Orientasi Mahasiswi Memaknai Make up , Memaknai Make up Mahasiswi di Kampus

253

Penggunaan make up kini bukan hanya sekadar untuk datang ke acara pesta atau acara formal saja. Banyak perempuan yang mulai sadar bahwa make up merupakan sarana penunjang kecantikan sehari-hari. Kesadaran semacam ini juga merambah di kalangan kampus, khususnya bagi mahasiswi.

Makna make up sendiri adalah seni merias wajah atau mengubah bentuk asli dengan bantuan alat dan bahan kosmetik dengan tujuan untuk memperindah atau menutupi kekurangan sehingga wajah terlihat ideal. Make up sebenarnya memiliki arti yang hampir sama dengan berdandan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata dandan diartikan sebagai mengenakan pakaian dan hiasan serta alat-alat rias dengan tujuan memperbaiki atau menjadikan baik (rapi).

Apa sebenarnya makna penggunaan make up bagi mahasiswi, khususnya di lingkungan Universitas Ahmad Dahlan (UAD)?

Menurut Desiratri, mahasiswi Farmasi angkatan 2015, makna make up tidak semata-mata hanya untuk penunjang kecantikan saja. Tetapi dengan sudah semakin buruknya kondisi udara, make up adalah perlindungan. “Aku memandang make up karena untuk alasan kesehatan, karena pemanasan global, semakin ke sini dirasa semakin bertambah panas. Seperti kemarin contohnya, aku main ke pantai dan kulitnya jadi belang. Jadi aku lebih ke perawatannya dan perlindungannya,” tuturnya.

Berbeda dengan mahasiswi dari Farmasi ini, Ika Dwi Lestari dan Marwia Dama mahasiswi Manajemen 2015 memandang make up sebagai penunjang kecantikan. Ditemui bersama teman-temannya, mereka memiliki beberapa pandangan yang berbeda terkait makna penggunaan make up.

Menurut Emilia Rosa, makna penggunaan make up adalah sebagai salah satu cara agar muka lebih terlihat cerah. “Biar kelihatan nggak pucat aja, selain itu kalau nggak pakai make up kan muka terlihat kusam,” ungkapnya.

Sedangkan menurut Tika Sari makna penggunaan make up adalah mempercantik diri dan membuat menarik. “Untuk mempercantik diri dan menarik perhatian lawan jenis. Selain itu saya kebetulan dari jurusan kecantikan di SMA, jadi make up sebenarnya untuk mempercantik diri,” tuturnya.

Celsi Arigustina memiliki pandangan yang berbeda dari yang lain, ia menganggap make up sebagai seni merias wajah, “Buat nyelo aja, kalau lagi diem gitu, mengkreasikan diri, mukaku bisa jadi kanvas,” ungkapnya.

Sementara itu, ditemui di sela-sela kesibukannya, Dekan Psikologi UAD Dra. Elli Nur Hayati, MPH., Ph.D. memberikan tanggapan terkait makna penggunaan make up di kalangan mahasiswi. Menurutnya, pertama, make up atau standar kecantikan dibentuk oleh konstruksi sosial. Kedua, ada suatu institusi yang memiliki sistem yang dapat membangun standar kecantikan itu sendiri. Sistem ini cukup besar terutama dari sisi modal. Sehingga mereka mampu menyebarluaskan dan dapat diakses oleh banyak orang.

Terkait makna penggunaan make up di kalangan mahasiswi, ia beranggapan bahwa setiap orang bebas memaknai make up itu seperti apa. “Namanya juga memaknai, artinya itu subjektif. Tetapi pertanyaan selanjutnya, terkait cantik atau seni merias wajah itu, kenapa tidak berlaku bagi laki-laki?” ungkapnya saat ditemui di kantornya, 20 Februari 2019 lalu.

Ia melanjutkan bahwa hal itu merupakan suatu tindakan diskriminasi. Bahwa laki-laki tidak harus pandai merawat kulit dan sebagainya. Hal ini, menurutnya, tidak lepas dari sistem yang sudah dibentuk oleh industri kecantikan itu sendiri.

Dekan yang masih aktif mengajar ini juga menanggapi terkait pergeseran budaya penggunaan make up. Bahwa make up kini sudah menjadi gaya hidup yang mampu menunjang kecantikan, ini tidak lepas dari produk-produk yang disebarluaskan oleh industri kecantikan.

“Semakin ke sini semakin banyak anak muda yang tadinya beranggapan bahwa make up untuk merawat dan melindungi, akhirnya berganti. Sekarang anak umur 20 tahun saja sudah menggunakan make up, saya juga heran. Tetapi itu efek dari itu tadi, mana mau industri mendidik banyak orang? Industri kan maunya dapat duit dari konsumen. Biar orang membeli. Bukan karena butuh, tetapi karena ingin,” tuturnya.

Terakhir, ia berharap bahwa kecantikan tidak hanya difokuskan dari fisik saja. Tetapi para mahasiswi juga harus kritis bahwa kecantikan dari luar juga sangat perlu diimbangi dengan kecantikan dari dalam. “Saya selalu menekankan dalam kelas saya, bahwa cantik itu bukan hanya ditonjolkan dari fisik saja, tetapi juga perilaku. Perilaku atau attitude inilah yang mampu mencerminkan inner beauty, jadi bukan hanya cantik fisik saja yang ditonjolkan,” tutupnya. (eng)