80 ini mengaku penghargaan tersebut menjadi momen yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. “Saya merasa sangat senang, terharu, dan bangga terhadap diri saya sendiri. Perjalanan selama kuliah tidak selalu mudah. Ada banyak tantangan, pengorbanan, dan proses yang harus saya lalui,” ungkapnya.

Bagi Komisah, predikat Wisudawan Berprestasi bukan sekadar bentuk apresiasi atas pencapaian yang telah diraih, melainkan amanah untuk terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Selama menempuh pendidikan di UAD, Komisah aktif mengikuti berbagai kompetisi, organisasi, kepanitiaan, serta kegiatan akademik maupun nonakademik. Konsistensinya mengembangkan diri membawanya meraih berbagai prestasi di tingkat nasional hingga internasional.

Beberapa di antaranya adalah Juara 1 Business Plan Temu Ilmiah Mahasiswa Prestasi Nasional yang sekaligus memperoleh penghargaan Best Presentation dan Gold Medal, Juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah Gagasan Tertulis Pekan Ilmiah Mahasiswa Kesehatan Masyarakat PTM, Gold Medal pada Temu Ilmiah Mahasiswa Prestasi Nasional kategori Lomba Karya Tulis Ilmiah, Gold Medal pada Virtual Innovation Competition, serta International Invention and Creativity Special Award. Selain itu, Komisah juga berhasil meraih berbagai penghargaan lainnya di bidang karya tulis ilmiah, business plan, esai, inovasi, hingga media kreatif.

Semangat untuk terus berprestasi lahir dari keinginan sederhana, yakni memanfaatkan setiap kesempatan yang diberikan sebaik mungkin. Baginya, prestasi bukan hanya tentang menjadi juara, tetapi tentang proses bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik setiap hari.

Ia juga ingin membanggakan kedua orang tua, almamater, sekaligus menginspirasi mahasiswa lain agar tidak takut mencoba hal-hal baru.

Perjalanan tersebut tentu tidak selalu berjalan mulus. Tantangan terbesar yang harus dihadapi Komisah adalah mengatur skala prioritas di tengah padatnya aktivitas perkuliahan, organisasi, serta berbagai perlombaan yang diikuti secara bersamaan.

“Saya belajar membuat perencanaan yang baik, mengatur waktu secara disiplin, dan memahami mana yang harus diprioritaskan terlebih dahulu. Saya juga sadar bahwa tidak semua kesempatan harus diambil sekaligus,” tambahnya.

Di balik keberhasilannya, Komisah tidak pernah melupakan sosok-sosok yang selalu memberikan dukungan. Ia menyebut kedua orang tuanya, Bapak Ana dan Ibu Imi, sebagai sumber kekuatan terbesar yang senantiasa menghadirkan doa, semangat, dan kepercayaan dalam setiap langkahnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada dosen pembimbing yang selalu sabar mendampingi selama proses mengikuti berbagai kompetisi. Tidak hanya itu, teman seperjuangannya, Putri Septiana dan Haqmadi Widya Ihsanto, menjadi rekan diskusi sekaligus partner yang saling menguatkan hingga berbagai prestasi berhasil diraih bersama.

Bagi Komisah, menjaga prestasi tidak membutuhkan cara yang rumit. Ia memilih untuk selalu membuka diri terhadap pengalaman baru dan tidak takut mencoba berbagai kesempatan yang datang. “Saya percaya setiap kesempatan adalah ruang untuk belajar dan berkembang. Kegagalan bukan sesuatu yang harus ditakuti, tetapi menjadi bahan evaluasi agar bisa memberikan hasil yang lebih baik pada kesempatan berikutnya,” tandasnya.

Selepas menyelesaikan studi sarjana, Komisah telah menyiapkan langkah berikutnya. Ia bercita-cita melanjutkan pendidikan Magister melalui program beasiswa LPDP agar dapat meningkatkan kompetensi sekaligus memperluas kontribusinya bagi masyarakat.

Baginya, makna kesuksesan tidak pernah diukur dari banyaknya piala atau penghargaan yang dimiliki.“Kesuksesan adalah ketika kita mampu memberikan manfaat bagi orang lain. Prestasi hanyalah hasil dari sebuah proses, sedangkan kesuksesan yang sesungguhnya adalah ketika kita terus berkembang, tetap rendah hati, dan menggunakan ilmu yang dimiliki untuk memberikan dampak positif,” jelasnya.

Komisah berharap Universitas Ahmad Dahlan terus menjadi kampus yang melahirkan lulusan unggul, berprestasi, dan berkarakter, sekaligus membuka lebih banyak ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensinya.

Sebab pada akhirnya, setiap prestasi bukanlah garis akhir dari sebuah perjalanan. Prestasi adalah pengingat bahwa seseorang selalu memiliki ruang untuk belajar, bertumbuh, dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi sesama. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Komisah-wisudawan-berprestasi-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-pada-wisuda-periode-IV-tahun-2026-Foto.-Komisah.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-12 09:56:202026-08-12 09:56:20Di Balik Prestasi, Ada Proses yang Tak Pernah Berhenti
Page 2 of 78‹1234›»

TERKINI

  • UAD Beri Penghargaan bagi Lulusan Terbaik Apoteker Angkatan 5001/10/2026
  • Mahasiswa Gizi UAD Inisiasi Program SENADA di MAN 2 Sleman01/10/2026
  • Pelatihan Pembuatan NIB Dorong Legalitas dan Pengembangan UMKM Miedes di Srihardono01/10/2026
  • Deru Mesin Kemanusiaan: Saat Komunitas Motor UAD dan LazisMu UAD Antar 100 Tangki Air ke Pelosok Gunungkidul01/10/2026
  • Berbagai Program KKN UAD Perkuat Kebersamaan Warga Jangkang Kidul30/09/2026

PRESTASI

  • Mahasiswa UAD Raih Juara III pada Kejurnas IX Senior-Junior Hapkido Indonesia 202630/09/2026
  • Tim Al Qorni UAD Raih Dua Gelar Juara di Ajang KMLI 202630/09/2026
  • Pustakawan UAD Raih Prestasi di IPI Awards DIY 202629/09/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara I Esai Nasional Ajang PIKIR 202629/09/2026
  • Tim King Phoenix UAD Juara III Kontes Robot Terbang Indonesia28/09/2026

FEATURE

  • Runtuhkan Sekat Pembatas, Dekan FKIP UAD Tekankan Kolaborasi Pendidikan yang Berdampak28/09/2026
  • Menelusuri Hakikat dan Empat Tanda Kebahagiaan di Dunia15/09/2026
  • Memaknai Singkatnya Kehidupan dan Rahmat Berlimpah Menuju Surga10/09/2026
  • Menapaki Jalan Lurus melalui Sepuluh Wasiat Allah04/09/2026
  • LPSI UAD Gelar Kajian Tafsir At-Tanwir, Bedah Makna dan Keutamaan Surat Al-Baqarah Ayat 18503/09/2026

TENTANG | KRU | KONTAK | REKAPITULASI

Scroll to top