Teater JAB Sodorkan Juara Dua melalui Monolog

0
261

Teater Jaringan Anak Bahasa (JAB) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) tidak mati dari prestasi. Pada 14 Agustus lalu, teater ini mengikuti Pekan Seni Mahasiswa (PSM) di Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).

Dzaki Muhammad Fadhiil selaku sutradara, tetapi lebih suka disebut sebagai penggarap atau pembantu teman-teman ini, mengikuti tim monolog. Dzaki menjelaskan kisahnya beserta tim sebelum mengantongi juara dua dari PSM tingkat Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) se-Indonesia.

Proses dimulai dari bulan Maret. Awalnya penggarapan naskah dari teks cerpen dijadikan teks monolog. Dalam lomba ini disediakan tiga cerpen oleh panitia. Selanjutnya dibuat naskah sendiri, lalu dipentaskan. Teater JAB memilih “Hati dalam Sebuah Gelas” karya Mohamad Ali, karena dua cerpen lainnya sudah pernah dipentaskan. Hal unik dari naskah, bisa disampaikan pesan moral yaitu ketika ada masalah seharusnya tidak hanya melihat yang ada di depannya, tetapi menelisik atau menganalisis hal-hal di dalamnya. Dari situ khalayak dapat berbenah diri.

Tim monolog ada manajer, sutradara, aktor, setting, lighting, musik, dan penggarap naskah. Penggarapan naskah dibantu oleh Rizki Ramdhani. Aktor diperankan oleh Aditya Kurniawan, manajer dipegang oleh Wiwin Astuti, setting oleh Rizal, dan lighting oleh Hakim. Bagian musik dibantu oleh Ridho Iqbal Subariansyah.

Mereka melewati masa latihan yang cukup panjang. Vokal, gerak, dan rasa semua dimatangkan dalam latihan. Siang, sore, dan malam menghiasi masa latihan mereka. Karena kampus hanya bisa membuka gerbang sampai pukul sembilan, maka tidak selalu latihan pada malam hari.

Penuh penghayatan Dzaki mengungkapkan, “Sumber semangat berasal dari Tuhan. Gebrakan yang begitu nyata terasa. Hal-hal yang bisa saya lihat yaitu penyadaran pada diri sendiri terhadap job masing-masing dan stimulus yang dikeluarkan oleh beberapa tim.”

Pentas terlaksana setelah Zhuhur dengan durasi 30 menit di UMP. Durasi tersebut meliputi setting barang masuk, pementasan, dan barang keluar jadi total 30 menit. Pementasan itu menaklukkan peserta monolog dari 14 universitas, UAD meraih juara dua.

Walaupun tak mendapat juara satu, Dzaki mengaku perasaannya tetap lega. Hal ini membuatnya terpancing untuk berproses lagi. Prestasi bukan hanya piala, juara kedua menjadi sebuah stimulus bagi Dzaki dan timnya. Capaian tersebut dijadikan stimulus untuk berproses lagi di atasnya itu.

Buah prestasi tim ternyata tak jauh dari dukungan berbagai penjuru. Pertama dari orang tua walau sekadar melalui telepon atau pesan, anggota teater JAB, alumni JAB, dan pihak UAD. Dukungan terbesar adalah stimulus. Arahan dan bimbingan dari Kurniaji Satoto terus mendorong munculnya gairah untuk terus maju.

“Bagi mahasiswa, selain tugasnya belajar di kampus seharusnya juga belajar menjadi manusia. Namun kenyataannya banyak yang tidak peduli terhadap lingkungan dan kebersihan. Rasa toleran hanya sedikit karena di kelas hanya belajar teori dan banyak pelajaran kehidupan yang belum didapatkan di kelas,” pesan Dzaki. (Dew)