Garda Depan Melawan Dengue: Mahasiswa UAD Perkuat Peran Jumantik di Bokoharjo

Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Gelar PRODAMAT di Kelurahan Bokoharjo (Foto. Tim Prodamat UAD)
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi ancaman serius di wilayah tropis, termasuk Indonesia. Menyikapi hal tersebut, tim mahasiswa Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan (UAD) melaksanakan Program Pemberdayaan Umat (PRODAMAT) bertajuk “Penguatan Peran Jumantik di Kelurahan Bokoharjo” pada Rabu, 11 Februari 2026, sebagai upaya nyata mencegah DBD berbasis masyarakat.
Kegiatan yang berlangsung di Kelurahan Bokoharjo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, ini menyasar para kader Juru Pemantau Jentik (Jumantik) setempat. Wilayah ini dipilih karena memiliki banyak tempat penampungan air yang berpotensi menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti. Melalui program ini, para kader kembali dibekali pemahaman dan keterampilan terkait pemantauan jentik serta edukasi Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus sebagai langkah pencegahan yang efektif.
Program yang diketuai oleh Nurham Al Afgani Agusalim, bersama tim yang terdiri atas Rizkita Arfiana, Gusti Mursalina, Lutfi Munifah Izzah, Dwi Yuliatin Sholiah, Misyka Fajratul Izzah, dan Miersa Sawitri Hayyusari ini diikuti oleh 24 kader kesehatan. Kegiatan diawali dengan koordinasi bersama pihak kelurahan, dilanjutkan dengan penyampaian data kasus DBD terkini, serta pelatihan teknik mengenali dan memantau jentik nyamuk. Para kader yang mayoritas merupakan ibu rumah tangga berusia 51–60 tahun tampak antusias selama kegiatan berlangsung. Di sela-sela kegiatan, Nurham menyampaikan pandangannya.
“Kami melihat bahwa peran kader di lapangan sangat vital. Namun, pengetahuan mereka perlu terus diperbarui agar pesan pencegahan DBD yang disampaikan kepada warga tetap efektif dan relevan dengan kondisi lapangan saat ini,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya pembaruan pengetahuan bagi kader sebagai ujung tombak edukasi kesehatan di masyarakat. Hasil evaluasi pun menunjukkan dampak yang signifikan terhadap peningkatan pengetahuan kader. Skor rata-rata pre-test meningkat dari 21,71 menjadi 23,50 pada post-test, terutama pada aspek menguras penampungan air secara rutin, menutup wadah air, dan mendaur ulang barang bekas.
Dosen Pembimbing Lapangan, Prof. Sulistyawati, S.Si., M.P.H., Ph.D., turut menekankan harapan dari pelaksanaan program ini. ”Pemberdayaan kader diharapkan tidak hanya berhenti pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga bertransformasi menjadi praktik pencegahan yang konsisten,” tuturnya.
Dengan meningkatnya kapasitas kader, diharapkan Angka Bebas Jentik (ABJ) di Kelurahan Bokoharjo dapat terus meningkat. Dengan demikian, risiko penularan DBD dapat ditekan secara berkelanjutan melalui kolaborasi antara tenaga kesehatan, pemerintah lokal, dan masyarakat. (Juni)









