Kelenjar Adrenal Orang yang Berpuasa

0
160

Dr. Ahmad Muhammad Diponegoro

Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan.

 

Menurut nabi Muhammad s a w bila seseorang yang sedang berpuasa diajak bertengkar, maka ia diperintahkan untuk mengatakan saya sedang puasa.  Artinya dengan ucapan seperti itu orang akan lebih sabar dan menahan diri untuk marah. Puasa membuat orang lebih sabar.

Dalam kajian biopsikologi, marah berhubungan dengan hormone adrenalin yang dihasilkan oleh kelenjar adrenal. Kelenjar adrenal atau kelenjar anak ginjal pada makhluk menyusui, (atau kelenjar suprarenalis) adalah kelenjar endokrin berbentuk segitiga yang terletak di atas ginjal (ad, "dekat" atau "di" + renes, "ginjal"). Kelenjar ini bertanggung jawab pada pengaturan respon stress pada sintesis skortikosteroid dan katelomani, termasuk kortisol dan hormone adrenalin.

Secara anatomi, kelenjar adrenal terletak di dalam tubuh, di sisi anteriosuperior (depan-atas) ginjal. Pada manusia, kelenjar adrenal terletak sejajar dengan tulang punggung torakal yang ke-12 dan mendapatkan suplai darah dari pembuluh darah adrenalis. Tiap kelenjar berbobot sekitar 4 gram.

Bagian dalam kelenjar disebut medula mengandung sel kromafin yang merupakan sumber penghasil hormon jenis katekolamin yaitu hormone adrenalin dan norepinefrin, dengan jenjang reaksi yang distimulasi kelenjar hipotalamus. Di samping itu, masih banyak manfaat lain yang dapat ditemukan dalam kelenjar anak ginjal ini.

Keadaan psikologis yang tenang, teduh dan tidak dipenuhi rasa amarah saat puasa ternyata dapat menurunkan adrenalin yang dihasilkan kelenjar adrenal. Saat marah terjadi peningkatan jumlah adrenalin sebesar 20-30 kali lipat. Adrenalin akan memperkecil kontraksi otot empedu, menyempitkan pembuluh darah perifer, meluaskan pebuluh darah koroner, meningkatkan tekanan darah dan menambah volume darah ke jantung dan jumlah detak jantung. Adrenalin juga menambah pembentukan kolesterol dari lemak protein berkepadatan rendah. Berbagai hal tersebut ternyata dapat meningkatkan resiko penyakit pembuluh darah, jantung dan otak seperti jantung koroner, stroke dan lainnya.

Selama periode puasa, sejumlah kecil epinefrin dilepaskan ke dalam sirkulasi darah dari kelenjar adrenal manusia. Peran epinefrin antara lain akan mempengaruhi hati manusia dan otot rangka. Ia akan mendukung pengaruh glukagon dalam hati. Dalam otot rangka, meningkatnya adrenalin akan memudahkan pemecahan glikogin menjadi glukosa. Berlawanan dengan klukosa yang dihasilkan dari pemecahan glikogin hati, glukosa ini tidak dilepaskan ke dalam darah, bahkan  glukosa ini menjadi suatu sumber energi pendukung untuk sel-sel otot sedangkan lemak merupakan sumber energi yang utama. Walaupun demikian, tatkala glukosa ini digunakan sebagai sumbergi energi dalam sel-sel otot, sedikit laktat mungkin akan dihasilkan. Laktat ini dapat masuk ke dalam sirkulasi, dan mencapai hati, kemudian diubah menjadi glukosa. Glukosa ini dapat dilepas ke dalam darah. Oleh karena itu, otot rangka manusia dapat secara sederhana memelihara konsentrasi glukosa darah selama puasa.

Selain adrenalin, kelenjar adrenal juga menghasilkan kortisol yang juga sering disebut hormone stres. Penting untuk disadari bahwa puasa, khususnya puasa yang berkelanjutan, dapat menjadi suatu stres – dan stress menghasilkan pelepasan kortisol. Sangat tepat apa yang diperintahkan Allah dan nabi Muhammad s a w bahwa dalam Islam dilarang untuk melakukan puasa yang berkelanjutan karena dapat membuat individu stres sebagaimana dijelaskan. Puasa hanya boleh dilakukan hingga waktu magrib dan kemudian diharuskan untuk berbuka. Bahkan ummat sangat dianjurkan untuk sahur walaupun dengan seteguk akhir.

Hadirnya makanan dalam tubuh manusia pada waktu sahur maupun berbuka akan menurunkan stress, karena tubuh terasa nyaman dan menurunkan kadar kortisol dalam darah. Karena islam merupakan agama yang menggembirakan bukan yang menyusahkan atau membuat individu tertekan atau stress. Nabi Muhammad s a w bersabda: gembirakanlah dan jangan membuat orang lari, berilah kemudahan dan jangan membuat orang susah.