Dari Hulu ke Hilir, dari Riset ke Industri, dari Sidat ke Unagi

0
155

Seperti itulah perumpamaan perjalanan sainspreneurship Dr. Agung Budiharjo, S.Si., M.Si. Ia merupakan dosen pengampu mata kuliah Biologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, yang mengombinasikan bisnis dengan sains. Agung dihadirkan dalam kuliah umum yang diadakan oleh prodi Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Ahmad Dahlan (F.MIPA-UAD).

Dalam kuliah umum yang diadakan di aula Islamic Center, Bantul, pada Jum’at (11/3/2016), seluruh mahasiswa prodi Biologi yang berjumlah sekitar 300 hadir sebagai peserta. Mereka antusias mengikuti dan berdiskusi dalam acara yang bertema “Implementasi Biosains dalam Wirausaha Budidaya Ikan” tersebut.

Banyak yang dibudidaya oleh Agung, di antaranya sidat, ikan cupang, rumput laut, enzim pepaya, teh celup, dan lain-lain. Pengusaha industri dan pemilik salah satu restoran Jepang di Solo tersebut mengaku butuh waktu sepuluh tahun untuk dapat mengembangkan usahanya dengan riset-riset gagalnya yang tidak terhitung.

Menurut Agung, seseorang harus bisa melakukan suatu hal yang berbeda dari yang lain.

“Bedakan antara berkarya dan bekerja. Berkarya adalah sebuah keharusan yang dapat mengubah kendala menjadi kekuatan, research, dan development. Dengan itu, akan dihasilkan arah pengembangan yang terarah, ketepatan berinovasi, juga strategi yang tepat dan sistematis.”

Sementara itu, industri budidaya Agung telah menembus pasar internasional, yakni pasar di Prancis dan Jepang. Bahkan, omzet penjualan sidat menjadi unagi dapat mencapai puluhan miliar dalam kurun waktu satu tahun.

Ia juga menjelaskan beberapa peluang bisnis. Di antaranya pilih bahan yang bernilai ekonomi tinggi, mengetahui kebutuhan pasar, harus jadi leader dan bukan follower dalam bisnis.

“Jadikan pembeli mencari kita, bukan sebaliknya. Itu dapat dilakukan dengan smart marketing.”

Dalam acara tersebut, Agung juga menjelaskan beberapa cara cerdas dalam berjualan. Pertama, selektif memilih event. Kedua, buka peluang di pasar global. Ketiga, lakukan dengan cara yang tidak biasa. Keempat, ciptakan image atau brand yang positif.

Sidat dipilih Agung karena sidat laku di pasar terbuka, bernilai ekonomi tinggi. Di samping itu, unagi di Indonesia sangat melimpah, teknologi budidayanya pun masih rendah. Jadi sangat cocok jika dikembangkan di dunia bisnis. Tanpa melupakan bahwa bisnis butuh keberuntungan.

Dalam menjalankan bisnisnya itu, Agung pernah beberapa kali bekerja sama dengan lembaga sosial, yakni pondok pesantren Qoriyah Qoribah di Salatiga, Semarang. Selain itu, ia juga menjadi satu-satunya peserta undangan dari Indonesia di Osaka, Jepang. Hal ini tentu dapat memotivasi mahasiswa sehingga bisa berkreatif lebih dan melakukan riset-riset yang berkualitas.

“Riset menjadi kata kunci untuk menjadikan kelemahan atau kendala menjadi sebuah kekuatan atau peluang. Tetaplah fokus dan konsisten dalam menjalankan semuanya,” pesannya. (AKN)