• TERKINI
  • UAD BERDAMPAK
  • PRESTASI
  • FEATURE
  • OPINI
  • MEDIA
  • KIRIM BERITA
  • Menu
News Portal of Universitas Ahmad Dahlan

Di Balik Gelar Wisudawan Berprestasi, Ada Proses yang Tidak Mudah

07/08/2026/in Feature /by Ard

Adi Satria, wisudawan berprestasi bidang akademik periode IV tahun 20252026 dari Prodi Teknologi Pangan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Adi).jpg

Bagi sebagian orang, wisuda menjadi penutup perjalanan di bangku kuliah. Namun bagi Adi Satria, momen itu justru menjadi ruang untuk menoleh sejenak ke belakang, mengingat setiap proses yang telah dilalui, setiap kegagalan yang pernah ditemui, hingga setiap kesempatan yang perlahan membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih baik. Di penghujung masa studinya sebagai mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Ahmad Dahlan (UAD), ia dinobatkan sebagai salah satu Wisudawan Berprestasi Bidang Akademik Periode IV Tahun 2025/2026.

Penghargaan tersebut bukanlah sesuatu yang pernah ia bayangkan sebelumnya. Ketika namanya diumumkan, rasa syukur menjadi hal pertama yang memenuhi benaknya.

“Saya merasa sangat bersyukur dan tidak menyangka bisa memperoleh penghargaan ini. Bagi saya, pencapaian ini bukan hanya hasil kerja keras pribadi, tetapi juga buah dari doa, dukungan, dan kepercayaan banyak pihak, mulai dari orang tua, dosen, teman-teman, hingga lingkungan yang selalu mendorong saya untuk berkembang,” ungkap Adi.

Selama menempuh pendidikan di UAD, Adi dikenal aktif mengikuti berbagai kompetisi ilmiah. Berbagai prestasi berhasil ia torehkan, mulai dari Juara 1 Essay Ahmad Dahlan International Seminar #3, Juara 2 International Essay Competition CIUVEB, Juara 3 International Essay Competition AILEC Bidang Kesehatan, Juara 1 LETIN 4 Bidang Pangan, pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Riset Eksakta Tahun 2024, hingga sejumlah penghargaan lain di bidang karya tulis ilmiah dan business plan.

Meski perjalanan itu terlihat penuh prestasi, Adi mengakui bahwa ada banyak tantangan yang harus dihadapi. Membagi waktu antara kuliah, kompetisi, organisasi, hingga berbagai aktivitas akademik lainnya menjadi ujian yang terus berulang. Tidak jarang ia merasa kewalahan ketika berbagai tanggung jawab datang bersamaan.

Namun, dari situ ia belajar bahwa keberhasilan tidak selalu lahir dari kemampuan yang paling besar, melainkan dari kemampuan untuk tetap bertahan dalam proses. Ia mulai menyusun prioritas, mengelola waktu dengan lebih baik, dan tidak ragu berdiskusi dengan dosen maupun teman ketika menemui kesulitan.

Motivasi terbesar yang membuatnya terus melangkah adalah keyakinan bahwa masa kuliah merupakan ruang terbaik untuk bertumbuh.

“Saya percaya bahwa masa perkuliahan bukan hanya tentang memperoleh gelar, tetapi juga tentang membangun kapasitas diri. Saya ingin membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berusaha. Setiap prestasi yang saya raih menjadi pengingat bahwa kerja keras dan konsistensi akan selalu memberikan hasil,” tuturnya.

Di balik semua pencapaiannya, Adi menyebut orang tua sebagai sosok yang paling berpengaruh dalam perjalanan hidupnya. Dukungan, doa, dan pengorbanan mereka menjadi alasan untuk terus melangkah, bahkan ketika proses terasa berat. Ia juga mengapresiasi para dosen Program Studi Teknologi Pangan UAD yang telah memberikan bimbingan, kepercayaan, dan kesempatan untuk terus berkembang.

Selepas lulus, Adi berencana melanjutkan langkahnya di dunia industri pangan sebagai ruang untuk mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari selama di bangku kuliah. Ia juga bercita-cita melanjutkan pendidikan ke jenjang magister agar dapat terus berkontribusi dalam riset dan inovasi pangan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Bagi Adi, prestasi bukanlah tentang seberapa banyak piala yang berhasil dikumpulkan atau penghargaan yang berhasil diraih. Prestasi adalah tentang bagaimana setiap proses mampu membentuk karakter dan memberi manfaat bagi orang lain.

“Pelajaran hidup paling berharga yang saya dapatkan selama kuliah adalah bahwa proses jauh lebih penting daripada hasil. Tidak semua usaha akan langsung menghasilkan keberhasilan, tetapi setiap pengalaman selalu memberikan pembelajaran. Saya belajar untuk tidak takut gagal, karena sering kali kegagalan justru menjadi jalan menuju kesempatan dan pencapaian yang lebih besar,” Ujarnya.

Perjalanan Adi mungkin telah sampai pada satu garis akhir sebagai mahasiswa. Namun, gelar Wisudawan Berprestasi bukanlah penutup cerita. Ia justru menjadi awal dari perjalanan baru, sebuah perjalanan yang akan terus menuntunnya untuk belajar, berkarya, dan menghadirkan manfaat. Sebab pada akhirnya, yang paling dikenang bukanlah seberapa tinggi seseorang berdiri di atas panggung prestasi, melainkan seberapa banyak kebaikan yang ia tinggalkan dalam setiap langkahnya. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Adi-Satria-wisudawan-berprestasi-bidang-akademik-periode-IV-tahun-20252026-dari-Prodi-Teknologi-Pangan-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Adi.jpg.jpeg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-07 09:00:062026-08-10 11:03:56Di Balik Gelar Wisudawan Berprestasi, Ada Proses yang Tidak Mudah

Perjalanan Arivansi Mengubah Kegagalan Menjadi Ruang Bertumbuh

06/08/2026/in Feature /by Ard

Arivansi Ringu Kodi wisudawan terbaik FSBK Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Arivansi)

Rencana awal tidak selalu berjalan selaras dengan kenyataan. Kegagalan di masa lalu tidak menyurutkan langkah Arivansi Ringu Kodi untuk mengukir prestasi di perguruan tinggi. Bagi Arivan, alumnus Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Sastra, Budaya, dan Komunikasi (FSBK) angkatan 2022 Universitas Ahmad Dahlan (UAD), peraih predikat Wisudawan Terbaik FSBK UAD, perjalanan menuju bangku perkuliahan diawali dengan rentetan rasa kecewa. Sebelum melangkahkan kaki di UAD, ia harus menerima kenyataan pahit, yakni ditolak di lebih dari delapan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia. Kehilangan kesempatan berkuliah di perguruan tinggi impian sempat mendatangkan rasa kecewa dan keraguan saat ia harus memulai masa studi di tempat yang awalnya tidak masuk dalam rencana.

Namun, seiring berjalannya waktu, sudut pandang Arivan mulai bergeser. Ia menyadari bahwa penolakan beruntun bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah titik balik. Daripada terus menyesali apa yang tidak berhasil didapatkan, ia memilih untuk bangkit dan memaksimalkan setiap peluang yang ada di depan mata.

“Saya berkata kepada diri sendiri bahwa saya sudah memulai perjalanan ini, sehingga saya harus memberikan yang terbaik,” ucapnya. “saya memiliki prinsip, “Finish what you have started”. Ketika saya memutuskan untuk memulai sesuatu, saya harus bertanggung jawab menyelesaikannya. Saya juga selalu mengingatkan diri sendiri, “Take all the opportunities that come to you”. Saya percaya setiap kesempatan adalah ruang untuk belajar, bertumbuh, dan mengembangkan diri. Kesempatan tidak selalu datang dua kali, sehingga saya berusaha untuk tidak pernah menyia-nyiakannya.” Imbuhnya.

Selama menjalani masa kuliah, Arivansi menjadikan lirik lagu “Mirrorball” karya Taylor Swift, “All I do is try, try, try,” sebagai motivasinya untuk terus berusaha. Baginya, kalimat sederhana itu secara tepat menggambarkan proses hampir empat tahun di perguruan tinggi. Tidak semua ajang kompetisi berhasil ia menangkan dan tidak semua usaha berjalan mulus sesuai harapan. Namun, keberanian untuk terus mencoba, belajar, dan memperbaiki diri secara konsisten menjadi kunci yang membentuk proses perkuliahannya.

Selama menempuh studi di UAD, berbagai tantangan hadir menguji ketahanannya. Salah satu proses adaptasi yang paling membekas adalah statusnya sebagai seorang mahasiswa beragama Kristen yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi berbasis Islam Muhammadiyah. Pada awal masa perkuliahan, rasa canggung sempat muncul karena ia terbiasa berada di lingkungan yang mayoritas beragama Kristen. Kendati demikian, kekhawatiran tersebut sirna seiring berjalannya waktu. Arivansi justru menemukan ekosistem kampus yang sangat terbuka dan inklusif. Teman-temannya yang beragama Islam menerima dan merangkul kedatangannya dengan sangat baik, sehingga proses adaptasi sosial berjalan dengan lancar.

Sebagai pemeluk agama Kristen yang taat, Arivansi mengandalkan iman dan keyakinannya kepada Tuhan dalam menjalani setiap tahapan studi. Salah satu ayat Kitab Suci yang senantiasa menjadi pegangan hidupnya adalah Amsal 3:5 yang berbunyi,“Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.” Ayat ini menjadi pengingat baginya bahwa pertolongan Tuhan lah yang membuatnya tetap bertahan dan kuat melangkah hingga garis akhir.

Tantangan lainnya datang dari pengelolaan waktu. Di tengah padatnya jadwal perkuliahan, ia harus membagi energi untuk aktif di organisasi, mengikuti berbagai kompetisi, serta menyelesaikan berbagai tanggung jawab lainnya. Ketika rasa lelah atau burnout melanda di tengah tekanan yang bertubi-tubi, Arivansi memilih untuk tidak memaksakan diri. Mengambil jeda dan beristirahat sejenak menjadi caranya untuk memulihkan pikiran, sehingga ia bisa kembali bekerja dengan fokus yang lebih baik.

Komitmen untuk menyelesaikan apa yang telah dimulai akhirnya membuahkan hasil yang konkret. Mahasiswa FSBK ini tidak hanya berhasil menyabet predikat Wisudawan Terbaik Program Studi Ilmu Komunikasi UAD, tetapi juga dinobatkan sebagai Juara I Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) FSBK, serta menjadi Finalis Pilmapres di tingkat Universitas.

Di ranah kompetisi, jejak perjalanannya terentang luas. Arivansi berhasil meraih Juara I U-DARE 3.0 International Competition yang diselenggarakan oleh Universitas Syiah Kuala, Juara I International Presenter Ahmad Dahlan International Seminar, Juara II Ahmad Dahlan Youth Camp Competition, Juara II National Public Relations Campaign Competition Monalesa, serta terpilih menjadi delegasi UAD pada ajang National University Debating Championship (NUDC). Di samping itu, ia juga aktif berorganisasi sebagai Staf Khusus Kementerian Agama BEM UAD dan pengurus Divisi Public Relations Debating Community UAD.

Rangkaian prestasi ini tidak lepas dari perkuliahan di UAD yang dinilainya sangat kondusif. Kampus menyediakan ruang yang memadai bagi mahasiswa untuk mengasah potensi akademik maupun nonakademik. Peran para dosen, khususnya di Program Studi Ilmu Komunikasi, dirasakannya sangat besar. Dosen tidak hanya berperan mengajar di dalam kelas, tetapi juga memberikan arahan, motivasi, serta kepercayaan penuh bagi mahasiswa untuk mengeksplorasi kemampuan diri.

Pencapaian gelar Wisudawan Terbaik mendatangkan perasaan bahagia, bangga, sekaligus terharu bagi Arivansi. Baginya, capaian ini menjadi bukti bahwa perjuangan, kerja keras, dan pengorbanan selama masa studi tidak berlalu dalam sia-sia. Meski demikian, Arivansi menegaskan bahwa penghargaan tersebut bukan semata-mata milik pribadinya. Predikat wisudawan terbaik dimaknai sebagai bentuk rasa syukur atas hadirnya orang-orang yang senantiasa memberikan dukungan–orang tua, keluarga, dosen, sahabat, serta kawan-kawan yang membersamainya sepanjang proses studi.

“Jangan menunggu sampai merasa benar-benar siap, karena sering kali kita justru bertumbuh di dalam prosesnya. Gunakan masa kuliah bukan hanya untuk mengejar nilai, tetapi juga membangun karakter, memperluas pengalaman, dan mengembangkan kemampuan diri melalui organisasi maupun kompetisi,” pesannya.

Ia juga menekankan pentingnya untuk tidak membandingkan perjalanan pribadi dengan pencapaian orang lain. Fokus utama yang perlu dijaga adalah menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin, dengan keyakinan bahwa setiap usaha yang dilakukan secara sungguh-sungguh tidak akan pernah sia-sia. (Anove)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Arivansi-Ringu-Kodi-wisudawan-terbaik-FSBK-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Arivansi.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-06 10:25:412026-08-06 10:25:41Perjalanan Arivansi Mengubah Kegagalan Menjadi Ruang Bertumbuh

Prestasi Bukan Soal Angka, tetapi Dampak yang Diberikan

06/08/2026/in Feature /by Ard

Muqoyyimul Hisyam Ar Ridlo, mahasiswa berprestasi Prodi Teknik Industri Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Ridlo)

Bagi Muqoyyimul Hisyam Ar Ridlo, mahasiswa Program Studi Teknik Industri Universitas Ahmad Dahlan (UAD), menyandang predikat mahasiswa berprestasi menjadi pencapaian yang penuh makna. Putra pasangan Jamadi dan Ayunda ini membuktikan bahwa prestasi tidak selalu ditentukan oleh indeks prestasi kumulatif (IPK), melainkan oleh semangat untuk terus berkarya dan memberikan manfaat bagi orang lain. Dengan IPK 2,96, Hisyam berhasil menorehkan berbagai prestasi tingkat nasional hingga internasional selama menempuh pendidikan di UAD.

“Sebagai salah satu mahasiswa berprestasi, saya merasa sangat bersyukur atas dukungan dari Universitas Ahmad Dahlan dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia. Tanpa dukungan tersebut, pencapaian yang saya raih belum tentu dapat terwujud. Status mahasiswa berprestasi ini juga menjadi motivasi bagi saya untuk melanjutkan karier maupun pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi,” ungkapnya.

Selama berkuliah, Hisyam aktif mengikuti berbagai kompetisi, penelitian, hingga kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Sejumlah prestasi yang berhasil diraihnya antara lain Awardee Beasiswa KIP-Kuliah oleh Kemdiktisaintek RI (2021), Juara I Lomba Fotografi Nasional Universitas Negeri Yogyakarta (2021), Juara II Lomba Sketch Building Masjid Islamic Center UAD yang diselenggarakan IMM Psikologi UAD, Silver Medal Inventors Day oleh Indonesian Innovation and Invention Promotion Association (2022), penerima pendanaan Proposal Tim PPK Ormawa UKM Pramuka dari Kemdiktisaintek RI (2023), Awardee Bronze Medal Abdidaya PPK Ormawa Kemdiktisaintek RI (2023), Finalis National Business Plan Competition Universitas Mataram (2023), penerima pendanaan Proposal Riset PKM-KC Kemdiktisaintek RI (2024), Best International Presenter Ahmad Dahlan International Youth Camp (2024), serta menjadi inisiator dan ketua pada empat kegiatan pengabdian masyarakat di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah pada 2025.

Di balik berbagai pencapaian tersebut, Hisyam mengaku tidak selalu melalui perjalanan yang mudah. Baginya, tantangan terbesar selama menjalani perkuliahan bukanlah akademik, melainkan menjaga kesehatan mental agar tetap stabil di tengah berbagai aktivitas yang dijalani.

“Tantangan terberat saya selama kuliah adalah mengorganisasi mental health. Ketika kondisi mental terjaga, saya bisa lebih fokus dalam belajar maupun mengembangkan potensi diri,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa kritik justru menjadi sumber motivasi terbesar dalam setiap proses yang dijalaninya. Menurutnya, kritik bukan sesuatu yang harus dihindari, melainkan bahan evaluasi agar mampu terus berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.

Dalam mengembangkan diri, Hisyam menerapkan strategi yang sederhana, tetapi konsisten. Ia meyakini bahwa setiap individu memiliki kelebihan yang berbeda sehingga penting untuk mengenali kemampuan diri sendiri sebelum menentukan langkah.

“Saya selalu menerapkan pola pikir bahwa menganalisis kemampuan diri itu penting. Cara meningkatkan value diri adalah dengan terus mengembangkan kemampuan yang memang kita kuasai, bukan memaksakan diri pada hal-hal yang belum menjadi keahlian kita,” jelasnya.

Keberhasilannya juga tidak lepas dari dukungan orang-orang terdekat. Hisyam menyebut kedua orang tua serta dosen pembimbing sebagai sosok yang paling berperan dalam membentuk pola pikir, karakter, dan semangatnya untuk terus bertumbuh.

Hisyam bertekad melanjutkan studi magister melalui jalur beasiswa sekaligus membangun karier profesional yang matang sesuai kompetensi yang dimilikinya. Baginya, pendidikan dan pengalaman harus berjalan beriringan agar dapat memberikan kontribusi yang lebih luas bagi masyarakat.

Hisyam memaknai prestasi bukan sekadar deretan penghargaan atau pengakuan, melainkan sejauh mana seseorang mampu memberikan dampak positif melalui apa yang dikerjakannya. “Bagi saya, makna prestasi dan kesuksesan adalah ketika apa pun yang saya lakukan dalam suatu forum mampu memberikan manfaat dan dampak positif bagi orang-orang di sekitar,” tuturnya.

Menurutnya, capaian seseorang tidak bisa diukur hanya dari angka IPK semata.

“IPK saya tidak berada di atas 3,00, tetapi gelar mahasiswa berprestasi menjadi bukti bahwa setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda. Kesuksesan bukan hanya soal nilai akademik, melainkan seberapa besar dampak yang bisa kita berikan bagi diri sendiri maupun orang lain,” pungkasnya.

Ia juga berharap Universitas Ahmad Dahlan terus berkembang menjadi salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia serta mampu memberikan fasilitas yang semakin optimal bagi mahasiswa, baik dalam bidang akademik maupun nonakademik. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Muqoyyimul-Hisyam-Ar-Ridlo-mahasiswa-berprestasi-Prodi-Teknik-Industri-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Ridlo.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-06 10:03:262026-08-06 10:03:26Prestasi Bukan Soal Angka, tetapi Dampak yang Diberikan

Fredo: Bukan Tentang Siapa Paling Hebat

06/08/2026/in Feature /by Ard

Fredo Meical Cibro wisudawan berprestasi bidang akademik periode IV tahun 2026 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Fredo)

Berawal dari keinginan sederhana untuk mengisi waktu luang dengan kegiatan yang bermanfaat, Fredo Meical Cibro, putra Nelson Cibro dan Resni Banurea, kini berhasil menorehkan prestasi sebagai Wisudawan Berprestasi Bidang Akademik Periode IV Tahun 2026 Universitas Ahmad Dahlan (UAD).

Mahasiswa Biologi dengan IPK 3,60 itu telah menorehkan berbagai prestasi selama menempuh pendidikan di UAD. Di antaranya   Medali Emas Olimpiade Sains Tingkat Nasional Bertajuk Kompetisi Sains Pelajar Se-Indonesia (KSPI) Bidang Sejarah (2023), Medali Emas Olimpiade Sains Tingkat Nasional Bertajuk Kompetisi Sains Pelajar Se-Indonesia (KSPI) Bidang Bahasa Indonesia (2023), Lolos Pendanaan Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) sebagai Tim Pelaksana BEM FAST Kampung Iklim (2024), Finalis Abdidaya Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) sebagai Tim Pelaksana BEM FAST Kampung Iklim (2024), Penulis Artikel Pertama yang dipublikasikan pada Jurnal UMS terindeks SINTA 3 (2026), Juara III Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional CEMPITA Bidang Teknologi (2024), Juara II Lomba Esai Gebyar Nasional Essay Siswa dan Mahasiswa 2 (GENESIS 2) Bidang Teknologi (2024), Harapan III Lomba Semarak Esai Pemuda Nasional I Bidang Teknologi (2024), Best Supporter Lomba Semarak Esai Pemuda Nasional I Bidang Teknologi (2024), dan Medali Perak Kompetisi Sains Pelajar Se-Indonesia (KSPI) Bidang Sejarah (2025).

Dari seluruh capaian tersebut, pengalaman yang paling membekas baginya adalah ketika berhasil memperoleh pendanaan PPK Ormawa. Program yang dijalankan selama satu tahun itu menjadi ruang belajar yang penuh tantangan dan dinamika. Di sisi lain, keberhasilannya menerbitkan jurnal ilmiah secara mandiri juga menjadi pencapaian yang sangat berarti karena seluruh proses bergantung pada kedisiplinan dan kerja keras dirinya sendiri.

Di balik berbagai prestasi itu, Fredo mengaku bahwa motivasi awalnya sangat sederhana. Ia hanya ingin mengisi waktu luang dengan kegiatan yang bermanfaat. Seiring waktu, semangatnya tumbuh setelah melihat banyak teman, khususnya penerima beasiswa KIP- Kuliah, berhasil mengukir prestasi dan tampil di media sosial UAD.

Meski demikian, perjalanan menuju prestasi tidak selalu berjalan mulus. Tantangan terbesar justru datang dari dalam dirinya sendiri. Fredo mengakui bahwa ia merupakan pribadi yang mudah berubah suasana hati sehingga kerap kesulitan menjaga konsistensi.

Untuk mengatasi hal tersebut, ia memiliki cara sederhana namun efektif. Ketika semangatnya mulai menurun, ia membuka media sosial dan melihat perjuangan teman-temannya yang terus berkarya. Baginya, melihat orang lain berusaha menjadi versi terbaik dirinya mampu membangkitkan motivasi untuk kembali melangkah.

Menariknya, Fredo tidak menyebut satu nama tertentu sebagai sosok yang paling berjasa dalam keberhasilannya. Selain orang tua dan keluarga, ia justru merasa terinspirasi oleh banyak orang di sekitarnya.

“Sosok yang paling berperan adalah semua orang yang berusaha menjadi versi terbaik dirinya sendiri dan membagikan proses perjuangannya. Dari mereka saya belajar bahwa setiap orang memiliki perjuangan masing-masing dan itu menjadi motivasi bagi saya,” tuturnya.

Dalam menjalani setiap proses, Fredo selalu berusaha belajar dari kesalahan, menyusun perencanaan yang matang, serta tidak ragu bertanya kepada orang yang lebih berpengalaman. Menurutnya, kemampuan untuk terus belajar merupakan kunci agar seseorang tidak berhenti berkembang.

Fredo telah menyiapkan sejumlah target. Dalam waktu dekat, Fredo berencana mengikuti kursus bahasa Inggris secara luring dan menunggu hasil seleksi Magang Hub. Apabila belum memperoleh kesempatan tersebut, ia akan mempersiapkan diri untuk melanjutkan studi magister melalui beasiswa di luar negeri.

Bagi Fredo, prestasi bukan semata-mata tentang penghargaan atau pengakuan. Ia memaknai kesuksesan sebagai keberanian untuk memberikan usaha terbaik dan memenangkan pertarungan melawan diri sendiri.

“Ketika saya sudah berjuang dan mempersiapkan semuanya dengan sebaik mungkin, bagi saya itulah kesuksesan. Apa pun hasil akhirnya, saya merasa sudah berhasil mengalahkan diri saya sendiri,” katanya.

Selama menempuh studi di UAD, Fredo juga memperoleh pelajaran hidup yang sangat berharga, yaitu tidak pernah meremehkan siapa pun. Ia menyadari bahwa setiap orang memiliki potensi dan perjalanan yang berbeda. Karena itu, ia menyampaikan rasa terima kasih kepada teman-temannya yang tetap menerima, mendukung, dan membersamainya, bahkan ketika ia berada pada titik terburuk dalam hidupnya.

“Saya sangat berterima kasih kepada teman-teman yang tetap sabar dan mau menerima saya, bahkan ketika saya belum menjadi pribadi yang baik. Dukungan mereka membuat saya terus berkembang hingga seperti sekarang,” ungkapnya.

Fredo berharap UAD terus meningkatkan ruang kolaborasi dengan menindaklanjuti aspirasi mahasiswa secara optimal. Ia juga berharap adanya kesetaraan dalam penerapan kebijakan bagi mahasiswa non-Islam di seluruh fakultas sehingga setiap mahasiswa memperoleh perlakuan yang adil sesuai ketentuan yang berlaku.

Kisah Fredo Meical Cibro menjadi pengingat bahwa prestasi tidak selalu lahir dari langkah yang besar. Berawal dari keinginan sederhana untuk memanfaatkan waktu luang, ia membuktikan bahwa kerja keras, konsistensi, dan kemauan untuk terus memperbaiki diri mampu mengantarkan seseorang meraih pencapaian terbaik. Sebab, kemenangan yang sesungguhnya bukanlah mengalahkan orang lain, melainkan berhasil menjadi pribadi yang lebih baik dari diri sendiri setiap harinya. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Fredo-Meical-Cibro-wisudawan-berprestasi-bidang-akademik-periode-IV-tahun-2026-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Fredo.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-06 09:25:022026-08-06 09:25:02Fredo: Bukan Tentang Siapa Paling Hebat

Gerakan Shadaqah Sampah: Ikhtiar Muhammadiyah Menjaga Kesehatan Lingkungan

03/08/2026/in Feature /by Ard

Nur Aina Azizah., S.K.M., Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan (UAD)

Penulis Nur Aina Azizah., S.K.M.

Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan (UAD)

Sampah masih menjadi salah satu persoalan kesehatan lingkungan yang paling nyata di Indonesia. Jika tidak dikelola dengan baik, sampah dapat mencemari sungai, menyumbat saluran air, dan meningkatkan risiko berbagai penyakit, termasuk diare dan demam berdarah. Karena itu, persoalan sampah tidak lagi bisa dipandang sekadar urusan kebersihan, melainkan sudah menyangkut kesehatan masyarakat secara luas.

Persoalan sampah sesungguhnya bukan hanya berkaitan dengan kemampuan mengelola limbah, tetapi juga cara pandang manusia terhadap lingkungan. Selama sampah dianggap sebagai sesuatu yang selesai ketika dibuang, persoalan itu akan terus berulang. Yang dibutuhkan bukan sekadar teknologi, melainkan perubahan perilaku.

Di tengah persoalan tersebut, Muhammadiyah menghadirkan ikhtiar yang berbeda melalui Gerakan Shadaqah Sampah Berbasis Eco-Masjid Indonesia. Dalam gerakan ini, sampah tidak dipandang semata-mata sebagai limbah, melainkan dikumpulkan, dipilah, dan dijual, lalu hasilnya disalurkan untuk kegiatan sosial serta pemberdayaan umat.

Gerakan yang dirintis Ananto Isworo sejak 2013 di Bantul, Yogyakarta, ini kembali mendapat sorotan setelah ia dianugerahi Kalpataru 2026 kategori Perintis Lingkungan. Penghargaan tertinggi pemerintah di bidang lingkungan hidup itu menegaskan bahwa pendekatan berbasis masjid ini bukan sekadar gagasan, melainkan ikhtiar nyata yang memberi dampak.

Cara kerjanya sederhana. Warga memilah sampah anorganik seperti plastik, kertas, dan kaleng dari rumah, lalu membawanya ke masjid sebagai bentuk shadaqah. Dari titik kumpul yang sederhana itulah gerakan ini tumbuh dan meluas ke berbagai daerah.

Menurut Ananto, sebagaimana dikutip dari Muhammadiyah.or.id, pendekatan penanganan sampah dapat dilakukan melalui jalur keagamaan dan rumah ibadah. Ia menyebut gerakan ini telah direplikasi oleh ratusan komunitas, dengan sekitar 532 komunitas di Bantul dan menyebar hingga sekitar 300 masjid di seluruh Indonesia.

Bagi Muhammadiyah, menjaga lingkungan bukan sekadar persoalan teknis kesehatan, melainkan bagian dari ibadah, amanah, dan tanggung jawab moral manusia sebagai khalifah di bumi. Lingkungan yang sehat diyakini menjadi kunci lahirnya masyarakat yang sehat pula, sehingga nilai-nilai Islam perlu hadir dalam perilaku nyata, mulai dari pengelolaan sampah, kebersihan udara, sanitasi, hingga pencegahan pencemaran.

Yang membuat gerakan ini istimewa adalah Landasan nilainya. Dalam Islam, shadaqah tidak selalu berbentuk uang; setiap kebaikan yang memberi manfaat bagi orang lain juga bernilai shadaqah. Karena itu, memilah sampah dan merawat lingkungan dapat dipahami sebagai amal saleh. Dakwah pun tidak berhenti di mimbar, tetapi hadir melalui tindakan nyata yang manfaatnya langsung dirasakan warga.

Muhammadiyah menjadikan masjid sebagai pusat gerakan karena tempat inilah yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat. Dari sana lahir kebiasaan baru seperti memilah sampah dari rumah, membawanya ke masjid, lalu bersama-sama membangun kesadaran kolektif bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah.

Dampaknya tidak hanya terasa pada aspek lingkungan. Hasil penjualan sampah di berbagai daerah dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan remaja masjid, membantu biaya pendidikan anak-anak, hingga membiayai program sosial. Di sejumlah komunitas, penggunaan mesin pencacah sampah juga meningkatkan nilai jual sampah sehingga manfaat ekonominya semakin besar.

Dari sisi kesehatan lingkungan, gerakan ini membantu menekan volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir atau mencemari sungai. Gerakan ini juga membiasakan warga memilah sampah sejak dari sumbernya, sebuah langkah kecil yang menjadi fondasi penting dalam sistem pengelolaan sampah berkelanjutan.

Dalam perspektif kesehatan masyarakat, pengelolaan sampah sejak dari sumber merupakan salah satu strategi promotif dan preventif yang efektif. Ketika masyarakat terbiasa memilah sampah dari rumah, risiko pencemaran lingkungan dapat ditekan sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Ananto sendiri menegaskan bahwa penghargaan bukanlah tujuan utama. Baginya, semua ini dijalankan karena “bumi adalah amanah dari Allah yang harus dijaga”. Dari selembar kardus bekas hingga botol plastik yang dipilah, gerakan ini membuktikan bahwa dakwah bisa hadir lewat aksi sederhana: mengubah sampah menjadi shadaqah, sekaligus mengubah kepedulian lingkungan menjadi budaya hidup yang diakui secara nasional.

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Nur-Aina-Azizah.-S.K.M.-Mahasiswa-Magister-Kesehatan-Masyarakat-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-08-03 08:49:472026-08-10 10:28:58Gerakan Shadaqah Sampah: Ikhtiar Muhammadiyah Menjaga Kesehatan Lingkungan

Memaknai Hakikat Penciptaan dan Urgensi Menuntut Ilmu

29/07/2026/in Feature /by Ard

Kajian Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan pembicara Ustaz Muhammad Arief Ash-Shafi (Foto. Ana)

Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menggelar agenda rohani rutin bagi sivitas akademika dan masyarakat luas melalui Kajian Rutin Ahad Pagi. Bertempat di Masjid Islamic Center UAD pada Ahad, 12 Safar 1448 H / 26 Juli 2026 M, kegiatan ini menghadirkan penceramah Ustaz Muhammad Arief Ash-Shafi, Lc. yang mengupas tuntas tema krusial bertajuk “Ilmu Wajib”.

Dalam pemaparannya, kajian dibuka dengan mengingatkan kembali esensi utama kehadiran manusia di muka bumi. Mengutip ayat Al-Qur’an dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 56, dijelaskan bahwa tujuan penciptaan manusia tidak lain adalah untuk beribadah dan menghamba sepenuhnya kepada Allah SWT.

“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku,” terangnya saat menjabarkan makna lil-hashr dalam tata bahasa Arab yang menegaskan bahwa tidak ada tujuan lain penciptaan manusia selain beribadah.

Lebih lanjut, ditekankan pula bahwa konsep ibadah tidak boleh disempitkan hanya pada ritual vertikal seperti salat, zakat, atau puasa saja. Ibadah mencakup seluruh bentuk interaksi vertikal maupun horizontal, yang intinya adalah kepatuhan mutlak seorang hamba terhadap segala perintah dan larangan Sang Pencipta.

Oleh karena itu, tugas utama seorang hamba yang berkedudukan sebagai khalifah di bumi adalah mengenali batasan-batasan tersebut. Di sinilah urgensi menuntut ilmu menjadi fondasi yang tidak bisa ditawar.

“Tugas pertama seorang hamba adalah mengetahui perintah dan larangan Allah SWT,” tegasnya. Pemahaman keliru di tengah masyarakat mengenai definisi ilmu wajib turut diluruskan. Ilmu yang diwajibkan oleh Rasulullah SAW melalui sabdanya “talabul ‘ilmi faridatun ‘ala kulli muslim” bukanlah ilmu formal umum seperti matematika, melainkan ilmu mendasar terkait hal yang dihukumi wajib dan haram bagi seorang Muslim.

Kajian ini turut mengingatkan para jemaah bahwa kebodohan atau alasan “tidak tahu” tidak dapat dijadikan pembelaan di hadapan Allah SWT kelak. Berbeda dengan kondisi khusus seperti anak-anak yang belum balig, orang tidur, orang gila, atau seseorang yang bertindak karena berada dalam tekanan paksaan, ketidaktahuan akibat enggan belajar ilmu agama tidaklah menggugurkan akuntabilitas amal.

Melalui penyelenggaraan Kajian Rutin Ahad Pagi ini, diharapkan jemaah dan masyarakat muslim dapat terus meningkatkan kesadaran spiritual serta menjadikan pencarian ilmu agama sebagai prioritas utama dalam menjalani kehidupan sehari-hari yang diridai Allah SWT. (Ana)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Kajian-Ahad-Pagi-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-dengan-pembicara-Ustaz-Muhammad-Arief-Ash-Shafi-Foto.-Ana.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-07-29 09:38:472026-07-29 09:38:47Memaknai Hakikat Penciptaan dan Urgensi Menuntut Ilmu

Empat Pilar Keselamatan Dunia dan Akhirat untuk Keluarga

28/07/2026/in Feature /by Ard

Kajian Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan pembicara Ustaz Rofiul Wahyudi (Foto. Mawar)

Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menggelar Kajian Ahad Pagi pada, 19 Juli 2026. Pada kesempatan tersebut, Ustaz Rofiul Wahyudi, S.E.I., M.E.I., Ph.D., anggota Majelis Tabligh PWM DIY sekaligus dosen Perbankan Syariah UAD, menyampaikan materi bertajuk “Empat Pilar Keselamatan Dunia dan Akhirat untuk Keluarga.”

Dalam ceramahnya, Ustaz Rofiul mengajak jemaah untuk terus berupaya membangun keluarga yang tidak hanya bahagia di dunia, tetapi juga memperoleh keselamatan di akhirat. Menurutnya, setiap keluarga perlu menjaga empat pilar utama agar kehidupan rumah tangga senantiasa berada dalam keberkahan Allah Swt.

Pilar pertama yang disampaikan adalah menjaga akidah dan ibadah. Ia menegaskan bahwa identitas seorang muslim harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya melalui komitmen menutup aurat sesuai syariat. Menurutnya, menjaga identitas keislaman tidak cukup dilakukan ketika berada di masjid atau pengajian, tetapi juga harus diwujudkan dalam aktivitas sehari-hari sebagai bentuk keteguhan akidah.

Selain menjaga akidah, Ustaz Rofiul menjelaskan bahwa seluruh aktivitas dapat bernilai ibadah apabila diniatkan karena Allah. Menuntut ilmu, bekerja mencari nafkah, makan, minum, hingga beristirahat dapat menjadi ibadah selama dilakukan dengan niat yang benar. Oleh sebab itu, umat Islam didorong untuk selalu memperbaiki niat dalam setiap aktivitas kehidupan.

Pilar kedua adalah menjaga semangat belajar ilmu agama. Menurutnya, kewajiban menuntut ilmu tidak mengenal batas usia. Ia mengajak masyarakat untuk terus mengikuti majelis ilmu, membaca Al-Qur’an, mempelajari hadis, serta tidak ragu bertanya kepada para ulama ketika menemui persoalan agama. “Ilmu agama menjadi bekal penting agar setiap ibadah yang dilakukan sesuai dengan tuntunan syariat,” ujarnya.

Selanjutnya, Ustaz Rofiul mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan fisik sebagai pilar ketiga. Ia menuturkan bahwa kesehatan merupakan modal utama dalam menjalankan ibadah dan aktivitas sehari-hari. Karena itu, masyarakat diimbau menjaga pola makan, memperhatikan jenis makanan yang dikonsumsi, serta mengatur jumlah makanan secara proporsional agar tubuh tetap sehat dan produktif.

Pilar terakhir adalah menjaga maisyah atau kondisi ekonomi keluarga. Menurutnya, Islam mengajarkan sikap qanaah (merasa cukup) dan bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah Swt. Sikap tersebut menjadi benteng agar seseorang tidak mudah tergoda gaya hidup konsumtif yang berlebihan. Ia juga mengajak jemaah untuk meneladani kesederhanaan Rasulullah saw. dalam menjalani kehidupan.

Menjelang akhir kajian, Ustaz Rofiul kembali menegaskan bahwa keempat pilar tersebut saling berkaitan dalam membentuk keluarga yang kokoh, harmonis, serta memperoleh kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Kajian-Ahad-Pagi-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-dengan-pembicara-Ustaz-Rofiul-Wahyudi-Foto.-Mawar.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-07-28 08:59:002026-07-28 08:59:00Empat Pilar Keselamatan Dunia dan Akhirat untuk Keluarga

Mewujudkan Takwa dan Akhlak Mulia

26/07/2026/in Feature /by Ard

Kajian Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan pembicara Ustaz Fajar Rachmadhani (Foto. Mawar)

Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menggelar Kajian Ahad Pagi yang menghadirkan Ustaz Fajar Rachmadhani, Lc., M.Hum., Ph.D., anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Mengangkat tema “Takwa dan Akhlak Mulia”, kajian ini mengajak jemaah memahami hakikat ketakwaan sekaligus pentingnya membangun akhlak sebagai fondasi kehidupan seorang muslim.

Dalam pemaparannya, Ustaz Fajar mengawali kajian dengan mengulas hadis ke-18 dalam kitab Arba’in An-Nawawi yang berbunyi, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada, iringilah keburukan dengan kebaikan niscaya kebaikan itu akan menghapusnya, dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.”

Menurutnya, takwa bukan sekadar menjalankan ibadah, tetapi merupakan sikap hati-hati dalam menjalani kehidupan. Ia mengutip penjelasan sahabat Umar bin Khattab yang mengibaratkan takwa seperti seseorang yang berjalan di jalan gelap penuh duri sehingga harus melangkah dengan penuh kewaspadaan agar tidak terluka.

“Takwa adalah bentuk kehati-hatian kita dalam menjalani kehidupan. Kita harus berhati-hati terhadap perkara yang halal, haram, maupun syubhat agar tidak terjerumus dalam kemaksiatan,” jelasnya.

Ia juga menyampaikan pandangan Ali bin Abi Thalib bahwa takwa berarti takut kepada Allah. Namun, rasa takut tersebut bukan membuat seseorang menjauh dari Allah, melainkan semakin mendekat melalui ibadah dan amal saleh. Sementara itu, menurut Ibnu Umar, seseorang yang bertakwa tidak akan merasa dirinya lebih baik daripada orang lain.

Lebih lanjut, Ustaz Fajar menegaskan bahwa ketakwaan harus diwujudkan dalam setiap kondisi, baik ketika berada di tengah keramaian maupun saat sendirian. Menurutnya, menjaga ketakwaan ketika tidak ada seorang pun yang melihat justru menjadi ujian terbesar bagi seorang hamba.

“Manusia mungkin bisa tertipu oleh pencitraan, tetapi Allah mengetahui segala sesuatu, termasuk apa yang kita lakukan saat tidak ada orang lain,” ujarnya.

Selain membahas makna takwa, ia juga menyoroti pentingnya keikhlasan dalam beramal. Ia menjelaskan bahwa salah satu ciri orang yang ikhlas ialah kualitas amalnya tetap sama, baik ketika dipuji maupun dicela, serta ketika dilakukan secara terbuka maupun tersembunyi.

Dalam kesempatan tersebut, Ustaz Fajar mengingatkan bahaya melakukan dosa secara terang-terangan atau membanggakan kemaksiatan. Ia menjelaskan bahwa Rasulullah saw. menyebut perilaku tersebut sebagai mujahir, yaitu orang yang membuka sendiri aib dan dosa yang telah Allah tutupi.

“Kalau seseorang masih malu ketika berbuat dosa, berarti iman dan rasa malunya masih hidup. Namun ketika dosa dilakukan terang-terangan dan bahkan dibanggakan, itu menjadi tanda yang sangat berbahaya,” ungkapnya.

Sebagai solusi, ia mengajak jemaah untuk senantiasa memperbanyak amal saleh sebagai bentuk penghapus dosa-dosa kecil. Ia menegaskan bahwa setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, tetapi Allah membuka pintu taubat seluas-luasnya bagi hamba yang sungguh-sungguh kembali kepada-Nya.

Pada akhir kajian, Ustaz Fajar menekankan bahwa akhlak mulia merupakan bukti nyata ketakwaan seseorang. Menurutnya, ilmu pengetahuan yang tinggi tidak akan memberikan manfaat apabila tidak disertai akhlak yang baik.

“Orang pintar banyak, tetapi orang berilmu yang berakhlak mulia justru semakin langka. Karena itu, yang harus kita bangun bukan hanya kecerdasan intelektual, tetapi juga karakter dan akhlak,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan para orang tua agar tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik anak, tetapi lebih mengutamakan pembentukan akhlak, keimanan, dan kebiasaan beribadah sebagai bekal kehidupan dunia maupun akhirat. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Kajian-Ahad-Pagi-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-dengan-pembicara-Ustaz-Fajar-Rachmadhani-Foto.-Mawar.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-07-26 08:00:522026-07-27 08:54:51Mewujudkan Takwa dan Akhlak Mulia

Pengobatan Klenik Modern dan Ancaman bagi Akidah

25/07/2026/in Feature /by Ard

Nur Utami Hidayati mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Nur Utami)

Penulis: Nur Utami Hidayati (Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat) Universitas Ahmad Dahlan (UAD)

Di tengah kemajuan dunia kesehatan modern, pesona pengobatan klenik masih memiliki tempat di hati masyarakat. Ketika layanan kesehatan semakin berkembang, teknologi kedokteran semakin canggih, dan akses informasi kesehatan semakin mudah, praktik-praktik pengobatan klenik tetap diminati. Mungkin masih segar diingatan kita  kasus menghebohkan dukun cilik Ponari, hingga praktik supranatural Ningsih Tinampi, fenomena ini menggambarkan bahwa masyarakat masing sangat mempercayai pengobatan klenik. Di berbagai daerah, masih banyak pula paranormal, dukun, “orang pintar”, hingga praktisi metafisika yang menawarkan pengobatan untuk kesembuhan berbagai penyakit.

Sebenarnya apa itu pengobatan klenik? Menurut Kamus Bahasa Indonesia klenik memiliki arti  kegiatan perdukunan dengan cara-cara yang sangat rahasia dan tidak masuk akal, tetapi dipercayai oleh banyak orang. Dalam kehidupan masyarakat, istilah klenik merujuk pada berbagai praktik yang mengandalkan kekuatan mistis, mantra, jimat, komunikasi dengan makhluk gaib, atau ritual tertentu yang diyakini dapat memberikan kesembuhan, keberuntungan, perlindungan, maupun solusi atas berbagai persoalan kehidupan. Dengan demikian, pengobatan klenik dapat dipahami sebagai bentuk pengobatan yang menggunakan praktik-praktik gaib atau perdukunan sebagai sarana memperoleh kesembuhan.

Pengobatan klenik bukanlah fenomena baru. Masyarakat Nusantara telah mengenal praktik ini  sejak sebelum masuknya agama-agama besar yaitu ketika masyarakat masih menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Kepercayaan tersebut kemudian diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya sebagai amanah turun-temurun. Tradisi yang diwariskan turun-temurun inilah yang menyebabkan praktik klenik tetap bertahan, meskipun tidak seluruhnya sejalan dengan ajaran Islam maupun ilmu pengetahuan modern.

Praktik pengobatan klenik berkembang dalam berbagai bentuk, sebagian dilakukan secara terang-terangan, sebagian lagi dikemas dengan istilah religius atau ilmiah dan bertransformasi mengikuti perkembangan zaman agar lebih mudah diterima masyarakat.

Beberapa jenis klenik

Pengobatan melalui dukun atau paranormal, biasanya dukun atau paranormal ini  mengaku mampu mengetahui penyebab penyakit melalui kemampuan gaib, kemudian melakukan ritual tertentu sebagai sarana penyembuhan yaitu dengan membaca jampi-jampi , meniup air, memindahkan penyakit ke hewan atau benda tertentu serta mengaku bisa melihat makhluk halus penyebab penyakit.

Jimat, pasien diberikan benda tertentu yang diyakini mempunyai kekuatan penyembuh seperti cincin, rajah, keris, dan lain-lain.

Pengobatan melalui ritual tertentu seperti berendam tengah malam, menyediakan sesajen, berpuasa tidak sesuai dengan syariat, dan lain-lain

Pengobatan berkedok agama seperti mencampurkan ayat Al-Qur’an dengan mantra, memberikan rajah Arab yang tidak dipahami maknanya atau mengaku memiliki khodam wali.

Pengobatan klenik digital, era media sosial melahirkan bentuk baru pengobatan klenik seperti transfer energi jarak jauh, terapi aura, penyembuhan melalui video call, konsultasi supranatural melalui WhatsApp atau pembukaan cakra secara daring

Fatwa Muhammadiyah

Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid secara konsisten mengajak umat Islam untuk memurnikan akidah dari praktik tahayul, bid’ah, dan khurafat. Majelis Tarjih Muhammadiyah dengan tegas mengeluarkan fatwa haram terhadap pengobatan berbasis supranatural destruktif/klenik.

Dalam berbagai fatwa dan putusan tarjih dijelaskan bahwa seorang muslim wajib bertawakal hanya kepada Allah Swt. dan tidak boleh meyakini adanya kekuatan gaib yang berasal dari selain-Nya. Penyakit dan kesembuhan berada sepenuhnya di bawah kehendak dan kekuasaan Allah Swt.

Seperti firman Allah Swt.:

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.”
(QS. Al-Fatihah [1]: 5)

“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.”
(QS. Asy-Syu’ara’ [26]: 80).

Dalam himpunan putusan tarjih Muhammadiyah dan berbagai fatwa tarjih, ditegaskan pula bahwa praktik perdukunan, penggunaan jimat, ramalan, serta pengobatan yang meminta bantuan jin atau kekuatan gaib termasuk perbuatan yang bertentangan dengan prinsip tauhid.

Seperti firman Allah Swt.:

“Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu hanya menambah bagi mereka dosa dan kesesatan.”
(QS. Al-Jin [72]: 6)

Islam mengajarkan bahwa setiap penyakit memiliki sebab dan Allah Swt. menyediakan obatnya. Oleh karena itu, umat Islam diperintahkan untuk berikhtiar mencari pengobatan yang benar yaitu pengobatan yang halal, tidak menimbulkan bahaya, tidak mengandung unsur sirik, dilakukan melalui cara-cara yang sesuai dengan syariat dan berdasarkan ilmu pengetahuan.

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Nur-Utami-Hidayati-mahasiswa-Magister-Kesehatan-Masyarakat-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Nur-Utami.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-07-25 08:00:452026-07-27 08:41:09Pengobatan Klenik Modern dan Ancaman bagi Akidah

Olahraga dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadis

24/07/2026/in Feature /by Ard

Kajian Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan pemateri Ustaz Muhammad Hasnan Nahar (Foto. Mawar)

Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menggelar Kajian Ahad Pagi pada Minggu, 5 Juli 2026. Kajian kali ini mengangkat tema “Olahraga dalam Tinjauan Al-Qur’an dan Hadis” dengan menghadirkan Ustaz H. Muhammad Hasnan Nahar, S.Th.I., M.Ag., dosen Program Studi Ilmu Hadis UAD. Kajian tersebut mengajak jemaah memahami pentingnya menjaga kesehatan jasmani sebagai bagian dari implementasi ajaran Islam.

Dalam pemaparannya, Ustaz Muhammad Hasnan Nahar menegaskan bahwa Islam tidak hanya mengajarkan kesehatan spiritual, tetapi juga mendorong umatnya menjaga kesehatan fisik. Menurutnya, tubuh yang sehat akan mendukung pelaksanaan ibadah dan aktivitas sehari-hari secara optimal.

Beliau mengawali kajian dengan mengisahkan ketegasan Umar bin Khattab terhadap gaya hidup yang berlebihan. Diceritakan bahwa Umar pernah menegur seseorang yang memiliki perut buncit karena dianggap sebagai simbol kemalasan dan terlalu mencintai dunia. “Pada masa itu, perut buncit dipandang sebagai simbol hidup bermalas-malasan, berfoya-foya, dan terlalu mendahulukan kenikmatan dunia sehingga melalaikan ibadah,” jelasnya.

Namun demikian, ia menekankan bahwa kondisi fisik seseorang tidak bisa langsung dijadikan ukuran. Obesitas yang disebabkan oleh faktor biologis atau keturunan tentu berbeda dengan kondisi yang muncul akibat pola hidup tidak sehat.

Selain menjelaskan pandangan para sahabat, beliau juga memaparkan kondisi kesehatan masyarakat Indonesia saat ini. Berdasarkan data World Obesity Atlas 2025, Indonesia menempati peringkat kelima dengan sekitar 13 persen penduduk dewasa mengalami obesitas. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa masyarakat perlu lebih memperhatikan pola makan dan aktivitas fisik.

Untuk mengetahui status berat badan, beliau memperkenalkan perhitungan Indeks Massa Tubuh (IMT), yaitu berat badan dibagi tinggi badan dalam satuan meter kuadrat. Hasil perhitungan tersebut dapat digunakan sebagai acuan apakah seseorang berada pada kategori berat badan ideal, kelebihan berat badan, atau obesitas.

Mengacu pada ajaran Islam, beliau menjelaskan bahwa konsep diet sehat telah diajarkan dalam Al-Qur’an. Prinsip tersebut meliputi tidak makan dan minum secara berlebihan, mengonsumsi makanan yang halal dan baik (halalan thayyiban), menjaga keseimbangan gizi, serta menghindari makanan yang diharamkan.

“Yang pertama jangan makan dan minum berlebihan. Badan kita sebenarnya memiliki sistem yang sudah diatur Allah. Yang sering kali berlebihan justru keinginan mata dan lidah kita,” ungkapnya.

Beliau juga mengingatkan pentingnya mengatur jadwal makan secara teratur. Salah satu pola yang disarankan adalah konsep 3+2, yaitu tiga kali makan utama dan dua kali camilan sehat agar tubuh memperoleh asupan energi secara seimbang tanpa memicu makan berlebihan.

Selain pola makan, olahraga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan. Dalam kajian tersebut, beliau menjelaskan perbedaan antara aktivitas fisik dan olahraga. Aktivitas sehari-hari seperti menyapu, mencuci, atau naik tangga memang membuat tubuh bergerak, tetapi belum tentu termasuk olahraga karena tidak dilakukan secara terstruktur dan sistematis.

“Olahraga memiliki gerakan yang terukur, sistematis, dan dilakukan secara terencana. Berbeda dengan aktivitas fisik sehari-hari yang sifatnya spontan,” jelasnya.

Menurutnya, olahraga memberikan manfaat berbeda pada setiap kelompok usia. Bagi anak-anak, olahraga membantu perkembangan motorik dan kemampuan bersosialisasi. Pada usia dewasa, olahraga berfungsi membakar kalori, menjaga tekanan darah, mengontrol kolesterol, serta mencegah berbagai penyakit kronis seperti diabetes dan penyakit jantung. Sementara bagi lansia, olahraga membantu menjaga keseimbangan tubuh, mempertahankan massa otot, serta mengurangi risiko osteoporosis dan jatuh.

Dalam perspektif Al-Qur’an, beliau mengutip kisah Nabi Talut dalam Surah Al-Baqarah ayat 247 sebagai gambaran pentingnya memiliki fisik yang kuat. Menurutnya, kekuatan Talut dan pasukannya bukan diperoleh secara instan, melainkan melalui latihan dan kedisiplinan.

Beliau juga mengutip hadis Rasulullah saw. yang diriwayatkan Imam Muslim mengenai keutamaan seorang mukmin yang kuat. “Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, meskipun pada keduanya terdapat kebaikan,” tuturnya.

Di akhir kajian, beliau mengingatkan bahwa olahraga bukan sekadar menjaga penampilan, tetapi merupakan bentuk ikhtiar untuk merawat amanah berupa tubuh yang telah diberikan Allah Swt. “Jangan menunggu sakit untuk mulai hidup sehat. Ketika hasil Indeks Massa Tubuh sudah menunjukkan overweight atau bahkan obesitas, mulailah mengatur pola makan dan berolahraga. Ikhtiar adalah tugas manusia, sedangkan hasilnya Allah yang menentukan,” pesannya. (Mawar)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Kajian-Ahad-Pagi-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-dengan-pemateri-Ustaz-Muhammad-Hasnan-Nahar-Foto.-Mawar.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-07-24 10:41:242026-07-24 10:41:24Olahraga dalam Perspektif Al-Qur'an dan Hadis
Page 2 of 77‹1234›»

TERKINI

  • Tim ORIVAGO UAD Lolos Pendanaan P2MW, Kembangkan Suplemen Alami untuk Kesehatan Ayam13/08/2026
  • Tim REGENOCA UAD Manfaatkan Bahan Alami untuk Membuat Obat Luka Bakar13/08/2026
  • UAD dan Universiti Malaysia Pahang Jalankan Student Mobility Program12/08/2026
  • Mahasiswa Farmasi UAD Perluas Wawasan Global melalui Summer Program di Taiwan12/08/2026
  • Tim PKM RE UAD Buat Nanogel dari Ikan Gabus dan Aloe vera untuk Luka Bakar12/08/2026

PRESTASI

  • Mahasiswa UAD Raih Juara I Lomba Baca Puisi Dahlan Culture Festival 202608/08/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara 3 Cakrawala National Essay Competition31/07/2026
  • Tim BEKAMIE UAD Raih Juara 2 pada Ajang Studentpreneur Bootcamp 202629/07/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara 2 Lomba Video Kreatif Dahlan Culture Festival 202628/07/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara III Monolog pada PEKSIMIPROV DIY 202628/07/2026

FEATURE

  • Belajar Tak Pernah Usai13/08/2026
  • Dari Titik yang Tertinggal, Fikrotus Shofiyah Menemukan Jalannya13/08/2026
  • Menjadi Versi Terbaik Melalui Ketekunan13/08/2026
  • Membangun Masa Depan dari Setiap Pengalaman12/08/2026
  • Di Balik Prestasi, Ada Proses yang Tak Pernah Berhenti12/08/2026

TENTANG | KRU | KONTAK | REKAPITULASI

Scroll to top