• TERKINI
  • UAD BERDAMPAK
  • PRESTASI
  • FEATURE
  • OPINI
  • MEDIA
  • KIRIM BERITA
  • Menu
News Portal of Universitas Ahmad Dahlan

Posts

Ketua LLHPB ’Aisyiyah Bahas Pendidikan Ekologis dalam Keluarga Berkemajuan

12/03/2026/in Terkini /by Ard

Rahmawati Husein pemateri Pengajian Ramadan 1447 PWA DIY di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Humas UAD)

Materi keempat Pengajian Ramadan 1447 H Pimpinan Wilayah ’Aisyiyah (PWA) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang bertempat di Amphitarium Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada 8 Maret 2026 disampaikan oleh Ketua Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) ’Aisyiyah, Rahmawati Husein, MCP., Ph.D., dimoderatori oleh Fitria Sari Yunianti, S.S., M.Hum., dengan mengangkat tema “Merawat Bumi dari Rumah: Pendidikan Ekologis dalam Keluarga Berkemajuan”.

Pemateri menyoroti berbagai kerusakan ekologis di Indonesia seperti deforestasi, degradasi tanah, dan pencemaran lingkungan. Ia menjelaskan bahwa sebelum tahun 2024, kerusakan hutan dan lahan mencapai sekitar satu juta hektare per tahun yang umumnya disebabkan oleh pembakaran hutan dan penebangan liar.

Selain itu kerusakan ekosistem pesisir juga menjadi perhatian, termasuk hilangnya mangrove dan bakau di wilayah Pantai Selatan Yogyakarta serta rusaknya terumbu karang yang berperan penting sebagai tempat tumbuhnya ekosistem pesisir. Kerusakan terumbu karang tersebut dapat memicu abrasi pantai yang semakin memperparah kondisi lingkungan.

Pemateri menegaskan bahwa menjaga kelestarian bumi merupakan bagian dari nilai keagamaan yang didasari oleh ajaran Islam, seperti dalam QS. Al-A’raf ayat 56 yang melarang perusakan di bumi dan QS. Al-Baqarah ayat 205 yang menegaskan bahwa Allah tidak menyukai kerusakan.

Ia juga menekankan pentingnya peran keluarga sebagai tempat pertama dalam menanamkan nilai kepedulian lingkungan “Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak untuk belajar nilai dan kebiasaan, termasuk membangun gaya hidup ramah lingkungan seperti mengurangi sampah, hemat energi, dan tidak membuang makanan,” jelasnya.

Selain itu, pemateri juga mengajak masyarakat membangun kebiasaan ramah lingkungan di rumah, seperti memasak secukupnya, tidak membuang makanan, membuang sampah pada tempatnya, dan menghemat energi listrik.

Hal ini penting mengingat data menunjukkan bahwa sebagian besar timbulan sampah di Indonesia berasal dari rumah tangga berupa sisa makanan, sementara di Indonesia juga menjadi salah satu penyumbang sampah plastik terbesar di dunia. Ia menambahkan bahwa berbagai upaya inovatif juga dapat dilakukan, seperti penggunaan panel surya. (Juni)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Rahmawati-Husein-pemateri-Pengajian-Ramadan-1447-PWA-DIY-di-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Humas-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-03-12 09:16:072026-03-12 09:16:07Ketua LLHPB ’Aisyiyah Bahas Pendidikan Ekologis dalam Keluarga Berkemajuan

Mahasiswa KKN UAD dan Warga Banaran Kidul Tanam Toga dan Olah Kompos

12/03/2026/in Terkini /by Ard

Mahasiswa KKN Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dan warga Banaran Kidul tanam toga dan olah kompos (Foto. KKN UAD)

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler 155 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Unit I.D.3 sukses laksanakan kegiatan penanaman Tanaman Obat Keluarga (Toga) serta pelatihan pengolahan sampah organik menjadi kompos. Kegiatan ini berlangsung bersama masyarakat Padukuhan Banaran Kidul, Kalurahan Banguncipto, Kapanewon Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, pada Jumat, 13 Februari 2026.

Program yang dipusatkan di salah satu rumah anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Banaran Kidul ini bertujuan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kesehatan keluarga sekaligus pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Kolaborasi mahasiswa dan warga diwujudkan melalui penanaman berbagai jenis bibit herbal, seperti jahe, kunyit, dan serai, guna memenuhi kebutuhan kesehatan harian.

Selain penanaman Toga, mahasiswa juga memberikan edukasi dan praktik langsung mengenai pengolahan sampah organik rumah tangga menjadi kompos. Materi yang disampaikan meliputi proses pemilahan sampah organik, pencampuran bahan, hingga teknik pengomposan.

Zakhwan Alfandi, selaku pemateri utama, memaparkan secara rinci tahapan pengolahan sampah dapur tersebut. “Kompos ini nantinya akan berfungsi sebagai pupuk alami yang sangat ramah lingkungan. Pupuk ini bisa langsung dimanfaatkan untuk mendukung pertumbuhan tanaman Toga di pekarangan rumah ibu-ibu,” jelasnya.

Di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Siti Kurnia Widihastuti S.KM., M.PH., program ini dirancang agar relevan dengan kebutuhan masyarakat. Siti memastikan bahwa perencanaan yang dieksekusi oleh delapan mahasiswa KKN—yakni Zakhwan Alfandi, Dina Rosi Pratiwi, Salsabila Alnadzifah, Alief Lutphi Wibowo, Dinar Apriliani, Aldiyansah Ramadani, Shafira Hermalia Widodo, dan Asti Tsaniya Lailatifah—memiliki dampak positif yang berkelanjutan bagi desa. Salah satu anggota KWT Banaran Kidul menyampaikan apresiasinya atas kehadiran program tersebut. 

“Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami. Selain belajar membuat kompos dari sampah dapur, kami juga mendapatkan pengetahuan tentang penanaman tanaman obat yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari,” ungkapnya.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN UAD berharap masyarakat Padukuhan Banaran Kidul dapat semakin sadar akan pentingnya menjaga lingkungan. Kolaborasi ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun kebiasaan hidup sehat, memaksimalkan lahan pekarangan untuk Toga, dan mengelola sampah rumah tangga secara bijak. (ito)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Mahasiswa-KKN-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-dan-warga-Banaran-Kidul-tanam-toga-dan-olah-kompos-Foto.-KKN-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-03-12 09:07:552026-03-12 09:07:55Mahasiswa KKN UAD dan Warga Banaran Kidul Tanam Toga dan Olah Kompos

Mengapa Generasi Muda Terjebak Pinjol dan Paylater Demi Gaya Hidup?

11/03/2026/in Terkini /by Ard

Dyah Fitriani, S.E., M.M. pemateri ceramah tarawih Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Anove)

Sebagai bagian dari rangkaian Ramadan di Kampus (RDK) 1447 H, Kajian Jelang Buka Puasa di Masjid Islamic Center (IC) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Selasa, 3 Maret 2026, menghadirkan pembahasan krusial mengenai manajemen keuangan Islam di tengah gempuran gaya hidup modern. Membawakan tema “Manajemen Keuangan Islam: Fenomena Pinjol, Paylater, dan Mentalitas Kaya Instan di Kalangan Kaum Muda”, Dyah Fitriani, S.E., M.M., selaku Wakil Dekan Bidang Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), Akademik, dan Kemahasiswaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UAD, membedah fenomena pinjaman online (pinjol) dan paylater yang kini menjerat kaum muda.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tren berutang di kalangan generasi muda mayoritas dipicu oleh pemenuhan aspek fesyen dan barang-barang konsumtif lainnya, bukan kebutuhan pokok. Survei menunjukkan pengguna paylater terbanyak berada pada rentang usia 26 hingga 35 tahun, yaitu sebanyak 44%, disusul oleh kelompok usia 18 hingga 25 tahun. Fenomena ini mencerminkan adanya pergeseran paradigma, di mana generasi sekarang cenderung lebih berani berutang demi mengejar kesenangan dan gaya hidup yang tidak sesuai dengan pendapatan mereka.

Dyah menyoroti bahwa rendahnya literasi, tingginya sifat konsumtif, dan hawa nafsu yang tidak terkendali menjadi akar masalah utama. Banyak anak muda terjebak pinjol karena tergiur kemudahan dan kepraktisannya tanpa memahami risiko di baliknya, seperti denda yang mencekik, bunga yang terus berkembang, hingga ancaman penyebaran data pribadi.

Secara psikologis, perilaku ini didorong oleh mentalitas kaya instan dan tekanan sosial, seperti fear of missing out (FOMO) atau perasaan takut tertinggal, you only live once (YOLO) atau pola pikir bahwa hidup hanya sekali, serta fear of people’s opinion (FOPO) yang berarti takut dengan pendapat orang lain. Bahkan, penelitian tahun 2024 menunjukkan konsumen laki-laki kini cenderung lebih impulsif dalam berbelanja. Hal ini diperparah dengan penggunaan media sosial yang sering kali memicu doom spending atau belanja asal-asalan sebagai bentuk pelarian mental. “Anak muda itu tahu FOMO, YOLO. Orang itu bisa saja berutang karena sekadar ikut-ikutan, memaksa dia harus berutang,” ujarnya.

Dalam perspektif Islam, persoalan ini berkaitan erat dengan pengendalian hawa nafsu sebagaimana diingatkan dalam Al-Qur’an surah Al-An’am ayat 119 dan surah Shad ayat 26. Islam memandang utang-piutang sebagai sarana tolong-menolong, bukan untuk menyesatkan atau memberatkan dengan unsur riba yang berlipat ganda.

Mengutip hadis riwayat Al-Bazzar dari Anas bin Malik, Dyah menekankan pentingnya menjauhi tiga perkara yang membinasakan, yaitu kerakusan, hawa nafsu yang diikuti, dan membanggakan diri. Sebaliknya, umat diajak untuk hidup sederhana baik di waktu sempit maupun lapang. Sebagai solusi, kaum muda diimbau untuk lebih selektif memilih layanan keuangan, memprioritaskan menabung, dan beralih ke platform legal syariah seperti Ethis, Alami, atau Dana Syariah yang lebih mengedepankan kebermanfaatan.

Menutup kajiannya, Dyah mengingatkan generasi muda, khususnya kepada mahasiswa, agar tidak hanya mengedepankan gaya hidup tanpa melihat kondisi finansial yang nyata. Prinsip “besar pasak daripada tiang” akibat seringnya melakukan self-reward yang berlebihan harus segera ditinggalkan. Mengutip hadis riwayat Bukhari dan Muslim, ia menegaskan bahwa kekayaan yang hakiki bukanlah diukur dari banyaknya kemewahan dunia, melainkan dari hati yang selalu merasa cukup atau qana’ah.

Dengan memperkuat literasi, mengurangi jiwa konsumtif, dan mengendalikan hawa nafsu, diharapkan generasi muda dapat terhindar dari jeratan utang dan memiliki mental kaya yang sesungguhnya sesuai dengan tuntunan syariat. (Anove)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Dyah-Fitriani-S.E.-M.M.-pemateri-ceramah-tarawih-Masjid-Islamic-Center-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Anove.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-03-11 10:17:502026-03-11 10:17:50Mengapa Generasi Muda Terjebak Pinjol dan Paylater Demi Gaya Hidup?

KKN UAD Kenalkan Teh Herbal dari Limbah Rambut Jagung

11/03/2026/in Terkini /by Ard

KKN Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kenalkan olahan tee herbal dari limbah rambut jagung (Foto. KKN UAD)

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler 155 Unit VIII.C.3 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) berhasil menyelenggarakan penyuluhan dan pelatihan pembuatan teh dari rambut jagung (corn silk). Kegiatan yang menyasar anggota Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) ini berlangsung di Balai Dusun Pokdadap, Desa Dadapayu, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul, pada Selasa 10 Februari 2026.

Kegiatan yang diikuti oleh 16 peserta tersebut bertujuan untuk mengedukasi masyarakat mengenai pemanfaatan limbah pertanian. Selain itu, program ini juga mendorong inovasi produk herbal yang berpotensi meningkatkan nilai ekonomi hasil tani setempat. Selama ini, rambut jagung hanya dianggap sebagai limbah yang dibuang atau dibakar oleh warga.

Ketua Unit KKN VIII.C.3, Arya Langgeng Nur Prambayu Utama, menjelaskan bahwa program tersebut dirancang berdasarkan hasil observasi dan analisis kebutuhan masyarakat di lokasi KKN.

“Sebelum menentukan program ini, kami menemukan adanya kebutuhan inovasi pengolahan hasil pertanian. Dari situ, kami melihat potensi rambut jagung yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal oleh warga,” ujarnya.

Acara diawali dengan penyuluhan mengenai perbedaan obat herbal dan obat kimia, serta pemanfaatan potensi tanaman sekitar sebagai sumber bahan alami. Sesi kemudian dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan teh rambut jagung yang diikuti dengan praktik langsung oleh para peserta. Inisiator program, Alfi Lutfiah Putri, secara rinci memaparkan tahapan pengolahan limbah tersebut hingga menjadi produk teh herbal yang siap seduh.

“Rambut jagung terlebih dahulu dicuci hingga bersih, kemudian dijemur sampai kering dan dihaluskan. Setelah itu, serbuk dimasukkan ke dalam kantong teh (tea bag) sebanyak kurang lebih dua gram. Agar memiliki rasa manis alami, teh ini dapat dicampur dengan daun stevia yang juga telah dicuci, dikeringkan, dan dihaluskan,” jelas Alfi.

Para peserta terlihat sangat antusias mengikuti seluruh rangkaian acara, terutama saat sesi praktik pembuatan teh. Beberapa di antaranya bahkan menyatakan ketertarikannya untuk memproduksi teh rambut jagung secara mandiri di rumah.

Melalui inovasi ini, mahasiswa KKN UAD berharap masyarakat Dusun Pokdadap dapat memaksimalkan potensi limbah pertanian menjadi produk rumah tangga yang bernilai jual. Langkah ini diharapkan mampu membuka peluang usaha baru yang sepenuhnya berbasis pada potensi lokal desa. (ito)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/KKN-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-kenalkan-olahan-tee-herbal-dari-limbah-rambut-jagung-Foto.-KKN-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-03-11 10:07:342026-03-11 10:07:34KKN UAD Kenalkan Teh Herbal dari Limbah Rambut Jagung

Dakwah Perempuan Berkemajuan dalam Merespons Krisis Lingkungan

11/03/2026/in Terkini /by Ard

Dr. Adib Sofia, M.Hum. pemateri Pengajian PWA DIY di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Humas UAD)

Pimpinan Wilayah ’Aisyiyah (PWA) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kembali menyelenggarakan Pengajian Ramadan 1447 H pada Ahad, 8 Maret 2026, bertempat di Amphitarium Kampus IV Universitas Ahmad Dahlan (UAD).

Pengajian ini dihadiri oleh sekitar 140 peserta, yang di antaranya terdiri atas perwakilan Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) se-DIY dan jajaran PWA DIY. Materi ketiga dalam kegiatan tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Majelis Tabligh dan Ketarjihan Pimpinan Pusat ’Aisyiyah, Dr. Adib Sofia, M.Hum., dan dipandu oleh Dr. Sri Roviana, S.Ag., M.A. selaku moderator.

Materi bertema “Dakwah Perempuan Berkemajuan dalam Merespons Krisis Lingkungan” ini diawali dengan menyanyikan lagu Srengenge Nyunar. Dalam pemaparannya, Dr. Adib Sofia menekankan pentingnya dakwah yang bersifat transformatif dengan semangat minadz-dzulumati ilan-nur yang diambil dari Surah Al-Baqarah ayat 257, yakni mengajak masyarakat bergerak dari kegelapan menuju cahaya.

Ia menjelaskan bahwa metode dakwah yang dilakukan oleh ’Aisyiyah dan Muhammadiyah menggunakan pendekatan mubalighat yang lebih lembut, menyentuh hati, serta diwujudkan melalui aksi tablig. Menurutnya, pendekatan dakwah saat ini juga mengalami perubahan dari model instruksional dari atas ke bawah (top-down) yang bersifat pembinaan, menjadi pendekatan partisipatif melalui pemberdayaan masyarakat yang bersifat dari bawah ke atas (bottom-up) dan pelibatan komunitas (community engagement).

“Setiap komunitas memiliki kebutuhan yang berbeda sehingga tidak ada magic formula dalam berdakwah. Karena itu, dakwah perlu dilakukan secara kolaboratif dan berbasis riset agar mampu menjawab persoalan lingkungan yang relevan dengan kondisi masyarakat,” ujar Dr. Adib Sofia.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa isu lingkungan perlu diposisikan sebagai isu keumatan dan keadilan sosial dalam dakwah. Oleh karena itu, diperlukan desain dakwah yang terencana, mulai dari penentuan kompetensi dan tujuan dakwah, perancangan konten yang merujuk pada berbagai referensi, hingga strategi penyampaian yang tepat. Selain itu, evaluasi juga penting dilakukan untuk mengetahui dampak dakwah sebelum dan sesudah pelaksanaan.

Dr. Adib turut menekankan pentingnya menyampaikan isu lingkungan dengan menampilkan fenomena berbasis data, argumentasi para pakar, landasan skriptural, serta keterkaitannya dengan persoalan keumatan. Pemaparan materi yang menginspirasi ini kemudian ditutup dengan kekompakan seluruh peserta Pengajian Ramadan dalam menyanyikan lagu Kudu Poso. (Juni)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Dr.-Adib-Sofia-M.Hum_.-pemateri-Pengajian-PWA-DIY-di-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Humas-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-03-11 10:00:412026-03-11 10:00:41Dakwah Perempuan Berkemajuan dalam Merespons Krisis Lingkungan

Mahasiswa UAD Edukasi Warga Padukuhan Pengkok Olah Limbah Dapur Menjadi Pupuk Organik

11/03/2026/in Terkini /by Ard

Mahasiswa KKN Universitas Ahmad Dahla (UAD) edukasi warga Padukuhan Pengkok olah limbah dapur jadi pupuk organik (Foto. KKN UAD)

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Periode 155 Unit VIII.A.3 menyelenggarakan “Sosialisasi dan Pelatihan Pemanfaatan Limbah Dapur” menggunakan metode Effective Microorganisms 4 (EM4) sebagai bagian dari program kerja tematik. Kegiatan ini sukses dilaksanakan pada Jumat, 13 Februari 2026 di Balai Padukuhan Pengkok, Kalurahan Pengkok, Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul.

Program ini diangkat sebagai solusi teknologi sederhana untuk menekan volume limbah organik di lingkungan rumah tangga. Sebelum program dijalankan, warga Padukuhan Pengkok terbiasa membuang atau membakar limbah dapur seperti sisa makanan dan sayuran begitu saja. Kebiasaan tersebut memicu bau tidak sedap, polusi udara, hingga risiko penyakit.

EM4 dipilih sebagai metode utama karena mampu mempercepat proses fermentasi limbah menjadi kompos atau Pupuk Organik Cair (POC). Selain murah dan ramah lingkungan, metode ini dinilai lebih unggul dalam hal kecepatan dan keamanan dibandingkan cara konvensional seperti penimbunan.

Dalam pelatihan tersebut, mahasiswa mendemonstrasikan proses pengolahan menggunakan wadah kedap udara dari galon bekas. Langkah-langkahnya dimulai dengan memotong kecil limbah dapur, memasukkannya ke dalam galon, lalu mencampurkan larutan EM4 secara merata sebelum wadah ditutup rapat. Setelah proses fermentasi selama 7 hingga 14 hari, pupuk cair tersebut dapat langsung diaplikasikan ke tanaman.

Respons warga Padukuhan Pengkok terpantau sangat baik dan antusias. “Beberapa warga bahkan mencatat dan merekam proses praktik agar dapat mempraktikkannya secara mandiri di rumah,” jelas Dinda selaku penanggung jawab kegiatan tersebut. Mahasiswa mencatat tidak ada tantangan berarti dalam mengedukasi masyarakat terkait pemilahan limbah organik ini.

Mahasiswa KKN UAD Unit VIII.A.3 berharap  masyarakat dapat memproduksi pupuk sendiri sehingga mengurangi polusi akibat pembakaran sampah. Selain menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat, pemanfaatan limbah ini diharapkan mampu meningkatkan kesuburan tanaman pekarangan warga, baik untuk konsumsi pribadi maupun potensi nilai ekonomi tambahan. (Anove)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Mahasiswa-KKN-Universitas-Ahmad-Dahla-UAD-edukasi-warga-Padukuhan-Pengkok-olah-limbah-dapur-jadi-pupuk-organik-Foto.-KKN-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-03-11 09:33:062026-03-11 09:33:06Mahasiswa UAD Edukasi Warga Padukuhan Pengkok Olah Limbah Dapur Menjadi Pupuk Organik

Banjir dalam Perspektif Iman dan Manajemen Risiko

11/03/2026/in Terkini /by Ard

H. Budi Setiawan, S.T. pemateri pengajian Ramadan 1447 H PWA DIY di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Humas UAD)

Materi kedua dalam Pengajian Ramadan 1447 H yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Daerah Istimewa Yogyakarta di Amphitarium Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menghadirkan H. Budi Setiawan, S.T., dengan tema “Bencana Bukan Takdir Semata: Membaca Banjir dalam Perspektif Manajemen Risiko dan Iman” pada Sabtu, 7 Maret 2026.

Dalam pemaparannya, Budi Setiawan menegaskan bahwa bencana tidak semata-mata dipahami sebagai takdir, tetapi juga perlu dilihat melalui upaya ikhtiar manusia dalam mengelola risiko. Menurutnya, penguatan iman harus berjalan seiring dengan upaya nyata dalam mengurangi dampak bencana.

Ia mencontohkan bahwa tempat ibadah dapat memiliki peran strategis dalam situasi kebencanaan, seperti menjadikan masjid sebagai pusat evakuasi maupun pos koordinasi. Selain itu, proses pemulihan pascabencana juga dapat diintegrasikan dengan kegiatan ibadah guna memperkuat ketahanan spiritual masyarakat.

“Penguatan iman harus sebanding dengan ikhtiar. Pemahaman agama yang baik akan meningkatkan kesadaran sekaligus ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa meningkatnya risiko banjir tidak terlepas dari kerusakan ekologis yang bersifat struktural. Beberapa faktor yang memicu kondisi tersebut antara lain deforestasi dan degradasi hutan, perubahan tata guna lahan, pembangunan infrastruktur yang tidak ramah lingkungan, serta aktivitas penambangan yang tidak terkontrol.

Kerusakan tersebut berdampak pada menurunnya fungsi hutan sebagai penyerap air, meningkatnya erosi tanah, serta bertambahnya risiko banjir di berbagai wilayah. Kondisi ini pada akhirnya menimbulkan berbagai konsekuensi, mulai dari kerusakan lingkungan yang parah, kerugian ekonomi yang besar, hingga munculnya korban jiwa dan pengungsi.

Ia juga menegaskan bahwa risiko bencana ekologis cenderung meningkat apabila kerusakan lingkungan terus terjadi. “Risiko peningkatan bencana akan lebih tinggi lagi. Berbeda dengan gempa yang tidak merusak alam secara langsung,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Budi Setiawan turut menjelaskan peran Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) sebagai unit pembantu pimpinan dalam penanganan kebencanaan di lingkungan Muhammadiyah. Lembaga ini berperan dalam berbagai aspek, mulai dari mitigasi dan kesiapsiagaan, tanggap darurat serta rehabilitasi dan rekonstruksi, hingga penguatan jaringan kerja sama, pendidikan, dan pelatihan kebencanaan. MDMC juga memiliki tim medis darurat (Emergency Medical Team) yang siap diterjunkan dalam situasi bencana.

Ia menambahkan bahwa mitigasi merupakan langkah penting untuk mengurangi risiko bencana, misalnya melalui pembangunan infrastruktur yang ramah lingkungan serta peningkatan kapasitas relawan kebencanaan di masyarakat.

Selain itu, setiap wilayah diharapkan memiliki rencana kontinjensi sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi bencana. Rencana kontinjensi merupakan prosedur terdokumentasi yang disusun sebelumnya untuk merespons ancaman tertentu secara efektif, dengan menetapkan peran, tanggung jawab, serta skenario tindakan yang jelas.

Konsep tersebut biasanya dirumuskan melalui pendekatan SIADIBIBA (Siapa, Di mana, Bilamana, Bagaimana, dan melakukan apa) agar respons terhadap bencana dapat berjalan lebih terarah dan terkoordinasi.

Di sisi lain, Budi Setiawan menekankan pentingnya respons bencana berbasis komunitas, yaitu upaya kolektif masyarakat dalam menghadapi dan mengurangi dampak bencana melalui perencanaan, persiapan, dan aksi bersama.

Ia menutup pemaparannya dengan mengingatkan bahwa manusia sebagai khalifah di bumi memiliki tanggung jawab tidak hanya dalam menjaga alam, tetapi juga dalam mengelola risiko bencana sejak tahap prabencana hingga pascabencana. (Dnd)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/H.-Budi-Setiawan-S.T.-pemateri-pengajian-Ramadan-1447-H-PWA-DIY-di-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Humas-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-03-11 09:18:402026-03-11 09:18:40Banjir dalam Perspektif Iman dan Manajemen Risiko

KKN UAD Kenalkan Alternatif Pengelolaan Limbah Minyak Jelantah

11/03/2026/in Terkini /by Ard

KKN Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kenalkan alternatif pengelolaan limbah minyak jelantah di Patuk, Gunungkidul (Foto. KKN UAD)

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Unit VII.B.1 Reguler Periode 155 menyelenggarakan pelatihan pembuatan lilin dari minyak jelantah di Dusun Karangsari, Kalurahan Nglanggeran, Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul. Kegiatan ini merupakan bagian dari program pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan limbah rumah tangga yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomis.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa memberikan edukasi mengenai dampak negatif pembuangan minyak jelantah secara sembarangan, seperti pencemaran tanah dan penyumbatan saluran air. Warga diberikan pemahaman bahwa minyak bekas yang sering dianggap tidak berguna sebenarnya dapat diolah kembali menjadi produk yang bermanfaat, salah satunya lilin.

Proses pembuatan lilin dilakukan melalui beberapa tahapan, dimulai dari penyaringan minyak jelantah untuk memisahkan sisa kotoran, kemudian pemanasan minyak dan pencampuran dengan bahan pengeras seperti parafin atau stearin. Setelah tercampur rata, cairan dituangkan ke dalam cetakan yang telah dipasang sumbu, lalu didiamkan hingga mengeras. Dalam pelatihan tersebut, warga terlihat antusias dan aktif mencoba langsung proses pembuatan lilin dengan pendampingan mahasiswa.

Koordinator Unit VII.B.1 menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya bertujuan mengurangi limbah rumah tangga, tetapi juga membuka peluang usaha kreatif bagi masyarakat, khususnya ibu rumah tangga. Lilin yang dihasilkan dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga maupun dikembangkan menjadi produk lilin hias atau aromaterapi dengan nilai jual lebih tinggi.

Warga Dusun Karangsari menyambut baik program ini karena memberikan solusi praktis terhadap pengelolaan limbah sekaligus menambah wawasan dan keterampilan baru. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN UAD Unit VII.B.1 berharap masyarakat Dusun Karangsari semakin sadar akan pentingnya menjaga lingkungan serta mampu memanfaatkan limbah menjadi produk yang bernilai guna dan ekonomis. (Anove)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/KKN-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-kenalkan-alternatif-pengelolaan-limbah-minyak-jelantah-di-Patuk-Gunungkidul-Foto.-KKN.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-03-11 09:11:502026-03-11 09:11:50KKN UAD Kenalkan Alternatif Pengelolaan Limbah Minyak Jelantah

Merawat Bumi sebagai Manifestasi Dakwah Perempuan Berkemajuan

10/03/2026/in Terkini /by Ard

Dr. Muhammad Rofiq, Ph.D. pemateri pengajian Ramadan 1447 H PWA DIY di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Humas UAD)

Pengajian Ramadan 1447 H yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Daerah Istimewa Yogyakarta menghadirkan Dr. Muhammad Rofiq, Ph.D., sebagai pemateri pada sesi pertama dengan tema “Etika Lingkungan dalam Perspektif Keimanan: Merawat Bumi sebagai Manifestasi Dakwah Perempuan Berkemajuan”.

Dalam pemaparannya, Muhammad Rofiq menyoroti kondisi lingkungan global yang semakin memprihatinkan akibat perubahan iklim. Ia menyampaikan bahwa kenaikan permukaan air laut setiap tahun mencapai sekitar 3,5 milimeter sebagai dampak dari pemanasan global. Kondisi tersebut bahkan mulai terlihat di beberapa wilayah pesisir, termasuk di Jakarta yang sebagian wilayahnya telah berada di bawah permukaan air laut.

Menurutnya, fenomena kerusakan lingkungan telah dijelaskan dalam Al-Qur’an melalui QS. Ar-Rum ayat 41 yang menyebutkan bahwa kerusakan di darat dan laut terjadi akibat ulah manusia. Ayat tersebut, lanjutnya, menjadi pengingat bahwa ketidakseimbangan alam merupakan konsekuensi dari tindakan manusia terhadap lingkungan.

Ia menjelaskan bahwa istilah fasad dalam ayat tersebut tidak hanya merujuk pada kerusakan yang tampak secara fisik seperti banjir dan longsor, tetapi juga kerusakan batin yang berakar dari perilaku manusia. “Ketika terjadi fasad, artinya bumi kita sedang mengalami ketidakseimbangan,” jelasnya.

Muhammad Rofiq juga menegaskan bahwa Islam sebagai agama yang bersifat komprehensif tidak hanya mengatur ibadah ritual, tetapi juga mengajarkan tanggung jawab manusia terhadap alam. Ia memaparkan tiga tugas utama manusia dalam hubungannya dengan lingkungan, yaitu al-‘ibadah, istikhlaf, dan isti’mar.

Pertama, al-‘ibadah, yakni memandang interaksi manusia dengan alam sebagai bagian dari ibadah. Menjaga kelestarian lingkungan termasuk dalam bentuk penghambaan kepada Allah Swt. Kedua, istikhlaf, yaitu peran manusia sebagai khalifah yang bertugas menjaga keseimbangan alam yang telah diciptakan secara harmonis. Ketiga, isti’mar, yaitu memakmurkan bumi melalui berbagai bentuk kreativitas dan pembangunan.

Ia mengingatkan bahwa manusia sering kali hanya berfokus pada aspek isti’mar atau pemanfaatan sumber daya alam, tanpa diimbangi kesadaran sebagai hamba dan khalifah yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan alam. Akibatnya, eksploitasi lingkungan kerap dibenarkan atas nama pembangunan.

Lebih lanjut, ia menawarkan beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk merespons persoalan ekologis. Salah satunya melalui tafsir transformasi yang mengaitkan teks keagamaan dengan isu lingkungan, termasuk pengembangan konsep fikih air. Pendekatan ini dapat dilakukan melalui metode hierarkis yang meliputi nilai-nilai dasar Islam (al-qiyam al-asasiyyah), prinsip-prinsip umum (al-ushul al-kulliyyah), hingga pedoman praktis (al-ahkam al-far’iyyah).

Ia juga menekankan pentingnya memahami teks-teks keagamaan dengan perspektif ekologis melalui pendekatan manhaj tarjih. Banyak ayat Al-Qur’an maupun hadis yang sebenarnya memiliki pesan ekologis, tetapi selama ini belum banyak dielaborasi secara mendalam dan sering dipahami secara tekstual semata.

Selain penguatan pemahaman keagamaan, Muhammad Rofiq mendorong agar isu lingkungan dibawa ke berbagai ruang dakwah, baik melalui dakwah bil lisan, dakwah bil qalam, maupun dakwah bil hal. Upaya tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kelestarian bumi.

Di akhir penyampaiannya, ia mengajak seluruh pihak untuk terlibat aktif dalam berbagai gerakan ekologis, seperti pelatihan, advokasi, serta aksi nyata dalam menjaga lingkungan. Menurutnya, merawat bumi merupakan bagian dari tanggung jawab keimanan sekaligus wujud dakwah yang relevan dengan tantangan zaman. (Dnd)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Dr.-Muhammad-Rofiq-Ph.D.-pemateri-pengajian-Ramadan-1447-H-PWA-DIY-di-Universitas-Ahmad-Dahlan-UAD-Foto.-Humas-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-03-10 11:17:002026-03-10 11:17:00Merawat Bumi sebagai Manifestasi Dakwah Perempuan Berkemajuan

Berapa Lama Sampah Kita Terurai? Mahasiswa KKN UAD Jawab Lewat Papan Edukasi

10/03/2026/in Terkini /by Ard

Mahasiswa KKN UAD membuat papan edukasi tentang waktu penguraian sampah di Sentolo, Kulon Progo (Foto. KKN UAD)

Pertanyaan sederhana, tetapi jarang dipikirkan oleh banyak orang, “Berapa lama sampah kita terurai?” menjadi perhatian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) di Padukuhan Siwalan, Kapanewon Sentolo, Kabupaten Kulon Progo. Melalui pembuatan papan edukasi tentang waktu penguraian sampah, mahasiswa berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat setempat terhadap pentingnya pengelolaan sampah yang bijak.

Program pengabdian ini dilatarbelakangi oleh masih minimnya informasi yang diketahui warga mengenai lamanya proses penguraian berbagai jenis sampah. Banyak masyarakat yang belum menyadari bahwa sampah plastik—seperti kantong kresek, botol minuman, atau sedotan—membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk terurai secara alami. Hal ini tentu sangat berbeda dengan sampah organik, seperti daun atau sisa makanan, yang relatif lebih cepat terurai.

Papan edukasi yang dipasang di titik-titik strategis lingkungan padukuhan tersebut memuat informasi visual mengenai jenis-jenis sampah beserta estimasi waktu penguraiannya. Penyajian data dikemas secara sederhana dan mudah dipahami agar dapat dibaca oleh semua kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

Dalam proses pembuatannya, mahasiswa berkoordinasi dengan perangkat padukuhan untuk menentukan lokasi pemasangan yang mudah terlihat dan sering dilalui oleh warga. Material papan juga dipilih agar cukup kuat dan tahan terhadap kondisi cuaca sehingga dapat dimanfaatkan dalam jangka waktu yang lama.

“Kami ingin masyarakat lebih sadar bahwa setiap sampah yang dibuang memiliki konsekuensi waktu yang berbeda terhadap lingkungan. Harapannya, informasi ini dapat mendorong perubahan perilaku dalam memilah dan mengurangi sampah,” ujar Ketua Unit KKN UAD.

Kehadiran papan edukasi tersebut mendapat respons positif dari masyarakat. Sejumlah warga mengaku baru mengetahui lamanya proses penguraian sampah anorganik setelah membaca informasi yang tertera.

Edukasi sederhana ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun budaya peduli lingkungan di tingkat padukuhan. Melalui program ini, mahasiswa KKN UAD tidak hanya menghadirkan media informasi, tetapi juga menanamkan kesadaran bahwa menjaga lingkungan dimulai dari kebiasaan kecil sehari-hari. Sebab, dari satu pertanyaan tentang waktu penguraian sampah, tumbuh pemahaman bahwa setiap tindakan manusia meninggalkan jejak bagi bumi. (anw)

uad.ac.id

https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/Mahasiswa-KKN-UAD-membuat-papan-edukasi-tentang-waktu-penguraian-sampah-di-Sentolo-Kulon-Progo-Foto.-KKN-UAD.jpg 1080 1920 Ard https://news.uad.ac.id/wp-content/uploads/logo-news-uad-2.png Ard2026-03-10 11:13:332026-03-10 11:13:33Berapa Lama Sampah Kita Terurai? Mahasiswa KKN UAD Jawab Lewat Papan Edukasi
Page 3 of 540‹12345›»

TERKINI

  • Mewujudkan Peran Khalifah Melalui Pelestarian Alam16/03/2026
  • Mahasiswa KKN UAD Sosialisasikan Pengelolaan Sampah di Padukuhan Bejaten16/03/2026
  • Implementasi Teknologi Lubang Resapan Biopori sebagai Strategi Mitigasi Genangan Air di Desa Kalibondol16/03/2026
  • Profesionalisme Profetik dalam Membangun Peradaban Berilmu15/03/2026
  • Bimawa UAD Dorong Kemandirian Usaha Mahasiswa15/03/2026

PRESTASI

  • Inovasikan AR dan Permainan Edukatif, Mahasiswa UAD Juara 2 Microteaching International Competition09/03/2026
  • Mahasiswa PBI UAD Raih Silver Medal dalam Lomba Esai Nasional26/02/2026
  • Mahasiswa PBio UAD, Zul Hamdi Batubara Raih Andalan Awards Tiga Tahun Berturut-turut19/02/2026
  • Tim AL-Qorni UAD Raih Juara I Prototype Vehicle Design pada Shell Eco-marathon Middle East & Asia 202628/01/2026
  • Mahasiswa UAD Raih Juara I Best Use of Data pada ADIYC Tahun 202523/01/2026

FEATURE

  • Wujudkan Kampus Ekologis, Komitmen Nyata UAD Menjaga Alam02/03/2026
  • Budaya Ekologis dan Resiliensi di Dunia Pendidikan01/03/2026
  • Restorasi Lingkungan sebagai Pilar Perkhidmatan Masa Depan01/03/2026
  • Optimalisasi Karya Kampus untuk Masyarakat26/02/2026
  • Istikamah dalam Ibadah, Kunci Meraih Ampunan di Bulan Ramadan26/02/2026

TENTANG | KRU | KONTAK | REKAPITULASI

Scroll to top