• TERKINI
  • UAD BERDAMPAK
  • PRESTASI
  • FEATURE
  • OPINI
  • MEDIA
  • KIRIM BERITA
  • Menu
News Portal of Universitas Ahmad Dahlan

Posts

Mengapa Generasi Muda Terjebak Pinjol dan Paylater Demi Gaya Hidup?

11/03/2026/in Terkini /by Ard

Dyah Fitriani, S.E., M.M. pemateri ceramah tarawih Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Anove)

Sebagai bagian dari rangkaian Ramadan di Kampus (RDK) 1447 H, Kajian Jelang Buka Puasa di Masjid Islamic Center (IC) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Selasa, 3 Maret 2026, menghadirkan pembahasan krusial mengenai manajemen keuangan Islam di tengah gempuran gaya hidup modern. Membawakan tema “Manajemen Keuangan Islam: Fenomena Pinjol, Paylater, dan Mentalitas Kaya Instan di Kalangan Kaum Muda”, Dyah Fitriani, S.E., M.M., selaku Wakil Dekan Bidang Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), Akademik, dan Kemahasiswaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UAD, membedah fenomena pinjaman online (pinjol) dan paylater yang kini menjerat kaum muda.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tren berutang di kalangan generasi muda mayoritas dipicu oleh pemenuhan aspek fesyen dan barang-barang konsumtif lainnya, bukan kebutuhan pokok. Survei menunjukkan pengguna paylater terbanyak berada pada rentang usia 26 hingga 35 tahun, yaitu sebanyak 44%, disusul oleh kelompok usia 18 hingga 25 tahun. Fenomena ini mencerminkan adanya pergeseran paradigma, di mana generasi sekarang cenderung lebih berani berutang demi mengejar kesenangan dan gaya hidup yang tidak sesuai dengan pendapatan mereka.

Dyah menyoroti bahwa rendahnya literasi, tingginya sifat konsumtif, dan hawa nafsu yang tidak terkendali menjadi akar masalah utama. Banyak anak muda terjebak pinjol karena tergiur kemudahan dan kepraktisannya tanpa memahami risiko di baliknya, seperti denda yang mencekik, bunga yang terus berkembang, hingga ancaman penyebaran data pribadi.

Secara psikologis, perilaku ini didorong oleh mentalitas kaya instan dan tekanan sosial, seperti fear of missing out (FOMO) atau perasaan takut tertinggal, you only live once (YOLO) atau pola pikir bahwa hidup hanya sekali, serta fear of people’s opinion (FOPO) yang berarti takut dengan pendapat orang lain. Bahkan, penelitian tahun 2024 menunjukkan konsumen laki-laki kini cenderung lebih impulsif dalam berbelanja. Hal ini diperparah dengan penggunaan media sosial yang sering kali memicu doom spending atau belanja asal-asalan sebagai bentuk pelarian mental. “Anak muda itu tahu FOMO, YOLO. Orang itu bisa saja berutang karena sekadar ikut-ikutan, memaksa dia harus berutang,” ujarnya.

Dalam perspektif Islam, persoalan ini berkaitan erat dengan pengendalian hawa nafsu sebagaimana diingatkan dalam Al-Qur’an surah Al-An’am ayat 119 dan surah Shad ayat 26. Islam memandang utang-piutang sebagai sarana tolong-menolong, bukan untuk menyesatkan atau memberatkan dengan unsur riba yang berlipat ganda.

Mengutip hadis riwayat Al-Bazzar dari Anas bin Malik, Dyah menekankan pentingnya menjauhi tiga perkara yang membinasakan, yaitu kerakusan, hawa nafsu yang diikuti, dan membanggakan diri. Sebaliknya, umat diajak untuk hidup sederhana baik di waktu sempit maupun lapang. Sebagai solusi, kaum muda diimbau untuk lebih selektif memilih layanan keuangan, memprioritaskan menabung, dan beralih ke platform legal syariah seperti Ethis, Alami, atau Dana Syariah yang lebih mengedepankan kebermanfaatan.

Menutup kajiannya, Dyah mengingatkan generasi muda, khususnya kepada mahasiswa, agar tidak hanya mengedepankan gaya hidup tanpa melihat kondisi finansial yang nyata. Prinsip “besar pasak daripada tiang” akibat seringnya melakukan self-reward yang berlebihan harus segera ditinggalkan. Mengutip hadis riwayat Bukhari dan Muslim, ia menegaskan bahwa kekayaan yang hakiki bukanlah diukur dari banyaknya kemewahan dunia, melainkan dari hati yang selalu merasa cukup atau qana’ah.

Dengan memperkuat literasi, mengurangi jiwa konsumtif, dan mengendalikan hawa nafsu, diharapkan generasi muda dapat terhindar dari jeratan utang dan memiliki mental kaya yang sesungguhnya sesuai dengan tuntunan syariat. (Anove)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Dyah-Fitriani-S.E.-M.M.-pemateri-ceramah-tarawih-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Anove.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-03-11 10:17:502026-03-11 10:17:50Mengapa Generasi Muda Terjebak Pinjol dan Paylater Demi Gaya Hidup?

KKN UAD Kenalkan Teh Herbal dari Limbah Rambut Jagung

11/03/2026/in Terkini /by Ard

KKN Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kenalkan olahan tee herbal dari limbah rambut jagung (Foto. KKN UAD)

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler 155 Unit VIII.C.3 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) berhasil menyelenggarakan penyuluhan dan pelatihan pembuatan teh dari rambut jagung (corn silk). Kegiatan yang menyasar anggota Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) ini berlangsung di Balai Dusun Pokdadap, Desa Dadapayu, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul, pada Selasa 10 Februari 2026.

Kegiatan yang diikuti oleh 16 peserta tersebut bertujuan untuk mengedukasi masyarakat mengenai pemanfaatan limbah pertanian. Selain itu, program ini juga mendorong inovasi produk herbal yang berpotensi meningkatkan nilai ekonomi hasil tani setempat. Selama ini, rambut jagung hanya dianggap sebagai limbah yang dibuang atau dibakar oleh warga.

Ketua Unit KKN VIII.C.3, Arya Langgeng Nur Prambayu Utama, menjelaskan bahwa program tersebut dirancang berdasarkan hasil observasi dan analisis kebutuhan masyarakat di lokasi KKN.

“Sebelum menentukan program ini, kami menemukan adanya kebutuhan inovasi pengolahan hasil pertanian. Dari situ, kami melihat potensi rambut jagung yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal oleh warga,” ujarnya.

Acara diawali dengan penyuluhan mengenai perbedaan obat herbal dan obat kimia, serta pemanfaatan potensi tanaman sekitar sebagai sumber bahan alami. Sesi kemudian dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan teh rambut jagung yang diikuti dengan praktik langsung oleh para peserta. Inisiator program, Alfi Lutfiah Putri, secara rinci memaparkan tahapan pengolahan limbah tersebut hingga menjadi produk teh herbal yang siap seduh.

“Rambut jagung terlebih dahulu dicuci hingga bersih, kemudian dijemur sampai kering dan dihaluskan. Setelah itu, serbuk dimasukkan ke dalam kantong teh (tea bag) sebanyak kurang lebih dua gram. Agar memiliki rasa manis alami, teh ini dapat dicampur dengan daun stevia yang juga telah dicuci, dikeringkan, dan dihaluskan,” jelas Alfi.

Para peserta terlihat sangat antusias mengikuti seluruh rangkaian acara, terutama saat sesi praktik pembuatan teh. Beberapa di antaranya bahkan menyatakan ketertarikannya untuk memproduksi teh rambut jagung secara mandiri di rumah.

Melalui inovasi ini, mahasiswa KKN UAD berharap masyarakat Dusun Pokdadap dapat memaksimalkan potensi limbah pertanian menjadi produk rumah tangga yang bernilai jual. Langkah ini diharapkan mampu membuka peluang usaha baru yang sepenuhnya berbasis pada potensi lokal desa. (ito)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/KKN-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-kenalkan-olahan-tee-herbal-dari-limbah-rambut-jagung-Foto.-KKN-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-03-11 10:07:342026-03-11 10:07:34KKN UAD Kenalkan Teh Herbal dari Limbah Rambut Jagung

Dakwah Perempuan Berkemajuan dalam Merespons Krisis Lingkungan

11/03/2026/in Terkini /by Ard

Dr. Adib Sofia, M.Hum. pemateri Pengajian PWA DIY di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Humas UAD)

Pimpinan Wilayah ’Aisyiyah (PWA) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kembali menyelenggarakan Pengajian Ramadan 1447 H pada Ahad, 8 Maret 2026, bertempat di Amphitarium Kampus IV Universitas Ahmad Dahlan (UAD).

Pengajian ini dihadiri oleh sekitar 140 peserta, yang di antaranya terdiri atas perwakilan Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) se-DIY dan jajaran PWA DIY. Materi ketiga dalam kegiatan tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Majelis Tabligh dan Ketarjihan Pimpinan Pusat ’Aisyiyah, Dr. Adib Sofia, M.Hum., dan dipandu oleh Dr. Sri Roviana, S.Ag., M.A. selaku moderator.

Materi bertema “Dakwah Perempuan Berkemajuan dalam Merespons Krisis Lingkungan” ini diawali dengan menyanyikan lagu Srengenge Nyunar. Dalam pemaparannya, Dr. Adib Sofia menekankan pentingnya dakwah yang bersifat transformatif dengan semangat minadz-dzulumati ilan-nur yang diambil dari Surah Al-Baqarah ayat 257, yakni mengajak masyarakat bergerak dari kegelapan menuju cahaya.

Ia menjelaskan bahwa metode dakwah yang dilakukan oleh ’Aisyiyah dan Muhammadiyah menggunakan pendekatan mubalighat yang lebih lembut, menyentuh hati, serta diwujudkan melalui aksi tablig. Menurutnya, pendekatan dakwah saat ini juga mengalami perubahan dari model instruksional dari atas ke bawah (top-down) yang bersifat pembinaan, menjadi pendekatan partisipatif melalui pemberdayaan masyarakat yang bersifat dari bawah ke atas (bottom-up) dan pelibatan komunitas (community engagement).

“Setiap komunitas memiliki kebutuhan yang berbeda sehingga tidak ada magic formula dalam berdakwah. Karena itu, dakwah perlu dilakukan secara kolaboratif dan berbasis riset agar mampu menjawab persoalan lingkungan yang relevan dengan kondisi masyarakat,” ujar Dr. Adib Sofia.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa isu lingkungan perlu diposisikan sebagai isu keumatan dan keadilan sosial dalam dakwah. Oleh karena itu, diperlukan desain dakwah yang terencana, mulai dari penentuan kompetensi dan tujuan dakwah, perancangan konten yang merujuk pada berbagai referensi, hingga strategi penyampaian yang tepat. Selain itu, evaluasi juga penting dilakukan untuk mengetahui dampak dakwah sebelum dan sesudah pelaksanaan.

Dr. Adib turut menekankan pentingnya menyampaikan isu lingkungan dengan menampilkan fenomena berbasis data, argumentasi para pakar, landasan skriptural, serta keterkaitannya dengan persoalan keumatan. Pemaparan materi yang menginspirasi ini kemudian ditutup dengan kekompakan seluruh peserta Pengajian Ramadan dalam menyanyikan lagu Kudu Poso. (Juni)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Dr.-Adib-Sofia-M.Hum_.-pemateri-Pengajian-PWA-DIY-di-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Humas-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-03-11 10:00:412026-03-11 10:00:41Dakwah Perempuan Berkemajuan dalam Merespons Krisis Lingkungan

Mahasiswa UAD Edukasi Warga Padukuhan Pengkok Olah Limbah Dapur Menjadi Pupuk Organik

11/03/2026/in Terkini /by Ard

Mahasiswa KKN Universitas Ahmad Dahla (UAD) edukasi warga Padukuhan Pengkok olah limbah dapur jadi pupuk organik (Foto. KKN UAD)

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Periode 155 Unit VIII.A.3 menyelenggarakan “Sosialisasi dan Pelatihan Pemanfaatan Limbah Dapur” menggunakan metode Effective Microorganisms 4 (EM4) sebagai bagian dari program kerja tematik. Kegiatan ini sukses dilaksanakan pada Jumat, 13 Februari 2026 di Balai Padukuhan Pengkok, Kalurahan Pengkok, Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul.

Program ini diangkat sebagai solusi teknologi sederhana untuk menekan volume limbah organik di lingkungan rumah tangga. Sebelum program dijalankan, warga Padukuhan Pengkok terbiasa membuang atau membakar limbah dapur seperti sisa makanan dan sayuran begitu saja. Kebiasaan tersebut memicu bau tidak sedap, polusi udara, hingga risiko penyakit.

EM4 dipilih sebagai metode utama karena mampu mempercepat proses fermentasi limbah menjadi kompos atau Pupuk Organik Cair (POC). Selain murah dan ramah lingkungan, metode ini dinilai lebih unggul dalam hal kecepatan dan keamanan dibandingkan cara konvensional seperti penimbunan.

Dalam pelatihan tersebut, mahasiswa mendemonstrasikan proses pengolahan menggunakan wadah kedap udara dari galon bekas. Langkah-langkahnya dimulai dengan memotong kecil limbah dapur, memasukkannya ke dalam galon, lalu mencampurkan larutan EM4 secara merata sebelum wadah ditutup rapat. Setelah proses fermentasi selama 7 hingga 14 hari, pupuk cair tersebut dapat langsung diaplikasikan ke tanaman.

Respons warga Padukuhan Pengkok terpantau sangat baik dan antusias. “Beberapa warga bahkan mencatat dan merekam proses praktik agar dapat mempraktikkannya secara mandiri di rumah,” jelas Dinda selaku penanggung jawab kegiatan tersebut. Mahasiswa mencatat tidak ada tantangan berarti dalam mengedukasi masyarakat terkait pemilahan limbah organik ini.

Mahasiswa KKN UAD Unit VIII.A.3 berharap  masyarakat dapat memproduksi pupuk sendiri sehingga mengurangi polusi akibat pembakaran sampah. Selain menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat, pemanfaatan limbah ini diharapkan mampu meningkatkan kesuburan tanaman pekarangan warga, baik untuk konsumsi pribadi maupun potensi nilai ekonomi tambahan. (Anove)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Mahasiswa-KKN-Universitas-Ahmad-Dahla-UAD-edukasi-warga-Padukuhan-Pengkok-olah-limbah-dapur-jadi-pupuk-organik-Foto.-KKN-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-03-11 09:33:062026-03-11 09:33:06Mahasiswa UAD Edukasi Warga Padukuhan Pengkok Olah Limbah Dapur Menjadi Pupuk Organik

Banjir dalam Perspektif Iman dan Manajemen Risiko

11/03/2026/in Terkini /by Ard

H. Budi Setiawan, S.T. pemateri pengajian Ramadan 1447 H PWA DIY di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Humas UAD)

Materi kedua dalam Pengajian Ramadan 1447 H yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Daerah Istimewa Yogyakarta di Amphitarium Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menghadirkan H. Budi Setiawan, S.T., dengan tema “Bencana Bukan Takdir Semata: Membaca Banjir dalam Perspektif Manajemen Risiko dan Iman” pada Sabtu, 7 Maret 2026.

Dalam pemaparannya, Budi Setiawan menegaskan bahwa bencana tidak semata-mata dipahami sebagai takdir, tetapi juga perlu dilihat melalui upaya ikhtiar manusia dalam mengelola risiko. Menurutnya, penguatan iman harus berjalan seiring dengan upaya nyata dalam mengurangi dampak bencana.

Ia mencontohkan bahwa tempat ibadah dapat memiliki peran strategis dalam situasi kebencanaan, seperti menjadikan masjid sebagai pusat evakuasi maupun pos koordinasi. Selain itu, proses pemulihan pascabencana juga dapat diintegrasikan dengan kegiatan ibadah guna memperkuat ketahanan spiritual masyarakat.

“Penguatan iman harus sebanding dengan ikhtiar. Pemahaman agama yang baik akan meningkatkan kesadaran sekaligus ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa meningkatnya risiko banjir tidak terlepas dari kerusakan ekologis yang bersifat struktural. Beberapa faktor yang memicu kondisi tersebut antara lain deforestasi dan degradasi hutan, perubahan tata guna lahan, pembangunan infrastruktur yang tidak ramah lingkungan, serta aktivitas penambangan yang tidak terkontrol.

Kerusakan tersebut berdampak pada menurunnya fungsi hutan sebagai penyerap air, meningkatnya erosi tanah, serta bertambahnya risiko banjir di berbagai wilayah. Kondisi ini pada akhirnya menimbulkan berbagai konsekuensi, mulai dari kerusakan lingkungan yang parah, kerugian ekonomi yang besar, hingga munculnya korban jiwa dan pengungsi.

Ia juga menegaskan bahwa risiko bencana ekologis cenderung meningkat apabila kerusakan lingkungan terus terjadi. “Risiko peningkatan bencana akan lebih tinggi lagi. Berbeda dengan gempa yang tidak merusak alam secara langsung,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Budi Setiawan turut menjelaskan peran Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) sebagai unit pembantu pimpinan dalam penanganan kebencanaan di lingkungan Muhammadiyah. Lembaga ini berperan dalam berbagai aspek, mulai dari mitigasi dan kesiapsiagaan, tanggap darurat serta rehabilitasi dan rekonstruksi, hingga penguatan jaringan kerja sama, pendidikan, dan pelatihan kebencanaan. MDMC juga memiliki tim medis darurat (Emergency Medical Team) yang siap diterjunkan dalam situasi bencana.

Ia menambahkan bahwa mitigasi merupakan langkah penting untuk mengurangi risiko bencana, misalnya melalui pembangunan infrastruktur yang ramah lingkungan serta peningkatan kapasitas relawan kebencanaan di masyarakat.

Selain itu, setiap wilayah diharapkan memiliki rencana kontinjensi sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi bencana. Rencana kontinjensi merupakan prosedur terdokumentasi yang disusun sebelumnya untuk merespons ancaman tertentu secara efektif, dengan menetapkan peran, tanggung jawab, serta skenario tindakan yang jelas.

Konsep tersebut biasanya dirumuskan melalui pendekatan SIADIBIBA (Siapa, Di mana, Bilamana, Bagaimana, dan melakukan apa) agar respons terhadap bencana dapat berjalan lebih terarah dan terkoordinasi.

Di sisi lain, Budi Setiawan menekankan pentingnya respons bencana berbasis komunitas, yaitu upaya kolektif masyarakat dalam menghadapi dan mengurangi dampak bencana melalui perencanaan, persiapan, dan aksi bersama.

Ia menutup pemaparannya dengan mengingatkan bahwa manusia sebagai khalifah di bumi memiliki tanggung jawab tidak hanya dalam menjaga alam, tetapi juga dalam mengelola risiko bencana sejak tahap prabencana hingga pascabencana. (Dnd)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/H.-Budi-Setiawan-S.T.-pemateri-pengajian-Ramadan-1447-H-PWA-DIY-di-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Humas-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-03-11 09:18:402026-03-11 09:18:40Banjir dalam Perspektif Iman dan Manajemen Risiko

KKN UAD Kenalkan Alternatif Pengelolaan Limbah Minyak Jelantah

11/03/2026/in Terkini /by Ard

KKN Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kenalkan alternatif pengelolaan limbah minyak jelantah di Patuk, Gunungkidul (Foto. KKN UAD)

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Unit VII.B.1 Reguler Periode 155 menyelenggarakan pelatihan pembuatan lilin dari minyak jelantah di Dusun Karangsari, Kalurahan Nglanggeran, Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul. Kegiatan ini merupakan bagian dari program pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan limbah rumah tangga yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomis.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa memberikan edukasi mengenai dampak negatif pembuangan minyak jelantah secara sembarangan, seperti pencemaran tanah dan penyumbatan saluran air. Warga diberikan pemahaman bahwa minyak bekas yang sering dianggap tidak berguna sebenarnya dapat diolah kembali menjadi produk yang bermanfaat, salah satunya lilin.

Proses pembuatan lilin dilakukan melalui beberapa tahapan, dimulai dari penyaringan minyak jelantah untuk memisahkan sisa kotoran, kemudian pemanasan minyak dan pencampuran dengan bahan pengeras seperti parafin atau stearin. Setelah tercampur rata, cairan dituangkan ke dalam cetakan yang telah dipasang sumbu, lalu didiamkan hingga mengeras. Dalam pelatihan tersebut, warga terlihat antusias dan aktif mencoba langsung proses pembuatan lilin dengan pendampingan mahasiswa.

Koordinator Unit VII.B.1 menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya bertujuan mengurangi limbah rumah tangga, tetapi juga membuka peluang usaha kreatif bagi masyarakat, khususnya ibu rumah tangga. Lilin yang dihasilkan dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga maupun dikembangkan menjadi produk lilin hias atau aromaterapi dengan nilai jual lebih tinggi.

Warga Dusun Karangsari menyambut baik program ini karena memberikan solusi praktis terhadap pengelolaan limbah sekaligus menambah wawasan dan keterampilan baru. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN UAD Unit VII.B.1 berharap masyarakat Dusun Karangsari semakin sadar akan pentingnya menjaga lingkungan serta mampu memanfaatkan limbah menjadi produk yang bernilai guna dan ekonomis. (Anove)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/KKN-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-kenalkan-alternatif-pengelolaan-limbah-minyak-jelantah-di-Patuk-Gunungkidul-Foto.-KKN.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-03-11 09:11:502026-03-11 09:11:50KKN UAD Kenalkan Alternatif Pengelolaan Limbah Minyak Jelantah

Merawat Bumi sebagai Manifestasi Dakwah Perempuan Berkemajuan

10/03/2026/in Terkini /by Ard

Dr. Muhammad Rofiq, Ph.D. pemateri pengajian Ramadan 1447 H PWA DIY di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Humas UAD)

Pengajian Ramadan 1447 H yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Daerah Istimewa Yogyakarta menghadirkan Dr. Muhammad Rofiq, Ph.D., sebagai pemateri pada sesi pertama dengan tema “Etika Lingkungan dalam Perspektif Keimanan: Merawat Bumi sebagai Manifestasi Dakwah Perempuan Berkemajuan”.

Dalam pemaparannya, Muhammad Rofiq menyoroti kondisi lingkungan global yang semakin memprihatinkan akibat perubahan iklim. Ia menyampaikan bahwa kenaikan permukaan air laut setiap tahun mencapai sekitar 3,5 milimeter sebagai dampak dari pemanasan global. Kondisi tersebut bahkan mulai terlihat di beberapa wilayah pesisir, termasuk di Jakarta yang sebagian wilayahnya telah berada di bawah permukaan air laut.

Menurutnya, fenomena kerusakan lingkungan telah dijelaskan dalam Al-Qur’an melalui QS. Ar-Rum ayat 41 yang menyebutkan bahwa kerusakan di darat dan laut terjadi akibat ulah manusia. Ayat tersebut, lanjutnya, menjadi pengingat bahwa ketidakseimbangan alam merupakan konsekuensi dari tindakan manusia terhadap lingkungan.

Ia menjelaskan bahwa istilah fasad dalam ayat tersebut tidak hanya merujuk pada kerusakan yang tampak secara fisik seperti banjir dan longsor, tetapi juga kerusakan batin yang berakar dari perilaku manusia. “Ketika terjadi fasad, artinya bumi kita sedang mengalami ketidakseimbangan,” jelasnya.

Muhammad Rofiq juga menegaskan bahwa Islam sebagai agama yang bersifat komprehensif tidak hanya mengatur ibadah ritual, tetapi juga mengajarkan tanggung jawab manusia terhadap alam. Ia memaparkan tiga tugas utama manusia dalam hubungannya dengan lingkungan, yaitu al-‘ibadah, istikhlaf, dan isti’mar.

Pertama, al-‘ibadah, yakni memandang interaksi manusia dengan alam sebagai bagian dari ibadah. Menjaga kelestarian lingkungan termasuk dalam bentuk penghambaan kepada Allah Swt. Kedua, istikhlaf, yaitu peran manusia sebagai khalifah yang bertugas menjaga keseimbangan alam yang telah diciptakan secara harmonis. Ketiga, isti’mar, yaitu memakmurkan bumi melalui berbagai bentuk kreativitas dan pembangunan.

Ia mengingatkan bahwa manusia sering kali hanya berfokus pada aspek isti’mar atau pemanfaatan sumber daya alam, tanpa diimbangi kesadaran sebagai hamba dan khalifah yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan alam. Akibatnya, eksploitasi lingkungan kerap dibenarkan atas nama pembangunan.

Lebih lanjut, ia menawarkan beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk merespons persoalan ekologis. Salah satunya melalui tafsir transformasi yang mengaitkan teks keagamaan dengan isu lingkungan, termasuk pengembangan konsep fikih air. Pendekatan ini dapat dilakukan melalui metode hierarkis yang meliputi nilai-nilai dasar Islam (al-qiyam al-asasiyyah), prinsip-prinsip umum (al-ushul al-kulliyyah), hingga pedoman praktis (al-ahkam al-far’iyyah).

Ia juga menekankan pentingnya memahami teks-teks keagamaan dengan perspektif ekologis melalui pendekatan manhaj tarjih. Banyak ayat Al-Qur’an maupun hadis yang sebenarnya memiliki pesan ekologis, tetapi selama ini belum banyak dielaborasi secara mendalam dan sering dipahami secara tekstual semata.

Selain penguatan pemahaman keagamaan, Muhammad Rofiq mendorong agar isu lingkungan dibawa ke berbagai ruang dakwah, baik melalui dakwah bil lisan, dakwah bil qalam, maupun dakwah bil hal. Upaya tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kelestarian bumi.

Di akhir penyampaiannya, ia mengajak seluruh pihak untuk terlibat aktif dalam berbagai gerakan ekologis, seperti pelatihan, advokasi, serta aksi nyata dalam menjaga lingkungan. Menurutnya, merawat bumi merupakan bagian dari tanggung jawab keimanan sekaligus wujud dakwah yang relevan dengan tantangan zaman. (Dnd)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Dr.-Muhammad-Rofiq-Ph.D.-pemateri-pengajian-Ramadan-1447-H-PWA-DIY-di-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Humas-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-03-10 11:17:002026-03-10 11:17:00Merawat Bumi sebagai Manifestasi Dakwah Perempuan Berkemajuan

Berapa Lama Sampah Kita Terurai? Mahasiswa KKN UAD Jawab Lewat Papan Edukasi

10/03/2026/in Terkini /by Ard

Mahasiswa KKN UAD membuat papan edukasi tentang waktu penguraian sampah di Sentolo, Kulon Progo (Foto. KKN UAD)

Pertanyaan sederhana, tetapi jarang dipikirkan oleh banyak orang, “Berapa lama sampah kita terurai?” menjadi perhatian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) di Padukuhan Siwalan, Kapanewon Sentolo, Kabupaten Kulon Progo. Melalui pembuatan papan edukasi tentang waktu penguraian sampah, mahasiswa berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat setempat terhadap pentingnya pengelolaan sampah yang bijak.

Program pengabdian ini dilatarbelakangi oleh masih minimnya informasi yang diketahui warga mengenai lamanya proses penguraian berbagai jenis sampah. Banyak masyarakat yang belum menyadari bahwa sampah plastik—seperti kantong kresek, botol minuman, atau sedotan—membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk terurai secara alami. Hal ini tentu sangat berbeda dengan sampah organik, seperti daun atau sisa makanan, yang relatif lebih cepat terurai.

Papan edukasi yang dipasang di titik-titik strategis lingkungan padukuhan tersebut memuat informasi visual mengenai jenis-jenis sampah beserta estimasi waktu penguraiannya. Penyajian data dikemas secara sederhana dan mudah dipahami agar dapat dibaca oleh semua kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

Dalam proses pembuatannya, mahasiswa berkoordinasi dengan perangkat padukuhan untuk menentukan lokasi pemasangan yang mudah terlihat dan sering dilalui oleh warga. Material papan juga dipilih agar cukup kuat dan tahan terhadap kondisi cuaca sehingga dapat dimanfaatkan dalam jangka waktu yang lama.

“Kami ingin masyarakat lebih sadar bahwa setiap sampah yang dibuang memiliki konsekuensi waktu yang berbeda terhadap lingkungan. Harapannya, informasi ini dapat mendorong perubahan perilaku dalam memilah dan mengurangi sampah,” ujar Ketua Unit KKN UAD.

Kehadiran papan edukasi tersebut mendapat respons positif dari masyarakat. Sejumlah warga mengaku baru mengetahui lamanya proses penguraian sampah anorganik setelah membaca informasi yang tertera.

Edukasi sederhana ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun budaya peduli lingkungan di tingkat padukuhan. Melalui program ini, mahasiswa KKN UAD tidak hanya menghadirkan media informasi, tetapi juga menanamkan kesadaran bahwa menjaga lingkungan dimulai dari kebiasaan kecil sehari-hari. Sebab, dari satu pertanyaan tentang waktu penguraian sampah, tumbuh pemahaman bahwa setiap tindakan manusia meninggalkan jejak bagi bumi. (anw)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Mahasiswa-KKN-UAD-membuat-papan-edukasi-tentang-waktu-penguraian-sampah-di-Sentolo-Kulon-Progo-Foto.-KKN-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-03-10 11:13:332026-03-10 11:13:33Berapa Lama Sampah Kita Terurai? Mahasiswa KKN UAD Jawab Lewat Papan Edukasi

Langkah Strategis KKN UAD Tekan Sampah Rumah Tangga di Sokorojo

10/03/2026/in Terkini /by Ard

Mahasiswa KKN Universitas Ahmad Dahlan (UAD) melakukan penguatan Bank Sampah Sepuri Jaya di Nanggulan, Kulon Progo (Foto. KKN UAD)

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Unit IV.C.2 Periode 155 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) melakukan penguatan Bank Sampah Sepuri Jaya di Padukuhan Sokorojo, Kalurahan Wijimulyo, Kapanewon Nanggulan, pada Jumat, 27 Februari 2026. Program ini bertujuan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pengelolaan sampah berbasis lingkungan.

Kegiatan yang dibimbing oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Iin Narwanti, M.Sc., Ph.D., tersebut dilatarbelakangi hasil pengamatan mahasiswa KKN terhadap kondisi Bank Sampah Sepuri Jaya yang belum dimanfaatkan secara optimal. Keterbatasan fasilitas serta partisipasi warga yang masih rendah menjadi perhatian utama dalam pelaksanaan program ini.

Padukuhan Sokorojo yang dihuni sekitar 107 kepala keluarga diperkirakan menghasilkan kurang lebih 53,5 kilogram sampah per hari. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pengelolaan sampah yang lebih terorganisir melalui optimalisasi peran bank sampah sebagai pusat pengelolaan berbasis masyarakat.

Sebagai langkah penguatan, mahasiswa menyediakan sejumlah fasilitas pendukung, meliputi banner nama bank sampah sebagai identitas dan penanda lokasi, papan informasi untuk menunjang edukasi, serta tempat sampah organik dan anorganik guna mendukung proses pemilahan sejak dari sumbernya.

Kegiatan ini juga diisi dengan sosialisasi yang dihadiri puluhan warga, terdiri atas pengurus bank sampah, ibu-ibu PKK, kelompok tani, kelompok ternak, serta pemuda setempat. Materi yang disampaikan mencakup manfaat bank sampah, pengelolaan sampah berbasis prinsip 3R (Reuse, Reduce, Recycle), pemilahan sampah organik dan anorganik, serta optimalisasi pemanfaatan bank sampah.

Ketua KKN Unit IV.C.2 menyampaikan bahwa program ini diharapkan mampu mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah sejak dari rumah. “Kami ingin bank sampah tidak hanya menjadi fasilitas, tetapi benar-benar dimanfaatkan secara rutin oleh warga sehingga dapat mengurangi sampah rumah tangga,” ujarnya.

Pengurus Bank Sampah Sepuri Jaya menyambut baik kegiatan tersebut karena dinilai memberikan semangat baru bagi warga untuk kembali aktif menabung sampah dan mengelola lingkungan secara bersama.

Selain penguatan fasilitas dan edukasi, mahasiswa KKN turut menghadirkan inovasi pemanfaatan limbah anorganik berupa kaca bekas yang dijadikan penopang tiang bendera. Proses pembuatannya menggunakan galon bekas, pipa paralon, dan campuran semen. Galon dipotong sebagai wadah, kemudian diisi adonan semen sebagai lapisan dasar. Pipa ditempatkan di bagian tengah, kaca bekas yang telah dihancurkan dimasukkan dan dipadatkan, lalu kembali ditutup dengan semen hingga rapat.

Inovasi tersebut menunjukkan bahwa limbah anorganik masih memiliki nilai guna dan dapat dimanfaatkan kembali secara produktif. Melalui program ini, mahasiswa KKN Reguler Unit IV.C.2 Periode 155 memperkuat peran Bank Sampah Sepuri Jaya sebagai pusat pengelolaan sampah berbasis masyarakat, sekaligus mendorong terciptanya sistem yang lebih tertata, partisipatif, dan berdampak nyata bagi kebersihan lingkungan Padukuhan Sokorojo. (Doc)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Mahasiswa-KKN-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-melakukan-penguatan-Bank-Sampah-Sepuri-Jaya-di-Nanggulan-Kulon-Progo-Foto.-KKN-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-03-10 11:04:332026-03-10 11:04:33Langkah Strategis KKN UAD Tekan Sampah Rumah Tangga di Sokorojo

KKN UAD Kenalkan BRIKAM di Kulon Progo

10/03/2026/in Terkini /by Ard

Mahasiswa KKN Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kenalkan olahan BRIKAM Kulon Progo (Foto. KKN UAD)

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler 155 Unit IV.D.1 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menggelar sosialisasi pengolahan limbah sekam padi menjadi briket arang yang dinamai dengan BRIKAM (Briket dari Sekam Padi) di Padukuhan Setan, Kalurahan Wijimulyo, Kapanewon Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada 13 dan 15 Februari 2026 dengan sasaran Kelompok Tani Handayani dan perkumpulan UKLPMD Dusun Setan.

Program ini digagas sebagai upaya penanggulangan limbah organik berupa sekam padi yang banyak ditemukan di wilayah tersebut. Selama ini, sekam padi umumnya hanya dibuang, dibakar, atau dijual tanpa pengolahan lanjutan.

Melalui sosialisasi dan pelatihan, mahasiswa KKN memperkenalkan inovasi BRIKAM sebagai solusi bahan bakar alternatif yang ekonomis dan ramah lingkungan. Dalam pemaparannya, mahasiswa mengingatkan bahwa limbah sekam padi dapat mencemari lingkungan apabila tidak dikelola dengan bijak. Mahasiswa menjelaskan proses pembuatan BRIKAM, mulai dari pengeringan sekam, penghalusan, pencampuran dengan tepung kanji, pencetakan, dan pengeringan briket.

Kegiatan berlangsung interaktif melalui penyampaian materi, demonstrasi, pembuatan briket, serta sesi diskusi. Anggota Kelompok Tani Handayani dan UKLPMD menunjukkan antusiasme dengan mengajukan beberapa pertanyaan mengenai manfaat dan potensi pengembangan BRIKAM.

BRIKAM dinilai lebih unggul dibandingkan kayu bakar biasa, di antaranya menghasilkan residu asap yang lebih sedikit, panas yang stabil, serta daya tahan pembakaran yang lebih lama. BRIKAM juga bermanfaat untuk alternatif bahan bakar kebutuhan rumah tangga dan pelaku UMKM.

Mahasiswa KKN berharap inovasi BRIKAM dapat terus dikembangkan oleh masyarakat Padukuhan Setan, bukan hanya sebagai solusi pengelolaan limbah sekam padi, tetapi juga menjadi nilai tambah bagi ekonomi warga setempat. (Mei)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Mahasiswa-KKN-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-kenalkan-olahan-BRIKAM-Kulon-Progo-Foto.-KKN-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-03-10 10:51:252026-03-10 10:51:25KKN UAD Kenalkan BRIKAM di Kulon Progo
Page 3 of 540‹12345›»

TERKINI

  • Profesionalisme Profetik dalam Membangun Peradaban Berilmu15/03/2026
  • Bimawa UAD Dorong Kemandirian Usaha Mahasiswa15/03/2026
  • UAD Lolos Program Zero Waste Campus WWF-Indonesia15/03/2026
  • Dorong Minat Literasi, KKN UAD Buat Pojok Baca di Balai Padukuhan Plumbon15/03/2026
  • KKN UAD Inisiasi Festival Anak Saleh Ramadan di Batur Lor13/03/2026

PRESTASI

  • Inovasikan AR dan Permainan Edukatif, Mahasiswa UAD Juara 2 Microteaching International Competition09/03/2026
  • Mahasiswa PBI UAD Raih Silver Medal dalam Lomba Esai Nasional26/02/2026
  • Mahasiswa PBio UAD, Zul Hamdi Batubara Raih Andalan Awards Tiga Tahun Berturut-turut19/02/2026
  • Tim AL-Qorni UAD Raih Juara I Prototype Vehicle Design pada Shell Eco-marathon Middle East & Asia 202628/01/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara I Best Use of Data pada ADIYC Tahun 202523/01/2026

FEATURE

  • Wujudkan Kampus Ekologis, Komitmen Nyata UAD Menjaga Alam02/03/2026
  • Budaya Ekologis dan Resiliensi di Dunia Pendidikan01/03/2026
  • Restorasi Lingkungan sebagai Pilar Perkhidmatan Masa Depan01/03/2026
  • Optimalisasi Karya Kampus untuk Masyarakat26/02/2026
  • Istikamah dalam Ibadah, Kunci Meraih Ampunan di Bulan Ramadan26/02/2026

TENTANG | KRU | KONTAK | REKAPITULASI

Scroll to top